Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2010

Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah catatan dari mengikuti ceramah traweh tadi malam (Sabtu, 28 Agustus 2010) di masjid Pondok Duta yang disampaikan oleh ustad Muhammad Yusron.

Beliau mengutip sebuah kisah tentang Nabi Musa alaihi salam yang dinukil dari kitab Imam Al Ghazali.

Alkisah Nabi Musa pernah memohon kepada Allah SWT untuk menunjukkan ‘kemahadilan’ Allah SWT. Allah menjawab: “Jangan, karena engkau tak akan sabar menghadapinya”. Nabi Musa persisten memohon kepada Allah: “Ya Allah, dengan taufikMu aku akan bersabar.” Kemudian Allah SWT mengabulkan permohonan doa nabi Musa dan membawa nabi Musa ke suatu telaga yang sangat bersih airnya, tenang dan tak ada manusia di telaga tersebut. Tak lama setelah nabi Musa berada di telaga tersebut, beliau melihat seorang ksatria gagah dan tampan menunggang seekor kuda yang perkasa. Sang kesatria kemudian beristirahat di telaga serta mandi dari air telaga yang jernih tersebut. Setelah itu ksatria tersebut kemudian pergi menunggang kudanya. Namun ternyata ksatria tersebut lupa membawa selongsong pedangnya yang ia taruh di pinggir telaga.

Tak lama kemudian datang seorang anak muda yang berpakaian lusuh beristirahat di telaga tersebut. Kemudian dia mandi di telaga dan berwudhu, serta menjalankan shalat di pinggir telaga. nabi Musa terus mengamati pergerakan anak muda tersebut. Rupanya ia adalah tergolong anak yang soleh karena terlihat shalatnya begitu khusyu’. Selesai shalat, anak muda tersebut bergegas akan pergi. Namun ia kaget melihat ada selongsong pedang di pinggir telaga. Ia amati selongsong pedangtersebut dan bahkan membukanya karena penasaran. Ia begitu kaget melihat bahwa ternyata di dalam selongsong tersebut ada koin uang dirham sejumlah 1000 dirham. Kontan ia tersentak kaget dan takut. Ia ingin menyelamatkan uang tersebut namun tak ada orang di telaga tersebut. Akhirnya ia tunggu selongsong pedang tersebut selama berjam-jam hingga hari menjelang larut malam. Ia ingin mengembalikan selongsong tersebut namun tak tahu siapa pemiliknya. Akhirnya selongsong berisi 1000 dirham tersebut ia bawa dengannya dengan maksud mencari siapa pemiliknya.

Tak lama kemudian, esok harinya, nabi Musa melihat seorang tua buta yang menghampiri telaga. Ia pun ternyata membersihkan dirinya dengan air telaga yang jernih tersebut. Ia pun mengerjakan shalat seperti anak muda yang kemarin nabi Musa saksikan. Tak lama setelah ia shalat, ia mendengar suara derap kaki kuda mendekatinya. ternyata ksatria yang gagah perkasa yang kemarin singgah di telaga tersebut kembali dengan maksud mengambil selongsong pedangnya. Ia menuduh bapak tua buta yang telah mengambilnya. Tentu pak tua buta menyanggahnya karena ia memang tak mengambilnya dan ia seorang yang buta. Dengan sangat sengitnya mereka berdua adu mulut sehingga akhirnya ksatria tersebut mengancam membunuh bapak tua yang buta.

Melihat kejadian tak adil tersebut akhirnya nabi Musa bermaksud melerai guna membela pak tua yang tak bersalah tersebut. Namun ia ingat perintah Allah untuk “bersabar”.  Akhirnya nabi Musa melihat ksatria tersebut membunuh bapak tua yang malang itu.

Setelah kejadian tersebut Allah SWT mengutus malaikat untuk menemui nabi Musa. Sang malaikat menjelaskan bahwa:

  • Uang seribu dirham tersebut menjadi hak anak muda yang menemukannya karena sang ksatria pernah mempekerjakan ayah kandung anak muda tersebut tanpa bayaran sepeserpun. Nabi Musa bertanya seberapa besar jumlah uang yang seharusnya dibayar oleh ksatria tersebut. malaikat menjawab: “Tepat 1000 dirham tak urang sedikitpun”.
  • Lalu mengapa Allah SWT membiarkan orang tua buta tak bersalah tersebut dibunuh oleh ksatria tersebut? Malaikat menjawab bahwa orang buta tersebut dulu adalah seorang penguasa yang dzalim hingga Allah SWT membutakan matanya. Saat ia berkuasa, orang tua buta tersebut membunuh ayah anak muda yang datang ke telaga tersebut, tanpa ada kesalahan dari orang tua si anak tersebut.

Dari kisah tersebut maka jelaslah ‘ibrah‘ (pelajaran) yang bisa kita petik:

  1. Allah adalah penguasa dari plot kehidupan di alam semesta ini. Setiap detil yang ada di dunia ini semua terjadi atas ijin dan pengetahuan Allah SWT. Bahkan sebuah daun jatuh di belantar hutan yang terpencil pun Allah SWT mengetahuinya. Tak ada sedikitpun yang luput dari perhatianNya. Allah adalah sutradara dari semua kejadian di jagat raya ini.
  2. Sebagai manusia, kita hanya sanggup melihat sedikit saja fragmen kehidupan yang kasat mata. Lihatlah betapa nabi Musa merasa iba kepada orang tua buta yang menurut nabi Musa ‘tak bersalah’ karena tak mengambil selongsong pedang tersebut.
  3. Manusia pada dasarnya tak sabar, bahkan seorang nabi saja hampir kehilangan kesabarannya dengan akan memberi tahu ke ksatria tersebut bahw pak tua buta tersebut tak bersalah.
  4. Allah SWT itu maha adil dan menghakimi sesuai dengan perbuatan manusia. Maka takutlah berbuat dzolim!
  5. Semua hal yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali ke kita juga, baik itu kebaikan maupun keburukan. “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (Al Quran surah Al-Zalzalah ayat 7-8) .

Subhanallah …

Wass,

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Besok, 20 Ramadhan 1431 H yang bertepatan dengan Senin 30 Agustus 2010 insya Allah kita memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan 1431 H. Rasul Muhammad SAW mencontohkan i’tikaf (bermukim di masjid) selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yang mulia. Bahkan di tahun dimana beliau wafat, Rasul ber itikaf pada 20 malam terakhir Ramadhan.

Bagi akhi yang bisa menjalankannya, mari kita lestarikan warisan sunnah Rasul yang sangat mulia untuk kita kerjakan ini. Hadits mengenai hal ini sudah banyak sekali dan shahih sanadnya. Bagi yang bekerja di kantoran, sebaiknya mengambil cuti karena begitu mulianya ibadah di 10 hari terakhir ini hingga Rasul pun membebaskan mereka yang beri’tikaf untuk TIDAK menjenguk orang sakit maupun menghadiri pemakaman jenazah. Subhanallah …!!!

Silakan baca artikel bagus di LINK ini agar semuanya semangat menyambut hadirnya sepuluh hari terakhir Ramadhan ini.

Tak ada aturan mengenai apa yang harus dilakukan di dalam masjid, yang penting berniaga hanya dengan Allah saja. Bahkan ada yang membolehkan sekedar tiduran di masjid saja juga tidak apa-apa. Namun, betapa ruginya mengingat waktu yang begitu sempit, hanya 10 hari, kita buang-buang hanya buat tidur. Mungkin ada baiknya untuk memperdalam iman dan takwa melalui :

  • membaca buku-buku agama
  • membaca Al Quran dan memahami artinya (mentadaburinya)
  • membaca Riyadhus Shalihin
  • membaca Bulughul Maram
  • menyempurnakan bacaan shalat, termasuk gerakan-gerakannya,
  • dzikrullah
  • istighfar
  • berdoa agar bisa menjalankan shalat BMW secara istiqomah
  • dan sebagainya…

Inilah kesempatan paling baik bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan bermunajat sepenuh hati kepada Allah SWT. Saatnya fokus kepada hablum minallah. Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Belum lagi kita bisa menjemput malam laylatul qadr yang lebih baik dari seribu bulan … Subhanallah!

Semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang atau kaum yang selalu menghambakan dirinya kepada Allah SWT. Amin.

Selamat i’tikaf ….!!!

Wassalamualaikum wr wb.

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Pelajaran dari mengikuti ceramah traweh tanggal 18 Agustus 2010 di masjid Jami Nurul Ikhlas yang disampaikan oleh ustad Jazuli. Ada dua kisah yang sempat saya catat dari ceramah beliau. Pertama adalah kisah tentang perlunya menghormati orang tua. Kedua adalah kisah tentang harta yang terkutuk.

Sebelum berkisah sang ustad meniru firman Allah yang intinya adalah “Bersyukurlah kepadaku dan orang tuamu”. Ini menunjukkan betapa pentingnya menghormati ibu dan bapak kita karena itu perintah Allah swt. Dikisahkan di jaman Rasul dulu ada seorang bernama Al Khomah anak yg soleh rajin beribadah baik ke mesjid maupun ibadah lainnya seperti puasa dan zakat. Pada saat sakaratul maut menjumpai Al Khomah, sulit sekali ia meninggalnya, sampai akhirnya Rasul menanyakan ke sahabat lain yang menyaksikan apakah Al Khomah ini masih memiliki ibu. Sahabatnya mengatakan masih dan Rasul minta memanggil ibu kandung AL Khomah. Ketika sang ibu sudah hadir, Rasul menanyakan bagaimana kehidupan Al Khomah. “Ya Rasul, dia ini anak yang sangat taat beribadah kepada Allah mengikuti ajaranmu”. Lalu Rasul menanyakan bagaimana hubungan antara dia dengan ibunya. Serta merta ibunya menjawab bahwa Al Khomah ini adalah anak yang durhaka dan tak mau menghargai orang tua.  Rasul tanya apakah ia mau memaafkan kesalahan Al Khomah selama ini; sang ibu menjawab bahwa dia tak mau memaafkan Al Khomah karena durjana kepadanya.

“Ambilkan aku kayu bakar,” demikian kata Rasul kepada sahabat yang menyaksikan. Kemudian Rasul memerintahkan membakar jazad Al Khomah yang sedang sekarat. Serta merta ibunya memohon Rasul mengurungkan niatnya. rasul menanyakan lagi apa sekiranya sang ibu mau memaafkan Al Khomah karena kalau tak mau Rasul akan membakarnya. Ibunya menyanggupi dan memaafkan semua kesalahan Al Komah. Akhirnya Al Khomah bisa menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kisah kedua adalah tentang orang miskin bernama Sa’labah. Saking miskinnya ia bergantian memakai baju yang sama dengan istrinya sehingga setiap selesai shalat berjamaah di masjid, dia langsung tergesa pulang ke rumah. Akhirnya Rasul menanyakan mengapa Sa’labah selalu tidak dzikir setelah shalat. Sa’labah menceritakan keadaannya kepada Rasul saw. Kemudian ia memohon kepada Rasul agar memanjatkan doa kepada Allah supaya Sa’labah diberi kekayaan. Rasul tak menanggapi permintaan Sa’labah. Beliau hanya diam. kemudian Sa’labah memohon lagi kepada Rasul, tetap saja Rasul berdiam diri tak memberi jawaban. Setelah permohonan Sa’labah yang ketiga, Rasul akhirnya menyetujui permohonan Sa’labah. Rasul bermunajat kepada Allah dan akhirnya doanya diijabah Allah swt. Sa’labah diberi modal oleh Rasul berupa seekor kambing.

Dengan modal seekor kambing tersebut Sa’labah memeliharanya dengan baik hingga beranak-pinak menjadi 4, 16 dan banyak lagi. Sa’labah tekun memelihara hewan peliharaannya hingga akhirnya kewalahan disibukkan mengurus ternaknya. Lambat laun Sa’labah mulai berkurang ibadahnya ke mesjid. Ia mulai jarang terlihat ke mesjid karena disibukkan dengan urusan ternaknya yang semakin banyak dan usahanya makin lancar.

Tibalah pada musim pemungutan pajak dan Rasul mengutus sahabatnya untuk meminta bagian zakat dari ternak Sa’labah. Namun sahabat tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sa’labah lantaran Sa’labah merasa bahwa ia telah bekerja kerasa mengapa musti orang lain yang tak membantu usahanya musti diberi jatah bagian. Mendengar hal ini rasul marah dan berjanji tak akan menerima sedikitpun zakat dari Sa’labah. Ketika akhirnya Sa’labah sadar bahwa ia harus membayar zakat, maka ia menghadap ke Rasul untuk meyerahkan zakat tersebut. Namun Rasul tetap berpendirian menolaknya dan mengatakan bahwa harta yang dimiliki Sa’labah adalah terkutuk. Sa’labah menangis dan memohon dengan sangat kepada Rasul. Rasul tetap bersikeras tak mau menerima hingga beliau wafat. Setelah Rasul wafat pun, semua penerus Rasul sebagai pemimpin umat tak ada yang berani menerima zakat dari Sa’labah karena Rasul saja tak bisa menerimanya. Akhirnya zakat dari Sa’labah tersebut tetap tak tersalurkan hingga dia wafat dalam keadaan kafir.

Mumpung masih ada orang tua….

Sebaiknya kita mulai lebih menghormati orang tua (ibu dan bapak) kita karena begitu tingginya kedudukannya setelah Allah SWT. Jangan sampai di saat sakaratul maut kita mengalami seperti Al Khomah, bahkan seorang Rasulpun tak berhasil membisikkan “la ilaaha ilallah” ke telinganya hingga ia berucap yang sama. Naudzubilla min dzalik …

Mumpung masih diberi rizki oleh Allah SWT …

Mari kita tunaikan zakat dan sodaqoh, karena ini akan merupakan tabungan amal kita…

Dari kenyataan bahwa Rasul menolak permohonan awal Sa’labah terhadap kekayaan, itu berarti kemiskinan harta tak dianggap penting oleh Rasul,Rasul selalu mengkhawatirkan umatNya jatuh miskin dalam keimanan. Bila dalam harta namun masih beriman, rasul tidak khawatir.

Wassalamualaikum wr wb,

G

Read Full Post »

Pantang

Assalamualaikum wr wb

Hari Minggu malam, setelah buka puasa, saya mendapat email yang intinya saya diminta memeriksa slide presentasi PowerPoint yang akan digunakan klien saya untuk sebuah konferensi di luar negeri. Karena begitu pentingnya slide tersebut dan tenggat waktu yang harus selesai hari Senin, maka malam itu saya geber habis supaya materi presentasi klien saya tersebut bisa saya selesaikan malam itu juga. Maka setelah shalat traweh di rumah (saya putuskan tidak traweh di masjid karena ada pekerjaan ini) maka saya teliti satu persatu setiap slide dan merombaknya. Tanpa terasa, saking asiknya mengerjakannya, akhirnya pekerjaan bisa saya rampungkan pada sekitar jam 2:30 dini hari, mendekati saat sahur sehingga pagi itu saya hanya bisa tidur satu jam. Pagi harinya, jam 6:30 saya harus berangkat ke kantor karena jam 8:00 ada meeting dengan klien yang lain. Bisa dibayangkan betapa lelahnya saya hari Senin kemarin sehingga pada Senin malam ba’da traweh, pada sekitar jam 20:30 saya langsung ‘balas dendam’ tidur sepuasnya hingga sahur pada tadi pagi.

Saya bersyukur bahwa Senin siang kemarin saya mengikuti kuliah Zhuhur yang pada dasarnya sang ustad membahas tentang keutamaan meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan, bulan yang sangat istimewa ini. Meski sempat ngantuk karena kelelahan di awal ceramah, namun akhirnya saya terjaga juga dengan tausiyah sang ustad yang sungguh ‘menampar’ saya. Beliau menekankan kalau dalam setiap saat kita selalu merasa sebagai ‘hamba Allah’ yang benar-benar takut dan tunduk kepadaNya dan itu semua kita bawa ke dalam pekerjaan kita, maka kita bekerja apapun tak akan ada masalah. Jadi, dalam bekerja kita harus secara khusus meniatkan diri bahwa kita bekerja ini merupakan suatu rangkaian dari ibadah kita kepada Allah SWT. Perkara bahwa dalam bekerja itu kemudian kita mendapatkan duit, itu kita syukuri. Namun jangan dibalik, bahwa kita bekerja karena ingin duit yang banyak karena begitu kita tidak mendapatkan duit yang banyak, maka kita akan kecewa. Namun bila kita sudah kuatkan niat dalam lubuk hati kita bahwa yang kita lakukan dalam pekerjaan senantiasa adalah ‘untuk Allah SWT’ maka bisa dipastikan hidup kita akan tenang. Kita tak merasa sakit hati bila duit yang kita terima tak sebanding dengan usaha kita karena kita yakin bahwa Allah telah mencatat kerja keras kita. Atau, kita tak perlu takut akan dimarahi Boss karena pekerjaan kita tak sesuai yang ia harapkan. Tentu, kita harus bekerjanya sungguh-sungguh, bukan hanya niat bekerja untuk Allah tapi bekerjanya setengah-setengah. Bila kita bekerja sepenuh hati karena untuk Allah SWT, bisa dipastikan kita berusaha yang terbaik, semaksimal mungkin.

Alangkah eloknya kalau meniatkan diri membuat ventilasi supaya suara adzan dari masjid bisa dengan mudah terdengar sampai ke dalam rumah karena adanya ventilasi.

Ustad juga memberi contoh sederhana tentang ventilasi di rumah. Misalnya di rumah kita ingin membuat ventilasi dengan melubangi dinding rumah kita. Alangkah eloknya kalau meniatkan diri membuat ventilasi supaya suara adzan dari masjid bisa dengan mudah terdengar sampai ke dalam rumah karena adanya ventilasi. Perkara bahwa ventilasi itu memberikan udara yang segar karena angin bisa masuk, itu efek sampingnya. Betapa mulianya kita kalau meniatkan membuat ventilasi karena faktor supaya bisa mendengar suara adzan dan kemudian menjalankan shalat fardhu berjamaah di masjid.

Ustad mengajak jamaah untuk memanfaatkan peluang bulan istimewa ini secara maksimal. Hal ini disebabkan bahwa tujuan utama Allah SWT memerintahkan kita puasa di bulan Ramadhan karena Allah SWT ingin melatih kita, menggembleng kita untuk ‘menahan diri’ agar kita bisa menjadi manusia paripurna, manusia yang takwa kepada Allah SWT. Justru di bulan inilah setiap hari kita tingkatkan terus-menerus amal ibadah kita. Apalagi nanti menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan, kita harus lipat-gandakan amalan-amalan kita agar menjadi lebih banyak lagi. Kenapa? Selain pahala yang berlipat-ganda diberikan oleh Allah SWT, juga diharapkan agar setelah Ramadhan kegiatan ibadah kita lebih meningkat dibandingkan sebelum Ramadhan.

Intinya, ustad menekankan bahwa kita harus banyak meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan ini agar terbentuk pola kebiasaan menjalankan amal ibadah. Ustad memberikan semangat dengan mengungkapkan seolah diri kita membuat suatu prinsip “Pantang”, misalnya:

  • Pantang tidur sebelum membaca Al Quran
  • Pantang pulang ke rumah (dari mesjid) sebelum istighfar 1000 kali
  • Pantang berhenti membaca Al Quran sebelum khatam
  • Pantang berhenti membaca Al Quran sebelum hafal 3 surat
  • Pantang pulang ke rumah (dari kantor) sebelum pekerjaan tuntas
  • Pantang tidur sebelum qiyyamul lail
  • Pantang masuk toilet tanpa doa
  • Pantang mengendarai kendaraan sebelum berdoa
  • Pantang pulang ke rumah sebelum sodaqoh
  • Pantang pulang ke rumah (dari mesjid) sebelum shalat sunnah
  • Pantang mudik lebaran sebekum i’tikaf
  • Dan seterusnya .. dan seterusnya …

Intinya, ustad ingin mengajak jamaahnya supaya tak setengah-setengah dalam mennggapai jalan menuju ridhla Allah SWT. Kita harus yakin akan kehidupan akhirat yang kekal dan janji Allah memuliakan umatNya yang menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya.

Lalu, apa hubungannya dengan cerita saya tentang kerja mati-matian semalam suntuk sampai tak tidur? Di sinilah justru ‘ibrah’ (pelajaran) nya bagi saya. Kalau hanya sekedar untuk mendapatkan ganjaran kehidupan duniawi, agar saya selalu mendapatkan proyek dari klien, atau alasan lainnya misalnya, mencintai pekerjaan saya – semuanya itu saya lakukan dengan kerja keras mati-matian semalam suntuk bahkan meninggalkan kesempatan amal ibadah lainnya, mengapa tidak dalam hal amal ibadah saya lakukan yang sama? Misalnya, pernahkah saya membuat target pantang tidur sebelum membaca Al Quran? Pantang tidur sebelum hafal surat Ar Rahman? Belum. Terus, kapan? Inilah yang memerlukan renungan dan tindak lanjut. Apakah meragukan pahala Allah SWT dalam melakukan amal ibadah? Pembelajaran lainnya lebih sederhana dan sebenarnya bisa saya lakukan, yaitu ‘meniatkan diri’ bahwa yang saya kerjakan dua malam yang lalu semata hanya untuk Allah.

Siapkah kita membuat satu atau beberapa “Pantang” dengan meniatkan semuanya untuk Allah SWT semata?

Wassalamualaikum wr wb.

G

Read Full Post »

Mumpung …

Assalamualaikum wr wb.

Apa kabar? Bagaimana dengan ibadah Anda di bulan Ramadhan? Semoga semuanya berjalan lancar dan mendapatkan rachmat dari Allah SWT sehingga tujuan shaum untuk menjadi insan yang bertakwa benar-benar tepat sasaran. Amin. Tanpa terasa sudah masuk penghujung hari ke 12 pada hari ini.

Karena hari ini Minggu, maka shalat Subuh di masjid tadi disertai dengan Kuliah Subuh. Menarik kajian yang dibahas oleh ustad penceramahnya karena beliau menekankan perlunya kita mengerjakan shalat fardhu secara berjamaah di masjid. Disampaikan dengan gaya penuturan santai, kadang dengan senda gurau, namun esensi ceramahnya sungguh mengena. Setidaknya bagi mereka yang mengaku Islam tapi saat shalat Subuh tadi pagi tak berada di masjid. Bukankah keutamaan shalat Subuh berjamaah di masjid itu setara dengan shalat sunnah sepanjang malam? Mengapa musti disia-siakan.

Secara bersemangat penuh kelakar beliau mengibaratkan kentongan dan bedug yang ada di masjid. “Bagaimana bunyi kentongan?” tanya ustad yang dijawabnya sendiri “Tung tung tung tung …!”. Apa aritnya? Bealiau mengatakan itu berarti “beruntung” lah Anda2 yang saat ini berada di masjid yang mulia ini karena ANda menjalankan perintahNya sesuai contoh Nabi Muhammad SAW.

“Bagaimana bunyi bedug?” lanjut ustadnya lagi dan serta merta dijawabnya sendiri: “Bleg .. bleg ..bleg …”. Apa maknanya? Itu artinya peringatan bagi yang tidak pernah ke mesjid: “Gebleg!”. Kalau gak dateng Subuh berarti gebleg. Tapi kalau Zhuhur juga tak hadir, berarti gebleg dua kali. Bagaimana kalau memang tiap harinya tak pernah ke masjid? Ya geblegnya berkali-kali ..tukasnya.

Saya tak terbayang bagaimana kalau ada tetangga masjid yang menyimak kutbah yang dilantunkan melalui pengeras suara dengan volume cukup keras. Tapi ya memang tak ada salahnya sih yang diungkapkan beliau itu. beliau membahas lagi betapa besar pahala bagi mereka yang mengerjakan shalat berjamaah di masjid, utamanya Subuh. Namun memang sebaiknya semua shalat lima waktu dilaksanakan di masjid sesuai dengan yang dicontohkan Baginda Rasul.

Mumpung masih kuat mendirikan shalat

Mumpung tak harus susah payah mendatangi masjid

Mumpung masih ada iman

Mumpung ada masjid tak jauh dari rumah

Mumpung masih belum pikun

dan “mumpung-mumpung” lainnya yang patut kita syukuri…

Termasuk mumpung bulan Ramadhan

Mengapa Ramadhan di”mumpung”kan? Karena pahala nya luar biasa. Selama bulan Ramadhan ini ibadah sunnah diganjar oleh Allah dengan ganjaran ibadah wajib. Yang wajib dilipatgandakan pahalanya hingga 70 kali. Apa kita tidak mau mengambil kesempatan kali ini? Bukannya Ramadhan yang akan datang belum tentu kita masih memiliki kesempatan menjalaninya? Tahukah berapa lama lagi kontrak kita diakhiri oleh Allah SWT untuk hidup di dunia yang “sementara” ini?

Dan ingatlah!  Allah SWT menjamin masuk surga bagi mereka yang:

  1. Rajin shalat fardhu berjamaah di masjid dan hatinya selalu terpaut ke masjid
  2. Rajin membaca dan mentadaburi Al Quran
  3. Menjaga hubungan baik dengan Allah (hablum minallah) dan sesama manusia (hablum minannas)
  4. Puasa di bulan Ramadhan

Subhanallah …. Kuliah Subuh yang mencerahkan.

Apa kita tak mau masuk surga dimana mengalir sungai-sungai di bawahnya?

Wass,

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Saking menganggap begitu banyaknya manfaat kutbah di tengah shalat berjamaah, baik itu Jumat maupun traweh maupun kajian Zhuhur, saya selalu mencatat pokok-pokok materi yang diucapkan penceramah melalui ponsel saya. Jujur saja, saya terkadang risih karena orang di sekitar saya sepertinya ingin menegur saya karena pada saat kubah kita diwajibkan ‘mendengarkan’ dan menghentikan kegiatan lainnya. Namun saya juga gak bisa menjelaskan ke mereka karena batal shalat Jumat saya kalau saya bercakap-cakap. Makanya kadang saya cuek namun ada rasa gak enak juga. Kadang saya lakukan agak sembunyi-sembunyi. Semoga tindakan ini tak dilarang Allah dan RasulNya karena saya ini pelupa. saya takut bila selesai shalat berjamaah, semuanya hilang begitu saja.

Subhanallah, tadi malam saat mengikuti ceramah shalat traweh di masjid Jami Nurul Ikhlas saya lihat ada seorang bapak-bapak yang rajin mencatat kutbah yang dilantunkan oleh ustad Etika DJ. Sakin senengnya mendapatkan temen, saya foto paparazi beliau. Maaf ya pak … Ini memotivasi saya untuk melanjutkan kebiasaan mencatan sambil mendengarkan kutbah. Ilmu Allah itu begitu luas dan dalamnya sehingga musti diabadikan dalam bentuk tulisan. Termasuk semua tulisan yang ada di blog ini.

Mencatat sambil mendengarkan ceramah.

Walahualam bishawab.

Wassalamualaikum wr wb.

Gatot

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Salah satu kenikmatan mengunjungi kota orang adalah ikut shalat berjamaah di kota tersebut. Inilah yang saya alami saat saya berada di kota Surabaya selama hampir seminggu mulai tanggal 19 Juli 2010 yang lalu. Di sekitar hotel saya menginap, JW Marriott, sekurangnya ada dua buah mesjid yang dekat hotel. Salah satu masjid itu adalah Masjid Da’wah yang dicapai dengan melalui gerbang keluar hotel, kemudian menyeberang jalan Embong Malang, terus berjalan sekitar 50 meter (mungkin kurang) masuk gang.

Papan ini berada di sisi kanan Jl. Embong Malang, tepat di depan Hotel JW Marriott

Subhanallah…ternyata masjid sederhana yang terletak di gang yang cukup bersih ini, masjid terawat dengan kebersihan yang baik dan lingkungan masjid adalah perkampungan yang cukup tenang sehingga jamaah bisa khusyu’ shalat di masjid ini. Pengalaman saya mengikuti shalat berjamaah di masjid ini sangat mengesankan, selain faktor kebersihan masjid, yaitu pelaksanaan shalat yang mengikuti cara-cara Rasulullah antara lain:

  • Pada saat usai shalat berjamaah, tak ada doa yang dikeraskan sehingga setiap jamaah bisa dengan tenang berdoa masing-masing. menurut liqo’ yang saya ikuti dengan ustad Ade Purnama, doa selepas shalat setiap muslim sangat personal dan terkait dengan kebutuhan masing-masing. Beliau mencontohkan, doa tukang jual es beda dengan tukang jual bajigur. Tukang es menghendaki tidak turunnya hujan agar dagangannya laku, sedangkan doa tukang bajigur mengharapkan turunnya hujan agar bajigurnya laris manis. Jadi, sebaiknya habis shalat tak ada doa-doa yang disuarakan dengan lantang, cukup masing-masing jamaah berdoa sesuai kepentingan masing-masing.
  • Tak ada tradisi bersalaman antar jamaah. Meski ini bukan suatu hal yang haram namun Rasul tak mencontohkan saling salaman setelah shalat. jelas ini bukan bagian dari ibadah. Islam menyarankan bersalaman bila bertemu dan bila akan berpisah, bukan setelah shalat.
  • Tak ada doa Qunut pada saat shalat Subuh berjamaah. Ini yang sulit saya jumpai di Jakarta. saya sangat jarang (bahkan belum pernah) ketemu masjid yang menjalankan shalat Subuh tanpa Qunut. Menurut ceramah yang saya ikuti di Radio Rodja, menggunakan Qunut saat shalat Subuh berjamaah termasuk sesuatu yang “di ada-adakan” alias bid’ah. Ustad Ade Purnama menyarankan kita berdiam tegak saja saat mengikuti shalat berjamaah dengan Qunut.

Luar biasa memang masjid Da’wah ini. Sesuai dengan namanya, masjid ini jelas memberikan da’wah bagaimana menjalankan shalat berjamaah sesuai anjuran atau contoh Kanjeng Nabi besar Muhammad saw.

Semoga banyak masjid meniru seperti masjid Da’wah Surabaya ini …

Gang menuju masji terawat bersih. Masjid Da'wah di ujung (warna hijau).

Tampak samping Masjid Da'wah. Sederhana namun sejuk, meski Surabaya panas.

Jamaah Zhuhur di Masjid Da'wah. Sedikit memang. Tantangan dakwah bagi ustad.

Pintu masuk utama masjid dari samping kanan.

Suasana ba'da Subuh, pulang dari Masjid Da'wah. Nikmat. Sejuk.

Walahualam bishawab.

Wassalamualaikum wr wb.,

Gatot

Read Full Post »

Older Posts »