Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2018

Sahabat-sahabatku yang baik … Maaf ini sekedar berbagi karena saya sungguh terkesan (bagi saya). Maaf juga kalau bagi sahabat2 di sini kurang mengesankan. Hari Sabtu pekan lalu (23/06/2018), saya menghadiri kajian di masjid Nurul Iman, Blok M Square oleh ustadz Maududi Abdullah. Lc. Ini adalah pertama kali saya mengikuti kajian beliau karena sebelumnya saya belum pernah denger nama beliau. Bagus banget kajiannya dan Alhamdulillah ada youtube nya. Saya sudah melihat (bahkan sampai 3x) padahal saya hadir juga secara langsung. Kalau ada waktu, sempatkan mengikutinya. Memang kudu sabar karena 2 jam (termasuk tanya jawab). Mengesankan sekali. Monggo, ini link nya:

Saya masih belum sempat meringkas karena saat mendengarkan beliau selalu pengen dengar terus dan pengen mengulang. Beberapa yang saya ingat karena penting:

1.) Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam oleh Allah Tabaroka wa Taala disebut sebagai manusia TERBAIK, contoh TERBAIktidak hanya dalam agama namun semua aspek kehidupan bahkan hal yang kelihatan remeh: cara BAB nya, cara tidurnya, cara makannya, cara minumnya, cara menjamu tamu sampai ke hal duniawi seperti berdagang (tak ada pedagang yang lebih hebat dari Baginda Rasul) dan sampai hal besar yaitu memimpin dunia. Maasya Allah .. Cara ustadz menyampaikan ini enak sekali, secara perlahan, santai dan pasti, tanpa ada keraguan sama sekali. Bener2 bikin saya JLEB!!!

2.) Tidak ada orang yang soleh kecuali yang sudah mati. Selama manusia masih hidup bisa aja di akhirnya dia tak soleh. Makanya kalau menentukan orang itu soleh atau tidak ya lihat matinya dia, apakah husnul khatimah (di atas ketaatan) atau suul khatimah. Setelah mati baru kita tahu dia orang soleh atau bukan. Trus belia memberi contoh ekstrim kisah orang yang telah membunuh 100 orang dan dikenal semasa hidupnya sebagai orang keji (bagaimana tidak? 100 orang telah ia bantai!). Toh di akhir hidupnya ia bertaubat dan Allah memasukkannya dalam surgaNya. Maasya Allah ….!!! Trus ada kisah remaja di pekanbaru yang ahli surga dan wafat dalam ketaatan. Selain tentunya kisah sahabat yang sudah pasti soleh. Intinya: kalau ada ulama dianggap soleh, harus kita lihat nanti di akhir hayatnya.

3.) Cita2 kita semuanya sebagai mukmin sama: wafat di atas ketaatan. Untuk meraihnya maka kita harus membangun kebiasaan-kebiasaan agar saat sakaratul maut kita dalam ketaatan. Hal ini bukan mudah, sulit sekali, karena iman kita naik-turun. Tapi kita harus membiasakan dengan hal-hal yang bisa menyebabkan kita mati di atas ketaatan. (Ustadz Maududi menyampaikan ini dengan meyakinkan sekali — simak sendiri youtubenya).

4.) Maqom tertinggi seorang mukmin adalah bila iya sendirian tetap dalam takwa, di atas ketaatan kepada Allah. Ini sulit sekali. Kalau memang takut berbuat maksiat kala sendiri, cepat keluar dari rumah dan masuk ke mesjid. Mohon perlindungan dari Allah Tabaroka Wa Taala agar dijauhkan dari maksiat. Pada saat melihat aurat lawan jenis di layar televisi atau gadget segera hadirkan kobaran panas api neraka. Hal ini benar adanya karena neraka itu panas sekali dan adzab Allah sangat pedih dan tak terbayangkan oleh kita saat ini.

Masih banyak lainnya …

Advertisements

Read Full Post »

Dua syarat mutlak agar ibadah kita diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Bila salah satu atau keduanya tak dipenuhi, sudah jelas tertolak. Bila ikhlas namun tak mengikuti semua yang diperintahkan atau yang dilarang dan dibenarkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, tertolak. Demikian juga sebaliknya.

Semoga kita bisa memenuhi dua syarat mutlak ini. Aamiin Ya Rabb … Aamiin.

syarat diterimanya ibadah 28jun2018-1207082588..jpg

Cara mengujinya begini, mungkin:

  1. Masalah IKHLAS itu adalah ibadah hati, hanya Allah subhanahu wa taala dan pelakunya yang tahu apa sebenarnya niatnya beribadah: apa benar karena Allah atau karena manusia (ingin terlihat soleh, ingin menang dalam pilkada, ingin agar mertua senang, dsb.). Kita (manusia) tak bisa menilai keikhlasan seseorang karena kita tak bisa melihat apa yang ada di dalam dadanya. Namun Allah Mahatahu.
  2. Tentang ITTIBA’ paling mudah diamati sehingga bisa diuji:
    1. Apakah yang dilakukan diperintahkan oleh Rasul? Bila ya, OK.
    2. Apakah yang dilakukan dilarang oleh Rasul? Bila ya, tertolak – karena Rasul telah melarangnya. Misal: menyembah kuburan, meminta ridha dari mayit.
    3. Apakah dibenarkan oleh Rasul? Bila ya, OK. Misalnya shalat, apakah telah mengikuti sifat shalat Rasul? Bila ya, OK.

“Tapi ini kan bagus …kita kan melakukan perintah Rasul untuk ziarah kubur.”

–> Ziarah kubur OK dengan tujuan untuk mengingat kematian (karena kita PASTI mati) dan mendoakan si mayit namun BUKAN minta ridha dari mayit.

“Dalam ziarah kubur kita mendoakan mayit juga”

–> Bagus. Namun, mendoakan mayit bisa dilakukan dimana saja (kecuali di dalam toilet). Tujuan utama ziarah kubur masih harus pada “mengingat kematian”. Sesudah itu mendoakan mayit, tidak masalah.

“Ini kan menjelang Ramadhan, bagus lah ziarah kubur”

–> Emang gak ada waktu lain? Emang ada perintah Rasul mengkhususkan waktu tertentu untuk ziarah kubur. Kagak ada. Ya udah, gak usah ziarah kubur dikhususkan pada hari tertentu, kapan saja bisa. Lagian, bikin macet aja!!!

“Tahlilan kok dilarang?”

–> Siapa bilang dilarang? Justru dianjurkan –> Kalau yang dimaksud adalah mengucapkan kalimat tahlil  (Arab: التهليل at-Tahliil) adalah bacaan kalimat tauhid, yaitu kalimat Lā ilāha illa l-Lāh (لا إله إلا الله, Tiada tuhan selain Allah) tidak masalah bahkan bagus. NAMUN kalau ini dikaitkan dengan SELAMATAN untuk mendoakan mayit, apalagi pada hari-hari tertentu seperti malam pertama, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 bahkan ke-seribu seperti tradisi masyarakat, kita perlu uji dulu:

Apakah diperintahkan oleh Rasul? Tidak. Tak pernah ada riwayat dari Rasul ketika sahabat wafat dalam perang Uhud, badar dan perang lainnya yang kemudian Rasul menyelenggarakan selamatan pada hari-hari tertentu. Nah, karena TIDAK ADA perintah dari Rasul, ini artinya ibadah yang tertolak.

Mendoakan mayit tak harus pada hari tertentu, bahkan setiap saat bisa. Kenapa musti hari ke-1, ke-3, ke-7 dan seterusnya?

Wallahua’lam.

 

 

Read Full Post »

Ini sebenarnya saya peroleh dari WA Group. Sebagai catatan.

Read Full Post »

Shahih Bukhari no. 41 versi hard copy cetakan penerbit Almahira. Sayangnya di google tak ditemukan matan ini.

Read Full Post »

Ramadhan 1439H ini sangat istimewa bagiku dan sudah sepatutnya aku bersyukur karena selama satu bulan penuh aku diliburkan oleh Allah untuk urusan pekerjaanku sebagai konsultan. Selama satu bulan penuh, aku hanya satu kali keluar rumah (agak jauh) yaitu ke kantor Indosat pada tanggal 22 Mei 2018 saja. Itupun bukan untuk urusan pekerjaan, namun menghadiri kajian bada Dzuhur oleh Aa Gym. Sebuah kajian yang menyenangkan dan mengesankan — aku sudah buat ringkasannya dalam satu halaman format JPG. Rasanya aku sudah share di grup ini. Kalau belum, nanti aku share lagi karena semua ringkasan format JPG lengkap aku simpan.

Alhamdulillah semua tarawih aku ikuti di masjid. Memang sih, ini ibadah sunnah namun hukumnya muakkadah (sangat ditekankan) maka aku gak tinggalkan barang satu malam pun dan selalu di masjid. Kenapa? Ini gara2 semangat ustadz Syafiq Riza Basalamah dan ustadz Subhan Bawazier yang semangat sekali menganjurkan kita shalat tarawihnya di masjid — ada hadits dimana mengikuti sampai Imam selesai witir di masjid pahalanya sama dengan shalat semalam suntuk. Maasya Allah … Siapa tak tergiur dengan pahala shalat semalam suntuk? Seumur hidup aku belum pernah melakukan shalat semalam suntuk! Ini hanya disuruh ikut shalat berjamaah di masjid, paling lama secara total hanya butuh waktu 2 jam, masak ndak mau? Rugi besar!!! (Rasanya aku baru ngeh tentang hadits ini baru di Ramadhan 1439H ini — mungkin sebelumnya pernah disampaikan utadz lain, namun aku baru aja “ngeh” tahun ini. Astaghfirullah….!)

Awal hingga pertengahan Ramadhan hampir selalu aku isi dengan berdiam di masjid setelah Shubuh hingga syuruq, kemudian shalat 2 rakaat — semoga mendapat pahala umrah dan haji penuh. Aamiin. Setelah syuruq, aku pulang, terus tidur sampai jam 10 atau 11. Bangun, langsung buka laptop bikin ringkasan kajian tarawih dalam format PPT yang aku transfer ke JPG supaya mudah disebarkan. Bada Dzuhur aku gunakan buat baca Quran dan tafsir (melalui online, bukan buku) karena aku udah pasang aplikasi https://tafsir.learn-quran.co/id (apik tenan, memahami Al Quran dengan tafsir Ibnu Katsir – akan dikembangkan juga tafsir lainnya. Situs ini asik, anak muda yang mengembangkan) di HPku.

Bada Ashar, aku gunakan untuk bersepeda mengeliligi masjid di Selatan hingga Bintaro Sektor 5 (Masjid An-Nashr) sekalian bagi-bagi Quran, sarung atau kurma. Ini kegiatan yang amat aku suka karena memang aku menikmati sekali bersepeda dan ….kalau Ramadhan menjelang buka puasa aku suka sekali melihat kesibukan orang menyiapkan buka puasa: antri beli gorengan, kolak, es kelapa muda dan sebagainya. Indah sekali melihatnya. Dinikmati sambil gowes santai mengunjungi beberapa marbot masjid. Menjadi Marbot Masjid itu pekerjaan mulia dan sangat tinggi nilainya di sisi Allah, kenapa kita (terutama aku) tidak bercita-cita jadi marbot masjid ya? Ah ….kepikiran juga. Namun maunya IKHLAS karena Allah taala dan tak mengambil “upah” dalam pekerjaan sebagai marbot ini. Maksudnya, kita punya passive income, trus pekerjaan sehari-hari sebagai marbot. Ingat lho, pahala saat mengumandangkan adzan itu sejauh jangkauan suara adzannya. Maasya Allah!!!! Kenapa kita gak bercita-cita jadi marbot masjid????

Kalau mengunjungi masjid di sore hari, aku gak hanya pada masjid besar, bahkan mushalla kecil di samping klinik Yadika dimana aku dulu pernah shalat Isya di situ saat mengantar istri periksa ke UGD Klinik Yadika. Duh …mengharukan sekali justru di masjid atau mushalla yang terpencil, masuk gang. Bukan apa-apa, marbotnya kelihatan sumringah sekali dikunjungi. Mereka seneng sekali sore hari saat mereka bersih2 pelataran masjid buat shalat tarawih malamnya, tahu2 ada orang datang yang mengapresiasi pekerjaan mereka. Maasya Allah. Senyum tulus dan sumringah. Seneng melihat pekerjaan mereka. Mereka kemudian menawarkan untuk buka puasa di mushalla tersebut; namun aku selalu bilang “masih ingin keliling ke masjid / mushalla sebelah — lain kali mungkin”.

Sayang aku gak ngitung berapa banyak mushalla atau masjid aku kunjungi. Bahkan aku sampai juga ke masjid di gerbang tol Ciledug dimana banyak sekali orang shalat di situ, istirahat dalam perjalanan. Marbotnya sangat happy ketika aku datang sekedar memberi kurma untuk orang buka puasa. Maasya Allah , beliau menawari saya buka di situ dan tarawih di situ. Karena banyak masjid yang harus aku kunjungi , aku gak ada yang sanggupi karena 95% tarawih aku kerjaan di masjid sebelah rumahku (Masjid Jami Nurul Ikhlas). Suatu malam memang aku tarawih di masjid Al Ihsan – Kodam Bintaro, naik sepeda, 2 KM dari rumah, sekedar untuk variasi.

Mengapa sedekah sarung? Begini …. kalau sarung itu dipakai untuk shalat BMW (berjamaah di masjid di awal waktu) tentu kita dapat pahalanya bukan? Belum lagi kalau dipakai shalat sunnah lainnya, apalagi shalat tahajjud. Untuk itu aku mengamati siapa2 oarng yang rajin ke masjid dan selalu pakai sarung kalau ke mesjid (soalnya ada 1 orang yang gak pernah pake sarung, karena dia naik sepeda ke mesjidku). Orang2 itu lah “target market” ku. Bagaimana agar sarungku kepake, karena rata2 mereka punya 4-5 sarung untuk shalat? Berarti sarung yang aku kasih harus bisa bersaing dengan 4 atau 5 sarung lain yang ia miliki bukan? Berarti harus kasih sarung yang “berkualitas” jangan yang kodian. Alhamdulillah, strategi ini berhasil …bahkan hingga kini (10 Syawal) setiap ke masjid ada saja 1 atau 2 orang yang menggunakan sarung ku dan beberapa dari mereka malah bilang ke aku :”Ini sarung dari pak Gatot” — aku langsung berdoa “Ya Allah …berilah aku pahala dari solehnya bapak Fulan ini … Aamiin”. Diamini juga oleh Pak Fulan. Seneng banget!!!
Ustadz2 pilihan yang memberikan ceramah “sunnah” (ada dalil Quran dan hadits nya) juga sebagai target marketku. Kalau ustadz yang gak sunnah, gak aku kasih, karena takut banyak melakukan bid’ah.

Mengapa sedekah mushaf Quran? Kalau ini aku belajar dari DKM Masjid yang bilang bahwa beliau ikhlas kalau ada Quran di masjid hilang karena pasti yang mencuri punya niat membaca Quran. Mana mungkin Quran dipakai buat bungkus kacang? Kalaupun dia jual, toh Quran itu masih bermanfaat bagi yang membelinya. Wah ….bener juga!!!! Aku fokuskan Quran yang ada terjemahan per kata, beli banyak dari Bukalapak (murah, jatuhnya hanya Rp. 40.500,- per musaf) versi Al Hidayah ukuran A5. Enaknya belanja di BL kita bisa pilih mana yang termurah dan deliverynya paling cepat dan aman (pakai GRAB Instan cuma Rp. 12 ribu). Quran nya bagus sekali …bahkan sebagian aku wakafkan di masjidku dan aku sering pakai juga di masjid tersebut. Aku sendiri malah tak menyisakan buat aku karena aku lebih sering baca Quran via HP.

20 menit sebelum Maghrib aku targetkan sudah di rumah dan udah mandi, kemudian siap untuk berdoa, karena ada ulama mengatakan (Syaikh Ibnu Taimiyah) bahwa doa sebelum maghrib saat puasa itu kemungkinan besar diijabah Allah Taala. (meski sebenernya doa orang yang berpuasa itu semua diijabah Allah sih …tak tergantung waktu). Dari Maghrib ke Isya, itu sempit waktunya karena saat tarawih targetku harus shaf unta (terdepan). jadi, 10 menit sebelum Isya aku harus sudah duduk “nyenuk” di shaf terdepan. Setelah Tarawih, aku pulang, membuat ringkasan kajian tarawih dalam format JPG. Dilanju baca Quran atau menghafal doa-doa baru. Asik sekali.

Akhir Ramadhan (10 hari terakhir) – GAS POL!!! Aku siapkan betul buat itikaf di masjid bahkan saat malamnya aku gak pernah tidur; geber baca Quran dan kadang baca tafsir. Qiyyamul lail aku pergunakan sekaligus buat menghafal beberapa ayat. Tahun ini itikafku dengan peralatan khusus: music stand yang basa dipakai pemusik buat menaruh partitur. Aku sengaja foto copy beberapa halaman Quran besar ke ukuran A3 kemudian aku jembrengkan di music stand sehingga huruf hijaiyah nya bisa terbaca saat berdiri shalat. Dulu biasanya aku pake HP. tapi kan perlu satu tangan memegang HP. Kalau pake music stand, tangan bisa sedakep seperti shalat biasa. Padahal Qurannya dibaca (bukan sudah dihafal). Aku baru tidur setelah syuruq. Kali ini tidurnya pol sampai 10 menit sebelum Dzuhur. Setelah Dzuhur baca lagi Quran hingga Ashar dan hingga Maghrib. Itikaf di masjidku lumayan rame, sekarang bisa mencapai 50 orang, bahkan malam ganjil bisa 70 orang. Lima tahun lalu masih sepi, maksimum hanya 10 orang. Bahkan sebelumnya gak ada itikaf, aku sendiri ….he he he …. Alhamdulillah sekarang itikaf rame. Maasya Allah. Kesuksesan dakwah.

Itikaf paling mengesankan justru di malam 29 karena sedih, tak lama lagi Ramadhan pergi tanpa pamit ke kita: tak ada lagi pemandangan sore orang beli gorengan atau kolak, tak ada lagi tarawih, tak ada lagi semalaman suntuk baca Quran dan qiyyamul lail di masjid …. wah sedih sekali. Justru di malam terakhir ini bener2 pol gak tidur. Ohya setiap itikaf aku selalu bawa kopi tubruk dari rumah dan dimasukkan di tumbler sehingga tetap hangat saat dini hari. Maasya Allah …inilah kenikmatan luar biasa bulan Ramadhan … Semoga Allah mempertemukan kita di Ramadhan 1440H dan selanjutnya …. Aamiin.

GW – 11 Syawal 1439H (24 Juni 2018 jam 22:20)

Read Full Post »

Doa Memohon Kesabaran QS Al-A’raf 126:

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”.

Catatan:

Bino

Read Full Post »

Maasya Allah … Indah sekali dialog ini. Mari kita resapi dengan benar pada saat membaca surat Al-Fatihah yang agung ini … In syaa Allah.

Dialog Al-Fatihah 22Jun2018

Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.

Apabila hamba-Ku membaca … Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman …
Alhamdulillahi rabbilalamin.”

Ar-rahmanir Rahiim.”

Maaliki yaumid diin.”

Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in

Ihdinashirathal mustaqiim. Shirthalladzii-na an’amtaalaihim ghoiril ma’dhzuubialaihim waladhaalliin

“Hamba-Ku memuji-Ku.”

“Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”

“Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”

“Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”

“Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”

Jangan tergesa-gesa saat membaca Al-Fatihah.

Hadits Qudsi – HR. Ahmad 7291, Muslim 395

Read Full Post »

Older Posts »