Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2011

Assalamualaikum wr wb.

Setelah tak nyaman dengan masjid ALatief di Pasar Raya Blok M yang tak menyediakan parkir khusus sepeda, akhirnya kami mendapatkan tempat yang jauh lebih bagus yaitu di Blok M Square. Ini adalah pertama kali saya mengunjungi mall ini dan sangat terkesan dengan adanya parkir khusus sepeda di lokasi yang “terhormat” yakni tepat di depan lobby utama. Jarang sekali ada mall yang memprioritaskan pesepeda selain mall ini, Gandaria City dan FX Plaza. Luar biasa! First impression yang sangat baik dan menyenangkan. Ternyata mall ini juga rame, lebih hidup dibandingkan Pasar Raya. Masjid memang tak semegah ALatief namun sangat nyaman buat belajar dan tak ada yang mengusir kami. Alhamdulillah …..

Wassalamualaikum wr wb.

Gatot

Rak buat parkir sepeda tersedia cukup banyak persis di depan lobi utama. Pesepda terasa dimanjakan di sini karena mendapatkan tempat prioritas tak harus naik ke atas atau turun ke bawah.

Masjid Nurul Iman berada di lantai 7 dan sangat nyaman buat belajar. Selama di masjid ini tak ada yang mengusik kami. Penerangan juga bagus. Subhanallah ...

Di atas jam 20:00, pelataran di depan lobi Blok M Square berubah menjadi pusat kuliner lesehan. Wah asik juga nih ...next time musti bawa temen2 pesepeda kulineran ke sini ... Mantab jaya ..!!!

 

Read Full Post »

Renungan Surah Ar Rahman

Assalamualaikum wrr wbb ..
Pernahkah membaca qur’an surat Ar-Rahman? Satu hal yg menarik dari kandungan surat Ar-Rahman adlh pengulangan satu ayat yg berbunyi:

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yg manakah yg kamu dustakan?

Kalimat ini diulang berkali2 dlm surat ini. Apa gerangan makna kalimat tsb?

Surat Ar-Rahman adalah surat yg memuat retorika yg amat tinggi dari Allah SWT. Setelah Allah menguraikan bbrp nikmat yg dianugerahkan kpd kita, Allah bertanya: “Maka nikmat Tuhan kamu yg manakah yg kamu dustakan?”

Menarik utk diperhatikan bhw Allah menggunakan kata “dusta”, bukan kata “ingkari”, “tolak” atau kata sejenisnya. Seakan2 Allah ingin menunjukkan bhw nikmat yg diberikan kpd manusia itu tdk bisa diingkari keberadaannya. Yg bisa dilakukan oleh manusia adlh mendustakannya.

Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bhw mrk telah diberi nikmat oleh Allah, tapi mrk menyembunyikan kebenaran itu, mrk mendustakannya!

Ketika kita mendapat uang yg banyak, kita katakan bhw itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Sarjana itu dikarenakan kemampuan otak kita yg cerdas, kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bhw itu akibat krn kita pandai melobby?

Pendek kata, semua nikmat yg kita
peroleh seakan2 hanya krn usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita & kita dustakan bhw sesungguhnya nikmat itu semuanya datang dari Allah.

Ingatlah… baik kita dustakan atau tidak, semua nikmat yg kita peroleh itu akan ditanya di hari kiamat nanti.

“Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan nikmat yg kamu peroleh saat ini” (QS. 102: 8)

Tdk patutkah kita bersyukur kpd-NYA? Mari mengucap Alhamdulillah sbg bagian (minimal) dari rasa syukur kita.

YAA SYAKUURU A’INNAA ‘ALAA SYUKRIKA
(Ya Allah Yang Maha Menerima Syukur, berikanlah kami kemampuan utk selalu bersyukur kepada-Mu).

(Disalin dari BBM yang saya terima dari seorang sahabat)

Read Full Post »

Kereta Api Sarat Penumpang

Baru saja beberapa hari lalu kita bahas masalah gerbong khusus sepeda, pagi ini halaman depan Kompas memuat foto penumpang KRL Bogor – Jakarta yang ini:

Penumpang seperti ini terjadi karena ada penghentian beberapa kereta lantaran sedang ada perbaikan gardu listrik di Bogor. Bagaimana ini? Alih-alih untuk sepeda, mengangkut penumpang saja masih tidak muat .... Waduh!

 

Read Full Post »

Masih terngiang pengalaman membawa sepeda naik kereta api ke Purwokerto, saya membayangkan betapa besar dampak memberi gerbong khusus sepeda di kereta api Commuter Line yang ada di Jabodetabek. Untuk itu saya coba browsing di dunia maya melihat pengalaman di negara-negara lain dan mendapatkan gambar-gambar seperti berikut ini (mohon maaf bagi yang punya foto, saya pakai fotonya tanpa ijin. Silakan menuntut saya, nanti saya akan menuntun sepeda saya masuk ke gerbong kereta. Gak nyambung, memang ….. Gak ada aturan selalu harus nyambung kok ….).

Tujuan saya memuat gambar-gambar ini adalah sebagai alternatif bentuk gerbong seperti apa yang bisa diadopsi buat Indonesia. Saya tak sempat lagi melihat gambar ini berasal dari negara mana, yang penting kita pilih saja yang cocok. SIlakan dicermati ya …

 

Foto 1. Mungkin kereta seperti ini cocok banget buat Indonesia ya. Lihat saja interiornya kumuh seperti layaknya kondisi kereta api kita. Saya sih tak masalah naik kereta seperti ini asalkan sepeda bisa masuk dengan leluasa. Dengan setting seperti ini mungkin bisa masuk 60 - 80 sepeda ya?

 

Foto 2. Kalau dengan setting seperti ini rada makan tempat namun sangat nyaman karena sepea tak bakalan lecet. Itu nikmat sekali di sebelahnya ada tempat duduk sehingga kita (pesepeda) tak berada jauh dari lokasi sepeda kita.

 

 

 

Foto 3. Situasi seperti ini nyaman sekali buat pesepeda ya? Terasa dunia milik kita dah ....!


Foto 4. Setting seperti ini juga nyaman ya ...Boleh juga buat Indonesia.

Foto 5. Asik kalau bisa seperti ini ....

 

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Seorang teman baik saya saat sekolah di Madiun dulu, Peni Handayani, saat ini sedang mengambil kuliah di Dresden, Jerman. Karena dia tahu saya suka bersepeda, hal pertama yang ia lakukan adalah mengamati perilaku bersepeda warga Jerman. Yang membuat saya iri banget adalah foto mengenai GERBONG KHUSUS SEPEDA pada kereta api yang ada di sana. Mengapa PT Kereta Api Indonesia tidak memulai ya? Setidaknya, bisa dilakukan berikut ini:

Commuter Line

Bila kereta api jabodetabek yang selama ini digunakan mengangkut pekerja dari dan ke tempat kerja dilengkapi dengan satu gerbong khusus mereka yang membawa sepeda ke tempat kerja, saya haqul yaqin bisa mengurangi tingkat kemacetan Jakarta yang semakin luar biasa dewasa ini. Sangat jarang saya menjumpai orang membawa sepeda dengan menaiki Commuter Line. Mengapa? Karena mereka malas, kalau naik sepeda malah dipelototi penumpang lain karena mengganggu mereka yang tak membawa sepeda. Coba kalau disediakan ekstra satu gerbong khusus yang membawa sepeda, saya yakin akan penuh dengan pekerja yang membawa sepeda. Saat ini penjualan sepeda di toko-toko sepeda sangat meningkat tajam. Artinya, sebenarnya orang mau bersepeda dan menyukainya. Mengapa hanya dipakai akhir pekan saja? Yaitu tadi, karena tak ada fasilitas buat mengangkut sepeda di kereta api. saya termasuk yang hingga saat ini tak pernah bawa sepeda di dalam Commuter Line karena merasa “tidak enak” terhadap penumpang lainnya.

Sungguh saya ngiri dengan kereta api di Dresden, Jerman ini. Kapan PT Kereta APi Indonesia berpikiran maju, menyediakan fasilitas gerbong khusus sepeda? Tentu pesepeda Indonesia sangat mendukung! Photo courtesy PENI HANDAYANI.

Kereta Api Antar Kota

Sebaiknya dilengkapi dengan gerbong barang yang bisa mengangkut sepeda. Mengapa? Hal ini akan meningkatkan pariwisata karena semakin banyaknya pesepeda yang suka bertualang. Kalau saja membawa sepeda ke luar kota dengan kereta api menjadi mudah, saya bisa pastikan bakalan banyak yang mau berwisata sepeda. Saya sendiri merencanakan perjalanan sepeda wisata dari Yogya – Solo – Madiun – Surabaya – Malang. Bila kereta api sudah memudahkan saya membawa via kereta, misalnya Taksaka, tentu saya akan mudah melakukan wisata sepeda tersebut. Memang bisa menggunakan sepeda lipat, namun kurang asik. Saya lebih sua memakai touring bike seperti Monggose Crossway 425 yang sangat nyaman buat wisata sepeda jarak jauh.

Kota Tua Leipzig dengan ratusan sepeda yang diparkir. Kapan Jakarta bisa seperti ini? Photo courtesy of PENI HANDAYANI.

Semoga postingan ini dibaca oleh petinggi PT Kereta Api Indonesia dan Petinggi Pariwisata. Saya sangat yakin banyak orang yang suka berwisata dengan sepeda karena sungguh ….SANGAT NIKMAT! Postingan ini sekaligus menanggapi usulan Bro Lutfi – teman saya yang selalu setia bersepeda ke kantor, seperti saya.

Wassalamualaikum wr wb.

Read Full Post »

Karena tidur malam, sekitar jam 1:00 maka setelah shalat Subuh berjamaah, kami berdua tidur lagi menyambung kantuk malam sebelumnya. Kemudian sekitar jam 8:00 kami sarapan di Coffee Shop hotel.

Kurang ajar sekali, sepeda diparkir di dalam lobby hotel.... Sekalian mau sarapan dulu ....

Setelah sarapan, siap gowes ....!!

Sayangnya kami tak sempat renang ...

Rencana Gowes 70 KM

Hari tersebut kami merencanakan gowes sepanjang 70 KM dengan rute Purwokerto – Aji Barang – Wangon – Rawalo – Purwokerto. Menurut perkiraan jarak ya 70 KM walaupun pada kenyataannya 66 KM sesuai dengan speedometer Polar yang saya gunakan. Namun ditambah dengan gowes menuju rumah pak Darman dan ke setasiun tadi malam, maka total gowes menjadi 71 KM.

Menuju Aji Barang ...

Kami berangkat dari hotel jam 8:45 menuju AJi Barang. Sebenarnya berangkat gowes jam segini sudah kesiangan karena bakal terkena panas menyengat. Namun kami tak punya pilihan lain karena malam sebelumnya digenjot gowes NR. Perjalanan menuju Aji Barang berjarak 19 KM dengan kondis medan yang banyak tanjakan meski tidak curam namun konsisten naik terus. Hal ini sangat tersa pada saat KM 6 sampai dengan KM 13.5. Artinya sepanjang 7.5 KM jalannya nanjak terus secara konsiten tanpa sedikitpun turunan. Seperti biasa saya berada di belakang pak Sutono. Kecepatan gowes hanya 14.3 KM per jam karena rata-rata menanjak. Meski belum panas mataharinya namun rute ini relatif berat bagi saya. Kalau berangkat jam 6 pagi mestinya perjalanan ini lebih bisa dinikmati.

Aji Barang - Wangon

Sekitar jam 10:00 kami sudah masuk Aji Barang dan speedo meter menunjukkan jarak 19 KM hingga pasar Aji Barang. Karena capek duduk terus pak Sutono mengajak jalan kaki menuntuk sepeda saat jalanan justru sedang menurun curam menuju Wangon. Namun lumayan juga refreshing jalan kaki ini, memberi kesempatan kepada pantat agar tak duduk terus-menerus. Bagi saya, Aji Barang meski hanya kecamatan atau kota kecil, memberikan pengalaman baru karena belum pernah ke sini. Di sini banyak tungku pembuat genteng. Memang produk andalannya genteng, saya rasa.

Gowes menuju Wangon ini sebenarnya secara teori (kata Pak Sutono) lebih banyak turunnya. Namun kenyataannya banyak juga nanjak dalam kondisi matahari sedang terik-triknya. Harus diakui bahwa udara Purwokerto meski panas namun ada terasa dinginnya juga. Setelah istirahat sejenak di ATM kami lanjutkan perjalanan menuju Wangon. Tiba di Wangon sekitar jam 11:15 secara nonstop kami gowes menuju rumah orang-tua (almarhum) pak Sutono di Banjar Parakan. Sekitar jam 11:45 kami masih di Jati Lawang dan mencari masjid yang memilki sarung. sayangnya setelah melewati 3 masjid tak ada yang menyediakan sarung buat Pak Sutono yang menggunakan celana pendek. Akhirnya kami putuskan lanjut gowes 5 KM lagi menuju Banjar Parakan.

Pada pukul 12:30 kami mendarat di Banjar Parakan dalam keadaan lelah karena sengatan matahari siang yang panas. Menurut saya masih panas sengatan matahari perjalanan gowes Jakarta – Bogor – Jakarta. Di Basnjar Parakan kami mampir di rumah map Yoto yang merupakan adik bungsu pak Sutono, yaitu rumah makan Alam Sari. Spesialisasi rumah makan ini adalah bebek (menthog) goreng atau bakar. Kami memang tidak makan di rumah makan ini karena akan makan siang di rumah bu Diro alias rumah makan Lembah Serayu. Di Alam Sari kami benar-benar istirahat total sambil minum Pocari Sweat dan jus apel kemudian shalat Zhuhur – Ashar di jama’ qashar karena perjalanan akan kami lanjutkan. Saat di RM Alam Sari ini speedometer telah menunjukkan KM 44,1. Perjalanan kami lanjutkan menuju Rawalo – Lembah Serayu untuk makan siang dngan jarak gowes yang tak terlalu jauh, hanya 5 KM. Di Lembah Serayu kami minum es kelapa muda dan dijamu makanan nikmat: menthog rica-rica, sup ikan, udang, kuluban….nyam…nyam ….

Istirahat total di sini ...

Berpose sejenak dengan pemilik Rumah Makan "Alam Sari"

Siap melanjutkan perjalanan menuju Lembah Serayu buat makan siang di sana ...

Rute Terakhir Yang Menawan

Setelah dari Lembah Serayu kami lanjut gowes menuju Purwokerto dengan jarak sekitar 18 KM. Rute gowes terakhir inilah ternyata yang indah sekali karena sebelumnya kami lewat sini pada malam hari. Pemandangannya sungguh menawan. Karena begitu indahnya maka gowes saya jadi terganggu karena banyak obyek yang harus saya abadikan dengan kamera saku. Karena asiknya memotret saya tertinggal jauh dari pak Sutono yang berada di depan dan secara konsisten menggowes.

Rumah makan nan sejuk ....milik Bu Diro

Pemandangan gowes di sepanjang sungai Serayu ... Indah sekali ...

Waduk Serayu dari kejauhan

Sungguh, saya sangat menikmati gowes di pesisir sungai Serayu ini. Kalau ada waktu, saya akan duduk-duduk di daerah ini menikmati keindahan alam yang alami banget ....

Jembatan rek kereta api menambah keindahan pemandangan di sini. Subhanallah ...

Perjalanan menuju ke Purwokerto dari Rawalo menyusur sungai Serayu

Istirahat di masjid Thoha dulu ....

Gerbang masuk Purwokerto ....setelah gowes lebih dari 60KM ...

Setelah sampai di lobi hotel Horison ....jam 17:30, sabtu 15 Oktober 2011

Pulang ke Jakarta

Check-out dari hotel sore kemarin begitu lama; sepertinya petugas kasir tak kompeten karena pak Sutono musti menunggu sekitar 1 jam buat check out. Ini gimana ya? Levelnya internasional tapi bikin bill untuk check-out saja makan waktu sejam? Akhirnya kami tak bisa shalat Maghrib di hotel dan harus segera menuju ke rumah pak Darman dan kemudian pulang ke Jakarta dengan kereta Purwojaya jam 20:00. Jam 18:30 kami gowes ke rumah pak Darman yang berjarak 4 KM untuk mandi, shalat dan makan malam. Terima kasih pak Darman atas sambutan yang sangat ramah kepada kami berdua. Saya terkesan bu Darman yang memasak makan malam buat kami. Tempenya uasik tenan! Belum lagi gudeg dan ikan mujair yang FRESH karena diambil dari kolam sendiri. Subhanallah …. Nikmat …

Sekitar jam 19:35 kami pamit dari rumah pak Darman menuju stasiun yang berlokasi tak jauh. Di stasiun saya mendapatkan kuli yang baik sekali, bisa mengakali bagaimana mengantar sepeda saya hingga selamat sampe di bordes paling belakang. Sudah begitu setelah dikasih uang, dia masih memantau saya hingga keberangkatan saya. Dia melihat saya kesulitan membawa tas dari gerbong belakang ke depan. Dia masuk kereta lagi tersu membawakan tas saya dan mengajak keluar dari kereta menuju gerbong depan (Eksekutif). Kuli yang baik sekali. Memang saya memberi dia uang yang cukup besar, namun say tak berharap dia berbuat lebih. Luar biasa! Seorang kuli bis amemiliki jiwa customer focus yang baik, peduli pada end-to-end process hingga saya duduk nyaman di gerbong saya. Alhamdulillah … Semoga pak kuli tersebut selalu mendapatkan berkah dari Allah SWT karena ketulusannya dalam membantu pelanggannya hingga tuntas.

Keluar dari kereta api, pada jam segini ....

Di dalam kereta menuju Jakarta praktis saya terlelap tidur dan baru bangun sekitar jam 22:30 terus tidur lagi hingga wekker di BB saya bunyi menunjukkan 00:30. Jam 1:00 kereta masuk dan berhensti di Bekasi cukup lama. Kemdian setelah jalan berhenti lagi di Jatinegara.

Setelah melewati Jatinegara saya menuju gerbong belakang menyiapkan sepeda saya untuk “siap turun” di Gambir nanti. Nikmat juga setelah di gerbong belakang saya gelayutan di pinggir pintu melihat Jakarta di waktu malam, dini hari. Sekitar jam 01:40 kereta sampai di Gambir dan kemudian janjian sama Pak Sutono untuk gowes lagi pulang. Asiknya juga gowes dini hari. Karena malem minggu ternyata jalanan masih rame orang nongkrong. Rupanya ada arena balapan motor di sekitar Monas. Sampai rumah jam 3:00 langsung ke warung Indomie rebus dulu sebelum masuk rumah. Habis itu leyeh-leyeh menunggu adzan Subuh. Sepulang Subuhan di masjid langsung tidur nyenyak hingga jam 10:15 …..terus menulis artikel ini ….

Terima kasih saya ucapkan kepada pak Sutono yang telah mengundang saya untuk gowes bersama di kota yang ternyata indah. Salut juga dengan stamina Bapak meski sudah lanjut usia. Terima kasih juga buat Pak Darman beserta Ibu yang telah menjamu kami dengan masakan yang lezat; terima kasih juga buat pak Yoto. Tak lupa tentu buat Bu Diro dengan masakan khas Lembah Serayu. Semoga Allah SWT membalas baik budi Bapak-bapak dan juga Ibu-ibu semuanya. Amin ya Rabb. Semoga kita berjumpa di lain kesemapatan lagi.

Sebuah pengalaman yang mengesankan …..

Wassalamualikum wr wb.

Gatot

Read Full Post »

Hari Pertama di Purwokerto

Pad saat keluar pintu stasiun kereta ternyata pak Sutono telah menunggu saya, siap dengan sepedanya. Sebenernya saya tak mau dijemput karena saya mau merasakan kebebasan gowes di kota yang belum pernah saya singgahi sepanjang hidup saya hingga kini. Tadinya memang saya akan dijemput oleh mobil hotel, saya tolak karena tujuan saya ke Purwokerto adalah gowes abis! Pamali kalau pakai mobil dan sepeda diangkut di dalamnya.

Mampir di Soto Ayam Sungeb (Asli) di Jl. Bank.

Selama di perjalanan dalam kereta saya sudah mendapatkan rekomendasi kuliner di Purwokerto dari teman sesama penggemar musik rock, Sigit Prabowo, yang juga asli Purwokerto melalui milis yang saya baca lewat BlackBerry (thanks to Mr. Technology Advancement – life is easier than before!). Dengan dipandu oleh pak Sutono, akhirnya kami mendarat kuliner pertama di Purwokerto dengan makan soto ayam Sungeb di Jalan Bank (sekarang namanya menjadi Jl Wiryaatmaja). Nyamlenk banget andok soto di sini…terasa Jowo tenan. Sambil nyoto kita cerita tentang reformasi birokrasi nasional demi meningkatnya pelayanan publik. Pak Sutono adalah pejabat senior di kantor Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres).

Setelah kenyang dengan soto Sungeb (Asli) di Jl. Bank kami gowes menuju Hotel Horison, tempat menginap kami. Dalam perjalanan menuju hotel toba-tiba roda depan sepeda saya bunyi “THAK!” Ternyata salah satu jeruji roda depan ada yang patah. Wah ….ini adalah ujian setelah berkali-kali gowes menuju tempat kerja dengan Monfar-31 tanpa masalah, sekarang masalah. Sebetulnya kalau tidak oleng, tidak masalah. Karena rodanya oleng, maka harus dimasukkan bengkel sepeda. Masalahnya, hari sudah pukul 15:30, takut tak ada bengkel buka.

Ini lho soto Sungeb yang legendaris itu. Sotonya dimakan pakai lontong yang dicampur dalam satu mangkok.

Masuk ke dalam areal hotel Horison.

Setelah check-in di hotel dan sekalian shalat jama’ qashar Dzuhur-Ashar, akhirnya saya putuskan untuk mencari toko atau bengkel sepeda terdekat. Informasi dari pihak hotel yang katanya tak jauh di depan hotel ada bengkel sepeda ternyata tak ada. Kurang kompeten juga petugas hotel dalam memberikan rekomendasi bagi tamunya. Dua tempat yang disarankan ternyata tak ada alias hanya bengkel motor. Akhirnya saya telpon pak Sigit menanyakan apa ada Roda Link di Purwokerto. Karena dia bukan pegowes, sudah pasti tak tahu. Akhirnya saya tanya beberapa orang di jalan. Memang banyak yang saya tanya tak tahu ada bengkel sepeda dan tak ada keinginan memberi tahu dimana ada toko sepeda sampai akhirnya saya menemukan sebuah toko sepeda yang friendly. Dia tak punya stok jeruji dan menyarankan saya menuju toko Phoenix di Jalan Sudirman. Saya telusuri jalan ini hinga ketemu toko sepeda yang juga tak punya stok. Namun dia menyarankan saya ke toko Rukun Makmur. Sampai di toko Rukun Makmur sudah pukur 16:30 dan karyawannya sudah siap-siap akan tutup toko.

Koh pemilik toko Rukun Makmur yang baik hati, mau menolong sepeda saya yang bermasalah dengan jeruji yang patah.

Mekanik sedang mereparasi jeruji yang patah. Menurut dia, yang menyebabkan roda oleng karena jerujinya disetel terlalu kenceng sehingga kalau ada satu yang patah saling tarik dan jadi oleng. Top!

Saya akhirnya temui pemilik toko dan menyatakan bahwa saya sangat memerlukan bantuan karena esok pagi akan gowes jauh mengitari Purwokerto dan sekitarnya. Dia ternyata sangat helpful dan segera memerintahkan anak buahnya (mekanik) untuk mengganti jeruji roda sepeda saya. Alhamdulillah….. Ini tentu atas Kuasa Allah SWT. Memang setelah shalat Ashar saya berdoa kepadaNya agar memudahkan penyelesaian masalah rusaknya sepeda saya. Saking senengnya, saya kasih tip yang cukup banyak untuk Mekanik nya dan mengucapkan terima kasih tak terhingga atas kemauannya menolong orang yang lagi kena masalah.

Toko Rukun Makmur ini sebenarnya distributor / agen Polygon namun juga menjual merek lain seperti Wim Cycle. Tokonya rame sekali dan karyawannya ada banyak, sekitar enam orang. Saya merasa betah tinggal di toko ini. menurut Koh yang punya, penjualan sepeda di Purwokerto cukup bagus meski belakangan ini menurun. Tapi gairah orang bersepeda lumayan tinggi. Dia sendiri adalah pegowes meski kadang ia tinggalkan karena kesibukan melayani pelanggan di tokonya. Saya sangat terkesan dengan keramahan toko ini melayani pelanggan, apalagi orang pendatang seperti saya ini. Sebuah toko yang berorientasi kepada pelanggan dan saya merasa sangat tertolong dengan adanya Toko Rukun Makmur ini. Terima kasih banyak ya Koh ….

Ternyata di seberang toko Rukun Makmur juga asa toko sepeda United.

Keliling Kota

Kesempatan mereparasi sepeda saya gunakan untuk menyelusuri kota Purwokerto yang nyaman rasanya. Saya memang merasakan kenikmatan gowes di dalam kota, terutama seputar Jl Sudirman yang panjang sekali. Kotanya tak ramai dan pengendara kendaraan bermotor tertib dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada padahal tidak ada Polisi yang jaga. Artinya, kesadaran tertib lalu-lintas sudah melekat di dalam diri penduduk Purwokerto. Tak ada orang melanggar lampu lalu-lintas meskipun sepi. Coba bandingkan dengan Medan dan Jakarta. Jauh!

RRI Purwokerto di Jl. Jend Sudirman

Salah satu kafe yang menarik perhatian saya karena ada kata SOKLAT nya itu lho! Ha ha ha ha ha ... Jowo banget!

Pemandangan di kafe SOKLAT Jumat sore jam 17:15

Salah satu sudut kota Purwokerto di sore hari ...

Masjid yang indah ....

Salah satu pojok kuliner

Hotel Wisata Niaga yang kelihatannya bagus dan bersih ....

Tugu Purwokerto

Mungkin in SMA paling top di Purwokerto?

Kafe KEDAI KOPI di dekat hotel Horison. Rupanya ini tempat anak muda mangkal - sepertinya. Kelihatan menarik untuk dikunjungi. sayang tak ada waktu.

Tampak depan hotel Horison (dulu hotel Dynasty).

Kamar-kamar di hotel Horison

Sepeda kami parkir di belakang kamar 124 - tempat tinggal kami malam itu.

Night Ride

Karena masalah sepeda, jadwal gowes malam itu ada pergeseran. Saya dan pak Sutono shalat maghrib berjamaah di mushalla hotel padahal rencananya shalat di masjid dekat rumah adik pak Sutono, pak Darman. Akhirnya kami berangkat ke rumah pak Darman yang berjarak 4 KM dari hotel sekitar jam 18:30. Setibanya di rumah Pak Darman, kami bersilautrahim sejenak terus shalat Isya berjamaah di masjid kampung. Asik juga shalat di kampung, situasinya benar-benar berbeda dan sangat mengesankan karena tak terdengar hiruk-pikuk suara kendaraan bermotor. Sunyi. Khidmat.

Setelah shalat Isya kami berdua dijamu makan malam oleh keluarga pak Darman. Masakan Bu Darman memang nikmat: gudeg, sayur pare, gule ikan mujair, mujair goreng dan tahu-tempe. Sebelumnya kami makan buah mangga terlebih dulu. Kenyang…..

Setelah makan malam kami berdua siap berangkat ke arah Rawalo menyusuri tepian sungai Serayu. Jaraknya sekitar 15 KM dari rumah pak Darman. Perjalanan menuju Rawalo ini sungguh pakling mengesankan karena dilakukan malam hari (NR) dengan situasi jalan yang relatif sepi dan asik buat dinikmati, kontur jalannya juga naik-turun dan penuh tantangan. Karena pak Sutono lebih sepuh (usia 59 tahun lebih), saya sering berada di belakang beliau sekaligus sebagai penerang jalan karena lampu sepeda saya sangat terang dan menjangkau sekitar 8 meter ke depan sehingga sangat terang. Sepanjang perjalanan say berdecak kagum karena indahnya jalan yang kami tempuh terutama saat menyusuri Sungai Serayu. Subhanallah ….pemandangan malam di sepanjang sungai Serayu begitu indah. Apa lagi saat ada kereta api yang melintasm serasa indah banget malam itu.

Kecepatan gowes malam itu tak terlalu cepat, sekitar 15 KM/jam, karena memang tak memungkinkan buat ngebut karena banyak tanjakan dan tikungan. Jalannya relatif mulus meski di beberapa segmen ada yang bergelombang. Ada beberapa kendaraan yang melintas namun tak ramai sekali. dalam perjalanan ini kami menjumpai kecelakaan parah antara bus Keluarga dengan truk tangki Pertamina. Konon banyak yang meninggal-dunia dalam kecelakaan ini (menurut berita di TV esok paginya).

Kami sampai di rumah keluarga Pak Sudiro (alm) pada pukul 21:00. Ny. Sudiro adalah kakak kandung tertua dari Pak Sutono. Keluarga pak Sutono ini tergolong keluarga besar karena mereka kakak-beradik ada 15 orang dimana Pak Sutono adalah anak ke 10. Di rumah Bu Diro yang ternyata juga memilik resoran ini kami mengobrol silaturahim. Kami disuguh pisang goreng yang nikmat rasanya, apalagi disajikan masih panas. Saking nikmatnya saya makan empat buah. Asik juga bisa mengunjungi rumah orang dalam situasi perkampungan meski rumah beliau ni berada di pinggir jalan seberang waduk Serayu. Nama resto-nya Lembah Serayu. Karena sudah malam hari, saya baru sempat mengambil fotonya keesokan harinya.

Pisang goreng buatan Bu Diro. Top banget! Nyam ..nyam ...nyam ...abis 4 buah cing!

Anak Bu Diro, Bu Diro dan Pak Sutono

Berpose sebelum berpamitan ...

Pada sekitar pukul 22:15 kami mohon diri dari Lembah Serayu menuju hotel Horison. Perjalanan pulang sungguh lebih nikmat rasanya karena jalan begitu sepi dan gelap, sepertinya hanya kami berdua saja yang lewat jalan itu. Tak ada suara gemuruh mesin mobil, yang ada hanya suara sepeda kita melaju menuju Purwolerto lagi. Saking sepinya selama perjalanan pulang kami bis amengobrol sambil gowes. Setelah mengalami perjalanan NR menyusuri sungai Serayu, kami masuk kota melalui jalan yang berbeda dan jalannya menurun sehingga kami menikmati istirahat sambil sepeda tetap melaju tanpa digowes. Beberap kafe yang saat berangkat kami lewatio dan saya amati karena desainnya yang unik, yaitu Bakoel Wedang di Jl. Bank, Kedai Kopi di dekat hotel, kafe D’Best yang desainnya unik, ternyata malam itu belum juga tutup. Rasanya say pengen mampir ke kafe-kafe tersebut. Namun karena capek, kami langsung ke hotel. Sampai di hotel sudah pukul 23:30. Total perjalanan adalah 34.5 KM dengan rata-rata kecepatan 15.1 KM/jam dan kaloroi terbakan 1,290 kcal. Karena sudah lelah …pak Sutono langsung tidur, sedangkan saya mandi dulu trus tidur pulesss …..

Bersambung ke 3/3

Read Full Post »

Older Posts »