Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2017

Nyepur

NYEPUR. Ini sebenernya mirip dengan kisah makan di Warung Makan Mbok Mi dengan gowes sepedah. Kalau ke Madiun,  saya merasa PLONG afdhol bin mak-joz-gandhoz bila naik kereta full.  Kalau naik pesawat rasanya hanya seperti mengunjungi kota biasa meski “Madiun is a great and undisputably (for sure!)  memorable city”.  Rasanya ada yang kurang alias ada rasa bersalah bila datang ke kota amat indah penuh kenangan luar biasa ini hanya naik pesawat.  Rugi pol! Meski dari segi harga ya sama aja dan tentu naik pesawat tinggal “wer wer… ” udah sampe Solo trus nyambung kereta ke Madiun.  Tetep aja ada suatu hal besar yang hilang.  The taste is gone immediately.  Ya,  bahasa Inggrisnya: “gak nuansamatik blas!” Mulih Mediun kok numpak montor mabur?!  Huopo tumon!!  Ra nggajak blas.  Kuwi jelas dudu wong Mediyun wi…!  He he he…. 
Ini jelas terkait masa 70-an dimana kala itu naik pesawat hanya impian tak berbatas dan satu-satunya moda transport yg feasible ya nyepur (‘naik kereta’ – red.). Gak ada pilihan.  Ternyata hidup tanpa pilihan tuh enak juga,  gak perlu mikir.  Kalau saya dan alm.  Ibu ke Jakarta ya nyepur.  Enak to? Jangankan pesawat,  dulu naik Kereta Biru Malam (Bima) aja cuman impian aja.  Kami biasa naik Gaya Baru yang kursinya rotan full tumo.  Berdesak-desakn dan gak dapet tempat duduk.  Bahkan dari rumah udah bawa omplong (‘kaleng’- red.)  sebagai wadah kalau pipis.  Lha soalnya gak bisa jalan ke toilet bahkan toiletpun ada orangnya krn saking padatnya.  
Makanya,  rasanya saya punya kepuasan batin tersendiri menikmati musik dari dentuman suara roda menapaki rel kereta… Dhug dhug dhug.. Tek tek tek…  Èjès èjeng…  Thèèèn…. Thèèën…. Nuansamatik pol.  Kalau saja usia saya masih di bawah 40, tentu saya akan naik kereta Gaya Baru yang jelas lebih nuansamatik nunjek ulu ati paling dalam.  Lha ini udah lolita ya tulangnya udah gak kuat lagi duduk di kursi yang non-reclining. 
Nyepur ke Madiun memang benar2 nuansamatik nostalgik progresip pol!

Advertisements

Read Full Post »

Bismillah.  Touch down Madiun tepat 03:09, langsung buka lipatan sepedah lanjut gowes menuju warung sego pecel Bu Yuli di seberang stasiun.  Nyantap pecel lauk paru dan teh panas.  Abis itu gowes ke Hotel buat nitip ransel,  langsung menuju Masjid Darussalam,  Josenan,  shalat Shubuh BMW.  Disapa oleh pengurus yang ramah: Bapak Parman dan Bapak Choirul. 

Bada Shubuh bablas gowez ke Ponorogo dan berhenti di beberapa masjid buat di review dan akhirnya mendarat di Sate Ponorogo H.  Tukri di Gang Sate,  Jl.  Lawu.  Pancen joz gandhoz satene! 

JrëNg!  Lanjut gowes lagi…

Read Full Post »

Porter No. Punggung 63 – Dahlan. Alhamdulillah bisa ketemu lagi sama Pak Dahlan,  porter soleh di Gambir.  Bulan lalu ketemu dia pertama kali saat naik Parahyangan dan membantu saya menaikkan sepedah ke kereta.  Kali ini dia bantu saya menaikkan sepeda yang sama tapi ke kereta api Bima.  Sedang menuju kota penuh kenangan nih,  Madiun.  Suweneng pol! 
Yang unik dari Pak Dahlan ini setiap kalimat yg keluar dari tutur katanya selalu ada kata “SubhanAllah”. Pada saat berdiam diri menunggu barang angkutan,  bibirnya selalu bergeming dengan dzikir.  Maasya Allah.  Ťeladan yang layak ditiru — tak menyiakan sedetikpun tanpa mengingat Allah. 
Semoga Allah selalu merahmati Pak Dahlan.  Aamiin Ya Rabb.

Read Full Post »

Harus saya akui bahwa salah satu kriteria penting memilih kafe sebagai tempat bertemu dengan klien adalah adanya parkir khusus sepeda selain cita-rasa kopi hitamnya. Itulah sebabnya kemarin sore (20/09) mulai jam 5 hingga kafe tutup kami berdiskusi di sini — di ruang meetingnya.  Pengalaman kedua yang menyenangkan dan insya Allah terulang lagi. 

Kafe yg ada parkir sepedanya memang oyé!!!

Read Full Post »

Read Full Post »

Bibir Tak Perlu Bergerak

Kenapa bibir kita
{atas dan bawah}
tidak bergerak sewaktu kita mengucapkan kalimah…
Laaila ha illallaah ???

Coba ucapkan … Laaila ha illallah.
Kedua~dua bibir kita tak bergerak kan? Belum percaya??? coba ulangi lagi *Laaila ha illallah*Kenapa dan mengapa?

*Jawabannya: *
Itulah Rahmat ALLAH yang amat besar ke atas hamba-hamba~NYA…
Di saat sakaratul maut, tubuh kita tdk bisa apa~apa.
ALLAH memberikan pilihan paling mudah untuk hamba~NYA hanya melafadzkan…
Laila ha illallah… atau
Laa Ilaaha Ilallaah.
ALLAH tidak menuntut badan kita bergerak sedikitpun bahkan bibir kita.

Ini karena seseorang yang didatangi Sakaratul Maut
{Nazak} dia sudah tidak berdaya lagi menggerakkan seluruh tubuhnya kecuali LIDAH nya saja.

MasyaALLAH, ALLAHU AKBAR
SubhanALLAH sedemikian rupa ALLAH memberikan kemudahan saat orang~orang menghadapi kematian sebagian akan mendapati masa~masa sulit…
ALLAH benar~benar tdk menginginkan kalian masuk neraka, krn begitu sakitnya neraka, begitu tdk mampunya kalian masuk neraka, begitu luasnya neraka begitu ngerinya neraka,…
Seandainya saja percikan setetes api neraka turun kebumi, maka bumi & isinya hancur luluh lantak….

Mohon maaf apabila lidah ini pernah berkata/berucap sesuatu yg kurang menyenangkan, semoga pesan ini bisa menjadikan kita lebih bisa menjaga lidah kita dalam bertutur/berucap.

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Read Full Post »

Mintalah KepadaKu

Dalam khutbah Jumat di Kedutaan Besar Indonesia di Amerika hari ini,  ustadz Khalid Basalamah menyampaikan hadits qudsi “Yaa ibadi (wahai hamba2ku)  …”. 

Terjemah hadits:

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman[1]: 

Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) di antara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. 

Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. 

Wahai hamba-Ku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. 

Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. 

Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. 

Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. 

Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun.  

Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. 

Wahai hamba-Ku, seandainya  sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir  semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. 

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya.  

(Riwayat Muslim)

 


 

Kandungan Hadist:

  1. Menegakkan keadilan di antara manusia serta haramnya kezaliman di antara mereka merupakan tujuan dari ajaran Islam yang paling penting. 
  2. Wajib bagi setiap orang untuk memudahkan jalan petunjuk dan memintanya kepada Allah ta’ala. 
  3. Semua makhluk sangat tergantung kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan terhadap dirinya baik dalam perkara dunia maupun akhirat. 
  4. Pentingnya istighfar dari perbuatan dosa dan sesungguhnya Allah ta’ala akan mengampuninya. 
  5. Lemahnya makhluk dan ketidakmampuan mereka dalam mendatangkan kecelakaan dan kemanfaatan. 
  6. Wajib bagi setiap mu’min untuk bersyukur kepada Allah ta’ala atas ni’mat dan taufiq-Nya. 
  7. Sesungguhnya Allah ta’ala menghitung semua perbuatan seorang hamba dan membalasnya. 
  8. Dalam hadits terdapat petunjuk untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta penyesalan atas dosa-dosa 

 


 

Tema hadits dan ayat-ayat Al Quran yang terkait:

  1. Besarnya bahaya kezaliman: 7 : 44, 10 : 13
  2. Allah sumber hidayah dan rezeki: 18 : 17, 
  3. Kemurahan dan ampunan Allah ta’ala: 39 : 53, 7 : 156
  4. Kebaikan dan keburukan akan kembali kepada manusia: 17 : 7, 47 : 38, 7 : 160

 


Nota kaki:

  1. Hadits seperti ini disebut hadits qudsi, yaitu hadits yang maknanya dari Allah dan redaksinya dari Rasulullah.

Read Full Post »

Older Posts »