Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2008

Ini adalah catatan dari Kajian Bulanan (KABUL) di Kantor Pusat PT Indosat, pada tanggal 16 Juli 2008, jam 12:00 s/d 13:30.

Ust. Komaruddin Chalil (Ketua Yayasan Daarut Tauhid, Bandung)

Moderator: Bpk. Eddy Yunianto

Rasul selalu bahagia dan optimis maka dlm hidupnya hanya 2x sakit,  selalu senyum, pola makan bagus,  daging hanya 1 di setiap makan, tidak lebih.

Harus bahagia.

Rasul: siapa yg ingin bahagia, jgn lupakan ilmu.

Malaikat membentangkan sayap bagi yg menuntut ilmu. Mana lebih utama, melayat atau menuntut ilmu? Bila sudah ada yang mengurus si jenazah, maka 1000 jenazah tdk lbh baik dari 1 majelis ilmu.

Malaikat rahmat tdk mau masuk rumah yg isinya barang curian.

Menyelesaikan luka hati bukan dg akal. Contoh: anak kehilangan kelinci yg mati dan tidak mau sekolah. Kalau kita memberi nasehat ke sang anak bahwa tidak perlu sedih karena bisa beli lagi kelinci yang lain, maka sang anak bisa dipastikan tidak mau luluh hatinya. Tapi kalau kita memberikan “empati” terhadap kesedihannya terlebih dahulu, kemungkinan besar dia akan luluh, dan mau sekolah lagi. Mengobati sakit hati harus dengan hati, bukan dengan akal pikiran.

Dua hal yang harus kita ingat:

1. Ingat kebaikan orang lain

2. Inget kesalahan kita kepada org lain

Dua hal yg harus dilupakan:

1. Kebaikan kita kpd org lain

2. Kesalahan org lain kpd kita

Kisah:

Rasul memiliki kebiasaan menyuapi seorang tua yahudi buta di sebuah perempatan gang. Tiap haru rasul selalu datang menjumpai orang buta tersebut. Padahal org tua tsb tiap hari mencaci rasulullah. Menjelang ajalnya, rasul menitipkan pekerjaan “menyuap” orang buta tsb kepada Abu Bakar shgg setelah rasul meninggal, Abu Bakar lah yg meneruskan pekerjaan tsb. Pada hari pertama Abu Bakar menyuap, orang buta tsb menolaknya. “Mengapa jadi begini keras adukannya dan kasar caramu menyuap, tidak seperti biasanya aku disuap,” kata orang buta tsb. “Pasti kamu orang lain ya,” ujarnya. “Ya pak, saya Abu Bakar”. Orang buta tsb melanjutkan “Lantas, kemana orang yg biasa menyuapi aku dengan lembut dan adukannya halus itu?”. “Maaf pak, beliau sudah meninggal dunia dan sebelum meninggal dunia beliau berpesan kepada saya untuk menggantikan peran beliau menyuap makan buat bapak”. Orang buta tersebut sungguh kaget sekaligus merasa kehilangan karena selama ini ia sangat senang bila makan disuap olehnya. “Siapa sebenarnya orang yang biasa menyhuap saya itu?”. “Rasul Muhammad SAW…”. “Apa? Muhammad yang sering saya caci maki itu?”. Orang buta tersebut tampak menyesali apa yang ia perbuat dan seketika minta Abu Bakar mengantarnya ke makam rasul.

Salam,

G

Read Full Post »

Politisi Yang Santun

Senang sekali tadi malam membaca edisi Tempo terakhir yang mengupas cukup detail sejarah M Natsir dalam rangka memoeringati 100 Tahun Natsir. Terharu saya membaca kebersahajaan M Natsir dan santun nya dia dalam setiap sepak terjangnya, termasuk dalam membangun diskusi dengan lawan politiknya. Setelah negeri ini belakangan “terbongkar” semakin carut marut karena banyaknya aparat DPR dan Negara yang diduga korupsi, membaca kisah M Natsir merupakan suatu kedamaian tersendiri. Bayangkan, saat dia menjabata sebagai menteri Penenrangan, dia masih menggunakan jas tambalan. Begitu bersahaja ….

Saat ini kita menghadapi berita2 tak sedap seperti:

atau ini:

Saya tinggal menunggu ulasan tentang M Natsir yang akan diterbitkan Sabili minggu depan … udah gak sabar lagi nih …. Semoga politisi saat ini pada ngaca dari M. Natsir …

Salam,

G

Read Full Post »

Karena saya ada proyek di Indosat, saya sering shalat di masjid Bank Indonesia karena cukup dengan jalan kaki sudah nyampe. Selain lokasi dekat, saya juga suka mesjid ini dari segi fisik dan penyelenggaraan shalat berjamaah. Mesjid ini cukup teduh di dalamnya dan terasa nuansa masjid Nabawi nya. Salah satu aspek fisk yang saya suka adalah tempat wudhunya enak banget dan bisa berwudhu dengan nyaman. Adanya undakan terbuat dari stainless steel membuat kita mudah mencuci kaki hingga jari2 kaki bersih:

Setelah berwudhu, ada cekungan khusus yang digunakan buat membasuh telapak kaki karena di cekungan ini selalu ada air yang mengalir, sehingga telapak kaki dijamin tetap bersih saat berjalan menuju area shalat:

Tidak hanya itu, ternyata desainer masjid ini juga masih menjaga kaki kita supaya tetap aman sampe masuk ke dalam masjid dengan kaki yang terjaga bersih sekaligus kering dengan hamparan karpet karet (bukan kain) seperti ini:

Wah .. rasanya kita “dimanjakan” betul di masjid ini. Bagi saya pribadi, desain seperti ini sangat bagus dan memastikan jamaah selalu dalam keadaan suci terbebas dari kotoran. Di masjid At Tin misalnya .. jarak anatara tempat wudhu dan area shalat di lantai 2 cukup jauh dan melewati area yang banyak debu dan tanah, gak ada karpetnya lagi ….

Meski di masjid BI mungkin kurang begitu friendly bagi pengendara mobil dikarenakan tidak ada area parkir di seputar masjid, sehingga harus diparkir di badan jalan. Bila diparkir di gedung BI, jalan kakinya cukup jauh dan Satpam nya terlalu berlebihan menjaganya. Lho? Iya, kalao saya jalan kaki dari luar, masuk di pelataran gedung dengan tujuan masjid, saya “diusir” lho .. katanya mesti dari pintu depan masjid. Keterlaluan sih… mosok orang mau beribadah musti disikas suruh jalan lebih jauh lagi? Belakangan saya ndak diusir lagi karena saya “tipu” dengan memakai tanda pengenal Indosat .. (mungkin dikira saya orang BI). Ya Allah .. berilah pencerahan kepada saudara2ku Satpam agar memberi kelapangan dada kepada jamaah yang ingin memenuhi panggilanMu untuk shalat … AMiien….

Kembali ke masalah desain, sebaiknya masjid lain mencontoh masjid BI ini. Tidak harus dengan biaya mahal kok, asal direncanakan dengan baik dan “mau” memikirkan cara terbaik membuat jamaah nyaman shalat.

Selain fisik, saya juga suka di masjid ini setelah shalat tidak ada imam yang melantunkan doa secara keras. Setiap jamaah diberi keleluasaan (space) bagi dirinya masing2 untuk bermunajat kepada Allah SWT setelah shalat fardhu. Di beberapa masjid lain … aduuhhh .. imam memlantunkan doa dengan loudspeaker keras sekali.. sampe mengganggu jamaah yang ingin berdoa secara solo karir ….

Salam,

G

Read Full Post »

Sabtu, 5 Juli 2008 yang lalu, saya mengantar anak saya, Dian, dan temen2nya ke daerah Kemang buat jualan dalam rangka mengumpulkan dana untuk kegiatan sekolah. Karena telah mendekati adzan Ashar, saya ingat dulu pernah shalat di majid Riadhul Aridin yang terletak di pojok jalan Bangka X. Masih jelas diingatan saya bahwa saya telah beberapa kali shalat di masjid ini meskipun sudah cukup lama. Asal muasal saya tahu mesjid ini ya karena letaknya di dekat rumah boss saya dulu waktu saya bekerja di Price Waterhouse Consulting sekitar 1994 sampai dengan 1997.

Begitu sampai di depan masjid, saya kecewa karena pintu utama masjid dikunci (digembok) dengan rantai sehingga mobil saya tidak bisa masuk di pelataran masjid. Saya heran mengapa begitu banyak saya jumpai masjid di Jakarta ini yang tidak begitu friendly menerima kehadiran jamaah. Bukan apa-apa, mencari masjid selama perjalanan saja sudah merupakan tantangan terutama dalam perjalanan pulang dari atau pergi ke kantor atau perjalanan lainnya yang tidak rutin. Perjalanan saya ke daerah Kemang jelas bukan yang rutin karena saya jarang berurusan dengan daerah ini. Ingatnya saya terhadap masjid ini ya karena dulu pernah beberapa kali shalat di sini termasuk pernah sekali Jumatan juga.

Kalau saja masjid tersebut tidak memiliki pelataran parkir, mungkin saya bisa menerima keadaan ini. Namun, mesjid di Jl Bangka X ini jelas memeiliki areal yang muat sekurangnya 10 mobil buat parkir, tapi kok ya digembok. Ini jelas bisa membuat orang yang tadinya berniat buat shalat pada waktunya jadi malah menunda ”nanti di rumah saja” atau ”nanti cari masjid yang bisa parkir”. Akhirnya saya parkir mobil di pinggiran jalan Bangka Raya dan masuk masjid dari ”pintu samping” yang cukup membingungkan juga. Eh setelah masuk areal masjid pun saya juga merasa sulit mendapatkan petunjuk dimana tempat wudhlu nya. Ternyata setelah ”berjuang” saya bisa menemukan dan … masya Allah …jarak antara tempat wudhlu menuju areal shalat digelar cukup jauh dan berliku. Bener2 tidak friendly.

Interior masjid Riadhul Aridin: (tenteram rasanya ….)

Di mesjid yang lokasinya di sekitar rumah ibu saya yaitu di Tebet Timur Dalam VIA, malahan masjid selalu terkunci di areal shalat utama di dalam masjid. Jamaah yang ingin menunaikan shalat fardhu harus shalat di teras masjid yang berdebu. Sungguh memprihatinkan.

Untuk menggalakkan shalat berjamaah di masjid pada waktunya, perlu masjid-masjid yang ada menjadikan masjidnya ”friendly” sehingga jamaah menjadi mudah untuk datang ke masjid. Pengurus masjid perlu memikirkan:

  • Petunjuk di jalan bahwa beberapa meter lagi ada masjid. Seringkali tanda lalu lintas yang ada tidak memadai atau tertutup dengan pohon, dlsb.
  • Tersedianya areal parkir yang membuat orang nyaman dan ”tertarik” untuk mengunjungi masjid.
  • Jarak antara tempat wudhlu di dalam areal masjid tidak terlalu jauh dengan tempat shalat diselenggarakan. Bahkan sering kali tidak juga dilengkapi dengan sandal sehingga menyulitkan jamaah berjalan sambil menjaga kesucian dari kotoran dan debu.

Dengan membuat masjid yang friendly, insya Allah bisa memberikan daya tarik bagi jamaah yang melintas di depan masjid.

Salam,

G

Read Full Post »

Pagi hari mendapat SMS bahwa ayah seorang temen telah dipanggil Allah tadi malem jam 1:09. Jadi, saya langsung pagi tadi membelokkan arah (yang tadinya mau ke tempat kerja) namun melayat. Kematian memang suatu hal yang harus banyak kita petik pelajarannya karena yang pasti ini adalah peringatan Allah kepada kita bahwa tiada satu hal pun yang kekal di dunia ini, semuanya akan punah. Dalam keseharian kita sering lupa hal ini apalagi bila lagi seneng dapet berita kenaikan gaji, atau seneng karena mendapatkan undian, atau mendapat rejeki. Nah, dengan kematian kita seharusnya semakin sadar bahwa kita sudah pasti juga akan mengalaminya, hanya saja belum ada ilmu modern yang bisa “memprediksi” kapan kita mati.

Saalah satu yang sukai dengan kematian adalah ramenya rumah dengan sanak keluarga, meski dalam keadaan duka. Meski saya gak kenal anggota keluarga temen saya tersebut, namun nuansa kumpul jelas sekali terlihat. Pihak keluarga selalu meminta maaf kepada hadirin yang berdatangan atas nama jasad yang sudah meninggal bila ada keslahan yang diperbuatnya. Haru. Inilah yang harusnya tiap hari kita ingat: kematian, kematian, dan kematian ..!! Oooo .. masih kurang menyebutnya. Kenapa? Nabi kita Muhammad SAW mengingat kematian sekurangnya 20 kali dalam sehari! Padahal itu seorang rasul yang dijamin Allah masuk surga! Sudahkah kita mengingatnya sebanyak itu? Mari kita mulai kebiasaan mulia ini ……

Salam,

G

Read Full Post »

Ternyata jualan Dian hari Sabtu lalu tidak berhasil alias tekor …. Akhirnya sisa bunga dijual keesokan harinya dengan harga sangat murah. Tapi untungnya balik modal. Dan yang penting adalah pembelajaran nya bahwa apa yang kita inginkan tidak selalu bisa terjadi.

Ternyata kegagalan tersebut tidak membuat Dian jera. Rupanya pas ada pendaftaran siswa baru di sekolahnya kemarin (selasa 8 Juli 2008) Dian memanfaatkan peluang dengan berjualan roti ke orang tua murid yang sedang mendaftarkan anaknya. Lumayan, beli Rp. 6 ribu dijual Rp. 10 ribu. Konon bisa dapet untung Rp. 225ribu dalam sehari. Lumayanlah .. Saya bangga bahwa pada usianya yang masih remaja Dian sudah membuktikan bisa jualan! Selamat!!!

Salam,

G

Read Full Post »

Jualan

Sebagian besar orang merasa “takut” dg apa yg namanya jualan. Saya termasuk salah satunya. Ketika putri bungsu saya, Dian Widayanti, bermaksud melakukan kegiatan ini, saya salut kepadanya. Bukan apa2, dengan usianya yg relatif muda, kelas 1 SMA (baru saja naik ke kelas 2 SMA), dia sudah berani melakukan hal ini. Luar biasa! Ceritanya, unit ekskul dimana dia berkegiatan sedang berupaya melakukan pengumpulan dana guna membiayai program kegiatannya. Tidak tanggung2 targetnya; berempat dengan temen2nya Dian mentargetkan perolehan 500rb rupiah. Caranya? Mereka berjualan bunga mawar dengan menawarkan langsung ke calon pembeli di kawasan Kemang. Sebuah langkah yang berani dan saya salut mereka punya keberanian ini. Tidak masalah hasilnya, yang penting mereka melaksanakan langsung kegiatan menjual sehingga mereka belajar bahwa mencari uang memang perlu kerjka keras dan pengorbanan, termasuk tidak bermalem-mingguan. Sekitar jam 15:00 (Sabtu, 5 Juli 2008) saya drop mereka berempat di kawasan Kemang dan mereka langsung beredar menjajakan bunga. Selama di perjalanan di dalam mobil saya memberikan semangat kepada mereka agar tahan terhadap penolakan dan terus menerus menawarkan ke setiap orang yang lewat, tanpa pandang bulu.

Masalah sempat dihadapai, yaitu tiap tangkai bunga tidak dilengkapi plastik berisi air untuk menjaga kesegaran bunga. Mereka kecewa dengan abang bunga yang mensuplainya karena tidak sesuai dengan sample yang diberikan sebelumnya. Saya pun mencoba mencari plastik dan karet gelang buat dipasang di bonggol tangkai bunga. Sulit juga di Kemang mencari plastik es mambo dan karet gelang. Namun karena pertolongan Allah jualah akhirnya setelah shalat Ashar berjamaah di masjid Bangka X, saya dapat info bahwa di Bangka IX ada Toko Buyung yg berjualan secara grosir. Akhirnya saya kejar toko itu dan Alhamdulillah dapet. Dengan senang hati saya antar plastik dan karet gelang ke Dian.

Berat rasanya melihat Dian menjajakan langsung bunganya namun pada saat bersamaan saya bangga bahwa dia berani menjalaninya. Menjual memang bidang yang paling baik dalam belajar memahami hidup. Nabi Muhammad pun seorang penjual yang ulung hingga Siti Chatidjah menikmati keuntungan pada saat nabi Muhammad menjual barang dagangannya. Dengan menjual kita merasakan betapa mencari nafkah perlu usaha keras dan konsistensi. Bila disertai dengan doa kepada Allah SWT, insya Allah membuat kita ikhlas melakukannya. Bila ikhlas sudah ada, usaha keras juga sudah dilakukan, hasilnya kita serahkan ke Allah swt. Melalui menjual jugalah kita bisa belajar bahwa kenyataan seringkali terjadi tidak sesuai yang kita rencanakan. Namun ini bukan berarti kita tidak perlu membuat rencana. Diksinya harus Prepare for the Worst, Plan for The Best! Selamat berjuang, Dian! Doa papa menyertai ….

Salam,

G

Read Full Post »

Beberapa hari ini saya gundah dengan maraknya berita keceh duwik (banjir uang) yang disinyalir banyak terjadi di DPR yang berisi para wakil rakyat. Portal di Koran Tempo ini cukup menggambarkan situasinya:

Memang sih proses hukumnya sedang berlangsung dan belum secara hukum mereka (para wakil rakyat) tersebut terlibat, namun dari beberapa pengakuan dan tangkapan KPK sudah cukup jelas indikasinya. Bahkan teknologi suap baru ditemukan: transfer ke Money Changer! Luar biasa … hebat!!!

Coba Anda simak PORTAL tersebut. Terlihat gambar orang berpeci (kopiah) yang diasosiasikan sebagai seorang muslim. Bulyan Royan sang wakil rakyat pun berpeci. Inilah yang membuat saya sedih, secara fisik mereka menunjukkan identitas sebagai muslim yang dipersepsikan “baik” atau shalih. Tapi kok kelakuannya terima suap?? Apakah mereka tidak takut pada ayat2 suci ini? :

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,

Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,

Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,

sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan dalam Huthamah.

Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?

(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,

Yang (naik) sampai hati.

Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,

(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

(QS Al Humazah 104, 1 – 9)

Wass,

G

Read Full Post »

Manusia memang boleh membuat rencana, namun Tuhan juga yang Maha Tahu. Boleh dibilang hari ini saya mulai dengan kesedihan luar biasa karena saya mulai tidak baik, telat bangun! Oops .. salah juga …karena yang benar adalah sebetulnya saya sudah bangun tepat waktu meskipun meleset beberapa menit saja namun syetan yang menggandoli mata saya benar2 bekerja efektif buat menutup mata saya lebih lama lagi. Pas saya bangun pertama kali saya mendengar Al Fatihah sedang dilantunkan ustadz Toton yang biasa menjadi imam di masjid sebelah. ANdaikan saya langsung bangun dan berwudhlu hampir bisa dipastikan saya bisa mengikuti rakaat kedua Subuh. Saya begitu dhoif dengan merebahkan lagi badan dan memejamkan mata .. aduuuuuuhhhh .. ini jelas kesalahan besar!!!! Padahal saya sudah mempelajari bahwa sikap seperti ini akan menyebabkan ketertinggalan Subuh berjamaah. Benar juga! Akhirnya saya Subuh sudah jam 5:30, sendirian …. menyesaaaaaal sekali, kenapa tadi memejamkan mata lagi! Tapi ya gimana lagi, belum pernah ada bukti bahwa dimensi waktu bisa diulang. Saya pun shalat Subuh dengan rasa malu kepada Tuhan … bener …… .maluuuuu sekali! Nikmat apa yang bisa saya bisa dustakan dari yang diberi Allah? Bisa bernafas dengan baik saja itu sudah nikmat luar biasa .. padahal minggu lalu saya menerima kabar seorang kawan yang meninggal dunia karena dadanya sesak nafas. Sudah diberi kenikmatan, beraninya saya “mengabaikan” seruanNya shalat Subuh tepat waktu? Duh .. malu bener .. sepanjang shalat saya hanya bisa tunduk ….

Padahal, sejak kemarin pagi saya sudah niat mau merencanakan malem Jumat dan Jumat yang penuh ibadah dengan ngaji dan shalat tepat waktu berjamaah. Namun ternyata tadi malam ada panggilan telpon membicarakan masalah pekerjaan yang cukup memeras pikiran …ngajipun terabaikan … waduh .. tambah malu lah saya …. Salting ….

Telat bangun berdampak dengan telat berangkat kerja. Biasanya, saya mulai mengayuh sepeda pada jam 6:00, namun pagi ini baru bisa ngonthel jam 6:45 dan sampe kantor klien jam 7:45 … Mungkin juga karena suasana sedih ini saya jadi “agak sensitif” ketika sebuah Mitsubishi Grandis mengklakson saya 2 kali tidak sabar dengan onthelan saya. Saya menolehkan muka ke pengemudi Grandis tersebut menunjukkan protes. Hemmm … kok saya jadi sensitif ya?

Dengan memulai hari tidak baik, saya berusaha untuk tetap semangat di hari Jumat yang suci ini ….
Semoga …. Saya berharap Jumatan ini saya banyak belajar dari Khatib melalui khotbahnya ….

Salam,

G

Read Full Post »

Alhamdulillah … setelah berkenalan lewat dunia maya beberapa bulan lalu, akhirnya siang ini Allah mempertemukan saya dengan mas Herry Nurdi yang saya kagumi dari buah penanya di majalah Sabili. Saya mengenal beliau sejak saya membaca buah penanya bertajuk The Sin of Inaction …sebuah artikel yang sebetulnya membuat saya terhenyak: bahwa diam itu dosa. Waduh .. rasanya selama ini saya salah menafsirkan pepatah silent is golden karena bila ini dikaitkan dengan penindasan terhadap umat manusia maupun penistaan kepada agama Allah, bila kita berdiam diri maka kita tergolong orang yang berdosa. Di tulisan tersebut mas Herry mengangkat kasus Palestina. Sungguh sangat menyentuh. Karena tulisan2 mas Herry lah akhirnya saya rutin membeli Sabili melalui pak Subhan yang dagang di Mushalla Indosat lantai 23. Sengaja saya tidak mau berlangganan langsung biar saya tetap menjadi pelanggan pak Subhan dan beliau tetep eksis di mushalla tersebut berjualan buku dan obat2an islami.

Lumayan lama saya bertemu ustadz Herry Nurdi ini, mulai dari jam 11:00 dengan sambil menikmati jus aple dan sallad buah di kantin i-Cafe Indosat, dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah di lantai 23, kemudian sama2 kita mengikuti kajian Dzuhur yang rutin diadakan di lantai 23. Banyak hal yang saya belajar dari mas Herry ini, terutama dalam tawadhu’s nya dan juga .. ini dia … istiqomah nya dengan menggunakan sarung sebagai pakaian tiap harinya. Luar biasa…. sejak tahun 2003 beliau menggunakan sarung dalam aktivitasnya kemanapun. Pernah beliau diundang di seminar Culture Diversity di Jepang tapi ditolak masuk karena katanya sarung bukan pakaian resmi. Opo tumon – seminar culture diversity kok diskriminatif?

Wah .. pokoknya saya banyak banget belajar dari beliau ini dan saya bersyukur kepada Allah SWT yang membuat kami berdua bertemu …. Alhamdulillah …

Saya juga mendapatkan kehormatan menerima kado indah berupa dua buah buku yang dibungkus rapi dengan kertas kado oleh istri mas Herry :

Mas Herry ini telah menulis 15 (lima belas) judul buku. Luar biasa!

Salam,

G

Read Full Post »