Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2010

Catatan Majlis Taklim

Kajian Zhuhur, 20 Januari 2010

Mushalla Lantai 23 KPPTI

Ustadz H. Syahroni Mardani, Lc. (Azhar Center)

085716433580, 081315773340

Syahronimardani71@yahoo.com

Qoshoshun Minassunnah (Kisah-kisah dari Sunnah)

“Ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (Q.S. Al A’raaf 7:176)

—————————————————————————————————–

Rasul mengatakan bahwa menabung buat keturunan kita itu boleh, maksudnya tak tergolong dalam penumpukan harta. Beliau mengatakan hal ini saat mengunjungi Abu Ishak Saad bin Abi Waqqas ra yang sedang sakit dan rasanya mendekati ajal sedangkan ahli warisnya hanya seorang anak perempuan, sedangkan ia sangat kaya raya. Ia menayakan ke Rasul apa sebaiknya 2/3 dari hartanya ia sodaqohkan (wakaf). Rasul melarangnya. Kemidian ia menanyakan bagaimana kalau separuh (1/2) nya – Rasul pun melarangnya. Akhirnya ia menanyakan bagaimana kalau sepertiga (1/3) dan Rasul menyetujuinya. Dari sinilah makanya dalil mengenai wakaf tak boleh lebih dari 1/3 harta warisan berdasar. Artinya, mewariskan kepada ahli waris harus lebih besar (2/3) daripada untuk wakaf. Di sini Islam mengajarkan bahwa harta warisan terutama diperuntukkan buat keluarga dulu, baru kemudian wakaf.

Q.S. At Talaq 65:7

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

https://i2.wp.com/www.knowledgerush.com/wiki_image/5/52/Malaysia-tea_plantation.jpgDari ayat tersebut jelas bahwa kita berkewajiban memberi nafkah kepada keluarga. Nafkahkan yang banyak. Sementara yg rizkinya sempit, nafkahkan sesuai dg yg ia peroleh karena Allah tak memberikan beban selain yang ia mampu. Rahasia Allah: ada yg rizkinya luas ada yg sempit Intinya: jangan pelit banget sama keluarga, kalau kita memiliki kecukupan harta maka janganlah pelit membelanjakannya untuk anak sendiri dan istri. Sebagai orang tua kita wajib memberikan nafkah kepada anak.

Hadits:

Cukuplah seseorang menanggung dosa besar manakala dia menyia-nyiakan org yg menjadi tanggungannya. (HR Abu Daud)

Jangan sampai kita dermawan ke orang lain tapi anak sendiri malah tidakdiberi yang layak.

Dinar (harta) yang paling afdol ialah dinar yg dikeluarkan utk menafkahi keluarga. Kemudian, dinar yg dikeluarkan utk kendaraan di jalan Allah. Kemudian dinar yg dikeluarkan utk membantu saudaranya di jalan Allah. (Muslim)

Dari Muawiyah bin Hidah ra berkata: Aku bertanya pada Nabi saw: “Ya Rasulullah, apakah hak-hak istri yg wajib pada kita?”. Nabi menjawab: “Memberinya makan saat engkau makan, memberinya pakaian saat engkau memakai pakaian, jangan memukul wajah, jangan menghina, dan jangan diacuhkan (sbg hukuman) kecuali di rumah. (H R Abu Daud)

Ustadz menekankan bahwa apa yang kita makan maka kita wajib meberikan yang sama juga kepada istri. Kalau misalnya makan enak di kantor, soto ayam misalnya, jangan pulang membawa pisang goreng, bawalah sekurangnya sama atau lebih dari apa yang kita makan. Jaman sekarang tontonan di TV memberikan contoh-contoh yang kurang baik. Apalagi ada kecenderungan tontonan jadi tuntunan, tuntunan malah jadi tontonan. Ini sudah tidak benar. Di sinetron banyak kita lihat suami makan enak di restoran tapi waktu pulang kerja istri tak dibawakan makanan yang sama, padahal kewajiban suami memberikan makanan yang sama dengan yang dimakannya. Selain itu juga banyak tontonan dimana suami-istri tak saling ngomong. Padahal, tidaak bicara seharian dengan istri hukumnya makruh.

Syarat istri berhak mendapatkan nafkah:

  1. Akadnya sah, istri sah secara agama Islam
  2. Istri menyerahkan dirinya kpd suaminya. (Kita wajib memberi nafkah bila kita mengambil manfaat dari orang. Nafkah: makan, pakaian dan obat)
  3. Suaminya bisa ber senang-senang dengan istri
  4. Istri tak keberatan dibawa kemana saja suami pindah kerja asalkan musafir istri tak membahayakan dirinya
  5. Istrinya bisa diajak berhubungan

Hadits

Siapa yg mendapat ujian dlm membesarkan anak2 perempuannya, kemudian dia urus dgn baik. Maka anak2 perempuannya itu akan menjadi penghalang dia masuk ke dalam api neraka. (Muttafaq Alaih)

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Sejatinya ada dua acara yang saya rencanakan akan saya hadiri pada hari Ahad yang lalu. Pertama adalah undangan bedah buku karya ustd Herry Nurdi (Pemred Sabili) tentang Rencana Israel Raya dan kedua adalah undangan Tabligh Akbar di masjid Istiqlal bertema “Sebab-Sebab Datangnya Kebahagiaan”. Namun sayang, keduanya tak bisa saya hadiri karena saya memilih berurusan dengan pemakaman jenazah Vivi Anggraini (22 tahun) yang meninggal pada hari Sabtu sore dan dimakamkan Ahad pagi. Memang ini adalah sebuah pilihan yang berat mengingat dua acara yang telah saya rencanakan tersebut adalah “hadir di majelis ilmu” dimana Allah memberikan pahala yang sangat besar kepada umatNya yang menyempatkan diri. Sebenarnya saya sempat ragu karena di salah satu tausiyah yang pernah saya ikuti, hadir di majelis ilmu itu jauh lebih manfaat dibandingkan menghadiri pemakaman jenazah. Saya kurang yakin dalilnya tapi pernah dikatakan seperti itu. Toh akhirnya saya memilih hadir di pemakaman jenazah dan alasannya saya ungkapkan di posting lainnya setelah ini.

Saya berterima kasih kepada Radio Rodja sebagai salah satu penyelenggara acara Tabilgh Akbar yang berkenan menyiarkan rekaman ceramah Prof Dr Abdur Rozzaq pada Ahad lalu di masjid Istiqlal. Siaran ulang di AM 756 dilakukan tadi malam dan saya, sambil dalam perjalanan dengan mobil, menyimaknya dengan seksama dan membuat catatan kecil. Tentu catatan ini tak sebagus bila saya menghadirinya secara langsung. Namun setidaknya catatan kecil ini bisa menjadi “pengingat” bagi saya dan mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman yang berkunjung di blog ini. Di dalam catatan ini, saya juga memasukkan pandangan saya dan sudah berbaur menjadi satu dengan ucapan penceramah.

Penceramah mengatakan dengan semangat bahwa sebab-sebab datangnya kebahagiaan hanya berasal dari Allah SWT dan hanya bisa diraih dengan taat kepadaNya. Hal ini dikatakan berulangkali sehingga saya sendiri memaknainya sebagai suatu keniscayaan yang tak bisa ditawar lagi. Artinya, bohong besar bila ada seseorang mengatakan bahagia namun tak melibatkan adanya Allah di dalam hati dan pikirannya. Untuk meyakinkan ini Penceramah menukil ayat Al Quran yang menjamin bahwa barang siapa mengikuti petunjuk Allah SWT maka ia dijamin tak akan sesat di dunia dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Coba kita telaah kata “hanya” dalam paragraph di atas di bagian pertama dari kalimat. Artinya Allah telah menggariskan kemustahilan kebahagiaan bisa dicapai dengan tidak memasukkan Allah ke dalamnya. Banyak orang yang memiliki harta berlimpah namun hidupnya sengsara karena batinnya tersiksa, tak pernah ada ketenangan dalam jiwanya. Ini pasti karena mereka melalaikan Allah dalam kehidupannya. Mungkin hartanya ia peroleh dengan jalan yang tak diridhlai Allah SWT atau mungkin juga ia lalai membayar zakat, mengeluarkan sodaqoh dan lain sebagainya.

Pada bagian selanjutnya, kata “hanya” diletakkan pada bagaimana kebahagiaan itu bisa diraih, yaitu melalui taat kepada Allah SWT. Dalam hal ini tak bisa dipungkiri bahwa taat memiliki dua sisi sekaligus. Pertama, selalu menjalankan semua yang diperintahkanNya melalui kitabullah Al Quran dan hadits; kedua, dengan menjalankan semua larangan-larangannya. Bila kita yakin bahwa Allah sangat sayang kepada kita maka semua perintah dan laranganNya tentu untuk kebaikan kita, umat ciptaanNya. Tak ada satupun perintah maupun laranganNya yang akan mencelakakan atau membuat susah manusia. Allah menegaskan ini di dalam surah At Taahaa ayat 2 dimana Dia menegaskan bahwa Al Quran ini diturunkan bukan untuk membuat manusia susah. Kita harus meyakini ini kalau kita yakin bahwa Allah lah satu-satunya Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Mengetahui, Maha Mengatur.

Dengan mengikuti taklim ini saya semakin yakin bahwa konsep-konsep kebahagiaan yang ditawarkan oleh ribuan buku-buku pengembangan diri yang ditulis oleh pengarang barat sudah sepenuhnya salah total karena lebih menekankan kepada aspek jelajah-diri (self-discovery) yang mengabaikan Allah sebagai sumber utamanya. Buku-buku tersebut sebagian besar menawarkan konsep keseimbangan hidup dimana aspek spiritual hanya merupakan satu hal dari lainnya: ekonomi, kesehatan, hubungan dengan orang lain, pendidikan, pengetahuan dsb. Sepertinya sumir tapi kalau kita maknai dengan benar justru kita harus mengutamakan Allah sebagai sumber atau sebab utama datanganya kebahagiaan. Tanpa hal ini, mustahilkita peroleh kebahagiaan, karena kalau kita”taat” kepada Allah maka aspek lainnya akan terpenuhi dengan sendirinya. Kalau kita menjadi ahlul Quran (memahamai Quran dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari) pasti kita akan belajar hal lain lagi karena ilmu yang dicakup Quran itu sangat luas sekali.

Ujub dan Riya

Penceramah selanjutnya mengingatkan kita akan bahaya ujub dan riya. Yang dimaksud ujub di sini adalah berbangga-bangga kepada diri sendiri karena merasa paling taat, paling takwa, paling banyak ilmu, paling banyak ibadah. Bila kita sudah ujub, maka sia-sialah semua ibadah yang kita lakukan karena neraka ganjaran bagi orang yang ujub. Islam mengajarkan ketaatan bukan untuk dibanggakan karena kita harus tetap tawadhu, tidak menyombongkan diri sebagai yang paling tahu, paling benar dan paling suci. Ujub ini sangat dahzyat bahayanya dan harus dihindari.

Sedangkan riya adalah perbuatan memamerkan diri karena ketaatan kita ke Allah SWT. Misalnya mengerjakan shalat bila dilihat orang lain, atau mertua, dan tak shalat lagi bila tak ada yang melihat. Padahal Allah selalu melihat apa yang kita lakukan bahkan mengetahui niat kita. Riya ini adalah penyakit hati yang berbahaya sekali selain ujub. Hati kita harus dibersihkan dari ujub dan riya. Janganlah kita beribadah, berdakwah atau apapun kegiatan ibadah yang kita lakukan tidak ditujukan semata untuk Allah. Semuanya harus terpusat kepada satu : Allah SWT, tak boleh diperuntukkan buat lainnya.

Tanda Kebahagiaan

Tanda kebahagiaan adalah bila seseorang menjadikan kejelekannya di hadapan matanya sedangkan kebaikan-kebaikannya di masa lalu dia lupakan. Saking menyesalnya terhadap semua kejelekan yang telah ia perbuat maka tiap saat waktunya ia gunakan untuk beristighfar mohon ampun kepada Allah SWT. Dia tak perlu pedulikan lagi kebaikan-kebaikannya karena sudah dengan sundirinya diurus Allah karena Dia telah mencatatnya. Namun kejelekan harus selalu diperbaiki dengan istighfar.

Tanda musibah adalah bila seseorang menjadikan semua kejelekannya dia sembunyikan jauh-jauh tapi kebaikannya ditaruh di depan agar dipuji manusia. Ia senang membicarakan tentang amal baiknya kepada orang lain sehingga orang menjadi terkesima dengan amalan-amalannya. Di sini riya dan ujub mulai menjangkiti dirinya, maka mala petaka lah yang ia alami dan neraka lah ganjaran terbaik untuknya. Nudzubillah min dzalik.

Penutup

Kita memperhatikan adab2 Islami saat bermualah dg orang lain: lembut, santun, berbicara dg baik, akhlak mulia. Kalau kita berakhlak mulia itu ikhlas krn Allah SWT. Mengharapkan pahala dari Allah swt bukan pamrih thd orang lain.

Pada bagian penutup Penceramah mengungkapkan perlunya kita membaca kitab (judulnya: Jadhul Maat (?) ) karangan Ibnul Qoyim. Ada delapan hal yang dibahas agar kita memiliki akhlak mulia:

1. Tauhid
2. Menggali Ilmu
3. Kembali ke Allah
4. Selalu ingat Allah
5. Membantu orang lain
6. Keberanian
7. Menghilangkan penyakit hati
8. Meninggalkan hal-hal yang berlebihan

Wass,

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Siang ini, Sabtu 16 Januari 2010 sekitar jam 14:00 sd 15:00 saya sedang mengendarai mobil dan seperti biasanya radio selalu tuned-in di Radio Rodja AM 756. Topiknya menarik yaitu tentang bagaimana membuat atau menciptakan hati yang hanif, bersih. Berikut ini adalah catatan dari ceramah yag dilakukan ustadz di kajian tersebut:

Kenalilah Kaum Yang Papa, Bersodaqoh-lah

https://i2.wp.com/www.photos-voyages.com/cuba/plantation1.jpgUstadz mengisahkan bila ia pergi ke kota Cirebon beliau tak pernah menggunakan taxi. Saat itu jam 22:00 malam dan begitu tiba di Cirebon beliau langsung naik becak. Selama dalam perjalanan di becak tersebut beliau berdialg dengan tukang becak. Menurut penuturan tukang becak, pada seharian tersebut dia menarik becak baru terkumpul Rp. 7.500,- Pada saat turun, ustadz memberinya ongkos sebesar Rp. 20.000,-. Begitu senangnya tukang becak tersebut sehingga mengucapkan terima kasih ke ustadz dengan mencium tangan dan sekaligus mendoakan ustadz tersebut. Uang Rp. 20.000,- mungkin untuk sebagian dari kita menganggapnya kecil. Namun begitu berharganya uang tersebut bagi tukang becak. Betapa barokahnya kita bisa memberikan sodaqoh yang sebenarnya tidak begitu besar namun manfaatnya begitu besar bagi sang tukang becak. Manfaat bagi pemberi adalah amalan baik dan didoakan oleh tukang becak tersebut.

Di Madinah tinggal seorang miskin yang tak punya keahlian apa-apa. Stiap hari ba’da Ashar ia selalu pergi ke rumahsakit menghibur orang-orang yang sakit dengan tegur-sapa yang manis. Setelah itu ia menjalankan shalat Maghrib berjamaah. Hal ini ia lakukan setiap hari ba’da Ashar. Betapa mulia sodaqoh yang dilakukannya. Tak harus dengan uang, bisa dengan tindakan.

Berdoa Yang Benar

Memanjatkan doa perlu adanya tiga syarat seperti halnya orang memanah. Pertama, perlu ada sasaran, dalam hal ini sasarannya adalah Allah SWT. Kedua, perlu adanya anak panah dan busur yang lurus dan kuat. Dalam hal doa tentunya adalah doa-doa yang biasa dilakukan Nabi Muhammad SAW, bukan doa-doa karangan kita. Banyak orang meminta doa yang salah, misalnya minta mobil Mercy atau minta anaknya sekolah di suatu sekolah tertentu. Ini jelas salah karena manusia tak mengetahui mana yang barokah. Siapa jamin bahwa memiliki Mercy akan membuat kita baik di dunia dan akhirat? Siapa jamin sekolah tertentu akan membuat anak kita soleh sehingga bahagia dunia akhirat?

Manusia tak tahu mana yang terbaik, hanya Allah SWT yang tahu. Di buku Fiqih Doa dibahas doa-doa Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, perlunya tenaga yang kuat untuk menarik busur panah sebelum menembak sasaran. Dalam hal berdoa adalah kemauan atau keinginan yang kuat dari diri kita dalam berdoa tersebut. Berdoalah sambil meninggikan Allah SWT setinggi-tingginya dan merendahkan dan menghinakan diri kita se-rendah-rendahnya, sehina mungkin di hadapan Allah yang Maha Sempurna. Semakin kuat kemauan kita, semakin kuat keinginan kita maka semakin besar Allah mengabulkan doa kita.

Wass,

G

Read Full Post »

Tafsir Ucapan Ta’awudz

Ustadz : Jumharuddin Lc
Lokasi : Masjid Al Istiqomah, Mega Kuningan, Jakarta
Waktu : Ba’da Zhuhur, Rabu, 13 Januari 2010

Dalil mengenai ucapan ta’awudz terdapat di Al Quran surah 16 ayat 98. Kita minta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan terkutuk.

Kenapa baca ini sebelum baca Al Quran? Ada tiga alasan:

  1. Menyiapkan hati kita sebagai alat terima Al Quran. Kalau diibaratkan gelombang, ini bisa dikatakan seperti “resonansi”, supaya frekuensinya sama. Tidak semua orang bila mendengar Al Quran dilantunkan hatinya bergetar. Untuk itu kita perlu menyiapkan diri agar hati kita bersih dari godaan setan. Kalau hati bagus, begitu mendengar Al Quran dibaca langsung bergetar hatinya. Cat Stevens masuk Islam gara2 Al Quran. Biarawati (Irene) masuk Islam karena Al Quran juga.
  2. Setan merusak dan mendatangi kita dari kelemahan kita. Dia mencari di pintu dimana kita lupa. Dengan membaca “Audzubilla..” kita ingin Allah membentengi hati kita. Al Quran yg sekarang sama dari dulu. Al Quran bisa jadi petunjuk dan penyembuh kita. Selama ini yang kita tahu, setan ada di tempat2 tidak bagus. Tapi ternyata setan nongkrongin juga orang yangg mau baca Al Quran. Mengapa saat Ramadhan dimana setan diikat namun masih ada manusia yang tak berpuasa? Krena kaderisasi setan selama 11 bulan menggoda manusia kemudian internalized ke hati manusia. Itulah perlunya kita isti’azah: membaca ta’awudz sebelum baca Al Quran. Di surah Al Araaf ayat 27 disebutkan bahwa setan bisa melihat kita, sedangkan kita tidak melihat mereka.
  3. Di surah Al Araaf ayat 17 disebutkan bahwa setan mendatangi manusia dari segala penjuru, agresif, dari semua sisi. Jangan dekati zina, karena setan itu agresif. Mengucapkan ta’awudz merupakan sikap agresif kita kepada setan. Problemnya kita sering ‘ahlan wazahlan’ alias mengucap selamat datang kepada setan. Setan tak mendatangi manusia dari sisi atas karena itu adalah jalannya amal baik kita dan dari bawah karena merupakan tempat sujud kita. Contoh dari depan adalah dalam membelokkan pandangan kita, misalnya adanya orang yang membenarkan pluralisme. Setan pun datang dengan cara yang sangat halus dan lihai. Namun meski menggoda, setan tidak bisa memaksa. Makanya di hari pembalasan setan tidak mengaku memaksa karena mereka hanya “menggoda”. Contohnya adalah saat setan menggoda nabi Adam dengan mengatakan phon Quldi sebagai pohon keabadian – agar tinggal selamanya di surga.

https://i0.wp.com/angelinasondakh.blogs.com/angelina_sondakhs_diary/images/pemandangan_alam_dieng.jpg

Sebagai mukmin, megapa kita tidak berlindung sepenuhnya kepada Allah swt?

Salam,
G

Read Full Post »

Manajemen Pasrah

Kajian Zhuhur

Ustadz Sukeri Abdillah

Mushalla lantai 23 KPPTI

4 Januari 2010

Pasrah bukan dalam artian menyerah saja terhadapa apa yang terjadi namun didahului dengan https://i1.wp.com/media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/01/08/a7/76/plantation-de-the.jpgikhtiar, kerja keras. Seringkali manusia ini mempertimbangkan banyak kepentingan sehingga ada seorang wanita sekuler yang dewasa ini berani mengatakan bahwa jilbab hanyalah budaya karena dijumpai pula seorang wanita berjilbab tetapi berprofesi sebagai mucikari di placuran. Sehingga ia simpulkan bahwa jilbab perlu dipakai hanya pada saat shalat dan thawaf saat haji. Dia juga membuat pengumuman akan menerbitkan Al Quran versi perempuan. Naudzubillah min dzalik.

Contoh di atas menunjukkan ketidakpatuhan kepada Allah SWT.

Bagaimana agar kita tunduk kepada Allah SWT, ridha terhadap qada dan qadar Allah SWT?

Ada tiga hal yang bisa dilakukan:

  1. Menjadikan Allah sebagai Rabb kita
  2. Ridha Islam sbg “diin” kita
  3. Menjadikan Rasul sebaga Rasul teladan yang perlu kita “copy paste” perilaku dan akhlaknya.

Kita perlu mengkhatamkan Al Quran dalam kurun waktu 3 bulan. Bila tidak, maka sebetulnya Al Quran sudah kita campakkan dari kehidupan kita. Naudzubillah min dzalik.

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah catatan saya dari mengikuti Kajian Zhuhur di Mushalla lantai 23 Kantor Pusat PT Indosat pada hari ini . https://i0.wp.com/indonesian.cri.cn/mmsource/images/2007/12/05/huaguoshan07120503.jpgTopiknya adalah mengenai Siyasah Syar’iyyah yang dalam bahasa sehari-hari kira-kira artinya menyiasati syariah agar mencapai tujuan yang baik, sesuai dengan syariah. Ustadz nya mendefinisikan sebagai “Menangani sesuatu demi memberikan kebaikan kepada sesuatu itu”. Ini sebenernya makna sebetulnya dari kata “siasat”. Sedangkan makna Syar’iyyah: Syariat dijadikan sebagai titik tolak, sumber atau rujukan, tujuan, minhaj (aturan, pedoman, panduan). Kata dasarnya adalah:

Syara’ : ajaran Allah SWT yg tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW.

Sehingga makna Siyasah Syar’iyyah adalah politik yg tegak di atas kaidah-kaidah, hukum-hukun dan arahan-arahan syari’ah

Makna tersebut menjadi gamblang ketika ustadz menguraikan contoh berikut:

Imam Shalat Jamaah di Sekolah Dasar

Sudah menjadi hal biasa bila shalat dimana makmum nya anaka-anak biasanya suka gaduh pada awal shalat. Sang Imam yang sering menghadapi kendala ini mengamati bahwa anak-anak biasanya gaduh pada saat rakaat pertama sampai dengan ruku’. Pada saat ruku’ biasanya mereka mulai diam karena mereka sudah bergabung dalam shalat berjamaah mengikuti imam. Biasanya anak-anak juga sudah hafal surah apa yang dibaca, misalnya “Al Kafirun” sehingga anak-anak menunggu sampai surah yang sudah mereka hafal itu selesai, maka baru mereka ikut ruku’. Mengatasi hal ini sang Imam mengatur siasat dengan memilih surah yang lebih pendek sehingga buru2 “Allahu Akbar” untuk ruku’ sehingga anak-anak terpaksa diam secepatnya.

Pada kesempatan lain sang Imam sengaja memutuskan surah yang dibaca di rakaat pertama dengan sengaja agar anak-anak segera sadar bahwa mereka telah telat dan segera ikut ruku’. Pada rakaat 2 sang imam menyambung bagian akhir surah yang terputus ditambah surah kedua yang dibaca di rakaat kedua.

Yang dilakukan oleh Imam di sini adalah menyiasati agar anak-anak segera patuh dan mengikuti shalat secara khusyu’.

Kisah Nabi Sulaiman

Contoh lainnya adalah bagaimana Nabi Sulaiman memberikan solusi terhadap pertikaian dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Dikisahkan dua orang wanita membawa bayi mereka masing-masing kemudian keduanya melaksanakan keperluan di sungai sedangkan bayinya ditinggal di pinggir sungai. Saat kedua wanita itu selesai dengan keperluan masing-masing di sungai, mereka mendapati bahwa bayinya tinggal satu orang, sedangkan bayi yang satunya telah dimakan oleh serigala. Masing-masing bersikukuh bahwa bayi itu adalah bayinya. Salah satu wanita yang pandai berbicara akhirnya memenangkan pertikaian dan mendapatkan bayi tersebut. Nabi Sulaiman melakukan fasilitasi dengan menawarkan solusi kepada kedua wanita tersebut karena memenangkan sesuatu hanya berdasarkan kepiawaian berpidato tanpa penelusuran siapa yang sebenarnya berhak, jelas tidak adil.

Solusi yang ditawarkan oleh Nabi Sulaiman adalh dengan membelah bayi tersebut menjadi dua, sama rata, dan masing-masing bagiannya diserahkan ke kedua wanita tersebut. Wanita yang pandai berpidato menyetujuinya, namun wanita yang satunya menangis karena tak tega anaknya dibelah dua, dan tidak mungkin. Beradasrkan reaksi ini maka nabi Sulaiman memutuskan untuk menghukum penjara wanita yang pandai berpidato dan memberikan bayi tersebut ke wanita yang menangis. Mengapa? Karena ibu yang sejati tak mungkin tega melihat anaknya dibelah dua – dan kama dari itu maka ibu yang menangis tersebut pantas menjadi ibu sang bayi.

Kisah Abu Bakar Siddiq

Beliau dijuluki sebagai nassabah atau kira-kira artinya adalah ahli strategi perang. Menghadapipemurtadan yang terjadi di Madinah, Makkah dan Thaif, Abu Bakar merasa geram dan bermaksud akan menuntaskannya sekaligus. Namun sayangnya sahabat lain tak setuju karena jumlah mereka (pasukan muslim) kecil. Maka Abu Bakar melakukan gertak sambal (karena tahu bahwa yang lain pasti akan mendukungnya) dengan mengatakan: “Baiklah, kalau tidak biar saya sendiri yang menyerbunya secara serentak.” Setelah ia mengatakan demikian maka shabat lain kontan mengikutinya. Akhirnya pasukan muslim memerangi dengan cemerlang: sepuluh dari sebelas titik sudah menyerah dan tinggal satu titik lagi. Melihat sepuluh titik telah menyerah maka lebih mudah menaklukkan satu titik terakhir.

Walahualam bishawab.

Wass,

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah ringkasan pengajian Ahad pagi ini di Islamic Center Madiun yg ditulis oleh sahabat saya yang hadir: Rahmanta Setiahadi.

Gus Toty, resume pengajian Ahad pagi, 10 Januari 2010 kira-kira begini :

1. Setiap muslim berkewajiban untuk berbuat ikhsan (baik) sesuai misi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

2. Untuk berbuat ikhsan ternyata tidak cukup sekedar berbuat tanpa ada bekal dan modal yang baik.

3. Modal yang baik untuk berbuat ikhsan adalah iman dan ilmu. Iman sebagai landasan untuk bisa berbuat ikhsan secara berkelanjutan dengan dilandasai keikhlasan semata-mata hanya mengharap ridho Alloh, bukan untuk kepentingan sesaat – misalnya popularitas biar dikenal sebagai orang baik. Sedangan ilmu diperlukan agar perbuatan ikhsan kita lakukan mempunyai dampak yang luas bagi orang lain sebagai “uswah”, shg menjadi insipirasi bagi orang lain utk melakukan hal yang sama atau bisa melebihi apa yang telah kita lakukan.

3. Kewajiban untuk mewarisi sikap dan motivasi untuk selalu berbuat yang “terbaik” bagi orang lain menjadi kewajiban orang tua kepada setiap keturunannya. Oleh karena itu tugas setiap orang tua untuk mempersiapkan anak-anaknya sebaik mungkin dengan bekal landasan iman, ilmu pengetahuan dan modal kehidupan. Sbgmn perintah Allah dalam surat An-Nisa ayat 9 : …. dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka …..

4. Mudah-mudahan ini menjadi bahan renungan kita.
Salam …

Read Full Post »

Older Posts »