Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2013

Gazelle di Amsterdam

Oleh: Pranawa Martosuwignjo

waktu saya SMA saya pakai sepeda “laki” dengan palangan merek gazelle yang saya jual ketika saya hampir lulus dokter (rasane saiki gelo koq tak dol )

kemarin di Amsterdam jadi ingat lagi ketika saya lihat banyak sepeda gazelle disana.

Sepeda di Belanda mendapat tempat sangat istimewa. Bisa dibawa naik kereta api maupun naik pesawat terbang.

Dijalanan selain trotoir untuk pejalan kaki jalan untuk sepeda juga disediakan bahkan pergi antar kotapun ada jalurnya.

Harga Gazelle bekas di Amsterdam  sekitar 200-300 euro yang baru paling murah 450 euro (tahun 1991 saya beli sepeda bekas bukan gazelle cuman 50 gulden)

Bagi yang suka nggowes ayooo dolan nyang Amsterdam

 

salam

pran

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

??????????

Read Full Post »

 

Teman-temanku yang saya cintai karena Allah,

Allah itu indah dan menyukai keindahan. Dia diibadahi dengan keindahan ucapan, perbuatan, dan akhlak yang dicintai-Nya. Karenanya, Allah sangat senang apabila para hamba-Nya memperindah lisan mereka dengan kejujuran; memperindah hati mereka dengan keikhlasan, taubat, dan tawakkal; dan memperindah anggota tubuh lainnya dengan amal-amal ketaatan.

 

Dalam kesempatan ini marilah kita mendalami makna salah satu al-Asma-ul husna (nama-nama Allah yang maha indah) yaitu Ar-Raab.

 

Ar-Rabb, Yang Maha Mengatur dan Menguasai Alam Semesta

 

Dasar penetapan

 

Nama Allah Ta’ala yang maha indah ini disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya dalam firman Allah Ta’ala,

 

{قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

 

Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” (QS al-An’aam:162).

 

Dan dalam firman-Nya,

{قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ}

 

Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?” (QS al-An’aam:164).

 

Demikian pula dalam firman-Nya,

{رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ}

 

“Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS Shaad: 66).

 

Juga dalam firman-Nya,

{سَلامٌ قَوْلا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ}

 

(Kepada penghuni surga dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang” (QS Yaasiin:58).

 

Makna ar-Rabb secara bahasa

 

Ibnu Faris berkata, “Kata Rabb menunjukkan beberapa arti pokok, yang pertama: memperbaiki dan mengurus sesuatu. Maka ar-Rabb berarti yang menguasai, menciptakan dan memiliki, juga berarti yang memperbaiki/mengurus sesuatu[1].

Ibnul Atsir berkata, “Kata ar-Rabb secara bahasa diartikan pemilik, penguasa, pengatur, pembina, pengurus dan pemberi nikmat. Kata ini tidak boleh digunakan dengan tanpa digandengkan (dengan kata yang lain) kecuali untuk Allah Ta’ala (semata), dan kalau digunakan untuk selain-Nya maka (harus) digandengkan (dengan kata lain), misalnya: rabbu kadza (pemilik sesuatu ini)[2].

 

Lebih lanjut imam Ibnu Jarir ath-Thabari memaparkan, “(Kata) ar-Rabb dalam bahasa Arab memliki beberapa (pemakaian) arti, penguasa yang ditaati di kalangan orang-orang Arab disebut rabb …, orang yang memperbaiki sesuatu dinamakan rabb …, (demikian) juga orang yang memiliki sesuatu dinamakan rabb. Terkadang kata ini juga digunakan untuk beberapa arti selain arti di atas, akan tetapi semuanya kembali pada tiga arti tersebut. Maka Rabb kita (Allah Ta’ala) yang maha agung pujian-Nya adalah penguasa yang tidak ada satupun yang menyamai dan menandingi kekuasaan-Nya, dan Dialah yang memperbaiki (mengatur semua) urusan makhluk-Nya dengan berbagai nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, serta Dialah pemilik (alam semesta beserta isinya) yang memiliki (kekuasan mutlak dalam) menciptakan dan memerintahkan (mengatur)”[3].

 

Penjabaran makna nama Allah ar-Rabb

 

Ar-Rabb adalah al-Murabbii (yang maha memelihara dan mengurus) seluruh makhluk-Nya dengan mengatur urusan dan (melimpahkan) berbagai macam nikmat (kepada mereka)[4]. Maka ar-Rabb adalah Yang Maha Pencipta sekaligus Penguasa dan Pengatur alam semesta beserta isinya[5].

 

Makna ar-Rabb adalah yang memiliki sifat rububiyah terhadap seluruh makhluk-Nya dalam hal menciptakan, menguasai, berbuat sekehendak-Nya dan mengatur mereka.

 

Nama Allah yang mulia ini termasuk nama-nama Allah Ta’ala yang mengandung beberapa arti dan bukan hanya satu arti. Bahkan nama ini jika disebutkan sendirian tanpa nama Allah Ta’ala lainnya, kandungannya mencakup semua nama Allah yang maha indah dan sifat-Nya yang maha sempurna[6].

 

Dalam hal ini imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Sesungguhnya ar-Rabb adalah (zat) yang maha kuasa, yang mengadakan, pencipta, pembentuk rupa, yang maha hidup lagi berdiri sendiri dan menegakkan urusan makhluk-Nya, maha mengetahui, mendengar, melihat, luas kebaikan-Nya, pemberi nikmat, pemurah, maha memberi dan menghalangi, yang memberi manfaat dan celaka, yang mendahulukan dan mengakhirkan, yang memberi petunjuk dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya (sesuai dengan hikmah-Nya yang agung), yang menganugerahkan kebahagiaan dan menyengsarakan siapa yang dikehendaki-Nya, yang memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, dan semua makna rububiyah lainnya yang berhak dimiliki-Nya dari (kandungan) nama-nama-Nya yang maha indah”[7].

 

Sifat rububiyah Allah Ta’ala ini meliputi seluruh alam semesta beserta isinya, karena Dialah yang memelihara dan mengatur semua makhluk dengan berbagai macam nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, Dialah yang menciptakan mereka dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, Dialah yang menyediakan semua kebutuhan makhluk-Nya, dan Dialah yang memberikan kepada semua makhluk penciptaan yang sesuai dengan keadaan mereka kemuadian memberi petunjuk kepada mereka untuk kebaikan dalam hidup mereka[8].

 

Pembagian sifat rububiyah Allah Ta’ala

 

Sifat rububiyah Allah Ta’ala ada dua macam:

 

1- Rububiyah umum yang mencakup semua makhluk, baik yang taat maupun yang selalu berbuat maksiat, yang beriman maupun kafir, yang berbahagia maupun celaka, yang mendapat petunjuk maupun yang sesat. Rububiyah ini berarti menciptakan, memberi rezki, mengatur, melimpahkan berbagai macam nikmat, memberi dan menghalangi, meninggikan dan merendahkan, menghidupkan dan mematikan, mamberi kekuasaan dan menghilangkannya, melapangkan dan menyempitkan, melapangkan semua penderitaan, menolong orang yang kesusahan dan memenuhi permohonan orang yang ditimpa kesulitan. Ini semua berlaku umum untuk selauruh makhluk-Nya, Allah Ta’ala berfirman,

 

{يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ}

 

Semua yang ada di langit di bumi selalu meminta kepada-Nya, setiap hari Dia (memenuhi) semua kebutuhan (makhluk-Nya)” (QS ar-Rahmaan:29).

 

2- Rububiyah yang khusus bagi para kekasih dan orang-orang yang dicintai-Nya, yaitu dengan dia menjaga dan memberi taufik kepada mereka untuk beriman dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, serta melimpahkan kepada mereka ilmu ma’rifatullah (mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya) dan (taufik) untuk selalu kembali/bertobat kepada-Nya, mengeluarkan mereka dari berbagai macam kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), dan memudahkan mereka untuk melakukan semua kebaikan serta menjaga mereka dari semua keburukan[9].

 

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “(Rububiyah) yang lebih khusus dari itu adalah penjagaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang shaleh dengan memperbaiki hati, jiwa dan akhlak mereka[10].

 

Inilah sebabnya mengapa mayoritas doa yang diucapkan hamba-hamba Allah Ta’ala yang shaleh, yang disebutkan dalam al-Qur’an selalu diawali dengan nama Allah ar-Rabb (misalnya: Wahai Rabb kami, atau wahai Rabb-ku), karena mereka sangat mengharapkan makna yang khusus dari sifat rububiyah ini, sehingga isi doa mereka pun tidak lepas dari makna yang dijelaskan di atas[11].

 

Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah ar-Rabb

 

Mengimani Rububiyah Allah akan menumbuhkan dalam diri seorang muslim keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya dan ketundukan yang seutuhnya di hadapan-Nya. Hal ini disebabkan karena keimanan terhadap Rububiyah Allah Ta’ala mengandung konsekwensi penetapan uluhiyah (penghambaan diri dengan ikhlas) bagi Allah Ta’ala.

Inilah yang ditunjukkan dalam firman Allah Ta’ala,

 

{يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

 

Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabb-mu (semata-mata), Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa” (QS al-Baqarah:21).

 

{إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ}

 

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka beribadahlah kepada-Ku (semata-mata)” (QS al-Anbiyaa’:92).

 

Imam Ibnul Qayyim memaparkan hal penting ini dalam ucapannya, “… Inilah tanda (adanya) tauhid uluhiyah (penghambaan kepada Allah Ta’ala yang sempurna) dalam hati seorang hamba, dan pintu masuk (yang membawa) hamba ini (mencapai kedudukan ini) adalah tauhid Rububiyah. Artinya: pintu masuk (untuk mencapai) tauhid uluhiyah adalah tauhid rububiyah.

 

Sesungguhnya yang pertama kali tertanam dalam hati (manusia) adalah (mengimani) keesaan Allah Ta’ala dalam Rububiyah-Nya, kemudian (kedudukannya) meningkat kepada keimanan terhadap keesaan Allah Ta’ala dalam uluhiyah-Nya. Sebagaimana hal inilah yang diserukan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an, (yaitu) dengan (pengakuan) manusia terhadap tauhid Rububiyah yang (mengandung konsekwensi) mengakui tauhid uluhiyah. Allah menegakkan argumentasi kepada mereka dengan pengakuan mereka ini, kemudian Dia menyampaikan bahwa mereka sendiri yang menentang pengakuan mereka itu dengan menyekutukan-Nya dalam uluhiyah.

 

Maka dalam keadaan ini terwujudlah pada diri seorang hamba tingkatan:

 

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

 

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS al-Faatihah:5).

 

Allah Ta’ala berfirman,

{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ}

 

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan mereka? niscaya mereka menjawab:”Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS az-Zukhruf: 87).

 

Artinya: bagaimanakah mereka dapat dipalingkan dari mempersaksikan (kalimat) laa ilaaha illallah (tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah) dan dari penghambaan diri kepadanya semata, padahal mereka telah mempersaksikan bahwa tidak ada Rabb (penguasa dan pengatur alam semesta) dan tidak ada pencipta selaun Allah?…” [12].

 

Demikian pula beriman kepada Rububiyah-Nya dengan benar akan membawa seorang hamba menuju tingkatan ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb, yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya. Inilah syarat untuk mencapai tingkatan ridha kepada-Nya sebagai Rabb secara utuh dan sepenuhnya, dan ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah Ta’ala, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”[13].

 

Penutup

 

Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Rabb semesta alam, agar senantiasa menganugerahkan kepada kita semua penjagaan dan taufik dari-Nya, serta semua makna Rububiyah-Nya yang khusus, sebagaimana yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Kota Kendari, 5 Rabi’ul Tsani 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA (Lulusan Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Beliau adalah penulis aktif di majalah Pengusaha Muslim)

Dari artikel ‘Ar-Rabb, Yang Maha Mengatur dan Menguasai Alam Semesta — Muslim.Or.Id

Artikel www.muslim.or.id

 

[1] Kitab “Mu’jamu maqaayiisil lughah” (2/313).

 

[2] Kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadits wal atsar” (2/450)

[3] Kitab “Tafsir ath-Thabari” (1/89).

[4] Ucapan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam kitab “Tafsiirul asma-illahil husna” (hal. 47).

[5] Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “Syarhul arba’iin an-Nawaawiyyah” (hal.43).

[6] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 79).

[7] Kitab “Bada-i’ul fawa-id” (2/473).

[8] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 80).

[9] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 80-81).

[10] Kitab “Tafsiirul asma-illahil husna” (hal. 47).

[11] Lihat kitab “Tafsiirul asma-illahil husna” (hal. 47) dan “Fiqhul asma-il husna” (hal. 81).

[12] Kitab “Madaarijus saalikiin” (1/411).

[13] HSR Muslim (no. 34).

==========

 

Read Full Post »

Oleh: Herwinto

Hasan Bashri rahimahullah berkata, ‘Wahai anak anak Adam kalian hanyalah kumpulan hari hari, setiap berlalu satu hari, hilang pula sebagian diri kalian’….. Setiap manusia adalah musafir dalam perjalanan ke akhirat, jika kita mau pulang kampung saja bekal yang kita siapkan begitu banyak dan lengkap, maka perjalanan kita pulang ke kampung akhirat lebih layak untuk dipersiapkan dengan baik juga. Setiap orang beriman diberi oleh Allah kopor untuk bekal perjalanan kita yang panjang, namun masing masing memiliki tindakan yang berbeda beda dengan kopornya. Ada yang membiarkan kopornya kosong ini adalah golongan orang orang yang disebut oleh Al Qur’an dengan dholimu linafsih, orang yang sia sia karena mendholimi diri sendiri, ada golongan yang mengisi kopor seadanya asal aman, ini golongan pertengahan yaitu orang orang yang menjalankan kewajiban dan meninggalkan yang dilarang, dan ada orang orang yang memenuhi kopornya dengan bekal yang banyak sekali, ini adalah orang orang di barisan terdepan dalam mengisi waktunya dengan berlomba lomba beramal yang disebut Al Qur’an dengan sabiqu bil khairat (QS Fathir : 32).

Mengenai contoh salaf dalam memanfaatkan waktu untuk belajar agama sungguh luar biasa..

1. Imam Thobari penulis tafsir At Thobari, seandainya kertas kertas tulisannya dibagi dengan umur beliau maka setiap hari beliau menulis tidak kurang dari 60 lembar

2. Imam Nawawi usianya hanya 45 tahun namun karya karya beliau memenuhi perpustakaan perpustakaan lebih dari 20 jilid.

3. Imam Jurjani menulis 90 lembar setiap malam dengan tulisan yang rapi.

4. Abul Wafa’ usaha menjaga waktunya mencapai tingkat yang mengagumkan yaitu beliau lebih memilih makan biskuit yang dilarutkan dengan air daripada roti karena selisih waktu mengunyah nya bisa untuk membaca sekitar 50 ayat Al Qur’an dan menulis suatu faedah ilmu…Subhanallah….bagaimana dengan kita yang sering berlama lama di meja makan.

5. Ibnu Jauzi dan Ibnu Nafis memiliki kebiasaan sama jika menghadiri pertemuan sambil membawa pensil dan alat meraut, agar tidak sekedar ngobrol namun sambil meraut pensil sebanyak banyaknya sehingga ketika malam mulai menulis dia tidak terganggu dengan meraut pensil yang tumpul, begitu tumpul langsung ganti pensil.

6. Abdullah bin Mubarok memiliki kebiasaan setelah shalat langsung pergi, ketika ditanya teman temannya dia menjawab ‘aku pergi menemui sahabat dan tabi’in’ ketika ditanya siapa yang dimaksud ‘sahabat dan tabi’in’ dia jawab buku buku dan kitab kitab karena dari buku itu dia tahu amal amal para sahabat.

7. Al Fath bin Khaqan selalu membawa buku di saku bajunya bila menghadiri walimah ato pesta perjamuan, agar dia mengisi waktu kosong dengan belajar hadist.

8. Ibnu Asakir selama 40 tahun selalu disibukkan dengan tasmi’ yakni mengulang ulang hafalannya, menulis dan membaca kitab kitab.

9. Ibnu Taimiyah bila masuk kamar mandi untuk buang hajat, dia meminta seseorang untuk membacakan suatu bab ilmu dengan keras, agar waktu buang hajatnya tidak berlalu sia sia.

10. Imam Syafi’i jika kamarnya sudah penuh dengan kertas sehingga menyulitkan tidurnya maka semua tulisan nya dihafalkannya baru kertas kertasnya dibuang karena dia sangat miskin sehingga tidak punya kamar yang luas.

11. Imam Bukhari terbiasa bangun dalam semalam tidak kurang dari 20 kali karena tiba tiba teringat sebuah masalah yang harus ditulis hadisnya sehingga melahirkan karya monumental Shahih Bukhari.

Bagaimana dengan kita yang hari ini kita terbiasa menghabiskan waktu kita dengan berjam jam di depan televisi ataupun di depan player kita ato kita makan di restaurant restaurant dengan santainya sampai berjam jam, sementara kita lupa membaca Al Qur’an, lupa membaca hadist hadist nabi kita, kita memohon taufik kepada Allah agar hidup kita dapat kita isi dengan belajar ilmu dan amal sholeh.

Read Full Post »

By: Herwinto

Yusuf bin Asbath meriwayatkan, Jika ada seorang pemuda melakukan ibadat dengan tekun, setan berkata kepada kawan kawannya , ‘Coba kau lihat bagaimana makanannya?’ Jika makanannya adalah dari hal hal yang diharamkan maka setan akan berkata ‘Biarlah dia bersusah payah dan giat beribadah, kalian tidaqk perlu repot lagi, ketekunannya itu tidak berguna sama sekali’. Ketika Sa’ad memohon kepada Rasulullah agar dia dijadikan sebagai seorang yang do’anya dikabulkan oleh Allah, maka Rasul bersabda ‘Wahai Sa’ad perbaikilah usahamu niscaya do’amu akan terkabul, sesungguhnya seseorang memasukkan sesuap barang haram ke mulutnya do’anya tidak akan dikabulkan selama empatpuluh hari’. Abu Hurairah berkata ‘Adalah lebih baik seseorang memasukkan tanah ke perutnya daripada memasukkan barang haram’. Wahb bin al Ward berkata ‘ Sekalipun anda shalat laksana tiang itu tidak akan berguna untukmu sampai engkau perhatikan apa yang masuk kedalam perutmu’. Abu Bakar As Shidiq mempunyai seorang budak yang selalu memberi uang tebusan kepadanya dan beliau selalu bertanya darimana asal tebusannya itu, suatu ketika budak tersebut memberinya makanan karena Abu Bakar sedang puasa maka langsung beliau makan sesuap ketika berbuka, beliau lupa menanyakan dari mana makanan tersebut, setelah ingat Abu Bakar pun bertanya darimana asal makanan itu, sang budak pun menjawab asal makanan itu ketika dia masih jahiliyah pernah berprofesi sebagai dukun, seketika itu Abu Bakar berusaha mengeluarkan makanannya kembali namun tidak bisa, kemudian ada yang membantu dengan air akhirnya makanan itu bisa dimuntahkan lagi……. Marilah kita memohon kepada Allah agar melindungi kita dan menjaga kita agar terhindar dari memakan makanan yang haram. Para ulama memasukkan kategori ini adalah termasuk pemungut cukai, pemalsu, pemakan riba, pemakan harta anak yatim, kesaksian palsu, koruptor, penyuap, yang di suap, mengurangi takaran, pedagang yang menutupi cacat dagangannya, peramal, dukun, pelacur, penjudi. (Disarikan dari kitab Al Kaba’ir Imam Adz Dzahabi halaman 195-200).

Read Full Post »

image

Subhanallah …betapa bahagianya orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya …mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Read Full Post »

Doa Ibu

Imam Adz-Dzahabi (lahir 673H – wafat 748H) menceritakan dalam biografi Imam Sulaim bin Ayyub ar-Razi bahwa ketika masih kecil (sekitar umur sepuluh tahun) dia belajar mengaji kepada sebagian ustadz di kampungnya.

Sang ustadz mengatakan, “Majulah dan cobalah membaca al-Qur’an.”

Dia (Sulaim bin Ayyub) pun berusaha semaksimal mungkin untuk membaca al-Fatihah, tetapi tidak bisa karena ada sesuatu pada lidahnya.

Sang ustadz lalu bertanya, “Apakah engkau punya seorang ibu?” “Ya,” jawab Sulaim.

“Kalau begitu, mintalah kepada ibumu agar dia berdoa supaya Allah memudahkan engkau untuk bisa membaca al-Qur’an dan meraih ilmu agama,” tutur sang ustadz selanjutnya.

Sulaim menjawab, “Ya, akan saya sampaikan pada ibuku.”

Maka setelah pulang ke rumah, dia menyampaikannya kepada ibunya, dan sang ibu lalu bermunajat dan berdoa kepada Allah. Setelah itu, Sulaim menginjak masa dewasa dan berkelana ke Baghdad untuk menuntut ilmu bahasa Arab, fiqih, dan lain-lain. Ketika dia pulang kembali ke kampungnya di Ray sedang menyalin kitab Mukhtashar al-Muzani di sebuah masjid, ternyata ustadznya yang dahulu datang seraya mengucapkan salam kepadanya. Namun, sang ustadz sudah tidak mengenal Sulaim lagi. Tatkala ustadznya mendengar salinan kitab tersebut dan dia tidak paham apa yang sedang dibaca, dia berkomentar, “kapankah ilmu seperti ini bisa dipelajari?” Kata Sulaim, “Ingin sekali rasanya saya mengatakan padanya: ‘Jika anda punya seorang ibu maka mintalah kepada ibu anda agar mendoakan untuk anda’, tetapi saya malu mengatakan hal itu.” (Siyar A’lamin Nubala 34/156-157 oleh adz-Dzahabi)

Prayogo – TK79

Komentar saya terkait kisah di atas:

Memang doa ibu itu benar2 dahzyat dan bagi yang telah merasakan manfaatnya tentu akan semakin menghayati pentingnya kehadiran ibu dalam kehidupan kita.

Yang sebenarnya menarik bagi saya dalam memaknai kisah ini justru terletak pada “substansi doa” nya. Jelas dalam kisah ini diuraikan bahwa yang diminta oleh anak kepada ibunya adalah agar mendoakan anaknya untuk membaca dan mentadaburi Al Quran. Ini jelas suatu hal yang benar adanya sesuai dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan semakin sering membaca tentunya diharapkan kita lebih dalam bisa memaknai Al Quran dan Hadits sehingga bisa menjadi pedoman kita dalam bersikap dan berperilaku sebagai orang yang shalih.

Mari coba kita tengok keadaan yang berkembang di kemudian hari dan sering kita dengar : doa lebih fokus kepada pencapaian duniawi yang terkandung dalam kalimat seperti: agar mendapatkan kesuksesan, banyak rizqi, dipanjangkan umur, agar segera mendapatkan promosi jabatan, dikaruniai jodoh, dikaruniai anak, terlepas dari lilitan hutang dan contoh lainnya. Tentu hal ini tak salah. Namun, tidak menyertakan membaca Quran di dalam dia bahkan bila hanya meletakkannya pada prioritas kedua, jelas menjadi kurang tepat. Seharusnya kemampuan membaca Quran justru harus diprioritaskan menjadi substansi utama dari doa karena kebarokahan dari membaca dan mentaddaburi Quran merupakan gerbang utama untuk pencapaian kesuksesan duniawi yang lainnya. Substansi doa seperti inilah justru yang bermakna dalam dan memiliki dampak dahzyat kepada hal lainnya. Seorang ustad dalam sebuah tausiyah nya mengatakab bahwa tak ada satu orangpun ahli Quran yang sengsara dalam hidupnya. Subhanallah ….!

Bukankah Allah sudah secara jelas berfirman bahwa hal terbaik yang dilakukan manusia adalah mempelajari dan mengajarkan al Quran?

 

Read Full Post »

Jalan Kaki Setelah Makan

image

Read Full Post »

Older Posts »