Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2008

Tanggal 11 April 2008 saya ikut event Communicator Community di Grand Hyatt Hotel. Saya shalat Ashar di mushalla (buat karyawan) dan menariknya, koleksi bukunya lumayan lengkap dan up to date:

Buku baru diumumkan di dinding …

Semoga dengan koleksi buku ini bisa membimbing karyawan Grand Hyatt untuk menjadi orang yang shalih. Amin.

Salam,

G

Advertisements

Read Full Post »

Tanggal 11 April 2008, saya mengikuti Communicator Community di Grand Hyatt Hotel. Gila, yang dateng buanyak banget dan malah membuat bingung bagi yang pemula seperti saya.

Diluar dugaan saya, acara ini rupanya lebih menekankan pada faktor hiburan ketimbang informasi. Yang bikin pusing, ada tiga pembawa acara yang kalo ngomong suka tabrakan. Yang satu IFEB temen saya, biasa jadi MC acara musik sejak M97 dulu, kemudian ada pak Indra, dan Ruben yang banyak disukai orang tapi saya ndak menikmati banyolannya. Maklum .. saya ke situ tadinya mau cari informasi, tapi malahan karena ramainya pengunjung dan tidak terkoordinasi dengan baik, maka saya gak mendapatkan apa2. Makanya jam 3:30 siang saya udah pulang …

Di saat pidatonya sih katanya bakal banyak sharing, tapi kurang informative, padahal saya duduk gak terlalu jauh dari panggung.

Next time better lah …

Salam,

G

Read Full Post »

Motor Lucu

Ini iseng2 njepret aja … cute banget motor ini:

Ini kemudi dan speedometer nya:

Including keranjang di belakang .. cocok buat belanja di pasar neh …

Gak perlu nomor polisi? Wah .. kayak sepeda aja …

Read Full Post »

Budaya Kita: Peduli

Dulu waktu saya masih SD, ada pelajaran namanya Civic dan kemudian menjadi Kewarganegaraan dan kemudian menjadi Pendidikan Moral Pancasila. Salah satu yang saya ingat sampai sekarang adalah ajaran guru saya, pak “Kasno” di SD Guntur, Madiun Lor yang salah satunya berupa ulasan bahwa bangsa kita terkenal karena “keramahan” nya. Intinya, “ramah tamah” merupakan kunci budaya bangsa kita. Lihat aja, kalau kita bertamu, biasanya tuan rumah sibuk menjamu kita bahkan semua makanan yang ada di rumahnya dikeluarin: ada rengginang, enting-enting, emping, madu-mongso, jadah, kacang, dll, disertai dengan teh anget manis. Itu sudah khas sekali di budaya kita. Tidak hanya itu, bangsa kita paling suka menegur bila dalam situasi kesunyian .. misalnya .. lagi ngantri di dokter gigi kalo ada yang ngantri lainnya kita cenderung memulai pembicaraan, bahkan dengan pertanyaan paling bodoh sekalipun: “Sakit gigi pak / bu / mas /dik?”. Ice breaker ini kemudian menggelinding bak es yang baru pecah sehingga pembicaraan mengalir seperti air …. dan bahkan akhirnya bisa jadi temen pada nantinya. Padahal ya bodoh banget pertanyaannya .. lha wong udah jelas ngantri di dokter gigi masak masih ditanyain sakit gigi , opo tumon? Tapi .. ya begitulah budaya kita … yang penting ramah-tamah .. gitu. Bahkan ada seorang yang duduk dalam satu pesawat dari Jakarta ke Surabaya, malah tanya orang yang disebelah “Mau ke Surabaya pak / bu / mas / dik?” … ha ha ha ha … begitulah budaya kita … ramah tamah is the game ….

Mestinya, kalo orang udah ramah, tentu dia peduli dengan sesama. Misalnya, kalo orang yang duduk di sebelah kita bolpoin nya jatuh, refleks kita langsung menunduk mau ikut mengambil bolpoin tersebut, meski cuma pura2 … setidaknya “body language” nya mengatakan demikian. Dan biasanya, yang bolpoin nya jatuh langsung bilang .. “Udah pak … gak pa pa .. biar saya yang ambil ..”. Dari kejadian inipun perbincangan dimulai. Di sinilah keramahan menjelma menjadi “peduli” terhadap yang terjadi di sekeliling kita ….

Mari kita bedah kasus (biyuh ..!! udah kayak sekolah MBA aja pake case analysis segala .. gaya pol!) yang baru saya alami tadi malam pulang dari kerja. Saya ke stasiun tanah abang dan mengambil kereta AC Sudirman. Biasanya, kalo abis Magrib kereta kosong. Mungkin karena hujan .. kemaren rada penuh. Saya juga heran kok udah ada mbak2 yang berdiri. Ya akhirnya saya berdiri juga, sambil baca majalah Tarbawi kesukaan saya itu. Pas kereta jalan .. saya amati .. sebetulnya semua yang berdiri bisa duduk. Lho? Iya .. ternyata banyak yang duduknya sengaja “memenuhi tempat” dengan agak merenggangkan selangkangan, atau baca koran atau tiduran menyandar ke sandaran .. pokoknya seenaknya lah .. sepertinya kereta ini milik embahe sangkil .. gitu .. Saya ketawa dalam hati .. dan saya ingat pelajaran Pak Kasno guru SD saya dulu … apakah jaman berubah ya? Keramahan ternyata tidak berarti kepedulian di jaman ini? Ini saya tunjukkan dalam foto ya … (maaf bagi yang fotonya dimuat, kalo gak terima, silakan protes …gak pa pa … he he …).

Bagian dekat sambungan gerbong, tempat duduknya didesain buat empat orang, seperti foto 1 di bawah ini:

Foto 1:

Namun sayang, di depan lokasi tempat duduk ini ada tiga orang yang menduduki bangku yang mestinya buat 4 orang, dengan leluasanya (foto 2):

Foto 2:

Padahal di foto 1 ada mbak2 yang berdiri lho. Kok ndak ada ya satupun dari para bapak2 itu yang tergerak buat sekedar menawarkan keramahan: “Mbak .. silakan duduk ..” sambil mengingsutkan pantatnya sedikit atau menutup korannya.

Begitulah wajah kepedulian kita …. Apakah memprihatinkan? Terserah .. bagaimana Anda menilainya …. he he he he .. saya hanya mengungkapkan fakta.

Salam,
G

Read Full Post »

Beberapa hari yang lalu, 9 April, saya mengikuti taklim ba’da Dzuhur di kantor pusat PT Indosat, lantai 23. Penceramahnya dari Era Muslim (maaf lupa namanya), dengan topik bahasan berupa film yang sedang hangat dibicarakan di dunia: FITNA.

Meski saya sempat melihat di LiveLeak, sang ustadz menayangkan kembali film tersebut secara penuh dan kami semua menonton bersama:

Ada tiga hal yang dikatakan ustadz, yaitu: 1. Judulnya benar, memfitnah islam, meskipun si Wilders mengartikannya lain: Islam adalah agama fitnah .. mungkin begitu; 2. Wilders pinter membidik isu dengan kepandaian psikologi massa; 3. Karena film ini “dilarang” maka jadi ngetop.

Mengapa Wilders membuat film ini?

Karena ada sebagian kelompok di Eropa yang takut dengan perkembangan jumlah pemeluk Islam yang akselerasi pertambahannya semakin meningkat paska dituding bahwa Islam sebagai teroris dibalik ambruknya WTC tanggal 11 September 2001. Banyak orang Eropa yang penasaran dan ingin tahu tentang Islam, hingga akhirnya mereka ”converted” ke Islam. Subhanallah. Selain itu, suasana di eropa ada ketakutan thd islam krn makin besar, krn bnyk org eropa asli, masuk islam – 54juta, yang merupakan angka yg signifikan. Di Inggris sendiri banyak sekali penduduk asli yang akhirnya mengetahui kelembutan dan kebenaran Islam dan akhirnya masuk Islam. Sebagian orang takut, termasuk Wilders, makanya membuat film ini.

Apa hikmahnya?

Bagi Islam, ini justru faktor pemersatu Islam karena umat Islam seluruh dunia bersatu padu dalam pembelaan terhadap Islam. Tidak salah bila parlemen Israel berang kepada Wilders karena film ini justru akan mempersatukan umat Islam dunia. Sudah banyak di dunia ini yang menjelek-jelekkan Islam dan membuat isu ”teroris” di internet. Islam justru harus membalasnya dengan ”ilmu” melalui ajaran kebenaran dengan buku-buku Islam, dan tulisan2 di internet.

Mengingat film ini dibuat Wilders tanpa biaya karena hanya merupakan cuplikan-cuplikan film yang ada di internet dan TV, maka semestinya umat muslim bisa membuat film balasan yang efektif.

Wass,

G

Read Full Post »

Benarkah?

Ini adalah kata Aa Gym seperti dimuat di majalah Sabili edisi 2 minggu yang lalu:

Halo…. setuju?

Salam,

G

Read Full Post »

Kemarin, Rabu 2 April 2008, saya mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad (peringatan hari kelahiran Rasul) :

03042008521.jpg

dengan bintang tamu pemeran utama Ayat-Ayat Cinta (Fedi Nuril) yang juga didaulat memberikan pengalamannya memerankan tokoh Fahri :

02042008512.jpg

Di tengah tausiyah mengenai Rasulullah yang merupakan idola “sesungguhnya” sang pemeran utama diwawancara Moderator mengenai pendapatnya mengenai peran “Fahri” yang jawaban intinya adalah sebagai berikut:

  • Pada awalnya ragu saat dipercaya sebagai pemeran Fahri karena merasa bahwa perilakunya masih jauh dari Fahri.
  • Menerima banyak email yang menyatakan keraguan bahwa dirinya “pantas” memerankan Fahri; dan setiap email dijawab langsung olehnya.
  • Fedi juga bimbang apakah bisa memerankan Fahri dan sempat mengundurkan diri sebagai pemeran utama. Namun setelah diajak ke Kairo oleh Sutradara dan Penulis buku, akhirnya dia merasa terpanggil buat membintangi film tersebut.
  • Fedi mengaku bahwa dirinya banyak belajar dari novel maupun perannya dalam filim ini.

Yang cukup menyenangkan dari jawaban dia kepada audiens adalah tidak adanya kesan glamor maupun sombong meskipun filmnya udah laku keras, sampai hari ini ditonton 3.5 juta orang. Penampilannya santai dan tidak terkesan artis banget: celana jins dan baju lengan panjang motif kotak2. Cara menjawabnya juga simpatik, sopan. salut dah sama Fedi! Keep on moving, son …!!! Semoga tetap tawadhu’ …meski merengkuh rausan juta rupiah dari peredaran film yang fantastis …

Saking kesengsemnya sama Fedi, sobat saya: Erwin Prayudi, berfoto bersama dengan afirmasi: “Ayat-Ayat Cinta Part II”:

Salam,

Gatot Widayanto


Read Full Post »