Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Momong Cucu

Duh senengnya hari ini sempat jalan-jalan sama cucu tercinta Falah Muhammad Althaf Ghaisani yang baru berusia 3 bulan 11 hari.  Puwaaaaas menggendong si Althaf terus….  Alhamdulillah. 



Read Full Post »

Ramadhan 1438H

Selamat menyiapkan diri menyambut Ramadhan.  Semoga serangkaian amal shalih kita selama bulan Ramadhan ini diridhlai Allah sehingga pada akhirnya kita menjadi insan yang benar-benar bertakwa.  Aamiin Ya Rabb…

Read Full Post »

Read Full Post »

Kajian Rabu sore ustadz KH-B yang biasanya membahas kitab Al-Kabair karya Imam Dzahabi,  kali ini bisa dikatakan special edition karena membahas buku kecil karya Syaikh Abdullah ash-Shalih dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid bertajuk “Kiat-Kiat Menghidupkan Bulan Ramadhan”. Untung sebelum ke kajian saya sempat cek IG ustadz Khalid dan mendapatkan info bahwa malam ini yg dibahas bukan al-Kabair. Perubahan topik ini tentu disesuaikan dengan kondisi menyambut Ramadhan yang dalam beberapa hari ini kita masuki.  Pembelajaran mengikuti kanian ini adalah:
1. Pentingnya merencanakan ibadah selama bulan suci Ramadhan bahkan sebelum tiba saatnya karena begitu besar pahalanya.  Untuk itulah perlu perencanaan matang bagaimana shalat taraweh dilakukan,  bagaimana itikaf dsb. 

2. Keutamaan menjalankan 10 amal Shalih yang dibahas tuntas dari isi buku ini. 

3. Begitu besar fadhilah bulan Ramadhan dan jangan pernah sedetikpun mengerjakan hal yang sia-sia.

Read Full Post »

Bergaul dengan penjual parfum membuat kita wangi.  Bergaul dengan penulis hebat dan salah satu founding fathers nya Dompet Dhuafa,  mas Erie Sudewo,  insya Allah juga bisa menjadi penulis hebat seperti beliau. Aamiin.  Terima kasih mas,  pesan moral dan tanda-tangannya di buku yang baru saja saya beli di Islamic Book Fair 2017 yang lalu.

Read Full Post »

Catatan Kajian ustadz Azhar Khalid bin Seff di Masjid Nurul Iman (30/04/2017)

Mengapa bid’ah bisa terjadi?

1. Jahil atau bodoh

2. Mengikuti hawa nafsu

3. Taasub atau fanatisme golongan

4. Suka meniru atau mengikuti orang kafir

Al Baqarah 2:170

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Seperti kita pahami sekarang ini lebih banyak bidah daripada sunnah, misalnya dalah hal ziarah kubur. Ziarah kubur untuk mengingat kematian, tidak harus di kuburan kerabat kita, kuuran manapun boleh karena tujuannya adalah mengingat kematian. Mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu misalnya menjelang Ramadhan atau Iedul Fitri, tak pernah dicontohkan oleh Rasulullah.

Contoh lain adalah saling memaafkan sebelum Ramadhan. Tentu meminta maaf sangat bagus namun terkait dari kesalahan yang telah ia perbuat dan segera minta maaf, tak usah menunggu Ramadhan untuk meminta maaf. Maaf2an tidak dikhususkan menjelang Ramadhan atau waktu tertentu.

Imam Syafii bertanya kepada seseorang yang terlalu mengikutinya:
Jika sekiranya aku menghalalkan khamr apa kamu ikut?  Tidak ya Imam.
Apakah kalau akau beribadah di gereja kamu juga mengikuti aku? Tidak juga Ya Imam.
Untuk itulah tidak perlu menganggap aku selalu benar. Jika aku salah tolong kasih tahu aku. Jika hadits yg kau bawakan shahih, ikutilah.

Golongan sufi dan Kuburiyun (yang suka meminta di kubur) sering melakukan bid’ah ini, padahal hujjah dan dalil sudah jelas sekali
Kalau ada yg tidak benar, ditegur secara baik
Manusia pasti bermasalah
Pasti pernah salah
Manusia tempatnya kesalahan
Tempatnya lupa
Seorang ustadz menjawab harus hati2, dari Quran dan Hadits, bukan dari pintarnya dia ngomong. Imam Malik pernah menerima 100 pertanyaan namun hanya menjawab 7 pertanyaan. Ketika ditanya mengapa tak menjawab semua, beliau menjawab:
Aku bukan imam, orang yang menyebutku demikian
Aku tidak tahu 93 pertanyaan itu bagaimana menjawabnya. Hanya 7 yang aku tahu.
“I have no idea”
Gak boleh ngawur
Jaman dulu beda mahzab tidak mau kawin. Kalau syiah-sunni itu masalah akidah, memang tak bisa menikah.
Rasul banyak memberi contoh misalnya Doa Iftitah ada 9 jenis.
Masing2 punya hujjah silakan jangan saling menyalahkan.
Kita harus lapang dada selama ada hujjahnya, monggo silakan.
Subhanallah kita ikuti imam yang empat, mengikuti Rasulullah
Taasub pada ustadz tertentu tak boleh. Ustadz bukan nabi. Penyambung lidah para nabi.

Suka menyerupai orang kafir

Sejak jaman dulu terjadi. Rasul mengingatkan: “Kalian ini pastinya akan ikut tradisi orang terdahulu. Kalau masuk lubang biawak, kalian pun ikut. ”
Siapa lagi yang diikuti kalau bukan yahudi dan nasrani.
Kisah dari Perang Hunain, ketika pasukan muslim memasuki area Hunain, subhanAllah ketika sampe Hunain mereka melihat pedang2 digantungkan di pohon keramat orang Hunain. Orang-orang yg baru masuk Islam ingin meniru dan menyampaikan ke Rasul agar di kalangan muslim juga dibuatkan suatu yang keramat sebagai kebanggaan mereka.  Jawab Rasul: “Allahu Akbar. Sesungguhnya ini tradisi jaman dulu. Ucapan kalian ini persis seperti kata Bani Israil ke Nabi Musa jaman itu!”

Itulah kamum muslim banyak yang ikut2an adat orang kafir.  Peringatan ini dan itu, atau pesta perayaan ultah ata apa saja. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, dia ya tergolong kaum itu.

Isra Miraj misalnya. Kita semua beriman bahwa itu terjadi. Namun semua riwayat yang mengatakan bahwa Isra Miraj terjadi pada bulan Rajab statusnya dhaif dan maudhu. Tak ada yang tahu persisnya kapan Isra Miraj terjadi.  Penanggalan tak pasti. Peringatan Isra Miraj niru orang kafir seperti mereka memperingati paskah.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad juga seperti Natal, memperingati kelahiran nabi Isa. Padahal sahabat tak ada yang memperingati kelahiran nabi Muhammad. Ini jelas mencontoh orang kafir.

1 Muharram diperingati juga meniru kafir. Padahal penanggalan Islam itu mengikuti gagasan Umar bin Khaththab yang merasa penting membuat penanggalan Islam.

Upacara 7 bulanan untuk calon bayi juga ikut Hindu. Kemudian ada yang berpendapat bahwa yang benar 4 bulanan, padahal juga salah karena di Islam tak dikenal dengan upacara 7 bulanan buat menyambut bayi.

Demikian halnya selamatan memperingati mayit yang telah meninggalkan kita pada hari ke 1, 3, 7, 40, 100 maupun 1000. Semua itu ajaran Hindu. Tak salah ketika seorang tokoh Hindu mengatakan : “Kami kecil namun seluruh nusantara mengikuti kami” ada benarnya karena banyak kaum muslim yang mengikuti selamatan seperti orang Hindu.

Bertaubatlah

Macam2 perayaan yang ada di penanggalan nasional kita banyak tak benarnya karena Islam hanya mengenal dua perayaan saja setiap tahun: Iedul Fitri dan Iedul Adha

Tirulah generasi sahabat. Jangan ngikutin org kafir. Ultah pake lilin padahal ada kisah sejarah kafir menggunakan lilin.
Kelahiran isya
Paskah
Maulid
Isra Miraj
1 Muharam
Nuzulul Quran
Terlalu banyak peringatan. Kapan kerjanya?

Juga dalam berdzikir misalnya, tak perlu meniru seperti orang yahudi di tembok ratapan, meraung-raung. Tak usah dzikir pake geleng-geleng kepala atau manggut-manggut. Tidak ada contohnya dari Rasul.

Kafir di kuburan ada salib, boneka. Ditiru muslim juga. Kuburan Islam tak perlu ada nama. Acara kematian seperti kawinan. Apa manfaatnya?

Peringatan haul dari Syekh Anu dsb juga tak ada contohnya. Mana ada misalnya Haul Abu Bakar ?

Bertaubatlah.

Tanya Jawab

1. Bagaimana kalau terpaksa ikut acara bidah karena takut pemimpin? Tidak perlu takut karena kita harus takut kepada Allah. Kalau acara bid’ah, kita jangan hadiri. Kalau sifatnya undangan (walimah, misalnya), hukumnya wajib kalau:
1. Yang mengundang muslim
2. Khusus kepada kita, lewat undangan, bukan pengumuman
3. Yg mengundang sumber nafkahnya halal, bukan dari mencuri atau maksiat lainnya.
4. Tak ada kemungkaran (tari-tarian, musik, laki dan perempuan nyampur jadi satu, buka aurat dsb.)

2. Bagimana huu Imam sebelum shalat baca qulhu sampai annas?
Harusnya memantabkan niat, salah kalau membaca surat itu. Tujuannya kan meminta perlindungan dari gangguan setan – gak usah baca surat itu toh nanti ada taawudz yang memohin lindungan dari gangguan setan.

3. Meninggalkan isbal (menjulurkan celana sampai ke mata kaki) menjalankan Sunnah? Ya.
Sombong pun dianggap meninggalkan sunnah Umar bin Khatab liat orang isbal:
Kamu wanita?
Bagian ketakwaan : tidak isbal
Kaos kaki boleh krn dari bawah ke atas
Menolak sunnah bentuk kesombongan
Menolak sunnah berarti sombong

4. Apakah ada bidah hasannah? Gak ada. Semua bidah sesat. Tak ada bidah hasanah
Misal nya nasi uduk, biasanya ada telur, tempe, tahu, bawang atau lainnya. Namun kalau dicampur dengan buah naga apa namanya tetep nasi uduk?

Memuliakan Allah dan Rasul kok gak boleh?
SubhanAllah. Tentu boleh …namun dengan cara-cara yang dicontohkan Rasul.

5. Mengantarkan orang tua menabur bunga dan membaca Yasin di kuburan sebagai bentuk berbakti kepada orang tua, apa boleh?
Kasih nasehat dan doa. Al Maidah 5:2 tidak benar bekerjasama utk kemaksiatan.

Mengantarkan ke tempat yang baik saja.
Mengantarkan ke diskotik juga dosa.

6.) Hukum menabur bunga di kuburan?
Tak ada tabur bunga.
Alquran gak boleh dibaca di kuburan, toilet dan kandang onta.

7.) Bidah di sekitar kita banyak, tidak enak menolaknya. Bagaimana?
Jangan ikut2an karena gak enak sama tetangga. Harus gak enak sama Allah

8.) Dzikir dalam hati apa boleh? Tak ada. Harus diucapkan
Jangan mau diatur tetangga

9.) Qunut
Qunut nazillah – adanya banyak, qunut utk semua shalat
Qunut di witir ada hadits nya. Mengkhususkan di Subuh tidak ada. Jadi bangaimana? Ikut angkat tangan. Dasarnya: mengikuti imam.
Imam syafii mengatakan qunut itu sunnah bukan wajib.
Qunut Subuh tidak ada.

10.) silaturahim ke saudara ada acara bidah, kematian
Ajaran sunnah kita ikuti
Yg bidah kita tinggalkan

11.) Melihat kuburan ortu agar tetap bersih gak papa. Adabnya:
Mengucap salam kepada ahlul kubur
Mendoakan
Mengingat kematian

12.) Akad nikah tak ada sunnah nya pembacaan al quran
Doa kepada pengantin nya.
Belajar Islam dengan benar sesuai Quran dan Sunnah
Kita pegang erat
Kita bela sunnah
Bidah kecilpun tak boleh
Gak usah peduli omongan orang
Kita mencari ridhla Allah


Wallahua’alam

Read Full Post »

Maasya Allah … Kajian yang sangat bermanfaat terkaWAAwit keniscayaan NIAT agar apa yang kita lakukan benar2 bermanfaat bagi kita. Ustadz KH-B menyampaikannya dengan jelas, disertai kisah-kisah nyata yang inspiratif. Salah satunya adalah kisah ketika Abu Bakar meminta maaf kepada orang miskin namun berilmu dimana beliau sempat memarahi si miskin yang membuatnya hampir terjatuh karena kakinya yang dijulurkan saat duduk di masjid. SubhanAllah ….
Pada saat mau keluar rumah niatkan akan sodaqoh, simpan uang terbaik di saku tertentu dan begitu menemui fakir miskin langsung sodaqohkan. Ini lebih baik dari pada mendadak sodaqoh.
Maasya Allah. Bagus sekali.

“Permisalan ummat ini bagaikan empat orang laki-laki, yaitu; seorang laki-laki yang di berikan oleh Allah berupa harta dan ilmu, kemudian dia membelanjakan hartanya sesuai dengan ilmunya. Seseorang yang diberi oleh Allah berupa ilmu dan tidak di berikan harta, lalu dia berkata; “Seandainya saya memiliki seperti yang di miliki orang ini, niscaya saya akan berbuat seperti yang ia perbuat.” Maka dalam urusan pahala, mereka berdua sama. Dan seorang laki-laki yang diberi oleh Allah berupa harta dan tidak diberi ilmu, maka ia menyia-nyiakan hartanya dan tidak membelanjakannya bukan kepada jalan yang benar. Serta seorang laki-laki yang tidak di beri oleh Allah berupa harta dan juga ilmu, lalu dia berkata; “Seandainya aku memiliki seperti yang di miliki orang ini, niscaya aku akan berbuat seperti yang ia perbuat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka dalam urusan dosa, mereka berdua sama.” Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur Al Mawarzi telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Ibnu Abu Kabsyah dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il bin Samurah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Mufadlal dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Ibnu Abu Kabsyah dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas. (HR. Ibnu Majah: 4218)

Read Full Post »

Older Posts »