Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2017

Advertisements

Read Full Post »

Anomalie Coffee Kebayoran

Read Full Post »

Meski jumlah jamaah yang mengikuti kajian (25/02/2017) di Masjid Nurul Iman tidak banyak,  bukan berarti mutunya kurang.  Justru kajian ini menggetarkan jiwa.  Siapa yang tak bergetar jiwanya membahas topik ZUHUD dari Kitab TAZKIYATUN NUFUS karya Ahmad Farid ini? 
Catatan Kajian:
Harun Al Rasyid saat akan meninggal mengumpulkan pasukan,  bertanya apakah ada yg bisa menangguhkan kematianku? 

Dunia itu kecil dibandingkan akhirat.

Dunia ini terlaknat kecuali yg diridhlai Allah.

Zuhud mementingkan hal yang lebih tinggi, yaitu akhirat lbh baik dari dunia. Kita harus punya cita2 akhirat. Zuhud bukan mengharamkan yang halal. 

Selama halal silakan bukan mengharamkan yang halal.

Zuhud adalah berkeyakinan bahwa yg ada di sisi Allah adalah yang engkau kejar daripada yg ada di dunia, memegang dunia dan yakin yg ada di sisi Allah jauh lebih penting.
Di surga ada istana megah,  rumah di dunia tak ada apa2nya. Tanda2 orang yang zuhud adalah ketika keadaan mendapat musibah atau tidak sama saja. Keadaan saat dipuji manusia sama dengan saat dicela. Gak penting. Tak peduli dunia,  yang penting apa yang terbaik bagi Allah.Gak sabar thd musibah – tidak zuhud

Meninggalkan dunia menuju Allah.  Pikirannya hanya akhirat. 
Zuhud di dunia semuanya amalan hati bukan amalan badan. Amalan hati sama dengan ikhlas, tidak kelihatan secara dzahir. Zuhud bukan dari penampilan misal harus compang camping pakaiannya. Bukan cari pujian orang. Zuhud tidak tampak.

Rumah gedong bukan berarti tidak zuhud kalau penghuninya ternyata mementingkan Allah,  shalat berjamaah di mesjid pada waktunya (BMW) .
Zuhud bisa dicapai bila kita yakin. Keyakinan bisa kita capai kalau kita menuntut ilmu
Apa hartamu? 

1.) keyakinan kepada Allah,  akan janji2nya

2.) berputus asa kepada manusia,  berharap pada manusia. 
Jangan berharap kpd manusia

Abdurrahman bin Auf ditawari kebun tidak mau,  tidak berharap maka menolak dan memilih ditunjukkan pasar dan bekerja atas usahanya untuk mencari nafkah.

Kalau ingin kaya,  percaya kepada Allah
Apa tidak takut miskin? 

Bagaimana aku takut miskin sedangkan yang menciptakan aku memiliki segalanya. 
Pokok zuhud itu ridho kpd Allah Taala. Jangan nangis2 atas keadaan,  harus ridho baik ditetapkan kaya maupun miskin.

Orang yg qonaah adalah zuhud, ridho dengan pemberian Allah. Dikasih mobil Avanza diterima. Bersyukur.
Amar bin Yasin: Cukuplah kematian sebagai nasehat
Siapa yg zuhud thd dunia akan mendapatkan kenikmatan.
Berusaha membersihkan hati kita dengan zuhud. Zuhud bisa dilatih.  Semua amalan hati bisa dilatih,  sabar,  qonaah. 
Tanya Jawab
1.) Meninggalkan pekerjaan demi menuntut ilmu,  kalau masih bujang OK.  Tapi kalau sdh berkeluarga tidak boleh. 

Menuntut ilmu bisa setelah waktu kerja, hari Sabtu dan Ahad. 

Sibuk kerja dan menuntut ilmu. 

Kuliah di Mesir udah punya anak satu,  harus kerja dan kuliah. 

Yg penting setiap ilmu yg kita dapatkan kita amalkan.
2.) Akhwat menunda nikah mementingkan bekerja boleh asalkan ada kebutuhan mendesak sebagai tulang punggung keluarga sementara calon suami tidak mampu. 

Tapi kalau buat kesenangan,  belanja dan lain2 maka tak boleh. 
3.) Bagaimana hukum beasiswa? 

Ilmu agama atau umum?  Bila utk ilmu agama berhak menuntut zakat.  Beasiswa umum tak boleh minta2. Kecuali kalau basisnya kelayakan dan kita masuk dalam kriteria. 

Wallahua’lam. 

Setelah kajian cari buku Tazkiyatun Nufus – Ahmad Farid di lantai Basement,  tidak ada.  Adanya karya Said Hawwa yang juga mantab.

Read Full Post »

Catatan Kutbah Jumat (24/02) di Masjid Nurul Ikhlas

16991639_10155090838143809_5970042544915073332_o
Hadits diriwayatkan Abu Daud:

1.) Mendoakan kepada keduanya. Allah wajibkan shalat yang menurut bahasa artinya doa. Takbir sd tahiyat itu semua isinya doa. Asholatu alaihima.
Diterima atau tidak itu hak Allah. Orang sukses karena jerih payah orangtua kita. “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”
Artinya : “Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”

(Sayangnya khatib memberikan contoh uraian tentang tahlilan hari ke 1 – 3 – 7 – 40 yang menurutnya tidak masalah. Harusnya tanpa menyebut contoh ini, kutbahnya sudah bagus. Tapi karena ada contoh tahlilan ini, kurang bagus jadinya karena seolah melegalkan bid’ah. Padahal jelas, Rasul tak pernah mencontohkan tahlil pada hari-hari tertentu. Dikisahkan bahwa ustadz pernah mendebat seorang pemuda yang mengatakan bahwa tahlil adalah warisan orang Hindu dan mengerjakannya pada hari2 tertentu setelah kematian mayit. Ustadz menyanggah bahwa orang Hindu tak kenal Yaasin dan orang Hindu bukan Islam – ya jelas to pak ustadz! Tapi kenapa contoh ini musti diulas? Mau menyiarkan bid’ah?)

2.) Mohonkan ampun kepada keduanya. Seorang ibu mengalami 3 kesepian:
1. Saat mendidik anaknya
2. Ketika anak2 merantau
3. Ketika anak2 jauh dari agama

3.) Menunaikan janji2 kedua orangtua. Kalau orangtua berjanji akan naik haji dan belum kesampaian, anaknya menunaikannya.

4.) Bersilaturahim kpd sahabat2 orang tua.
Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khathab, bertemu dengan sahabat2 rasul, orang arab Baduy. Ia turun dari untanya dan menyampaikan salam kpd arab Baduy. Bahkan keledai diberikan ke arab Baduy tersebut karena Arab Baduy tsb sahabat Umar ibn Khathab.

5.) Memuliakan teman2 kedua orangtua.

Read Full Post »

3 Pertanyaan

Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib, jika seorang mayit sudah dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan. Ketiga pertanyaan tersebut adalah 

Pertama “Man Robbuka?”…Siapakah Robbmu?

Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?

Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?

Read Full Post »

Perintah wajibnya shalat jum’at termaktub dalam ayat :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( Al-Jumu`ah : 9)

Sedangkan shalat fardhu 5 waktu tidak ada perintah tertulis yang jelas seperti ayat di Al Quran tersebut. Namun JANGAN salah…  Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan secara istiqomah. Ini berarti hukum shalat BMW (berjamaah di masjid pada Waktunya) adalah sunnah muakad bahkan ada beberapa ulama mengatakan wajib. Ya,  sekurangnya mendekati wajib.  Atau bahasa lugasnya: DIPRIORITASKAN paling atas. 
Wallahua’lam

Read Full Post »

Dari Ta’lim Laskar (19/02/2017):

NASEHAT SYAIKH ABDUROZZAQ MENGHADAPI FITNAH ZAMAN INI …
✔ 1. Berdoa

✔ 2. Mentadabburi Quran

✔ 3. Menuntut ilmu

✔ 4. Mujahadah

✔ 5. Panutan Yang Benar, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam

✔ 6. Mengingat hari akhirat

✔ 7. Berteman dengan Teman-teman yang sholeh

1. Berdoa.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita doa agar kita tetap istiqomah di jalannya dan mengikuti manhaj yang mulia ini. Doa ini sangat penting untuk kita amalkan dan selalu berharap Allah ‘azza wajalla wafatkan kita didalam Iman dan Islam sesuai manhaj yang haq ini.

Berikut doanya:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
“YAA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QULUUBANAA ‘ALAA DIINIK
“Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]
2. Mentadabburi Al Qur’an.
Tugas kita sebagai seorang muslim bukan hanya membaca Al Qur’an atau menghafalkannya. Walaupun itu memang sebuah perkara yang luar biasa dan merupakan sebuah amalan yang akan menjadi penerang hati kita. Juga mentadabburinya adalah hal yang penting lainnya.
Ini sabda rasulullah صلى الله عليه وسلم :

“خيركم من تعلم القرآن وعلمه” رواه البخاري(1).

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari)
Dengan belajar Al Qur’an, In-syaa Allah kita memiliki pondasi keimanan yang kokoh dalam menghadapi godaan di dunia ini. آمِيْـن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
3. Menuntut Ilmu Agama
Menuntut ilmi agama sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu benteng menghadapi fitnah zaman ini. Sekali lagi tentunya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
Mengapa ini menjadi begitu penting? Sebab ilmu merupakan dasar kita berkata dan beramal sehingga kita dapat beribadah sesuai dengan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
Dengan ilmu segala sesuatu diukur, diketahui halal dan haram, dipahami hukum-hukum syariat, dan dibedakan kebenaran dan kebatilan, serta jalan petunjuk dan kesesatan. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam senantiasa berdoa di pagi hari setelah subuh :
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا صَالِحًا»
“Ya Allah, Aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal shalih yang diterima” (HR Ahmad)
Doa ini dimulai dengan meminta ilmu yang bermanfaat. Karena dengannya seorang hamba bisa membedakan antara rezeki yang baik dan buruk, dan antara amal shalih dan amal kejelekan.
Adapun jika seorang hamba tidak memilik ilmu yang bermanfaat, bagaimana dia bisa membedakan halal dan haram, perkara baik dan buruk, serta amalan kebaikan dan kejelekan.
4. Mujahadah
Bersungguh sungguh dalam melakukan segala sesuatu, terutama beribadah kepada Allah ‘azza wajalla. Kesungguhan inilah yang akan menjadi bekal kita dalam terus berusaha beribadah kepada Allah ‘azza wajalla. Tetap istiqomah hingga kematian nanti menjemput kita. Dengan bersungguh sungguh إIn-syaa Allah kita akan selalu berupaya memperbaiki diri.
Mujahadah tidaklah cukup sekali atau dua kali, namun ia harus dilakukan sepanjang hayat hingga ajal menjelang. Allah tabaraka wa ta’ala berfirman
Sembahlah Rabbmu hingga datang kematian kepadamu.” (QS. Al Hijr: 99).
5. Panutan/ Tauladan yang Benar.
Kepada siapa lagi kita meneladani hidup ini kalau tidak kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Dengan mengikuti jejak Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan meneladani perilakunya lah in-syaa Allah kita akan mendapatkan keuntungan di akhirat dan dunia ini. Dan meneladani rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berarti kita mengambilnya melalui jalur yang benar, yaitu melalui para salafus sholih, sahabat, tabiin dan tabiut tabiin. Inilah salah satu bekal kita.
Dan orang-orang yang terdahulu  yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang “Muhajirin” dan “Ansar”, dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah reda akan mereka dan mereka pula reda akan Dia, serta Ia menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar. (9:100)
6. Mengingat hari Akhirat
Mengingat hari akhirat akab selalu membuat kita waspada. Kembali ingat bahwa dunia sementara dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan akhirat. Dengan mengingat akhirat yang menjadi tujuan kita, in-syaa Allah hati dan fikiran menjadi kembali fokus untuk mempersiapkan diri kita menghadapi hari akhirat dengan beramal sholeh sesuai ajaran Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
7. Berteman dengan teman-teman yang sholeh.
Teman yang sholeh akan selalu mengingatkan kita jika kita lalai. Dengan berteman dengan teman-teman yang sholeh, in-syaa Allah kita tidak tergelincir pada jurang maksiat. Karena teman-teman yang sholeh ini akan selalu mengingatkan kita untuk tetap istiqomah berada pada jalur yang benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 
       🍃📚🍃
✏📒  Group Stranger Akhawat

Read Full Post »

Older Posts »