Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2009

6 Ramadhan 1430H

Assalamualaikum wr wb.

Hari ke enam Ramadhan saya diwarnai dengan kejadian raibnya sepatu yang relatif baru saya pakai, mungkin sekitar sebulan begitu. Ceritanya saya sedang buru-buru menuju masjid yang berlokasi di belakang Wisma Mulia untuk mengerjakan shalat Ashar berjamaah. Sebenarnya saya sudah sering mendengar bahwa masjid ini sering ada kejadian sepatu hilang. Padahal, subhanallah, masjidnya besar dan bagus sekali. Empat tahun lalu saya sering ke masjid ini yang saat itu masih dalam taraf pembangunan. Karena sudah tahu kisah itu maka saya taruh sepatu di rak yang agak tinggi dan kelihatan dari dalam masjid. Namun ya memang pencuri lebih hebat darai yang dicuri, meski shalat hanya 15 menit, raib ya tetep aja raib. Akhirnya saya pinjam sandal jepit dari pengurus masjid yang saat itu sedang membersihkan got. Beliau bercerita bahwa sebelumnya, Dzuhur juga ada kejadian sepatu hilang. Jadi ya memang sepertinya sudah langganan.

Saya jadi ingat kisah seorang ustadz yang kehilangan kamera yang menurut dia bagus sekali dan dia pelihara dengan baik. Akhirnya hilang juga dan ustadz tersebut merasa lega karena hari-harinya tak terbebani juga dengan menjaga kameranya tersebut. Sebuah pelajaran yang menarik. Sedangkan kejadian kehilangan sepatu, sudah yang ke-empat kalinya saya alami. Lucunya, dua kali kehilangan terjadi di tempat yang sama beberapa tahun lalu, yaitu di mushalla Kyoi Prince Jl Sudirman, Jakarta. Kejadian hanya berselang satu bulan dan sepatunya persis sama karena pas kehilangan yang pertama, saya membeli lagi sepatu dengan model dan merek yang sama. Apes ya?

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Memang, meski saya yang memakai sepatu saya, namun semuanya itu juga bisa saya pakai (saya takut mengatakan saya ‘miliki’) ya juga karena kehendak Allah yang berkenan memberi rizkiNya buat saya membeli sepatu. Kalaupun sekarang hilang, itu juga pasti karena kehendakNya. Dari ceramah di radio Rodja 756 AM saya mendengar ustadz mengatakan: Tiada keburukan yang ditimpakan ke Allah SWT kepada umatNya kecuali terkandung hikmah di dalamnya. Saya tertegun. Ucapan ustadz tersebut langsung menyihir saya berpikir mengenai hikmah apa di balik hilangnya sepatu saya. AKhirnya saya mendapatkan ‘mungkin’ hikmahnya adalah:

  1. Saya masih belum banyak sodaqoh, alias belum mencukupi. Saya jadi curiga dan segera buka laptop menghitung zakat yang saya bayar tahun ini. Astaghfirullah al adziem …ternyata saya masih menunggak pembayaran zakat! Ya Allah … ampuni aku…. Padahal Rasul dan sahabat serta umat terdahulu selalu menyelesaikan tunggakan zakat ‘sebelum’ bulan Ramadhan. Jadi, ini merupakan peringatan Allah swt ke saya bahwa saya harus segera menunaikannya.
  2. Mungkin juga ini sebuah pertanda keseimbangan yang diturunkan Allah terkait dengan mesjid ini karena beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan kabar gembira terkait dengan usaha saya saat saya berada di masjid yang sama, menunaikan Dhuha dan menunggu saat meeting. Artinya, saya tak boleh mengkeramatkan mesjid ini lantaran saya terima kabar baik tentang bisnis saya tapi juga jangan membenci karena kehilangan sepatu di mesjid ini.

Sebagai hamba Allah, saya hanya bisa menggali pelajaran seperti ini. Sangat dangkal. Allah swt Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Sudah pasti ada maksud hikmah terkandung dari kejadian ini. Seperti halnya juga saat HP saya dicopet pada bulan Maret 2008 yang lalu.

Wallahualam ….

Wass,

G

Read Full Post »

5 Ramadhan 1430H

Assalamualaikum wr wb.

Sejak bulan Ramadhan ini sungguh luar biasa, shalat subuh di masjid saya selalu penuh bahkan sampai tadi pagi, saya masih kebagian shalat di luar masjid. Subhanallah! Sulit memang meninggalkan shalat Fajar setelah adzan Subuh dan sebelum iqomah karena sebaiknya shalat Fajar dikerjakan di rumah. Jadi, akhirnya saya selalu tepat sampai masjid saat iqomah dikumandangkan.

Saya sempat mebayangkan, betapa indahnya bila setiap hari, meski bukan lagi bulan Ramadhan, umat muslim selalu memadati masjid pada saat shalat fardhu. Sudah pasti Allah swt akan bangga karena rumahNya dipadati umatNya. Semua malaikat akan diturunkan ke masjid tersebut membantu melancarkan doa-doa yang dipanjatkan oleh jamaah yang memadati masjid. Kalimatullah ditegakkan, ditinggikan. Memang inilah yang seharusnya terjadi, umat Islam (laki-laki) dianjurkan mengerjakan shalat berjamaah di masjid pada awal waktu (shalat BMW) setiap harinya dan tidak hanya pada bulan Ramadhan.

https://i0.wp.com/lc.rkwc.hct.ac.ae/Newsletters/Ramadan%20Newsletter/images/20031030tarawih_l.jpg

Inilah salah satu hikmah Ramadhan yang bisa kita petik, bahwa kesemarakan Ramadhan dengan memadati masjid sebaiknya tertularkan ke bulan-bulan selanjutnya setelah Ramadhan. Semoga kita semua semakin sadar akan pentingnya memakmurkan masjid yang sekaligus meninggikan derajat kita di haribaan Allah swt. Saatnya kita memanfaatkan masjid untuk berbagai kegiatan, tidak hanya shalat. Misalnya, mengapa tak terpikirkan membuat tempat pertemuan bisnis di sekitar masjid? Jadi, pertemuan bisnis bisa berlangsung dan pada saat adzan shalat fardhu bisa melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Kalau memang pembicaraan belum selesai, bisa dilanjutkan lagi pertemuan bisnisnya. Ini jauh lebih baik dari pada hang-out di kafe-kafe mall yang biasanya jauh dari lokasi masjid yang mengumandangkan adzan. Pada jaman Rasul pun pertemuan bisnis dilaksanakan di masjid, bahkan pusat pemerintahan pun di masjid. Kecuali bila ada transaksi, memang tidak boleh dilakukan di masjid.

Mungkin kita mulai dari yang mudah dulu .. mari kita satukan pikiran dan langkah menuju satu titik, yaitu masjid, pada saat adzan shalat fardhu dikumandangkan. Ini dulu kita displinkan setiap hari, baru kita lakukan langkah selanjutnya.  Bulan Ramadhan 1430H ini kita gunakan untuk melatih disiplin kita ke masjid. Bagaimana?

Mari kita dirikan shalat BMW!!!!!

Let’s rock’n’roll ….!

Wass,

G

Read Full Post »

Tawadhu

5 Ramadhan 1430H

Muhammad A Saefulloh – detikRamadan

http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=235&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=acc43999

Jakarta“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS Al-Furqon [25]: 63)

Tawadhu adalah sikap rendah hati terhadap sesama manusia dan sikap rendah diri di hadapan Allah SWT. Sikap ini lahir dari kesadaran akan ke-Mahakuasa-an Allah atas segala hamba-Nya.

Tawadhu merupakan sifat yang disadari bahwa apa yang dimiliki, ketampanan, kecantikan, harta, pangkat, ilmu, semuanya adalah karunia Allah SWT. Sikap tawadhu ini akan mengangkat derajat seseorang ke yang lebih tinggi, seperti Rasulullah SAW sabdakan: “Tawadhu, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba kecuali ketinggian (derajat). Karena itu, tawadhulah, niscaya Allah akan meninggikan derajatmu.” (HR Dailami).

Al-Muhasibi, seorang ulama sufi menjelaskan bahwa jika seseorang tawadhu di dunia berarti dia telah membersihkan hatinya dari sifat sombong. Dia tidak memiliki hasrat untuk populer, sehingga dia selamat dari fitnah dunia dan berbagai macam dosa di dalamnya.  Dengan tawadhu, seseorang tidak akan tergila-gila dengan dunia, malah dia akan lebih berkonsentrasi kepada Allah.


https://i0.wp.com/4.bp.blogspot.com/_cb5GBiB8hck/SBvvgPPqRUI/AAAAAAAAAe0/Ke79e0Sn5D4/S1600-R/Bismillah.jpg
Sementara itu, Ibnu Athaillah mengungkapkan bahwa tawadhu adalah orang yang menerima kebenaran dari orang lain. Sikap tawadhu ini merupakan sikap yang dicontohkan Nabi SAW, para sahabat dan para pemimpin umat di masa lampau yang dijadikan contoh oleh para sufi. Pendapatnya ini didasarkan kepada sabda Rasulullah SAW: ”
Sesungguhnya Allah SWT memberi wahyu kepadaku agar kalian saling merendahkan diri sehingga seseorang tidak melampaui batas terhadap orang lain dan seseorang tidak berbangga atas orang lain.” (HR Muslim).

Read Full Post »

4 Ramadhan 1430H

Assalamualaikum wr wb.

http://minaretmuse.files.wordpress.com/2009/05/halal.jpgKajian Dzuhur dengan tema di atas sungguh amat mengesankan. Ustadz Usman Effendy mengulasnya secara menarik dengan dialog langsung dengan jemaah. Seringkali kita tak sadar bahwa dari hal yang kecil bisa timbul petaka. Ibaratnya makanan enak dari jenis ikan. Bila kita kena tusukan durinya di kerongkongan, tak kan nikmat lagi makan kita. Ada pepatah mengatakan: karena nilai setitik, rusak susu sebelanga. Bila dalam susu tersebut kita masukkan satu butir racun, maukah kita meminumnya? Dari seekor nyamuk, tahukah kita bahwa dari sungut nyamuk itu bisa menimbulkan wabah penyakit? Malaria, demam berdarah semuanya dari sungut nyamuk.

Semua sakit / penyakit yang disebabkan dari duri ikan, racun di susu, dan wabah dari nyamuk semuanya sifatnya hanyalah siksa dunia. Sadarkah kita bahwa makanan haram itu merupakan siksa dunia dan akhirat? Untuk itulah kita harus hati-hati memilih produk makanan. Faktanya, menurut penelitian:

  • Banyak produk makanan impor yang bila ditelusuri biangnya ternyata diolah menggunakan babi, baik dagingnya atau minyaknya. Makanan seperti sosis dan gelatin, perlu dicurigai.
  • Vegetable oil ternyata tidak sepenuhnya dari nabati, bisa jadi ada 5% kandungan minyak hewan yang bahkan bisa jadi dari minyak babi. Andaikan dari hewan lain seperti sapi tapi tidak disembelih dengan atas nama Allah swt , juga diharamkan kita konsumsi.
  • Vaksinasi menginitis yang disuntikkan ke jemaah haji yang akan berangkat ke tanah suci, ternyata dari pangkalnya juga ada unsur pengolahan menggunakan babi. Astaghfirullah!
  • Bulu babi ada yang memproduksinya untuk sikat gigi dan kuas halus yang biasa dipakai untuk memasak roti.
  • Babi juga digunakan dalam pembuatan obat-obatan termasuk membuat kapsul untuk obat.

Mengapa babi digunakan? Karena jauh lebih murah dalam ongkos produksi. Peternakan babi bisa menghasilkan anak babi sekali melahirkan lebih dari 6 ekaor. Sedangkan sapi perlu waktu lama dan sedikit ananknya. Dari babi tidak hanya dagingnya saja yang bisa diolah, tapi banyak sekali turunannya.

Memang benar, kita ini hidup di jaman fitnah. Sulit sekali mencari hal yang halal. Mungkin paling aman kalau kita jadi vegetarian ya kali? Bagaimana? Siapkah Anda? Atau, makan daging tapi kita sendiri yang sembelih. Bukan apa-apa, selain harus dengan nama Allah menyembelihnya, syarat lainnya adalah yang menyembelih harus Muslim. Lha kalau daging impor dari AUstralia? Wallahualam …

Wass,

G

Read Full Post »

4 Ramadhan 1430H

Ya .. hari ini usiamu tepat sudah satu tahun karena kau kumiliki sejak 4 Ramadhan 1429H. Terima kasih telah setia menemaniku mengunjungi rumah-rumah Allah, mengunjungi kerabat yang sakit, dan keperluan praktis lainnya. Rasanya, di Jakarta yang sibuk ini, tak mungkin aku bisa shalat BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu) lima kali sehari tanpa bantuanmu. Saat mobil, motor, bus berjubel memenuhi jalan, kau melesat membawaku pergi menuju masjid di belakang Sampoerna Strategic Square, atau masjid Kerinci X, atau masjid Palmerah, atau dimanapun aku terjebak kemacetan.

Saat di Anyer pun kamu setia membawaku shalat Isya di masjid kampung yang berjarak 3 KM dari tempatku. Luar biasa! Tanpa kamu, mungkin sulit mennggapai shalat BMW.

Bravo Jildhan-29! I love you full pol!

Jildhan-29 selepas Kuliah Dhuha di Nurul Hidayah

Jildhan-29 selepas Kuliah Dhuha di Nurul Hidayah

Ya Allah .. Berilah keberkahan kepada sepeda lipatku, Jildhan-29, agar tetap selalu setia sebagai pengingat aku di waktu-waktu kritis, saat umat manusia (lakik-laki) seharusnya hanya menuju satu arah: masjid. Saat adzan tiba. Saat panggilanMu mengumandang di bumi ….

Terima kasih telah Engkau berikan aku sepeda ini sehingga membantu aku selalu mengingatmu dan memudahkan aku menuju rumah-rumahMu.

Wass,

G

Read Full Post »

3 Ramadhan 1430H

Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah oleh-oleh dari Kajian Dzuhur yang disampaikan oleh ustd DR Mardani Alisera MM dalam tema “Meraih Berkah dan Kesuksesan Ramadhan” pada tanggal 3 Ramadhan 1430 H (24 AGustus 2009).

Beliau menukil Tiga Karakter Seorang Muslim menurut DR Yusuf Qardawi, yaitu: karakter afiliatif, karakter partisipatif, dan karakter kontributif.

Penjelasannya sebagai berikut:

  1. Karakter Afiliatif pada dasarnya adalah kepekaan kita terhadap stimulus yang terjadi di sekeliling kita terkait dengan meninggikan kalimatullah. Contohnya adalah kepekaan terhadap situasi jalur Gaza. Kita ikut prihatin terhadap kekejaman yang dilakukan oleh Israel kepada bangsa Palestina di jalur Gaza.
  2. Karakter Partisipatif pada dasarnya adalah lebih jauh dari afiliatif karena kita sudah melibatkan diri, ikut berpartisipasi. Mengambil contoh yang sama, jalur Gaza, kita sudah ikut melakukan donasi dengan mengirimkan sebagian rizki kita ke lembaga-lembaga yang mengurus masalah ini, misalnya transfer ke KISPA atau MER-C.
  3. Karakter Kontributif memiliki kadar yang lebih tinggi lagi karena kita langsung berkontribusi membuat gagasan yang dilaksanakan langsung. Menggunakan contoh yang sama, misalnya kita terjun langsung ke lapangan mencari jalan bagaimana agar semen bisa masuk ke jalur Gaza karena dewasa ini tak satu zak semen pun boleh masuk Gaza karena penjagaan ketat oleh Israel. Kita libatkan diri kita dalam diplomasi politik agar Israel membuka jalur masuknya semen untuk pembangunan di Gaza. Contoh lainnya misalnya kita berperan lebih jauh dalam kemslahatan umat melalui penguasaan iptek. Sumber daya alam kita seperti minyak, emas, batubara, kita kelola sendiri tanpa menggantungkan diri dari bantuan modal asing. Ini akan memajukan Islam dalam peradaban dunia. Di kesempatan lain, saya jadi ingat tausiyah dari ustadz Ade Purnama yang mengatakan bahwa Islam itu hanya 5-6% saja di masjid, selebihnya ya di dunia nyata: dalam bisnis, di pasar, kehidupan sosial, dsb. Dalam berbisnis, kita bawa Al Quran dengan menerapkannya langsung: tidak mengurangi timbangan pada saat berdagang, bahkan menambah timbangan. Beginilah cara dagang Rasul Muhammad SAW. Makanya Rasul menjadi pedagang yang sukses dan banyak untungnya.

Semoga kita termasuk muslim yang memiliki tiga karakter tersebut. Amin.

Wass,

G

Read Full Post »

2 Ramadhan 1430 H

Assalamualaikum wr wb.

Pembelajaran di hari kedua Ramdhan 1430H saya peroleh dari Status update nya Bang Ijal di FacebooK

Rizal B Prasetijo wonders why his and her moslem brothers and sisters do fasting during the Ramadhan, but do not uphold their five daily compulsary prayers… Sekalian aja ndak usah puasa, tanggung amat…

Wah, setuju sekali … Shalat itu tiang agama. Artinya, kalau tiada shalat, amalan baik apapun yang kita kerjakan ya gak bakal diterima Allah swt. Hal ini jelas karena yang dihisab di hari kebangkitan (kembali) di Padang Mahsyar pertama kali adalah shalat. Kalau kelakuan kita selama di dunia sudah baik, amal sodaqoh kita juga sudah kenceng, namun kalau tidak ada shalat ya tidak ada artinya. Lalu, mengapa musti puasa?

Selanjutnya Bang Ijal mengomentari:

Shalat itu ibarat angka satu didepan bilangan satu trilyun. Walau amal saleh lain kita banyak, akan tetapi tidak pernah menjaga shalat fardhu, ya seperti angka satu trilyun tanpa angka satu. Yg ada hanya nol dua belas biji…

Semoga kita semua memahami hal ini dan kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi, yaitu mereka-mereka yang meninggalkan shalat. AMin.

Wass,

G

Read Full Post »

Older Posts »