Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2019

Sikap Din Syamsuddin

SIKAP SAYA TERHADAP KEPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, M.A.
Ketua Umum PP Muhammadiyah
Periode 2005-2015

Bismillāhirrahmānirrahīm

Memang pilihan tersedia bagi rakyat warga negara yg taat konstitusi adalah menerima Keputusan Mahkamah Konstitusi sebagai produk hukum. Itu adalah sikap taat hukum.

Karena para hakim Mahkamah Konstitusi juga terikat amanat konstitusi dan nilai moral utk menegakkan kejujuran dan keadilan, maka rakyat berhak utk menilai mereka apakah telah mengemban amanat dengan benar, yakni menegakkan kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Ini adalah sikap moral.

Jika rakyat meyakini ada pengabaian nilai moral, bahwa para hakim Mahkamah Konstitusi itu patut diduga membenarkan yg salah dan menyalahkan yg benar, seperti membenarkan kecurangan, maka rakyat mempunyai hak dan kewajiban melakukan koreksi moral.

Seperti banyak rakyat, saya pun merasakan demikian. Rasa keadilan saya terusik. Saya tidak mampu dan tidak mau menyembunyikan nya. Saya merasa ada rona ketakjujuran dan ketakadilan dalam proses pengadilan di Mahkamah Konstitusi. Banyak fakta dan dalil hukum yg terkesan tidak didalami. Maka bagi rakyat jadikan itu semua sebagai catatan bahwa ada cacat moral yg terwarisi dalam kehidupan bangsa, dan ada masalah dalam kepemimpinan negara. Selebihnya kita menyerahkan sepenuh urusan kepada Allah SWT, Ahkam al-Hākimīn, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Adil.

Jalan yg terbaik, di samping menghormati Keputusan Mahkamah Konstitusi sebagai produk hukum, demi literasi bangsa kaum intelektual melakukan eksaminasi terhadap Keputusan Mahkamah Konstitusi, dan rakyat dapat terus melakukan koreksi moral agar bangsa tidak terjatuh ke titik nadir dari moral banckrupty atau kebangkutan moral. Dan itu semua tetap dilakukan secara makruf dengan senantiasa memelihara persaudaraan kebangsaan.

Perjuangan menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran tidak boleh ada titik berhenti.

Hasbunallāhu wa ni’mal wakīl, wa ni’man nashīr

Advertisements

Read Full Post »

GTK (Gowes – Tamasya – Kerja) 25/06/2019. Saya selalu semangat bila mendapatkan klien baru yang kantornya berada di area yang belum pernah saya gowes ke situ. Tujuannya memang meeting dengan klien baru di daerah Pulo Mas, kompleks Krama Yuda Tiga Berlian. Lumayan, jaraknya 25 KM dari rumah. Karena meetingnya jam 13:00 dan saya harus berangkat pagi, maka saya buat janji juga dengan klien lama (sejak 2016) di Gedung WIKA. Alhamdulillah dapat 2 janji di Gedung Wika, yaitu jam 9 dan 10.

Saya berangkat dari rumah jam 6:45, gowes cantik menuju Wika. Saya sempatkan dulu mampir di depan klien lainnya, Surveyor Indonesia, sekedar berfoto-ria di depan gedung Graha Surveyor Indonesia. Pada saat mengambil foto di flyover Pancoran ada pegowes (bule) yang melintas. Dia menawarkan bantuan bila saya ada masalah. Baik banget ya. Saya bilang tidak ada masalah dan dia lanjut gowes menuju Cawang.

Sampai di Wika jam 8:15, nyantai dulu di parkiran sepeda. Sekarang sudah ada 14 pegowes di Wika. Senang sekali. Dulu hampir bisa dikatakan gak ada yang gowes. Makanya saya foto tuh sepeda2 yang ada di Wika.

Kaget juga di WiKa jumpa ustadz Subhan Bawazier @usb.bawazier yang ternyata ada jadwal kajian di Masjid WiKa. Sayangnya saya tidak bisa ikut karena ada meeting lainnya. Setelah meeting di WiKa selesai sekitar 11:40 saya gowes ke masjid di belakang gedung Wika utk Dzuhur BMW.

Abis itu gowes ke Pulomas (hanya 8 KM dari WiKa) di bawah jalan tol, teduh dan nyaman gowesnya. Meeting sampai jam 14:30 lanjut gowes ke Masjid Cut Meutia, Ashar BMW sekalian late lunch di kedai soto ayam.

Gowes pulang mampir ke jl. Thamrin dan Sudirman. Keren dah DKI Jakarta sekarang. Surga buat pejalan kaki dan pesepeda. Lanjut pulang, mampir di Masjid Mujahidin, Maghrib BMW. Trus pulang. Puwas dah, 61 KM total gowes.

#cycling #idfoldingbike #id_bikefriday #bike2work #bersepeda #gatotwid #tamasya #gowescantik #bersepedaisantai

Read Full Post »

Selamat berkarya! Pagi ini menikmati kopi dengan metode yang di kafe2 biasanya disebut V-60 tapi ini menggunakan saringan yang built-in dari cangkir made-in Swiss. Bentuknya lebih tepat ke huruf U sih… Sebut aja U-60 lah… Biar agak keren dikit. Tapi memang nikmat lho ngopi dengan cara ini karena terasa banget ngopinya. Kopinya sih SOLONG dari Aceh, kiriman sahabat saya yg jadi Kepala Cabang di sono.

Buku yg mendampingi juga tak kalah dahzyat nyamleng suromenggolo singodimejo. Memang banyak momen dalam hidup ini, termasuk saat ngopi dan baca buku ini, yang begitu penting hingga nanti beberapa puluh tahun kemudian menjadi nostalgik nuansamatik kemlitik zonder rheumatik. Embuh ku boso opo. Sak karepku dewe. Sing penting ngupi2 pancen huwenak tenan… Wis jiyaaaan! Kandani owk…!

IMG20190621094958

 

Read Full Post »

Bismillahirrahmaanirrahim,
Sahabat-sahabatku sekalian, apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan baik dan selalu mendapatkan rahmat dan hidayah dari Allah Azza wa Jalla. Aamiin.

Dalam sebuah obrolan santai di sebuah kedai kopi, seorang sahabat saya mengatakan: “Sandi melakukan kesalahan serius mengundurkan diri sebagai Wagub DKI”, katanya. “Lho, emangnya kenapa?” tanya saya. “Dengan mengundurkan diri sebagai Wagub maka tamatlah karir politiknya bila 02 dinyatakan kalah oleh MK,” ujarnya. Oh begitu …

Saya memang bukan politikus sehingga saya rasa tidak bijak bila saya mengulasnya. Namun yang menarik perhatian saya justru mengapa karir politik menjadi segalanya. Bagi saya, suatu perjuangan dengan niat baik, misalnya memajukan perekonomian nasional, bila kemudian harus berurusan dengan birokrasi dan kemudian mau tidak mau masuk dalam ranah politik, itu bukan berarti ujung-ujungnya masuk dalam sebuah plot yang disebut dengan karir politik.

Pada tataran paling mendasar, setiap orang memiliki kecerdasan politik (political quotient) yang dalam bahasa keseharian adalah kemampuan mempengaruhi orang lain (influencing skill). Ini merupakan hal yang alami. Sebagai konsultan bidang Strategy & Change saya selalu menggunakan empat kecerdasan agar suatu perubahan terjadi: kecerdasan business (business quotient), kecerdasan spiritual (spritual quotient), kecerdasan emosi (emotional quotient) dan kecerdasan politik (emotional quotient). Khusus mengenai kecerdasan politik sama sekali tidak ada kaitannya dengan kekuasaan. Justru dalam hal ini hal yang paling esensial adalah bagaimana “merangkul” orang lain demi suksesnya perubahan, misalnya memajukan perekonomian rakyat.

Kembali ke obrolan di kedai kopi tadi, semuanya tergantung NIAT. Kalau niatnya memang untuk berkuasa, maka yang dikatakan sahabat saya tersebut benar adanya karena tak harus mengundurkan diri karena bisa dengan cuti dari jabatan sebagai pejabat publik selama proses kontestasi. Namun kalau niatnya untuk memperbaiki perekonomian rakyat, tidak perlu lagi memikirkan jabatan yang diemban. Justru saya salut Sandi mengundurkan diri sebagai Wagub karena dengan melakukan hal ini dia menjadi bebas melakukan apa saja karena tidak terikat dengan ketentuan sebagai pejabat publik, menjadi orang bebas. Tentu dia juga sudah perhitungkan bila kelak gagal jadi capres tak akan ada penyesalan melepaskan jabatannya. EGP, begitulah kira-kira kata Sandi….

Belakangan ini rame adanya perbincangan mengenai KH Ma’ruf Amin yang ternyata masih menjabat di dua anak perusahaan BUMN. Terjadilah pro dan kontra apakah anak perusahaan BUMN adalah BUMN. Masing-masing menyampaikan argumennya berbasis hukum. Saya juga bukan ahli hukum sehingga saya tak berkompeten memberikan komentar mengenai hal ini. Saya hanya menggunakan akal sehat saja. BNI Syariah 99,94% sahamnya dimiliki BNI yang berstatus sebagai BUMN. Artinya, kontrol (pengawasan) atas BUMN anak (dalam hal ini BNI Syariah) tetap dapat dilakukan oleh negara melalui BUMN induk dan tidak mereduksi maksud dari penguasaan negara dalam pasal 33 ayat (2) UUD 1945. Dengan penyertaan modal negara (PMN) yang 99,94% tersebut maka akal sehat saya mengatakan anak perusahaan BUMN ya BUMN. Lha wong mayoritas sahamnya dimiliki BUMN kok.

Mari kita lupakan kontroversi ini meski secara nalar masing-masing kita bisa menyimpulkan sendiri. Semuanya kembali pada NIAT. Kalau memang niatnya untuk memperbaiki perekonomian nasional, memajukan bangsa ini, sudah selayaknya setiap capres dan cawapres ekstra hati-hati (prudent) menyikapi peraturan kontestasi yang berlaku. Bahkan, mohon maaf Pak Kyai, kalau niatnya-pun untuk berkuasa, bukankah harus lebih ekstra hati-hati bahkan jauh hari sebelum mencalonkan? Artinya, kalaupun ada kemungkinan pada akhirnya akan bermasalah — apakah anak perusahaan BUMN adalah BUMN atau bukan — mengapa tidak dari awal sudah meletakkan jabatan seperti yang dilakukan Sandi? Toh, andaikan pada akhirnya 01 kalah, bukan berarti pasti tidak bisa menduduki jabatan lagi karena semuanya diatur Allah Azza wa Jalla. Atau hal ini tak pernah diperhitungkan sejak awal, alias terjadi keteledoran saat pencalonan dulu? Mestinya tidak terjadi mengingat tim hukum paslon 01 konon kabarnya kuat.

Memang, sebagai manusia kita tak pernah bisa mengetahui niat orang lain, karena ini sudah domainnya Allah. Semuanya kembali ke masing-masing individu. Kita hanya bisa melihat bila KH Ma’ruf Amin mengundurkan diri secara suka-rela dengan pertimbangan polemik yang terjadi belakangan ini, apalagi secara tegas Mahkamah Agung di tahun 2017 memutuskan bahwa Anak perusahaan BUMN adalah BUMN. Mestinya ini cukup kuat. Sekali lagi, saya bukan ahli hukum. Atau, kita doakan semoga Hakim MK yang mulia memutuskan seadil-adilnya berdasarkan hukum yang berlaku. Aamiin Ya Rabb ….

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzholimiin ….

Salam satu frekuensi!

GW 21:37 19/06/2019

Read Full Post »

Alhamdulillah, siang hari ini akhirnya saya selesai sudah membaca keseluruhan isi dari buku berukuran sedang (12.5 × 17.5 cm) dengan tebal 184 halaman ini dari penerbit Darul Haq, cetakan XIII , Dzulhijah  1438H. (09.2017 M) karya Husain Muhammad Syamir.

Maasya Allah …Buku kecil ini sangat bagus, padat isinya. Setiap bab menorehkan hal positif yang membuat saya semakin bangga sebagai muslim. Tak hanya itu, saya semakin semangat untuk selalu menjadi mukmin yang taat agar akhirnya menjadi muttaqin (bertakwa) yang kemudian berharap rahmat Allah Taala untuk bisa masuk surga-Nya. Aamiin Ya Rabb. Semuanya selesai saya baca siang ini tanggal 7 Syawal 1440H (11 Juni 2019) meski saya membelinya sudah cukup lama, 1 Januari 2018 di Channel Bookstore, Blok M Square (Basement) – Jakarta.

Buku ini saya beli karena ketika mendampingi kajian ustadz Subhan Bawazier hafidzhahullahu taala dalam kajian Road 2 Jannah di Bandung, saya melihat beliau menggunakan buku ini sebagai referensi. Tidak hanya itu saja, di beberapa kajian Road 2 Jannah di Jakarta selanjutnya, beliau juga menggunakan buku ini. Saat itu sempat out of stock, namun Alhamdulillah kemudian mulai ada lagi.

26198599_10156042149488809_4485213456944233577_o

Sebenarnya saya sudah pernah membuat daftar isinya atau uraian dari 31 Sebab itu apa saja di blog ini. Namun saat itu tujuan saya untuk memotivasi agar setiap liat Daftar Isi saya tercambuk untuk membaca lebih detil lagi. Benar juga, akhirnya saya memang selalu membuka-baca buku ini dan setelah Idul Fitri ini saya bertekad merampungkannya. Inilah yang memotivasi saya untuk akhirnya berani menulis resensi ini meski saya sarankan Anda semua membeli buku ini karena memang sangat bermanfaat. Atau, hadiri kajian Road 2 Jannah berikutnya karena ada kalanya buku ini dibagikan oleh Panitia Road 2 Jannah bagi penanya yang dijawab oleh ustadz Subhan Bawazier. Insyaa Allah.

Pembelajaran apa yang saya peroleh dengan membaca buku ini?

  1. Saya semakin memahami diri saya yang ternyata haus sekali ilmu mengenai pentingnya mengidentifikasi sebab-sebab lemahnya iman (lihat di Daftar Isi yang saya cantumkan di bagian bawah resensi ini). Saya sepakat sekali bahwa iman seseorang itu naik-turun dan agar kita selalu konsisten (menjadi seorang multazim) maka sudah seharusnya kita selalu memperbaharui iman kita (hal. 114). Tidak hanya itu ternyata, banyak melakukan hal yang mubah ternyata bisa menyebabkan kita lemah dalam iman. Kita semua paham bahwa ngobrol dan bergurau dengan teman diperbolehkan dalam agama kita (mubah). Namun kalau itu dilakukan terus menerus, sampai lupa waktu bahkan hingga begadang sampai larut malam, jelas berpengaruh pada iman kita (halaman 94, 102).
  2. Menumbuhkan semangat kuat untuk memiliki cita-cita mulia melalui pengabdian kepada agama Islam, mengutamakan akhirat sebagai tujuan akhir sedangkan jadwal duniawi sifatnya cukup mengekor saja. Hal ini dibahas cakep sekali oleh penulis di bab 25 (Bercita-cita Rendah) halaman 138. Luar biasa torehan kalimat beliau di bab ini dan sungguh saya sangat berterima kasih kepada penulis yang berhasil memikat saya untuk meneguhkan hati ini memegang kuat agama Islam, menuju iman yang semakin kokoh menghunjam hingga akar-akarnya. Jazakallahu khairan, Syaikh Husain. Semoga Allah Taala merahmati Anda.
  3. Di bagian penutup ada  bab JADWAL HARIAN UNTUK ORANG YANG TEKUN (halaman 175). Whooooaaaaaaaaa …… Ini bab tak boleh Anda lewatkan! Kalau baca bab ini Anda tak semakin semangat, sepertinya Anda harus segera ambil air wudhu, shalat dua rakaat dan beristighfar kepada Allah Taala, agar hati Anda terbuka. Bab pamungkas ini sifatnya rekomendasi praktis namun sekaligus, bagi saya, merupakan rekomndasi strategis. Gimana gak strategis, lha wong penulis menganjurkan kita membuat strategic planning untuk menyiapkan bekal kita menuju akhirat. jelas ini hal pokok sekali meski diuraikan secara harian. Justru di sini lah hebatnya penulis, bisa memberi nasehat praktis yang menghjunjam ulu ati paling dalam. MAK JLUWEBBB tenan!!! Wis to …pokoknya percaya sama saya, jangan lewatkan baca bab pamungkas ini. TAPIIIIII …. Ada catatan ya … Anda jangan sekali-kali mencoba loncat hanya baca bab pamungkas ini. No way! Tak akan menorehkan kesan sama sekali kalau Anda hanya main cegat kayak nyegat lailatul qadr hanya di malam ganjil aja. Emang Allah Taala adanya di malam ganjil aja ndhul? Kagak lah! Untuk mendapatkan lailatul qadr, sejatinya ya 10 hari terakhir itu Anda full lakukan, bukan main cegat di ganjil, apalagi hanya di malam 27 Ramadhan ajah. Nah, wabil khusus bab pamungkas ini, Anda harus baca keseluruhan buku ini, setiap babnya, baru dah nunjek banget! Ya, kalau ada sedikit kemalasan, sekurangnya bacalah 16 bab saja yang Anda suka, biar manceb tenan.

Kesimpulan: HIGHLY RECOMMENDED!

Jangan lewatkan baca buku ini. Tapi ada yang lebih penting lagi: baca Al-Quran!

Allahua’alam bishawab.

Salam,

GW
—–
DAFTAR ISI

1.Kurang Ikhlas

2.Konsistensi Emosional

3.Kecenderungan Kepada Apa Yang Telah Berlalu

4.Minimnya Pendidikan Mental

5.Dangkalnya Pemahaman Tentang Arti Ibadah

6.Lalai Dalam Melaksanakan Ibadah Sehari-hari

7.Sedikit Menuntut Ilmu

8.Futur Yang Terus Menerus

9.‘Ajz (Sikap Lemah)

10.Kurang Introspeksi Diri

11.Sibuk Dengan Anak dan Istri

12.Mengabaikan Tugas Kalbu

13.Faudhiyyah (Asal-asalan atau Tidak Stabil)

14.Sibuk Dengan Aib Orang Lain

15.Perhatian Yang Berlebihan Pada Diri (Fisik)

16.Tidak Suka Bermusyawarah

17.Menyia-nyiakan Waktu

18.Banyak Tertawa

19.Perbuatan Dosa Khulwah

20.Lalai Dalam Memperbaharui Iman

21.Lemahnya Hubungan Antara Penuntut Ilmu dengan Ulama

22.Berlebihan pada Sesuatu Hal Yang Halal

23.Tenggelam dalam Masalah-masalah Kecil, Meninggalkan Perkara-perkara Pokok

24.Bergaul Dengan Orang-orang pengangguran

25.Bercita-cita Rendah

26.Tidak Mengetahui Kemampuan dan Potensi Diri

27.Terlalu Tersibukkan Dengan Banyak Hal

28.Banyak Tuntutan Hidup Tapi Tidak Memiliki Kemampuan

29.Tidak Ada Pendidik Yang Mengarahkan dan lemahnya Program Kerja

30.Kurang Menyukai Pahala

31.Sikap Mengalah

Read Full Post »

Tadi menyempatkan diri shalat Isya di Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Mall, lantai 4. Pada saat saya masuk masjid sebelum iqamah saya melihat ada anak muda (sepertinya usia di bawah 30 tahun — Allahua’lam) berbaju batik sedang asik membaca HP. Saya pikir dia sedang baca WA. Maasya Allah, ternyata dia sedang membaca Quran via HPnya.

Qadarullah saat shalat Isya dia berada di sebelah kiri saya. Setelah shalat Isya, dia membuka HP lagi dan terlihat jelas bahwa dia membaca dzikir dari HPnya. Setelah shalat ba’diyah Isya, dia kembali buka HP lagi dan membaca Al-Quran lagi. Maasya Allah …

Saya selalu senang mengamati jamaah, terutama anak muda, yang rajin sekali membaca Quran. Saya merasa termotivasi dengan hal-hal seperti ini. Saya merasa “didakwahi” olehnya meskipun dia tak sedang berdakwah. Namun, apa yang ia lakukan memberi contoh kepada saya bahwa jangan sedikitpun meluangkan waktu untuk tidak melakukan dzikrullah… Pengen rasanya saya berkenalan dengan anak muda ini. Sayang, ia begitu khusyu dengan bacaannya sehingga saya tidak berani mengganggunya dan saya tinggalkan masjid ini tanpa berkenalan dengannya. Terima kasih, anak muda!

Semoga banyak anak muda di negeri ini yang melakukan apa yang dilakukan anak muda ini. Aamiin ya Rabb … Aamiin.

IMG20190610192901

Mohon maaf, anak muda, saya ambil fotomu tadi tanpa ijin, meski dari belakang. Lanjutkan baca Quran-mu. Tindakanmu sungguh mulia dan menginspirasi saya. Terima kasih dan semoga Allah Azza wa Jalla selalu merahmatimu. Aamiin ya Rabb …

Masih tentang anak muda ahli dzikir … Hari Sabtu, 6 April 2019, (sesuai tanggal di Google Photo) saya berkesempatan shalat Isya di Masjid Bintaro Xchange Mall. Kisah sejenis dengan anak muda yang saya jumpai di GanCit juga ada saat itu. Saya sempat mengamati seorang anak muda yang setelah shalat, mengasyikkan dirinya membaca Quran. Tak lama kemudian dia menerima telepon (mungkin dari istrinya). Dari jawabannya, sepertinya memang dia sedang menunggu istrinya yang belanja di mall, dengan membaca Quran di masjid melalui HPnya. Maasya Allah! Ini jelas contoh yang bagus sekali dalam menyiasati fitnah di mall dengan cara berdiam-diri di masjid dan membaca Quran atau berdzikir. Coba kita hitung begitu banyak pahala yang ia peroleh:

  1. Mengantarkan istri belanja di mall
  2. Shalat BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu) Isya
  3. Dzikrullah, membaca Quran (setiap huruf mendapatkan pahala 10 kebaikan)
  4. Mengkonversikan yang mubah (jalan-jalan di mall) menjadi kegiatan yang bermanfaat.

Maasya Allah ….

IMG20190406194150

Mohon maaf, anak muda …saya ambil gambarnya tanpa ijin karena tindakanmu sungguh menginspirasi saya untuk suatu saat mencontoh apa yang kamu lakukan. Ya Allah, mudahkanlah aku melakukan ketaatan seperti yang dicontohkan pemuda ini. Aamiin Ya Rabb ….Aamiin

Read Full Post »

Seperti kita pahami bahwa kisah Ashabul Kahfi dimana sekelompok pemuda bersembunyi di dalam gua untuk menyelamatkan akidah mereka merupakan hal yang mengherankan kita. Namun hal itu masih tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan hujah-hujah Allah Azza wa Jalla, yaitu dienul Islam, yang ditujukan untuk umatNya. Allahu akbar!


Al Kahfi 9 - Tafsir 8Jun2019

Read Full Post »

Older Posts »