Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2016

Masya Allah. Nasehat bijak dari Imam Syafii ini sungguh menarik kita simak lebih lanjut:

Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak berdiam, dan milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir.

(Imam Syafi’i – Mau’idhatul Mu’minin)

Rasanya kontradiktif sekali dengan sifat kegiatan berbicara dimana mestinya justru lebih banyak latihan bicara bukannya latihan berdiam. Awalnya memang terasa aneh pernyataan beliau ini. Namun, mari kita renungkan lebih jauh:

Nasehat ini bisa kita maknai dengan lebih banyak mendengar terlebih dahulu sebelum melakukan tutur kata agar kita bisa memehami sepenuhnya konteks pembicaraannya apa. Kalau kita bernafsu untuk banyak berbicara, dikhawatirkan pembicaraan kita tak sesuai konteks alias tidak nyambung. ARtinya apa, kita harus memikirkan bahwa apapun yang kita bicarakan, keluar dari bibir kita, harus sesuatu yang memberi dampak positif yang signifikan bagi lawan bicara kita. Makna diam dalam kalimat ini bukan berarti selamanya diam, namun mencari celah yang tepat kapan mulai berbicara setelah cukup lama diam karena mendengarkan secara aktif. Artinya, semakin banyak kita belajar diam maka semakin bagus kita memahami konteks pembicaraan dengan mendengarkan aktif.

Setelah mendengarkan secara aktif, kewajiban kita adalah berpikir keras mengenai apa yang perlu kita sikapi lebih lanjut, misalnya merespon pembicaraan, atau mengambil keputusan terkait dengan pembicaraan.

Wallahua’alam

kepandaian-berbicara

 

Read Full Post »

Ahad, 16 Oktober 2016

Ini adalah hari terakhir di Madiun dan sekaligus mengakhiri tulisan berseri ini alias 3-habis.

Seperti biasa, saya awali dengan shalat Shubuh berjamaah di masjid Ar Rahman. Rasanya memang beda karena senang sekali di kota kelahiran saya ini sekarang begitu banyak masjid didirikan sehingga setiap langkah saya pagi itu menuju masjid Ar Rahman saya nikmati sekali sambil berdzikir dan bersyukur bahwa kota tercinta ini semakin Islami. Alhamdulillah.

Senang sekali melihat teman SMA saya, mas Wahyu Supriyantono (yang biasa dipanggil Wahyu Bo – karena rambutnya kribo), sudah terlebih dahulu hadir di masjid, menjalankan shalat qobliyah. Jumlah jamaah memang seperti kemarin, sekitar 10 orang saja. Sayang sekali. Tantangan dakwah bagi Dai dan Ustadz di Madiun agar semakin banyak penduduk shalat berjamaah di masjid.

Seusai shalat, kami berjalan bareng menuju hotel karena beliau juga menginap di The Sun Hotel. Kami membahas terkait adanya sebuah acara televisi yang menayangkan pengalaman orang yang pernah mengalami kematian (mati suri) dan hidup lagi. Kami sepakat bahwa kalau ada pengakuan seperti ini pasti merupakan gangguan jin karena pada hakekatnya tak ada orang yang sudah pernah masuk alam kubur kemudian kembali lagi ke dunia. Mustahil. Tak ada dalil yang mendukung ini. Kalau sudah mati ya sudah, tak akan pernah hidup lagi atau kembali ke alam dunia.

Mas Bo juga saya tawari ikut kajian Ahad di Islamic Center. Namun karena kesibukan beliau melakukan koordinasi terhadap adanya kecelakaan pesawat di Papua, ia mohon maaf tidak bisa gabung. Mas Bo memang berprofesi sebagai ahli teknik dalam bidang pesawat terbang. Saya sering melihat beliau muncul di program televisi nasional terkait kecelakaan yang terjadi dalam industri penerbangan.

Akhirnya saya berangkat sendiri ke Islamic Center, karena istri saya Lita juga sedang tidak enak badan. Senang sekali melihat kajian Ahad ini jamaahnya membludak sehingga Jl. Sumatera Madiun ditutup lalin kendaraan bermotor. Meski saya tiba telat, namun masih mendapatkan esensi yang bagus sekali tentang Mengamalkan Ilmu. (sudah saya posting sebelumnya pada tanggal 17 Okt 2016 di blog ini).

Sepulang dari kajian Ahad, saya kembali ke hotel dan istrahat lagi karena cukup lelah tadi malamnya banyak kegiatan. Hari itu di Madiun sedang berlangsung kegiatan SURAN alias peringatan Syuro oleh SH Terate yang biasanya dihadiri ribuan orang dari seluruh kabupaten Madiun yang tumplek bleg di kota Madiun dan membuat pawai. Tak jarang terjadi kerusuhan atau tawuran pada tahun sebelumnya. Saya tidak berani keluar. Untungnya kemarin (Sabtu) sudah sempat membeli brem dan kuwe koya di Toko Mirasa. Hari Ahad, tak ada toko yang berani buka.

Bada Dzuhur, saya dan istri menuju stasiun kereta api Madiun dengan mengendarai mobil pinjaman dari Agus Ninok karena kami janji bertemu di stasiun. Jadwal kereta kami Malioboro pukul 13:10 sehingga kami cukup punya waktu untuk makan siang dan ngopi di Teh Jawa Cafe.

Kereta datang tepat waktu namun sayangnya berangkatnya telat 20 menit karena ada kerusakan. Takut juga kalau sampai di Solo telat dan kemudian tak terkejar ke bandara. Untuk mengantisipasi, saya sudah kontak dengan supir taksi (Pak Ponco) yang saat di Solo mengantarkan saya ke Solo Balapan. Alhamdulillah tidak telat sampai di bandara. Lancar. Aman.

Perjalanan ke Madiun selalu menyenangkan, meski kali ini tak kebagian putu nikmat yang dijual di pojokan Jl. Bali. Next time.

Pembelajaran dari perjalanan ini:

  1. Bersyukur bisa silaturahim dengan Koh Win di Solo, juga dengan Kak Yeni
  2. Bersyukur bisa silaturahim dengan ustadz Fajar Rachman di Margomulyo
  3. Bersyukur bisa menghadiri walimah pernikahan putri dari sahabat saya Eddie Sanyoto
  4. Bersyukur bisa silaturahim dengan teman-teman yang soleh / soleha dan bisa berdiskusi serta belajar dalam NGOPI (ngobrol perkara iman)
  5. Bersyukur bisa merasakan geliat Islam yang positif di kota Madiun dengan banyaknya masjid dan Kajian Ahad di Islamic Center
  6. Prihatin dengan tradisi perayaan Syuro yang sering berpotensi ke tawuran dan ada unsur syiriknya (sembelih ayam jago sebagai sumber kekuatan; yang harganya di sekitar Syuro melambung bisa Rp. 1 juta per ekor)
  7. Bersyukur dengan kuliner Madiun yang selalu saja mantab
  8. Selalu ingin kembali lagi ke Madiun … Insya Allah.

Tempe mak nyus kemlunyus dari ustadz Fajar Rachman. Enak banget nih tempe Ngawi.

Berat koper karena isinya oleh2 ..he he he…

Hadiah dari Koh Win (kiri) dan Ustadz Fajar Rachman (kanan)

    —-

    Read Full Post »

    Sudah lama sebenarnya saya ingin menyatakan sikap terkait skandal penistaan agama terkait surat Al Maidah ayat 51. Pagi ini, di grup WA temen2 kuliah dulu, TI 79 ITB, ada seorang temen yang non-muslim mengcopas ulasan tentang Ahok Digencet, Jokowi Dibidik di Kompasiana. Saya merasa perlu menyatakan sikap dan berikut ini adalah komentar saya tadi pagi:

    Selamat pagi, teman-teman TI 79. Semoga kita semua dalam keadaan baik dan sehat.

    Terkait copas oleh uncle Jimmy, berikut ini tanggapan saya dan ini hasil ketikan saya (Gatot Widayanto) dan sama sekali bukan copas. Ini sepenuhnya pendapat pribadi dan bisa jadi berbeda dengan teman lainnya.

    Bismillah …

    Masalah Al Maidah 51

    1.) Sebagai umat Islam saya haqul yaqin bahwa setiap ayat di dalam Al Quran merupakan kebenaran mutlak dan kebenaran yang sesungguhnya karena Al Quran adalah Kitabullah – kitab yang diciptakan Allah subhanahu wa taala. Saya sangat yakin. Terlepas kandungan maupun tafsirnya apa dari Al Maidah 51, saya 100% yakin bahwa itu merupakan kebenaran. Suatu hal yang benar, maka siaftnya positif, artinya punya “makna baik” dan “manfaat” bagi manusia.

    2.) Karena setiap ayat dalam Al Quran sifatnya positif, memberi makna baik dan bermanfaat, maka tak bisa disandingkan dengan apapun, termasuk perkataan, yang memberi makna negatif. Analoginya, kita ambil contoh misalnya oksigen. Semuanya tahu bahwa kita semua butuh oksigen untuk hidup. Sehingga oksigen memiliki makna positif karena bermanfaat bagi kehidupan. Oksigen tak bisa disandingkan dengan kata negatif, misalnya “mematikan”, “membuat terpuruk”, “menyengsarakan”.
    Atau kalimat seperti:
    Kalau misalnya Bapak Ibu tidak memunculkan hidung ke atas permukaan air saat ber-renang “dibohongi oksigen” (2x) dan macem-macem itu ….nggak papa, saya tidak marah.

    Tentu kalimat tersebut salah karena semua orang tahu manfaat positif oksigen yang tak bisa disandingkan dengan kata bermakna negatif seperti “dibohongi”. Apalagi dilaksanakan dalam nuansa berseloroh.

    3.) Dari dua poin di atas, bagi saya pribadi, sudah jelas bahwa siapapun yang berucap dengan menyandingkan Al Maidah ayat 51 maupun (6236 minus satu) ayat lainnya yang ada dalam Al Quran dengan kata atau kalimat yang bernada negatif, sudah jelas ia tergolong manusia yang tak bisa menjaga lisannya,ia telah menistakan Al Quran. Hukum Allah sangat keras tentang hal ini karena DIA satu-satunya pencipta alam semesta dan seluruh isinya. Manusia penista agama Allah masih mungkin berkelit di dunia tapi tidak bisa lari lagi saat di yaumul akhir (hari akhir) kelak.

    Mencegah Kemungkaran

    4.) Saya tak mau berkomentar dalam hal politik karena saya bukan ahlinya. Apalagi terkait masalah dana yang disuapkan ke ormas atau lainnya, itu semua belum ada bukti nyata. Menurut saya, sia-sia mengomentari hal yang tidak nyata karena ujungnya hanya akan menebar gosip belaka. Apapun yang melatarbelakangi ormas tersebut, saya melihat bahwa yang akan terjadi pada 4 November mendatang merupakan upaya aksi damai (seperti diungkapkan oleh Aa Gym, yang juga akan ikut demo nanti) yang tetap mempertahankan akhlakul kharimah, akhlak yang mulia sebagai seorang muslim. Ini semua adalah dalam rangka menuntut keadilan bagi penista agama Allah untuk mencegah kemungkaran.

    5.) Lebih mudah mengajak orang melakukan kebaikan (amar ma’ruf) misalnya mengajak shalat, puasa, zakat atau haji ketimbang mencegah kemungkaran (nahi munkar). Terlepas dari citra negatif yang beredar di masyarakat, yang dilakukan oleh FPI adalah mencegah kemungkaran. Sekali lagi, ini terlepas apakah isu dana suap itu ada atu tidak – kita serahkan ke Allah Taala.

    Seperti kata Henny, yang bosan ngomongin pilkada DKI, saya pun sama. Yang saya sampaikan di atas sengaja tak menorehkan sedikitpun kata pilkada DKI karena saya ingin memisahkan dua masalah ini: penistaan agama Allah dan pemilihan pemimpin. Dan saya hanya fokus pada yang pertama. Tujuan saya menulis ini adalah sebagai tanggung-jawab saya pribadi kepada Allah subhanahu wa taala bahwa saya telah mengungkapkan apa yang menurut saya benar. Insya Allah diridhlai Allah. Aamiin.

    Mengenai skandal penistaan agama ini, terkesan ada perpecahan dari pemeluk Islam, karena ada yang tak menganggapnya penistaan. Padahal, kalau semuanya beriman kepada Allah dan Hari Akhir, tentu tak akan rela ayat Al Quran disandingkan dengan kata negatif.

    Namun, Allah Maha Tahu sifat manusia ciptaanNya. Dalam surah Al Baqarah, Allah mengulas tentang golongan yang muttaqin (beriman) sejumlah 4 ayat (ayat 2 s/d 5) sedangkan golongan munafik sejumlah 13 ayat (ayat 8 s/d 20). Artinya, Allah mengingatkan agar kita jangan sampai terperosok menjadi golongan orang-orang yang munafik. Dan untuk ini Allah mengulasnya dalam 13 ayat, jauh lebih banyak dari jumlah ayat yang menguraikan untuk yang muttaqin (hanya 4 ayat). Namun memang akhirnya terserah masing-masing, mana jalan yang ia tempuh. Kebebasan beragamapun diserahkan kepada individu masing-masing dan Al Quran berfungsi sebagai petunjuk (hudalinnas).

    Mohon maaf bila ada yang tak berkenan. Semua kesalahan hanya dari saya yang dhoif ini, dan apabila ada yang benar, semuanya datang dari Allah tabaroka wa taala.

    Semoga Allah subhanahu wa taala selalu melindungi kita, bangsa Indonesia, melimpahkan kesejahteraan dan kedamaian menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kebhinekaan. Dalam konteks kita di TI 79, semoga le’sprit de corps (kesolidan) tetap terjaga meski latar-belakang berbeda-beda. Aamiin Allohumma Aamiin.

    Wallahua’lam.

    Gatot Widayanto (31/10/2016 – pukul 11:26)

    Read Full Post »

    Catatan Kutbah Jumat di Masjid Mutathahirin, Jl. Dharmawangsa Raya no. 4, 28/10/2016, khatib: Ustadz Ahmad.

    Khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk menbuka hati dan pikiran dalam rangka meningkatkan takwa.

    Allah tak memandang mereka dari tiga golongan ini di hari kiamat kelak:
    1.) Orang yang memiliki kelebihan air di perjalanan tapi tak mau berbagi kepada orang lain yang sedang membutuhkan air dalam perjalanan tersebut;
    2.) Orang yang memilih atau mengangkat pemimpin dari golongan orang tak beriman, hanya karena kebutuhan dunia;
    3.) Orang yang berdagang selepas waktu Ashar, menyatakan barang dagangan bagus dengan menggunakan nama Allah, padahal barang sudah jelek / kadaluwarsa.

    Untuk itulah Rasul menekankan perlunya 3 Pilar untuk mengatasi tiga hal di atas:
    1. Kepedulian . Orang yang punya cadangan air tapi tak mau berbagi, tak lagi peduli terhadap apa yg terjadi di sekilingnya, umat, masyarakat dan bangsa. Ia bisa tidur nyenyak dlm kenyang sementara tetangganya kelaparan. Untuk itu Rasul menegaskan: Tingkatkan kepedulian kepada keluarga, tetangga, masyarakat dan bangsa.

    2. Kepemimpinan dari orang beriman. Ustman bin Affan mengatakan bahwa bila ia diminta berdoa maka ia sangat memperhatikan mendoakan pemimpin yang beriman. Pemimpin yang beriman merupakan kunci keberkahan umat. Hati2 memilih pemimpin, pilihlah karena iman, bukan karena kebutuhan dunia. Tanda kiamat adalah bila semakin bermunculan pemimpin gadungan dari golongan orang tak beriman.

    3. Kejujuran. Transaksi setelah ashar, barangnya sisa dagangan yg tak laku pada pagi hari, kemudian menjual di sore hari dengan bersumpah atas nama Allah seolah barang masih bagus. Ini menunjukkan ketidakjujuran. Tdk jujur sumber pertikaian hingga bisa mengakibatkan kebangkrutan. Sedangkan kejujuran membawa kebaikan kemudian memudahkan jalan ke surga. Jauhilah dusta. Keburukan membawa ke neraka atau kehancuran.

    Rasul menekankan “baldatun toyyibatun” yakni kebaikan yang membawa suasana ketenangan yg diridhai Allah Taala.  Untuk itulah tiga kepedulian ini penting:
    Kepedulian
    Kepemimpinan orang yang beriman
    Kejujuran

    Wallahua’lam

    Kantor PalyJa

    Read Full Post »

    Dosa Besar ke 40: Mengkhianati Pemimpin Dan Lainnya
    Kajian Rabu malam bada Maghrib di Masjid Nurul Iman, Blok M Square oleh ustad Khalid Basalamah (26/10/2016)


    screenshot-2016-10-30-16-59-57

     

    Kajian dimulai dengan ajakan ustadz KH-B untuk selalu bersyukur kepada Allah karena tanpa campur tanganNya, tak akan mungkin kita ini berkumpul di masjid ini.

    Kajian pekan lalu adalah tentang melaknat yang merupakan celaan keburukan buat diri sendiri, keluarga, harta, kondisi. Kajian saat ini adalah Dosa besar ke 40: Mengkhianati Pemimpin yang merupakan partner dari Dosa Besar 13 : Pemimpin Yang Berkhianat. Dua-duanya tentang kepemimpinan tapi kali ini yang dibahas adalah masyarakatnya yang mengkhianati pemimpin. Sedangkan pemimpin itu dimaksudkan oleh Allah untuk mengurus kita, tak boleh dilanggar da hukumnya wajib mematuhinya
    Partner dosa 13 (lihat buku, tonton youtube nya)
    Kita bahas masyarakatnya, mengkhianati pe.mimpin
    Pemimpin dibebankan oleh Allah utk mengurus perkara kita, tak boleh dilanggar,
    wajib dipatuhi. Kisah Amru bin Ash (yang merupakan tokoh Quraisy yang mahir dalam urusan politik dan strategi berperang bahkan pada saat kaum Muslimin hijrah dari Madinah ke Habasyah,beliau menjadi utusan Quraisy yang bertugas membujuk agar raja Najasyi atau Negus mengembalikam kaum Muslimin ke negerinya semula tetapi hal ini tidak berhasil.Beliau juga pernah mengambil bagian dalam peperangan menentang Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslim. Ia masuk Islam bersama Khalid bin Walid. Enam bulan setelah masuk Islam, dia bersama Rasulullah SAW menaklukan Mekkah dalam peristiwa Fathul Mekkah. Ia adalah panglima perang yang bijak dalam mengatur strategi perang – catatan). AMru tak mengejar jabatan.

    Khalifah pada hakekatnya hanya takut sama Allah, tugas utamanya adalah melayani masyarakat bedasarkan syariatullah (hukum Allah) secara adil. Pemimpin seperti ini wajib dipatuhi dan tak boleh dilanggar. Peraturan pemerintah setempat wajib kita patuhi misalnya dalam hal rambu-rambu lalin, KTP, paspor, ijazah yang semuanya merupakan kemaslahatan dalam rangka menata hidup. Bagus
    Umar – dawawi namanya, dibukukan semuanya untuk kerapian. Di jaman Rasul gak ada tapi gak haram.

    Dilihat maslahat dan mudharatnya. Misalnya pajak, apa ada dalam syariat? Tidak ada. Kalau tak dipatuhi bisa berbahaya. Pajak, niatkan sodaqoh krn pajak gak ada dalam syariat. Kalau menolak usahanya ditutup. Kalau peraturan bertentangan dg Allah, misal larangan pake jilbab, harus dilawan. Misalnya d Turki duli, jilbab, adzan pake bhs Turki.

    Kalau pemimpin dipilih, kita harus patuh, jangan berontak kecuali ada hal-hal yang membuat kita sulit beribadah, alias syarat diberontaki:

    Gak boleh shalat
    Mesjid ditutup

    Di Indonesia gak ada yg nendesak kita utk berontak
    Yg belum kita dapatkan, mintalah ke Allah

    Poin2 yg harus digarisbawahi:

    Allah menyuruh kita patuh. Al Isra 34

    “dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”

    Semua hal terkait peraturan yang tak bertentangan dengan syariat ALlah, kita patuhi.

    Patuh peraturan
    Contoh, jangan melewati garis saat di lampu lalu lintas di persimpangan
    Kalau disuruh maju aparat, boleh, misalnya ada aparat yang mengatyr

    Allah berfirman di Al Maidah ayat 1:

    “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.”

    Jadi mahasiswa, tetangga, ikuti peraturan. Mukmin orang yg baik, gak boleh marah. Pengajian bikin macet

    Pake helm sama aja ibadah karena taat kepada peraturan
    Jalur busway, sabarlah. Saya pernah melewati kemacetan, motor masuk jalur busway. Tapi di ujungnya ketemu saya lagi yang di jalur umum. Untuk apa masuk jalur busway?
    Taatlah selama tak melanggar ayat Allah. Jangan mentang-mentang pulang pengajian terus gak mau pakai helm. Seperti pengalaman saya dijemput pada pengajian di luar kota, penjemputnya pakai motor tak berhelem, mengawal ustadz.
    Gak pake helm pulang kajian
    Ikut tabligh tapi orang gak pake helm
    Maslahat mudharat – pajak
    Jilbab dilarang

    Taat pada pemerintah setempat. Firman Allah di An-Nahl ayat 91:

    “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji.”

    Berbahay bila ada orang yang Demi Allah akan patuh, tapi ternyata tidak, Allah akan mengazabnya kelak.

    Memberontak, tak mau mengakui presiden terpilih – tak perlu
    Harus patuh karena sudah terpilih; kecuali bila ada larangan menjalankan syariat Allah misalnya tak boleh shalat dsb.
    Yg memuliakan pemimpinnya akan dimuliakan Allah
    Bicara politik sudah dilakukan di gang-gang – setiap orang membicarakannya padahal bukan ahlinya, sambil main catur. Belajar strategi perang dengan catur? Bagaimana belajar strategi perang lewat catur?! Gak nyambung.
    Meletakkan diri yg lebih tepat
    Kalau belum terpilih boleh kita berupaya
    Pemimpin yg muslim, meski banyak kekurangannya, harus ditaati
    Yang kita bicarakan ini hal2 besar, bukan sekedar pemimpin daerah.
    Masalah Ahok sudah jelas harus dihukum, gak boleh mencalonkan diri. Semuanya sudah jelas.
    Kutbah Jumat, kita rasanya jarang sekali ada doa mengenai presiden dan menteri dapat hidayah. Kalau di Arab Saudi, mereka mendoakan rajanya agar selalu mendapat hidayah.

    — Shalat Isya —

    Bada shalat Isya tidak ada tanya-jawab karena istri ustadz Khalid akan melahirkan malam ini. Semoga lancar. Aamiin

    Wallahua’lam

     

    Read Full Post »

    Masya Allah…   Jangan lewatkan kajian maha dahzyat ini.  Yuk,  merapat ke Blok M Square Ahad ini,  diawali shalat Dzuhur berjamaah. Asik lho shalat Dzuhur nya bisa qobliyah 2 x 2 rakaat karena jedanya cukup lama. Abis itu kita ngaji bersama ustadz Badrusalam Lc. Mantab tuwenaaan…! Soal aqidah pulak! Maka kesempatan langka mana yang engkau dustakan,  sobat? 
    Abis ngaji,  kita ngopi di Filosofi.  Pow ra enak tenan jal?!

    Read Full Post »

    Catatan Kajian di Masjid Nurul Iman,  Ahad,  21 Muharram 1438H (23/10/2016) pukul 9:30 – 11:45 oleh Ustadz Azhar Khalid Seff,  Lc MA. 

    Sungguh ini adalah kajian yang sangat bermanfaat, disampaikan oleh ustadz Azhar dengan baik, penuh semangat karena beliau menginginkan semua yang hadir agar berhat-hati dalam meneybarkan berita, terutama terkait aib seorang muslim. Catatan ringkasnya:

    Kita tak boleh membuka aib orang, karena harus menjaga kehormatan orang lain. Islam sangat menekankan menjaga kehormatan muslim untuk itu ayat mengenai perzinaan memerlukan bukti saksi empat (4) orang muslim. Pada jaman Umar bin Khattab ada kasus zina yang dilaporkan oleh 4 orang sebagai saksi yang melihat ada seorang laki-laki masuk kamar wanita. Tiga orang saksi masing-masing mengatakan haqul yakin melihat bagaimana seseorang itu masuk kamar wanita. Namun saksi ke 4 menyatakan bahwa dirinya ragu-ragu. Maka 4 orang tersebut masing-masing dihukum cambuk sebanyak 80 kali karena memberi kesaksian palsu.

    Jangan mencari kesalahan hamba Allah karena menjaga aib muslim itu sangat luar biasa pahalanya. Sedangkan orang yang sudah bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang pernah ia buat, tak bleh lagi kita ceritakan aibnya ke orang lain, apapun alasannya. Ini karena ia telah bertaubat.

    1. Kisah Abubakar Menjaga Rahasia

    Umar bin Khattab sangat sedih karena anaknya (Hafshah) telah menjadi janda pada usia yang sangat muda (20 tahun) karena suaminya syahid dalam perang Badar, sehingga dalam hatinya terbersit niat untuk menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang sholeh agar hatinya kembali tenang.

    Diriwayatkan dalam shahih Bukhari, Umar pun pergi kerumah Abu Bakar dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi Abu Bakar diam, tidak merespon sedikitpun. Kemudian Umar menemui Utsman bin Affan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi Utsman pun menolak permintaan Umar.

    Menghadapi sikap dua sahabatnya, Umar sangat kecewa. Kemudian dia menemui Rasulullah saw. dengan maksud menyampaikan sikap kedua sahabatnya itu. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah saw. bersabda,

    ”Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.”

    Disinilah Umar mengetahui bahwa Rasulullah saw. yang akan meminang putrinya.

    Umar bin Khattab ra. merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah saw untuk menikahi putrinya, dan kegembiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menemui Abu Bakar untuk mengutarakan maksud Rasulullah saw. Tidak lama kemudian, Hafsah dipinang oleh Rasulullah saw. Umar lalu menikahkan puterinya dengan penuh rasa gembira. (HR. Bukhari, vol. 9, hlm. 102-103 ).

    Dan Rasulullah saw. menikah dengan Hafsah ra. dengan mahar 400 dirham, pada tahun ke-3 Hijriah. Pernikahan Rasulullah saw dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasihnya kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya.

    Ketika Hafsah sudah dinikahi Rasulullah saw., Abu Bakar datang kepada Umar ra. untuk mengklarifikasi sikapnya. Abu Bakar ra. menyatakan minta maaf dan berkata,

    “Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah telah menyebut-nyebut nama Hafshah, namun aku tidak mungkin membuka rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah membiarkannya, tentu akulah yang akan menikahi Hafshah.” (HR Bukhori no 5112, kitab An-Nikaah).

    Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak menikahi putrinya. Dari sini kita belajar betapa Abu Bakar menjaga rahasia dengan tidak mengatakan kepada Umar bahwa Rasul berencana menikahi Hafshah. Masya Allah. Betapa mulia akhlak Abu Bakar!

    2. Tuduhan Dusta terhadap Ibunda Aisyah

    Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan, “Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak keluar untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengundi di antara istri-istrinya. Maka, siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya, maka dialah yang keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan undian di antara kami di dalam suatu peperangan yang beliau ikuti. Ternyata namaku-lah yang keluar. Aku pun berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kejadian ini sesudah ayat tentang hijab diturunkan. Aku dibawa di dalam sekedup (tandu di atas punggung onta) lalu berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kembali dari perang tersebut.

    Ketika telah dekat dengan Madinah, maka pada suatu malam beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk menunaikan keperluanku. Ketika telah usai,  aku kembali ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata kalungku dari merjan zhifar terputus. Lalu aku kembali lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas ontaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka beranggapan bahwa aku berada di dalamnya.

    Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

    “Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia. Mereka membawa onta dan berjalan. Aku pun menemukan kalungku setelah para tentara berlalu. Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”

    “Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwani tertinggal di belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihat hitam-hitam sosok seseorang, lantas ia menghampiriku. Ia pun mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun mendengar bacaan istirja’-nya (bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengajakku bicara dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari mulutnya selain ucapan istirja sehingga ia menderumkan kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan onta, kemudian aku menungganginya. Selanjutnya ia berkata dengan menuntun kendaraanu sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak seraya kepanasan di tengah hari. Maka, binasalah orang yang memanfaatkan kejadian ini (menuduh berzina). Orang yang memperbesar masalah ini ialah Abdullah bin Ubay bin Salul.”

    “Kemudian kami sampai ke Madinah. Ketika kami telah sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. Aku tidak tahu mengenai  hal tersebut sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum aku keluar rumah.”

    “Lalu aku dan Ummu Misthah berangkat. Dia adalah putri Abi Ruhm bin Abdul Muththalib bin Abdi Manaf. Ibunya adalah puteri Shakhr bin Amr, bibi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha. Anaknya bernama Misthah bin Utsatsah bin Ubbad bin Abdul Muththalib bin Abdu Manaf. Lantas aku dan putri Abu Ruhm, Ummu Misthah terpeleset dengan pakaian wol yang dikenakannya. Kontan ia berujar, ‘Celakalah Misthah.’ Lantas aku berkata kepadanya, ‘Alangkah buruknya ucapanmu. Kamu mencela seorang lelaki yang ikut serta dalam perang Badr.’ Ia berkata, ‘Apakah engkau belum mendengar apa yang telah ia katakan?’ Aku bertanya, ‘Memang apa yang ia katakan?’ Ia pun menceritakan kepadaku mengenai ucapan para pembuat berita bohong (bahwa Aisyah telah berzina). Aku pun bertambah sakit.”

    “Ketika aku pulang ke rumah, aku berkata, ‘Bawalah aku keapda kedua orang tuaku!”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

    “Ketika itu aku ingin mengetahui secara pasti berita tersebut dari kedua orang tuaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkanku datang kepada kedua orang tuaku. Lantas aku bertanya kepada ibuku, ‘Wahai Ibu! Apa yang sedang hangat dibicarakan oleh orang-orang?’ Ibuku menjawab, ‘Wahai putriku! Tidak ada apa-apa. Demi Allah, jarang sekali seorang perempuan cantik yang dicintai oleh suaminya sementara ia mempunyai banyak madu melainkan para madu tersebut sering menyebut-nyebut aibnya.’ Lantas aku berkata, ‘Maha Suci Allah! Berarti orang-orang telah memperbincangkan hal ini.’ Maka, aku menangis pada malam tersebut sampai pagi. Air mataku tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kemudian di pagi hari pun aku masih menangis.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

    “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu ketika wahyu tidak segera turun. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya dan meminta pendapat kepada keduanya perihal menceraikan istrinya.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

    “Sedangkan Usamah radhiyallahu ‘anhu memberi pendapat keapda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan apa yang ia ketahui akan jauhnya istri beliau dari perbuatan tersebut dan dengan apa yang ia ketahui tentang kecintaannya kepada beliau. Usamah mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Mereka adalah istri-istrimu, menurut pengetahuan kami mereka hanyalah orang-orang yang baik.”

    “Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat, ‘Wahai Rasulullah! Allah tidak akan memberikan kesempitan kepadamu. Perempuan selain Aisyah masih banyak. Jika engkau bertanya kepada seorang budak perempuan, pasti ia akan berkata jujur kepadamu.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

    “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Barirah radhiyallahu ‘anhu. Beliau bertanya, ‘Hai Barirah! Apakah kamu melihat ada sesuatu yang mengutusmu dengan kebenaran. Aku tidak melihat sesuatu pun pada dirinya yang dianggap cela lebih dari bahwa dia adalah perempuan yang masih belia yang terkadang tertidur membiarkan adonan roti keluarganya, sehingga binatang piarannya datang, lalu memakan adonan rotinya.”

    “Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar seraya bersabda, ‘Wahai kaum muslimin! Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan laki-laki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang laki-laki yang sepanjang pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.”

    “Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz al-Anshari radhiyallahu ‘anhu berdiri lalu berkata, ‘Aku akan membelamu wahai Rasulullah! Jika ia dari kabilah Aus, maka akan kami tebas batang lehernya. Jika ia dari kalangan saudara-saudara kami kalangan Khazraj, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan perintahmu.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

    “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan perintahmu.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

    “Kemudian Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anha berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.”

    “Lalu Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga terdiam.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

    “Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

    “Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kemudian duduk. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammeminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘Amma ba’du, hai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

    “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas nama aku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kuktakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf Alaihi Salam:

    Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)

    “Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan kisahnya,

    “Aku wallahu a’lam ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala membebaskanku dari tuduhan tersebut.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

    “Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”

    Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

    “Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut:

    Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11)

    Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.”

    “Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anha –beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah radhiyallahu ‘anha karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir- berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut:

    Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

    “Lantas Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy radhiyallahu ‘anha bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.”

    Sumber: https://kisahmuslim.com/3271-tuduhan-dusta-terhadap-istri-rasulullah.html

    Faedah dari Kisah Tuduhan Dusta ke Aisyah radhiyallahu ‘anha:

    1. Berita dusta begitu besar dampaknya sehingga bisa merubah pemahaman seseorang terhadap orang yang sedang digosipkan (Ibunda Aisyah).
    2. Rasul sallallahu ‘alaihi wa sallam tak memahami hal-hal ghaib sehingga beliau yang akhlaknya mulia saja masih bisa terpengaruh dengan berita dusta yang jahat tersebut.
    3. Seorang Misthah yang merupakan pahlawan di Perang Badar dan merupakan salah satu dari 114 orang yang dijamin Allah masuk surga saja masih juga bisa terpengaruh dengan berita bohong ini. Apalagi kita yang keimanannya jauh dibandingkan Misthah dan belum pernah jihad seperti yang dilakukan Misthah.
    4. Zainab yang beiasanya suka menonjolkan diri untuk mendapatkan perhatian Rasul, ternyata memberi kesaksian yang jelas meringankan Indunda Aisyah. Masya Allah.

    Wallahua’lam bishawab

     

     

    Read Full Post »

    Older Posts »