Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2013

Inilah Indonesia

Larangannya sudah jelas, masih aja merokok ...

Larangannya sudah jelas, masih aja merokok …

Read Full Post »

Hadits: Lebih baik

Rasulullah SAW bersabda : “Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang sholeh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk.”

(HR. Al-Hakim)

Read Full Post »

Bersepeda Keliling Pulau Jawa

pak Dama dan sepedanya: Surly “Little Trucker”

Pagi ini berjalan-jalan di Simpang Lima menikmati pagi yang cerah dan HBKB (hari bebas kendaraan), kota Semarang. Setelah mengitari lapangan, saya bertemu dengan pesepeda yang sepedanya bener2 fully loaded dengan banyak barang bawaan. Pasti ini seorang petualang sepeda, pikir saya. Akhirnya saya beranikan diri berkenalan dengan beliau yang bernama pak Dama.

Ternyata pak Dama ini sudah memulai perjalanan sepeda jarak jauh dari Surabay hingga Jakarta dan kembali lagi ke Surabaya. Ia memulainya tanggal 1 Nopember lalu dan saat ini di Semarang merupakan bagian dari perjalanannya kembali ke Surabaya. Luar biasa!

IMG-20130120-03980

 

 

 

IMG-20130120-03972

 

IMG-20130120-03975

 

 

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Sejak sebelum Subuh tadi Jakarta diguyur hujan sangat lebat …hawa dingin dan nikmat …. Subhanallah ….

Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan

Apabila Allah memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur kepada-Nya untuk membaca do’a,

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

“Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”

Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat turunnya hujan. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً »

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.

Ibnu Baththol mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.”

Al Khottobi mengatakan, ”Air hujan yang mengalir adalah suatu karunia”

Turunnya Hujan, Kesempatan Terbaik untuk Memanjatkan Do’a

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni[7] mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

’Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan :
[1] Bertemunya dua pasukan,
[2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”

Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.”

Wassalamualaikum wr wb.

Read Full Post »

Malu ke Allah

Assalamualaikum wr wb.

Baru saja Trans7 melansir liputan bahwa Rasyid Hatta Rajasa sudah boleh dibawa pulang dari RSPP. Sekurangnya ada dua hal yang membuat saya tersentak:

1. Rasyid bukannya ditahan polisi namun dibawa pulang ke rumah Hatta Rajasa. Yang saya tahu, setiap peristiwa nabrak hingga tewas, selalu berakibat ditahannya pelaku oleh polisi.

2. Rasyid dirawat di RSPP bukannya di RS Polisi seperti dulu kasus Ariani yang menabrak tewas beberapa orang.

Saya heran, kok Hatta Rajasa tidak malu ya mendapat perlakuan khusus seperti ini? Juga Polisi kok memberi perlakuan khusus ya? Apa Menteri dan Polisi tak malu kepada Allah karena tak berbuat adil sesuai peraturan?

Semakin jelas hukum di Indonesia hanya berlaku untuk orang kecil.

Wallahualam bishawab.

Wassalamualaikum wr wb.

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Beberapa minggu lalu saya mendapatkan dua kasus menarik dalam hal pengelolaan uang masjid.

Kasus 1:

Masjid di Sebuah Komplek Perumahan

Bendahara masjid menceritakan kepada saya bahwa ada rencana untuk merenovasi atap samping masjid (teras) yaitu mengganti semua fibre glass nya dengan harga Rp. 20 juta termasuk ongkos pasang. Memang yang pasang adalah orang yang tergolong jamaah masjid tersebut. Namun bendahara keberatan dengan rencana ini karena keterbatasan kas masjid. Menurutnya uang yang ada di tangan ada sekitar Rp. 20 juta sehingga kalau renovasi dilakukan praktis kas masjid menjadi nol. Tentu saya bereaksi bahwa renovasi tersebut tak perlu dilakukan mengingat biaya yang tak bisa didanai dari kas masjid.

Selanjutnya sang bendahara curhat bahwa dana yang dilaporkan ke jamaah setiap Jumatan adalah sebesar Rp. 32 juta. Namun, karena ada sekitar 13 juta-an dipinjam oleh salah satu pengurus masjid, katakanlah namanya Prapto, maka tinggal sekitar Rp 20 juta. Bendahara tersebut juga menceritakan bahwa ketua masjid, katakan namanya Rudi, juga sering meminjam uang kas mesjid meski akhirnya dikembalikan. Namun, uang yang dipinjam si Prapto ini tak kunjung bisa dilunasi dan selalu menambah terus karena dia selalu pinjam dari waktu ke waktu. Prapto ini bertugas mengumpulkan dana harian masjid mulai dari menghitung yang diterima dari kotak amal dan penerimaan lainnya. Jumlahnya kemudian dilaporkan ke Bendahara. Menurut sang Bendahara, Prapto ini orang miskin karena tak memiliki pekerjaan, hanya istrinya yang bekerja. Pernah ada upaya untuk memutihkan pinjaman Prapto namun belum juga diputuskan.

Analisis Kasus 1:

Menurut saya, pengelolaan masjid di kasus 1 ini tidak amanah dan tidak profesional.

  1. Uang masjid adalah amanah dari jamaah yang berniat menitipkan uangnya untuk sodaqoh dan/atau zakat.
  2. Penggunaan uang masjid tersebut jelas sejatinya adalah untuk perawatan masjid dan pembiayaan kegiatan masjid misalnya pengajian atau penyelenggaraan shalat Jumat atau kegiatan lainnya diluar perayaan hari-hari besar Islam.
  3. Penggunaan uang masjid harus mendapatkan persetujuan dari Dewan Pengurus masjid agar penggunaannya untuk perawatan masjid dan bila berlebih untuk kemaslahatan umat.
  4. Pengurus masjid ini jelas tidak amanah karena tak memegang amanah yang diemban dari para jamaah yang memberikan uangnya. Selain itu juga tak profesional karena tidak memberlakukan azas kehati-hatian (prudent) dalam pengelolaan keuangan sehingga meminjamkan uang tanpa jaminan pasti meski itu kepada pengurus masjid sendiri.
  5. Masjid ini tak menggunakan majalah dinding untuk pelaporan posisi kas masjid secara berkala (setiap minggu) sehingga pengelolaannya tidak transparan bagi jamaah.

Menurut saya, pengurus masjid ini harus segera menggelar rapat internal antar pengurus masjid untuk menjelaskan duduk perkara dan pengelolaan uang masjid yang seharusnya. Uang yang dipinjam oleh pengurus bernaa Prapto harus segera diupayakan jalan keluarnya dan disepakati bersama oleh setiap anggota pengurus.

Kasus 2: 

Masjid di Sebuah Instansi Pemerintah

Karena mendengar kabar kurang enak tentang penggunaan dana kas masjid untuk membiayai peringatan tahun baru pimpinan (dan keluarganya) dari instansi tersebut di sebuah hotel di Anyer, saya menemui Bendahara masjid ini. Saya bertanya langsung kepada beliau apa betul telah menyetujui penggunaan dana masjidnya untuk membiayai perayaan tahun baru pimpinan instansi tersebut di sebuah hotel di Anyer. Secara tegas beliau mengatakan tidak ada. Namun beliau mengakui bahwa dana masjid pernah dipinjam untuk “menalangi” dana APBN yang belum cair untuk keperluan instansi tersebut. Hal ini dimungkinkan karena kepengurusan masjid instansi tersebut masih dibawah kendali struktural Biro Umum instansi tersebut sehingga keluar-masuk uang masih melalui jalur struktural.

Analisis Kasus 2

Saya mengelus dada tersentak kaget sang Bendahara menceritakan hal tersebut secara biasa seperti hal tersebut wajar. Saya langsung bereaksi bahwa penggunaan dana kas masjid harus dikelola penuh amanah dan tanggung-jawab untuk keperluan perawatan masjid. Dengan jumlah dana terkumpul sebesar Rp 178 juta, saya yakin uang tersebut sangatlah pantas untuk merawat masjid yang perawaannya sudah buruk ini karena kalau hujan bocor dan kubahnya sudah terkelupas cat nya.

Andaikan uang tersebut memang dipinjam untuk membiayai pesta akhir tahun di Anyer, menurut saya ini sudah keterlaluan dan salah satu bentuk kedholiman yang harusnya diruntuhkan:

  1. Islam tak mengenal perayaan atau pesta Tahun Baru sehingga kegiatan ini jelas termasuk kegiatan yang sia-sia. Tak ada dalil atau hadits untuk menyambut tahun baru. Jelas, penggunaan dana masjid untuk urusan ini merupakan bentuk kedholiman meskipun pada akhirnya dana tersebut akan dikembalikan ke kas masjid.
  2. Perayaan Akhir Tahun sang Pimpinan tersebut adalah urusan pribadi bukan urusan instansi. jadi, sudah salah bila menggunakan dana APBN atau dana taktis instansi tersebut. Ini jelas merupakan bentuk pelanggaran dalam penggunaan anggaran. Andaikan memang poin 1 di atas tak terjadi, maka poin 2 ini jelas menyalahi aturan. Bukan hanya itu, peryaan tersebut juga menggunakan fasilitas kendaraan instansi tersebut.

Rekomendasi:

Instansi ini harus mawas diri karena tak menunjukkan contoh yang baik dengan menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi. Harus ada yang mengingatkan kepada Pimpinan tersebut karena ini jelas pelanggaran.

Wallahualam bishawab.

Wassalamualaikum wr wb.

Gatot Widayanto

Read Full Post »

Hari Kamis, 3 Januari 2013, yang lalu sekitar jam 17:30 saya gowes di daerah Jl. Kerinci, Kebayoran Baru dengan maksud akan shalat Maghrib di masjid yg sering saya singgahi saat bersepeda pulang. Karena saat itu saya sedang shaum, saya bermaksud mencari makanan ringan buat membatalkan puasa sebelum shalat. Saya bingung mau makan apa karena tak mau makan berat dan males makan roti yg dijual di Circle K Pakubuwono.

Setelah muter-muter bersepeda akhirnya saya melihat ada yng jualan roti di sebelah tukang mie ayam. Tanpa pikir panjang, saya langsung nyamperin penjual roti yang ternyata bapak yang berusia lanjut, di atas 70 tahun. Karena lapar, saya beli tiga jenis: donat, brownies dan roti goreng isi coklat. Setelah dibungkus, saya menyiapkan uang untuk bayar sambil tanya berapa harus saya bayar. Karena seminggu sebelumnya saya gowes ke bintaro dan beli roti goreng di 9 Walk harganya 3 ribu per biji, dugaan saya ya sekitar 10 ribuan harga totalnya. Namun begitu kagetnya saya begitu beliau bilang bahwa semuanya hanya 3 ribu perak! Waduh!!! Murah amat? Kasihan juga Bapak ini jualan dengan nilai yang tak seberapa di daerah yg elit. Salut saya dengan daya juangnya.

Yang membuat saya haru dan bangga, saat shalat Maghrib di masjid Jl. Kerinci X, beliau juga shalat satu shaf dengan saya. Subhanallah! Dalam hati saya berniat mendoakannya agar Allah meninggikan derajatnya serta memuliakannya. Saya benar2 salut bahwa Bapak ini rupanya tergolang ahli ibadah. Pada saat selesai shalat, Bapak ini bahkan mengucapkan salam ke saya. Saya sangat terkesan dengan beliau. Semoga Allah SWT memberikan kemuliaan dan kesejahteraan kepada beliau melalu kehidupan penuh berkah meski beliau hidup sebagai pedagang kecil. Saya juga memohon ke Allah SWT bila diberi umur setua beliau nanyi saya masih kuat mendirikan shalat.

Semoga Allah SWT memuliakan Bapak Penjual Roti ini. Aamiin Ya Rabb!

Semoga Allah SWT memuliakan Bapak Penjual Roti ini. Aamiin Ya Rabb!

Read Full Post »

Older Posts »