Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2019

Ya, bagi saya pribadi, ini adalah foto terbaik yang saya abadikan 25 Ramadhan 1440H (30 Mei 2019). Benda ini bagi saya adalah terbaik mengingatkan diri saya tentang hari akhir. Saya jadi ingat ada seorang ustadz yang bercerita seperti ini :

Alkisah di suatu kampung, masyarakatnya sangat bagus dalam hal kekerabatan diantara tetangga. Suatu ketika seorang warga mengusulkan agar kampung tersebut memiliki keranda jenazah sendiri. Dia mengatakan bahwa setiap ada kematian selalu saja meminjam keranda jenazah dari kampung sebelah. Usulan tersebut disepakati mutlak oleh semua warga.

Semua warga bergotong-royong menyumbangkan uang untuk membuat keranda bersama. Mereka sepakat bahwa keranda harus terbuat dari material terbaik. Akhirnya, keranda tersebut jadi dan memang bagus sekali.

Dalam upacara peluncuran keranda yang sudah jadi dan sangat indah tersebut, Ketua Kampung memberi sambutan:

“Alhamdulillah … Upaya kita membuat keranda jenazah ini akhirnya tercapai dan hasilnya sangat bagus, seperti kita lihat di depan kita ini. Siapa diantara kita yang ingin mencobanya paling awal?”

#$@$*#@$@*+###

Advertisements

Read Full Post »

Ilmu Sebelum Amal

Kita wajib berilmu sebelum beramal. Dalam beramal haruh ikhlas karena Allah Taala dan mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ada 6 dimensi yang harus kita pastikan untuk melihat suatu amalan yang “sesuai” contoh Rasul:

1.) Sebab suatu amalan dilakukan. Contohnya adalah tahlilan setelah seorang wafat. Adakah Rasul dulu melakukan ketika ada sahabat yang meninggal? Tidak. Artinya, penyelenggaraan tahlilan yang disebabkan wafatnya seseorang tidak ada contohnya dari Rasul.

Dzikir berjamaah setelah shalat fardhu, juga tidak ada contohnya. Dzikir dilakukan sendiri2, tidak dipimpin seseorang.

2. Jenis. Zakat dikenakan atas jenis2 tertentu. Berlian meski bernilai puluhan milyar, tak wajib zakat.
3. Cara. Haji, misalnya, harus mengikuti cara-cara yang dicontohkan Rasul. Juga wudhu, shalat dan ibadah lainnya.
4. Jumlah. Thowaf 7x, Syaii 7x, Wudhu maks 3x kecuali mengusap kepala 1x.

Jangan tanya kenapa. Tidak semua ajaran islam itu berdasarkan logika, tapi ikut dalil, apa yang dicontohkan Rasul. Rasul mencontohkan berdasarkan wahyu bukan nafsu. Mengusap dua khuf adalah bagian atasnya bukan bagian bawah.

5. Tempat. Shalat wanita di rumah, shalat laki2 di masjid. Haji di tanah suci, tidak bisa di tempat lain.
6. Waktu. Shalat fardhu berdasarkan waktu.
—–

Catatan dari Kajian menjelang Maghrib di Radio Rodja, 24 Ramadhan 1440 H (29 Mei 2019)

Read Full Post »

Inti dalam ibadah di 10 hari terakhir Ramadhan adalah mendapatkan ridha Allah. Allah Azza wa Jalla menyediakan sarananya melalui lailatu qadr. Bagi mereka yang fokus ibadah di 10 malam terakhir insyaa Allah mendapatkan banyak kebaikan, terlepas ia mendapatkan lailatul qadr atau tidak. Intinya, tidak sia-sia ibadah penuh selama akhir Ramadhan ini, tak perlu khawatir mendapat lailatul qadr atau tidak.

Adapun ciri-ciri mereka yang mendapatkan lailatul qadr adalah:

1.) Setelah Ramadhan, hilang kikirnya, menjadi dermawan, rajin sodaqoh.

2.) Hidup tenang, tidak disibukkan urusan dunia namun diberi kecukupan dan kemapanan oleh Allah; tidak lagi mengejar dunia karena sudah dicukupkan oleh Allah.

3.) Cinta kepada masjid, hatinya terpaut dengan masjid; menghargai waktu shalat dan selalu bersegera ke mesjid saat adzan.


Ringkasan ceramah taraweh di Masjid Jami Nurul Ikhlas, 24 Ramadhan 1440H (28/05/20019), ustadz Nurdin Sidik.

Read Full Post »

1.) Pembaca Al Quran. Al-Quran adalah petunjuk hidup bagi mereka yangg bertakwa. Banyak orang yang menggunakan panduan hidup dari buku-buku yang selain Al Quran. Al-Quran ini harus menjadi  petunjuk hidup bagikita mulai dari bangun sampai tidur lagi. Harus digunakan sebagi sebagai petunjuk. Ini sesuai dengan anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berwasiat tentang dua pusaka: Al-Quran dan As-Sunnah.

Al-Quran bukan hanya  untuk konsumsi masjid, tapi keluar mesjid masih kita gunakan sebagai panduan hidup. Ibu-ibu wajib menutup aurat agar kelak di akhirat Allah Taala yang mendatangi ibu, bukan ibu yang mendatangi Allah.

Ayo kembali ke Quran. Tadarus Quran harus lebih sering dari tadarus whatsapp.

2.) Orang yang pandai menjaga lisan, berkata yang baik-baik saja atau diam. Sebelum berkata harus berpikir apakah akan menjadi manfaat atau tidak. Jaga lidah makanya ditutup gigi dan bibir. Jangam saling caci di medsos.

3.) Memberi makan kepada saudaranya yang lapar. Ini sebenarnya dalam artian luas, tidak hanya memberi makanan untuk buka puasa, termasuk di luar buka puasa.

4.) Orang yang berpuasa di bulan suci Ramadhan. Kelak akan masuk pintu surga yang bernama Ar-Royan.

Satari - 4 Gol Dirindukan Surga 27Mei2019

 

Read Full Post »

Yang jelas saya pahami, aksi damai 21-22 Mei 2019 bertajuk “Ifthor Akbar”. Ternyata memang benar adanya karena di hari ketiga (23/05/2019) kembali saya dan istri berada di lokasi yaitu perempatan Sarinah – BAWASLU, sepi. Perjalanan kami menuju Masjid Al-Hikmah, Sarinah sore itu sangat lancar dan kami berada di masjid beberapa menit sebelum adzan Maghrib. Suasana masjid sangat jauh berbeda dengan hari pertama, apalagi hari kedua yang membludak sampai susah menembus masjid karena lautan manusia di Jl. Wahid Hasyim dan Jl. Sabang hingga Sarinah / BAWASLU. Masjid benar-benar lengang dan saat kami sampai, shaf depan masih kosong.

Shalat Maghrib yang kemarin menyebabkan takmir masjid memperluas hamparan karpet hijau, kali ini hanya butuh ruang shalat utama, dan hanya sekitar 1/3 ruang shalat utama terpenuhi, ya sekitar 6 shaf shalat begitu. keran saya lumayan sering shalat di masjid ini, bisa dikatakan yang shalat adalah jamaah transit, bukan peserta aksi. Ini membuktikan bahwa berkumpulnya masa aksi damai ini adalah sesuai dengan undangan Ifthor Akbar 21-22 Mei 2019. Seperti diberitakan polisi bahwa aksi ini ditunggangi perusuh, semakin terbukti karena bila mereka memang berniat rusuh, mestinya aksi tak berhenti 22 Mei saja, akan berlanjut terus. Sekaligus bukti nyata bahwa sebagian besar yang hadir dalam aksi damai 21-22 Mei memang sedikitpun tak ada niat membuat rusuh keadaan. Tanggal 23 Mei 2019, bersih!

Pada saat shalat Isya dan traweh, qadarullah, di sebelah kanan saya tepat adalah bapak yang rumahnya Sumur Batu yang baru saya kenal di saat shalat maghrib di hari pertama (21/05). Saya sapa beliau dan dibalasnya dengan senyuman hangat. Dugaan saya bahwa beliau ini ahli ibadah, benar sekali. Setelah saya sapa dan membalas sapaan saya, beliau ini terus bibirnya melafazkan dzikir dan doa diantara jeda shalat maupun ceramah. Maasya Allah. Saya bersyukur sekali selama memantau aksi Ifthor Akbar bertemu dengan orang-orang soleh.

Pemateri sebelum shalat taraweh mengambil tema terkait amanah. Secara gamblang beliau menjelaskan definisi amanah dengan sederhana. Dikaitkan dengan Pemilu, beliau mengatakan bahwa apa yang benar-benar merupakan suara TPS di lapangan harus disampaikan apa adanya ke KPU secara berjenjang. Kalau ini tidak dilakukan, maka ada indikasi kecurangan. Rakyat diperbolehkan untuk menyampaikan aspirasinya bila ada indikasi kecurangan dalam prosesnya.

Setelah shalat traweh, kami berjalan menuju perempatan Sarinah, melalui pintu Djakarta Theater. kali ini sepi tidak dijaga petugas, tidak seperti dua hari sebelumnya yang dijaga ketat petugas. Perempatan sarinah sepi sekali dan terlihat beberapa orang Polisi sedang berusaha membuka barikade duri dari tengah jalan Thamrin. Toko2 di sarinah dan Djakarta Theater masih sebagian besar tutup. Jarang melihat jalan ini sepi sekali seperti ini. Bahkan aspal jalanpun kelihatan sangat bersih dan baru saja disapu. Beberapa saat kemudian saya baca kabar bahwa Gubernur Anies Baswedan ikut membersihkan aspal jalan. Luar biasa. Kondisi sepi ini semakin membuktikan bahwa di hari ketiga tidak ada lagi peserta aksi damai yang ikut Ifthor Akbar 21-22 Mei berkumpul. Kesadaran mereka tinggi karena memang acaranya hanya dua hari, ya sudah, tidak perlu datang lagi di hari selanjutnya.

IMG20190523202247

Polisi sedang membuka barikade di depan kantor BAWASLU.

Dalam situasi tenang seperti inilah saya sempat merenung sejenak bahwa di tempat inilah tadi malam terjadi tembakan gas airmata dengan suara yang gemuruh dan percikan api seperti kembang api raksasa berlangsung sengit hingga larut malam. Di perempatan Sabang, malam sebelumnya saya mendengar peserta aksi yang berceloteh bahwa mereka tetap bertahan hingga peluru polisi habis. Mereka berganti posisi setiap 2-jam sekali karena itulah waktu yang cukup untuk bertahan sampai lelah di tengah semburan gas air mata yang pedih. Memang, saya tak bisa tembus di garda depan ini karena memang sudah penuh dengan peserta aksi. Namun saya membayangkan bagaimana hebohnya kondisi malam sebelumnya di tempat ini. Sempat ada yang tanya ke kami kok berani berada di tengah-tengah aksi ini. Jawab kami sederhana saja bahwa aksi ini kan Ifthor Akbar alias buka bersama akbar, kami merasa nyaman berada di sini, di tengah-tengah teman-teman yang “satu frekuensi” yang menginginkan Pemilu jurdil. Andaikan ada perusuh, kami yakin bahwa mereka gak bakal menyerang kami karena sasaran mereka adalah polisi. Alhamdulillah di sekitar perempatan Sabang kami tak menjumpai perusuh atau yang bertampang seperti perusuh. Damai.

Tulisan ini sekaligus menjawab salah seorang teman FB saya yang nyinyir dalam statusnya “Mereka yang tereak-tereak curang itu tahu gak sih apa yang mereka omongin?” Jawab saya lugas: Tidak hanya tahu tapi “menjiwai” apa yang mereka omongin. They know what they are doing! Buktinya, mereka tetap hadir di 22 Mei meski 21 Mei malam sempat rusuh setelah aksi usai. Mereka adalah saksi-saksi hidup yang melihat adanya kejanggalan dijumpai dalam proses Pemilu 2019 ini. Untuk diri saya pribadi, saya mengamati terus-menerus pergerakan data situng KPU bahhkan membuat analisisnya secara periodik yang saya posting di FB, bahkan udah di “share” 960x. Ini pertama kali dalam sejarah saya ikut medsos ada yang share postingan saya hingga sebanyak itu. Dan ternyata kejanggalan-kejanggalan yang saya jumpai itu terbukti ketika BAWASLU ketok palu mengatakan bahwa KPU bersalah salam data entry situng KPU.

Setelah puas mengamati situasi di perempatan Sarinah- BAWASLU kami berjalan menuju jalan Sabang sambil menikmati sajian kuliner pinggir jalan. Semua toko dan kedai kuliner Jl. Sabang sudah aktif seperti sedia kala. Ngupi-ngupi di The Atjeh Connection. Kami juga bertemu dengan sahabat saya, Gatot Istiadji, yang tinggal di Bandung dan datang ke Jakarta untuk Ifthor Akbar ini juga. Kami beranjak pulang 23:30.

IMG20190523221031

The Atjeh Connection

Jadi….

1.) Aksi ini pada dasarnya sesuai dengan namanya yaitu untuk buka bersama akbar dalam rangka berupaya menegakkan proses Pemilu 2019 yang jurdil.

2.) Fakta bahwa tanggal 23 Mei 2019 tidak ada peserta aksi yang hadir mengokohkan bahwa aksi hanya digelar dua hari saja sesuai rencana. Sekaligus bukti bahwa pada dasarnya peserta aksi adalah orang-orang yang berdisiplin tinggi, sesuai dengan maksud mengapa diadakan acara ini.

Salam satu frekuensi!

GW 17:04 | 25/05/2019

 

Read Full Post »

Khutbah Jumat | Ustadz KH Drs Mochammad Natsir

Masjid Jami Nurul Ikhlas19 Ramadhan 1440H (24 Mei 2019)

Kita wajib merawat diri melalui perbaikan iman, takwa dan amal soleh, sehingga selalu terjadi peningkatan: dari Muslim ke Mukmin, kemudian Muttaqin. Pada akhirnya kita berharap ketika mati husnul khatimah.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [51:56]. Seruan ini jelas namun manusia menerimanya remang-remang, dalam kenyataannya tidak dimaknai dengan baik dan dijalankan. Ibadah mahdoh (shalat, zakat, puasa & haji) yang utama. Mengapa ibadah? Karena akan dibangkitkan lagi kelak. Nanti akan ada pengadilan. Allah akan sidang kita. Mata, telinga digunakan untuk apa? Kita wajib berusaha terus menjalankan perintah Allah. Orang soleh bangun jam 2 atau 3 karena ada ampunan Allah di 1/3 malam terakhir.

Berangkat kerja ingat berniat ibadah kepada Allah. Siapkan sarananya, misalnya wudhu dulu. Dzikir saat menuju kantor.

Sampai di kantor, jangan lupa shalat Dhuha, pakai pakaian yang siap shalat, yang suci. Baca Quran sesudahnya. Menjaga wudhu berarti tak perlu antri, langsung ibadah. Mencari ridha Allah. Kerja adalah menunggu waktu ibadah.
Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [62:8].  Kerjaan dunia bisa kita undur, akhirat tidak bisa. Kemanapun pergi selalu siap shalat. Hidup harus kita isi dengan ibadah.

Natsir - Menunggu Waktu Ibadah 24Mei2019

Read Full Post »

Seperti sebelumnya saya tuliskan dalam salah satu status FB, saya kurang setuju bila dikatakan telah terjadi polarisasi (baca: terbelah dua) di bangsa ini terkait Pemilu 2019, khususnya pilpres. Padahal pada dasarnya setiap individu punya pola pikir sendiri, tergantung latar-belakangnya masing-masing. Kemudian, masing-masing tentunya punya preferensi tersendiri mengenai suatu hal, dalam hal apapun. Termasuk di sini dari hal yang sepele, misalnya memilih warna baju, memilih jalur pendidikan, apalagi dalam hal yang lebih besar: pilihan politik. Justru adanya perbedaan ini, menurut saya, menjadi saringan alami untuk mendapatkan teman-teman yang “satu frekuensi”.

Sejak di medsos sudah viral akan ada Ifthor Akbar 21-22 Mei beberapa hari atau pekan sebelumnya, saya dan istri sudah membahasnya. Saringan alami tersebut membantu kami untuk tidak perlu banyak pikir lagi karena bekerja secara otomatis karena kami sudah merasa satu frekuensi. Simon Sinek, salah seorang Leadership Guru, mengatakan pentingya memulai dengan pertanyaan WHY? (Start with Why).

Pertama, kami ingin di hari kemudian ketika mulut kami dibungkam tak lagi bisa bicara seenaknya dan hanya kaki kami yang nanti oleh Allah subhanahu wa taala akan dibuat bisa bicara memberikan kesaksian : “Ya Rabb, kami (kedua kaki kami) pada tanggal 17 dan 18 Ramadhan 1440H menjadi saksi dalam aksi demi tegaknya Pemilu 2019 yang jurdil di Indonesia.” Kedua, kami menyadari sepenuhnya bahwa kehadiran kami tidak akan mempengaruhi hasil pilpres meski kami yakin dengan banyaknya kejanggalan yang kami jumpai dalam prosesnya. Namun, kami yakin bahwa Allah Mahatahu dan tugas kami hanya doa – ikhtiyar – tawakkal dan syukur Alhamdulillah.

Hari pertama (21/05) kami mendapatkan banyak hikmah dari mengikuti acara mulai dari sebelum Maghrib hingga acara berakhir dengan shalawat bersama pukul 21:00. Kami beranjak meninggalkan perempatan Bawaslu karena aksi telah selesai dan arus lalin sudah dibuka oleh polisi. Hikmah hari pertama sudah saya tuliskan sebelumnya dan di bawah ini saya tulisakan hikmah yang saya peroleh dari hari kedua (22/05).

Senang sekali di hari kedua ini saya berjumpa dengan Pak Triman, penjaga penitipan sepatu di Masjid Al-Hikmah, Sarinah. Saya kenal beliau beberapa tahun lalu karena memang saya sering sekali singgah shalat Maghrib / Isya di masjid ini saat gowes pulang dari arah Monas. Karena saya satu-satunya yang gowes maka Pak Triman mengajak diskusi terkait sepeda. Rupanya, Pak Triman ini setiap hari gowes Sawangan – Sarinah – Sawangan. Luar biasa. Bahkan, saya pernah gowes bareng Pak Triman dari masjid ke arah pulang dan kami berpisah di Blok M. Pak Triman lanjut ke Sawangan, saya ke kanan arah Bintaro. Hari pertama Pak Triman tidak hadir namun saya nitip salam melalui putrinya yang menggantikan tugasnya. Alhamdulillah, setelah cukup lama tak jumpa (mungkin sekitar 3-4 tahun) jumpa lagi dengan Pak Triman dan sempat foto bersama.

Pak Triman 2010 vs 2019 22Mei2019

Ceramah Ramadhan sebelum shalat traweh (4+4+3 rakaat) topiknya cukup kontekstual yaitu kisah Raja Namrud dan kisah Firaun. Ustadz menyampaikannya dengan sangat bagus, runtut dan tegas. Ustadz mengisahkan penyakit orang berkuasa (Namrud) yang bersemboyan “Tangkap dan bakar!” bagi siapapun yang menentangnya, termasuk Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun, siapa yang paling berkuasa di alam semesta ini? Allah Azza wa Jalla! Api adalah makhluk Allah dan api diperintahkan Allah untuk menjadi dingin sehingga Nabi Ibrahim tidak terbakar saat dicemplungkan ke api oleh Namrud. Adzab Allah untuk Namrud. Adzab Allah untuk pemimpin yang dholim. – yang serta merta di “Aamiin” kan secara serentak oleh jamaah yang membludak di masjid ini. Kisah Firaun juga diuraikan dengan baik oleh ustadz sebagai contoh lain tentang pemimpin dholim yang nyata dituliskan dalam Al-Quran. Kebenaran hanya dari Allah. Di bagian akhir diceritakan juga surat Al-Kahfi tentang manusia tukang bohong yang di adzab Allah.

Usai traweh, kami menuju lokasi perempatan Jl. Sabang yang penuh dengan peserta aksi. Dentuman suara gas air mata yang ditembakkan polisi tak pernah berhenti. Sekurangnya saya melihat ada 4 korban yang silih berganti diselamatkan oleh peserta aksi lainnya menjauh dari perempatan Sarinah-Bawaslu menuju Jl. Wahid Hasyim untuk mendapatkan pertolongan medis. Petugas medis bergerak cepat sekali menolong siapapun yang terkena tembakan gas air mata meski sebagian besar peserta aksi sudah mengoleskan odol di wajah. Kondisi korban memprihatinkan dan kelihatan lemas tak berdaya saat digotong keluar arena oleh teman-temannya.

IMG20190522204435

Perbincangan di Jl. Sabang, sekitar pukul 20:30 (22 Mei)

Pada saat polisi merangsek ke arah Jl. Wahid Hasyim, peserta aksi yang berada di garda depan lari ke arah belakang menuju Wahid Hasyim hingga ada pemuda (sepertinya mahasiswa) berteriak: “Tahan! Tahan! Tahan! Jangan mundur! Mengapa musti takut, kita tak melakukan kesalahan!”. Komando ini mujarab: spontan yang tadinya melarikan diri berhenti dan balik lagi menuju depan ke arah Sarinah lagi. Meski situasi mencekam, namun benar adanya, ternyata justru peserta aksi bisa menahan petugas untuk tidak memukul mundur mereka. Bahkan beberapa menit kemudian peserta aksi bisa maju ke depan.

Sepasang suami istri yang kami jumpai di perempatan Jl. Sabang bercerita bahwa mereka berada di Sabang karena menunggu anaknya (usia 22 tahun) yang berjuang di garda depan aksi ini. Maasya Allah. Ibu ini kelihatan sekali ketawakkalannya karena dalam tutur-katanya tak ada sedikitpun terlihat beliau cemas dengan keselamatan anaknya. Hebat! Bahkan, dari raut wajahnya, kelihatan bahwa beliau ini ikhlas anaknya berada di garda depan aksi damai ini.

Screenshot 2019-05-25 00.31.46

Situasi di perempatan Sabang, 50 meter dari perempatan Sarinah (jam 22:00, 22 Mei 2019)

Memang, sepanjang pengamatan saya dan istri, selama berada di kerumunan peserta aksi, tidak kami jumpai peserta yang berpakaian aneh atau bahkan bertattoo. Bahkan, menurut saya, sepertinya mereka2 ini anak-anak muda yang rajin ke masjid. Ini tentu kelihatan sekali dari cara mereka melafazkan asma Allah atau Rasul. Bahwa kemudian ada kerusuhan, bisa jadi disulut oleh pihak-pihak yang saya sendiri tidak menjumpai wajah-wajah atau penampilan meragukan dari mereka. Saya menyimpan beberapa foto dan video wajah-wajah mereka. Sayangnya internet sedang diblokir Kominfo, sehingga saya tidak bisa upload di FB. Intinya, saya dan istri merasa nyaman berada di sekitar mereka yang ikut aksi. Selain istri saya, juga ada beberapa pemudi usia kuliah yang ikut juga dalam aksi. Mereka tak kelihatan takut berada di tengah aksi ini. Hampir bisa dipastikan, mereka niatnya sama, bukan memperjuangkan paslon tertentu tapi menegakkan Pemilu yang jurdil. Klop dengan kami. Satu frekuensi.

Yang menarik lagi ketika sudah mulai larut malam sekitar 22:30, kami mencari kedai kopi dan alhamdulillah bisa mendapatkan yang cukup aman buat rehat, meski bunyi dentuman gas air mata mulai berkurang, mungkin polisi kehabisan peluru. Di kedai inilah kami berkenalan dengan teman-teman baru satu frekuensi yang seketika menjadi akrab. Ada dua orang Bapak-bapak, seorang emak dan di sebelah meja kami ada 6 orang usia mahasiswa/ mahasiswi. Karena satu frekuensi, diskusi mengalir cepat dan saling bercerita.

Seorang mahasiswi dari Bandung bercerita bahwa ia khusus ke Jakarta ikut aksi ini atas anjuran ayahnya. Kok? Katanya, ayahnya bilang bahwa ini peristiwa sejarah yang menentukan masa depan bangsa. Selagi masih muda, pergilah ke Jakarta, bergabung dalam aksi ini. Mahasiswi yang lain, berasal dari Jakarta, menimpali bahwa ia juga disuruh ayahnya ikut aksi ini demi Indonesia yang lebih baik. Luar biasa. Dua mahasiswi ini dalam narasinya tidak lagi mempermasalahkan menang atau kalah untuk paslon yang mana, tapi justru ingin berjuang demi Pemilu yang jurdil.

Ngupi-ngupi sambil ngobrol situasi nasional ini berlangsung cukup lama dan baru bubar sekitar 00:15 setelah kami saling tukar nomor telpon dan membentuk komunitas yang berisi orang-orang yang baru kenal malam itu di kedai kopi Jl. Sabang. Maasya Allah …dapat teman-teman baru lagi yang satu frekuensi. Bahkan, kami sudah bikin WA Group sekarang.

RANGKUMAN HIKMAH

1.) Suasana religius yang tercipta terutama saat buka puasa bersama, shalat Maghrib berjamaah hingga selesai shalat traweh. Sungguh, ini justru yang bagi saya sangat memikat dan mengesankan. Suasananya kekeluargaan banget!

2.) Peserta aksi yang kami temui, semuanya tidak menunjukkan ciri-ciri perusuh, bahkan kelihatannya seperti pemuda masjid. Tidak ada yang sangar. Bahwa kemudian ada kerusuhan, hampir bisa dipastikan bukan dari orang-orang yang saya jumpai. Yakin sekali saya. Ini terkonfirmasi dengan adanya penyusup yang masuk, seperti diumumkan polisi.

3.) Tujuan mereka hadir dalam aksi ini jelas sekali: sebagai bentuk kepedulian dalam menegakkan Pemilu 2019 yang jujur dan adil. Bahkan saya tidak jumpai mereka memberikan salam dua-jari (victory) karena yang mereka perjuangkan adalah jurdilnya pilpres.

GW 02:21 | 24/05/2019

 

Read Full Post »

Older Posts »