Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2015

Hari ini jadwal saya padat karena pagi hari memenuhi undangan seminar dan workshop yang diselenggarakan oleh SMERU Research Institute yang tentu tak bisa saya lewatkan mengingat saya seperti sudah memiliki hubungan emosional dengan SMERU serta orang-orang di dalamnya. Ini semua berawal ketika tahun 2011 saya membantu lembaga ini untuk mengkaji pengembangan organisasinya. Selanjutnya pertemanan terjalin dengan baik dengan Pak Asep, Bu Anti, Bu Dyan, Pak Sudarno dan banyak peneliti lainnya.

Namun, bukan masalah itu yang saya ingin bahas. Justru masalah hari ini yang sempat membuat saya agak emosi karena menyesakkan dada. Praktis selama pagi sampe siang hari saya tak bisa mengamati perkembangan di email saya karena ruang seminar di Grand Sahid Jaya tak memberikan sinyal kuat untuk HP saya sehingga email maupun WA jadi ngadat dan saya memang sedang konsentrasi mengikuti acara yang dibuka oleh Prof Dr. Boediono (eks Wapres) ini. Ketika saya sudah keluar acara sekitar pukul 13:30 barulah saya sadar ada undangan rapat pukul 15:00 di klien saya. Yang saya lakukan, saya segera membalas email kepada yang mengundang bahwa saya mengusulkan rapat diundur ke bada Ashar dengan alasan shalat wustha itu sangat amat penting sehingga perlu diutamakan. Ternyata si pengundang tak bisa mengundur waktu karena pihak lain yang diundang bisanya ya pada jam 15:00. Saya balas lai bahwa hidup di dunia ini hanya senda gurau, tak ada yang lebih penting dari shalat lima waktu berjamaah di masjid pada awal waktu. Si pengundang minta maaf tak bisa merubah jadwal dan mengusulkan nanti pas rapat saja semuanya diajak shalat Ashar berjamaah. Ya sudahlah …

Rapat akhirnya baru dimulai pukul 15:05 sedangkan jadwal Ashar pukul 15:13 hari ini. Ketika rapat akan dimulai saya sudah sampaikan bahwa sebentar lagi masuk Ashar. Si pengundang (inisial AS) mengatakan akan memulai saja rapat dan sebentar saja rapatnya. Pihak lain yang diundang (inisial M) saya juga tahu bahwa ilmu agama dan bacaan Qurannya bagus sekali. Yang terjadi ketika adzan bunyi di PA system, baik AS maupun M terus aja nyerocos melanjutkan rapat hingga akhirnya baru usai pukul 15:45. Padahal saya sudah berulangkali mengingatkan untuk shalat Ashar. Setelah rapat baru M bilang bahwa ia mau ashar. Saya timpali bahwa sebaiknya tadi kita break dulu untuk Ashar. Dia tak bereaksi apapun dan menunjukkan mimik bahwa sudah biasa dia shalat di akhir waktu.

Duh! Saya keselnya bukan main karena akhirnya saya harus shalat sendiri, tak lagi berjamaah. Bagi saya ini sudah raport merah karena semuanya mestinya gak boleh terjadi hanya karena rapat yang tak terlalu penting. Padahal dengan klien saya yang lain dimana mayoritas non-muslim, saya sering minta ijin pamit shalat bila sedang ada acara pas melewati saat shalat. Bahkan kalau meeting dengan klien non-muslim ini saya “sengaja” mengatur waktunya diluar jam shalat biar tak terganggu. Yang jelas, saya tak pernah mengusulkan rapat dimulai pukul 15:00.

Yang membuat saya kesal juga hari ini adalah, semuanya ini juga karena salah saya, mengapa saya tidak “ngotot” ketika melihat dua orang (AS dan M) tak bereaksi apa-apa ketika saya ingatkan untuk shalat. Peserta rapat lainnya yakni HA, seorang wanita berhijab, juga tak merasa salah mengabaikan panggilan adzan. Astaghfirullah …!

Advertisements

Read Full Post »

Rute Palmerah

RUTE PALMERAH. Hari ini mencoba rute lain karena kata Edward de Bono kita harus selalu mencoba jalan lain sebagai bagian dari lateral thinking habits. Melaju melewati jl. M Saidi – Pusri Kostrad – Pos Pengumben – Kebayoran Lama – Palmerah (berharap jumpa mas Purwanto Setiadi) – Slipi – Tanah Abang – Monas. Lebih pendek sih karena jadinya hanya 14.4 KM. Namun sayangnya waktu tempuh lebih lama 15 menit atau tepatnya menjadi 70 menit. Spot macet nya di banyak titik. Kesimpulan: jalur Sudirman – Thamrin lebih nyaman dan cepat.
Saya paling senang melihat sepeda yang bebannya banyak sekali. Hari ini sepeda saya banyak sekali bebannya karena membawa sepatu kerja yang formal (biasanya kalau kerja ya pake sepatu sepeda biar gak ribet), Macbook dan chargernya, jas hujan kumplit, baju dan celana kerja, handuk B-Cool, kotak pensil dan bolpoin. Wis …pèndèk koyok uwong arep minggat ….ha ha ha …bedanya bawa bajunya hanya buat kerja hari ini thok … Rasanya kalau bawaan banyak gini terasa “kerja” gitu lho …
Sambil menunggu keringat kering ya update status dulu , sekalian mengajak dan menghimbau teman teman yang budiman untuk membantu meringankan beban macet di Jkt ini dengan bersepeda. Kalau tak mau bersepeda, gunakanlah angkot baik itu mikrolet maupun metromini. Di Palmerah tadi bisa saya katakan 90% dari mikrolet berpenumpang kurang dari 30%. Tapi kalau gak mau juga, gak pa pa … Tetap berdoa kepada Allah Tabaroka Wa Taala agar suatu hari tak lama lagi diberi keberanian mengambil keputusan JUST DO IT!
Kata seorang pakar kepemimpinan Herminia Ibbara di Harvard Business Review, seorang leader harus berani bertindak berbeda (Do something different) dan kemudian memikirkan langkah strategis. Lha …jaréné yo ngono kuwi ..
“Act Like a Leader, Think Like a Leader”. Gaya men to yo …?!!!
Selamat berkarya …!

Rute Palmerah

Rute Palmerah-1

Rute Palmerah-2
* huruf “b” di HP paling menyebalkan karena sering muncul padahal gak diharapkan. Apa karena faktor “u” ya ….gak bisa pake touch screen? *

Read Full Post »

Alhamdulillah …akhirnya tadi malam saya khatam membaca novel sejarah nan DAHZYAT ini meski tebalnya 500 halaman lebih. Bisa jadi ini prestasi bagi saya bisa menyelesaikan baca buku setebal ini dalam waktu relatif singkat. Tulisan ini saya coba lakukan bukan dengan tujuan melakukan resensi, tapi lebih kepada curhat terhadap isi dari kisah sejarah yang sangat mengagumkan ini. Mengapa saya katakan curhat, karena yang saya torehkan dalam tulisan sederhana ini lebih fokus kepada apa yang saya rasakan ketika membaca novel sejarah ini. Pada saat menulis ini saya tak lagi melihat bukunya dan tak kan bisa menguraikan secara tepat baik nama maupun halaman berapa sebuah kisah diuraikan di buku ini. Mari kta mulai …  Bismillah.

Api Tauhid

(1) Kesan awal membaca novel ini teringat ketika saya terpikat dengan karya pertama dari penulis yang sama yakni Ayat Ayat Cinta sehingga saya berpikir bahwa kejadian dia Bab Satu melibatkan pemuda bernama Fahmi tadinya saya pikir sebagai pelaku utama sedangkan di uraian ringkas terkait buku ini tak pernah disebut nama Fahmi. Saya baru menyedari di bab2 selanjutnya dimana ternyata kisah sejarah ini dituturkan oleh orang lain, yakni Hamza, yang merupakan sahabat dekat Fahmi pada saat mereka melancong ke Turki di saat liburan dari sekolah mereka di Madinah. Sebuah plot cerita yang menarik.

(2.) Tokoh sentral dari novel ini justru seorang bernama Badiuzzaman Said Nursi (BSN) yang merupakan ulama besar dari Kurdistan, Turki.  Penggambaran mengenai asal-usul BSN digambarkan secara jelas pada bab-bab awal dari novel ini dan semuanya sangat menarik untuk dibaca. Rasanya, sulit untuk meninggalkan kalimat demi kalimat yang tertoreh di novel ini. BSN memang seorang yang dilahirkan dengan kepandaian khusus yang diberikan Allah SWT. Masya Allah masih usia muda sekitar 15 tahun BSN ini sudah membaca 80 kitab dan tak hanya itu, ia juga menghafalnya dengan baik. Pada usia muda juga ia sudah bisa berdebat dengan ulama-ulama besar dan selalu menang dalam perdebatan. Kecintaannya kepada Islam sudah mendarah daging bahkan sejak ia masih berusia kanak-kanak. Ia begitu semangat belajar dari madrasah satu ke lainnya bahkan berpindah-pindah tempat serta guru. Di beberapa daerah bahkan ilmunya melebihi dari ilmu gurunya.

(3.) BSN menerapkan amar ma’ruf nahi munkar secara konsisten karena biasanya paling sulit justru nahi munkar yakni menyikapi dan bertindak pada kemunkaran. Salah satu contohnya ia berani mendatangi seorang penguasa (bernama … Pasya) yang suka berfoya-foya dan minum khamr. BSN berani mendatangi Pasya dan memberinya peringatan di markasnya yang dijaga ketat oleh pengawal. Peringatan tersebut berupa ajakan untuk shalat dan mematuhi semua perintah Allah serta menjauhi larangannya. Tentu Pasya tersinggung dengan ajakan ini bahkan menantang bila ia tak mau menerima ajakan BSN memang kenapa? dengan lantang BSN mengatakan: “Saya akan bunuh kamu”. Padahal BSN adalah anak muda tanpa pengawal sedangkan Pasya adalah penguasa dengan banyak pengawal. Ini jelas merupakan keberanian luar biasa dari seorang BSN.

(4.) Pada suatu ketika seorang gubernur tidak suka dengan BSN karena keberadaannya sangat membahayakan pemerintah sehingga ia harus diasingkan ke daerah lain. BSN dikawal oleh dua orang polisi menuju daerah lain dengan membawa surat tugas kepada gubernur di daerah lain yang dituju. Selama perjalanan yang jauh, BSN diikat borgol tangannya oleh dua orang polis tersebut. Pada saat masuk waktu shalat, BSN memohon kepada dua orang polisi tersebut agar borgolnya dilepas karena ia akan mendirikan shalat. Dua orang polisi tersebut tidak setuju. BSN nekat dan tetap mendirikan shalat. Borgol yang lepas jelas bukan karena dilepas oleh dua orang polisi tersebut namun Allah menolong BSN dan sampai sekarang tak diketahui bagaimana borgol bisa lepas dan BSN bisa dengan mudah mendirikan shalat. Ini merupakan pelajaran yang baik bagi kita semua bahwa Allah SWT tentu akan memudahkan jalan bagi umatNya yang berkeinginan keras menjalankan ibadah secara istiqomah. Masya Allah …! Bahkan polisi yang tadinya begitu takut bila BSN melarikan diri akhirnya percaya sepenuhnya bahwa BSN tak akan melarikan diri dan akhirnya juga ikut shalat menjadi makmum dari BSN.

(5.) Pada saat sampai di gubernur yang menjadi tujuan perjalanan, ternyata dua orang polisi tersebut, yang tadinya patuh kepada gubernur yang mengirim BSN, malah sekarang berbalik menjadi pengikut setia BSN.

(6.) Pada saat tinggal di rumah gubernur yang dituju, BSN justru memilih tinggal di rumah gubernur sebagai tamu karena di rumah tersebut banyak sekali koleksi buku adan kitab. Hari demi hari BSN banyak menghabiskan waktu dengan membaca di perpustakaan gubernur ini. Bahkan, selama beberapa tahun tinggal di rumah gubernur ini, BSN tak pernah memandang wajah enam putri gubernur yang cantik-cantik semuanya. Gubernur bahkan menawarkan kepada BSN untuk memilih satu diantara enam putrinya dijadikan istrinya. BSN menolak halus karena ia ingin konsentrasi menuntut ilmu. Masya Allah.

(7,) Dalam novel ini juga dijelaskan sejarah lahirnya zionisme di tanah Turki melalui seorang pemikir strategi yang ulet dan licin yakni Theodore Herzl. Ia begitu persisten membuat konsep zionisme dengan menyatukan semua yahudi di seluruh dunia ke suatu tanah di Palestina yang awalnya tak diberi oleh kalifah Utsmani di bawah Sultan Abdul Hamid 2. Meski berkali-kali mengalam penolakan, Herzl ini tak pernah putus asa untuk bolak-balik menemui sultan hingga akhirnya Turki mengalami krisis keuangan. Sebuah kisah yang tragis dalam peradaban Islam.

(8.) Meski substansinya beda, kita harus memeiliki persistensi yang dimiliki Theodore Herzl. Tentu saja yang kita perjuangkan adalah melindungi agama Allah dan meninggikan kalimatullah, bukan membangun kebencian dan zionisme. Islam jelas menentang zionisme karena Islam datang menghapus perbudakan; apalagi zionisme.

 —- Ulasan versi GoodReads —-

Ini adalah novel roman dan sejarah. Novel roman yang bercerita seputar perjuangan anak muda asal Lumajang, Jawa Timur, yang bernama Fahmi. Ia dan beberapa rekannya seperti Ali, Hamza, dan Subki, menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah.

Dalam perjalanannya, Fahmi harus menghadapi situasi yang cukup pelik, dalam urusan rumah tangga. Fahmi pun galau. Semua persoalan yang dialaminya itu, tak pernah ia ungkapkan dengan teman-temannya.

Kegalauannya itu ia tumpahkan dengan cara beri’tikaf di Masjid Nabawi, Madinah, selama 40 hari untuk mengkhatamkan hafalan Al-Qur`an sebanyak 40 kali. Sayangnya, upayanya itu hanya mampu dijalani selama 12 hari. Memasuki hari-hari berikutnya, Fahmi pingsan. Ia tak sadarkan diri, hingga harus dibawa ke rumah sakit.

Sahabat-sahabatnya khawatir dengan kondisinya yang pemurung dan tidak seceria dulu. Hamza, temannya yang berasal dari Turki, mengajak Fahmi untuk berlibur ke Turki. Hamza berharap, Fahmi bisa melupakan masa-masa galaunya selama di Turki nanti.

Untuk itulah, Hamza mengajak Fahmi menelusuri jejak perjuangan Said Nursi, seorang ulama besar asal Desa Nurs. Ulama terkemuka ini, dikenal memiliki reputasi yang mengagumkan.

Syaikh Said Nursi, sudah mampu menghafal 80 kitab karya ulama klasik pada saat usianya baru menginjak 15 tahun. Tak hanya itu, Said Nursi hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menghafal Al-Qur`an. Sungguh mengagumkan. Karena kemampuannya itu, sang guru, Muhammed Emin Efendi memberinya julukan ‘Badiuzzaman’ (Keajaiban Zaman).

Keistimewaan Said Nursi, membuat iri teman-teman dan saudaranya. Ia pun dimusuhi. Namun, Said Nursi pantang menyerah. Semua diladeni dengan berani dan lapang dada. Tak cuma itu, rekan-rekan dan saudara-saudaranya yang iri dan cemburu akan kemampuannya, para ulama besar pun merasa terancam. Keberadaan Said Nursi membuat umat berpaling. Mereka mengidolakan Said Nursi.

Pemerintah Turki pun merasa khawatir. Sebab, Said Nursi selalu mampu menghadapi tantangan dari orang-orang yang memusuhinya. Ia selalu mengalahkan mereka dalam berdebat.

Tak kurang akal, pejabat pemerintah pun diam-diam berusaha menyingkirkannya. Baik dengan cara mengusirnya ke daerah terpencil, maupun memenjarakannya. Ia pun harus berhadapan dengan Sultan Hamid II hingga Mustafa Kemal Attaturk, pada masa awal Perang Dunia I.

Selama 25 tahun berada di penjara, Said Nursi bukannya bersedih, ia malah bangga. Karena disitulah, ia menemukan cahaya abadi ilahi. Ia menemukan Api Tauhid. Dan melalui pengajian-pengajian yang diajarkannya, baik di masjid maupun di penjara, murid-muridnya selalu menyebarluaskannya kepada khalayak. Baik dengan cara menulis ulang pesan-pesan Said Nursi, maupun memperbanyak risalah dakwahnya. Murid-muridnya berhasil merangkum pesan dakwah Said Nursi itu dengan judul Risalah Nur. Murid-muridnya tidak ingin, Api Tauhid yang dikobarkan Said Nursi berakhir.

Bagaimana dengan Fahmi? Perjalanan ke Turki membawa Fahmi berkenalan dengan gadis setempat, Emel, adik Hamza, dan Aysel, saudara sepupu Hamza. Kemampuan Fahmi dalam menyikapi segala sesuatu, membuat Aysel jatuh hati. Aysel menyatakan cintanya pada Fahmi.

Bagaimana dengan Emel? Lalu bagaimana kisah cinta Fahmi dengan Nuzula? Semuanya ada dalam buku Api Tauhid, karya Habiburrahman El-Shirazy, novelis nomor satu di Indonesia, ini. (less)

Read Full Post »

Atas undangan Komunitas mentari Pagi, saya hadir di seminar ini pada tanggal 28 Maret 2015. Sangat mengesankan.

Seminar Relawan Pendidikan0

Dua Pembicara Hebat: Agus Pardini (Direktur di Sekolah Guru Indonesia, Dompet Dhuafa) dan Nurrochim (Pendiri Sekolah Master) dalam Seminar Relawan Pendidikan di kampus Fakultas Perikanan IPB, Dramaga, Bogor. Sabtu, 28 Maret 2015.
Seminar ini merupakan sesuatu yang baru bagi saya karena pada dasarnya dunia pendidikan bukan maqom saya. Namun saya belajar banyak dari seminar ini:

  1. Bahwa kalau menunggu program pemerintah pendidikan di daerah pelosok, misalnya di Cirereut dimana Komunitas Mentari Pagi berkiprah mendirikan sekolah setara SMP, bagaimana bisa terlaksana. Dengan prinsip “Hidup Sekali Untuk Berbagi” para mahasiswa S2 IPB pada turun ke pelosok desa, mengajar anak2 usia sekolah, menggunakan tanah wakaf penduduk. Masya Allah.
  2. Bahwa seorang guru yang efektif harus memiliki “roh” sebagai seorang guru sejati tak sekedar pandai mengajar. Dua orang profesor anumerta yang layak diberi penghargaan di bidang pendidikan adalah Fuad Hasan dan Andi Hakim Nasution dalam bukunya “Daun Daun Berserakan” (Agus Pardini)
  3. Kalau kita bekerja normal, pasti gagal. Makanya kita harus gila agar apa yang kita inginkan terjadi. Sekolah Master (Masjid Terminal) yang diprakarsai oleh Nurrochim adalah salah satunya. Sekolah ini mendidik anak jalanan gratis.
  4. Yang penting kerjakan dulu dengan baik dan ikhlas setelah itu bantuan bakal ada.

Seminar yang sungguh “beda” …apalagi dengan diselingi penampilan seorang siswa setara kelas 1 SMP yang berpidato dalam bahasa Inggris secara fasih, tanpa membaca teks. Dialah Nurul. Luar biasa!
Majulah Indonesiaku …!!!

Seminar Relawan Pendidikan1

Seminar Relawan Pendidikan2

Seminar Relawan Pendidikan3
—-

Read Full Post »

Tulisan ini sifatnya impulsif karena merupakan reaksi positif emosional terhadap ulasan mas Purwanto Setiadi tentang alasan beliau bersepeda. Saya njumbul kaget kok ada tulisan bagus dan mengena banget, tentang satu hal yang menurut saya menarik, dan bisa saja biasa-biasa saja untuk sebagian orang. Tentu saja tulisan ini tak sebagus kualitasnya dibandingkan yang ditulis mas Pur. Lucunya, saya sama mas Pur ini sama2 wong Mediun namun justru kenalnya di Jakarta meski kami pernah sekolah di SLA yang sama.
Bagi saya, mengayuh (gowes / mancal) sepeda menuju tempat kerja saya maknai sebagai perjuangan menuju tujuan akhir yang jelas, yaitu tempat kerja. Bukankah hidup itu seperti halnya mengayuh pedal sepeda? Sepeda tak akan bergerak menuju tujuannya tanpa usaha kita mengayuhnya. Dalam proses menuju tujuan akhirnya, mengayuh sepeda di kota besar seperti Jakarta memerlukan fokus dan keseriusan karena begitu banyaknya kendaraan di jalan raya. Sepeda pun harus digowes pada kecepatan tertentu agar seimbang sehingga tidak jatuh bila terlalu pelan atau menabrak kendaraan lain bila terlalu ngebut. Untuk mencapai tujuannya dengan selamat memang perlu konsentrasi, fokus dan tentu saja menikmati setiap kayuhan pedal sepeda.
Setang (kemudi) sepeda menentukan kea arah mana sepeda menuju, sedangkan gowesan menyebabkan sepeda bergerak. Bila diibaratkan dengan kehidupan, maka gowesan pedal sepeda bisa diibaratkan sebagai bentuk ibadah kita seperti shalat, puasa, infaq dan sodaqoh juga tentunya bekerja dengan niat mencari nafkah halal. Setang sepeda merupakan petunjuk kearah mana ibadah ini ditujukan. Bila shalat dikerjakan hanya supaya disebut sebagai orang yang soleh, orang yang taat, maka sia-sialah ibadah yang telah dilakukan. Pahalanya hanya diperoleh di dunia saja, yaitu disebut sebagai orang soleh. Justru kita harus kendalikan setang agar semuanya menuju ke satu hal yang esa yakni Allah SWT.
Setiap rintangan di jalan raya yang dihadapi memang paling kusut bila kepadatan kendaraan bermotor sangat tinggi sehingga orang berjalan kaki saja sulit bergerak. Untuk itu saya selalu mensyaratkan menggunakan masker atau kalau lupa membaya, kadang sapu tangan saya fungsikan sebagai masker. Kalau tak ada penutup hidung alias masker, saya putuskan tak jadi bersepeda karena efeknya bahaya sekali. Inilah yang menyebabkan waktu tempuh ke tempat kerja bervariasi. Pada pagi hari (berangkat dari rumah paling telat 6:30) maka waktu tempuh ke tempat kerja yang 17 KM sekitar 1 jam atau bahkan bisa hanya 55 menit. Ini bukan mancal ngebut, santai saja sambil menikmati kayuhan demi kayuhan. namun kalau pulang, sekurangnya perlu waktu minimum 75 menit karena lebih macet dibandingkan berangkat kerja.
Hal kedua tentunya tanjakan. Sebenarnya ini bukan rintangan, namun justru sebagai hiburan meski nafas ngos-ngosan. Hiburan dalam arti saat menanjak sambil memupuk energi saya melihat di luar fly over bahwa saya menuju ketinggian karena di bawah saya lihat kendaraan lain berada semakin jauh saat saya menuju atas. Misalnya ini di jembatan Velbak arah pulang; di sebelah kiri saya melihat metromini dan motor yang menuju arteri Pdk Indah terasa jauh di bawah saya. Asik banget rasanya seolah terbang. Kenikmatannya justru saat mencapai kontur landai sehingga seolah “kemeng”nya paha terhibur sejenak meski (dalam kasus Velbak) terus naik lagi. Rumusnya kalau nanjak, pandangan mata kita tak boleh lebih dari 5 Meter karena kalau terlalu jauh melihat ke depan yang tinggi pasti mental kita lembek untuk bisa menaklukkannya; atau sebaliknya, pengen gowes lebih kenceng agar cepet sampe puncak.
Seperti mas Pur bilang, asiknya saat meluncur (ngglundhung – red.) ke bawah ….whoooaaaa… saatnya gratisan tanpa mengayuh tapi sepeda melaju kenceng. Sayangnya …ini jarang saya jumpai di Jakarta ini karena begitu turun yang saya lihat pantat metromini dan pantat mobil yang terkena macet. Jadi …ya gak bila ngglundhung begitu saja, terpaksa banyak main rem.
Yang paling saya syukuri dalam bersepeda adalah adanya “derajat kebebasan” yang sangat tinggi karena bisa menentukan rehat atau mampir dimana saja. Bahkan dengan bersepeda saya bisa mengunjungi tiga tempat sekaligus saat pulang kerja. Beberapa bulan lalu, pulang kerja saya bisa mampir ke apotik sepeda di STC, kemudian menuju rumah sakit di Lebak Bulus (ah lupa namanya RS apa ..yang baru itu lho) sebelum mampir beli buah tangan untuk yang sakit. Sementara itu, tahu sendiri pada pukul 6 sore lalin di Thamrin-Sudirman-Fatmawati seperti apa … Kalau naik mobil, saya bisa nyampe Lebak Bulus pukul 21:00. Alhamdulillah dengan bersepeda bisa multi-stop jadinya, bahkan termasuk bisa shalat Isya berjamaah dulu di masjid yang terlewati.
Hal terakhir yang saya amati terkait dengan bersepeda adalah “personal branding”. Hari Jumat kemarin saya disapa oleh seorang klien lama saat mau pulang kerja (masih belum pakai jersey, masih business attire). Yang disapa bukan bagaimana kabar saya tapi : “Gimana mas, masih istiqommah gowes nya?” atau pertanyaan seperti “Sepedanya dimana mas?”. Ha ha ha ha …. Jadi ternyata saya dikenal orang karena kebiasaan saya bersepeda. Asik juga. Ha ha ha ha ha ….
Tapi sungguh …naik sepeda itu bikin ketagihan. Kalau gak percaya, coba dulu sekali saja …. Sekali “nyenuk” di sadel sepeda, pasti pengen lengket teruuuusss …!!! Lha saya ini paling gak bisa liat sadel sepedah … Langsung GRENG gitu rasanya pengen nyengklak sadelnya ….he he he ..
Mari kita mulai kebiasaan bersepeda. Memang ini sepertinya ide gila. Kemarin saya ikut seminar relawan pendidikan dimana salah satu pembicaranya mengatakan, “Kalau kita normal, kita gak bisa melakukan sesuatu yang luar biasa. Kita harus gila!”
Onok onok wae ….

Read Full Post »

Pada suatu malam bada Isya saya mendengarkan sebuah kajian di Radio Rodja (tak ingat siapa ustadz nya dan kapan disiarkannya) yang menarik sekali untuk saya ingat dan memang saya rencanakan akan saya posting di blog ini. Sayangnya saya terus menerus lupa sehingga baru kali ini akhirnya saya pasang. Untungnya saya tak pernah lupa nomer ayat dan dari surah apa, yakni Surah Al Kahfi ayat 49 (18:49).

Cara ustadz mengulas kajiannya sungguh menggugah hati kerena beliau menekankan bahwa sekecil apapun yang kita lakukan, akan tercatat dalam sebuah kitab yang merinci semua yang kita lakukan dalam hidup ini, tanpa sensor, suka maupun tidak suka. Kitab ini yang membuat takut orang-orang bersalah yakni yang tak mengakui Allah dan menjalankan perintah-perintahNya. Nanti di hari akhir orang-orang bersalah heran dan takut sekali kepada kitab ini. Hal ini jelas diungkapkan di ayatnya:

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.
(QS: Al-Kahfi Ayat: 49)

Mungkin kita akan sulit mebayangkan bagaimana mungkin setiap perjalanan hidup kita bisa dibukukan dalam satu kitab semacam autobiografi kita. bedanya cukup fundamental: pada kasus umumnya biografi, meski ditulis oleh orang lain, sering kali sudah dimasukkan keinginan-keinginan dari tokoh yang sedang ditulis riwayatnya di dalam otobiografi; sedangkan dalam kitab yang dimaksud dalam ayat ini jelas penggambaran persis plek seperti apa yang terjadi tanpa ada penyuntingan sedikitpun. Katakanlah kitab tersebut adalah terkait perjalanan hidup si Badu.

  • Bahkan ketika Badu melakukan perbuatan yang selama ini dia kategorikan sebagai hal yang biasa dan “tak berdosa” misalnya membawa pulang perlengkapan kantor seperti bolpoin, kertas, stapler dsb. ke rumah untuk keperluan di luar kepentingan profesinya;
  • Ketika Badu sekolah melakukan kegiatan menyontek saat ujian dan pada akhirnya bangga ketika sekolahnya mengumumkannya sebagai juara kelas;
  • Pertemuan dengan kolega bisnisnya yang merupakan pemasok barang untuk keperluan kantor dimana Badu menerima “upeti” dari pemasoknya;
  • Ketika ia diajak temannya ke seorang yang dikategorikan “pintar” demi menjaga posisi amannya di kantor agar tak tergoyahkan oleh siapapun;
  • Ketika Badu melakukan perbuatan maksiat, dsb.

Ayat ini justru sebagai pengingat bahwa suatu saat semuanya akan telanjang terbuka tanpa ada pembelaan dari kita sebagai manusia. Kalau saja setiap manusia sadar akan adanya kitab ini dan meyakininya, mestinya tak ada lagi kejahatan di muka bumi ini. Sebenarnya ini pula yang harusnya menjadi pengendali setiap kegiatan kita di dunia karena setiap saat malaikat pencatat amal kita bisa saja kesal dengan perbuatan maksiat kita dan mengatakan “titenono!” (bahasa Jawa yang artinya “Lihat nanti ya!” – red.).

Semoga kita tergolong manusia yang selalu ingat kepada firman-firman Allah dan Hadits. Aamiin.

Read Full Post »

image


Alhamdulillah hari ini bisa Jumatan di masjid Baitul Ihsan di saf terdepan. Insya Allah mendapatkan hadiah onta. Aamiin. Memang saya memberanikan diri untuk duduk di karpet khusus warna merah, namun ujung paling kiri karena pengalaman di tahun 2013 pernah diusir oleh petugas masjid. Kali ini saya aman jam 11:30 bisa dapat duduk di saf terdepan. Sekitar pukul 12 kurang dua menit, orang nomor satu Bank Indonesia hadir dan menempati saf depan paling tengah, disertai dua orang pengawalnya (mungkin pejabat Eselon 1 di bank sentral tersebut). Sebenarnya tak perlu dipisahkan atau diberi tempat khusus seperti ini mengingat di hadapan Allah kita semua kan sama.

Khatib memulai kutbahnya dengan menukil sebuah hadits yang sumbernya dari Ibnu Majah:

“Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidlah itu?” beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (Sunan Ibnu Majah)

Ruwaibidlah adalah orang-orang yang tak mengetahui banyak namun banyak bicara mengurusi banyak hal.

Penyebab terjadinya tahun kemunafikan ada dua hal:

  1. Pemimpin-pemimpin yang saling berperang memperebutkan kepentingan pribadi masing-masing
  2. Rakyat yang menolak ajaran Islam dengan mempertanyakan kembali hukum-hukum Allah.

Hari ini Islam hanya ada di masjid. Di luar masjid kita sikut sikutan. Seharusnya kita ingat kepada surah Ali Imron ayat 103. Seharusnya kita lindungi keluarga kita dengan dzikir dan doa. Hari ini orang sudah tak percaya doa lagi. Padahal kekuatan doa itu luar biasa dan Allah sebagai tempat minta bantuan: Allohus somad. Tak ada yang bisa menembus dinding kecuali doa. Ketika doa dipanjatkan di waktu2 mustajab akan dikabulkan Allah. Imam Syafii berdoa sehabis Subuh hingga Dhuha.

Lima kalimat yg diajarkan Jibril ke Rasul dan diajarkn ke Fatimah, isinya:
Yng maha Awal … (tidak mencatat)

Panjatkan doa dengan sepenuh jiwa, pasti diberikan oleh Allah. Pada saat perang Badar, Rasul memanjatkan : “Kalau kami kalah perang tak ada yg menyembah Mu” selama 3 hari 3 malam berturut turut sambil menangis. Akhirnya Allah menurunkan 5000 malaikat di perang badar membantu kaum muslimin.

Ada kisah seorang yang sedang dihadang oleh begal di sebuah gunung yang sepi. Ia akan dibunuh dan minta kepada begal agar diberi kesempatan shalat sunnah dua rakaat. Sepanjang shalat ia membaca An Naml ayat 62 dibaca berulang ulang selama tiga kali. Pada bacaan pertama Allah terketuk, pada bacaan kedua Arasy bergetar dan pada bacaan ketiga Allah menurunkan bantuanNya. Kemudian apa yang terjadi?
Begal mati dibunuh malaikat penjaga gunung tersebut. (harap Google tentang kisah ini).

Jangan pernah merasa Allah meninggalkan kita.

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).
(QS: An-Naml Ayat: 62)

 

Read Full Post »

Older Posts »