Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2013

Tiga Obyek Dakwah

Oleh: Ustadz Ahmad Yani

(1). Kafir Agar Muslim. Dalam bahasa Arab kufur berarti menutupi. Kufur adalah menutup hati dan pikiran dari menerima kebenaran yang datang dari Allah swt, mengingkari makna syahadat adalah kufur, mengingkar bagian vital ajaran Islam yang diharamkan seperti riba atau apa yang diwajibkan seperti shalat adalah kufur, mengingkari salah satu hukum pidana Islam seperti hukum bagi pencuri, penzina dan lainnya adalah kufur dan seterusnya. Orang yang kufur disebut kafir. Ketika manusia tidak beriman kepada Allah swt dengan segala ajaran yang diturunkannya, maka ia disebut kafir, sedangkan ketika seseorang sudah beriman atau menjadi muslim tapi meragukan Allah swt sebagai Tuhan dan meragukan kebenaran Islam lalu keluar dari Islam atau yang sering disebut dengan murtad, maka orang itu berarti kafir. Orang kafir seperti itulah yang dipastikan masuk ke neraka, Allah swt berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk (QS Al Bayyinah [98]:6). Kepada orang kafir, dakwah harus kita lakukan agar mereka masuk Islam, sebagaimana orang kafir itu juga mendakwahkan agamanya kepada orang Islam sehingga orang Islampun menjadi kafir mengikuti mereka. Tentu saja dakwah kepada orang kafir dengan membuka dialog sebaik mungkin agar tidak timbul salah paham, apalagi sampai terjadi permusuhan. Sahabat saya Ust. H.M. Ihsan Tandjung dalam bukunya Risalah Menuju Jannah, terbitan Lingkar Pena, hal 12-13 menceritakan bahwa beliau punya kenalan dengan seorang muslim bule asal Australia, temannya itu berkata: “Sebelum masuk Islam, saya sudah punya banyak kenalan orang Indonesia, tapi sayang, tidak ada seorangpun kawan saya saat itu yang pernah mengajak saya masuk Islam. Saya masuk Islam Alhamdulillah karena saya gemar membaca, hingga saya berjumpa dengan Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris, lalu memperoleh hidayah dari Allah swt”.

(2). Muslim Yang Durhaka Agar Taat. Banyak orang sudah menyatakan diri menjadi muslim, namun belum menunjukkan ketaatan kepada Allah swt, bahkan mendurhakai-Nya, bukan hanya tidak melaksanakan apa yang diperintah, tapi justeru melakukan apa yang dilarang, hingga mempengaruhi orang lain agar tidak mentaati Allah swt, inilah yang namanya muslim yang durhaka kepada Allah swt.

Hakikat dakwah adalah mengubah manusia dari keadaan yang apa adanya kepada yang seharusnya. Dengan dakwah diharapkan orang awam menjadi paham, orang benci pada kebaikan menjadi cinta, orang bakhil menjadi dermawan, orang malas menjadi rajin, orang yang bermusuhan menjadi bersahabat dan bersaudara, begitulah seterusnya. Dari pemahaman seperti ini, kita menyadari betapa masih begitu banyak orang yang belum menunjukkan ketaatan kepada Allah swt, maka dakwah amat diperlukan sehingga harus dilakukan dengan berbagai pendekatan yang baik sesuai dengan kondisi sang mad’u (objek dakwah).

(3).Muslim Yang Taat Agar Istiqamah. Ketika seorang muslim telah menunjukkan ketaatan, sifat yang harus dimiliki adalah istiqamah atau terus menerus dalam ketaatan, apapun kendala yang dihadapin serta bagaimanapun situasi dan kondisi yang terjadi. Bila sifat ini sudah dimiliki, seorang muslim tidak dilanda oleh perasaan takut untuk membuktikan nilai-nilai keimanan dan tidak akan berduka cita bila mengalami resiko yang tidak menyenangkan sebagai konsekuensi dari keimanannya itu, apalagi surga merupakan janji Allah swt, hal ini terdapat dalam firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhanku Allah kemudian mereka istiqamah, maka mereka tidak ada rasa takut dan tidak berduka cita (QS Al Ahqaf [46]:13). Karena itu para sahabat terus dibina dalam proses dakwah oleh Rasulullah saw agar mereka istiqamah.

Advertisements

Read Full Post »

YA, RASULULLAH! SEANDAINYA SAYA TIDAK BUTA, TENTU SAYA PERGI BERPERANG

Abdullah bin Umar bin Syuraikh, seorang sahabat asal Quraisy ini termasuk peserta hijrah ke Madinah rombongan pertama. Beliau sampai di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah Shalalahu ‘alaihi Wassalam. Beliau meninggal dalam peperangan Qadisiah membawahi sebuah brigade.

Abdullah bin Ummi Maktum, orang mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasululah Shalalahu ‘alaihi Wassalam. Yaitu anak paman Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid Ridhwanullah ‘Alaiha. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya ‘Atikah binti ‘Abdullah. Ibunya bergelar “Umi Maktum” karena anaknya ‘Abdullah lahir dalam keadaan buta total.

Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, ‘Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan-kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak….! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin mempelajari syariat Islam dan sering mendatangi majelis Rasulullah.

Begitu rajin dia mendatangi majelis Rasulullah, menyimak dan menghafal Al-Qur’an, sehingga setiap waktu senggang selalu disinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu disebutnya. Bahkan dia sangat rewel. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkannya dari Rasulullah, di samping keuntungan bagi yang lain-lain juga.

Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, mengharapkan semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan walid bin Mughirah, ayah saifullah Khalid bin walid.

Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau.

Sementara beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba ‘Abdullah bin Ummi maktum datang mengganggu minta dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Qur’an.

Kata ‘Abdullah, “Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!”

Rasul yang mulia terlengah memperdulikan permintaan ‘Abdullah. Bahkan beliau agak acuh kepada interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi ‘Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam tambah kuat dan dakwah bertambah lancar.

Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah bermaksud hendak pulang. Tetapi tiba tiba penglihatan beliau gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau: “Dia ( Muhammad ) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya, Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran Allah itu suatu peringatan. Maka siapa yanag menghendaki tentulah ia memperhatikannya. (Ajaran ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti.” (QS. ‘Abasa : 1 – 16).

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril Al-Amin ke dalam hati Rasulullah sehubungan dengan peristiwa ‘Abdullah bin Ummi maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.

Sejak hari itu Rasulullah tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi ‘Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilahkan duduk ditempat duduk beliau. Beliau tanyakan keadaannya dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan ‘Abdullah demikian rupa; bukankah teguran dari langit itu sangat keras!

Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi-jadi, Allah Ta’ala mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. ‘Abdullah bin Ummi maktum bergegas meninggalkan tumpah-darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama sama Mush’ab bin Umar sahabat-sahabat Rasul yang pertama-tama tiba di Madinah, setibanya di Yatsrib (Madinah), ‘Abdullah dan Mush’ab segera berdakwah, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajarkan pengajaran Isalam.

Setelah Rasulullah tiba di Madinah, beliau mengangkat ‘Abdullah bin Ummi Maktum serta Bilal bin rabah menjadi Muadzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid lima kali sehari semalam, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal adzan, maka ‘Abdullah qamat. Dan bila ‘Abdullah adzan, maka Bilal qamat.

Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal adzan tengah malam membangunkan kaum muslimin untuk sahur, dan ‘Abdullah adzan ketika fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak sudah masuk, agar menghentikan makam minum dan segala yang membatalkan puasa.

Untuk memuliakan ‘Abdullah bin Ummi maktum, beberapa kali Rasulullah mengangkatnya menjadi Wali Kota Madinah menggantikan beliau, apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut dipercayakan beliau kepada ‘Abdullah. Salah satu diantaranya, ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy.

Setelah perang Badar, Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an, mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Allah melebihkan derajat mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi karena ingin bersantai-santai. Ayat-ayat tersebut sangat berkesan di hati ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Tetapi baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi berperang.”

Kemudian dia bermohon kepada Allah dengan hati penuh tunduk, semoga Allah menurunkan pula ayat-ayat mengenai orang-orang yang keadaannnya cacat (udzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak turut berperang. Dia senantiasa berdoa dengan segala kerendahan hati. Katanya, “Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang udzur sepertiku!” Tidak berapa lama kemudian Allah memperkenankan doanya.

Zaid bin Tsabit, sekretaris Rasulullah yang bertugas menuliskan wahyu menceritakan, “aku duduk di samping Rasulullah. Tiba tiba beliau diam, sedangkan paha beliau terletak di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat paha Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, “Tulislah, hai Zaid!”

Lalu aku menuliskan, “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah…” (An-Nisaa : 95).

Ibnu Ummi berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah! Bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang karena cacat)?”

Selesai pertanyaan ‘Abdullah, Rasulullah berdiam dan paha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah berkata, “Coba baca kembali yang telah engkau tulis!”

Aku membaca , “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang).” lalu kata beliau. Tulis! “Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu.” Maka turunlah pengecualian yang diharap-harapkan Ibnu Ummi Maktum.

Meskipun Allah telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang udzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memeganya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.” Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. ‘Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, ‘Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”

Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah ‘Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, ‘Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah ‘Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa’ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. ‘Abdullah bin Ummi maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pindahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ‘Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin.

©2012 Kisah-Kisah Sahabat Nabi

Read Full Post »

Sepuluh Orang Terkaya

Tahukah Anda, siapa sepuluh orang terkaya di dunia saat ini?

10. Mukesh Ambani——kekayaa­nnya 27,0 milyar dolar Amerika.

09. Eike Batista——kekaya­annya 30,0 milyar dolar Amerika.

08. Amancio Ortega——kekayaa­nnya 31,0 milyar dolar Amerika.

07. Lakshmi Mittal——kekayaa­nnya 31,1 milyar dolar Amerika.

06. Lawrence Ellison——kekaya­annya 39,5 milyar dolar Amerika.

05. Bernard Arnault——kekaya­annya 41,0 milyar dolar Amerika.

04. Warren Buffett——kekaya­annya 50,0 milyar dolar Amerika.

03. Bill Gates——kekayaan­nya 56,0 milyar dolar Amerika.

02. Carlos Slim Helu——kekayaann­ya 74,0 milyar dolar Amerika.

01. Orang yang melaksanakan shalat sunnah Fajar. ………….kekayaan­nya … ?? Tidak terhitung brow.. Lebih baik daripada dunia dan seisinya.—

Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

ﺭَﻛْﻌَﺘَﺎ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ
“Dua rakaat (sebelum shalat) fajar (subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
(HR. Muslim no. 725). Mari kita amalkan اِنْشَـــــاءَاللَّهُ
Kita termasuk orang terkaya didunia & akhirat, amin amin amin ya robbal alamin. Selamat menikmati libur panjang…

Read Full Post »

Ba’da Jumat tadi saya ikut penguburan jenazah tetangga di makam tanah kusir. Betapa kagetnya saya mengetahui bahwa ustadz yg memimpin penguburan nemerintahkan orang lain untuk melantunkan adzan. Tak hanya itu,  ternyata nyambung ke iqamah.

Astaghfirullah …
Ini ustadz tahu gak makna adzan adalah mengajak orang mendirikan shalat tepat waktu?

Seusai upacara saya mendekati ustadz tersebut menanyakan apa iya penguburan mayit perlu adzan. Beliau menjawab sunnahnya begitu. Saya langsung tanyakan sunnah yang mana,  dia gak bisa jawab. Saya lanjutkan bahwa itu tak ada dasar sunnahnya. Wallahualam bishawab ….

Kali ini saya kecolongan tak melarang adzan karena lokasi saya rada jauh. Gak pa pa,  paling tidak saya sudah mengingatkan Ustadz tadi siang biar sekarang dia mikir dan cari haditsnya kalau ada. Saya yakin gak ada.

Dua tahun lalu saya berhasil melarang adzan di sebuah penguburan.

Gak masuk akal! Udah mati kok diajak shalat. Lagian,  di alam kubur sudah gak ada shalat atau ibadah lain lagi. Tinggal thenguk-thenguk nunggu ditimbali Alloh di yaumul qiyyamah nanti. Mulane mumpung jik urip nang ndonya ojok ninggalno shalat. Puwenting puwoool kuwi!

Yo pow ra?
Wis ashar pow durung? Hayo …. buruan!

Read Full Post »

Gowes di Siang Bolong

Siang tadi saya selesai rapat lebih awal di gedung Cyber 2 di Kuningan. Karena saya paginya gowes dan parkir di B1 gedung tersebut,  saya males juga kalau musti melipat brompton dan naik taxi ke kantor Kemenpan RB di seberang Ratu Plasa. Akhirnya saya putuskN gowes saja meski di siang bolong jam 14:00. Ternyata asik juga meski berkeringat karena menikmati angin menerpa badan saat panas sedang terik dan macet di jl Denpasar.

Ternyata hanya butuh 20 menit saja sudah nyampe di kantor Kemenpan RB.

Read Full Post »

Sumber: Shahih Bukhari 1 - Kitab Permulaan Wahyu hal. 1

Sumber: Shahih Bukhari 1 – Kitab Permulaan Wahyu hal. 1

Read Full Post »

Sumber: Shahih Al Bukhari 1 - hal. 1 (Kitab Permulaan Wahyu)

Sumber: Shahih Al Bukhari 1 – hal. 1 (Kitab Permulaan Wahyu)

Suatu hari seorang teman menyampaikan ke saya tentang pentingnya niat yang kurang lebih maknanya sama dengan hadits ini. Bahkan ia menambahakn bahwa Allah SWT memberikan segalanya sesuai dengan niatnya. Misalnya ia menginginkan kaya harta maka Allah memberikan kekayaan harta kepadanya sesuai keinginannya. Juga ia mencontohkan kalau seorang lelaki menyukai wanita dan ingin menikah karena kecantikannya, maka ia akan mendapatkannya juga. Namun bila ia memohon kepada Allah SWT tentang keberkahan hidup dunia maka ia juga akan mendapatkannya juga. Begitulah Allah SWT begitu murah terhadap permintaan manusia.

Read Full Post »

Older Posts »