Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2008

Assalamualaikum wr. wb.

Sejak ibu sakit tgl 7 Agustus 2008 yang lalu, frekuensi saya ke rumah ibu di Tebet saya buat sering. Dalam hal kesehatan fisik mungkin saya tidak bisa membantu karena saya bukan dokter. Namun dengan sering dikunjungi setidaknya membuat beliau senang. Siang ini saya kunjungi ibu lagi, ba’da Dzuhur. Alhamdulillah … Allah SWT memberi kesembuahn berangsur-angsur kepada ibu saya. Pada saat saya datang tadi ibu sudah duduk di ruang tamu dan beliau mencoba berdiri .. ALhamdulillah!!! bisa berdiri dan tidak nyeri kaki sebelah kanannya!!! Allahu AKbar! Kemudian beliau coba duduk selonjor dengan hati2 .. ternyata ..ALhamdulillah … bisa mengangkat kaki kanan ke sofa tanpa bantuan siapapun! Dan menurut ibu, ya baru bisa hari ini. Alhamdulillah…!!!!

Ini juga saya yakin karena kekuatan doa dari temen2 saya yang sengaja saya mintakan secara khusus melalui SMS untuk mendoakan ibu saya. Terima kasih banyak saya ucapkan sekali lagi kepada temen2 saya yang budiman. Mungkin saya bisa khilaf dalam menyebutkan nama, namun sudah pasti yang saya mintai doa adalah: Pak Alfie (terima kasih juga telah memohon do’a di masjid kampung Bapak), bang Ijal (terima kasih atas doanya di tanah suci, sekaligus umroh), kang Tatan, kang Edwin, pak Heru saleh, pak Yadin, Hendro Kustarto, Didik Rudiono, mas DananG, bu Itje Suryono, ustadz. Herry Nurdi, ustadz Toton, pak Anto, PonQ,  mas Benny Subardja, mas Agam Fathurrohman, Andre Solucite, Gunners,  dan semua temen lainnya (aduh sekali lagi mohon maaf kalau tidak diuraikan di sini. Namun saya yakin Allah SWT mencatat amal perbuatan Anda meski saya khilaf tidak menyebutkan nama Anda sekarang).
Nanti sore rencananya ibu kontrol ke dokter, ketemu dengan dr. Endro Tomo (Orthopedist). Semoga ibu segera bisa jalan seperti sedia kala… Amin.

Wass,

G

Advertisements

Read Full Post »

Amanah

Oleh-oleh dari kutbah Jumat hari ini di Gedung SARJA:

Rasulullah diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak umat agar memiliki akhlak mulia. Sesungguhnya kesempurnaan iman seseorang terletak pada kemuliaan akhlaknya. Tidak ada interaksi sosial yg tdk dibangun diatas amanah. Hubungan dagang atau bisnis dibangun atas dasar amanah.

Perbuatan apa yg mempercepat kiamat? Rasul bersabda bahwa kiamat semakin cepat bila amanah dikhianati, karena akan terjadi kerusakan yang dahsyat. Bila hubungan dagang dikhianati dengan amanah yang dilanggar maka tidak terjadi interaksi antara pembeli dan penjual. Bila seorang suami mengkianati amanah maka rusaklah kehidupan pernikahan. Amanah begitu penting sekali dalam setiap sendi kehidupan kita.

Ada kisah dimana Rasul pernah tergesa-gesa bada dzuhur setelah shalat fardhu keluar dr masjid menuju rumah, menembus saf jamaah yang sedang melaksanakan dzikir atau shalat sunnah. Sahabat semuanya terheran-heran mengapa rasul keluar masjid padahal belum juga membaca dzikir maupun shalat sunnah. Setelah beberapa saat kemudian rasul kembali lagi ke mesjid dan hanya ada beberapa sahabat saja yang masih tingal di masjid. Diantara sahabat yang masih di masjid itu kemudian menanyakan perihal rasul meninggalakan mesjid ba’da dzuhur tanpa dzikir dan shalat sunnah. Rasul menjelaskan bahwa pada saat shalat beliau teringat bahwa ada amanah seorang tamu yang berkunjung ke rumahnya meskipun kunjungan itu hanya satu menit sekalipun. Ini menunjukkan bahwa amanah lebih penting dari pada dzikir dan shalat 2 rakaat.

Subhanallah ….

Salam,

G

Read Full Post »

Dini

saat “Cosmic Girl” bertalu

kucoba buka mataku

berat menggelayut mataku

kuingin teruskan mimpiku

menjelajah alam tak menentu

***

namun kuingat janjiMu

kutahu keteguhanMu

takkan mungkin Kau berlalu

tanpa peduli aksiku

***

di kegelapan kulangkahkan kakiku

bak merangkaki terumbu

menuju rumahMu

yang megah bak surgaMu

sambutlah kedatanganku

bersujud untukMu

demi masa depanku

ketenangan jiwaku

selalu merindukanMu

***

ampunilah dosaku

berikan cahayaMu

bimbinglah langkahku

dengan rahmat inayahMu

terimalah sujudku

kabulkanlah permintaanku

ba’da subuh, 17 Agustus 2008

Read Full Post »

Pesta Akbar

Agus, seorang remaja kelas 3 SMA begitu sibuknya menyiapkan pesta perpisahan yang akan digelar di Ballroom sebuah hotel mewah di jantung kota Jakarta. Pengumuman kelulusan memang belum keluar namun panitia sekolah telah menetapkan suatu tanggal tertentu beberapa bulan lalu sebagai hari akbar pelaksanaan perpisahan itu. Mereka menyebutnya Prom Nite atau Pesta Prom yang merupakan singkatan dari kata “Promenade” yang merupakan gerak dasar sebuah tarian. Segala pernik persiapan menghadiri malam akbar tersebut dilakukan Agus jauh hari sebelum hari H. Ini termasuk: membeli kain untuk membuat setelan jas dan celana, membeli sepatu baru yang lebih mengkilap, memotong rambut di salon berkelas.

Oh, tidak hanya itu, Agus juga harus menyiapkan segala pernik terkait dengan beberapa game yang diadakan selama Prom Nite berlangsung. Pokoknya, setiap detil mengenai kehadiran Agus di pesta akbar tersebut dia rencanakan dengan teliti karena dia ingin ”tampil beda” dan menjadi ”pusat perhatian”. Total belanja Agus untuk menyiapkan pesta tersebut sampai mencapai Rp. 1.5 juta, belum termasuk membayar biaya yang dibebankan oleh panitia sekolah: Rp. 500 ribu per siswa. Total jendral Rp. 2 juta dihabiskan Agus untuk pesta tersebut.

Ini baru undangan pesta sekolah dan yang mengundang adalah Panitia Perpisahan Sekolah. Coba kita bayangkan, bila yang mengundang pesta tersebut adalah Sang Pencipta, Sang Raja Diraja, Sang Penguasa Alam Semesta, Yang Maha Kuasa, Yang Menguasai Bumi dan Langit, dan Maha Pengasih dan Penyayang …ALLAH SWT. Maukah kita menginvestasikan uang sebesar Rp. 2 juta untuk menghadiri pesta akbar tersebut? Belum lagi, karena Dia adalah Yang Maha Kaya, Maha Memiliki, bagi yang hadir di pestanya, Dia memberi hadiah yang luar biasa besarnya. Mendengar ini, jangankan Rp. 2 juta, Rp. 1 Milyar pun mungkin kita mau mengeluarkannya, kalau kita punya uang sebanyak itu.

Oh …tunggu dulu …untuk menghadiri pesta akbar tersebut, Allah tidak mewajibkan kita mengeluarkan uang sebesar itu. Jangankan Rp. 2juta, sepeserpun Allah tidak mewajibkan kita! Sudah gitu, Dia tidak pandang bulu, siapapun boleh hadir ke pesta tersebut. Syaratnya hanya satu: Islam. Menarik gak?

Satu lagi .. pesta tersebut di gelar tiap hari, bukan hanya saat perpisahan, yaitu sebelum matahari terbit dan sesudah matahari terbenam dan bulan mulai tampak. Ya!!! Shalat Subuh dan Isya’!

Shalat Subuh dan Isya’ berjamaah di masjid adalah keutamaan yang disunnahkan oleh Rasulullah:

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa shalat Isya dengan berjamaah, maka seolah-olah ia telah shalat separuh malam, dan barangsiapa shalat shubuh dengan berjamaah, maka seolah-olah ia telah shalat sepanjang malam.” [HR. Muslim]. Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Ibnu Majah dan Khuzaimah dalam shohihnya]

Apa yang didapatkan Agus dalam menghadiri Prom Nite? Ketenaran? Mungkin. Keriangan? Mungkin. Suka cita? Mungkin. Apakah hadirnya Agus akan mendapat pahala dari Allah SWT? Tidak ada hukum yang

The same image, before and after applying Cartoon filter

mengatur pahala Allah bagi mereka yang merayakan pesta, apalagi pesta tersebut diselenggarakan pada saat shalat fardhu Isya’ seharusnya sudah waktunya didirikan. Bayangkan, bila Agus melakukan shalat Subuh dan dan Isya’ secara berjamaah di masjid, maka ganjaran Allah SWT sudah sangat jelas dan Allah tidak pernah wan prestasi dalam hal janji.

Mari, kita raih kemenangan dengan membuat masjid di sekitar kita ramai, penuh sesak dengan jamaah yang melaksanakan shalat fardhu lima kali dalam sehari, tiap hari, dan konsisten selamanya. Apalagi, keutamaan shalat Subuh dan Isya’ sudah jelas sekali pahalanya. Percayalah, melakukan shalat fardhu lima waktu di masjid pada waktunya merupakan suatu kenikmatan tiada tara. Di dunia pun, kita merasakan sorga.

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Tanggal 8 Agustus kemarin dipandang “keramat” bagi banyak orang. Mungkin karena unik bila ditulis dengan angka saja: 08 08 08 dan juga konon ceritanya menurut adat tertentu angka 8 itu hoki (baca: keberuntungan). Tak heran bila gedung pertemuan pada hari tersebut penuh, termasuk saya juga dapet undangan temen rocker (pemain gitar grup rock) yang menikah pada hari itu. Tapi justru yang saya alami hari itu justru berita musibah. Setelah selesai makan buah karena baru saja bersepeda ke kantor, saya siap2 mau mandi di kantor. Eh, ada telpon dari mas Henky, kakak saya yang nomer 2, mengabarkan bahwa ibu tadi malam jatuh pada saat turun dari tempat tidur. Innalillaah … sudah sering saya mendengar orang tua jatuh yang ujungnya disertai kematian. Saya langsung berdoa semoga Allah memberi kekuatan fisik dan mental kepada ibu saya yang sudah berusia 81 tahun ini.

Singkat cerita, saya langsung mandi dan terus naik taxi ke Tebet, rumah ibu. Kasihan sekali, terbaring kesakitan dan kalau bergerak suka ”pringisan” (mengerang kesakitan – red.) di bagian pangkal paha kanan. Untuk duduk pun sulit, apalagi jalan. Di rumah ibu juga ada mas Henky yang datang lebih awal, memeberikan satu strip pain killer (Mefinal) meski gak bantu banyak. Sayangnya ibu tidak bersedia untuk segera dibawa ke RS mengingat sakitnya dan juga berharap bisa sembuh beberapa hari.

Akhirnya ke Rumah Sakit juga

Dua hari yang lalu saya mendapat kabar bahwa ibu sudah bersedia dibawa ke dokter. Segera saya cari info dan ingat dua tahun lalu ibu pernah dirawat oleh dokter Elizabeth di RS Tebet dan manjur karena setelah selesai menjalani Rehabilitasi Medis (terapi) ibu bener2 sehat punggungnya. Dari percakapan per telepon dengan dr Elizabeth diputuskan bahwa ibu harus segera diperiksa melalui Rontgent dulu kemudian baru diketahui sakitnya apa.

Kemarin (13 Agustus) jam 11:45 saya beranjak dari kantor menuju Tebet, mampir Dzuhur di Masjid Tjut Mutia dan sekaligus makan siang ekstra cepat dengan siomay Abang2 di samping masjid. Jam 13:10 tiba di Tebet dan langsung memapah ibu ke kursi ber-roda, karena gak bisa jalan, menuju mobil. Perjalanan dari tempat tidur ke mobil saja sudah merupakan perjuangan luar biasa bagi ibu karena sakitnya luar biasa. Sebetulnya tidak tega saya, tapi apa boleh buat, semakin ditunda semakin runyam nantinya.

Sampai di RS Tebet, bagian pendaftaran (Informasi) begitu sigapnya menerima saya dan langsung memberi komando supaya ibu diturunkan dari mobil melalui pintu UGD. Suster yang di bagian pendaftaran bahkan tidak perlu mesti input data kartu ibu saya dulu, namun segera bertindak menuju UGD. Saya salut atas layanan sigap seperti ini dan memberikan dampak kepuasan batin tersendiri bagi saya. Memang, first impression begitu penting bagi saya.

Sulitnya Mobilisasi

Menurunkan badan ibu dari mobil ke tempat tidur ber roda bukan pekerjaan mudah. Sekali lagi saya terkesan dengan sigapnya petugas medis yang bekerjasama memindahkan ibu (yang setiap kakinya tergerak selalu mengerang kesakitan) dari mobil. Selanjutnya ibu diperiksa oleh dokter jaga, dr. Fitri, yang juga ramah dalam melayani ibu. Rupanya mereka faham bahwa menangani orang tua musti sabar dan telaten (mbuh, bahasa Indonesianya apa?). Ibu akhirnya mendapat suntikan Toradol dan anti asam lambung supaya mengurangi nyerinya. Hebat, ibu tidak merasakan sakit apa2 saat disuntik, mungkin sudah kebal dengan kebiasaan beberapa hari nyeri di kaki.

Setelah beberapa waktu (sekitar 45 menit) di UGD, selanjutnya adalah proses Rontgent (pengambilan foto X-Ray) di Radiology yang terletak bersebelahan dengan UGD. Lokasi yang bersebelahan ini sangatlah membantu karena situasi ibu yang sulit mobilisasi. Di ruang X-Ray inilah justru penderitaan paling berat dialami ibu. Ini karena ibu harus berkali-kali ganti posisi. Bagi orang normal, sebetulnya pengambilan foto ini mestinya hanya perlu 5 sd 10 menit. Namun kemarin ibu saya berada di ruang ini selama 2 jam! Setiap ada perintah dari operator untuk membalikkan tubuh, ibu selalu mengerang kesakitan. Saya tidak tega sekali melihat dan mendengarnya. Dalam proses pembalikan yang dibantu petugas dan juga saya, ibu selalu mengerang kesakitan dan mengatakan kami kasar, padahal kita melakukannya secara ekstra hati-hati. Memang, saya kebagian paling sensitif, yaitu kaki kanan ibu yang sakit. Setiap gerakan (meski satu milimeter) yang saya lakukan di kaki kanan ibu, selalu beliau mengerang kesakitan. Bahkan kadang saya dibilang ibu jahat. Stahu saya tidak pernah ibu mengatakan hal ini. Terbayang, betapa sakitnya nyeri di kaki ibu.

dr. Eliz sedang memeriksa ibu di Radiology

dr. Eliz sedang memeriksa ibu di Radiology

Di ruang X Ray inilah saya banyak merenung tentang kebesaran Allah. Dari benda yang ada di ruangan X Ray ini tidak ada satupun yang usianya melebihi usia ibu. Ambil saja contoh, HP yang saya pakai. Saya yakin HP yang baru saya pakai beberapa bulan lalu, tidak akan awet melebihi 5 tahun. Terus pikiran saya membayangkan mobil. Terbayang bahwa mobil berusia 5 tahun biasanya sudah mulai rewel dan timbul karat. Mungkin 10 tahun sudah banyak yang keropos. Coba saya bandingkan dengan ibu saya yang sampai sebelum sakit (karena jatuh) ini: usianya sudah 81 tahun, semua organnya masih berfungsi normal, tidak ada gula, ginjal, jantung, dsb. Subhanallah ….!!! Saya semakin takjub dengan digdayanya Allah SWT. Seorang temen bercerita bahwa Rumi mengatakan ”Kalau kamu ingin mengenal Tuhanmu, kenalilah dirimu” ternyata berlaku juga dengan mengenali orang tua kita. Dengan usia yang sudah tua seperti ini, namun masih memiliki organ yang bekerja dengan baik. Subhanallah ….!!!

Personal Touch

Sekitar jam 14:30 saya mulai kontak dr. Elizabeth yang sebetulnya tidak ada jadwal praktek di RS Tebet kemarin, namun mengusahakan datang ke RS Tebet. Saya sebetulnya keberatan kalau ibu harus pindah-pindah tempat karena selalu sakit. Saya mohon ke ibu dokter supaya sudi hadir di Radilogy. Ternyata beliau menyanggupi dan sekitar jam 15:30 sudah ada di Radiology dan langsung memeriksa hasil Rontgent. Beliau memberikan konsultasi yang cukup mendetail mengenai keadaan ibu. Ternyata bagian pangkal paha (bonggolnya) ada fractured (retak). Dr Elizabeth menyarankan supaya kami konsultasi ke Orthopedist (spesialis bedah tulang) karena ini sudah menyangkut tulang yang bermasalah. Memang pada usia seperti ibu, kata bu dokter, sangat rentan terhadap benturan di tulangnya karena banyak yang keropos. Sekali lagi saya terbayang, betapa Allah SWT telah menciptakan tulang yang tahan selama 81 tahun!!! Lebih kuat dari besi sekalipun.

Cukup intensif dr Eliz memberikan konsultasi ke saya di ruangan khusus di samping ruang X-Ray, masih di bagian Radiology. Menurut saya, dokter ini telah menjalankan apa yang disebut dengan personal touch dalam pelayanan karena memberikan keterangan rinci mengenai kondisi pasien. Saya puas mendapatkan perilaku ini. Setelah selesai konsultasi, sekitar jam 16:00 ibu harus dikembalikan lagi ke UGD karena memang ”business process” nya begitu, meskipun ibu akan menjalani fisio terapi di klinik nya dr. Eliz di lantai 2. Setelah dari UGD, ibu dibawa ke fisio terapi untuk mengurangi rasa nyerinya. Sambil menunggu fisio terapi, saya gunakan buat Ashar. Namun sayang .. rumah sakit yang megah ini ternyata tidak menyediakan musahalla …aduuuhhhh ..sayang sekali. Pelayanan sudah bagus tapi fasilitas pokok buat beribadah tidak disediakan. Mengecewakan sekali. Saya terpaksa keluar kompleks rumah sakit untuk mencari mushalla. Jam 17:30 kami meninggalkan RS Tebet menuju rumah ibu di Tebet Timur.

Ba’da maghrib saya pamitan pulang karena mau menuju Istora. Rencananya saya mau nonton Jakarta International Blues Festival dengan teman2 dan beberapa karcis ada di tangan saya. Saya sendiri sudah tidak ”mood” buat nonton karena pikiran terfokus kepada bagaimana supaya ibu bisa pulih seperti sedia kala. Di Istora, saya hanya menyerahkan tiket ke temen2, sempat masuk lihat panggung pertunjukan dari dua band: Dearest (Canada) dan SNR. Tidak lama, hanya 30 menit, saya pulang ….. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam penyembuhan sakit yang diderita ibu. Amin.

Wassalamualaikum wr wb.

Gatot

Read Full Post »

Tiga Perkara

Tiga perkara, barangsiapa terdapat padanya yang tiga perkara itu, terasalah olehnya kemanisan Iman.

1. mencintai Allah dan rasul-Nya, lebih dari mencintai segala yang lain

2. mencintai seseorang semata-mata karena Allah

3. benci kembali kepada kufur, serupa dengan benci dicampakkannya ke dalam api yang bernyala-nyala

(Bukhori dan Muslim)

Kondisi yang kita hadapi:

Sering kali kita mendapatkan undangan pertemuan pada jam-jam dimana shalat fardhu seharusnya didirikan, misalnya makan siang, atau makan malam. Bagaimana kita menyikapinya? Misalnya, kita menerima undangan makan malam dimana jamnya ditentukan 19:00. Kita tahu pasti bahwa jam ini adalah saatnya shalat Isya didirikan. Kalau memang kita mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi dari cinta yang lain, sudahkah kita siap:

  • akankah kita mendahulukan shalat Isya sebelum hadir ke undangan? atau shalatnya nanti saja setelah pertemuan usai, toh Isya waktunya lama?
  • dimanakah kita akan mendirikan shalat Isya tersebut? Di musholla di sekitar tempat bertemu (mall, plasa, kafe, dll) atau di masjid?
  • mengatakan kepada yang mengundang bahwa kita tidak bisa memenuhi jam 19:00 dan minta diundurkan menjadi 19:30, bahkan mungkin 19:45, bila di sekitarnya tidak ada masjid?

Pertanyaan tersebut, bila dianggap penting untuk dipermasalahkan, mungkin cukup sulit dijawab bila kita masih meragukan kecintaan kita kepada Allah dan rasul-Nya. Mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa Isya waktunya panjang, bisa dikerjakan belakangan, tidak usah Isya dulu ..ntar aja. Kalau memang demikian, benarkah kita mencintai Allah melebihi dari lainnya? Tidakkah bunyi adzan itu bukan sekedar suara bilal, namun sebenarnya UNDANGAN AKBAR dari Allah SWT untuk “menuju kemenangan”?
Bagi yang sudah mendapatkan hidayah dari Allah SWT, pertanyaan tersebut sangat mudah dijawab dan tidak perlu bertele-tele, karena jelas bahwa panggilan shalat merupakan PANGGILAN UTAMA yang harus mendapatkan prioritas utama untuk dilakukan. Tempat shalatnya, tentu diusahakan dari tempat dimana adzan dikumandangkan: masjid. Namun bila tidak, di mushalla pun OK, tapi tetap berjamaah. Yang mungkin agak berat adalah “bagaimana mengatakan kepada orang yang mengundang kita” karena sebagian dari kita sering merasa kurang enak bila terlihat “alim” dengan menjalankan syariat Islam yang sebenarnya. Mari kita berlindung dan minta bimbingan Allah SWT agar kita termasuk golongan orang yang berani mengatakan sebenarnya untuk suatu kegiatan yang menuju ke jalan Allah. Amien.

Salam,

G

Read Full Post »

Peringatan dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2008, pukul 7:30 s/d 11:30. Ini hanya catatan kecil yang sempat saya ketik di HP saya:

Penceramah: Bpk. KH Edi Rahmadi

Arti Isra’ : jalan di waktu malam, sedangkan mi’raj  artinya naik dengan tangga. Terjadi pada 27 Rajab.

Isra’ Mi’raj tdk bisa diterima Allah. Diperlukan iman utk mempercayainya

Hadits: Dikala aku isra’ mi’raj, Allah memberiku 5 nasehat:

  1. Jangan cenderungkan hatimu pada dunia, karena dunia bukan terminal akhir. Dunia hanya permainan dan sandiwara, hanya sebentar. Jangan lupakan akherat.
  2. Jadikan cintamu kepada Allah di atas dari se-gala2nya. Boleh cinta apa saja asal ke Allah lebih besar.
  3. Jaga, pelihara shalat 5 waktu, tepat waktu, khusyu.  Orang yg tidak shalat sama saja dg manusia tak berkepala. Mereka yang cinta masjid, selalu mendapat hidayah dari Allah.
  4. Berbuat baik kepada sesama.
  5. Banyak bersyukur, banyak sabar. Hidup harus banyak sabar.

Salam,

G

Read Full Post »

Older Posts »