Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2008

Wah kemarin baru dapet majalah Tarbawi edisi terbaru no. 176 Th. 9 tanggal 27 Maret 2008. Topiknya sungguh mengasyikkan:

27032008333.jpg

Seperti edisi2 sebelumnya, majalah ini selalu berisi tulisan-tulisan yang mementramkan dan belajar bijak dari kisah-kisah jaman dulu, termasuk di jaman Rasulullah SAW. Cerita mengenai Utbah, dan juga cerita mengenai Umar bin Khatab sungguh sangat menyentuh hati.

27032008334.jpg

Juga seperti biasanya, ada Petikan Qobasat yang indah dan penuh makna:

enam-hal.jpg

Majalah mini ini sangat layak dibaca dan cukup “handy” seperti buku gitu, sehingga bisa dibaca di angkot, kereta, bus , bahkan di ojek sekalipun.

Mengapa Topik Tarbawi Ini Mengesankan Saya? 

Jawabannya sederhana. Dua hari sebelumnya (24-25 Maret) saya baru aja mengajar pelatihan “Completed Staff Work” untuk sebuah perusahaan Fortune 500 bidang energi, dimana materinya saya sendiri yang mengembangkan. Materi tersebut saya buat sejak tahun pertama saya mengajar di perusahaan tersebut, yaitu 2006 (dua tahun yang lalu).  Seolah, materi yang saya kembangkan tersebut mendapatkan “endorsement” dengan tulisan2 yang terkandung dalam majalah Tarbawi ini yang sangat mengedepankan “mendengarkan” sebelum berbicara. Dalam Completed Staff Work Cycle yang saya kembangkan, Mendengarkan juga merupakan hal PERTAMA yang perlu dilakukan bila seorang ingin mengerjakan tugasnya secara tuntas profesional. Keseluruhan siklusnya adalah: Listen, Observe, Probe, Validate, Deliver, Confirm (satisfaction) yang disingkat : L-O-P-V-D-C. Siklus lengkapnya adalah:

lopvdc.jpg

Salam,

G

Read Full Post »

Jumat yang lalu, 21 Maret 2008, saya menuju Giri Tirta, Gunung Pancar. Karena pas kena waktu Jumat, saya Jumatan di masjid yang ada di pinggir jalan, sebelum pertigaan Sate Kiloan. Saya lupa nama daerahnya. Mesjidnya cukup unik, tua, namun terkesan tidak terawat. Mungkin karena tidak adanya dana. Bagian dalamnya pun berupa karpet hijau yang sudah kotor dan sebetulnya sudah tidak layak buat shalat. Mesjid seperti ini sudah selayaknya mendapatkan perhatian agar dirawat dengan baik. Apalagi mengingat jemaahnya yang cukup banyak sehingga tidak cukup bisa menampung semua jemaah pada shalat Jumat.

Tampak depan:

21032008095.jpg

Tampak depan, diambil gambar dari sudut masjid yang ada bedug:

21032008096.jpg

Kira-kira 100 meter ke arah atas, ada sate kiloan di pojokannya:

21032008097.jpg

Read Full Post »

Gak tuh, bahkan cenderung kecewa berat kalau Anda nonton pelem ini setelah membaca bukunya sampe tuntas dan menjiwai plot ceritanya.

http://twijaya.files.wordpress.com/2007/12/film_ayat-ayat-cinta.jpg

Itulah masalahnya, kalau sudah baca bukunya, mengapa gak sekalian menonton filmnya? Kan rasanya ada sesuatu yang gak tuntas kalau kita gak nonton. Kurang afdhol, katanya gitu … Tapi ya udahlah, saya akan coba bahas tentang bagaimana film ini menurut saya:

CASTING

Nah, ini yang sangat mengganggu saya. Karena dari awal saya sudah tahu bahwa film ini berdasarkan buku, maka saya berharap plot ceritanya persis PLEG dengan yang dibuku. Ternyata tidak tuh. Dan ini cukup menyesatkan karena seolah film ini mendompleng ketenaran buku yang konon laku jutaan copy tersebut. Ini beberapa hal yang bisa saya uraikan:

  • Nuansa Mesir yang diceritakan di buku dengan begitu indahnya, tidak berhasil ditampilkan dengan representatif di film ini. Casting nya kelihatan cukup kedodoran dan terkesan apa adanya. Kegandrungan Fahri pada jus mangga telah dikalahkan oleh pesan sponsor Nu Tea (?) yang jelas tidak ada di buku. Ini jelas sangat mengganggu karena justru nuansa Timur tengah panas dan kenikmatan menikmati jus mangga cukup memberikan torehan yang membekas, bila kita baca bukunya dengan seksama.
  • Nuansa kehidupan rumah-tangga kos2an atau pondokan atau asrama anak2 Indonesia di aparetemen tersebut tidak terurai dengan jelas, siapa2 penghuninya dan bagaimana manajemen rumah tangga dikelola oleh Fahri. Di sini gak tergambar jelas bahwa Fahri adalah kepala rumah tangga.
  • Pemindahan segmen cerita ke bagian lain (di belakang) cukup mengganggu dalam mendeskripsikan siapa Maria. Ya, Maria yang menggandrungi dan hafal Surah Maryam jauh sebelum dia kenal Fahri. Ini justru diceritakan di bagian akhir dalam bentuk “fashback”. Hal ini memberikan dampak buru2 pada saat Aisyah kemudian mengatakan bahwa di dalam diri Maria ada jiwa “muslimah”. Penonton tentu kaget dengan statement ini lha wong sebelumnya tidak pernah diuraikan jelas siapa Maria itu.
  • Karena banyaknya segmen cerita yang dipindahkan ke belakang, maka kejadian penting di dalam kereta dimana orang Amerika sedang digunjingkan menjadi tidak compelling dan berkesan “memaksa” dan kelihatan banget bahasa atau nuansa “menggurui” . Padahal kalo di buku, segmen ini justru sangat cantik sekali karena dakwah Islamnya bagus banget. Adu argumentasi yang terjadi di kereta menjadi sangat kaku dan kelihatan tidak nyambung dengan plot cerita. Apa maunya sih menampilkan bagian ini? (bagi yang belum baca buku, tentunya). Bagi yang sudah baca bukunya, akan merasa begitu cepat film ini mengantarkan kita ke bagian penting ini.
  • Kesalahan casting pula yang membuat hubungan cinta terpendam Nurul tidak terkuak sama sekali, dan terkesan “tempelan” belaka. Padahal ini justru esensi ceritanya!!! Saya ingat sekali mengikuti bedah buku yang dilakukan oleh penulis Ayat- Ayat Cinta di Aula Indosat tahun lalu. Sang Penulis mengakui bahwa beliau menangis saat harus membelokkan percintaan (terpendam) Nurul dan mungkin Fahri juga menyemai benih cinta ke Nurul ke Aisyah, akhirnya. Bukan apa2, di buku diuraikan deskriptif sekali bagaimana hubungan baik Nurul-Fahri ini terjalin. Ada plot mengenai keterlambatan menyampaikan “amanah” dari paman Nurul yang berakhir menyedihkan – Nurul tidak mendapatkan cintanya.
  • Rasanya aneh juga melihat Maria sering main di “dalam” kos2an anak2 Indonesia, membantu Fahri dalam mengedit tulisan2 Fahri. Apakah seorang wanita berada di dalam kos2an laki-laki termasuk cara2 Islami? Rasanya di buku kok gak ada ya kesan Maria berada secara fisik di dalam kos2an. Anehnya, sang Penulis kok menyetujui segmen ini ya? Aneh rasanya …
  • Proses pelamaran Aisyah pun terlalu tergesa-gesa tanpa pertimbangan masak dari Fahri, dan juga tanpa menyebutkan siapa-siapa tokoh dibalik pelamaran tersebut.
  • Aisyah tidak pernah berkata kasar ke Fahri (versi buku) namun di film ini Aisyah marah ke Fahri saat dia mencemburui Fahri yang dilamar keluarga Nurul dan juga Fahri menerima telpon dari Maria.
  • Di buku, Maria tidak sempat menikmati kehidupan perkawinan dengan Fahri karena ia telah meninggal secara khusnul khotimah setelah akad nikah. Sebelum meninggal, Maria bermimpi memasuki pintu surga dan menurut saya ini penting untuk ditayangkan. saya bayangkan seperti film asing BRAVEHEART yang juga menggambarkan surga. Tapi sayangnya di film AAC ini tidak ada penggambaran indah ini.
  • Maria harusnya punya ayah dan pernah mereka sekeluarga mentraktir Fahri dkk makan di restoran mewah. Inipun dilakukan karena mereka tetangga yang baik di apartemen yang tidak sempat ditunjukkan di film ini. Bukan masalah ayah Maria tidak ada dalamfilm masalahnya, tapi justru cara bertetangga Islami yang harusnya ditonjolkan.
  • … masihbanyak lagi segmen yang mengecewakan … termasuk adegan berduaan Fahri dan Maria di Sungai Nil .. apa Islam membolehkan pacaran? … masih banyak lagi ….

ACTING

Film ini juga kedodoran acting nya. Pemeran Fahri (siapa sih?) tidak mencerminkan gambaran Fahri yang disebutkan di buku. Maaf, wibawa dan kharismanya tidak ada. Ini sangat jauh sekali dengan figur Fahri yang tertuang di buku: penuh wibawa, sabar dan bijaksana. Di film ini kelihatan Fahri yang tergesa-gesa dan tidak sabaran. Belum lagi kemampuan actingnya yang banyak “kaku” misalnya saat melawan kemapanan kehidupan “wah” di aprtemen mewah Aisyah setelah menikah.

Maria tampil cukup bagus dan natural. AIsyah juga agak kaku mainnya. Pemain terbaik dalam film ini justru penghuni penjara satu sel dengan Fahri. Sungguh, dia ini adalah aktor yang mainnya bener2 paripurna dan pesan yang ia sampaikan jadi mengena. Yang paling mengesankan adalah pesannya dia tentang Kisah Nabi Yusuf yang dituduh memperkosa wanita dan dijebloskan ke penjara. Sayang sekali ekspresi aktor ini tidak diimbangi permainan tokoh Fahri yang terkesan culun rada blo’on dalam menyikapi nasehat2 teman sekamar di penjara ini.

Jadi, apa dong bagusnya film ini?

Ada dong … tentu dalam hal dakwah (meski gak semuanya patut dicontoh). Di tengah pasar film Indonesia yang sesak dengan film horor dan percintaan remaja yang gak jelas, film ini menyejukkan sekali. saya terutama senang dengan ayat2 Al Qur’an yang dikumandangkan. Sungguh menyejukkan.

KESIMPULAN:

Sungguh, film ini sangat biasa saja, bahkan bagi saya pribadi yang sangat menyukai bukunya, justru mengecewakan. Mungkin juga bagi Anda penggemar buku ini bisa jadi merasakan hal yang sama. Namun, bagi yang belum baca bukunya, mungkin film ini memberikan angin baru dunia perfilman Indonesia. Terlepas dari “content” atau plot cerita yang menurut saya biasa saja, tidak ada aktor yang main bagus kecuali temen Fahri yang menghuni satu sel penjara dengannya. Maria juga cukup bagus berperan meski rada kaku pas di adegan berdua dengan Fahri di tepi sungai Nil yang indah itu. Teman Fahri, Saiful juga bermain bagus, bahkan lebih bagus dari permainan Fahri yang tidak menjiwai perannya dengan baik. Terlepas dari angin sejuk religi penuh kedamaian yang dienduskan film ini dan juga kerja keras para crew pendukung film termasuk sutradara Hanung Bramantyo, film ini hanya mendompleng (baca: “memanfaatkan”) kesuksesan buku Ayat Ayat Cinta. Gak salah sih, tapi yang patut mendapat kredit adalah Penulis Buku nya, bukan sutradaranya. Maaf atas kepolosan ini, saya hanya mencoba berkata yang sebenarnya …

Perhatian: Saya melihat banyak keluarga yang membawa putra-putrinya yang masih kecil (di bawah 15 tahun bahkan) yang sebenernya gak pas buat ditontonnya. Sebaiknya jangan membawa anak2 yang masih kecil, takut pesan dakwahnya jadi melenceng …

Salam,

G

UPDATED 23 Mar 08:

Hebat, memang, film ini sampai banyak pejabat bahkan WaPres pun memboyong keluarganya menonton film yang udah ditonton 3 juta orang ini. Wapres kagum dengan anak2 muda yang menggarap film ini, seperti diberitakan Kompas hari ini:

23032008243.jpg

Sang sutradara, Hanung, yang juga hadir pada pertemuan dengan Wapres mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia ternyata masih mau menonton film dengan dasar agama:

23032008249.jpg

Read Full Post »

Kejadiannya udah hampir seminggu, tepatnya hari Selasa 4 Maret 2008 sekitar jam 12:01 di depan Kantor Pusat PT Indosat (KPPTI), pinggir bunderan antara KPPTI dan Bank Indonesia.

Hari itu saya memang ada janji jam 12:30 dengan temen. Rencananya, saya akan shalat Dzuhur dulu di masjid Sarinah, terus baru ketemu sama temen saya. Arrangement seperti ini sudah sering saya lakukan karena saya tinggal jalan kaki menuju Sari Pan Pacific Hotel, dimana di situ ada pintu menembus areal mesjid. Tepat jam 12:00 saya berangkat dari gedung KPPTI menuju mesjid. Saya melintas dari pintu utama KPPTI, nyebrang ke arah trotoar Bank Indonesia (BI) menuju Sarinah. Saat itu udah sekitar jam 12:01 dan saya dalam kondisi ter-gesa2 karena takut ketinggalan shalat Dzuhur berjamaah. Pas saat saya nyebrang itu, saya lihat banyak kendaraan menuju Kota dari arah Sarinah pada berhenti karena lampu merah. Namun, ada sebuah sepeda motor bebek butut dikendarai Bapak cukup berumur (sekitar 60 tahunan) sedang membonceng Bapak seumur lainnya, dalam keadaan mesin motor hidup dan motor berhenti, mengarah ke Jl. Budi Kemuliaan. Bersamaan dengan menyebrangnya saya ke trotoar BI dalam ketergesaan, motor tadi bergerak menuju Jl. Budi Kemuliaan sambil mendekat saya. Pas sudah dekat, Bapak yang dibonceng dengan cepat mengambil HP saya yang saya gantungkan di pinggang dan motor bergerak cepat ke arah Jl. Budi Kemuliaan. Saya sempat kaget dan bereaksi denagan tereak “Maling!”. Namun Bapak yang dibonceng (mukanya kelihatan jelas sekali karena hanya pakai helm tertutup atas saja) hanya melambaikan tangan ke saya sambil membawa HP saya itu. Wuaduh! Rasanya kesel banget! Dasar! Herannya, tidak ada orang yang peduli dengan tereakan saya dan saya terbengong di tengah jalan. Nasib.

Sempat saya terpikir akan balik lagi ke kantor proyek di KPPTI untuk langsung menelpon operator buat memblokir nomer saya, karena saya tidak membawa HP Flexi saya saat itu. Namun niat tersebut saya urungkan karena saya takut ketinggalan Dzuhur. Akhirnya saya teruskan berjalan menuju mesjid sambil memendam perasaan kesel dan penyesalan sedalam-dalamnya .. kenapa saya tadi tidak mencoba memegang tangannya? Kenapa saya tidak menghindar? Kenapa saya tidak cari ojek buat mengejar motor penjambret tersebut? Kenapa gak ..? Kenapa gak …? Dan sederetan “kenapa gak” yang bermuara pada rasa penyesalan saya. Belum lagi saya kehilangan data2 di HP tersebut ….. nangis ….!!! Yang lebih kesel lagi, ternyata di mesjid Sarinah saya udah tinggal kebagian Tahiyatul Akhir dari shalat Dzuhurnya. Kesel banget! Sumpah serapah saya lontarkan dah buat si penjambret tersebut. Yang sangat sayangkan, muka dua orang bermotor tersebut tidak menandakan muka2 penjambret! Mereka kelihatan orang baik2 dan alim. Itu yang sesalkan! Usia udah 60an tahun tapi kok masih njambret. Ini bukan berarti saya bilang anak muda musti njambret lho .. tapi ya setidaknya kalo penjambret tersebut sudah cukup berusia senja, mbok yao jangan njambret orang lain .. mezhalimi orang lain .. gitu loh …

Setelah shalat, saya pun mohon kepada Allah SWT untuk memberikan hukuman yang setimpal bagi penjambret tersebut, yang telah membuat orang lain (saya) susah seperti sekarang. POkoknya kuesel pol lah saya! Misuh-misuh! Padahal saya suka banget ama HP yang saya miliki belum ada setahun tersebut: Sony Ericsson P990i .. yang udah tidak keluar lagi karena diganti model lain terbaru. Saya seneng menggunakan HP ini karena kameranya meski hanya 2 mega pixel, namun mantab jek buat foto2 di blog. Sebagian besar foto2 di blog ini dijepret dari kamera di HP tersebut.  Sial bener dah!

Namun semakin lama saya menyumpah-serapahi penjambret tersebut, saya akhirnya sadar bahwa itu hanya buang2 energi dan waktu saya aja .. karena sampe saya dobolen, atau keluar busa dari mulut say pun .. HP saya tetap raib .. dan siapa peduli mau mengembalikan? So, buat apa misuh2? Gak mutu dan gak akademis blaszz!!! Cukup lama saya akhirnya merenung ulang dan pada akhirnya saya berpendapat bahwa .. semuanya itu milik Allah. Jadi ya udah .. meski berat sekali .. saya berusaha buat meng”ikhlas”kan saja HP tersebut. Meski HP tersebut adalah HP termahal yang pernah saya beli, saya harus sadar .. akhirnya kembali bukan milik saya lagi. Inilah fakta yang saya hadapi.

Semakin lama berpikir, saya merasa bahwa mungkin penjambret tersebut melakukan dengan terpaksa karena anaknya perlu biaya sekolah dan satu2nya cara yang mengambil punya orang, meski dosa. Tanpa ada maksud membenarkan tindakannya, saya sedikit demi sedikit mulai merasakan bahwa pada dasarnya manusia itu “fitrah”nya bukan mencuri. Hanya setan yang terkutuklah yang selelu menggoda manusia buat berbuat maksiat. Saya yakin, Bapak tadi dipengaruhi oleh bujuk rayu setan yang dahsyat! Yo wis lah .. gak usah diperpanjang .. semoga HP tersebut memberikan manfaat buat dirinya, apalagi kalo buat anaknya bersekolah. Alhamdulillah .. HP yang dulu milik saya, bisa bermanfaat bagi orang lain .. syukurlah …

Setelah merenung lagi, ternyata banyak hal yang bisa saya syukuri mengenai kejadian ini.

  1. Saya bersyukur bahwa Allah SWT masih sayang sama saya yang penuh dosa ini karena saya telah ditegor bahwa jangan mencintai sesuatu di dunia ini secara berlebihan, karena cinta sejati itu hanya untuk Allah SWT.
  2. Saya bersyukur ditegor bahwa bisa jadi saya tidak bersodaqoh, atau andaikan sudah pun mungkin tidak “ikhlas” atau tidak karena Nya, atau mungkin sodaqoh saya masih kurang. Nah untuk hal ini saya yakin, kalo saya lebih banyak lagi bersodaqoh, Allah akan lebih lagi melimpahkan rahmat dan hidayah Nya buat saya dan keluarga.
  3. Saya bersyukur bahwa malaikat masih lebih kuat membisikkan ke hati saya untuk berbuat lebih mengutamakan anjuran Allah dan Rasul untuk shalat berjamaah di mesjid Sarinah ketimbang sibuk menelepon operator buat memblokir SIM card saya. Ini jelas, karena pemblokiran segera hanya membentengi saya dari pemakaian pulsa berlebihan karena digunakan buat menelepon jarak jauh, namun saya kehilangan kesempatan dibentengi oleh malaikat untuk selalu berbuat baik. Memang, pada akhirnya saya berhasil memblokir account saya, namun itu saya lakukan setelah shalat Dzuhur berjamaah di masjid udah saya tuntaskan.

Makanya atas segala nikmat tersebt di atas saya mengucapkan Alhamdulillah. Semoga Allah memberkahi setiap jengkal rejeki saya, yang jauh lebih penting dari harga sebuah HP.

Wass,

Gatot

Read Full Post »