Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2015

TIGA WASIAT BAKR BIN ABDULLAH

“Jika engkau melihat orang lain, aku wasiatkan kepadamu untuk mengatakan tiga hal. Pertama, jika engkau melihat orang yang lebih tua usianya darimu, katakanlah, “Orang ini sudah mendahuluiku dalam beriman dan beramal shalih, ia tentu lebih baik dariku”. Kedua, jika engkau melihat orang yang lebih muda usianya darimu, katakanlah, “Aku telah mendahuluinya berbuat dosa dan kemaksiatan, tentu ia lebih baik dariku.” Dan ketiga, jika engkau melihat sahabat-sahabatmu menghormatimu dan memuliakanmu, katakanlah, “Ini keutamaan yang akan diperhitungkan nanti.” Dan kalau melihat mereka yang kurang menghormatimu, katakanlah, “Ini adalah akibat dosa yang aku perbuat.””

* dikutip dari majalah Tarbawi edisi 170, 8 Muharram 1429 H, 3 Januari 2008 M *

Advertisements

Read Full Post »

Sebenarnya ini adalah judul sebuah buku dan saya tertarik mengutip beberapa kalimat yang ada di buku ini sebagai pengingat saja:

Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda. Setiap potongan waktu adalah momentum. Masing-masing punya fungsi dan karakternya. Hari Senin ini bukan hari Senin kemarin, meski namanya sama. Hari Jumat ini juga bukan hari Jumat kemarin.
Setiap kali waktu datang ia meminta haknya, saat itu juga. Sebab, hidup tak mengenal siaran tunda.

* Ahmad Zairofi AM * Tarbawi Press
(Kangen majalah Tarbawi yang sudah lama tak terbit …)

Read Full Post »

image


Saya dapat poster bagus ini dari medsos dan langsung saya unggah di sini. Tentu ini maknanya tak hanya seputar zakat namun juga seperti Koh Win yang telah meninggalkan kegiatan sia2 yakni kegemaran mendengarkan musik. Semoga Allah Tabaroka Wa Taala segera menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Aamiin …

Read Full Post »

Masjid Baabul Jannah

Foto-foto masjid Baabul Jannah, Pondok Duta I, Cimanggis.

2015103155602

2015103155612.jpg

 

Read Full Post »

TUJUH INDIKATOR KEBAHAGIAAN
HIDUP DI DUNIA

Ibnu Abbas RA menjelaskan, ada 7 indikator kebahagiaan hidup di dunia, yaitu :

1) Qolbun Syakirun, atau hati yang selalu bersyukur, artinya selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.

2) Al-Azwaju Shalihah, yaitu pasangan hidup yang shaleh / shalihah, pasangan hidup yang shaleh / shalihah akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sakinah.

3) Al-Auladul Abrar, yaitu anak yang shaleh / shalihah. Do’a anak yg shaleh / shalihah kepada orang tuanya dijamin dikabulkan ALLAH, berbahagialah orang tua yang memiliki anak sholeh / solehah.

4) Al-Biatu Sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang shaleh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.

5) Al-Malul Halal, atau harta yang halal, bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yang dimiliki. Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup.

6) Tafakuh Fid-Dien, atau semangat untuk memahami agama, dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada ALLAH dan Rasul-NYA. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

7) Umur yang barokah, artinya umur yang semakin tua semakin shaleh, setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Inilah semangat hidup orang-orang yang barokah umurnya.Subhanallah…

Dua Perkara Agar Hidup Penuh Hikmah

1- jagalah rahasiamu pada dua tempat saja antara engkau dengan Allah Ta’ala saja. Karena menitipkan rahasia kepada orang lain akan memberatkannya….

2- Bersemangatlah didunia ini tuk mendapatkan dua ridho: ibu dan bapak…

3- Mintalah kepada Allah Ta’ala dengan mengamalkan dua hal ketika terjadi musibah: sabar dan shalat…..

4- Janganlah takut dengan dua hal: rizki dan kematian, karena keduanya telah diatur oleh Allah Ta’ala….

5- Dua hal yg harus dilupakan: kebaikanmu pada orang lain dan kesalahan sudaramu atasmu….

6- Dua hal yang harus selalu diingat: mengingat Allah Ta’ala dan negeri akherat…..

والله الموفق

Oleh: Ust. Hizbul Majid

Read Full Post »

Takutlah Kepada Allah

Herwinto

Sahabat Muslimah, Kisah ini nyata dan terjadi pada abad pertama hijriyah, di zaman tabi’in.

“Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda?” tanya seorang istri kepada suaminya, sambil bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan yang terpantul di kaca itu.
“Ada.”
“Siapa?”
“Ubaid bin Umair.” Sang istri diam sejenak.

Ia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.
“Wahai suamiku,” katanya merayu, “bolehkah aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umair bertekut lutut di depanku?”
Sang suami terkejut dengan permintaan ekstrem itu, tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik, untuk menguji keshalihah seorang ulama. “Silahkan, aku mengijinkanmu.”

Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidil Haram. Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah masih hidup. Nama lengkapnya Ubaid bin Umair bin Qatadah Al Laitsi Al Junda’i Al Makki. Kelak, beliau wafat pada tahun 74 hijriyah.

Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasehat. Ia beralasan kebutuhannya amat penting, dan memintanya pindah ke pojok masjid. Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya dan tampaklah wajah cantiknya laksana bening rembulan. “Apa yang kau lakukan?” kata Ubaid melihat kejanggalan wanita tersebut.

“Sungguh, aku mencintaimu. Aku hanya ingin jawaban darimu,” sergah wanita itu, terus berusaha menggoda Ubaid.

“Sebentar,” kata Ubaid. Kini nadanya mulai naik. “Ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur, maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.”

“Baik, aku akan menjawabnya dengan jujur.”

“Pertama, seandainya Malaikat Maut datang menjemputmu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu?” wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya dengan kematian.

“Tidak”

“Kedua, seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Ketiga, seandainya saat ini semua manusia menerima catatan amalnya dan engkau tidak tahu apakah kau akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Keempat, seandainya saat ini seluruh manusia digiring ke timbangan amal dan engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau justru amal buruknya yang lebih berat, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Tidak”

“Kelima, seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmatNya yang telah dianugerahkan kepadamu, masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu?”

“Demi Allah, tidak”

“Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah. Betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu.” Kini ia tak kuasa menahan air mata. Tadi ia datang ke Masjidil Haram berpura-pura mencari nasehat, kini ia benar-benar mendapatkan nasehat yang benar-benar menyentuhnya.

Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih.
“Apa yang terjadi wahai istriku?”
“Kita ini termasuk orang yang celaka,” jawab wanita itu, kemudian ia mengambil wudhu dan shalat.

Hari-hari berikutnya, ia berubah drastis. Ia tak lagi membanggakan kecantikannya. Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam. Ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.

Read Full Post »

Judul posting ini saya ambil langsung dari sebuah kajian bada Dzuhur yang disiarkan di radio Rodja tadi. Saya sendiri tak megikuti dari awal sebenarnya apa tema kajian siang tadi karena memang saya masuknya telat ketika kajian telah berjalan. Namun sang ustadz mengungkapkan serta menekankan tentang kebahagiaan hakiki hanya bisa diperoleh bila kita mengenal Allah secara berapi-api sehinga membuat saya tercenung. Hanya itulah sebenarnya harapan dari seorang yang beriman yakni lebih mengnal Allah, memahami lebih jauh apa yang menjadi perintahNya seta apa-apa yang dilarangNya. Semakin kita mengenal Allah maka kita semakin bahagia karena kita akan secara ikhlas menjalankan semua perintahNya serta menjauhkan diri dari laranganNya.

Seorang yang benar-benar mengenal Allah tak akan peduli terhadap apa kata orang karena baginya yang paling penting adalah mendapatkan ridhla Allah. Baginya, pujian dari manusia tak memiliki nilai positif terhadap kehidupannya kelak di akhirat, bahkan akan juga menjerumuskannya ke lembah nista karena akhirnya ia mengerjakan sesuatu dengan harapan mendapatkan pujian dari manusia. Padahal itu sia-sia belaka karena pujian manusia tak berarti sama sekali. Untuk itu orang yang mengenal lebih dekat lagi ke Allah akan menjauhkan dirinya dari sifat suka dipuji. Bila ada sebuah pepatah di dunia pekerjaan: “Reprimand in private, appreciate in public” (“menegor secara pribadi, memuji di depan umum” – red.) sudah tak menjadi perhatiannya lagi serta tak berlaku bagi dirinya. Baginya yang penting justru mencari perhatian dari Allah dengan cara beramal tanpa memamerkan ke orang lain namun ditujukan semata hanya untuk Allah Tabaroka Wa Taala.

Orang beriman yang mengenal Allah sudah pasti juga tak peduli terhadap cemooh manusia karena baginya yang terpenting adalah ridhla Allah. Seorang yang dengan niat tulus tak mau bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya sehingga tak mau bersalaman, tak takut dicemooh orang lain. Mengapa? Dalilnya sudah sangat jelas bahwa Rasul melaran umatnya bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahromnya. Contoh lainnya adalah bila ia mengerjakan shalat berjamaah tepat waktu, maka ia:

  • Tak peduli apa kata atasannya bila dikatakan bahwa ia lebih mementingkan shalat ketimbang rapat yang dihadiri oleh banyak orang penting (kecuali rapat genting, misalnya karena ada bencana atau hal lainnya yang mendesak);
  • Tak peduli komentar orang lain yang mencibirkan bibir seolah dianggak “sok alim” atau “sok suci” karena mereka berkeyakinan bahwa ibadah bisa dilakukan kapan saja termasuk shalat fardhu. Bahkan ada kalangan yang mengatakan bahwa shalat tak penting karena yang lebih utama adalah berbuat baik, tak menyakiti orang lain. Naudzubillah …

Sudah seberapa sering kita mendengar ajakan untuk “membaca Al Quran”? Mungkin sebagian orang juga sudah bosan mendengar ajakan tersebut atau bukan menganggap hal menarik untuk segera dikerjakan karena mungkin sudah sejak dulu mendengar ajakan tersebut. Hati-hati kalau kita sudah mulai merasakan hal ini karena bisa jadi seterusnya tak ingin membaca Al Quran. Padahal Allah, sang pencipta, sudah berfirman bahwa membaca Al Quran sekaligus bisa merupakan penyembuh; janji Allah tak pernah luput.

Maka beruntunglah bagi msulim karena telah dikarunia iman yang harus dijaga dan terus ditingkatkan agar benar-benar menjadi insan yang bertakwa, meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Read Full Post »

Older Posts »