Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2011

Arkian, ketika ajal hendak mendatangi Abdullah bin Idris (seorang ahli ibadah dan zuhud), dia merasa sangat sedih. Saat itu anak-anaknya menangis. Lalu, ketika nyawanya hendak dicabut ia berkata, “Wahai anakku, jangan kalian menangis, sebab saya telah menghatamkan Al Quran di rumah sebanyak empat ribu kali, semua aku lakukan untuk menghadapi maut ini.”

(Dikutip dari buku “Aku Menciptakan Jin dan Manusia Hanya Untuk Beribadah Kepada-Ku” oleh Dr. Muhammad al-‘Areifi – hal 185).

Sebuah kisah inspiratif yang memberi cambuk ke saya betapa tilawah Al Quran merupakan keniscayaan sebagai bekal memasuki alam akhirat. Seringkali kita menganggap bahwa Al-Quran hanya perlu digunakan sebagai rujukan bila menghadapi suatu masalah tertentu. Padahal kandungan Al Quran begitu luas dan mencakup seluruh aspek kehidupan sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan dalam  tata-kelola negara.

Al Quran masih sering tidak diprioritaskan dalam kegiatan sehari-hari. Dalam sebuah acara di radio, pernah dibahas suatu anjuran untuk membaca Al Quran selama 5 menit setelah shalat Fardhu sehingga selama sehari kita sudah memprioritaskannya dan meluangkan 50 menit hanya untuk membaca Al Quran. Saya rasa ini adalah anjuran yang feasible untuk dilakukan, bila kita mau dan memiliki komitmen kuat untuk menjalankannya.

Semoga kita dibimbing Allah SWT untuk selalu menyusuri jalan lurus dan istiqomah menjalankannya, agar menambah bekal kita masuk alam akhirat nantinya.

Read Full Post »

Pimpinan Proyek

Selagi saya masih kecil …

Ibu saya menanyakan, besok kalau gede mau jadi apa
Jawab saya spontan apa adanya: pengen jadi manten
Saya tak tahu jadi manten itu apa
Yang saya tahu kalau ada acara mantenan, selalu manten yg jadi pusat perhatian
Ibaratnya pada hari itu manten jadi raja
Semua mata memandang manten
Semua berjabatan tangan dengan manten
Sudahlah, pokoknya manten itu raja yang terkenal

Saat saya remaja …

Saya berubah pikiran
Sepertinya jadi insinyur lebih asik
Saya suka bermain ke desa Winongo di Madiun
Untuk menuju Winongo, saya harus melewati jembatan baja yang panjang
Saya heran, manusia kok bisa membuat jembatan berfungsi ganda
Ya, …bisa buat motor dan sekaligus bisa buat kereta api
Kemudian ada yang memberi tahu bahwa insinyurlah yang membuat jembatan

Kadang saya berpikir jadi pemusik lebih asik lagi
Bisa menggelar konser rock seperti Led Zeppelin atau Deep Purple
Bila mendengar Whole Lotta Love saya menirukan pemain gitar dengan memegang sapu ijuk
Bak seorang gitaris rock
Namun menjadi musisi perlu bakat

Pada saat dewasa….

Saya berubah pikiran
Sepertinya lebih enak jadi Direktur
Tak ada yang perintah malah main perintah
Semua karyawan tunduk kepada saya atau saya pecat
Kemudian saya bekerja giat agar kelak menjadi Direktur
Saat saya telah membangun puluhan anjungan minyak lepas pantai, keinginan saya jadi Direktur makin kuat
Saya perlu sekolah bisnis agar menjadi Direktur
Saya bekerja tekun, membanting tulang
Hasilnya luar biasa, saya menjadi konsultan manajemen
Saya mencintai pekerjaan saya
Apalagi bidangnya ‘business strategy’ – prestisius
Saya bangga dengan pekerjaan saya
Orang bijak mengatakan bila kita mencintai kepada dan bangga akan pekerjaan kita
Maka dikatakan bahwa kita tak pernah bekerja lagi
Semuanya menjadi kesenangan

Saya berubah pikiran …
Menjadi penasehat Direktur lebih menyenangkan
Banyak mikir dan memberi nasehat kepada Direktur
Teman saya mengatakan bahwa seorang guru sampai kapanpun disebut sebagai guru
Meski muridnya telah menjadi jendral
Dialah gurunya jendral
Demikian juga konsultan
Konsultan-nya CEO
Apa tidak bangga?
Wong Mediun Lor jadi penasehat Pimpinan Perusahaan (bisnis)

Pada saat usia separuh baya …

Saya berubah pikiran…(lagi)
Menjadi konsultan bukan segalanya
Saya ingin hidup seribu tahun bahkan sejuta tahun
Bahkan hidup selamanya
Ternyata itu bukan hal yang tak mungkin
Syaratnya hanya satu …ikhlas
Bila ikhlas sudah tertanam dalam jiwa, apapun terasa ringan
Tak ubahnya menjadi konsultan
Menjadi ikhlas juga perlu belajar

Saya akhirnya berpikir …

Bahwa hidup di dunia ini pada dasarnya hanyalah mengelola waktu di luar shalat lima waktu sehari
Tak ada kewajiban
Karena hidup adalah pilihan
Namun, saya ingin hidup selamanya
Untuk itu saya tak bisa lagi nego dengan yang punya waktu shalat
Dia memanggil lima kali dalam sehari
Saya tak kuasa nego
Karena saya ingin hidup selamanya
Untuk hal yang satu ini saya berdoa semoga saya tak berubah pikiran lagi seperti sebelumnya
Karena saya ingin hidup selamanya

Hidup di dunia pasti ada akhirnya
Mirip bahkan sama dengan proyek
Ada saat proyek dimulai
Ada saat proyek selesai
Ada saat proyek mengalami gangguan
Ada saat proyek mencapai mile stone tertentu

Jadi….
Hidup di dunia ini sama saja dengan mengelola proyek
Proyek besar itu bernama “kehidupan”
Saya diberi kebebasan menentukan milestone nya
Pada tahun keberapa saya harus selesai sekolah SMA
Pada tahun keberapa saya harus siap bekerja
Pada tahun keberapa saya harus siap mendidik anak
Tentu ….tak semua milestone bisa terpenuhi
Tergantung usaha, doa dan keridhoan dari yang memberi hidup ini

Sama dengan proyek yang saya tangani
Ada saatnya pekerjaan desain
Ada saatnya konstruksi
Ada saatnya penyerahan ke pemilik proyek
Kalau pemilik proyek menyetujui
Barulah saya dibayar
Bila pemilik proyek tak menyetujui
Saya harus mengerjakan lagi untuk penyempurnaannya

Saya akhirnya menyimpulkan
Bahwa saya selama ini digembleng untuk menjadi seorang Pimpinan Proyek
Lebih tepatnya MEGA PROYEK
Proyek kehidupan tak boleh saya anggap sebagai proyek kecil
Mengapa? Ini sangat menentukan apa saya kelak bisa hidup selamanya atau tidak
Untuk itu saya tak bisa main-main menggarap proyek ini

Hidup ini terdiri dari rangkaian titik-titik perhentian
Di setiap perhentian tersebut harus ada pemaknaan – agar diketahui pencapaiannya
Saya diberi kebebasan menentukan titik-titik perhentian tersebut
Ini sungguh merupakan anugerah
Perhentian seperti apa yang saya inginkan
Karena saya ingin hidup selamanya, saya ingin di setiap titik perhentian tersebut saya mengukir makna yang dalam
Agar memberikan manfaat bagi orang lain dan bagi saya

Atas kuasa pemilik mega proyek
Saya dipertemukan dengan teman-teman masa kecil dan juga masa remaja saya
Hidup terasa bersinar kembali
Saya jadi teringat saat indah bersepeda jengki merek Forever
Berjalan mengitari kota kelahiran saya, Madiun
Kota yang tak kan mungkin saya lupakan
Meski hidup serba pas-pasan bersama ibu saya yang penjahit
Ibu saya seorang Pimpinan Proyek yang tangguh
Beliau menjahit pesanan pelanggan sesuai waktu dan berkualitas tinggi
Saya harus meniru ibu saya

Pertemuan kembali dengan teman remaja menyuntikkan semangat baru
Hidup menjadi lebih bergairah
Tali silaturahim tersambung kembali

Apa yang saya inginkan dari titik perhentian ini?

Sebuah persahabatan yang tulus
Silaturahim yang semakin kuat
Rasa persaudaraan dan tolong-menolong
Saling menasehati
Saling mendoakan
Kekerabatan yang didasari rasa saling menghormati

Saling merajut guyub
Menuju pribadi-pribadi unggul
Pribadi-pribadi yang mengedepankan amal soleh
Pertemuan jiwa-jiwa yang menginginkan kehidupan yang langgeng

Hidup di dunia pada dasarnya adalah mengelola proyek
Ada awal, ada akhir
Kita semua adalah Pimpinan Proyek dari kehidupan kita masing-masing

Tak ada istilah mundur
Maju terus!

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kita petunjuk menuju jalan yang lurus. Aamiin.

 

——

Gatot Widayanto
Ide dasar terbesit di dalam bus TransJakarta Kuningan-Ragunan, 28 Desember 2011. Ditulis pada malam hari ini, 29 Desember 2011

Read Full Post »

Kisah Dua Pria – Pesona Kata

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya
duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya dan untuk menormalkan jantungnya karena denyutnya sangat lemah.
Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya. Pria ini sering uring-uringan, bahkan tak jarang membentak anggota keluarga yang menjaga dan perawat yang memeriksanya. Tak jarang pula pria yang satu ini berteriak di malam hari (mungkin karena kesakitan) sehingga mengganggu pasien yang lainnya.

Suatu hari di sore yang cerah, seperti biasa pria yang berada dekat jendela ini duduk.
Lalu dia melihat keluar jendela, sambil tersenyum dan dengan wajah yg gembira,
“Senang sekali ya seandainya aku bisa berjalan-jalan setiap sore di taman itu, tentunya aku tidak ingin kembali di tempat ini lagi.” gumamnya sambil tetap terlihat tersenyum. Melihat hal itu pria satunya yang berada di sebelah tempat tidurnya
berkata dengan rasa penasaran, “Apa yang kau lihat di luar sana?”

“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi
dengan berbagai macam berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu
senja yang indah.” jelas pria yang duduk

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari.
Dan, satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah.

Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya.
Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu.

Perawat itu menjawab,
“Sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta, yang terserang penyakit sangat berat dan akut, bahkan untuk melihat tembok sekalipun dia tidak bisa.” lalu dengan tersenyum perawat itu berkata lagi, “Barangkali ia ingin memberi anda semangat hidup, agar anda bisa lebih sabar untuk melawan penyakit” kata perawat itu.

Mendengar hal itu pria tadi berkaca-kaca. Dia merasa sebagai orang yang cengeng, menyebalkan dan selalu menyusahkan orang bahkan kepada mereka yang ingin berbuat baik kepadanya. Dan sejak saat itu pria itu tidak lagi suka marah-marah, tidak lagi berteriak meski kesakitan dan selalu tersenyum setiap melihat di luar jendela. Mungkin dia tidak melihat apa-apa, tapi dia membayangkan cerita-cerita
indah pria sebelahnya yang selalu menggambarkan keindahan di luar sana.

Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Menyampaikan setiap ujaran dengan santun, akan selalu lebih baik daripada menyampaikannya dengan ketus, gerutu, atau dengan kesal. Menyampaikan keburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun,
menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

( cuplikan dari cerita seorang teman )

Read Full Post »

Menabur dan Menuai

Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya. Dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama tadi memapah pemuda yang terperosok itu pulang ke rumahnya.

Ternyata si pemuda kedua ini anak orang kaya. Rumahnya sangat bagus, besar dan mewah luar biasa. Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda pertama tadi menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang sedang dalamkesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.

Si pemuda pertama adalah seorang miskin, sedangkan pemuda kedua adalah anak seorang bangsawan kaya raya. Si pemuda miskin mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter, namun ia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Kemudian ada seorang yang murah hati yang mau memberikan beasiswa untuknya sampai akhirnya meraih gelar dokter. Orang ini tak lain adalah ayah pemuda yang ditolongnya tadi.

Tahukan anda nama pemuda miskin yang akhirnya menjadi dokter ini? Namanya Alexander Flemming, yang kemudian menemukan obat penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi semacam itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan dr.Flemming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan penemuan baru itu. Apa yang terjadi kemudian? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda itu akhirnya sembuh!

Tahukan anda siapa nama pemuda pemuda itu? Namanya adalah Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris yang termasyhur itu. Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum menabur dan menuai. Flemming menabur kebaikan dan ia menuai kebaikan pula. Cita-citanya terkabul untuk menjadi dokter. Flemming menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churcill. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang diberikan ayah Churcill?

(dikutip dari e-book Kumpulan Cerita Motivasi)

Read Full Post »

Catatan: Copas dari milis.

Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.
“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu.

Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya Allah.sinuwun!” kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar Sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun sultan menolak.

” Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

” Jadi.?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya.

“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran, sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi.

“Sungguh orang yang besar.!” begitu gumamnya.
Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun Pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi Pekalongan, nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin, apa yang kamu lakukan.. sa’enake dewe.. ora mikir .. iki sing mbok tangkep sopo heh.. ngawur.. ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

“Sekarang aku mau tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“Siap Pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah .. dan memang salah!” Brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia .. ojo kaku kak , kok malah mbok tilang.. ngawur .. jan ngawur.. Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri!” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja .. memang koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi Pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan Selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin.. minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin, ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

” Siap pak !” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ketepi Pekalongan Selatan, ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur. Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

“Mohon bapak sampaikan ke Sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari Pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga di Pekalongan, saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya , pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .
Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.

Depok June 25′ 2011
Aryadi Noersaid

Read Full Post »

Pagi ini mendapat broadcast BBM dari seorang teman:

James Bender dalam bukunya “How to Talk Well” (New York;McGray-Hill Book Company,Inc., 1994) menghubungkan salah satu tulisannya dgn sebuah cerita tentang seorang petani yg menanam jagung unggulan & selalu memenangkan penghargaan.

Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal mewawancarainya & belajar sesuatu yg penting rahasia sukses petani tsb.

Wartawan itu menemukan bahwa sang petani membagikan benih jagungnya kpd tetangganya,
“Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yg sama tiap tahunnya?”

“Apakah Anda tidak tau?
Angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yg akan berbuah & membawanya dari satu ladang ke ladang yg lain.
Jika tetangga saya menanam jagung yg jelek, maka ketika terjadi serbuk silang akan menurunkan kualitas jagung saya.
Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yg bagus pula.”

Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan.
Dia tidak dpt meningkatkan kualitas jagungnya jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yg sama.

Pesan Moral,
Demikian juga dalam berbagai aspek kehidupan yg lain.
Mereka yg ingin menikmati kebaikan, harus memulai dgn menabur kebaikan kpd orang-orang di sekitarnya.
Jika Anda ingin hidup ini  makmur,
Anda harus memulai dengan menolong orang-orang di sekitar Anda untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Demikian juga jika Anda ingin bahagia,
Anda harus menabur kebahagiaan dalam hidup orang lain.
“Jika Anda Tidak Mau Menolong Orang dan hanya memikirkan diri sendiri, maka segala sesuatu yg anda miliki adalah sia2”:)

Selamat Pagi dan Beraktifitas !!!

JRENG!!!

Read Full Post »

Anakku,
Tak terhingga jumlah kata dari doa yg kami panjatkan kpd-Nya utk kalian…

Kami meminta kpd Allah agar kalian sehat, kuat, cerdas, sholeh, berhasil, bahagia dan dicintai Allah…

Di tengah rasa hawatir kami yg dalam, kami berdoa, rasanya tdk ada sedetikpun waktu kami yg terbebas dari rasa khawatir kami thd hidup kalian…

Yang bisa kami lakukan sepanjang hayat kami hanya berdoa & berusaha menjadi orang tua terbaik utk kalian…

Anakku,
Sering kami mengenang hidup masa lalu kami yg trs kami bandingkan dg hidup kalian skrg, bukan kami tidak percaya thd kasih sayang Allah, tapi kenyataannya kami selalu khawatir….

Anakku…
Tolong, tentramkan jiwa kami dg akhlaq mulia kalian, buat hati kami bangga dg ibadah & iman kalian, bikin hati kami gembira dg ilmu & amal sholeh kalian…. Ringankan mata & pendengaran kami dg pergaulan indah & sholeh kalian…

Anakku..
Bila kami dipanggil Allah nanti, rawatlah jenazah kami dg keikhlashan spt kami merawat kalian ketika kalian bayi dulu….
Setelah kami di makamkan…
Anugrahkan hadiah besar utk kami dalam bentuk kekhusyuan ibadah kalian…

Yaa Allah…
kabulkanlah harapan2 & angan kami ini…. Kami serahkan anak2 kami pd Mu utk Engkau bawa mereka ke dalam ruang ridho Mu….

Kabulkan doa kami yaa Allah…
Aamiin Ya Robbal Aalaamiin.

Read Full Post »

Older Posts »