Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2009

Ibunda Ultah

Assalamualaikum wr wb.

Ibunda saya, Ny Hidayat, besok (30 September 2009) tepat berusia 85 tahun. Subhanallah! Ciptaan Allah memang terbukti tiada tandingannya. Coba bandingkan dengan ciptaan manusia secanggih apapun, mana ada yang tahan selama waktu ini? Ambil contoh saja mobil. Berapa lama sih mobil bisa bertahan? Apakah bisa sampai 20 tahun? Jangankan 20 tahun, mungkin dalam waktu 3 tahun saja sudah karatan meski sudah diberi anti-karat. Sedangkan organ tubuh ibu bisa dikatakan semuanya bekerja selama 85 tahun tanpa henti, kecuali pada saat beliau menjalankan ibadah puasa saja berhenti. Ibunda termasuk rajin menjalankan puasa meski sudah sekitar 3 tahun ini beliau tidak menjalankan ibadah puasa karena sudah sepuh. Coba bayangkan pompa mekanis buatan manusia, mana ada yang tahan selama 85 tahun? Sedangkan jantung ibu saya masih tak enggan memompa darah ke sekujur tubuhnya. Subhanallah! Allahu Akbar! Bahkan, berdasarkan pemeriksaan kesehatan jantung beberapa bulan yang lalu, jantung ibu disimpulkan: sehat! Alhamdulillah …Subhanallah!

Banyak suka-duka terjalin antara saya dengan ibunda. Bagaimana tidak, sejak ayah meninggal pada saat usia saya masih lima tahun, saya tinggal bersama ibu di rumah kami di Madiun selama tiga belas tahun, berarti delapan belas tahun saya selalu bersama ibu. Saya baru berpisah rumah dengan ibu ketika saya melanjutkan sekolah ke Bandung. Itupun dua tahun kemudian beliau hijrah ke Jakarta dengan alasan yang sederhana: supaya dekat dengan anak-anak. Saya memang anak bungsu dari empat bersaudara dan tiga kakak saya (semuanya laki2) tinggal di Jakarta. Jadi pada saat saya sekolah di Bandung, tiap bulan saya juga ke rumah ibu di Tebet. Apalagi kalau libur, saya pasti tinggal sama ibu lagi di Tebet.

Ibu termasuk pekerja keras yang konsisten dalam mendidik putra-putranya. Di hari tuanya saya berharap ibu bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Saya sering merenung mengenai ibu mengingat kesempatan yang sekarang menjadi jarang buat bertemu. Saya memang selalu usahakan sedapat mungkin mampir ke Tebet, pagi hari sebelum bekerja. Apalagi mengingat bahwa saat ini beliau sudah tidak bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Ini disebabkan karena tepat empat bulan yang lalu (29 Mei 2009) ibu menjalani operasi penggantian bonggol pangkal paha karena retak dan harus diganti.

Saya sering menyesali diri saya mengapa tidak bisa berbuat lebih lagi untuk menyenangkan ibu saya. Beliau memang bisa dikatakan sangat jarang mengeluh dan tidak mau merepoti orang sehingga beliau memilih tinggal sendiri di Tebet ditemani seorang perawat. Pada saat lebaran kemarin saya benar-benar trenyuh melihat ibu menangis tersedu-sedu yang karena suatu hal dua orang putranya tidak bisa sungkeman pada hari H (1 Syawal). Yang paling sedih waktu beliau bilang bahwa tujuan belia dulu hijrah ke Jakarta ingin supaya dekat dengan anak-anak, namun sudah sama-sama di Jakarta kok lebaran tidak bisa kumpul. Saya hanya bisa berusaha menghibur dan sekaligus memanjatkan doa kepada Allah swt agar ibu saya diberi kelapangan dada.

Besok ibu berhari-jadi yang ke delapan puluh lima. Luar biasa! Sebuah usia yang tak semua orang bisa mencapainya. Lebih hebatnya lagi, sampai dengan usia ini beliau belum pernah dirawat inap di rumah sakit kecuali karena jatuh pertengahan tahun ini. Alhamdulillah. Subhanallah! Kurang bersyukur apa saya sebagai anaknya melihat kenyataan ini? Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengatur, Maha Agung …. Dia bisa lakukan apapun sesuai kehendak-Nya. Untuk ibunda tercinta, saya panjatkan doa kepada Allah swt:

Ya Rabb,

Yang Maha Mendengar,

Yang Maha Penyayang,

Yang Maha Pengampun

Sampaikanlah salawat salam kepada Nabi Muhammad SAW

Dan keluarganya, beserta semua sahabatnya

Ampunilah semua kemaksiatan dan kedurhakaan yang pernah aku lakukan

Ampunilah semua dosa ibu dan bapak saya
Berikanlah taubat kepada ibu dan bapak saya

Berikanlah tempat yang mulia bagi mereka di sisi-Mu

Bimbinglah ibuku agar selalu meniti jalan iman dan takwa

Bila saatnya tiba, panggilah ibuku dalam kedaan khusnul khattimah

Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah swt

Ya Rabb,

Yang Maha Mengetahui

Yang Maha Mengatur

Yang Maha Adil

Engkau ketahui secara pasti bagaimana ibu merawatku

Ketika aku bayi, aku suka menangis, ibu pula menjagaku

Ketika aku kanak-kanak, ibuku membelikan mainan

Ketika usia sekolah, ibuku mengantarku ke TK Bhayangkari

Ketika aku remaja, ibuku menjahit demi nafkah dan sekolahku,

mengajariku disiplin belajar,

mengajariku belanja benang dan ritsleting,

mengajariku bagaimana hidup berhemat,

mengkhitankan aku,

membelikan tape recorder,

membelikan kaset musik kesukaanku,

membelikan sepeda jenky Forever,

membelikan sepeda motor untukku,

menyekolahkan aku hingga sarjana,

mengijinkan aku merantau untuk bekerja.

Maka, nikmat apa lagi yang aku dustakan dari karuniamu ini, Ya Rabb?

Untuk itu aku mohon kepadaMu, Ya Rabb …

Berilah rahmatMu untuk ibundaku

Berilah kebahagiaan dan kedamaian di hari tuanya

Jauhkanlah dari semua rasa sakit hingga ajalnya tiba.

Ya Rabb, berilah tempat yang tinggi untuk beliau di surgaMu….

Amin.

Wass,

G

UPDATE: Pas tanggal 30 September 2009 pagi saya ke rumah ibunda ….dan ini hasil jepretan dari HP ibunda:

Meniup lilin ultah 85 tahun

Meniup lilin ultah 85 tahun

Berpose berasam ibunda di hari ultahnya...

Berpose berasam ibunda di hari ultahnya...

Advertisements

Read Full Post »

Sumber Kejahatan

Assalamualaikum wr wb.

Pagi ini berangkat ke kantor sambil mendengarkan ceramah di radio Roja AM 756.

Sumber kejahatan disebabkan dua hal:

  1. Internal – karena syahwat;
  2. Eksternal – karena syaithon.

Kenapa di bulan Ramadhan masih ada kejahatan, padahal Allah SWT mengikat setan? Karena adanya syahwat, yg mungkin merupakan hasil kerja syaithon ber-tahun-2 menggoda manusia sehingga terjadi “internalisasi” ke dalam diri manusia yang mungkin tak disadari oleh manusia itu sendiri.

Wass,

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Shalat Ashar sore ini tadi begitu berat rasanya karena siang hari begitu terik sekali. Sesampainya di halaman masjid,  saya dengar suara iqamah tanda shalat segera dimulai, berarti tak sempat lagi shalat sunnah tahiyattul masjid. Saya bergabung setelah imam mengucapkan takbir “Allahu Akbar” tanda dimulainya rakaat pertama.

Usai shalat, seperti biasanya, imam membuka kitab Fadhail Amal yang dibacakan untuk jamaah yang mau mendengarkan. Tadinya saya malas sekali karena panas begitu menyengat, rasanya pengen cepet keluar dari masjid dan cari pendingin udara sekaligus minum es kelapa muda. Tiba-tiba saya ingat halaman 503 dari Kisah Nabi Muhammad karangan Haekal yang mengulas perang Tabuk. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perang Tabuk melawan Rumania ini. Perang dilaksanakan pada saat musim panas sehingga umat nabi Muhammad saat itu terpecah dua: ada yang malas untuk berperang, karena sedang musim panas sedangkan ada golongan lain yang begitu bersemangat ingin perang meski musim panas menyengat. Dengan mengingat semangat inilah maka saya berpikir ..ah panasnya Jakarta ini dibandingkan panasnya jazirah Arab tentunya tidak seberapa … Lagian, ini kan hanya mendengarkan bukan bersiap untuk maju ke medan laga secara fisik. Akhirnya saya putuskan tetap tinggal di dalam masjid mendengarkan imam membaca kitab Fadhail Amal yang masyhur itu.

Bab yang ia bahas mencakup fadhillah shalat berjamaah, fadhillah dzikir dan fadhillah menghormati ulama. Subhanallah! Saya tersentuh dengan uraian beliau terutama yang menyangkut ihwal shalat berjamaah. Dengan membaca sumber dalilnya, imam mengatakan:

Barang siapa mengerjakan shalat fardhu berjamaah karena Allah swt selama empat puluh (40) hari secara berturut-turut tanpa ketinggalan takbiratul ihram (Allahu Akbar) yang pertama dari imam maka ia akan dijamin bebas dari dua hal: bebas dari panasnya api neraka dan bebas dari golongan munafik (mengaku muslim tapi hatinya kafir).

Luar biasa sekali …kalau saja kita bisa melakukan hal ini, Allah menjamin dua hal tersebut. Permasalahannya, apakah hal ini mudah diraih? Uraian imam tadi sore mengatakan bahwa ini sulit dicapai karena godaan setan begitu kuat. Ketinggalan satu kali saja takbiratul ihram berarti kita gugur tak mencapai 40 hari non-stop.

Namun, kalau kita coba renungkan lebih dalam, sebenarnya hal ini sangat mungkin kita lakukan. Modalnya hanya satu: http://faridwajdiarsya.files.wordpress.com/2009/07/shalat.jpgiman yang kuat. Ini permasalahannya …karena semakin kuat iman kita, setan menggoda semakin hebat lagi. Apalagi hal ini menyangkut iman kepada yang ghaib sehingga tak seperti mengumpulkan reward point dalam dunia kartu kredit atau jasa lainnya dimana kita secara fisik merasakannya. Bagi yang bekerja di kantoran mungkin sulit mengelak atau minta ijin ke masjid bila ada rapat dari jam 14:00 sampai dengan 16:00 karena bertepatan dengan saat Ashar. Namun Allah begitu Pemurah nya …memberikan jaminan bebas dari neraka bila kita lolos dalam ujian ini ….

Siapkah Anda?

Wass,

G

Read Full Post »

I’tikaf Ramadhan 1430 H

Assalamualaikum wr wb.

Alhamdulillah, akhirnya keinginan menjalankan i’tikaf selama sepuluh hari terakhir ramdhan akhirnya terlaksana juga mulai tanggal 20 Ramadhan 1430 H sampai dengan 29 Ramadhan 1430 H. Memang belum sesempurna seperti yang dijalankan dan dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW namun setidaknya semangat ke arah situ sudah ada. I’tikaf Rasul benar-benar pindah tempat tinggal dari rumah ke masjid selama sepuluh hari tanpa keluar dari masjid. Yang saya lakukan, ada jeda antara ba’da Subuh hingga Zhuhur yang saya pergunakan untuk istirahat di rumah. Selebihnya memang saya habiskan di masjid.

https://i0.wp.com/www.geocities.com/mutmainaa/woking.jpgNiatan menjalankan i’tikaf secara penuh sebenarnya sudah terbesit saat saya i’tikaf (bermalam) di masjid BI ramadhan tahun lalu. Namun saya merasa kurang afdhol karena siangnya masih bekerja. Tahun ini saya ambil cuti total mulai dari 11 September 2009 sehingga tiap hari saya tidak dibebani urusan pekerjaan. tempat i’tikaf pun juga saya pertimbangkan secara masak-masak. Kalau tahun2 sebelumnya saya i’tikaf di masjid agung yang memang melaksanakan program i’tikaf dengan muatan yang terstruktur, baik itu dalam ceramah / kajian, qiyyamul lail (shalat malam) berjamaah maupun tadarus. Namun tahun ini saya bener2 pengen taqqarub lebih personal lagi dengan Allah swt mengingat dosa saya terlalu banyak. Jadi, saya cenderung memilih masjid yang sepi dari program terstruktur.

Sebenarnya sayang sekali kalau tidak mengikuti kajian seperti di masjid BI atau Masjid raya Bintaro. Namun, tahun ini saya pengen porsi personal saya lebih banyak …saya pengen lebih luas dalam ruang pribadi agar hubungan dengan Allah swt bisa langsung terasa. Apalagi dari ceramah di radio Roja AM 756 saya mendengar bahwa muhasabah sebaiknya dilakukan sendiri bukan berjamaah. Saya rasa benar sekali. Kalau berjamaah seringkali kita “diarahkan” oleh ustadz yang memimpin. Padahal jalan hidup kita masing-masing berbeda sehingga kadang arahannya terasa kurang pas.

Akhirnya pilihan jatuh pada masjid Jami Nurul Ikhlas dimana saya tahu bahwa masjid ini tidak menyelenggarakan program khusu untuk i’tikaf. Memang ada jamaah yang menjalankan i’tikaf namun tak dikoordinir dalam kegiatan ibadah berjamaah. Masing-masing yang menjalankan i’tikaf melakukan apa yang ia sendiri programkan untuk dirinya. Ini merupakan tantangan bagi saya karena memang saya bukan ahli dalam menyusun program i’tikaf. Akhirnya saya susun sendiri program, sesuai dengan kebutuhan saya:

  • Qiyyamul Lail (di luar traweh yang memang rutin diadakan di masjid ini)
  • Membaca Al Quran dengan tujuan menyempurnakan bacaan dan penghayatan makna-makna ayat yang terkandung
  • Dzikir, istighfar dan berdoa
  • Muhasabah (biasanya saya lakukan sekalian qiyyamul lail)
  • Membaca buku-buka agama terutama terkait shalat dan istighfar

Tadinya saya ragu bahwa saya akan bosan karena semua program saya susun sendiri. Tapi ternyata …subhanallah! Saya sangat menikmati i’tikaf dengan cara sendiri ini. Saat-saat yang saya pikir saya akan bosan, yaitu membaca Quran yang saya jadwalkan sebagian besar ba’da Zhuhur, ternyata justru merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Karena salah satu waktu terbaik memanjatkan doa adalah antara Zhuhur dan Ashar maka saya juga pergunakan saat lelah memabaca Al Quran, saya pergunakan berdoa dan istighfar.

Memang, saat-saat paling indah adalah saat dini hari antara jam 1:00 sampai dengan jam 3:30 yang selalu saya isi dengan qiyyamul lail, muhasabah, istighfar dan baca Al Quran. Memang saat-saat inilah yang paling mengesankan karena pada pertiga akhir malam Allah SWT dan malaikat-malaikat pada turun ke langit mengabulkan doa orang orang yang menjalankan shalat malam. Subhanallah!

Rencana i’tikaf sepuluh hari akhirnya hanya terlaksana selama sembilan hari karena Idul Fitri dinajukan satu hari dari rencana semula. Tidak masalah meski rasanya masih kurang lama. Saya sangat menimati i’tikaf tahun ini dan semoga di tahun depan, bila usia masih sampai, saya ingin lebih intensif lagi dalam menjalankan i’tikaf. Amin.

Wass,

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Tadi malam (Rabu, 23 Sept 2009) saya menyimak siaran di radio Roja AM 756 sekitar jam 23 sd 00:00. Ustadz yang berceramah membahas kisah Urbah (?) bin Zaid yang menyentuh sekali.  Karena metode penyajian yang disampaikan ustadz yang membahas kisah ini begitu menarik saya benar-benar terbawa dengan kisah ini sehingga sambil mendengarkan radio saya juga membuka buku-buku koleksi saya. Sayangnya saya tak menjumpai nama Urbah bin Zaid di dalam buku-buku yang saya miliki. Apakah saya salah menulis nama Urbah? Bagi yang mengetahui, tolonglah sudi kiranya membagi ilmu ke saya.

Dalam kisah ini diungkapkan secara dramatis nuansa persiapan perang Tabuk yang begitu dahzyat karena perang ini dilaksanakan pada saat musim panas yang menyengat. Beberapa sahabat mengeluh tidak mau berperang karena panasnya musim dan perjalanan jauh yang akan ditempuh menuju Rumania. Mereka (kaum munafik) beralasan bahwa mereka takut tergoda syahwatnya bila berjumpa dengan wanita Rumania yang cantik-cantik sehingga mereka menyampaikan keberatan ke Rasul dan mohon keringana untuk tidak berangkat perang. Sementara itu kaum muslimin mempersiapkan perang Tabuk dengan sangat hati-hati dan semangat tinggi. Abu Bakar, Umar bin Khathhab dan Utsman semuanya menyumbangkan hartanya diinfakkan ke jalan Allah dalam perang Tabuk ini. Bhakan unta Umar semuanya akan disumbangkan untuk kepentingan perang ini. Ada saudagar yang tertarik membeli unta-untanya dengan harga berlipat namun Umar tidak mau kecuali bila ada yang berminat membeli dengan harga 700 kali lipat. Tak ada satupun yang tertarik bahkan mencemooh harga tinggi tersebut. Namun Umar menjawab bahwa Allah memberikan imbalan 700 kali bagi sedekah di jalan Allah. Untuk itu semua untanya ia sedekahkan untuk kepentingan perang ini.

Seorang bernama Urbah bin Zaid adalah seseungguhnya tergolong orang yang fakir harta namun sangat kuat imannya. Ia begitu menginginkan berangkat jihad dalam perang Tabuk. Namun sayangnya ia tak memiliki sedikitpun harta untuk memebeli peralatan perang (baju besi, tameng, tombak, dll). Ia begitu sedih karena tak memiliki apa-apa. Ia bahkan tak bisa tidur karena ingin sekali berangkat ke medan perang. Suatu malam ia curahkan semua keluhan dan ia munajat kepada Allah swt untuk mendapatkan rahmat Allah sehingga bisa berangkat perang. Malam itu ia begitu khusyu berdoa sehingga tikar tempat tidurnya yang lusuh itu dibasahi oleh airmatanya. Di dalam doanya ia memohon dengan kuatnya kepada Allah swt agar diberi kesempatan untuk bergabung dengan Rasul menuju perang Tabuk. Karena tak memiliki apa-apa akhirnya Urbah memohon Allah agar sudi kiranya dirinya menjual kehormatannya demi kaum muslimin termasuk semua kesalahan kaum muslim yang pernah menyakitinya ia maafkan. Ia sedekahkan kehormatannya demi keberangkatannya dalam Perang Tabuk. Doa Urbah ini diijabah Allah swt ..subhanallah! Dan melalui malaikat Jibril Allah menceritakan ke Rasul bahwa Urbah telah mnsedekahkan kehormatannya demi jihad dalam perang Tabuk. Akhirnya Urbah diijinkan bergabung ke dalam pasukan Rasul. Subhanallah!

———

Maaf bila kisahnya kurang tepat karena ini saya tulis berdasarkan pemahaman saya selagi mendengarkan radio tersebut tadi malam. Moral dari kisah ini adalah:

Seberapa besar kita telah berkorban untuk Islam seperti yang dilakukan Urbah? Sudahkah kita tergerak menjalankan jihad bila agama Allah ini dihinakan? Disebut teroris? atau hujatan lainnya? Apa yang telah kita lakukan untuk itu?

Wass,

G

Read Full Post »

Penduduk Surga

21 Ramadhan 1430H / 11 September 2009

Ringkasan Kutbah Jumat di Masjid Jami Nurul Ikhlas

Ustd Drs. Endang Saefudin, MM.

Assalamualaikum wr wb.

Sebenarnya saya tak berencana menulis di blog selama menjalani i’tikaf di masjid Jami Nurul Ikhlas. Namun kutbah Jumat yang merupakan rangkain dari kegiatan i’tikaf saya di Ramadhan 1430H selalu ada di pikiran saya sehingga saya perlu menuliskannya kembali dari ringkasan catatan saya. Memang, saya memiliki kebiasaan mencatat (di ponsel) materi kutbah atau ceramah yang disampaikan ustadz / khatib selama mengikuti. Mungkin bila Anda berada di sekitar saya merasa terganggu kok sedang ada khatib bicara namun saya asyik dengan ponsel saya. Padahal saya mencatat pokok2 pikiran khatib dalam kutbahnya.

Khatib mengawali kutbahnya dengan menekankan bahwa pada dasarnya kita semua (jamaah – red.) adalah penduduk surga. Mengapa? Karena kita semua adalah cucu nabi Adam yang sejatinya tinggal di surga. Namun karena godaan setan dan iblis yang terkutuk akhirnya nabi Adam, Siti Hawa dan iblis diperintahkan turun ke dunia. (Al Baqarah ayat 38). Artinya, tempat kita itu awalnya adalah surga. Di dunia ini kita hanya sebagai perantau, bukan penduduk tetap. Penduduk dunia itu ya tanaman dan hewan.

Sebagai seorang perantau, tentu kita pada akhirnya akan pulang kampung juga. Kampung halaman kita ya surga. Perjalanan pulang kampung tentu memiliki persyaratan supaya kita tidak nyasar. Harus ada bekal yang kita miliki, yaitu shalat, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya. Tanpa bekal yang memadai, tentunya kita bakalan nyasar ke neraka, yang sebenernya bukan kampung halaman kita.

Allah membekali Adam dengan hidayah. Ini bukti betapa Allah mengasihi dan menyayangi kita semua. Hidayah tersebut adalah 1. Al Quran  2. Seluruh sifat2 Allah telah diberikan ke Adam dan anak cucunya (manusia). Semua orang sudah diberi hidayah tapi tidak dimanfaatkan. Mata, telinga, kaki, hidung semuanya pinjaman dari Allah. Pinjaman tersebut semuanya perlu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Sedangkan manusia memiliki tiga sifat asli yang membahayakan manusia itu sendiri:

1. Ngantuk dan tidur

2. Lapar dan haus. Allah tak pernah makan minum. Karena lapar org bisa marah dan saling bunuh

3. Kelamin. Allah swt tak berkelamin seperti dalam Surah AL Ikhlas ‘lam yalid walam yulad’

Bila manusia gagal mengelola ketiga sifat di atas, kita menghadapi risiko gagal pulang kampung.

Semoga kita bisa mengambil manfaat dari kutbah singkat ini.

Wass,

G

Read Full Post »

Diambil dari milis. Buat renungan kita semua …


(TERUNTUK BAGI YANG MASIH PUNYA ORTU YANG SEPUH)

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Read Full Post »

Older Posts »