Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2010

Kekuatan Doa

Dari Abu Hurairah. ra.a, Rasulullah saw. Bersabda,`Tiga orang yang do,a mereka tidak akan ditolak: Orang yang berpuasa ketika akan berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizhalimi. Allah mengangkat doa itu diatas awan dan mengabulkan baginya pintu-pintu langit, dan Allah berfirman, `Demi kemuliann-Ku, Aku akan menolongmu walaupuin pada suatu saat nanti.`(Ahmad)

 

Faedah

 

Dalam  Durrul-Mantsur diriwayatkan dari Aisyah r.ha. bahwa apa bila bulan Ramadhan tiba, raut wajah Rasulullah saw. Berunah. Beliau lebih memperbanyak jumlah rakaat shalatnya (sunnah), dan berdo,a dengan lebih tawadhu` dengan rasa takut yang lebih besar kepada Allah swt. Menurut riwayat lain beliau tidak pernah berbaring di tempat tidurnya sehingga habis bulan ramadhan. Riwayat lain menyatakan bahwa pada bulan Ramadhan, para malaikat memegang Arsy diperintakan Allah swt., `Tinggalkanlah ibadah kalian, aminilah doa-doa orang berpuasa.

Banyak sekali hadits yang menyatakan bahwa doa orang yang berpuasa akan dikabulkan, yang tidak dapat kita ingkari kebenarannya. Jika Allah swt. Telah berjanji, dan Nabi-nya yang terpercaya (Ash-Shiddiq) telah memberi tahu kita, maka jangan sedikitpun meragukan kebenaranya. Memang ada sebagian orang yang berdoa memohon sesuatu, tetapi tidak terwujud. Namun jangan sampai dpahami do,anya ditlak, bahkan pahamilah masalah diterimanya do,a ini. Rasulullah saw. Bersabda, jika seorang muslim berdo,a kepada Allah, dengan syarat tidak untuk memutuskan silaturahmi atau untuk suatu dosa, pasti ia akan menerima salah satu dari tiga hal berikut ini: (a) Ia akan langsung memperoleh sesuai dengan permintaannya. Apa bila ini tidak didapatkan, (b) Ia akan diselamatkan dari musibah sebagai ganti dari permintaannya, atau (c)Pahala do,anya disimpan untuik diberikan diakhirat nanti.

 

Hadits lain menyebutkan ,`pada hari kiamat, Allah akan memanggik hamba-Nya dan berfirman,` Wahai hamba-Ku, aku telah menyuruhmu agar berdoa kepada-Ku dan aku berjanji akan mengabulkannya, lalu apakah kamu telah momohon kepada-Ku?` Jawab hamba itu,`Ya , aku telah berdoa.`Sahut Allah swt., `Tiada satupun do,a yang kamu mohonkan melainkan Aku terima. Kamu berdoa gar dihindarkan dari bencana , maka aku menunaikannya di dunia. Dan aku berdo,a gar dijauhkan dari kesedihan, tetapi kamu tidak merasakan hasil do,amu. Sebagai gantinya aku tetapkan bagimu balasan dan pahalanya diahkirat.` Rasulullah saw. Bersabda bahwa orang itu tidak ingat lagi akan do,anya dan akan diperlihatkan doa-doa yang telah dikabulkan didunia atau pahala yang telah disimpan di akhirat. Dan ketika ia mengetahui dengan banyak pahalanya, maka ia berangan-angan agar tidak ada satupun doanya dikabulkan didunia, sehingga ia dapat menerima pahalaya di akhirat.

 

Sesungguhnya doa adalah sesuatu yang sangat penting, dan mengabaikan doa merupakan kerugian yang sangat besar. Meskinpun pada zahirnya tidak ada tanda-tanda doa kita diterima, hendaknya kita tidak berputus asa. Allah sangat mempertimbangklan maslahat bagi hamba-Nya. Jika dalam apa yang kita minta itu ada kebaikannya, maka Allah swt akan mengabulkanya. Jika tidak, Allah swt. Tidak akan mengabulkanya. Doa yang tidak dikabulkan ini pun merupakan karunia Allah swt., karena kita sering meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan kita disebabkan ketidak pahaman kita.

 

Ada sesutu hal penting lainnya bahwa banyak wanita danlaki-laki yang terkena penyakit, yaitu suka mendo,akan keburukan bagi anak-anaknya ketika marah dan susah. Ingatlah bahwa ada waktu tertentu ketika Allah swt. Akan mendo,akan do,a apa saja, sehingga karena kebodohan seseorang, kadangkala anaknya sendiri terkena kutukan.apabila anak itu terkena musibah atau mati, barulah ia menangis dan meratapinya, tanpa menyadari bahwa musibah itu datang disebabkan oleh doa buruknya sendiri. Nabi saw. Bersabda, Jangan mengutuk diri sendiri, anak-anak, harta benda, dan pembantu.`karena ada suatu ketika setiap doa dikabulkan, terutama pada bulan Ramadhan yang penuh saat-saat mustajab, maka berhati-hatilah dengan lisan kita pada bulan Ramadhan ini.

         Dari Umar r.a. Rasulullah saw. Bersabda,`Barang siapa mengingat Allah pada bulan ramadahan, maka akan diampuni dosanya. Dan barang siapa meminta karunia Allah, maka tidak akan ditolak.`Di dalam at-Targhib, Ibnu Mas`ud r.a. bhwa setiap malam pda bulan ramadhan, seorang penyeru dari langit berseru,`Wahai pencari kebaikan, mendekatlah dan tingkatkanlah amal shalihmu. Wahai pencari kemasiatan, berpalinglah dari kemaksiatan dan bukalah matamu.`,` lalu para malaikat itu berseru ,` adakah pencari maghifah agar dosa-dosanya diampuni?adkah orang yang bertaubat agar taubatnya diterima? Adakah yang berdoa agar do,anya diterima? Adakah yang meminta, agar keinginannya dipenuhi?`

 

Akhirnya hendaknya dipahami oleh hati bahwa ada syarat2 agar doa-doa kita diterima oleh Allah swt. Apabila persyaratan itu tidak dipenuhi biasanya doa itu akan ditolak. Diantara tertolaknya doa adalah makanan yang haram. Rasulullah saw. Bersabda,` Banyak orang dalam kesulitan, mereka mengangkat tangan kelangit, mereka bero,a dan menangis,`Ya Rab, Ya Rabb,` tetapi makananya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, maka(dlam keadaan seperti ini) bagaimana doanya akan diterima?.

 

Para ahli sejarah menulis bahwa di kuffah bahwa ada sekelompok orang yang doanya selalu dikabulkan. Apa ada pemimpin yang zalim menguasai mereka, mereka akan mendoakan keburukan untuk penguasa itu, sehingga ia binasa. Ketika hajjaj menjadi penguasa dan berbuat zhalim disana, ia mengundang sekelompok tersebut dalam jamuan makan. Selesai makan, Hajjaj berkata,` Sekarang aku telah terlindung dari doa-doa buruk mereka, karena makanan haram telah memasuki perut mereka.`Masalah ini patut menjadi bahan renungan kita. Pada masa sekarang ini rezeki yang halal meski mendapat perhatian khusus, karena setiap saat riba diusahan menjadi halal, para pegawai menganggap suap-menyuap sebagai kebaikan, demikian juga para pedagang yang menganggap bahwa menipu dalam hal berdagang adalah hal yang biasa.

(Dari posting di milis Buku Kita)

Read Full Post »

Isa Ibn Maryam

“Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak [pula] menyalibnya, tetapi [yang mereka bunuh adalah] orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang [pembunuhan] Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak [pula] yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (QS An Nisaa’ [4]:157)

Hari-hari belakangan ini, kita telah dihadapkan kepada sebuah isue ‘moral’ yang terjadi ditengah-tengah kita. Sebuah kemaksiatan yang dipertontonkan dan dapat diakses dengan mudah di seluruh perangkat ‘teknologi informasi’ (IT) yang kita dan anak-anak kita miliki. Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak yang masih kecil ataupun yang telah remaja, sebahagian dari kita harus ‘jumpalitan’ menangkal isue yang tidak mengenakkan ini. Memberi pengertian kepada anak-anak kita adalah hal yang terbaik sembari menanamkan ketaqwaan agar tiada luntur dan sia-sia. Tapi yang menyedihkan adalah sebahagian kita justru larut dalam isue kemaksiatan ini. Bukannya kita berusaha menangkalnya, malah kita ikut meng-akses-nya agar tidak dibilang ketinggalan zaman dan menjadikannya bahan obrolan sesama kita .

Alangkah ‘naïf’-nya keadaan kita saat ini. Dan yang amat sangat menyayat hati adalah sebuah pernyataan seorang birokrat terpandang negeri ini yang berasal dari sebuah kekuatan politik Islam yang dipercaya menjadi menteri dan memimpin sebuah departemen bergengsi yang berhubungan dengan komunikasi dan teknologi informasi. Beliau (walaupun akhirnya telah meminta maaf dan mengklarifikasinya dalam account Twitter dan laman Facebook-nya) telah ikut menanggapi ‘isue’ ini terlalu jauh sehingga memunculkan isue baru yang telah lama menjadi perdebatan antara penganut agama langit: Yahudi, Nasrani dan Islam. Orang-orang Yahudi menyakini bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa as dengan menyalibnya. Orang-orang Nasrani amat menyakini bahwa Yesus (Nabi Isa) telah terbunuh dalam peristiwa penyaliban dan menjadikan hal ini (baca: peristiwa penyaliban) sebagai aqidah utama dalam agama Nasrani. Sementara itu orang-orang Islam dengan bukti pernyataan Al Quran pada QS An Nisaa diatas tidak mempercayai semua itu.

Isu kemaksiatan dalam tayangan yang jauh dari nilai-nilai moral seperti yang terjadi saat ini seharusnya tidaklah dapat disandingkan dalam bentuk apapun dengan isu perdebatan agama yang selama ini telah terjadi. Rasanya ada yang salah dari semuanya ini. Bukankah dalam hal isu keagamaan, selalu tersirat makna kebenaran dan kesucian? Sedangkan isu kemaksiatan yang dalam beberapa hari terakhir ini mengisi relung-relung kehidupan kita adalah identik dengan kesalahan, kebathilan dan kekotoran yang membuat kita jiwa merasa muak dan sakit?

Kenapa hal seperti ini kerap kali terjadi? Dimana letak kepekaan kita?

Bagi kita yang mengaku beriman kepada Allah dalam sebuah negara yang mayoritasnya juga mengaku beriman kepada Allah, terkadang (tanpa kita sadari) sikap arogansi itu kerap muncul dan mendominasi. Kita merasa telah menjadi masyarakat muslim yang terbesar di dunia dengan jumlah populasi yang melebihi 200 juta jiwa. Kita amat marah dan memberontak ketika simbol-simbol agama kita dilecehkan, tetapi tanpa kita sadari, kita tidak pernah peduli akan sikap dan perangai kita yang terkadang menyakitkan atau tidak dapat memberi rasa aman bagi pemeluk agama lain yang minoritas? Lihatlah prilaku kita dijalan raya. Baru saja kita keluar dari lingkungan masjid setelah melakukan sholat Jumat, dengan sepeda motor yang dikendarai, terkadang kita telah menyalib pengendara lain dengan amat tidak santunnya. Hal ini kita lakukan tanpa merasa bersalah.

Bukankah Rasulullah Saw menekankan kepada kita bagaimana sebuah kesantunan yang merupakan bagian dari akhlak mulia itu harus selalu tercermin dari sikap seorang muslim dalam kehidupan sehari-harinya?

“Tidaklah aku diutus sebagai seorang Rasul kecuali untuk memperbaiki akhlak manusia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hamba itu teringat akan pertanyaan dari seorang teman Yahudi-nya dalam sebuah perbincangan beberapa waktu yang lalu. Hamba itu telah menuliskan kisahnya di artikel yang berjudul “Islamophobia…2”. Di akhir pembicaraan, si teman Yahudi nya bertanya, “Apakah anda percaya suatu saat nanti Nabi Isa akan turun? Kenapa tidak Nabi Muhammad? Hamba itu tersenyum sembari bersalawat….Allahumma Shalii ‘ala Muhammad….Hamba itu berkata kepadanya, “Saya sangat menyakininya sebagaimana saya meyakini Al Quran dan Hadish Rasulullah Saw yang telah menjelaskan peristiwa kedatangan Nabi Isa ibn Maryam tersebut.” “Kenapa harus Isa? Dan bukan Muhammad?” Hamba itu menjelaskan bahwa ada kebenaran yang belum terungkap dalam hal ini. Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka telah membunuh Isa sedangkan orang-orang Nasrani berkata yang disalib itu adalah Yesus yang notabene adalah Nabi Isa as. Al Quran membantah semua itu dan kelak Allah Azza wa Jalla akan menurunkan nabi Isa as untuk membantah semua cerita itu dan sebagai sebuah tanda bagi manusia bahwa akhir zaman telah mendekat. Bagi Allah, kebenaran adalah keniscayaan dan Dia tidak akan pernah membiarkan sebuah kebenaraan akan tertutup oleh kebohongan yang terus-menerus.

Sang teman Yahudi belum juga puas akan jawaban hamba itu. Ia kembali bertanya, “Apakah anda begitu saja percaya, suatu saat nanti ketika seseorang akan muncul dan mendeklarasikan dirinya sebagai Nabi Isa as?” Hamba itu kembali berkata, “Bukankah hal itu dapat dibuktikan? Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, kita dapat mendeteksi keberadaan kromosom manusia dengan test DNA. Setiap manusia pasti memiliki kromosom X dan Y dengan jumlah tertentu karena ia merupakan keturunan dari ayah dan ibunya tapi tidak untuk nabi Isa as yang hanya memiliki separoh dari jumlah yang dimiliki manusia normal karena ia hanya memiliki Ibu saja? Bukankah pada akhirnya ilmu pengetahuan itu yang akan membuktikan kebenaran Al Quran?

“Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sebentar lagi Isa ibn Maryam akan datang ditengah-tengah kalian, memerintah dengan adil, menghancurkan salib, membunuh babi, menerapkan jizyah (pajak) dan harta melimpah, sehingga setiap orang dapat menerimanya. (HR Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam Bissawab

M. Fachri
——————–

http://www.facebook.com/l/93b2fNPLd88febrxgG9r5iT2gGg;edakwahkita.blogspot.com/

Read Full Post »

Mendekati Zina

“Dan janganlah kamu mendekati Zina; sesungguhnya ia adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Isra’ [17]:32)

Seorang teman berkomentar setelah melihat tayangan sebuah wawancara TV tentang dua orang tokoh yang kita namai dengan selebritis yang telah dituduh melakukan zina dalam adegan yang beberapa waktu lalu dapat dengan mudah di akses melalui internet. Teman itu berkata, “Katanya tidak melakukan, tapi kok selalu dekat dan berpelukan seolah-olah sudah menjadi pasangan suami istri…..Memberi kesan kepada kita semua bahwa hal seperti itu sah-sah saja dilakukan. Padahal mereka bukan muhrim! Bagaimana orang mau percaya kalo mereka tidak melakukan zina…sedang belum muhrim saja mereka berani melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama seperti berpegangan dan berpelukan di depan kita semua….Bukankah itu sebuah kebohongan yang nyata!”

Hamba itu hanya terdiam. Ia selalu menghindar untuk memberi tanggapan setiap ada yang menanyakan ataupun memintanya untuk menuliskan tentang hal ini. Bukankah Allah Azza wa Jalla telah dengan jelas melarangnya? Dan Rasulullah Saw sangat membenci perbuatan zina? Tapi ada yang menarik dari pernyataan teman tadi yang membuat hamba itu ingin menanggapinya.

Kita seolah-olah telah kehilangan kepekaan kita. Sepertinya kita telah membiarkan diri kita ataupun anak-anak kita dalam beberapa hari terakhir ini menjadi korban dari sebuah ‘zina’ dalam bentuk lain. Kita membiarkan mata kita melihat pasangan yang bukan muhrim (yang notabene mereka mengaku sebagai muslim) telah dengan tidak senonohnya melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh pasangan yang tidak menikah. Dalam sesi wawancara ataupun konferensi pers, mereka berpelukan dan saling berpegangan tangan. Sepertinya yang satu ingin menguatkan yang lain….Untuk apa? Bukankah apa yang mereka perbuat itu menambah sebuah ‘statement’ yang bisa jadi benar….Sedang di depan umum saja mereka berani melakukan hal-hal yang dilarang agama (walau kecil) apalagi di tempat yang tidak terlihat oleh orang lain?

Bukankah tontonan seperti ini berakibat buruk bagi bukan saja kita, tapi yang terpenting adalah anak-anak kita? Hanya diri kita lah yang dapat menjawabnya…..Mungkin hal ini adalah dampak dari revolusi layar kaca yang ada di tiap-tiap rumah dan kita menjadi terbiasa melihat pasangan yang bukan muhrim saling berpegangan tangan dan saling berpelukan….seolah-olah hal itu sah-sah saja. Astaghfirullah al Adhzim……

Dalam tafsirnya “Fi Zhilalil Quran” (Dibawah naungan Al Quran), Sayyid Quthb, seorang ulama besar mesir memberi Sebuah pemahaman kepada kita semua akan tafsir ayat diatas. Allah melarang bukan perbuatan ‘zina’ –nya saja, tapi Allah melarang lebih jauh dari itu: ‘mendekati zina’. Hal ini mengandung makna bahwa apapun yang berpotensi untuk mengantarkan seorang hamba untuk melakukannya harus dihindari dan dijauhi. Dan ketika Allah menyatakan pada ayat diatas bahwa, “Sesungguhnya ia adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” pernyataan ini mengandung pengertian bahwa dalam sudut apapun ‘zina’ adalah keburukan.

Lebih lanjut Sayyid Quthb menjelaskan bahwa pada zina terdapat pembunuhan dalam beberapa segi. Pertama pada penempatan sebab kehidupan (sperma) yang bukan pada tempatnya yang sah. Hal ini biasanya disusul dengan keinginan untuk menggugurkan janin yang dikandung dengan jalan apapun. Kedua, perzinahan juga menjadi sumber pembunuhan terhadap hak-hak anak yang dilahirkan karena secara hukum tidak jelas siapa bapak-nya (walaupun diketahui bapaknya, statusnya dalam ilmu fiqih tetap ‘anak zina’) dan hal ini dapat merenggut kehormatannya dalam hal wali pernikahan dan hak waris yang dapat diperoleh oleh sang anak. Dan yang ketiga adalah perzinahan yang dapat dengan mudah dilakukan akan menjadikan kehidupan rumah tangga menjadi sangat rapuh bahkan tidak dibutuhkan lagi. Keluarga menjadi institusi yang tidak penting lagi padahal ia merupakan wadah terbaik untuk mendidik dan mempersiapkan generasi muda memikul tanggung jawabnya.

Tayangan-tanyangan pada hari-hari belakangan ini memang terasa begitu menjemukan. Bagai sebuah tontonan sirkus yang tidak lucu yang pada akhirnya kita enggan untuk bertepuk tangan. Sebuah tontonan sirkus yang piawai akan membawa kita ikut merasakan bagaimana pesulap-pesulap dan badut-badut memanipulasi sebuah adegan sehingga kita tertawa……tertawa karena kita merasa terhibur. Tapi tidak untuk tontonan yang sering muncul di layar TV kita hari-hari terakhir ini. Selalu berisikan bantahan…bahasa yang dimanipulasi….adegan yang menguatkan tapi tetap saja menjadi bahan untuk menyanggah….Dan yang amat merugikan adalah tontonan itu juga ditonton oleh anak-anak kita, generasi penerus yang amat rentan untuk melakukan apapun tanpa didasari landasan iman dan ketaqwaan yang kuat kepada Rabb-nya.

“Sesungguhnya kebohongan itu membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu menunjukkan jalan ke neraka. Sesungguhnya seseorang itu selalu berbohong hingga ditulis disisi Allah sebagai pembohong (HR Bukhari)

Wallahu a’alam Bissawab

(M. Fachri)
—————

http://www.facebook.com/l/d6781f7akX4MRTy2fphuW60njaQ;edakwahkita.blogspot.com/

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb

Topik ini telah berlalu beberapa minggu yang lalu namun isinya tak akan bisa membuat saya lupa karena tiap hari saya kepikiran terus tentang hal ini. Pertama, saya merasa berdosa dan bersalah sepanjang usia saya sampai menjelang separuh abad ini kok saya belum tahu ada istilah “rukun ibadah”. Boleh jadi selama mengikuti pelajaran maupun kajian Islam, termasuk kegiatan taklim dan liqo’ yang saya hadiri, pikiran saya tak sepenuhnya di kegiatan tersebut. Mengapa? Karena gak mungkin kalau kegiatan-kegiatan tersebut (termasuk waktu masih di bangku sekolah dan kuliah) tak pernah sedikitpun rukun ini dibahas, pasti pernah. Saya-nya aja yang ndelahom (bloon) gak mengikuti secara seksama. Saya malu kepada diri sendiri dan tentu utamanya malu kepada Allah SWT. Kemana aja kamu?

Kedua, saya terhenyak bahwa selain rukun Islam dan rukun Iman, saya harus tahu rukun ibadah juga. Kenapa? Bukankah manusia dan jin diciptakan oleh Allah hanya semata untuk beribadah? Lha, bagaimana saya bisa beribadah kalau saya ndak tahu rukunnya? Ya, secara mekanis saya bisa saja shalat rutin 5 kali sehari bahkan shalat BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu) sekalipun, tetep aja kosong rasanya tanpa pemaknaan mendalam tentang hakikat ibadah itu apa – karena shalat merupakan salah satu dari ibadah juga.

Subhanallah! Berkat kemajuan teknologi ternyata kajian yang saya dengarkanAnathema - A Fine Day to Exit CD (album) cover sambil mengendarai mobil dan terkena kemacetan luar biasa sepanjang 2 jam itu ternyata direkam juga dan silakan klik di sini.

Saya cut and paste pendahuluannya:

Tema   : Pelajaran Penting dari Surat Al Fatihah mengenai 3 Rukun Ibadah

pemateri  : Syaikh Prof.Dr.Abdur rozzaq Bin Abdul Muhsin Al Badr  hafidzohumallah

Penerjemah   : ustadz  Firanda

Diantara faidah penting  yang bisa dipetik dari surat Al Fatihah adalah bahwa surat ini mengandung 3 Rukun Ibadah hati yaitu al mahabbah(cinta), al khasyyah (takut) dan ar roja’ (rasa harap)

Para ulama telah menjelaskan bahwa setiap ibadah yang dilakukan seorang hamba harus diatas 3 rukun tersebut, mengapa hal itu bisa terjadi? dan bagaimanakah penjelasan 3 rukun tersebut ? silahkan simak kajian berikut ini

Silakan simak sendiri materinya di rekaman yang ada pada link tersebut.

Yang saya ingin berbagi di sini adalah bagaimana pemaknaannya bagi saya sesuai kapasitas saya sebagai pembelajar pemula (sungguh ilmu Allah itu begitu luas dan dalam sehingga rasanya saya tak mungkin bisa tahu semuanya …).

Dengan sederhana bisa saya simpulkan bahwa rukun ibadah mencakup tiga hal:

  1. Adanya RASA CINTA kepada Allah SWT
  2. Adanya RASA HARAP kepada Allah SWT
  3. Adanya RASA TAKUT kepada Allah SWT

Untuk yang pertama, rasa cinta, saya harus akui bahwa sebagai seorang manusia yang dha’if saya sering kali sulit mencapai hal ini. Ibadah yang saya lakukan lebih melihatnya sebagai suatu kewajiban alias konsekuensi logis saya sebagai seorang muslim. Karena saya memilih Islam sebagai dien yang haq, maka sewajarnya dan seharusnya saya mengikuti semua anjuran dan larangan yang digariskan Allah SWT dalam Islam. Tak ada posisi tawar bagi saya untuk hal ini. Semuanya harus sedapat mungkin saya kerjakan. Jadi kalau saya shalat, puasa, zakat (aduh jangan2 saya kelewatan bayar zakat juga!), dan ibadah lainnya lebih karena saya menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Logikanya kira-kira begini: karena saya beriman kepada Allah dan Allah mewajibkan saya untuk shalat, maka saya kerjakan shalat sebagai bentuk kepatuhan saya kepadaNya. Namun apakah saya mencintaiNya? Sering kali ini yang luput dari perhatian saya. Semoga dengan selalu menggali ilmu Islam, saya semakin tahu bagaimana saya mencintaiNya sepenuhnya.

Rasa berharap justru merupakan hal yang sering saya renungi karena dalam setiap doa saya selalu berharap terkabulnya doa-doa saya baik yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi (akhirat) karena saya yakin hanya Dia lah yang bisa memenuhi harapan saya, bukan boss saya, bukan ibu saya, bukan juga klien saya. Bisa dikatakan rasa ini yang sering muncul sehingga saya sering berkata kepada diri sendiri: kok saya egois ya? Maunya minta minta muluk ke Allah SWT. Sehingga sering saya mempertanyakan konsep keikhlasan: kalau saya beribadah dan berharap Allah memberikan sesuatu kepada saya, apa ini yang berarti saya ikhlas? Namun Alhamdulillah dengan menyimak siaran di Radio Rodja tersebut saya mendapatkan pencerahan luar biasa. Sang ustad mengatakan bahwa justru rasa harap ini harus ada. Secara ekstrim beliau mengulas bahwa bila ada yang mengatakan sebaiknya kita “jangan berharap mendapatkan sesuatu dari Allah bila kita mencintaiNya. Kerjakan secara ikhlas perintah Allah, jangan hitung-hitungan seperti hukum dagang dengan Allah ” malah merupakan pendapat atau prinsip yang salah. Sang ustad menekankan bahwa ketiga hal : cinta, harap dan takut harus ada semuanya. Artinya kita justru dianjurkan berharap banyak kepada Allah SWT dan jangan takut dibilang bahwa kita “itung-itungan” dengan Allah karena justru Allah mencintai manusia yang banyak berharap kepada Allah, termasuk taubat di dalamnya. Dari sini saya belajar bahwa setelah saya menjalankan kewajiban shalat, saya malah dianjurkan untuk meminta (berharap) banyak kepada Allah SWT. Subhanallah!

Tiga Rukun Ibadah ini merupakan satu kesatuan.

Yang ketiga, rasa takut, juga merupakan satu hal yang sering menjadi motivasi saya beribadah. Siapa tak takut neraka yang panas? Sudah disiksa hingga otak kita mendidih, namun kita tak akan pernah mati selamanya, bagaimana rasa pedihnya itu? Siapa ndak takut? saya jelas takut sekali.

Namun kalau bicara rasa takut ini, bagi saya yang paling penuh inspirasi bagi saya adalah kisah Umar bin Khathab r.a. saat beliau menjadi khalifah. Dikisahkan oleh Aslam (hamba sahaya Umar r.a.) bahwa suatu malam saat meronda dengan Aslam, Umar mendapati seorang ibu yang sedang membakar batu sementara anak-anaknya sedang menangis. Ketika ditanya Umar, ibu tersebut menjawab bahwa ia melakukan hal ini karena menghibur anak-anaknya supaya bisa tidur karena mereka kelaparan. Umar menangis melihat kondisi ini. Sebagai seorang pimpinan tertinggi dia merasa bersalah karena ada rakyatnya yang menderita hidupnya. Dia malu dan takut kepada Allah. Maka Umar bersama Aslam pulang dan kembali ke tempat ibu dengan anak-anakya tadi sambil memikul sendiri (bukan dipikul oleh Aslam, hamba sahayanya) karung berisi gandum dan makanan lainnya untuk diberikan kepada ibu tersebut. Umar sendiri yang memasak makanan tersebut dan menyajikannya kepada ibu dan anak-anaknya.

Umar begitu takut kepada Allah bila di hari pembalasan nanti ia tak bisa mempertanggung-jawabkan kepada Allah atas adanya rakyat yang miskin kelaparan. Coba bandingkan situasi ini dengan kepemimpinan dewasa ini – adakah pemimpin yang tingkat kepeduliannya seperti Umar?

Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat Subuh, Umar r.a. sering membaca surat Al Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itu Umar sering menangis sehingga tangisannya terdengar sampai di barisan paling belakang. Dia menangis terisak-isak hingga suaranya tak terdengar lagi ke belakang. Terkadang dalam tahajjudnya Umar r.a. membaca ayat-ayat Al Quran sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit.

Sebuah riwayat heroik sebagai referensi bagaimana rasa takut kita kepada Allah kita tunjukkan. Mampukah kita menangis murni karena takut kepada Allah SWT?

Pembelajaran

Dari topik ini saya menyimpulkan bahwa dalam beribadah kita harus memiliki ketiga hal ini sebagai suatu kesatuan: rasa cinta, rasa berharap dan rasa takut kepada Allah SWT. Ketiga hal ini harus selalu ada di setiap ibadah kita, jangan sampai menghilangkan salah satunya atau menonjolkan hanya satu hal saja. Sebuah perjalanan yang panjang bagi saya. Semoga Allah membimbing kita semua menuju iman dan taqwa sehingga setiap ibadah kita selalu meresapi tiga hal ini.

Wassalamualaikum wr wb

Gatot

Read Full Post »