Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2012

 

Gatra 31 Oktober 2012

Gatra 31 Oktober 2012

 

IMG-20121106-02742

 

IMG-20121106-02743 1

 

 

Read Full Post »

Petikan hadits ini juga saya ambil dari selebaran dakwah TAFAKKUR edisi 21 T.XI/Rajab 1432 / Juni 2011.

Semoga kita bisa masuk ke dalam salah satu golongan dari tujuh yang disebutkan oleh Rasul. Aamin.

Wass,

G

 

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Ketika saya sedang asyik ngobrol dengan ibunda, saya sempat menyabet sebuah selebaran Jumat yang memang sengaja saya kumpulkan di sebuah mangkok kayu khusus menampung selebaran-selebaran dakwah. Kali ini yang saya baca adalah selebaran dari TAFAKKUR edisi 21 Th. XI/Rajab 1432 H / Juni 2011 bertah=juk seperti di atas, ditulis oleh ustad Ahmad Yani, MA.

Mengesankan sekali tulisan ini mengingat kejujuran adalah sifat mulia yang telah dipraktekkan dan diserukan oleh Rasul agar kita ikuti sebagai umatnya. Sayang, ternyata ini bukan hal yang mudah unruk dilaksanakan sepenuhnya – termasuk bagi saya. Namun dengan mengingat akan pentingnya hal ini, saya rasa kita harus setiap hari berupaya meraihnya.

  • Bila setiap hari kita tidak jujur 10 kali, mulai hari ini kita kurangi menjadi 9 atau kurang
  • Bila setiap hari masih ada tidak jujur sebanyak lima kali, kita kurangi menjadi 4 atau kurang,
  • dan seterusnya.

 

 

Read Full Post »

Bagian 2 dari 3:

Sabtu, 27 Oktober 2012

Hari kedua merupakan hari yang padat dengan kegiatan dan saya awali dengan mempersiapkan diri untuk Gowes Bareng Alumni, setelah shalat Subuh di hotel. Cita-cita untuk shalat BMW di Madiun Islamic Centre tak tercapai karena kelelahan, meski alhamdulillah saya bisa bangun pas adzan Subuh sebelum jam 4 pagi. Setelah Subuh saya tidur lagi karena capek banget. Ini sebenarnya menyalahi sunnah karena setelah Subuh Rasul melarang kita tidur lagi. Tapi terus terang saja saya masih ngantuk banget. Akhirnya tidur pules hingga bangun lagi jam 5:40, langsung siap-siap gowes ke tikum di SMA Negeri 1 jalan Mastrip.

Gowes Bareng Alumni dan Siswa

Setibanya di halaman utama SMA Negeri 1 saya melihat konvoi sepeda sudah siap untuk diberangkatkan dengan barisan terdapat adalah sepasang othelers dengan menggunakan topeng tengkorak. Ini membuat penampilan yang menarik karena keduanya menggunakan seragam yang sama yaitu baju kerja terusan dengan warna coklat drill seperti layaknya pekerja pabrik. Sebelum bergabung dengan pegowes alumni dan siswa, saya sempat melihat Slamet Santoso (teman satu angkatan) ternyata hadir juga dengan sepeda lipet Dahon-nya. Memang sebelumnya saya sempat BBM Slamet supaya ikut. Slamet ini termasuk dedengkotnya Persatuan Pembalap Sepeda Madiun (PPSM); jadi kalau sekedar gowes santai mestinya dia tak tertarik. Tapi saya senang Slamet bisa bergabung.

Rute gowes cukup menyenangkan yaitu keluar dari gerbang SMA 1 langsung belok kanan, terus lurus saja. Saya sendiri lupa namanya daerah apa tapi sepertinya menuju Dungus. Jarak gowes sebenernya tidak jauh, paling sekitar 5 KM atau kurang. Saya gowes bersebelahan dengan mas Dick Samsu yang juga menggunakan Bromie tipe M juga. Slamet akhirnya mohon pamit ketika rute gowes melewati depan rumahnya. Saya dan mas Dick Samsu mengikuti sampai garis finish kembali ke SMA Negeri 1. Begitu sampai, menu makan pagi khas Mediunan sudah tersedia. Saya langsung nyantap sego pecel …ya …lagi-lagi sego pecel tanpa bosen. Selalu saja sego pecel Madiun rasanya enak sekali.

Kepala Sekolah SMA 1 berada di barisan terdepan …

Bersama mas Dick Samsu (72)

Berpose dengan Bromie dan mas Prijo Genthonx

Setelah berbincang dengan panitia Education Day (mas Shodiq, mas Genthonx dan mas Bambang Sulistyo) akhirnya sekitar jam 8:10 saya meluncur ngonthel ke kantor Muhammadiyah yang letaknya tak jauh dari SMA 1, nebeng mandi pagi. Ketua Muhammadiyah adalah Eddie Thing sesama teman MD 79. Asik juga ada kesempatan mandi, jadi bisa seger kembali saat memfasilitasi Education Day. Sekitar jam 8:30 saya kembali ke SMA dan langsung menuju aula di lantai 3. Selirong Bromie saya bawa ke dalam aula juga. Whoaaaa….panas sekali aula ini.

Education Day (09:00 – 11:45)

Tepat jam 9:01 acara ini langsung saya buka dengan menjelaskan kepada peserta, siswa-siswi kelas III SMA Negeri 1 yang berjumlah sekitar 200 orang, bahwa acara akan saya bagi menjadi tiga babak yakni: 1. Penggalangan ekspektasi, 2. Merajut Sukses dan 3. Membangun Komitmen Diri. Saya bakar semangat mereka dengan menanggapi yel-yel saya “Salam Sukses!” dengan serentak menjawab dua kata: “Cakap – Tangguh”. Saya juga jelaskan mengapa saya pilih dua kata tersebut. Namun sebelum acara dimulai saya persilakan Ketua Alumni Pak Dr. Pranawa untuk membuka. Rupanya pak dokter ini juga terbakar semangatnya sehingga beliau menambahi lagi dengan yel-yel “SMA Satu!” kemudian siswa-siswi menjawab “Nomer Satu!”. Suasana jadi tambah panas.

Pembicara pertama adalah Mas Kokok Haksono yang telah berpengalaman malang melintang di dunia vokasional dan pernah bekerja di Jerman dan Swiss, pernah aktif di PolMan (Politeknik Manufaktur) Bandung. Pembicara kedua adalah Mas Wahyu Bo (konsultan Dirgantara) yang mengulas tentang industri dirgantara. Pembicara selanjutnya adalah Mas Satya Widya Ydha (Wiwied) seorang profesional bidang migas dan merupakan anggota DPR Komisi VII. Karena saya merangkap sebagai Host dan Pembicara, maka saya mendapatkan giliran terakhir. Hal ini sengaja saya lakukan karena saya harus tepat waktu dengan rundown yang sudah saya susun sebulan sebelumnya dan sudah di ACC oleh Ketua Panitia (Mas Bondan Panji). Setiap pembicara hanya saya beri alokasi waktu 15 menit sehingga total untuk 4 orang menjadi 1 jam (waktu yang cukup dan gak boleh lebih; kalau lebih pasti peserta bakalan bosen dan mengantuk). Dengan memposisikan pada pembicara terakhir maka saya bisa jadi hanya mendapatkan waktu 10 menit. Tak masalah karena saya yang pegang kendali waktu.

Konsep acara Education sudah saya desain seperti berikut ini:

Secara konsep, memang acara ini didesain interaktif dimana siswa-siswi diharapkan aktif membangun suasana dinamis sepanjang acara digelar.

Seru juga bisa memandu acara dimana generation gap nya sudah sangat jauh. Peserta pada dasarnya adalah orang-orang yang usianya sama, bahkan lebh muda, dari anak bungsu saya Dian Widayanti yang Desember ini berusia 20 tahun. Saya selalu mengusahakan agar acara tetap hidup siapapun yang sedang bicara. Hal paling penting justru saat sesi tanya-jawab. Di luar dugaan saya, ternyata pertanyaan mereka tak terbelenggu hanya masalah teknis mau sekolah dimana, namun pertanyaannya adalah sepert ini:

  • Bagaimana caranya mengendalikan diri karena godaan untuk meraih sukses itu banyak sekali – terutama kadang dihinggapi rasa malas
  • Bagaimana tips menuju sukses?
  • Yang disebut orang sukses itu apa standar nya?
  • Bekal apa yang harus saya miliki agar saya bisa sekolah di luar negeri (penanya, namanya Citra, menanyakan hal ini dalam bahasa Inggris yang fasih)

Hal ini di luar dugaan saya. Tadinya mereka akan menanyakan hal-hal seperti : “Kalau saya mau jadi X maka saya musti ambil kuliah jurusan apa?” atau “Jurusan Y itu kalau nanti sudah lulus masa depannya bagus gak?” Ternyata tak ada yang menanyakan hal tersebut. Ini tentu bukti semakin tersedianya informasi melalui dunia maya sehingga siswa sudah tahu bidang apa yang menarik bagi dirinya.

Hal lain yang juga menggembirakan saya adalah keaktifan mereka dalam berpartisipasi. Sebelum acara dimulai dan sebelum masuk ke aula, saya sempat berbincang dengan tiga orang siswa: Toriq, Aprilia dan Bimo. Mereka ini saya dekati terlebih dahulu sebelum acara dimulai dengan tujuan menyiapkan agar acara tidak sunyi tanpa penanya. Tiga orang ini saya minta segera beraksi bila saya memulai acara dengan Penggalangan Ekspektasi dan ternyata sepi penanya, maka mereka bertiga saya minta untuk bertanya. Ternyata, peserta aktif bertanya saat acara dimulai sehingga tiga orang tersebut sebenarnya tak perlu tanya lagi. Namun ternyata dua dari mereka (Aprilia dan Bimo) tanya juga. Luar biasa!

Peragaan “kerjasama” oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Madiun

Puncak dari pemaknaan SUKSES dimana setiap unsur sukses dibahas sesuai dengan huruf yang merupakan nama awal dari siswi yang akhirnya diberi kalung sesuai dengan huruf awal namanya…. Tujuannya adalah: Biar peserta “mudah” mengingat bahwa sukses memerlukan adanya: (S)asaran, (U)saha, (K)ompetensi, (S)tamina, (E)ksistensi dan (S)tabilitas. Tanpa enam unsur tersebut maka sukses tak mungkin diraih.

Pembicara Education Day, Ki-Ka: Satya Widya Yudha (Wiwied), Wahyu Bo, Kokok Haksono

Pemandu Acara

Berpose bersama Panitia, Ki-Ka: sya, mas Onny, Satya (Wiwied), mas Kokok Haksono, Wahyu Bo, mas Panji (Ketua Panitia Reuni)

Setelah memandu acara Education Day saya menyempatkan diri berpose di dalam kelas III IPA 4 (dulu, tahun 1978-1979) ya di ruangan ini …. Saya duduk di tengah tapi baris nomer dua dari belakang … Tahun 1978-1979 yang lalu ….

Temen2 MD 79 berpose di dalam kelas yang dulu merupakan tempat belajar kita saat di SMA … Subhanallah kita masih kompak bahkan semakin guyub semakin hari ….

 

Materi yang saya bawakan dalam Education Day sebagai pembicara saya tulis disini.

Bersama MD 79 ke Kresek

Setelah acara Education Day, saya langsung dijemput sama teman-teman MD 79 untuk bersama-sama menuju Kresek (sekitar 8 KM ke arah Dungus) untuk makan siang bersama dalam suasana alam persawahan yang asri. Saya memang sudah dua kali ke rumah makan di Kresek tersebut dan masih kangen juga untuk bisa santap siang di situ. Meski sebenarnya agak capek, namun sneng juga bersama-sama sekitar 25 orang MD 79. Memang harus saya akui dan juga diakui banyak pihak bahwa angkatan kami MD 79 paling kompak. Bukan apa-apa, komunitas kami di MD 79 sudah menembus batas-batas sekolah alias tak hanya lulusan SMA 1 saja tapi juga SMA lainnya di Madiun asalkan satu angkatan. Guyubnya juga luar biasa. Yang tinggal di Jakarta pun rutin sering bertemu paling kurang sebulan sekali. Milis dan BBM Group MD 79 juga sangat ramai.

Hidangan di rumah makan Kresek memang asik dan semuanya enak. Yang paling saya suka ya plecing nya yang luar biasa nyam-nyam nya….. Menu makan siang saat itu adalah:

Nyam nyam nyam…huwenak tuwenan …! Pol! Masiyo Mediyun tapi rasane muanteb njegrak!

Berpose sebelum makan siang di Kresek

Kompak dan guyubnya MD79. Ini juga belum keseluruhan yang hadir saat itu …

Dawet Suronatan

Sekitar jam 14:45 rombongan MD 79 bergerak bersama menuju Dawet Suronatan di kota Madiun. Sebelum menuju Madiun, mobil yang kami tumpangi (milik Bambang Haryono) mampir dulu ke Monumen PKI dimana pahlawan-pahlawan Madiun saat itu dibantai oleh PKI pada tahun 1948. Saya sempat turun bersama Yayak melihat monumen dari jarak dekat dan mengambil beberapa foto:

Monumen Kresek

Setelah itu saya menuju ke Dawet Suronatan dimana sudah berkumpul semua MD 79 yang tadi berada di Rumah Makan Kresek. Wah memang kompak tenan MD 79 ini .. Salut pol!

Gerombolan MD79 sedang mendominasi Dawet Suronatan yang top dawetnya, manteb tahunya itu …..!!!

Usai dari Dawet Suronatan, saya diantar mas Sigit ke Hotel Abdul Rahman karena memang sepeda Bromie memang dari sejak berangkat ke Kresek saya masukkan ke bagasi mobil mas Sigit ini.

Sesampainya di hotel langsung mandi, shalat Ashar terus tidur pules sampe maghrib. Bangun tidur udah seger dan langsung macak rapi dengan kaos kebesaran angkatan 79. Setelah Isya saya langsung gowes menuju SMA Negeri 1 dimana acara Malam Resepsi (puncak) digelar.

Malam Resepsi Reuni Akbar

Saya berangkat ke tempat resepsi di SMA Negeri 1 dengan ngonthel Bromie. Sementara itu temen2 lainnya yang menginap di Hotel Abdul Rahman sempat berpose sejenak sebelum berangkat:

Pose Gaya seperti ini katanya adalah trademark nya WORO (anggota MD 79 juga)…..

MD 79 memang malam tersebut tampil seragam menggunakan kostum hitam bertuliskan 79ers dan di punggung ada logo SMASA 79 yang bagus sekali, karya dari Ery Bongo …

Ini adalah sebagian dari 25 orang yang menggunakan kostum seragam MD 79 malam itu. Keren kan? Ery tuh yang bikin logonya ,,,,…. Top!

Asik banget acara malam tersebut. Saya bersyukur naik sepeda sehingga tak kesulitan memarkir mobil dan langsung mendapatkan tempat kehormatan memarkir sepeda disamping kantor Kepala Sekolah. Suatu hal yang tak mungkin bisa terjadi bila saya menggunakan mobil.

Bromie mendapat tempat terhormat disamping Kantor Kepala Sekolah

Saya juga bersyukur bisa berpose dengan Ibu Djatmi dan Ibu Harmini sebelum acara digelar. Beruntung sekali saya bisa menjumpai guru-guru saya ini …

Berpose dengan bu Harmini (kedua dari kiri) dan Bu Djatmi (ketiga dari kiri) …

Meriah juga acara pada Malam Resepsi tersebut karena selain hiburan juga ada penghargaan kepada pengarang Mars SMA 1 yaitu DR Pranawa yang sekaligus juga sebagai Ketua Alumni. Band yang tampil juga menarik karena memang bagus penampilannya, membawakan lagu-lagu hits 70an termasuk Reflection of My Life, Jumping Jack Flash dsb. Sebenernya saya kurang begitu suka dengan acara reuni yang isinya nyanyi-nyanyi karena suasana ngobrol akrab bertemu temen lama jadi kurang nyaman karena ada suara band yang keras. Padahal malam itu saya bertemu dengan temen lama yang tak pernah jumpa sejak lulus SMA yaitu Bismo Nurcahyo yang sekarang menjadi Kepala Sekolah Menengah Kejuruan di Nganjuk.

Mbah Joyo (Pandu Djayanto) sedang bernostalgia dengan Awing yang dulu tetangganya di Madiun …

Selain itu juga ada acara hiburan Tonil G@mers dengan lakon “I Have a Dream” yang meibatkan alumni dan siswa-siswi SMA Negeri 1. Acara meriah malam itu. Hidangan juga beragam dari sego pecel hingga bakso. Hanya sayang, tak disediakan minuman (Aqua) alias terbatas sekali sehingga salah seorang temen dari MD 79, GoPri, berinisiatif membeli Aqua gelas dan langsung ludes dilahap tamu di sekitar kami. Memang sengsara malam tersebut karena krisis air minum …. Semoga ini menjadi perhatian pihak Panitia karena salah satu alasan makanan tidak habis malam tersebut ya karena tidak ada Aqua lagi …. Sayang sekali …. Padahal banyak makanan enak malam tersebut.

MD79 berpose di Panggung Utama setelah acara usai sekitar pukul 23:00 …

Ringkasan acara malam tersebut:

  • Paduan Suara angkatan 71
  • Tonil Gamers “I Have a Dream”
  • Band (bagus vokalnya, sudah tua, rambut putih gondrong)
  • Pembacaan puisi – apresiasi Mars SMA 1

Setelah Malam Resepsi

Seperti tak mau berpisah, setelah acara malam resepsi, teman-teman MD79 berkonvoi menggunakan empat mobil mencari makanan di malam hari. Saya mengusulkan makanan ringan cemohe dan disepakati bersama. Maka empat mobil meluncur ke Jalan Bali sedangkan saya ngonthel dengan Bromie. Duh nikmatnya ngonthel sepeda malam hari di Madiun. Ingat masa remaja saya sering ngonthel malam hari dengan sepeda jengki merek Forever yang saya kasih lampu menggunakan tenaga dinamo. Malam tersebut saya menggunakan Bromie dengan lampu bertenaga baterai dan lampu belakang merah kelap-kelip … wus wus wus wus ….menembus keheningan malam di Madiun. Ternyata warung di Jl. Bali tutup sehingga kami menuju Jl. H Agus Salim via Jl. Kenari. Saya masih mengayuh sepeda hingga Jl. Haji Agus Salim yang ternyata tutup. Akhirnya diputuskan temen2 MD79 bubar jalan ke hotel masing-masing.

Sementara itu saya malah mengonthel sepedah menuju Hotel Merdeka dimana para senior G@mers sedang berkumpul. Benar saja, di sana ternyata ada mas-mas senior seperti Pandu Djayanto, Edi Adha, Harry Latih Sutikno, Dr Pranawa, Mas Panji, Mas Herwindo dan masih banyak lagi, juga ada Atty Romlah … Saya juga kontak Bambang Cino yang kemudian hadi bersama Yayak ke Hotel Merdeka. Akhirnya kami menikmati jadah bakar di Hotel Merdeka sambil mendengarkan Polo membanyol hingga pukul 01:30. Setelah itu saya pamit pulang ke Hotel Abdul Rahman melalui Jalan Pandan dan Wilis … Duh nikmatnya semilir udara dini hari nan sepi menuju Hotel Abdul Rahman ….

Suasana cangkrukan santai di lobi Hotel Merdeka Sabtu, 27 Oktober 2012 dinihari …

Langsung nggeblak ….!!!

– BERSAMBUNG –

Sabtu, 27 Oktober 2012

No Jam Aktivitas
1 06:00 – 06:05 Gowes Hotel – SMA Neg 1
2 06:05 – 07:00 Gowes Bareng Alumni dan Siswa SMA 1
3 07:00 – 08:00 Sarapan pagi dan ramah-tamah
4 08:00 – 08:20 Mandi pagi di kantor Muhammadiyah
5 08:20 – 09:00 Persiapan Education Day
6 09:00 – 11:45 Host untuk Education Day SMA 1
7 11:45 – 12:15 Menuju Kresek (arah Dungus) makan siang MD 79
8 12:15 – 14:45 Makan siang dan ngobrol bersama MD 79 + rapat persiapan reuni akbar 2013/2014
9 14:45 – 15:15 Meluncur ke Dawet Suronatan bersama MD 79 (naik mobil Bambang Cino bersama Yayak)
10 15:15 – 16:00 Ngobrol dan makan dawet Suronatan
11 16:00 – 18:00 Pulang ke Hotel, shalat dan istirahat (tidur) – shalat Maghrib
12 18:00 – 19:10 Ngobrol dengan MD 79 (Luluk cs) di Hotel kemudian shalat Isya
13 19:10 – 19:20 Gowes santai menuju Malam Resepsi Reuni Akbar SMA 1, mampir ke ATM Sri Ratu
14 19:20 – 23:00 Mengikuti acara Malam Resepsi dengan berbagai acara:

Malam minggu yang menyenangkan …..

Read Full Post »

Pada awalnya saya tidak bisa hadir ke acara reuni akbar SMA Negeri 1 Madiun pada tanggal 26-28 Oktober 2012 yang telah diumumkan sekitar dua bulan sebelumnya. Hal ini dikarenakan saya berencana menjaga ibu saya (86 tahun) yang tinggal sendirian karena susternya pulang kampung. Namun karena panggilan moral lantaran didaulat oleh Ketua Panitia, mas Panji, yang menelepon saya untuk menjadi Host sekaligus Pembicara pada acara Education Day tanggal 27 Oktober, saya akhirnya memutuskan hadir juga mengingat SMA 1 Madiun merupakan salah satu tempat bersejarah bagi saya.  Bahkan, masa remaja paling dinamis ya pada saat saya bersekolah di SMA 1 ini.

Karena Madiun merupakan kota yang paling bersejarah bagi saya, maka saya akan menulis artikel ini menjadi tiga bagian sesuai dengan lamanya saya berada di sana; atau dengan kata lain pembagiannya menjadi seperti ini:

  1. Jumat, 26 Oktober 2012
  2. Sabtu, 27 Oktober 2012
  3. Minggu, 28 Oktober 2012.

Bagian 1: Jumat, 26 Oktober 2012

Persiapan

Setiap berencana melakukan perjalanan ke kota Madiun, hati saya selalu berdebar-debar dan rasanya pengen cepet tiba saatnya untuk berangkat. Bedasarkan pengalaman pulang kampung bulan Juli yang lalu, saya juga merencanakan naik sepeda pada saat di Madiun, supaya tak merepotkan teman di Madiun untuk wira-wiri nganter saya – kayak saya ini pejabat ajah! Bahkan, karena saya naik pesawat hingga Solo, saya berencana ngonthel dari bandara ke stasiun Solo Balapan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Madiun dengan kereta api Sancaka.

Sepeda yang saya bawa adalah Brompton tipe M yang telah saya siapkan dengan pengamanan di tempat2 yang kemungkinan terjadi perbenturan. Selain itu sepeda juga saya ikat dengan tali elastis agar di tengah cargo tak lepas alias membuka stangnya. Saya menghindari membawa tas khusus sepeda karena tak mau membebani saat tiba di bandara Solo. Ini adalah kondisi sepeda saat sebelum berangkat ke bandara:

Bromie sebelum dibungkus.

Sesampainya di bandara, saya sorong Bromie ini dengan pannier berasa di atas supportnya:

Ada orang komentar “Pak, sepedanya lucu ..” Saya jawab: “Ini troli kok …” ..he he he he .. Praktis tenan!

Setibanya di bandara sekitar pukul 9:30 oleh petugas dipersilakan membungkus sepeda saya dengan plastik (aerotek) yang ada di depan counter untuk chek-in. Asik juga, menjadi lebih aman dan saya membayar Rp. 35 ribu untuk jasa ini. saya lihat kondisinya cukup rapet. Setelah itu ditimbang dan menunjukkan angka 13 kg.

Bromie setalh diubel-ubel plastik oleh AeroTek … Siap dibagasikan di conveyor …

Karena masih pagi sekali, maka saya ngaso dulu di Havana Club cafe sambil menyeruput kopi ginseng. Wah mikir juga, kalau nendhank karena ginseng gimana ya? Selama di cafe saya duduk mempelajari kembali materi yang akan saya bawakan di acara Education Day (ED) pada hari sabtu pagi hingga siang.

Kopi ginseng yang terlalu manis gulanya (lupa pesen tanpa gula)….

Diluar dugaan ternyata jam 11 sudah ada panggilan boarding untuk pesawat Lion Air jurusan Solo yang di tiketnya tertulis keberangkatan jam 11:30. ternyata pula jam 11:20 pesawat sudah mulai jalan dan tepat jam 11:30 pesawat take-off menuju Solo.

Gowes di Solo

Penerbangan ke Solo saya nikmati dengan banyak berdzikir dan berdoa mengingat cuaca kurang baik dan saya duduk di sisi jendela sehingga setiap saat lihat luar pesawat. Salut untuk Lion Air yang tepat waktu sehingga pukul 12:30 saya sudah berada di bandara Adi Soemarmo. Sebelum bagasi berupa selirong (sepeda lipet sorong) saya keluar di conveyer saya sempatkan shalat di mushalla yang tersedia begitu masuk bandara. Saya cukup shalat 2 rakaat saja (qashar) karena sudah jadi musafir.

Bagasi keluar sekitar jam 12:45 dan saya langsung dapati bahwa kondisi bagasi sudah banyak bekas benturan terutama di bagian-bagian pojokan dan sadel. Yang saya sayangkan, sadel Brooks saya terkelupas sedikit meskipun saya lengkapi dengan cover asli dari Brooks. Resiko membawa barang di bagasi.

Akhirnya bagasi Bromie keluar juga di bandara Solo

Troli naik troli …

Ujung-ujungnya bundhaszzz … Cargo handling di bandara kita memang belum bisa membedakan fragile dengan tidak – asal banting saja … Untung hanya kena ujung batang aja ..

Setelah makan siang, siap gowes di Solo

Kemudian saya menuju coffee shop di pintu keluar sambil memesan gado-gado dan jus sirsak karena mulai lapar dan perlu isi energi agar kuat gowes di Solo. Setalh makan dan minum, saya bongkar paket Bromie yang terbungkus plastik dengan meminjam gunting dari coffee shop. Memang sebenernya tujuan saya mau pinjem gunting saja. Namun kok gak enak sama cafe nya, akhirnya saya pesen makan – minum juga.

Setelah menanyakan arah keluar, saya meluncur menuju Solo dengan tujuan menemui santri di Pesantren Assalam, Agung Rahmansyah. Kota Solo memang panas. Namun karean semangat dan seneng sekali melakukkannya, maka ngonthel ke kota juga saya lakukan dengan penuh semangat. Whoooaaaa…saya bener-bener menikmati ngonthel sepeda di Solo karena mendapatkan suasana baru. Karena hari libur, Kota Solo terasa sepi sehingga sulit menanyakan lokasi Pesantren Assalam.

Sekitar pukul 14:30 saya sudah berada di gerbang Pesantren Assalam. Akhirnya saya bisa bertemu dengan Agung dan mengobrol sebentar di pos Satpam pintu masuk. Tak lama kemudian adzan Ashar berkumandang. Kemudian kami berdua menjalankan shalat Ashar berjamaah di masjid komplek Assalam. Subhanallah …masjidnya besar sekali dan rame dengan santriwan dan santriwati meski ada juga selain santri di situ. Saya sangat terkesan dengan suasana beribadah dan rasanya rugi dulu tak sekolah saja di pesantren karena toh mereka juga belajar ilmu duniawi selain ukhrawi.

Perjalanan dari bandara menuju Pesantren Assalam

Saya berhenti di seputar masjid ini.

Gedung Utama Pesantren Assalam

Masjid di Pesantren Assalam – sangat besar dan luas … Subhanallah …

Suasana di dalam masjid

Bersama Agung Rahmansyah – siswa kelas 2 SMK Assalam, jurusan Teknologi Informasi

Sekitar jam 15:30 saya pamitan dari Assalam dan melanjutkan ngonthel menuju stasiun Solo Balapan. Kali ini suhu sudah tek terlalu panas sehingga saya semakin menikmati onthelan saya sepanjang jalan dari Assalam menuju stasiun Solo Balapan. Sayag sekali beberapa orang yang saya tanya mengenai lokasi stasiun Solo Balapan tak ada yang memberikan jawaban yang pasti sedangkan petunjuk jalan menuju stasiun tidak saya jumpai sama sekali. Wah … Jokowi tak pernah memikirkan tentang bagaimana jika pendatang baru masuk kota Solo, ada petunjuk jalan atau tidak. Sebenernya saya bisa pakai GPS di BB tapi kalau sudah ngonthel sepeda, rasanya ribet musti liat BB. Apalagi di punngung saya ada ransel.

Akhirnya Stasiun Solo Balapan saya temukan dan saya mendarat persis satu jam sebelum jadwal kereta Sancaka (Yogya – Surabaya) berangkat pukul 16:50 dan diperkirakan masuk madiun pukul 18:03. Di dalam peron saya menjumpai senior saya, mas Herwindo alias sering disebut dengan mas MM beserta istri dan anaknya. Rupanya keluarga mas MM juga menggunakan Sancaka menuju Madiun. Lumayan…ada teman mengobrol selama di peron yang tak nyaman untuk menunggu kedatangan kereta karena tempatnya yang sempit dan kusi sudah penuh diduduki orang semuanya. Yang heran, ternyata harga tiket yang saya beli dua hari lalu dari http://www.tiket.com ternyata beda dengan mas MM karena saya punya Rp. 150 ribu sedangkan mas MM Rp. 120.000,-. Lho? Kenapa begini PT KAI?

Bersama mas Herwindo (biasa dipanggil Gus MM)

Kereta Sancaka tiba tepat waktu dan kami langsung naik kereta Eksekutif 1 dengan tempat duduk berdekatan, secara gak sengaja yaitu nomer 2 dan 3. Karena ada tempat kosong di area tempat duduk nomer 1, Bromie saya parkir di situ. Seperti biasa setiap pulang Madiun, saya selalu berdegup bila sudah sampai Solo akrena jaraknya gak jauh lagi menuju kota kesayangan: Madiun. Sekitar pukul 17:50 saya sudah mulai berdeiri di bordes karen ingin melihat jembatan Winongo dengan jelas. Jembatan ini sangat nuansamatik nostalgik bagi saya karena masa kecil saya sering main di sekitar jembatan ini. Jembatan di atas kali Bengawan Solo ini unik karena sangat sempit dan hanya bisa dilewati oleh motor dan orang jalan kaki. Saya berharap jembatan ini jangan sampai dipugar, biarlah seperti ini saja. Ternyata kereta api telat karena baru pukul 18:30 sampai di stasiun Madiun. Sekitar sepuluh menit sebelum masuk Madiun, hujan lebat mengguyur.

Bromie mendarat di kamar #201 Hotel Abdul Rahman, Jl. Tidar – Madiun

Tiba di stasiun Madiun hujan menjadi tambah lebat, sangat lebat sekali. Rencana ngonthel dari stasiun ke hotel Abdul Rahman, terpaksa saya batalkan dan akhirnya saya dan keluarga mas MM naik taxi menuju hotel Abdul Rahman dan Hotel Merdeka (tempat keluarga mas MM menginap).

Jaduman di SMA Negeri 1 Madiun

Malam harinya, setelah mandi, saya dan teman-teman satu angkatan MD 79 (sekitar 20 orang) menghadiri acara penyambutan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1 di gedung sekolah. Subhanallah ….Telah 33 tahun saya tak pernah lagi masuk ke gedung sekolah tiga lantai ini. Begitu memasuki gedung ini hati langsung berdebar teringat 33 tahun lalu dan saya mengunjungi kelas-kelas dimana saya dulu pernah duduk di dalamnya, yaitu 2 IPA 2 dan 3 IPA 4. Subhanallah …..

Sesaat sebelum berangkat ke SMA Negeri 1 – nunggu jemputan

Bagus Sudaryanto – tetangga dan temen sekolah sejak SMP hingga kuliah. Yang menarik ya kaos Jethro Tull-nya itu lho! Di belakang Bagus adalah istrinya (Tri Hernani)

Di SMA Negeri 1 Madiun bertemu dengan mas Dick Samsu – goweser juga, menggunakan Bromie juga.

Setelah mengikuti acara di SMA Negeri 1, teman2 seangkatan saya yang tergabung dalam MD 79 kemudian meluncur ke warung sego pecel RAHAYU di Jl H Agus Salim. Ada 25 oran dari kami malam itu dan kami sangat senang bersenda-gurau bersama. Saya makan dua pincuk sego pecel karena kangen sekali dan memang sego pecel Mediyun top markotop kemlotop barokotop pol! Minumnya es blewah .. wis jiyan klop tenan! Dengan jumlah 25 orang, total invoice yang kami bayar hanya Rp. 240 ribu saja! Kebetulan salah satu teman saya dari MD 79, Eko Handono, berulangtahun. Maka Eko lah yang mentraktir.

Sekitar jam 11 malam saya di drop di hotel. Tak lama kemudian saya keluar dari hotel dengan gowes menuju Stasiun karena ada teman2 eks SMP 2 Madiun yang juga reuni hari tersebut sedang cangkruk di Stasiun. Alhamdulillah akhrnya saya bisa gowes malam hari di Madiun meski jaraknya sangat dekat. Setelah puas cangkruk sekitar jam 00:20 saya pamit dan balik ke hotel sekitar jam 00:30. Langsung nggeblak istirohat karena besok paginya ada acara gowes bareng alumni dan siswa/i SMA Neg 1 Madiun ….

Zzzzzzzzzzzzzzz….. Zzzzzzz ….

Ringkasan kegiatan di hari Jumat, 26 Oktober 2012:

Jumat, 26 Oktober 2012

No Jam Aktivitas
1 08:45 – 09:30 Menuju bandara Soekarno-Hatta
2 09:30 – 10:00 Check-in Lion Air
3 10:00 – 11:00 Ngopi ginseng di Havana Cafe bandara Soeta – review materi Education Day
4 11:00 – 11:30 Boarding
5 11:30 – 12:30 Flight Jakarta – Solo
6 12:30 – 13:30 Shalat, makan siang dan setting sepeda
7 13:30 – 14:20 Gowes bandara – Pesantren Assalam
8 14:20 – 14:50 Ngobrol dengan Agung
9 14:50 – 15:30 Shalat Ashar berjamaah di masjid Assalam
10 15:30 – 15:50 Gowes santai menuju Solo Balapan
11 15:50 – 16:50 Menunggu kereta Sancaka (ngobrol dengan mas Herwindo)
12 16:50 – 18:25 Kereta Sancaka Solo – Madiun
13 18:25 – 19:30 Mandi dan shalat di Hotel Abdul Rahman
14 19:30 – 21:30 Malam Jaduman di SMA Neg 1, berangkat bareng dengan teman-teman MD 79
15 21:30 – 23:00 Nasi Pecel RAHAYU bersama 24 orang MD 79
16 23:00 – 00:30 Kembali ke hotel, naik sepeda ke Stasiun – cangkruk bersama alumni SMP2 (angkatan 79)
17 00:30 Kembali ke hotel – tidur

 

– BERSAMBUNG –

Read Full Post »

Sebuah Catatan dari mengikuti Kajian Ahad di Madiun Islamic Centre pagi ini. Saya datang telat 10 menit (pukul 6:10) dan tak tahu judul bahasannya apa. Setelah selesai, jam 7:05, saya baru lihat di selebaran yang dibagikan bahwa judulnya “Hiasi Diri dengan Akhlak Mulia”. Karena sifatnya catatan, tulisan ini tentu saja jauh dari sempurna. Semoga bermanfaat.

(Diposting di Hotel Abdul Rahman Madiun, 28 Oktober 2012) – setelah sarapan sego pecel maneh Madiun.

————————————–

Jangan suka menghina kelompok lain.

Hadits:
Menghilangkan satu kesulitan orang lain, sesama orang beriman, maka Allah akan membantu kesulitan?

Biasanya masalah kesulitan ekonomi, terjerat hutang, meski tak terbatas pada masalah ekonomi saja. Yang penting bisa menyelesaikan kesulitan, bisa juga dengan “cara” misalnya memberi info bermanfaat.

Kalau kita menyulitkan org lain maka besok kiamat akan disulitkan oleh Allah.

Umar bin Khathab
“Bangunkan saya bila ada tamu meski jam 1 malam sekalipun saya akan layani dengan baik” (saat menjadi Khalifah – presiden)

Bila membantu orang lain, menutupi aib orang lain, maka Allah akan mudahkan di dunia maupun akhirat. Siapa suka menolong maka Allah akan menolongnya. Bukan urusan kita apakah yg ditolong itu mau membalas kita.

Siapa yang menuju majlis ilmu maka Allah akan memudahkannya. Allah akan memberi ketenangan hati kepada kita, hati kita sejuk. Mengaji Allah maka hati ini terhibur.

Ibadah2 yg terkait dengan istiqo’ah (kemampuan ekonomi) seperti qurban, bila ada peningkatan jumlah qurban, mungkin potensinya belum maksimal karena bisa saja banyak orang mampu belum qurban. Dengan adanya majlis ilmu sangat memungkinkan menyadarkan mereka agar meningkatkan qurban. Yang makan daging qurban tak harus orang miskin, orang kaya pun boleh. Pengqurban juga boleh.

Hadits kedua

Abu Hurairah: jangan dengki, bohong, saling marah dan memutuskan silaturahim.
Jangan menjual sesuatu yang telah dijual ke orang lain.
Sesama muslim adalah saudara.
Taqwa adanya di hati.
Seorang muslim menghina itu berdosa.

Suami takut istri kok lebih banyak dari istri takut suami. Istri suka curiga. Ada orang mobilnya pecah ban dan gak bisa ditambal, harus ganti ban, namun hanya bawa uang 20 ribu karena dijatah istrinya. Suami-istri harus saling percaya. Waspada boleh tapi jangan keterlaluan.

Jangan menjual sesuatu yang telah dijual ke orang lain. Kisah beli lembu sdh dibayar 7 juta dan akan diambil pada H-1, ternyata dijual ke org lain 7.5 juta. Ini tidak boleh.

Paling mudah adalah menyingkirkan duri di jalan, tak tega membuat sengsara orang lain.

Larangan menghina bagi orang muslim. Jangan memanggil dengan pangilan yang buruk atau menyakitkan.

Annas bin Malik pelayan Rasul mengatakan bahwa Rasul adalah orang yg selalu senyum padanya dan tak pernah marah. Memeperlakukan pembantu dengan ma’ruf (baik).

Jangan menggunjing, makan dagingnya saudara kita.

Jamaah sebaiknya juga saling kenal. Perlu ada suatu acara dimana tanpa mubaligh, yg hadir saling berkenalan satu sama lain.

Mengkaji satu ayat sama dengan shalat sunnah 1000 rakaat.

———–
(Selesai pukul 7:05)

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Sudah cukup lama rasanya saya tak menonton TV hingga sore tadi saya pulang agak cepat dan secara kebetulan menonton TV dari Trans 7. Pada saat saya menonton sedang ada liputan mengenai sebuah desa dan kecamatan terpencil bernama Seko di Sulawesi Selatan. Saya tak faham darimana mulainya, yang jelas sang pembawa acara sedang meliput kehidupan sebuah desa terpencil dimana jalan akses menuju kota Kecamatan Seko sangat rusak parah dan merupakan jalan satu-satunya. Tadinya, sebelum faham betul, saya pikir semacam lomba cross-country dimana medan jalannya jelek dan becek sekali, dengan sekelilingnya berupa jurang terjal dan hutan. Namun ketika melihat pengendara motornya tidak memakai perlengkapan seperti pembalap offroad dan selain motor juga banyak sekali kuda pengangkut beban, akhirnya saya sadar bahwa itu adalah ojek yang membawa barang produksi desa tersebut ke kota Kecamatan.

Melihat perjuangan penduduk desa tersebut saya sungguh trenyuh karena medan dalam perjalanan menuju kota kecamatan Seko itu bener-bener dalam pandangan orang kota bisa dikatakan tak layak dilewati karena merupakan kubangan becek tak beraspal. Kuda beban memang alternatif alat transport yang paling sering digunakan penduduk karena harga sewanya relatif murah, sekitar Rp 150 ribu sekali perjalanan yang menempuh waktu dua hari dua malam. Sedangkan ojek motor biaya sewanya bisa mencapai jutaan rupiah sekali jalan. Bagi motor, kejadian patah per dan kerusakan lainnya sudah merupakan hal yang biasa dijumpai di jalan kubangan tersebut.

Liputan selanjutnya adalah kota kecamatan Seko yang kondisinya juga memprihatinkan. Listrik di kecamatan ini sangat terbatas sehingga siswa SMU pun tak bisa belajar secara efektif. Siswa-siswi SMU belajar komputer hanya berdasarkan teori saja, sedangkan sumbangan komputer dari pemerintah hanya didiamkan saja karena tak ada listrik untuk menyalakan komputer. Puskesmas pun sangat meinim fasilitasnya. Bila seorang pasien divonis untuk operasi terpaksa dirujuk ke kota yag lebih besar dan musti ditempuh dengan ojek selama kurang lebih sehari-semalam.

Saya akhirnya mengerti bahwa yang saya tonton adalah acara “Orang Pinggiran” yang konon ditayangkan di tv setiap hari.

Episode selanjutnya adalah kisah derita Shodiq yang tinggal di sebuah desa di kawasan hutan pinus Purworejo. Delapan tahun lalu Shodiq jatuh dari pohon kelapa dan sejak itu kaki-tangannya lumpuh. Untuk menopang kehidupan, istrinya, Asiah, terpaksa bekerja mencari nafkah dengan mengerjakan apa saja yang penting bisa mendapatkan uang untuk hidup dan merawat suaminya. Asiah bekerja serabutan tergantung permintaan majikannya termasuk mengumpulkan getah hasil sadapan dari pohon pinus. Dari pekerjaan yang dilakukan Asiah terlihat begitu kerasnya jalan hidup sebagai tulang-punggung kehidupan keluarg.

Kehidupan Shodiq – Asiah ini memang sungguh tragis karena sebelumnya Shodiq bisa bekerja dengan baik menghidupi keluarganya. Namun, yang mengesankan saya adalah kepasrahan mereka menjalani hidup yang keras ini sambil mereka berdoa untuk kesembuhan Shodiq.

Dari dua episode yang saya tonton hari ini dari program “Orang Pinggiran” saya merasa terkesan sekali karena saya bisa banyak belajar dari kisah-kisah nyata tersebut. Yang sudah jelas bagi saya adalah perlunya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesehatan dan nikmat iman dan Islam. Selain itu saya juga belajar nilai-nilai kepasrahan dan kerja keras terus-menerus. Ini jelas menyemangati saya. Terima kasih Trans 7. Lanjutkan dengan episode selanjutnya.

Wassalamualaikum wr wb.

G

 

 

Read Full Post »

Older Posts »