Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2012

Oleh Dr. Hidayat Nur Wahid
(Kajian Dzuhur di auditorium Indosat, 3 Ramadhan 1433 H – 23 Juli 2012)
————————–

Setiap kita adalah pemimpin, dimanapun berada

Bulan Ramadhan utk meng-internalisasi kepemimpinan kita.

Kepemimpinan harus dilakukan oleh kita semua.
Kepemimpinan seperti apa?

Pertama adalah kemampuan, keberanian diri untuk menyapa. Allah saja menyapa apalagi kita.
Tentu bukan asal menyapa, tapi yg menyemangati. Allah mengetahui apa yg terjadi dengan kita. Tapi seolah tutup mata. Wahai anda orang2 yg beriman ….

Jiwa kepemimpinan harus ada, harus menyapa – menghadirkan semangat bekerjasama yang luar biasa.

Kedua, kesadaran akan peran sejarah. Allah mengingatkan kepemimpinan jenis itu. Diingatkan dengan kepemimpinan sebelum kita. Orang tua kita, kakek kita, hingga generasi Rasul.
Jiwa kepemimpinan yg selalu mengkaitkan dengan sejarah. Selama bulan Ramadhan banyak peristiwa penting: turunnya Quran. Imam Syafii: selalu menunduk, tidak menulis, namun hafal apa yg diajarkan. Umur 9 tahun sudah hafidz Quran.
Kita berpuasa jangan sekedar jadi pemimpin biasa tapi pemimpin yang bisa dicatat oleh sejarah.
Kepemimpinan untuk perubahan sejarah.

Ketiga, kepemimpinan yg mengajak umatnya kpd keunggulan spiritual, ukhrawi – menghasilkan nilai2 taqwa.
Taqwa- takut pada yg tua? Bukan!
Sebelum utama di akhirat, harus utama di dunia dulu.
Kepemimpinan yg mendorong kita menjadi manusia utama.

Kepemimpinan yang mengkombinasikan duniawi dan ukhrawi.

Advertisements

Read Full Post »

Khutbah Traweh di Masjid Nurul Ikhlas
2 Ramadhan 1433 H
(21 Juli 2012)

TIGA SABAR DALAM PUASA

Allah pasti menguji orang2 beriman sedikit saja dengan rasa takut. Ujian puasa adalah lapar. Gembirakanlah pada orang2 yg sabar. Org yg puasa akan mendapatkan 3 kemuliaan karena ada 3 kesabaran:

1. Sabar taat. Kalau hanya puasa 1 minggu berarti tak sabar dalam taat kpd Allah. Traweh juga, hanya 1 minggu. Bagi yang sabar, Alhamdulillah bisa berpuasa dan traweh sebulan penuh.

2. Sabar meninggalkan larangan. Makan, minum, biologis – dilarang “sedikit” yaitu dari Subuh sampai Maghrib saja. Setelah maghrib semuanya bisa.
Ada tiga hal yang harus ditinggalkan selama berpuasa:
– tinggalkan ucapan bohong
– tinggalkan perbuatan bohong
– tinggalkan tindakan org yg bodoh.

Wudhu saat berpuasa sebaiknya jangan menghirup air via hidung karena hidung nyambung ke tenggorokan – ditakutkan air masuk.

3. Sabar dalam menderita. Lapar itu menderita. Orang yg puasa harus sabar dalam menderita.
Bila karena besok mau pulang kampung terus gak puasa – dosa besar. Penderitaan kita tak seberapa dibanding Rasul – perang Badar. Rasul membatalkan puasa ba’da ashar dalam perjalanan jauh. Artinya, setiap hari Rasul selalu berniat puasa. Namun bila dalam perjalanan dan tidak kuat menahan lapar dan haus, baru membatalkan puasa.

—–

Read Full Post »

Kutbah Traweh di Masjid Nurul Ikhlas
Tgl. 1 Ramadhan 1433 H
20 Juli 2012

TIGA PESAN RAMADHAN
1. Kita harus bersyukur karena bisa masuk di bulan Ramadhan 1433H. Banyak saudara-saudara kita yang tak bisa sampai di bulan suci ini karena telah lebih dulu dipanggil Allah SWT. Kita harus manfaatkan semua detik waktu kita agar Ramadhan ini benar-benar memiliki makna mendalam karena belum tentu tahun depan kita bisa berjumpa dengannya.

2. Di dalam berdoa, kita harus hati-hati dengan yang kita minta. Ada orang yang minta kaya, akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT namun terus sakit-sakitan. Kemudian minta sehat, dikabulkan namun terus anaknya sakit. Saat perang Baratayudha, kaum Pandawa mohon kepada dewa sebelum perang dengan Kurawa. Seorang sesepuh Pandawa mengatakan kepada Pandawa, apa yang mereka minta. Mereka minta “menang” dalam perang. Sesepuh tersebut langsung bereaksi “Celaka!”. Ternyata doa dikabulkan karena Pandawa akhirnya menang perang namun semua anaknya mati. Makanya kita harus hati-hati memilih redaksi doa. Dianjurkan doa kita diakhiri dengan “Rabbana atina fidunya hasanah. Wafil akhirati hasanatan waqina adzabannaar”.

3. Shalat adalah tiang agama. Shalat merupakan hal pertama yang dihisab di hari akhir. Bila shalatnya disiplin dan tepat waktu, tak pernah meninggalkannya, maka amalan lainnya tak penting lagi dan ia masuk surga. Orang yang shalat akan membentuk hati yang bersih. Hati yang bersih akan menghasilkan amalan-amalan yang baik. Makanya dalam mendidik anak, kita harus keras dan tegas dalam memerintahkan mereka mendirikan shalat. Ini penting sekali.

—-

Read Full Post »

Gowes Santai

 

Gowes Minggu 15 Juli 2012

Read Full Post »

Gowes di Madiun (1/2)

JRENG!

Asik banget akhir pekan kemarin gowes di kota kelahiran penuh kenangan: Madiun, sekalian menghadiri pernikahan putri teman.

Rencana ke Madiun sebenarnya ya karena akan menghadiri undangan pernikahan. Namun karena kota ini merupakak kota khusus bagi saya, saya ingin menikmati keseluruhan masa kecil dan remaja saya dimana dulu saya suka keliling Madiun dan sekitarnya menggunakan sepeda jengki ‘laki-laki’ warna hijau tua merek Forever, bahkan bersepeda hingga Nganjuk (50 KM dari Madiun) melalui alas Saradan.

Kereta Bima

Pilihan kereta Bima karena saya tahu begitu sampai di Madiun masih pagi, sekitar jam 3:05 (menurut yang tertera di karcis). Ini adalah kali pertama bawa sepeda ke Madiun menggunakan kereta. Saya sampai di Gambir hari Jumat 6 Juli 2012 jam sekitar jam 16:15 setelah melalui jalanan Jakarta yang macet sore itu ba’da Ashar. Langsung panggil porter karena saya belum pengalaman membawa sepeda naik kereta, biar tak ada masalah nantinya. Saya paling males musti clingak-clinguk. Kalau pake porter kan enak, dia sudah tahu celah-celahnya kereta. Sambil menunggu kereta datang di stasiun Gambir, saya menikmati rawon dulu. Baru jam 16:35 sang porter memberi kabar bahwa kereta sudah tiba. Langsung sepeda diangkut dan masukin ke kereta Eksekutif 2. Alhamdulillah ada penumpang satu keluarga yang tempat duduknya berhadapan sehingga sepeda bisa saya masukkan diantara tempat duduk yang berpunggung-punggungan (lihat foto).

Saat dibawa oleh porter, Brommie ditaruh diantara kursi penumpang yang berhadapan sehingga saya bisa mengamatinya sepanjang perjalanan kereta api Bima.

Setelah sampai Yogya, penumpang yang satu keluarga turun dan diganti penumpang lainnya, maka Brommie jadi seperti ini posisinya; kebetulan kosong kursi ini. Ini berlanjut hingga sampai di Madiun.

Perjalanan KA Bima saya nikmati dengan baik karena memang pada dasarnya saya suka naik kereta api – sejak kecil. Bahkan, rasanya aneh kalau ke Madiun naik pesawat ke Solo dulu terus nyambung ke Madiun. Rasanya kurang nuansamatik karena kesan Mediunan-nya kurang. Kalau mau pas sekali nuansanya ya kudu naik kereta api karena jaman dulu memang begitu. Sepanjang perjalanan saya banyak tidur karena memang ingin (cita2nya) besok paginya mau gowes ke luar kota Madiun yaitu ke Telaga Ngebel. Saya juga sudah menggunakan jersey BSD lengan panjang warna merah dan celana panjang siap gowes supaya praktis pas sampe Madiun siap gowes.

Alhamdulillah jam 3:10 kereta sudah masuk Madiun. Salut buat Perum Kereta Api yang tepat jadwal! (mundur 5 menit tak apalah … pesawat aja bisa mundur jam-jaman kok …he he he he …). Begitu turun dari kereta, saya merasakan kegembiraan luar biasa. Betapa tidak, Madiun ini kota kelahiran saya dan hingga usia 19 tahun saya hidup di Madiun. Saya merasakan nikmatnya balik kampung. Sepeda Brommie saya sorong sambil bersiul dengan tas Brommie di sepeda dan saya membawa satu ransel berisi pakaian ganti. Keluar dari setasiun langsung sepeda saya set dan langsung gowes ke depan stasiun dimana mbakyu bakul nasi pecel top markotop biasa jualan. Di warung ini ketemu Bambang Cino (temen sejak SD) yang sedang menjemput istri dan kedua anaknya balik dari Jakarta menggunakan kereta yang sama dengan saya, meski saya tak mengetahuinya. Akhirnya makan pecel dua pincuk lauk paru dan peyek plus lempeng …biyuh nikmat tenaaaaan …pedes puwas!!! Dibayarin pulak sama Bambang … ha ha ha ha ….

Setelah selesai andok sego pecel, saya gowes ke Hotel Abdul Rahman di Jl. Tidar via rumah kenangan di Jl. Sumatra. Sampai di hotel saya hanya menitipkan tas ransel, langsung tancap gowes menuju masjid AGung. Subhanallah ..!!! Begitu nikmatnya gowes pagi hari di Madiun …yang terdengar hanya bunyi pedal dan rantai sepeda saja …ser ser ser ser ….. Alhamdulillah …masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati kota kenangan ini …. Saya memang kangen shalat di masjid Agung ini dan sudah saya agendakan selai masjid Taman dan masjid di Islamic Centre.

Menuju masjid Agung untuk shalat Subuh

Parkir di masjid Agung, Madiun.

Di Pabrik Gula Pagottan – 9 KM selatan Madiun.

Di Dolopo – 1 KM lagi menuju pengkolan ke kiri menuju Telaga Ngebel.

Jalan lurus menuju Telaga Ngebel, diantara kebun tebu. Sepertinya datar tapi menanjak terus ….

Istirahat sejenak menuju Telaga Ngebel

Narsiso!

Asiknya tikungan dan tanjakan menuju Ngebel. Udara sejuk, sepi. Meski ngos-ngosan dan jadi tontonan penduduk karena gak ada yang bersepeda di ketinggian ini, namun PUWASSSSSZZZZ!!!!

Kirain sudah dekat, ternyata masih jauuuh ..dan nanjak ….nikung ….Wus…wus …wus ….!!!!

BERSAMBUNG –

Galeri Foto (tak sempat menulis sambungan)

IMG-20120707-00679

Masjid Taman

Masjid Taman

IMG-20120707-00758

IMG-20120707-00760

IMG-20120707-00762

IMG-20120707-00763

IMG-20120707-00764

IMG-20120707-00765

IMG-20120708-00774

IMG-20120708-00776

Masjid Jiwan

Masjid Jiwan

Gowes ke Desa Bagi, 8 KM utara Madiun, nostalgia ke rumah Pak Darmo …

IMG-20120708-00841

IMG-20120708-00843

IMG-20120708-00851

Dawet Suronatan …

IMG-20120708-00866

Silaturahim ke ibunda Eddie Sanyoto dan Kristarini …

Bersama bu Subaratko dan Kristarini

Bersama bu Subaratko dan Kristarini

Pulang ke Jakarta via Stasiun Madiun …

Stasiun Madiun yang bersih.

Stasiun Madiun yang bersih.

Selamat tinggal Madiun, kota tercinta ...

Selamat tinggal Madiun, kota tercinta …

Sampai Jakarta lagi …kerja lagi ….

Sampai di Gambir

Sampai di Gambir

Makan Mie ayam di depan Chase, sembari istirahat menuju KemenPAN

Makan Mie ayam di depan Chase, sembari istirahat menuju KemenPAN

Read Full Post »

9 Juli 2012 Jam 16:30 naik taxi dari KemenPAN dengan nomer TJ 4167, nama driver Suherman NIP 18666 – Ketua Group Senior.
Pada saat saya menyebut tujuan Pesanggrahan dia menanyakan “Pesanggrahan mana pak?” dengan nada kurang menyenangkan – mengesankan keengganan saya tumpangi. Kemudian saya jawab arahnya kemana, dia tak merespons tapi nyetirnya kasar sekali menunjukkan kekesalannya. Pada saat saya menerima telpon di depan al Azhar dia menanyakan suatu hal yg sebenernya tak perlu ditanyakan karena selain tak penting juga sudah saya jelaskan sebelumnya “Lewat depan Mayestik atau belakangnya?”. Saya rasa tak sopan dia tanya saat saya telpon. Saya gak jawab. Setelah telpon saya tutup baru saya jawab, sesuai dg yang saya jelaskan, tak berubah.
Setelah melewati jembatan Velbak Kebayoran Lama dia tanya lagi sesuatu yg sebenernya gak perlu ditanya lagi : “Lewat Cipulir?” Saya jawab “Pokoknya lurus saja, masih jauh”. Trus dia nimpalin lagi “Lewat Cipulir?”. Saya jawab; “ya, setelah pool Blue Bird Cipulir, ada belokan ke kiri”.
Dari nada dia bicara dan cara nyetir yang gak sabaran saya menyimpulkan:
Andaikan dia tahu saya bakal lewat Cipulir, sdr Suherman sebenernya enggan mengantar saya karena tahu bakalan lewat Cipulir yg sering macet. Yang terjadi kemudian adalah layanan yag tak menyenangkan karena sepanjang perjalanan cara nyetir dan ungkapan kekesalannya saya tangkap dengan jelas.
Tadinya saya akan biarkan saja dia. Namun setelah baca bahwa dia ini KETUA GROUP SENIOR dari perusahaan taxi ternama, saya terpanggil menulis email ini. Saya rasa pengendara taxi seperti ini tak pantas jadi Ketua Group Senior karena tak melayani pelanggan dengan hati. Sudah tahu di Jakarta ini macet, kok masih bersikap seperti ini. Aneh.
Terima kasih.

Read Full Post »

Foto di bawah sudah cukup jelas sebagai peringatan bagi kita semua:

Read Full Post »

Older Posts »