Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2015

Ikhlas dan Benar

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”
Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang “ihsan”, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan denganikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.”
Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti “niat hanya mengharap ridha Allah saja” dalam beramal tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran/syirik yang merusak.

Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan pelakunya akan mudah menyerah, lelah dan kecewa.

Read Full Post »

Tadi malam kedatangan tamu, utadz Fajar Rachman, sambil menikmati hidangan tongseng dan sate kambing untuk santap malam. Beliau banyak bercerita tentang Ponpes Temboro di kabupaten Magetan yang memiliki jumlah santri sekitar 24 ribu orang. Masya Allah. Tentu saya kaget, kok saya mengaku dari Madiun bahkan lahir di Madiun kok belum mendengar di eks Karesidenan Madiun ada pesantren besar. Yang saya dengar selama ini bahkan sejak tinggal di Madiun dari 1960 s/d 1979 kok tahunya hanya Gontor di Ponorogo.

Ternyata video ini memberi pencerahan tentang ponpes ini. Masya Allah!

Video 1

Video 2

 

Read Full Post »

Oleh: Ustadz Hilman Rosyad, Lc.

Mengesakan Allah dalam bahasa kita sebut sebagai bertaudid kepada Allah SWT. Apa yang kita tauhidkan dari Allah ada tiga hal:

  1. Rububiyatullah:
    • Allah sebagai rabbul alamin
    • Dia lah sang pencipta
    • Dia lah yang memberi rizki kepada kita
    • Dia lah yang memiliki kita semua dan alam semesta ini
  2. Uluhiyatullah:
    • Mentauhidkan Allah sebagai Tuhan, dimana kita menjadikan hanya Allah adalah satu-satunya Tuhan yang kita sembah dan kita muliakan
    • Kita cintai, kita patuhi perintahNya, kita tinggalkan laranganNya
  3. Tauhid Hakimiyah:
    • Satu-satunya Tuhan yang memiliki aturan dalam kehidupan ini
    • Mengatur individu, keluarga, masyarakat, bernegara dan berbangsa
    • Mengatur ekonomi, pendidikan, keamanan dan lain sebagainya

Kita kokohkan ketauhidan kita kepada Allah baik rububiyah, uluhiyah maupun hakimiyah.

Video

Read Full Post »

Ucapan felix siaw tentang natalan

01. walau masih berbeda aqidah dengan kedua orangtua | alhamdulillah saya dikaruniai kemudahan dalam keluarga

02. di tahun 2002 saya menjadi Muslim setelah 18 tahun merayakan Natal | banyak yang berubah setelah saya memahami agama Islam

03. proses berpikir yang mengantarkan saya pada Islam | agama logis yang bisa memuaskan akal, menenangkan hati, dan sesuai fitrah

04. prinsip tauhid di dalam Islam itu sederhana dan mengena | prinsip satu Tuhan itu menenangkan dan menentramkan

05. setelah menjadi seorang Muslim tentu banyak penyesuaian yang harus saya lakukan | aqidah Islam tentu menngubah banyak prinsip hidup

06. salah satu prinsip yang terpenting adaah penjagaan terhadap aqidah | pengakuan bahwa Allah itu satu dan tiada yang menyamai-Nya

07. saya memasuki Islam sekira bulan Oktober 2002 | maka ujian pertama ada di bulan Desember 2002 saat perayaan Natal keluarga

08. sulit sekali pada waktu itu untuk menyampaikan pada orangtua saya sudah menjadi seorang Muslim | apalagi menjelaskan tentang Natal

09. terbayang sudah selaksa bantahan dan omelan yang bakal diterima | apalagi menjelaskan bahwa saya tidak lagi ikut-ikutan Natalan

10. hanya saja saya tahu persis apa itu Natal | bagi kaum Nasrani itu perayaan terbesar | yaitu kelahiran Yesus, Tuhan Juruselamat

11. maka perayaan Natal itu bagi saya memiliki konsekuensi aqidah | yang takkan pernah saya sampaikan selamat padanya apalagi saya ikuti

12. terbayang lagi respon yang saya terima nantinya? | dimarahi? diamuk? diusir? | bagaimanapun juga ini prinsip aqidah yang harus sampai

13. benar saja, orangtua saya tentu tidak terima | dengan perdebatan alot 3 hari akhirnya ke-Islam-an saya bisa mendapat tempat

14. saat itu ayah saya berucap | “papi tidak bisa melarang kamu Muslim, tapi papi juga tidak bisa menerima kamu Muslim”

15. sementara isak tangis ibu saya menjadi latar diskusi alot kita sepanjang 3 hari | hati anak mana yang tak sedih melihat airmata ibunya?

16. tapi sekali lagi ini adalah aqidah yang tidak bisa ditawar | saya menguatkan hati sambil mengingat perjuangan Saad bin Abi Waqqash

17. saya hanya berharap pada Allah bila saya bertahan dengan aqidah ini | Allah memperkenankan suatu saat kelak ayah-ibu saya Muslim

18. namun ada hal yang benar-benar sulit mereka terima | “mengapa juga tidak boleh hanya sekadar mengucap Natal atau ikut merayakan?”

19. saya pahami cara pikir orangtua saya tentu tidak sama dengan apa yang saya pahami | menjelaskan prinsip aqidah bukan mudah

20. bagi mereka “selamat Natal” itu cuma sekedar ucapan | bagi saya kata-kata “cuma” itu seringkali hasutan setan yang paling laris manis

21. walau “cuma” ucapan selamat | saya tidak ingin mengingkari keyakinan utama | bahwa Allah itu satu dan tiada yang bersekutu dengan-Nya

22. dengan berat hati dan kelu lidah karena beratnya amanah ini | saya mencoba menjelaskan pada kedua orangtua saya..

23. “Islam itu sangat menghormati Yesus (Isa) | namun kami memuliakannya sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan”

24. “Isa Ibnu Maryam disebut lebih banyak dari Muhammad di dalam Al-Qur’an | namun kami tidak bisa menerima bahwa dia dianggap Tuhan”

25. “sedang ibunya Maryam itu wanita terbaik di dunia tersebab kesuciannya | namun kami tidak bisa menganggapnya ibunda dari Tuhan”

26. “sedang kelahiran dari Isa Ibnu Maryam tertulis mulia di dalam Al-Qur’an | dan keselamatan padanya selalu sepanjang masa”

27. “dan salam dilimpahkan kepadaku, pada hari aku lahir, pada hari aku wafat dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS 19:33)

28. “kami menghormati Isa sebagaimana kami memuliakan ibunya | juga keluarga Imran, Daud, Musa, dan Ibrahim”

29. “sulit kami merayakan atau mengucapkan yang dianggap sebagai hari lahir (natal) Tuhan Yesus (Isa) | tidak mampu kami menyelesihi Isa”

30. sedang Isa bin Maryam berpesan | “sungguh aku ini hamba Allah, Dia memberiku AlKitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi” (QS 19:30)

31. amanah sudah kami sampaikan bahwa kami tidak bisa ikuti perayaan Natal | tidak juga mengucap selamat pada satu hal yang batil

32. kami mengakui dan memberi salam pada kelahiran Isa Ibnu Maryam Sang Nabi yang disucikan | bukan salam pada hari kelahiran Tuhan

33. begitulah saya jelaskan dengan baik | dengan perkataan lembut lagi menghormati kedua orangtua sebagaimana perintah Allah

34. alhamdulillah, sampai saat ini mereka memahami dengan baik | bahwa toleransi Muslim adalah membiarkan perayaan mereka

35. alhamdulillah pula mereka melihat perubahan saya setelah menjadi Muslim | yang tentu lebih menghargai, menyayangi, menghormati orangtua

36. tiada kebencian pada orang selain Islam | justru karena sayang kita ingin mengajak mereka menuju cahaya Islam | termasuk orangtua saya

37. tidak pernah hubungan saya-ayah, saya-ibu lebih baik dari hari ini | bercanda bergurau, berkisah | tak pernah ada ini sebelum Muslim

38. Islam mengajarkan saya menghormati dan memuliakan orangtua sepenuh jiwa | maka tak pernah ada cerita mereka protes tentang toleransi

39. karena orangtua saya tahu persis hanya karena Islam saya bisa berkasih dengan mereka | Allah yang ajarkan saya menyayangi kedua orangtua

40. alhamdulillah, Allah memudahkan saya menjaga aqidah saya | bukan terombang-ambing tak jelas atas alasan toleransi smile emotikon

41. bila kita selalu baik pergaulannya setiap saat pada saudara kita non-Muslim | tidak mengucap Natal tak menjadi soalan dan masalah smile emotikon

42. alhamdulillah Allah sudah menunjuki kita Islam | mudah-mudahan kita selalu menjaganya |  wallahua’lam

Tentang Mengucapkan Selamat Hari Raya Agama Lain ?

toleransi itu menghormati, bukan mengikuti

Read Full Post »

Hari Senin (21/12) lalu Metro Mini pada mogok dan masyarakata menyambut gembira karena jalanan jadi tidak macet. Bahkan banyak masyarakat mendukung MM tak beroperasi lagi. Saya sendiri menyayangkan kalau MM dihentikan karena memang saya prihatin dengan sepinya penumpang di angkot termasuk MM. Kadang saya memang sengaja menggunakan angkot, termasuk MM sekedar ingin berpartisipasi dalam roda ekonomi masyarakat.

Kemarin sudah beroperasi lagi dan dari pemerintah ada tiga persyaratan yang diperlukan seperti saya copas dari detik:

“Yang beropersi di sini memang yang sudah kami anggap laik jalan. Kriterianya ada 3, yaitu rem tangan berfungsi, ada speedometer dan ban tidak gundul. Kalau tiga itu bagus, kami kasih sign mereka bisa jalan,” ucap Gunawan, petugas Dishub, saat ditemui detikcom di Terminal Blok M, Selasa (22/12/2015).

Dari tiga persyaratan tersebut membuat kita terperangah karena tiga hal tersebut sebenarnya sangat basic yang diperlukan dalam moda transportasi yang aman. Saya tak habis pikir, kalau masalah rem saja ternyata sampai turun pengawasan bahwa MM harus dilengkapi. Padahal mestinya tanpa harus diawasi pemerintah, hal ini harusnya wajib disadari harus ada. Speedometer juga sebenernya basic dan saya sering lihat MM tanpa speedometer. Ban gundul, jelas sangat membahayakan. Saya sebagai penumpang sayangnya tak pernah melihat gundulnya ban karena tak memperhatikannya.

Apapun keputusan tentang MM, saya hanya memepedulikan dalam hal pertumbuhan ekonomi rakyat bila MM tak lagi digunakan. Kecuali pemerintah sudah ada solusi lebih baik, misalnya peremajaan bus metro mini, atau penambahan angkot.

MM S69 Agustus 2014

Di dalam Metro Mini S69 menuju Blok M, tanggal 10 Agustus 2014 – menuju Blok M Square untuk ProgRing Halal Bihalal …

Read Full Post »

Seorang ulama berkata,”Tanda orang yang arif (bijak) itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristighfar.” (Kitab Tanbihul Ghafilin: 67).

6 Tanda Orang Bijak

Read Full Post »

Shalat Tepat Waktu

Foto ini saya peroleh dari medsos dan saya posting ulang di sisni sebagai pengingat bahwa shalat harus yang terlebih dulu diutamakan dari yang lainnya, kecuai bila uzur.

Shalat segera

Read Full Post »

Older Posts »