Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2008

Jumat, 20 Jun 08 09:21 WIB
Sikap Samad Khurram patut menjadi contoh siapapun yang menentang segala bentuk penindasan oleh negara lain. Pemuda Pakistan ini menolak beasiswa bergengsi dari AS, sebagai bentuk protes atas serangan pasukan militer AS ke perbatasan Pakistan pekan kemarin.

Penolakan ini membuat kaget dan malu para pejabat diplomatik AS di Islamabad, karena disampaikan Khurram dalam pidatonya di depan para tamu yang hadir dalam acara khusus penyerahan beasiswa yang digelar oleh Roots College Internasional hari Rabu kemarin.

Hari itu, rencananya Duta Besar AS untuk Pakistan Anne W. Patterson akan menyerahkan beasiswa dari Universitas Harvard pada Khurram. Tapi ternyata Khurram menyatakan menolak beasiswa tersebut dengan sebagai bentuk protesnya atas serangan pasukan militer AS di Afghanistan ke perbatasan Pakistan seminggu yang lalu, yang menyebabkan warga sipil dan tentara Pakistan tewas.

Selain itu, penolakan itu juga bentuk protes Khurram pada pemerintahan AS yang kerap mendukung kebijakan Presiden Pakistan Pervez Musharraf. Saya menolak menerima penghargaan beasiswa ini sebagai protes atas serangan AS ke wilayah pedalaman Pakistan dan atas dukungannya pada tindakan-tindakan Pervez Musharraf yang tidak konstitusional, tukas Khurram yang membuat hadirin tercengang.

Pernyataan Khurram membuat Duta Besar Patterson malu, apalagi tak lama kemudian terdengar tepuk tangan hadirin yang kagum atas ketegasan sikap Khurram. Pemerintah AS sudah menyampaikan penyesalannya atas insiden ini, dan telah menawarkan kerjasama untuk menyediliki peristiwa ini, kata Patterson dengan rona muka merah menahan malu.

Khurram adalah mahasiswa tahun ketiga bidang pemerintahan di Universitas Harvard, dan kembali ke Pakistan dua minggu yang lalu untuk hadir dalam acara penyerahan penghargaan beasiswa itu. Buat Khurram, permohonan maaf saja tidak cukup.

Saya telah menyampaikan protes saya. Saya ingin mengatakan pada rakyat AS bahwa pemerintah mereka tidak hanya mendukung seorang diktator, tapi juga telah membunuh rakyat tak berdosa yang tidak ada kaitannya dengan perang, tandas Khurram yang juga dikenal sebagai blogger yang aktif menulis tentang situasi politik di negerinya.

Saya ingin menjadi bagian dari kampanye untuk independensi hukum di Pakistan, sambung Khurram, yang sempat cuti kuliah pada musim gugur tahun 2007 karena ikut berdemonstrasi dengan para pengacara di Pakistan yang mendesak agar Musharraf mencabut pemecatan hakim-hakim di pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung negeri itu. (ln/iol)

Advertisements

Read Full Post »

Hari Senin, 16 Juni 2008, menyempatkan shalat dzuhur di Masjid Agung Sunda Kelapa:

Mas Herry Nurdi dari majalah Sabili memberi info melalui SMS bahwa tonsengnya top banget, meski nasinya agak keras. Nyam nyam .. pasti huenaaaaak tenaaaaaaaan … Sayangnya saat itu saya hanya bisa berimajinasi karena sedang shaum …. he he he …

Salam,

G

Read Full Post »

Sudah lama saya ingin menulis ini, tapi kok takut banget memulainya. Bukan apa2, ini lebih bersifat spiritual dan biasanya kalo sudah menyangkut hal ini saya berpikir tiga sampai sepuluh kali buat menuagkannya dalam tulisan, meski itu hanya di blog pribadi. Satu hal yang saya takuti adalah “riya” alias kegiatan memamerkan diri yang ujungnya akan menghapus semua makna dari melakukan ibadah. Hal ini karena setiap ibadah hanya ditujukan pada satu tujuan: mendapatkan ridhla Allah SWT. Bila suatu ibadah hanya ditujukan buat pamer, maka tidak akan mendapatkan ganjaran rahmati dari Allah SWT. Untuk itulah maka saya banyak merenung sebelum menuliskannyan krn takut riya itu.

Namun dengan semakin banyak merenung saya mendapatkan kemantapan yang makin menguat yang didasari pada keinginan untuk berbagi pengalaman. Dengan semangat ini, insya Allah saya terbebas dari riya. Ya, semoga Allah SWT melindungi saya dari perbuatan ini. Amien. Proposisi saya sederhana: kalau dalam berbagi rasa mengenai musik yg saya sukai dan artinya bagi kehidupan, saya bisa berbagi, kenapa tidak dalam ibadah? Siapa tahu, dengan berbagi, ada perubahan positip pada yang menerima dan mendapatkan manfaat dari tlisan saya ini.

Saya tidak tahu kapan tepatnya, tapi semakin hari saya semakin merasakan kebutuhan untuk selalu memenuhi panggilan Allah setiap Dia memanggil umatNya untuk melakukan shalat melalui bunyi adzan yang dikumandangkan 5 kali sehari itu. Dulu saya menganggap bunyi adzan biasa saja dan berusaha melakukan shalat lima waktu “sebelum” bunyi adzan selanjutnya dikumandangkan lagi sebagai panggilan shalat fardhu selanjutnya. Sekarang, saya justru ingin memastikan kapan adzan “akan” dikumandangkan agar saya bisa shalat di mesjid secara berjamaah setelah adzan usai. Tidak lagi saya menunda shalat hingga mepet pada waktunya.

Saya jadi teringat di jaman dulu ada kisah yang memberikan gambaran tentang penundaan seseorang dalam mengembalikan barang pinjaman hingga ada teguran: “Apakah Anda yakin bahwa Anda masih hidup esok hari? Kembalikanlah sesegera mungkin”. Kisah inilah yang menghantui saya sehingga saya juga tidak mau berhutang ke Allah saat nyawa saya dicabut karena belum shalat fardhu sedangkan saatnya sudah tiba sebelumnya.

Tidak ada waktu terbuang

Kemarin (Sabtu, 14 Juni 2008), saya mengantar anak saya, Dian Widayanti, bersama tiga orang temannya berbelanja kostum ke Blok M untuk keperluan perayaan lomba di sekolahnya. Pada saat saya drop mereka di Blok M, waktu sudah menunjukkan jam 17:32 dan tak lama lagi masuk Magrib. Saya bawa mobil saya menuju sebuah mushalla sederhana yang terletak di sekitar pusat jajan panglima polim, sekitar RS Bersalin Asih. Saya tahu bahwa mushalla ini sudah seperti masjid karena setiap adzan tiba selalu ada jemaah yang menunaikan shalat bersama, termasuk pedagang makanan di areal tersebut. Meski kondisinya sangat sederhana, namun sudah memadai bagi saya untuk bisa melakukan shalat berjamaah.

Setelah shalat Maghrib berjamaah, saya tidak kemana-mana selain duduk di masjid dan membaca Al-Qur’an kecil yang ada di mushalla tersebut. Saya merasakan kenikmatan luar biasa dalam proses penantian yang saya isi dengan membaca Al-Qur’an ini. Saya merasakan nikmatnya sebuah pesta akbar yang akan digelar beberapa menit lagi: shalat Isya berjamaah. Meski saya sendiri dan ragu bahwa shalat Isya bakalan ada jemaah, namun saya pernah baca buku yang menceritakan seorang muslim di hutan yg mengerjakan shalat sendirian, sebetulnya malaikat turut shalat di belakangnya. Jadi saya sangat optimis meskipun peserta shalat Isya hanya saya.

Namun ternyata, pada sekitar jam 19:00, satu persatu muslimin saling berdatangan dan saya yakin bahwa mereka ini adalah pedagang makanan di areal tersebut. Akhirnya kami shalat Isya berjamaah dan saya sangat menikmati sebagai salah satu makmum nya. Subhanallah.

Sungguh, saya sangat bersyukur bahwa Allah dengan segala kuasa besarNya telah memberikan jalan terang kepada saya sehingga tiap hari saya selalu melihat jam menunggu kapan pesta akan digelar. Bayangkan, tiap hari saya menghadiri pesta akbar, lima kali dalam sehari pula! Ini belum termasuk rutinitas saya melakukan Dhuha sebelum memulai pekerjaan. Saya bener2 merasa lega sekali melakukan semuanya ini, terutama shalat wajib yang lima kali dalam sehari ini.

Allah pun telah memberikan banyak kemudahan bagi hambaNya yang shalat tepat waktu. Misalnya, saya pernah janjian ketemu orang padahal saya bersepeda. Akhirnya saya tetapkan tempatnya di Sarinah sehinga saya bisa shalat Isya berjamaah dg menggunakan sarung, dan kemudian baru bertemu dengan teman setelah shalat Isya berjamaah. Lega rasanya, bisa ketemu orang saat saya menunaikan kewajiban shalat terlebih dahulu, sehingga saya bisa tenang ketemu dengan orang setelah saya menunaikan shalat. ANdaikan saya dipanggil Allah pada saat itu, setidaknya saya tidak berhutang shalat Isya ke Allah SWT. Bisa mengurangi timbangan dosa dan hutang saya ….

Salam,

G

Ditulis: 15 Juni 2008

Read Full Post »

Hari Sabtu , 14 Juni 2008 yang lalu, saya menghadiri resepsi di Gedung LPPI (Lembaga Pelatihan Perbankan Indonesia – ?) yang berlokasi di Kemang. Terkesan juga saya dengan komplek ini karena ternyata luas sekali dan sangat nyaman buat kegiatan pelatihan: teduh, hijau, jauh dari kebisingan. Pas shalat Dzuhur tiba, saya tanya ke Satpam lokasi mesjid dan ternyata ada di bagian belakang dari kompleks gedung maha luas ini. hasil jepretan dari kamera HP saya:

Ini adalah aula depan, tempat resepsi diadakan:

Jalan menuju masjid di belakang aula:

Melalui taman yang terpelihara bersih dan teduh:

Setelah jalan cukup jauh dan tidakada orang yang bisa ditanya (soalnya hari Sabtu, banyak yang gak latihan dong …), sampe juga di masjid yang tampak luarnya seperti ini:

Subhanallah … di kompleks sebesar ini ada mesjid berarsitektur bagus, megah berdiri di tengah komplek bangunan perkuliahan yang luas. Saya senang sekali ada mesjid di sini. Yang membuat saya juga senang, pada saat saya mendekati bangunan masjid, dari bagian mengambil air wudhlu di bawah, saya mendengar sedang ada orang memberi ceramah santai di selasar utama masjid yang terletak di lantai atas. Pas saya selesai ambil wudhlu, naik ke atas ke lantai masjid, saya lihat memang ada segerombolan anak muda usia mahasiswa sedang berdiskusi .. mungkin salah satu dari mereka adalah ustadz. Tak lama kemudian, salah satu dari mereka mengumandangkan adzan Dzuhur dan yang lainnya mengambik air wudhlu di bawah. Saya akhirnya mengikuti shalat berjamaah dengan imam salah satu dari mahasiswa tersebut.

Usai shalat berjamaah, saya lihat segerombolan orang berseragam (karyawan bank tertentu, sepertinya) melakukan shalat berjamaah:

Ini adalah bagian dalam masjid:

Bagian kanan dan kirinya terbuka sehingga terasa menyatu dengan alam .. indah ….:

Hanya ada satu kata mengakhiri kunjungan saya di kompleks ini, terutama mesjidnya: PUAS! Setidaknya, saya nambah lagi pengetahuan tentang masjid baru. Memang saya menikmati sekali mengunjungi mesjid yang berbeda-beda.

Salam,

G

Read Full Post »