Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2013

Menurut informasi radio RRI, hotel dan vila di puncak bogor sudah penuh untuk sambut tahun baru, jadi yang masih mau kesana juga bawa saja vila masing2. Segitunya mau tahun baru, padahal cuma mau ganti kalender. Apapun aktivitas yang penting tidak maksiat kepada Allah swt.

Read Full Post »

Subhanallah …hari ini saya sungguh menikmati mobilisasi diri dengan menggunakan angkot. Diawali dengan naik S14 jurusan Lebak Bulus,  saya beruntung bisa duduk di sebelah supit sehingga bisa menikmati membaca majalah Tarbawi.

image

Majalah ini sungguh sangat piawai menyajikan artikel bermutu tinggi dan menggunakan gaya bahasa dan kosa kata yang kaya sehingga bisa menukik ulu ati. Tanpa saya sadari airmata saya meleleh saat membaca kisah Hugh yg diberi hidayah Allah menjadi muslim melalui Al Quran. Saya menangis bukan kagum terhadap kehebatan Al Quran yang memang sudah sepenuhnya saya yakini namun lebih kepada penyesalan mendalam karena telah puluhan tahun mengenal Al Quran tapi belum mengamalkan secara maksimal seperti yang dialami Hugh yang menbaca Al Quran sejauh setengah kitab dan merasakan manfaat dahzyatnya. Subhanallah …

Setelah melintas jalan tol Simatupang dengan Agra Mas,  saya melanjutkan perjalanan dengan Mikrolet 112 jurusan
Depok. Pak supirnya sudah berumur dab sabar sekali saat nyupir sehingga saya menikmati perhalanan hingga Rumah Sakit Bunda di jl. Margonda untuk menjenguk sahabat saya Aryawan yang sedang dirawat di situ sejak Selasa lalu terkena demam berdarah. Sebelum turun saya sempat mendoakan Bapak supir ini agar selalu diberi keberkahan dalam hidupnya. Aamiin.

image

Bapak supir yang sabar

Perjalanan pulang dari depok saya sempat mampir shalat Ashar si masjid Baitul Muttaqin di kawasan Cijantung. Sudah lama saya ingin mampir ke masjid ini dan baru sekarang sempat. Alhamdulillah ….

image

image

image


Memang sikap orang berbeda-beda ya dengan profesi yang sama di bidang angkot di perjalanan pulang saya ketemu perilaku kurang menyenangkan. Pertama adalah kondektur bus Mayasari bakti AC 17 jurusan Poris yang berlagak pilon menganggap saya turun di Poris padahal di awal sudah saya sebutkan, uang kembalian saya kalau gak ditagih gak bakal dikembalikan. Gak amanah banget. Kedua adalah supir angkot 08 lebak bulus – bintaro yang ngetemnya luar biasa lama dan begitu angkot jalan nyupirnya seperti orang kesurupan dan membuat penumpang pada ketakutan.

image

Ngetemnya lama banget, tapi pas jalan ngebutnya seperti orang kesurupan ...

Read Full Post »

Bowo,  Satya, Sis, Chairul , Gatot.

Tikum: Rumah Satya.

Ancer2 rumah Satya:

image


Gowez bareng:

image

image

image

image

image

Read Full Post »

Pagi ini berangkat ke Sentul untuk acara gowes bareng TI 79, mendapati minibus A 1379 CL membuang sampah seenaknya di Jl. Pesanggrahan Raya. Tega nian ….

image

Read Full Post »

image

Sehabis gowes sejak pagi tadi di kawasan Sentul,  pulangnya saya shalat di masjid Jami Al Munawaroh,  Sentul City. Masjidnya unik dati segi desain yang mencerminkan miniatur sebuah kuncup bunga raksasa. Sepertinya masjid ini masoj sekitar beberapa bulan saja beroperasi karena terlihat baru,  dengan konsep semuanya serba terbuka.

Karena hari Sabtu,  Dzuhur tadi banyak sekali yang shalat di masjid ini karena banyak yang berlibur di Jungle Land. Yang menarik,  bada shalat berjamaah ada acara tusyiah singkat tentang makna dan pentingnya shalat berjamaah di masjid pada awal waktu (BMW).

Satu hal yang menjengkelkan dari masjid ini adalah TRMPAT PARKIR yang didesain begitu buruk karena tak memperhitungkan alur mobil masuk dan kekuar dengan baik alias buntu di ujungnya. Ono menyulitkan sekali,  apalagi petugas parkir hanya tersedia saat shalat usai. Itupun tidak becus mengelola arus mobil masuk dan keluar. Menyulitkan dan membuat frustrasi jamaah. Rupanya ini belum diperhatikan oleh pengurus masjid. Hal ini harus diperhatikan agar tak terjadi kemacetam di halaman parkir masjid.

image

image

Jamaah masjid yang sebagian besar pengunjung tempat wisata

image

Read Full Post »

Hukum Musik (6)

Herwinto

Selanjutnya kita nukilkan perkataan Ibnu Hazm yang begitu arif dalam mengambil solusi, ketika menyanggah pendapat orang orang yang mengharamkan nyanyian. Ibnu Hazm berkata : ‘Mereka berhujah dengan mengatakan, ‘Apakah nyanyian termasuk kebenaran? padahal tidak ada yang ketiga? (selain kebenaran dan kesesatan) dalilnya firman Allah….maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan….(QS Yunus : 32). Maka jawaban saya (Ibnu Hazm) mudah mudahan Allah memberikan taufiq, bahwa Rosulullah SAW bersabda : Sesungguhnya amal itu tergantung niat dan tiap tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa mendengarkan nyanyian dengan niat mendorongnya berbuat maksiyat kepada Allah maka ia fasik demikian juga terhadap selain nyanyian (contoh, Sholat berniat riya’ maka ia berdosa jatuh dalam syirik meskipun amalnya adalah sholat ) dan barangsiapa mendengarkan nyanyian dengan niat untuk menghibur hatinya agar bergairah dalam beribadah kepada Allah dan menjadikan dirinya rajin dalam melaksanakan kebaikan, maka ia adalah orang yang taat dan baik dan perbuatannya itu termasuk dalam kategori kebenaran, dan jika ia mendengarkan nyanyian tidak berniat untuk maksiyat maupun tidak untuk taat maka itu termasuk perbuatan sia sia yang dimaafkan sebagaimana orang yang pergi ke taman sekedar rekreasi atau orang yang duduk di depan rumahnya sambil membuka kancing baju (ngisis, jawa), orang yang mencelup kain bajunya untuk mengganti warnanya atau orang yang duduk sambil melipat atau meluruskan kakinya dan yang sejenisnya (Al Muhalla). Sebagai penutup dari ulasan ini maka bisa kita simpulkan beberapa hal, 1. Para ulama bersepakat terhadap haramnya nyanyian yang berisi lirik lirik sesat, syirik, mengajak durhaka kepada Allah, mempertanyakan Allah, tentang pujian kepada khamr dan pergaulan bebas sebab ini masuk dalam kategori memalingkan dari keimanan. 2. Para ulama berbeda pendapat terhadap nyanyian yang tidak mengandung unsur unsur diatas, ada yang mengharamkan dan ada yang menghalalkan. 3. Para ulama yang menghalalkan nyanyian bersepakat bolehnya pada saat saat tertentu ketika hari raya, walimah, menyambut kepulangan seseorang dan berbeda pendapat tentang bolehnya disetiap waktu dan kesempatan. 4. Pendapat yang lebih kuat adalah seperti yang dipegang oleh Ibnu Hazm bahwa nyanyian dan musik halal disetiap waktu tanpa terikat dengan hari hari tertentu. 5. Nyanyian dan musik yang dihalalkan terikat dengan syarat syarat hukum syar’i dan sopan santun Islam, yakni lirik tidak mengandung unsur maksiyat dan syirik, penyanyi tidak boleh membangkitkan birahi baik dalam suara, pakaian, tingkah dan gaya. 6. Pendengar ketika mendengarkan terjamin bebas dari maksiyat, campur baur laki laki dan perempuan, khamr, tidak melalaikan kewajiban kepada Allah dan agama. 7. Hendaknya setiap muslim menjadi mufti bagi dirinya sendiri sendiri tentang kebutuhannya akan nyanyian dan musik, kapan dia harus berhenti dan kapan harus berjuang membebaskan diri dari keterlenaan akan hiburan, tidak sepantasnya seorang muslim menghabiskan waktunya untuk hal hal yang tidak bernilai akhirat sepanjang waktu sebab hidup bukan untuk hiburan namun untuk beribadah kepada Allah. Juga tidak sepantasnya seorang muslim menghabiskan waktu, dan juga hartanya hanya untuk melihat konser konser musik apalagi sampai ke luar negeri sebab shafar yang didalamnya terdapat rukhsah untuk berbuka, shalat jama’ dan qashar hanya untuk shafar yang syar’i yakni berjihad, melaksanakan haji dan umrah, menuntut ilmu, berdagang (kerja), bersilahturahim kepada saudara atau kerabat, sahabat atau ulama. Inilah yang nampak pada hadist hadist diatas bahwa Rosul dan para sahabat terkesan jauh dari nyanyian karena memang Rosul dan para sahabat adalah orang orang yang selalu sibuk dengan akhirat, berdakwah, berjihad, menuntut ilmu sehingga hiburan terkesan remeh dan tidak penting sebagaimana mereka juga menganggap remeh masalah perut yakni pesta, makan makan, banyak tidur dan hal hal kenikmatan dunia yang lain. 8. Jika para ulama kontemporer begitu keras dalam mengharamkan nyanyian karena memang kondisi jaman yang semakin jauh dari kehidupan para sahabat nabi dan ahlul ilmi dan telah nampak kerusakan akhlaq dan moral di kalangan generasi muda. Demikianlah mazhab yang saya pegang/ ikuti berkaitan dengan nyanyian dan musik yang tentunya akan banyak perbedaan pendapat dikalangan saudara muslim yang lain, saya memohon taufiq kepada Allah agar memberikan jalan yang lurus kepada saya. Amiin…

Read Full Post »

Hukum Musik (5)

Herwinto

Sekarang kita masuk pada pembahasan keharaman alat musik yang dalilnya adalah hadist hadist nabi SAW. Namun sebagaimana saya sebutkan terdahulu bahwa dalil dalil keharaman nyanyian dan musik kadang shahih namun tidak sharih seperti QS Lukman ayat 6, jelas shahih namun tidak sharih (multi tafsir), demikian juga hadist hadist Nabi SAW tentang larangan musik ini sharih namun kesahihannya semuanya memiliki cacat, tak ada satupun yang terlepas dari celaan, baik mengenai tsubut (periwayatannya), maupun petunjuknya bahkan bisa kedua duanya. Al Qadhi Abu Bakar Ibnu Arabi mengatakan dalam kitabnya Al Hakam : Tak ada satupun hadist shahih yang mengharamkannya (nyanyian dan musik), demikian juga perkataan Imam Ghazali dan Ibnu Nahwi dalam Al Umdah, Ibnu Hazm bahkan menyatakan ‘ Semua riwayat mengenai pengharaman musik dan nyanyian itu batil dan palsu’. Banyak hadist tentang larangan nyanyian dan alat musik namun semuanya baik matan maupun sanadnya tidak selamat dari kegoncangan (Idtirab) sehingga tidak perlu saya nukilkan disini hadist hadist tersebut sebab telah gugur menjadi landasan pengharaman musik, namun ada beberapa hadist yang saya tuliskan sebelumnya perlu saya sampaikan disini mengingat hadist hadist inilah yang menjadi dalil utama pengharaman musik yakni 1. Kelak akan ada dari umatku yang menghalalkan perzinahan, sutra, khamr dan alat musik (Riwayat Bukhari), hadist ini terdapat didalam shahih Bukhari sehingga banyak kalangan yang meyakini hadist ini adalah hadist shahih, meskipun hadist ini terdapat dalam shahih Bukhari namun mu’alaq (sanadnya terputus) dan Nashiruddin Al Albani ulama hadist abad ini telah memasukkannya kedalam kelompok hadist dha’if, lihat Silsilatu Hadist Dha’if dan Maudhu’ jilid 1. Sekarang kita andaikan hadist ini selamat dari celaan (karena ada yang bersikukuh hadist ini shahih) perkataan ‘Al Ma’azif’ pada hadist tersebut masih sangat umum, dan tidak ada kesepakatan dari para ulama untuk mengartikannya sebagai alat musik, namun masih sangat umum sebagai sesuatu yang melalaikan/ permainan sia sia, kalaupun diartikan sebagai alat musik, alat musik yang seperti apa karena faktanya pada jaman Rosul sendiri banyak alat musik tabuh/genderang/rebana dan Rosul tidak melarang, juga Sahabat Rosul dan penduduk madinah ada yang memiliki gitar dan biola sebagaimana akan saya nukilkan riwayatnya nanti. Inilah pendapat yang dianut Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hazm, Abu Hatim, Ad Dzahabi, Ibnu Hajar Al Asqalani. Demikian juga bila kita melihat matan hadist tersebut kata kata Al Ma’azif dikumpulkan bersama sama dengan hal hal yang sudah jelas keharamannya yakni zina, khamr dan sutra yang mengindikasikan bahwa pangharaman Al Ma’azif tidak secara umum namun memiliki kualifikasi tertentu dan syarat syarat yang mengikat sebagaimana hadist yang akan kita bicarakan berikutnya. 2. Sungguh ada dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan bukan khamr, kepala mereka bergerak gerak karena musik dan biduanita, semoga Allah menenggelamkannya kedalam bumi dan mengubah rupa mereka menjadi kera dan babi (Riwayat Ibnu Majjah). Hadist ini jelas menunjukkan kualifikasi tertentu dimana telah berkumpul hal hal yang menyebabkan seseorang keluar dari syariat, dan apapun kegiatan itu jika telah keluar dari syariat maka hukumnya haram, sebagai contoh seoarng laki laki yang belajar dengan seoarang wanita bukan mahramnya dan hanya berduaan maka ini haram meskipun kegiatannya adalah belajar. Inilah yang terjadi dimasa sekarang marak di kota kota besar bahwa para pejabat menikmati musik di kafe kafe sampai larut malam ditemani wanita wanita penghibur dan puluhan minuman keras yang melalaikan dari beribadah kepada Allah, pergaulan bebas, menghambur hamburkan uang, sehingga layak apabila para ulama kontemporer seperti syaikh Utsaimin dan syaikh Bin Baz begitu keras fatwanya dalam hal musik dan nyanyian karena faktanya demikian yang terjadi dimasa sekarang dan beliau Rahimahullah berpijak pada sikap wara’ dan kehati-hatian dalam melindungi umat dari fitnatussyahwat wa syubhat sebab begitu bahayanya musik apabila telah bercampur dengan hal hal yang jelas keluar dari syariat. 3. Hadist tentang Ibnu Umar yang mencontoh Rosulullah SAW menutup telinga ketika mendengar seruling justru merupakan dalil yang menghalalkan suara musik, sebab andaikan mendengar seruling adalah haram tentu Rosul juga meminta Ibnu Umar untuk menutupnya sebab perkara haram berlaku untuk siapa saja, mustahil Rosul membiarkan sahabatnya berdosa dan beliau SAW tidak berdosa, dan ketika Ibnu Umar meneladani sikap Rosul tersebut juga tidak meminta Nafi’ untuk menutup telinganya, sikap Rosul berpaling dari suara seruling adalah sikap zuhud dan wara’nya Rosul terhadap perkara dunia sebagaimana Rosul tidak makan sambil bersandar, tidak tidur diatas kasur, tidak pernah selama 3 hari berturut turut dalam keadaan kenyang, dan sikap sikap hidup beliau yang sangat menjauhkan diri dari nikmatnya dunia namun bukan untuk mengharamkannya. Sekarang akan kita nukilkan riwayat riwayat yang shahih tentang kehalalan nyanyian dan musik dan ini banyak sekali, cukuplah kiranya saya nukilkan dua riwayat yang shahih, 1. Abu Bakar pernah masuk kerumah Aisyah untuk menemui Nabi, saat itu ada dua gadis sedang menyanyi sambil menabuh rebana, Abu Bakar menghardiknya seraya berkata, Pantaskah ada seruling setan di rumah Rosulullah? Rosul menjawab, Biarkan wahai Abu Bakar sesungguhnya hari ini adalah hari raya. Riwayat ini terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim dan selamat dari celaan. Hadist ini cukup menjelaskan bahwa Nabi tidak mempersoalkan nyanyian dan musik, jika Abu Bakar mencela itu semata mata karena dia menghormati nabi, jangan sampai nabi terganggu dengan permainan permainan dirumahnya karena dia merupakan mertua nabi yang bertanggungjawab terhadap perilaku anaknya yakni Aisyah, hadist ini juga tidak bisa dijadikan dasar menghalalkan nyanyian hanya pada hari raya saja sebagaimana perkataan sebagian orang, sebab tak ada larangan nyanyian di luar hari raya dan sangat tak masuk akal suatu perbuatan haram menjadi halal ketika hari raya, perkataan nabi bahwa saat itu hari raya hanya menunjukkan bahwa pada saat hari raya kita boleh meluapkan kegembiraan lebih dari hari hari biasa. 2. Hadist tentang nadzar seorang budak yang bernadzar akan bernyanyi sambil memukul rebana jika Rosul pulang dari peperangan dengan selamat, terdapat dalam Nailul Authar riwayat Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad shahih dan menjadi pegangan Ibnu Taimiyah dalam menghalalkan alat musik pukul/tabuhan, apa jawab Rosul? ‘Jika benar engkau telah bernadzar lakukanlah, namun jika tidak, tak usah kau lakukan’. Padahal jelas Rosul dalam hadist hadistnya yang shahih melarang nadzar yang maksiyat, contoh kita bernadzar ‘saya akan minum khamr bila lulus ujian’ ini nadzar yang bathil. Perkataan Rosul ‘Jika tidak bernadzar tak usah kau lakukan’ karena Rosul memang tidak menganggap itu hal yang penting untuk dilakukan. 3. Hadist tentang pertanyaan Rosul kepada Aisyah ketika pernikahan sahabat Anshar, ‘Tidakkah ada padamu nyanyian, sungguh orang orang Anshar amat menyukai nyanyian’ ini terdapat dalam riwayat Bukhari dan Ahmad. Dari uraian diatas jelas apabila kita menganggap hadist hadist yang mengharamkan nyanyian dan musik adalah shahih ternyata ada riwayat riwayat yang membolehkannya tentu ini tidak bisa diadu, justru dibalik itu semua terdapat kualifikasi kapan nyanyian dan musik menjadi haram dan kapan menjadi boleh. Abu Manshur Al Baghdadi As Syafi’i meriwayatkan bahwa Abdullah bin Ja’far juga membolehkan nyanyian dan budak budaknya juga menyanyi dan beliau mendengarkan, ini terjadi di masa kekhilafahan Amirul Mukminin Ali r.a. juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah berkunjung ke rumah Ibnu Zubair dan mendapati Ibnu Zubair memiliki budak budak yang pandai menyanyi serta memiliki gitar maka Ibnu Umar bertanya ‘Apakah ini wahai sahabat Rosulullah?’ Ini mizan syamil (alat musik dari syam) dengan ini akal seseorang bisa seimbang’ jawab Ibnu Zubair, dan terbukti bahwa petikan petikan gitar dapat meningkatkan kecerdasan otak anak anak yang menderita autis. (Bersambung).

Read Full Post »

Older Posts »