Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2010

Pada saat kunjungan saya ke Madiun bulan November 2009 yang lalu, sebenarnya saya ingin sekali mengunjungi, bersilaturahim dengan Pak Kasno, seorang guru SD Negeri Guntur, Madiun ketika saya sekolah di SD tersebut tahun 1967 sd 1972. Lebih tepatnya dari segi waktu adalah tahun 1971 – 1972 karena saat itu saya sudah kelas 5 dan 6 SD dan Pak Kasno memang mengajar pada kelas tersebut. Telah lama saya mencoba mencari alamat beliau termasuk melalui teman-teman saya yang masih tinggal di Madiun.

Hari ini, seorang teman yang sebetulnya adik kelas saya, Atty Suharyanto, mengabarkan bahwa ternyata Pak Kasno telah wafat cukup lama. Saya mendadak sedih karena belum sempat bertemu dengan beliau lagi sejak saya lulus dari SD tersebut sampai sekarang.Saya juga sedih mengapa saya baru tahu sekarang ini mengenai kabar wafatnya beliau ini.

Bagi saya, Pak Kasno telah menorehkan kesan yang sangat mendalam hingga tidak bisa saya lupakan sampai saya sudah menginjak usia lima puluh tahun ini. Pada jaman itu seorang guru SD mengajar semua jenis pelajaran, namun yang masih terkesan pada saya pak Kasno adalah guru Berhitung yang luar biasa.

Mengapa Pak Kasno?

Sekurangnya ada tiga hal penting yang saya ingat terkait dengan pak Kasno ini. Pertama, pada saat saya kelas 5 SD, beliau sedang mengajar kelas saya. Saat itu saya duduk sebangku dengan teman saya bernama Sidik di deretan bangku paling belakang. Sidik ini berperawakan sedang dan berkulit putih, pendiam. Pada saat murid diberi tugas oleh Pak Kasno, saya tiduran di bangku sekolah, di dekat Sidik. Sedang enak-enak nya saya tiduran, tahu-tahu paha saya diseplek (dipukul – red.) dengan penggaris 30 cm yang terbuat dari kayu. Rupanya, tanpa saya sadari, pak Kasno setelah memberikan tugas ke murid kemudian beliau berjalan ke arah belakang. Saya lupa persisnya apa yang dikatakan oleh Pak Kasno, namun beliau marah sekali ke saya karena tak mengerjakan tugas yang ia berikan dan malah saya tiduran. Saya malunya bukan main, apalagi pak Kasno kemudian memindahkan tempat duduk saya dari yang paling belakang ke deretan paling depan dan teman sebangku saya adalah murid perempuan. Wah, malunya bukan main. Pada jaman tersebut, kalau ada siswa yang diatur duduknya sebangku dengan perempuan, pasti murid yang nakal. Kena “setrap” istilahnya. Saat itu saya kesal sekali sama Sidik, temen sebangku saya, yang tak mau memberi tahu kalau pak Kasno sedang berjalan ke belakang, ke deretan bangku paling belakang. Tapi apa boleh buat, saya sudah ketahuan sedang tiduran di kelas dan saya mendapatkan hukuman dari beliau. Kebetulan lagi, nilai-nilai rapor saya dari kelas 1 sampai dengan kelas 5 mengecewakan. Lengkaplah saya mendapatkan predikat anak yang bodoh dan nakal.

Kedua, pada saat kelas 6 SD saya mengalami peningkatan drastis dalam hal prestasi. Yang tadinya saya akrab dengan nilai 4 atau 5, pada saat kelas 6 saya mendadak bresprestasi. INi semua gara-gara tidur siang. Lho? Apa hubungannya. Dari kecil sampe kelas 5 SD saya paling suka main kelereng dan main otopet. Saya paling malas belajar dan sepulang sekolah selalu main tak pernah tidur siang. Saat kakak saya tertua yang tinggal di Jakarta pulang ke Madiun, saya dinasehati supaya selalu tidur siang supaya malamnya bisa belajar. Bener juga, setelah saya rutin tidur siang dari jam 13:00 sd 16:00 dilanjut dengan siram-siram tanaman di halaman depan rumah, malamnya saya bisa baca-baca buku. Hasilnya, setiap ada tugas dari Pak Kasno, saya selalu mendapatkan nilai tebaik. Pak Kasno pun heran mengapa saya mengalami peningkatan prestasi drastis. Yang saya masih ingat, sebelum jam pulang sekolah murid-murid kelas 6 diberi beberapa soal oleh Pak Kasno dan yang selesai duluan dan benar, boleh pulang. Hampir setiap hari selalu saya yang pulang paling duluan. Kepercayaan diri saya semakin meningkat karena saya selalu tercepat mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh Pak Kasno. Pak kasno berubah perlakuannya kepada saya, menjadi menyukai saya dan suka memuji prestasi saya.

Ketiga, pada saat menjelang bulan Agustus, saya dipercayai oleh Pak Kasno untuk menjadi Komandan lomba baris-berbaris dalam rangka Agustusan di Kodya Madiun. Kepercayaan diri saya semakin meningkat karena pak Kasno begitu besar kepercayaannya kepada saya untuk bisa mengimandani teman-teman saya. Saya juga merasa dihormati dengan perlakuan pak Kasno ini. Teman-teman saya pada meledek bahwa saya jadi ‘anak emas’nya Pak Kasno. Meski tim kami tak memenangkan lomba, namun pemberian kepercayaan Pak Kasno kepada saya dalm lomba baris-berbaris tersebut memberikan kesan luar biasa kepada saya bahwa ternyata ‘saya bisa dipercayai’ oang yang saya kagumi profesinya sebagai guru, dan juga pandai.

Tiga hal tersebut tak akan pernah saya lupakan dari diri seorang guru yang luar biasa, Pak Kasno, yang selalu mengingatkan saya untuk selalu tegar menghadapi cobaan-cobaan kehidupan ini. Tanpa saya sadari, mata saya berkaca-kaca saat menulis ini mengingat jasa besar pak Kasno. Sehabis shalat Ashar tadi saya berdoa untuk beliau agar Allah memberikan tempat mulia di surga. Selamat jalan pak Kasno. Dintara kita hanya ‘waktu’ saja yang membedakan. Suatu hari, saya akan menyusul Bapak juga.

Wass,

G

Advertisements

Read Full Post »