Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2015

Sungguh, dari postingan sebelumnya terkait Nasehat untuk Penulis, saya memaknai dan meresapinya lebih jauh lagi. Ini tentunya terkait dengan apa yang saya alami selama bertahun-tahun karena sejak lama saya sudah ingin sekali menuliis sebuah buku namun terus saja tertunda dengan berbagai alasan:

  1. Belum menemukan secara jelas apa yang sebenarnya ingin saya tulis, atau tepatnya saya tak tahu akan menulis tentang topik apa. Terkait agama? Saya jelas bukan seorang ustadz atau ulama dengan banyak ilmu yang siap berbagi tentang amal baik kepada orang lain. Meski keinginan menulis terkait agama justru karena saya ingin sekali tidak terjadinya pengkotakan atau pemisahan antara ilmu agama dan ilmu dunia karena semua ilmu sumbernya hanya satu: Allah subhanahu wa taala. Namun, saya belum tahu bagaimana mengemasnya dengan baik sehingga tak terkesan menggurui dan agama-banget namun juga tak datar hanya cerita tentang dunia. Terbesit juga ide untuk menulis perjalnan kesolehan seseorang namun dalam bentuk novel. Eh …tahu-tahu mandek pikiran saya karena tahu-tahu ada bayangan Kang Abik yang berhasil menulis novel Ayat-Ayat Cinta dan Api Tauhid yang begitu dahzyat itu. Memang ini bukan masalah saingan karena memang dia julas kelasnya jauh di atas saya. Atau …mau menulis tentang bisnis dan manajemen? belum tahu juga …karena saya juga belum merasa pakar di bidang manajemen atau bisnis. Jadinya ya begini, mandek terus secara berlarut-larut hingga tahunan sampai sekarang – mungkin sudah lebih dari 10 tahun saya cuman “omdo” pengen nulis buku tapi gak kesampean juga. Semoga dengan menulis posting ini saya merasa semakin dipecut.
  2. Selalu gagal dalam menyusun struktur yang bagus mulai dari bab awal hingga bab akhir. Dalam bahasa novel, saya belum menemukan plot ceritanya apa. Kalau memang ingin mengingatkan diri dan pembaca untuk menuju ketakwaan kepada Allah SWT, misalnya, saya belum tahu musti dimulai dari mana dan akhirnya di mana. Saya sudah mencoba memikirkan sebaik mungkin langkah-langkah nya terkait plot cerita ini, namun tetap selalu gagal menindak-lanjutinya hingga menjadi tulisan yang matang.
  3. Selalu ingin yang sempurna terlebih dahulu sehingga masalah struktur (butir 2 diatas) menjadi prioritas utama namun akibatnya selalu ditunda karena belum juga merasa sempurna dengan apa yang saya peroleh hingga saat ini. Hal ini diperparah dengan tidak-fokus nya saya dalam menentukan tema, di suatu saat ingin menulis terkait manajemen perubahan dan di saat lain ingin menulis pengalaman saya sebagai konsultan. Ini yang akhirnya saya muter-muter mbulet ndak karuan jluntrungannya hingga mandek lagi ..mandek lagi …
  4. Selalu akhirnya mentok dengan pertanyaan mendasar ini: apa ada yang membaca ya topik ini? Siapa yang tertarik dengan saya dan tulisan saya? Saya ini siapa?

Beberapa hal di atas sering menghantui saya yang akhirnya mandek menulis.

Nah …

Nasehat dari penulis senior di Malaysia pada postingan saya sebelumnya sungguh menggugah jiwa saya karena ia berhasil menghibur saya dan bisa mengatasi sebagian besar dari masalah saya dengan empat butir di atas. Nahatnya begitu meresap di hati sanubari paling dalam:

Biar rasa mencari kata, bukan kata mencari rasa.

Masya Allah! Indah sekali untaian kata di atas. Mengapa? Yang ia sampaikan sangat sesuai dengan apa yang saya sering saya lakukan: menulis apa saja yang ada di kepala, seringkali tak memikirkan strukturnya apa, semuanya mengalir begitu saja seperti saat saya menulis ini. Tanpa konsep. Nasehat ini sangat bermanfaat bagi saya, sekurangnya menginspirasi saya untuk keep writing!

Read Full Post »

Dari MKD di Doa Damai WA Group:

NASIHAT USTAZ PAHROL DARI ATAS BUMBUNG MASJIDIL HARAM

Oleh: Abdullah Bukhari bin Abdul Rahim.

27 September 2015/13 Zulhijjah 1436 @ Masjidil Haram.

Saya menolak perkataan “kebetulan” kerana perkataan itu tidak sesuai dengan kehebatan ilmu pengetahuan Allah yang sudah mengatur perjalanan alam jauh sebelum alam ini muncul. Apatah lagi ia tidak seiring dengan ayat ini:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Ertinya: Tidak ada sesuatu (perkara atau) kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (al-Hadid [57:22]).

Petang ini sejam sebelum Maghrib, saya bergegas ke Masjidil Haram mahu mengejar solat maghrib berjemaah. Pintu ke laluan Kaabah ditutup kerana sudah penuh berisi. Pihak pengurusan Masjidil Haram mengarahkan kami ke laluan eskalator terus ke bumbung Masjid. Ketika melangkah mencari ruang, saya disapa seseorang.

“Masya Allah! Ustaz Pahrol Muhd Juoi, MAHAGURU PENULISAN KREATIF rupanya.”

Ustaz Pahrol adalah seorang penulis  lagenda yang bertugas di Syarikat penerbitan Telaga Biru. Tulisannya halus membuai jiwa. Dalam halus ada teguran mesra yang mudah dihadam. Saya boleh katakan beliau memang dianugerahi “HIKMAH/KEBIJAKSANAAN” dalam tutur katanya dan dalam arena penulisan.

Saya yakin sepenuh hati bahawa pertemuan ini bukan kebetulan, tetapi takdir Allah semenjak azali yang mahu saya duduk dan BELAJAR SESUATU dari beliau. Tanpa berlengah saya dan isteri mengambil tempat di sebelahnya. Dengan malu saya meminta teguran dan nasihat dari beliau.

Beliau berkata: “Tak mengapa Ustaz Abdullah, memang kita meminta dari manusia hanya 2. DOA dan NASIHAT.”

Antara nasihat emas darinya yang sempat saya kutip adalah:

– Menulis biar dari rasa. Apa yang dirasa kita terus tulis. Bahasa atau ayat? Biar rasa mencari kata bukan kata mencari rasa. Contohnya manusia yang mabuk bercinta, rasa cinta datang dahulu. Bila hati sudah cinta perkataan indah pasti menjengah.

– Ketika mengatur ayat dari rasa, jangan sibuk mencari kesempurnaan tatabahasa. Ia membantutkan rasa. Tulis dahulu, kemudian semaklah tatabahasanya.

– Dalam menulis usah dikejar gelaran BESTSELLER secara angka. Contohilah Dr.  A’idh al-Qarni penulis buku bestseller  “LA TAHZAN”, katanya: “Bestseller bagiku adalah cukup dengan para pembaca mendapat hidayah dari tulisanku lalu dia MENDOAKAN AKU.”

– Penulis perlu sayangkan sasaran dakwah atau pembaca. Jika mahu menggunakan kaedah “dakwah sentap” sekalipun, sulamilah ia dengan kasih sayang kerana itu adalah arahan Allah kepada Nabi Musa AS ketika beliau dihantar berhadapan dengan FIR’AWN yang paling jahat:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

“Pergilah kamu berdua (Wahai Musa dan Harun) kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kekufurannya.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya, DENGAN KATA-KATA YANG LEMAH-LEMBUT, SEMOGA DIA BERINGAT ATAU TAKUT” (Taha [20:43-44]).

– Jangan DIPERSALAHKAN pembaca, sebaliknya susunlah ayat agar pembaca BERASA BERSALAH. Seni ini adalah contoh kasih sayang dalam penulisan.

– Dalam penulisan perlu diterapkan 3 kaedah TAKHALLI  (mengosongkan atau menafikan salah faham), TAHALLI  (menghias kata dengan halus agar pembaca tidak rasa dipersalahkan) dan TAJALLI (menjelaskan fakta yang sebenar). Gabungan ketiga kaedah ini mampu menyedarkan pembaca yang sudah sekian lama berpegang pada fahaman yang salah.

– Perlu sabar dalam penulisan. Bayangkan kesukaran mendidik diri sendiri dalam kesukaran mendidik pembaca. Jika kita perlu masa yang panjang untuk berubah, maka para pembaca juga tak mungkin berubah hanya selepas sekali membaca tulisan kita.

– Penulisan adalah dakwah. Mulai dengan BASMALAH. Jika kita terhenti atau kematian idea, banyakkan istighfar serta sedekah kerana mungkin dosa kita yang membantutkan kelancaran ilham anugerah Allah. Pohon kepada Allah agar dilimpahi idea bernas kerana penulisan kita mungkin menjadi lorong yang membawa kepada perubahan seseorang.

– Antara kerisauan Ustaz Pahrol kepada ramai ustaz muda yang popular atau berstatus selebriti adalah mereka ini disanjung pada usia muda sebelum sempat merasai pahitnya mujahadah dalam perjuangan. Akibatnya ilmu yang disampai belum tentu pembuktiannya atau sukar menusuk hati. Beliau mengimbau banyak kepahitan ketika bermujahadah dalam dakwah bersama jemaah al-Arqam dahulu.

Sebelum berpisah, beliau mengakui banyak merujuk nota Tafsir saya kerana ia agak mudah dihadam oleh orang awam. Beliau menyimpulkan nasihat 20 minit itu dengan kata kunci “SAYANGILAH SASARAN DAKWAH ATAU KELOMPOK PEMBACA KITA.”

Alhamdulillah kerana diberi kesempatan oleh Allah menemui manusia hebat seperti beliau. Nasihat yang beliau kongsi itu sebenarnya bukan berdurasi 20 minit, TETAPI IA ADALAH HIMPUNAN HIKMAH BELIAU YANG BERUSIA 40 TAHUN DALAM DUNIA DAKWAH

Read Full Post »

Hari Ini Gowes Perdana (lagi)

Gowes perdana setelah absen lama sekali sejak 6 April 2015, mengunjungi tempat istirahat ibunda tercinta, Ny. Moesrikim binti Kromokarto, yang wafat pada 20 Ramadhan 1436 H atau bertepatan dengan 6 Juli 2015 atau tepat TIGA BULAN setelah kejadian disenggol Bianglala.

Gowes Perdana 27Sep2015

Duh …rindu sekali sama ibuku. Seorang tukang jahit dan juru masak jasa-boga yang bekerja keras untuk membesarkan empat anak yang semuanya laki-laki. Etos hidup ibunda sungguh luar biasa:

1.) Kerja keras, menjahit baju pesanan langganan hingga larut malam dan jam 3:30 pagi sudah bangun lagi.

2.) Disiplin dalam menepati janji kepada pelanggannya baik janji “ngepas” baju maupun menyelesaikan baju sesuai waktu. Saya kebagian mengantar baju yang sudah selesai dengan menggunakan sepedah jengki Forever warna hijau tentara.

3.) Customer Focus – ibu selalu mendengarkan (active listening) apa yang menjadi kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) pelanggan dan beliau CATAT dengan rinci di buku. Kemudian beliau membuat POLA sebelum memotong kain nya. Masya Allah … Teliti dalam membidik pemenuhan kebutuhan pelanggan. Bila setelah ngepas baju pelanggan tidak ‘puas’ beliau bongkar lagi. Decak kagum saya buat beliau ini … Masya Allah!

4.) Menjunjung tinggi ‘Integritas’ – kalau ada kelebihan pembayaran pelanggan beliau selalu kembalikan.

5.) Pendidikan anak harus diutamakan, kalau tak ada biaya harus mikir dua kali lipat bagaimana agar biaya ada, dengan kerja keras tentunya.

6.) Menjalin baik hubungan dengan tetangga, misalnya seringkali saya disuruh ibu mengantar NYAMIKAN (camilan) ke tetangga baik yang paling dekat rumahnya, di Pavilyun kami, bahkan hingga ujung jalan Sumatra, Madiun. Nyamikan itu bisa pisang goreng, pethola, apem, pukis, singkong, gethuk, klepon, bikang, grontol, heci, timus yang ditempatkan di piring ditutup serbet. Saya mengantarkannya bolak-balik per piring karena piringnya ya hanya satu itu. Opo ora théyol tuwenan?!
Tak hanya itu, ibu sering “nonggo” alias bertamu ke tetangga misalnya ke rumah Bu Soewelo, Eyang Mardiyo, Bu Djiyo, Bu Parto, Bu Dr. Daryo, Dr. Narso, Bu Hamang ….silaturahim.

Ya Allah, Ya Rabb
Lebarkanlah kubur ibuku
Berilah ia nikmat kubur
Hingga hari kebangkitan kelak.Bukalah pintu surga firdausMu
Untuk umatMu yang sangat berjasa membesarkan putra-putra nya ini
Sangat berjasa kepadaku.

Aamiin Allohumma Aamiin …

Read Full Post »

image


Catatan kutbah Jumat di Kantor Pusat PT Indosat, 25 September 2015.

Sungguh, ini adalah salah satu dari kutbah Jumat terbaik yang pernah saya ikuti karena penyampaiannya lugas, tegas dan jelas sekali. Masya Allah! Sayang saya tak sempat mencatat nama dari khatib yang ada di foto di atas. Bagi yang kenal atau tahu nama ustadz tersebut di foto atas, mohon mengabarkan ke saya.

Ini adalah catatan yang sempat saya tulis meski tentunya ada beberapa hal yang terlewat saking asiknya mengikuti kutbah beliau:

Surah an Nisa ayat 125:

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

Dari ayat ini sudah jelas Allah secara tegas berfirman bahwa Ibrahim adalah kekasih Allah karena keikhlasannya dalam menyerahkan dirinya kepada Allah semata. Nabi Ibrahim sendiri telah mangalami perjalanan spiritual yg begitu panjang dimulai saat bahkan ia masih menganggap bintang sebagai tuhannya. Namun ketika melihat bintang jatuh kemudian ia menjadikan matahari sebagai tuhannya. Namun kemudian matahripun lenyap di malam hari sehingga ia tak menuhankan matahari dan akhirnya ia menemukan Tuhan yang sebenarnya, Allah subhanahu wa taala.

Namun Allah tak menerima Ibrahim begitu saja karena sesudahnya ia ditimpa banyak ujian berat dari Allah. Usia sudah lanjut namun belum juga dapat anak, dan akhirnya setelah tua punya anak yang namanya Ismail. Ketika anaknya masih bayi berwarna merah, ia pergi ke lembah yg hewan pun tidak mau hidup di situ karena tak ada tumbuh2an, suatu tempat dekat baitullah. Ditinggalkanlah anak yang masih bayi dan istrinya. Istrinya pun pada awalnya keheranan mengapa musti ditinggal Ibrahim sampai akhirnya menanyakan kepada Ibrahim: “Apakah yang engkau lakukan adalah perintah Allah?”. Ia segera menuruti kata suaminya ketika Ibrahim mengatakan “ya, perintah Allah”. Istrinya pun pasrah, karena perintah Allah.

Allah memberkahi mereka karena di lembah gersang tersebut keluar air zam zam yang mengalirkan air bersih sepanjang masa dan hingga kini dan akhir jaman akan tetap mengalirkan air zam zam. Setelah meninggalkan anak istri ber tahun2, ketika diperintah Allah agar anak yg balikh utk dikunjungi, Allah memberi ujian lagi dengan memerintahkan sembelih anaknya yang bernama Ismail. Pada saat masih rindu ber tahun2 tak bertemu anaknya, ia harus merelakan anaknya untuk disembelih.

Perjalanan spiritual yg luar biasa

Kisah perjalanan Ibrahim menemukan tuhannya merupakan kisah panjang penuh perjuangan dan banyak rintangan justru ketika ia telah menemukan tuhannya. Mestinya, ketika Tuhan sudah ditemukan, akal sehat mengatakan bahwa hidupnya akan lancar tanpa rintangan. Ternyata justru sebaliknya, ia mengalami ujian bertubi-tubi dari Allah Taala. Ini jelas perlu kita renungkan bagi kita semua. Sudah selayaknya kita setiap bertanya kepada diri kita sendiri:

Sudahkah keimanan kita ke Allah sampai pada kecintaan tertinggi?

Pertanyaan ini seharusnya menjadi the most strategic question untuk setiap diri dari kita yang mengaku muslim. Sugahkah kita secara rutin menanyakan hal ini kepada diri kita? Kalau belum, harus segera kita mulai karena ini penting sekali dalam rangka meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt.

Janganlah kita tergolong manusia yang bisa shalat khusyu hingga menangis, tapi korupsi jalan terus. Mungkin sebagian kita merasa bersih dan menganggap menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi sudah sebenarnya masuk ke dalam ranah korupsi.

Orang2 yg berhaji harusnya ingat semangat ini agar pulang dari haji, maka ia mencitai Allah melebihi dari lainnya: ada perubahan komitmen, tak ada standar ganda, Allah nomer satu dan harus diutamakan dibandingkan lainnya. Ritual ibadah haji ada pengorbanan, ada darah di situ, ada aspek jihad yg berdarah. Naik haji harus siap untuk mati. Kalau berqurban, kita memotong sendiri hewan qurban nya. “Labaik Allah” harus menggelora di dadanya setiap saat bahkan setelah pulang dari haji, agar hajinya tak sia-sia. Harus ada di sepanjang hidupnya.

Diskotik kok masih jalan
Juga maksiat lainnya

Setiap insan harus bercita cita mati syahid di dada kita

Matinya kapan dimana itu urusan Allah. Khalid bin Walid yang merupakan pahlawan perang pemberani dan pedangnya telah membunuh banyak musuh-musuh Allah. Ia menginginkan mati syahid namun Allah tak mengijinkannya. Akhirnya….matinya karena tua, mati di tempat tidur sperti eekor onta tua yg tak berdaya, padahal dulunya gagah berani.

Kita semua akan mati
Khusnul khatimah atau suul khatimah?
Syahid atau sangit?

Tak ada yg tahu

Islam harus menggelora di dada kita.

Read Full Post »

Kisah Kesederhanaan Rasulullah

image

*foto: Replika(3D)keadaan rumah Rasulullah SAW dibuat brdasarkan hadist.
.
“Sesungguhnya hamparan tempat tidur Rasulullah SAW terdiri atas kulit binatang, sedang isinya adalah sabut korma.”(HR At-Tirmidzi)
.
Hafshah saat ditanya,“Apa yang menjadi tempat tidur Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Kain dari bulu yang kami lipat dua. Di atas itulah  Rasulullah SAW tidur. Pernah suatu malam aku berkata (dalam hati): sekiranya kain itu aku lipat menjadi 4 lapis, tentu akan lebih empuk baginya. Maka kain itu kulipat empat lapis.”(HR At-Tirmidzi)
.
Manakala waktu subuh, cerita Hafsah, Rasulullah SAW mengatakan, “Apa yg engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” Aku menjawab, itu adalah alas tidur yg biasanya Nabi pakai, hanya saja aku lipat 4. Aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah SAW membalas, “Kembalikan kpda asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam hari.”(HR At-Tirmidzi)
.
Cerita ttg tempat tidur Rasulullah SAW pernah menyebabkan Umar bin Khatab menangis.
.
Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah SAW. Umar mendapati Rasulullah sdg berbaring di atas tikar yg sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantalkan pelepah kurma yg keras.
“Aku ucapkan salam kepadanya & duduk di dekatnya. Aku tdk sanggup menahan tangisku,” ujar Umar bin Khattab
.
Rasulullah yg mulia pun sampai bertanya kpd Umar, “Mengapa Engkau menangis, wahai Umar?” .
“Bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yg aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra & Kaisar duduk di singgasana emas & berbantalkan sutera”.
.
Lalu Nabi SAW berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya skrg jg; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yg menangguhkan kesenangan kita utk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dgn dunia seperti orang yang bepergian pd musim panas.Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat & meninggalkannya,” ujar Rasul SAW.
.
Semoga ini bisa menjadi cerminan buat kita..

.

Read Full Post »

Masalah Akan Selalu Ada

image

Sekitar seminggu terakhir ini saya sedang menata-ulang rak buku saya dan memberi sekat yang berbeda antara buku agama dengan buku-buku lain karena saya rajin membeli buku terkait bisnis , manajemen dan pengembangan diri. Bagi saya, profesi konsultan manajemen dan bisnis yang sudah saya lakoni sejak 1994 tak mungkin bisa lepas dari kegiatan membaca buku untuk tujuan meningkatkan pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills) maupun perilaku (attitude) yang biasa disingkat dengan KSA.

Salah satu yang menarik dari kegiatan menata ulang buku adalah saya atur juga peletakan majalah Tarbawi dan Sabili yang selalu saya baca sejak 2008 yang lalu hingga sekarang keduanya sudah wafat, meski Sabili bangkit kembali dengan format sedikit berbeda. Dari sederetan majalah Tarbawi saya secara acak saja mengambil salah satu majalah mendapatkan edisi 196 ini dan saya baca Dirosat (kajian utama) nya dan saya buatkan sari patinya seperti di foto di atas. Benar sekali bahwa kita ini selalu menghadapi masalah dimana setiap orang tentu berbeda masalahnya. Dibutuhkan kearifan dalam menghadapi masalah dan bahkan masalah yang ada justru membuat kita lebih arif dalam menjalani kehidupan ini. Justru dengan adanya masalah inilah maka otak kita selalu berputar untuk memikirkan cara terbaik untuk menghadapinya meski mungkin kita belum sempat tahu bagaimana menyelesaikannya. Tahap awal memang harus dihadapi dulu dan tak perlu tergesa-gesa menyelesaikannya bila terlalu komplek masalahnya.

Karena kita masih hidupbdi dunia ini, maka wajarlah bila kita menghadapi masalah yang memerlukan kontribusi langsung dari kita untuk mengatasinya. Di alam barzakh kita tak bisa menyelesaikannya lagi karena kita sudah terputus dari semua kehidupan dunia dan bahkan kesempatan beribadah pun sudah tak ada. Selagi kita masih hidup di dunia, kita haris berani menghadapi masalah dengan konsep DITA, mulai dengan menggantungkan semuanya kepada petunjuk Allah dan RasulNya melalui Doa. Setelah itu melakukan Ikhtiar sepenuh hati dan tanpa putus asa sedikitpun mencari penyelesaian terbaik, kemudian Tawakkal terhadap apapun yg kita lalui. Tentu akhirnya kita bersyukur dengan berucap Alhamdulillah atau istighfar Astaghfirullah, apapun hasil akhirnya dari penyelesaian masalah tersebut. Tak tertutup kemungkinan masalah baru muncul lagi.

Wallahu’alam bishawab
GW

Read Full Post »

Ritual Pagi

Ritual pagi … Nyeruput kopi tubruk hasil gilingan (baca: engkolan) sendiri. Tinggal pilih biji kopinya yang mana. Mau Jack Runner, Philocoffee atau Kopi Bu Nur dari Kota Baru via Klinik Kopi. Pagi ini saya pilih Kopi Bu Nur aja …atas budi baik teman baik Bintang Sukma Mukti …. Iki ngono jenenge kopi nguwePROG abiiiiszzzz ….!

Selamat berkarya, sobat2ku semua …!
Salam Kopi Nusantara nan Nuansamatik!

JrèNg!!!

aero press

Read Full Post »

Older Posts »