Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Life Experience’ Category

Saat tadabbur surat Ali Imran ayat 132 dari Ibnu Katsir Online saya mendapatkan ini (copas) :

Telah diriwayatkan kepada kami di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, bahwa Heraklius pernah menulis surat kepada Nabi Saw. yang isinya menyatakan, “Sesungguhnya engkau telah mengajakku untuk memperoleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kalau demikian, di mana neraka?” Maka Nabi Saw. menjawab dengan balik bertanya:

«سُبْحَانَ اللَّهِ فَأَيْنَ اللَّيْلُ إِذَا جَاءَ النَّهَارُ؟»

Subhanallah (Mahasuci Allah), di manakah malam bila siang hari tiba?
Ibnu Jarir meriwayatkannya. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Muslim ibnu Khalid, dari Abu Khaisamah, dari Sa’id ibnu Abu Rasyid, dari Ya’la ibnu Murrah yang menceritakan bahwa ia pernah bersua dengan At-Tanukhi yang pernah menjadi utusan Heraklius kepada Rasulullah Saw. di Himsa; dia telah berusia lanjut dan lemah sekali. Ia berkata bahwa ia datang menghadap kepada Rasulullah Saw. dengan membawa surat Heraklius. Lalu surat itu diterima oleh seorang lelaki yang ada di sebelah kiri beliau. At-Tanukhi melanjutkan kisahnya, lalu ia berkata, “Siapakah teman kalian yang akan membaca surat ini?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Mu’awiyah.” Ternyata isi surat Heraklius mengatakan, “Sesungguhnya engkau telah berkirim surat kepadaku, yang isinya engkau menyeruku untuk memperoleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kalau begitu, di manakah nerakanya?” At-Tanukhi melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah Saw. menjawab dengan balik bertanya: Mahasuci Allah, di manakah malam hari bila siang hari datang?
Al-A’masy, Sufyan As-Sauri, dan Syu’bah meriwayatkan dari Qais ibnu Muslim, dari Tariq ibnu Syihab yang menceritakan bahwa segolongan orang-orang Yahudi pernah bertanya kepada Khalifah Umar ibnul Khattab tentang surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu di manakah neraka? Maka Umar menjawab mereka, “Bagaimanakah pendapat kalian bila siang hari datang, di manakah malam hari? Bilamana malam hari datang, di manakah siang hari?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya engkau telah memetik hal yang semisal dari kitab Taurat.” Asar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui tiga jalur.
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hazim, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Barqan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnul Asam, bahwa seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab mengatakan, “Mereka mengatakan bahwa surga itu luasnya seluas langit dan bumi, maka di manakah neraka?” Maka Ibnu Abbas r.a. menjawab, “Di manakah malam hari bila siang hari tiba? Di manakah siang hari bila malam hari tiba?”
Hal ini diriwayatkan pula secara marfu’. Untuk itu Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah ibnu Salamah Abu Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnul Asam, dari pamannya (yaitu Yazid ibnul Asam), dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw., lalu mengatakan, “Bagaimanakah pendapatmu mengenai firman-Nya: ‘dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi’ (Ali imran: 133).
Maka di manakah neraka?” Nabi Saw. menjawab:

«أَرَأَيْتَ اللَّيْلَ إِذَا جَاءَ لَبِسَ كُلَّ شَيْءٍ، فَأَيْنَ النَّهَارُ؟» قَالَ: حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ، قَالَ «وَكَذِلَكَ النَّارُ تَكُونُ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»

“Bagaimanakah menurutmu apabila malam tiba menyelimuti segala sesuatu, di manakah siang harinya?” Lelaki itu menjawab, “Di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah.” Maka Nabi Saw. bersabda, “Demikian pula neraka, ia berada di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah Swt.”
Hadis ini mempunyai dua makna, yaitu:
Pertama, yang dimaksud ialah bahwa ketidakmampuan kita menyaksikan malam hari bila siang hari tiba bukan berarti malam itu tidak ada di suatu tempat, sekalipun kita tidak mengetahuinya. Demikian pula neraka, ia berada di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah Swt. Pengertian ini lebih jelas, seperti yang dikemukakan oleh hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar tadi.
Kedua, mengartikah bahwa siang hari apabila menyinari alam dari belahan ini, maka malam hari berada di belahan lainnya. Demikian pula halnya surga, ia berada di tempat yang paling atas di atas langit di bawah Arasy, yang luasnya adalah seperti yang diungkapkan di dalam firman-Nya: 

{كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ}

seluas langit dan bumi. (Al-Hadid: 21)
Sedangkan neraka berada di tempat yang paling bawah. Dengan demikian, berarti tidaklah bertentangan antara pengertian luasnya surga yang seluas langit dan bumi dengan keberadaan neraka.

*******************

Dari kisah ini jelas sekali akhlak mulia dan kecerdasan Rasul dalam menjawab pertanyaan dari Heraklius.  Maasya Allah. 

Read Full Post »

Hari kedua taraweh diisi oleh Ustad Kamaludin Ismail (27/05/2017) masjid Jami Nurul Ikhlas. 

Catatan kutbah:

Makhluk yang takwa

Wakil Tuhan dimuka bumi untuk mengelola alam semesta

Salah satunya berpuasa bulan Ramadhan

An Nur 32

Cahaya langit dan bumi,  semuanya milik Allah

Tampak jelas yg bener dan salah

Cahaya di atas cahaya lahirlah sinar laser

Allah memberi petunjuk bagi yg dikehendaki Allah

Yang mendapatkan taufik,  hatinya lurus,  tak ada cacat hati: sombong,  ujub,  riya dsb

Dengan adanya taufik hidayah bisa masuk

Anak nabi Nuh aja gak dapat hidayah karena tak ada taufik

Kalau ada taufik,  ibadah terasa nikmat sekali

Saat shalat mestinya gembira krn bertemu Allah

Senyum sunnahnya nabi

Ketawa iblis

Yg banyak dosa nanti di hari akhir mukanya aja muka neraka

Allah Maha Tahu mana yg punya taufik

Orang yg doyan ngaji dipilih Allah

Kalau jauh dari Al Quran mungkin hati kita tidak bersih

Beruntunglah yg doyan ngaji

Hamba yg dipilih Allah memang berbeda

Tidak lagi dibikin alpa oleh urusan dunia

Tidak sibuk dengan urusan dunia

Rejeki dari Allah

Agung nabi Ibrahim

Yang dipikir bukan yg urusan Allah

Urusan dunia sdh diatur Allah

Orang beriman dia unggulkan hatinya

Read Full Post »

Read Full Post »

Catatan Kutbah Jumat di Masjid Nurul Ikhlas (26/05/2017)

Ajakan tauhid: Ali Imran 103
Allah sayang kpd kita. Jangan gunakan untuk maksiat. Kalau sdh terlanjur taubatlah. Banyaklah istighfar dan bersyukur: Nikmat iman dan Islam. Peliharalah nikmat ini sampe akhir hayat kita. Islam kita, iman kita, takwa kita. Minimum stabil namun sebaiknya meningkat. Kalau tadinya cuman shalat 5 waktu, sekarang datang Ramadhan, berpuasalah. Jadilah orang mukmin bukan munafik. Berpuasalah. Orang mukmin bergembira saat masuk Ramadhan. Orang munafik menyayangkan datangnya Ramadhan.
Penyakit apapun disembuhkan dengan puasa
Jadilah orang mukmin, ketika Ramadhan datang bersyukur
Siapa yg gembira hatinya ketika Ramadhan datang, Allah haramkan jasadnya dari neraka.
Setiap akhir Syaban nabi berpesan dengan kutbah beliau yg populer: Wahai manusia (tak hanya muslin saja) . Sebentar lagi, besok, kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung. Bulan yang membawa keberkahan bagi manusia baik muslim maupun non muslim. Di dalamnya ada satu malam yg nilainya lebih besar dari 1000 bulan, lailatul qadr. Di malam2 ganjil 10 Ramadhan terakhir. Apakah ganjil menurut kita sama dengan menurut Allah? Awal Ramadhan saja kita selisih pendapat.
Oleh sebab itu harus kita jaga dari awal hingga akhir kita ibadah terus. Lebih besar dari 1000 bulan. Siapa yg tahajud, dzikir, istighfar , baca Quran atau ibadah lainnya malam itu sama dengan tahajud 83 tahun tanpa henti. Umur kita aja jarang sampe 83 tahun.  Siapa yg mendapatkan? Orang yg beribadah pada lailatul qadr.
Tahajud
Istighfar sebanyak banyaknya
Istighfar sangat dahzyat
Mewujudkan semua impian
Astaghfirullahal adziim
Ringan bacaannya tapi luar biasa di hadapan Allah
Apalagi di bulan Ramadhan
Semua dosa diampuni Allah apalagi ditambah istighfar, di tengah malam ketika Allah merentangkan tanganNya: siapa yg bertaubat aku ampuni.
Tengah malam, lebih2 Ramadhan
Istighfar menghalangi turunnya adzab ke muka bumi
Orang2 yg minta ampun di waktu sahur, jam 3
Astaghfirullahal adziim
Allah singkirkan adzab itu karena masih ada orang yg istighfar
Lebih2 Ramadhan
Orang2 yg selalu beristighfar kpd Allah
Surga lebih luas dari langit dab bumi
Orang munafik tidak mungkin istighfar. Mustahil
Banyak istighfar – tak ada hajat tertutup. Nabi beristighfar dalam sehari tak kurang dari 100 x
Kalau ada hak orang, pulangin
Banyak baca Quran
Jangan hanya lapar haus saja, tahan mata, telinga, lisan
Jauhi fitnah wanita maupun lainnya, berdusta
Mudah2an bertakwa
La ala kum tattaqun
La ala artinya kalau mau – Apakah Anda mau bertaqwa?

Wallahua’lam.

Read Full Post »

Suatu ketika saya mengajak seorang teman untuk mengikuti suatu kajian. Teman saya tersebut mengatakan belum bisa karena kesibukan kerja. Namun sebelumnya dia juga pernah datang di beberapa kajian. Kemudian dia berkomentar: “Padahal dalam setiap kajian yang dibahas sebetulnya itu-itu saja ya Tot …akidah, shalat, puasa, zakat, akhlak mulia dan sebagainya”. Memang sih, seringkali topik yang dibahas tak banyak berbeda meski setiap kajian punya “kekhasan” tersendiri meski topik besarnya sama. Katakanlah mengenai akidah dan pentingnya menghindari syirik. Secara tema sih sama namun saya mendapati “kekhasan” setiap kajian yang tentu berbeda dengan kajian lain meskipun ustadz yang membawakan sama, apalagi ustadz nya berbeda. Saya jadi ingat ada pepatah yang mengatakan bahwa kajian terbaik adalah yang tidak kita hadiri. Benar juga karena itu juga yang saya rasakan kalau “missed” dari suatu kajian. Rasanya penasaran banget tentang kajian tersebut meski akhirnya bisa terobati karena ada rekaman youtube nya.

Bagi saya, hampir setiap kajian selalu saja memberikan dampak “Dhug” dimana dada saya tiba-tiba berdebar kenceng karena adanya suatu tutur kata yang dilontarkan ustadz pemateri kajian dan kemudian beberapa saat diikuti dengan perasaan “nyeees” seperti lega rasanya …. Hal ini bisa saya contohkan dalam kajian tadi malam saat ustadz Khalid Basalamah (KH-B) menjawab pertanyaan dari jamaah terkait orang yang meninggal pada bulan Ramadhan. Beliau menjawab dengan bijak menekankan hal-hal yang beliau tahu misalnya mereka yang meninggal pada malam Jumat maupun hari Jumat yang terbebas dari adzab kubur karena ada hadits nya. Namun buat yang meninggal Ramadhan beliau mengakui tidak memahami apakah ada dalil yang jelas selain (nah …ini yang kemudian memberikan saya dampak mak DHUG) ia meninggal dalam “keadaan husnul khatimah”. Hah??? Apakah telinga saya benar mendengarkan hal ini? Hampir 90% saya yakin mendengarkan dengan benar tutur kata beliau dan kontan saya langsung ingat almarhumah ibu saya Ny. Moesrikim Hidayat yang wafat pada bulan Ramadhan. Screenshot 2017-05-25 21.48.35Tanpa saya sadari air mata saya menetes tanpa bisa saya kendalikan. Rasanya “Nyeeeees” seperti lega mendengar khabar bahwa ibunda yang sangat saya cintai wafat dalam keadaan husnul khatimah. Lega ….lega …lega … Alhamdulillah …. Semoga ibunda sekarang menikmati alam barzakhnya. Meski saya berniat untuk mendengarkan lagi apa yang diucapkan ustadz KH-B dari rekamannya namun setidaknya tadi malam menjelang kajian selesai (24 Mei 2017 sekitar 20:40) sekurangnya pengalaman “Dhug – Nyeees” sudah secara riil saya alami. Saya menyadari bahwa ustadz KH-B adalah seorang manusia dan yang menentukan seseorang wafat secara husnul khatimah atau tidak adalah Allah Azza Wa Jalla. Semoga Allah benar-benar mewafatkan ibunda saya secara husnul khatimah. Aamiin ….

Namun terkadang hanya mak DHUG saja dan tanpa diikuti “Nyees” karena memang yang terjadi di diri saya adalah kegundahan. Dalam kajian tadi malam juga saya rasakan saat ustadz Khalid mengisahkan tentang qiyyamul lailnya Utsman bin Affan bacaan rakaatnya khatam 30 juz Al Quran, bahkan witirnya saja juga 30 juz Al Quran. Maasya Allah … kagum saya dengan Utsman bahkan Quran surah Az Zumar ayat 9 diturunkan terkait khusyunya shalat Utsman bin Affan ini. Astaghfirullah …. bagaimana dengan saya yang penuh dosa dan belum juga hafiz Quran???? Di sini dampaknya hanya DHUG tanpa Nyeees ….karena tak membuat saya lega justru membuat saya merasa ketinggalan jauh; betapa beratnya perjuangan mencapai jannah.

Pengalaman “Dhug – Nyeees” ini hampir selalu saya alami dengan kadar yang berbeda pada setiap kajian bahkan dalam kajian yang dihadiri oleh beberapa gelintir jamaah saja. Saya yakin, setiap orang pasti punya simpul-simpul yang bila terkena oleh uraian tutur kata nasehat atau ceramah dari ustadz akan mengalami “Dhug – Nyeees” seperti yang saya alami. Untuk itu, saya mengajak teman-teman untuk MEMAKSA DIRI mengikuti kajian ilmiah. Siapa tahu pengalaman dhug-nyees tersebut bisa meningkatkan keimanan sehingga menjadi insan yang bertakwa. Insya Allah ….

Read Full Post »

Catatan Kajian “76 Dosa Besar” oleh Ustadz Khalid Basalamah di Masjid Nurul Iman, Blok M Square (17/05/2017)

Hari Rabu selalu merupakan hari khusus karena pada sore harinya ada kajian kitab Al Kabair karya Imam Dzahabi yang fenomenal itu; oleh ustadz Khalid Basalamah. Selalu saya berusaha untuk bisa hadir meski kadang sulit karena lokasi meeting sebelumnya yang kadang terlalu jauh dan kena macet. Pernah saya meluncur dari Gedung Wika di Cawang menuju Masjid Nurul Iman di Blok M Square terkena macet parah dan baru sampai di Blok M Square pukul 20:30 saat kajian hampir usai.

Rabu kemarin (17/05) secara perhitungan sebenarnya sulit untuk saya capai tepat waktu karena lokasi meeting saya dengan klien ada di Gran Melia Kuningan, lanjut ke Jl. Gatot Subroto. Namun saya yakin bahwa dengan sepeda insya Allah bisa mengikuti kajian. Benar saja, saat Maghrib saya masih berada di kantor klien yg di Jl. Gatsu sehingga Maghrib pun ditunaikan di sini. Stelah Maghrib saya meluncur dengan sepeda menuju Blok M Square ditengah-tengah kepadatan lalin luar biasa dan banyaknya jalan ditutup karena pembangunan infrastruktur. Lumayan juga muter-muternya menyibak SCBD terus menembus Wolter Monginsidi sampai akhirnya Iskandarsyah dan masuk Blok M Square dari pintu samping Pasaraya. Untung naik sepeda …. Kalau naik mobil gak bisalah pukul 18:40 sudah sampe Blok M Square. Suara ustadz Khalid sudah terdengar dari loudspeaker Blok M Square. Salut buat BMS yang menyiarkan kajian melalui speaker sehingga bisa didengarkan oleh pedagang di luar BMS.

Alhamdulillah …. sepeda memang paling praktis untuk menyiasati kemacetan Jakarta. Memang bukan salah Ahok sih Jakarta macet …(Lha? Apa hubungannya coba? he he he …. Ada! Biar ntar setelah Oktober bukan Anies Sandi yang disalahin kalau macet …lha wong jamannya Ahok aja wis macet …).

Sampai di lantai 7 BMS, lokasi masjid Nurul Iman, ustadz Khalid sedang menyampaikan bagian akhir dari kajian terkait Dosa ke 65 ini. Di bawah ini catatan saya.

Kajian Dosa Besar ke 65

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras“. (QS. Al-Baqarah: 204) “Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 205)

Ustadz KH-B menyampaikan pengalamannya dalam ranah akademisi dimana beliau melihat banyak sekali ahli-ahli dalam ilmu agama yang menjadi dosen bahkan guru besar di universitas (tidak disebutkan dimana) yang tidak mempraktekkan Islam bahkan bukan beragama Islam. Ini jelas aneh sekali, bagaimana seorang dosen agama Islam mengajarkan suatu hal yang tidak dia yakini. Ini jelas suatu hal yang aneh.

Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al Mu’min ayat 56)

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

“Yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah setiap orang munafik yang lidahnya pandai.” (diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Artinya perdebatan harusnya dihindari karena tugas utama dakwah adalah menyampaikan bukan sampai bisa diterima oleh orang yang didakwahi. Kalau setelah disampaikan tidak mau terima, ya sudah tidak perlu dilanjutkan dengan debat panjang hingga tak dicapai titik temu bahkan bisa jadi bertengkar.

Tanya-Jawab
1. Bagiamana kalau dalam perdebatan seorang teman terus saja mempertahankan argumennya padahal salah?

J: Yang penting sampaikan sejujurnya. Kalau benar sampaikan alasannya. Kalau kita yang salah harus minta maaf.

2. Bagaimana mengatasi orang yang sering bertengkar?

J: Perlu terapi. Rasul tidak pernah marah kecuali kalau agama Allah dihina. Jangan mudah tersinggung. Dilihat orang saja marah. Jangan. Hindari semua titik yg bisa menyebabkan pertengkaran.
Kalau ada WA gak pantas gak usah ditanggapi.

3. Ayah selalu merasa benar sendiri dan sering menyalahkan. Bagaimana bersikap?
1. Doakan, karena kita ini anak
2. Jangan berargumen karena dia mungkin tak mau diberi tahu
Mengubah manusia gak mudah.
3. Sabar
4. Gunakan orang lain untuk menasehati ayah.

4. Menantang orang di kemacetan apa termasuk debat?

J: Ya. Harus tenang, gak usah diladeni. Ulangi hafalan Quran, dzikir. Sibukkan diri sendiri agar tak sakit hati.

5. Semoga kami bisa seperti ustadz KH-B.

J: Jangan minta seperti KH-B tapi Khalid bin Walid. Saya ini semut kecil dibandingkan mereka.

6. Bagaimana agar tidak sakit hati saat berdebat?

J: Tinggalkan saja. Besar hati. Kalau salah, terima, jangan pertahankan. Kalau dia salah kita ingatkan. Kalau tidak terima ya sudah.

7. Paman selalu mengajak berdebat, bagaimana sikap kita?

J: Sampaikan apa adanya. Gak usah lanjutkan.

8. Perdebatan bumi bulat atau datar, bagaimana bersikap?

J: Gak usah dilanjutkan. Bukan urusan kita. Yang penting jarak ke masjid kan tetap datar bukan? Kita masih bisa ke masjid bukan? Ya sudah.

9. Teman dinasehati tapi memojokkan, bagaimana bersikap?

J: Target dakwah adalah penyampaian bukan penerimaan.
Tugas kita hanya menyampaikan. Jangan jengkel. Yang penting kita lakukan adalah yg wajib misalnya shalat. Tapi kita tak dituntut nantinya kalau dia gak juga shalat.

10. Diskusi atau penyampaian argumen apa sebaiknya kita mengalah?

J: Kalau tak ada titik temunya, tidak usah dilanjutkan. Harus ada adab berdiskusi:
1. Temanya jelas
2. Ingin mencari yg benar
3. Yang benar atau salah mengakui.
4. Tidak menyebarkan apa yg didebatkan tapi hasilnya saja.

11. Menonton debat paslon apa ada manfaatnya?

J: Tidak perlu. Mengenai program, tanggungjawab di akhirat nanti.
Baca Quran aja. Gak usah ikuti debat.

Ati2 dengan penghuni neraka yg punya hak thd kita yg harusnya masuk surga. Misalnya kita pernah mendzalimi orang kafir, maka haknya orang kafir tersebut akan menjadi pengurang pahala bagi mukmin yang masuk surga. Artinya, selama hidup kita tak boleh menyiksa atau medzalimi siapapun baik muslim maupun kafir.

12. Suami tak mau ke masjid atau ke kajian, debat dengan istri.

J: Jangan dihardik. Jangan pake suara keras.

Read Full Post »

Kultum bada Shubuh di Masjid Jami Nurul Ikhlas (19/04) – hari libur pilkada putaran kedua DKI

Perintah shalat begitu agung: Nabi diundang menghadap Allah langsung mendapatkan perintah untuk shalat 5 kali dalam sehari semalam melalui peristiwa Isra Miraj. Secara perhitungan manusia seperti kita tak masuk akal. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha tak mungkin ditempuh dalam semalam kurang. Naik onta saja perlu waktu 2 bulan, dan bahkan perjalanan Nabi menemui Allah hingga langit ke 7. Suatu hal yang tak mungkin kalau menurut akal sehat manusia. Dan ini menyangkut jasad dan ruh Nabi, tak sekedar ruh seperti mimpi tapi benar-benar jasad dan ruh. Abu Bakar ditanya seorang kafir Quraisy mengenai hal ini dan beliau menjawab bahwa percaya hal ini karena dikatakan oleh Rasul, bahkan bila lebih dari peristiwa inipun ia tetap percaya bila itu disabdakan Rasul.

Kita semua sebagai muslim percaya dengan Isra Miraj, karena ada di Al Quran – makanya kita menjalankan shalat. Kita percaya karena ini adalah nikmat iman, nikmat Islam yang diberikan oleh Allah kepada kita. Ini semua karena iman kita kepada Al Quran.

Segala sesuatu yang ada di Al Quran kita percaya karena sebagai muslim kita harus menjalankan Islam secara kaffah (totalitas) tak bisa memilih hanya yang enaknya saja buat kita. Semua isi Al Quran itu adalah perintah dan larangan. Yang diperintahkan kita kerjakan yang dilarang kita jauhi.

Daging babi haram menurut Al Quran. Dokter juga bilang bahwa banyak masalah di dalam daging babi. Namun orang-orang non islam membuatnya sedemikian rupa agar kita mengkonsumsi daging babi karena semua yang ada padanya dibuat produk. Bulunya buat sikat gigi, kuas cat tembok. Makanya musti hati-hati kalau membeli barang, musti lihat label halal MUI.

Minuman keras haram, kita juga percaya karena kata Quran, firman Allah. Perbuatan setan jangan diikuti karena setan adalah musuh yang nyata bagi seorang muslim.

Yang ada di Al Quran sudah lengkap, tak ada lagi yang perlu disempurnakan, sesuai perintah Allah:

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maaidah: 3]

Tidak ada lagi setelah itu (Haji Wada) ada penyempurnaan lagi. Jangan lepas dari Quran. Masuk Islam harus total. Jangan giliran duit (misal uang zakat) mau pake Quran, urusan
pilkada kagak mau pake Al Quran hanya karena duit -katakanlah Rp 600 ribu atau sembako seharga Rp. 100 ribu.

Perintah Allah sudah jelas, memilih pemimpin Islam.  Masalah menang kalah itu sudah takdir Allah. Yang penting memilihnya yang benar karena pertanggung-jawabannya di akhirat kelak. Ngaku mukmin, Isra Miraj aja percaya. Tapi Al Maidah gak mau terima. Tugas mukmin adalah mengingatkan sesama muslim untuk memilih pemimpin muslim. Kagak mau, ya urusan dia. Yg penting kita kasih tahu. Hanya saja nanti di akhirat akan ditanya Allah mengapa tak menjalankan Al Quran secara total. Di dunia saja keblinger, nanti di neraka dia (orang muslim yang memilih non muslim) protes katanya tak ada yang memberi tahu. Malaikat Rakib dan Atid punya rekamannya.
Udah dikasih tahu masih menentang.  Oleh Allah kemudian dimasukin ke neraka paling bawah.

Kudu ati2. Islam kaffah, totalitas.
Urusan kepemimpinan ada di Quran.
Ada perintah memilih pemimpin muslim. Ini anjuran memilih bukan kampanye.
Kalau kampanye itu perintah memilih nomer. Harusnya gak boleh kampanye. Eh yang membuat aturan malah melanggarnya, katanya gak boleh orang luar DKI datang. Malahan melindungi dan memfasilitasi golongan tertentu yang saat ini dikumpulkan di Ragunan Pasar Minggu. Aturan gak boleh kampanye tapi dilanggarnya sendiri.
Katanya orang Islam ke Jkt gak boleh.
Tapi kenyataannya ada yang difasilitasi dari kelompok tertentu ….

Yuk sama2 menjalankan perintah Allah harus ikhlas, jangan fulus.

Ingat kasus Gubernur NTB yang dikatain kasar di bandara Singapura
Belum menang aja udah belagu
Apalagi kalau menang
Bagaimana kalau jadi pemimpin di Indonesia?
Si Bopeng yang menentang TNI saja tidak ditangkap,  ilang

Hari ini pilkada, pilihlah pemimpin Islam karena ini perintah Allah.

Bagaimana kalau dulu salah milih? Tobat. Bagaimana caranya?
1. Menyesal
2. Jangan mengulangi lagi
3. Jangan salah nusuk lagi, mengerjakan perintah Allah, memilih yang muslim.
Dibatasi sampe jam 1 siang
Kalau gak tobat, tunggu 5 tahun lagi kalau masih hidup

Perbanyak dzikir, istighfar
Pemimpin muslim bisa jadi imam shalat fardhu. Nikmat bukan?
Nikmat
Kalau bukan muslim ya gak bisa jadi imam shalat.

Read Full Post »

Older Posts »