Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2009

Assalamualaikum wr wb.

Spanduk besar yang terpampang di sebuah masjid ini membuat saya berhenti sejenak dan mengambil gambarnya. Kalimatnya mungkin terlalu sering kita dengar namun …maknanya sangat dalam dan bisa kita gunakan sebagai bahan muhasabah, selagi masih suasana tahun baru 1431H.

Benarkah kita telah taat kepadanya?
Sudahkah kita melakukan semua yang Dia perintahkan?
Sudahkah kita hindari hal-hal yang Dia larang?
Benarkah kita selalu men-tauhidkan dia di setiap saat, dalam situasi seperti apapun?
Bila adzan berkumandang sudahkah kita menyegerakan shalat memenuhi panggilan-Nya?
Sadarkah kita bahwa shalat adalah hal pertama yg dihizab Allah di Hari Kebangkitan nanti?
Umur yg diberikan Allah selama ini kita manfaatkan untuk apa?
Rizki yang kita peroleh apakah dari sumber yang halal?
Untuk apa rizki itu kita belanjakan?
Kelelahan kita dikarenakan apa? Maksiat? Atau beribadah kepada-Nya?

Masih banyak daftar pertanyaan yg perlu kita tanyakan kepada diri sendiri terkait dengan ketaatan kepada Allah swt. Mampukah kita menjawab semua pertanyaan tersebut dengan percaya diri?

Semoga kita semua dirahmati Allah dan diberi kemudahan untuk memnfaatlan kesempatan yang telah dianugerahkan Allah kepada kita …

Kesempatan beribadah
Kesempatan beramal-shalih
Kesempatan bertaubat

Wass,
G

Advertisements

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Ini masih melanjutkan cerita mengenai perjalanan ke kota Madiun pada tanggal 26 sd  29 November 2009 yang lalu. Kali ini saya sengaja membahas makna shalat berjamaah di masjid Baitul Hakim, Madiun. Pada tahun 2003, saat saya sedang bertugas di klien saya Semen Gresik, saya sempatkan mampir semalam di kota Madiun. Kalau tidak salah waktu itu tanggal 14 Desember 2003 siang hari saya sudah masuk Madiun dari perjalanan darat yang dimulai dari Surabaya. Begitu sampai Madiun, saya menaruh tas di hotel Merdeka dan kemudian jalan kaki menuju Masjid Agung. Trenyuh sekali saat itu karena sudah dua puluh lima tahun saya tak pernah shalat di masjid yang dulu merupakan tempat ibadah saya saat hidup di Madiun. Saat itu masjid dalam keadaan dipugar sehingga kondisinya tak teratur, namun tetap saja nikmat bagi saya.

Pada kunjungan tahun ini, saya mengunjungi Masjid Agung pada tanggal 27 November 2009 dini hari, tepatnya jam 3:45 untuk mengikuti shalat Subuh berjamaah. Sebelum tidur malam saya sempat cari info dari pihak hotel, jam berapa Subuh di Madiun. Saya kaget bahwa Subuh di Madiun jatuh pada jam 3:45 …hmmm pagi sekali…. Saya mulai hari dengan bangun jam 3:15. Jarak hotel ke masjid cukup jauh, sekitar  15 menit jalan kaki.

Pemandangan Masjid Baitul Hakim Madiun di saat adzan Subuh berkumandang pada tanggal 27 Nov 09.

Saya nikmati betul berjalan kaki dari hotel, menyusuri Jl. Merapi, Jl Pandan hingga sampai Alun-Alun, terus menuju masjid Baitul Hakim yang terletak di Jl Alun-Alun Barat.  Subhanallah! Nikmat sekali jalan pagi di Madiun, apalagi udara sejuk, sepi, belum ada kegiatan orang lalu-lalang. Sangat indah dan nuansamatik! Setiap langkah selalu saya barengi dengan dzikrullah. Mungkin bagi kebanyakan orang, shalat di masjid Agung Madiun tak memiliki kesan apa-apa. Lagian, shalat di sini tak ada pelipat gandaan luar-biasa seperti kalau shalat di Nabawi (Madinah) atau Masjidil Aqsha (Palestina) atau Masjidil Haram (Mekah). Namun makna masjid Agung Madiun ini begitu mendalam bagi saya pribadi. Subhanallah! Di masjid inilah pondasi dasar tauhid saya dibangun meski saat itu saya tidak faham tauhid itu apa. Saat itu kegiatan ibadah saya berpa shalat Jumat dan tahajjud serta i’tikaf di masjid ini hanya bersifat “motorik” tanpa landasan iman yang kokoh. Artinya, saya melakukannya karena merupakan “kewajiban” dimana banyak orang juga melakukannya. Faktor ikut-ikutan juga tentu ada. Yang penting pokoknya saya beribadah, meski torehan tauhid belum mencokol kuat di hati saya.

Mencari Makna dari Sesuatu Yang Motorik

Sambil berjalan itulah saya “menemukan” dahzyatnya Islam yang selalu menekankan ibadah yang menggerakkan segenap badan seperti shalat dan mengucapkan kalimatullah melalui ucapan bibir. Memang Allah swt Maha Mendengar sehingga apa-apa yang dibatin dalam hati, Allah pun mendengar. Namun, dzikir dengan ucapan lirih lewat bibir ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Dari kegiatan-kegiatan ibadah motorik tersebut saya kemudian berpikir: “Buat apa sih jengkang-jengking shalat dan sujud mencium tanah segala?”.

Dari pertanyaan bodoh tersebut akhirnya saya menelusuri pemaknaan yang dalam bahasa Jowo nya “The Quest for Value” (mencari makna dari hal-hal yang kita kerjakan). Kira-kira beginilah alur pikirnya: Kenapa ya saya musti melakukan gerakan shalat? Apakah sekedar olah raga? Tapi kenapa pula musti Allah swt dilibatkan dalam olah raga? Betapa meruginya saya selama bertahun-tahun melakukan kegiatan motorik mulai dari mengambil air wudhu, shalat tahiyattul masjid, shalat qobliyah, shalat berjamaah dan kemudian sunnah ba’da fardhu (kecuali Subuh dan Ashar). Ah, saya gak mau rugi …!!! Kemudian, karena gak mau rugi, saya semakin mendalami tauhid, semakin mencoba mengenal “Siapa sih Tuhan itu???”. Dari probing seperti ini saya menemukan bahwa betapa buwesaaaarnya Tuhan dan betapa Maha Kuasa nya Tuhan itu, sehingga kalau disuruh shalat dengan menggantungkan diri dengan pergelangan kaki diikat di atas dan kepala di bawah pun saya akan rela melakukannya karena betapa MAHA besarnya Dia. Untunglah Allah tidak neko-neko (maaf) menyuruh kita shalat dengan cara menggantungkan diri dengan kepala di bawah, kaki di atas. So, it’s really worth it doing shalat the way we are doing!!!!

Lamunan sambil dzikir tersebut membawa saya mendekati gerbang utama masjid ….

Dada Berdegup

Begitu mendekati gerbang utama masjid dada saya berdegup karena masjid ini begitu dalam menorehkan tinta emas menanamkan nilai takwa ke hati saya saat remaja dulu. Subhanallah!!! Masjid masih sepi karena adzan baru saja dikumandangkan. Beberapa orang telah mulai berdatangan ke masjid, ada yang dari Jl Muria, maupun dari Jl Merbabu dimana Dawet Suronatan bercokol. Saya menuju areal wudhlu sebelah kiri dan hanya saya saja yang berwudhu di situ. Setelah mengambil air wudhu ada seseorang (mungkin penjaga masjid?) berada di dekat saya, baru bangun tidur, dan sepertinya mau mengambil air wudhu. Cukup kaget juga saya ditegur beliau lantaran saya melepas sandal di anak tangga tertinggi sebelum masuk masjid. Saya berkelit bahwa tak ada tulisan “Batas Suci” sehingga saya tak tahu. Dia jawabnya agak ketus, namun saya tidak ladeni karena ini adalah “batu ujian” bagi saya sehingga saya harus sabar. Akhirnya sandal memang saya pindahkan ke anak tangga ke bawah, meski saya merasa diperlakukan tidak adil – tak ada tulisan “Batas Suci” dan area itu BUKAN tempat shalat. Ya sudah lah …

Alhamdulillah … Saya bisa masuk di ruang utama dan berada di shaf terdepan. Tentu saja! Karena jamaah yang shalat subuh memang hanya SATU SHAF! Menyedihkan … Namun ya begitulah tantangannya. Dakwah akan pentingnya shalat BMW (berjamaah di masjid tepat waktu) harus digalakkan dan merupakan tanggung-jawan kita bersama.

Jamaah yang hanya satu shaf ... Tugas dakwah masih menunggu kita!

Seusai shalat Subuh BMW, saya amati setiap sudut masjid dan ambil gambarnya. Begitu kuatnya memori saya mengingat kejadian masa lalu di masjid indah ini. Mulai dari tempat parkir sepeda, penjaga yang galak (terhadap anak kecil yang suka main2 di masjid) hingga tempat ngaji baca Quran waktu itu. Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan saya bertaubat hingga diberi umur hingga 49 tahun ….

Masjid ini sekarang begitu indah dan rapi sekali. Memang tak seindah masjid Nabawi namun nuansanya begitu kental Nabawi nya. Pilar-pilar masjid yang menjadi kenangan tersendiri (buat sandaran sambil tiduran saat masih kecil, ketika Khatib berkutbah) masih berdiri kokoh dan bersih. Bedug di halaman depan juga bagus dan terawat.

Setelah itu saya balik lagi ke hotel buat istirahat sejenak dan selanjutnya akan ikut shalat Ied di masjid ini.Namun sayang, saya telat ikut shalat Ied karena saya pikir mulainya jam 7:00, tapi ternyata jam 6:30 sudah shalat. Meski telat, saya masih bisa mengikuti kutbah. Setelah usai acara kutbah, saya masih bisa mengikuti upacara penyerahan sapi kurban oleh Bapak Walikota Madiun kepada pengurus masjid.

Saya shalat lagi di masjid ini pada hari berikutnya, 28 Novenber 2009 pada shalat Subuh BMW juga.

Sebuah perjalanan menyenangkan yang tak kan pernah saya lupakan. Di masjid inilah landasan tauhid saya dibentuk meski saya belum tahu tauhid itu apa …

Long live Masjid Baitul Hakim Madiun!!!!

Wass,

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Hari Jumat 1 Muharam 1431H yang bertepatan dengan 19 Desember 2009 saya mengunjungi Kampung Daun, Bandung. Tadinya saya dan Dian (anak bungsu), hanya sekedar wisata kuliner. Di luar dugaan saya, ternyata malam itu setting acara hiburan di Kampung Daun adalah nuansa Islami dengan tema 1 Muharam. Saya salut sekali dengan ide Kampung Daun mengadakan acara ini. Di tempat hiburan lainnya di Bandung saat itu jarang sekali (bahkan tak ada) tempat keramaian yang merayakan Tahun Baru Islam ini. Yang ada adalah hiasan natal yang akan jatuh pada minggu berikutnya. Makanya, pemandangan perayaan 1 Muharam di Kampung Daun menjadi menarik.

Begitu masuk areal, pengunjungi disuguhi penampilan band bernuansa Islami yang beranggotakan mayoritas muslimah lengkap dengan busana jilbabnya. Penampilan dan musik yang dibawakan sangat menarik dan membuat pengunjung cenderung berhenti sejenak menyaksikan band beraksi. Tak jauh dari panggung pertunjukan band ada dekorasi kapal layar dengan ucapan Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1431H.

Band bernuansa Islami menyambut pengunjung memasuki komplek Kampung Daun

Band bernuansa Islami menyambut pengunjung memasuki komplek Kampung Daun

Dekorasi ini dipasang sebelum pintu masuk areal kuliner, namun setelah panggung pertunjukan band Islami

Sebagai umat Islam, memang tema Tahun Baru 1 Muharam harusnya dikenang karena makna hijrah menuju keadaan yang lebih baik, dalam hal iman dan taqwa, biasanya dilakukan pada penghujung tahun melalui muhasabah. Salut buat Kampung Daun yang mengadakan acara bertema ini karena akan membantu lebih mengingatkan makna mendalam dari tahun baru.

SELAMAT TAHUN BARU

1 Muharam 1431 H

Semoga tahun ini iman dan taqwa kita semakin meningkat

Amin

Wass,

G

Read Full Post »

Mencari Nafkah

Menurut Rasulullah, orang yang payah mencari nafkah, bekerja keras dan kurang tidur demi mencari nafkah yang halal, beroleh pahala yang bisa menghapus dosa-dosanya. Rasulullah juga mengatakan bahwa ada dosa-dosa yang tidak bisa dihapus dengan apapun, kecuali dengan kesusahan dan kepayahan mencari nafkah.

(Dikutip dari selebaran OASE)

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Sudah lama sekali, mungkin lebih dari lima tahun, saya tak mengunjungi mall Taman Anggrek. Di tahun 2000 – 2001 saya lumayan sering ke sini karena suka bertandang ke toko cd Musik+ atau mengantar Dian, bungsu saya, main ice skating. Setelah itu sangat jarang sekali. Saya rada males karena mencari parkirnya susah dan mushallanya kurang layak krn di atapnya penuh dengan ducting AC yg rendah, sedikit di atas kepala manusia berdiri.

Kemarin sore saya ada urusan di MTA ini dan karena Sabtu sore, perjalanan menuju MTA sangat macet. Di luar perkiraan saya bahwa pada saat Maghrib saya belum nyampe karena seharusnya jam 17:30 udah nyampe.

Situasi di depan Mall Taman Anggrek saat adzan Maghrib dikumandangkan ...

Pas adzan berkumandang di radio, saya msh di lautan kemacetan di dekat MTA. Sebenernya sudah hopeless, akhirnya saya berdoa terus-menerus memohon kemudahan utk melakukan shalat Maghrib berjamaah. Alhamdulillah jam 18:15 saya dapat parkir “dengan mudah” begitu masuk parkiran Mall Taman Anggrek. Padahal pengunjung mall rame banget… Alhamdulillah ….!!!!

Jadi inget syair GodBless:

Haruskah kita berangkat ke kota
Yang penuh dengan tanya
Lebih baik di sini
Rumah kita sendiri ….

Ya ya ya …kenapa ya kita musti berjubel di kota penuh sesak Jakarta ini????

Beberapa minggu lalu saya berada di Madiun dan Tulungagung Jawa Timur, menikmati betapa mudahnya mengerjakan shalat BMW …tidak seperti di Jakarta ini … Mengapa kita musti tinggal di Jakarta? Mencari uang banyak? Untuk apa?

Wass,
G

Read Full Post »

Mutiara Jumat

Dalam suatu jamuan sore dirumah Abu D’zar Al- Ghifari, Kanjeng Nabi ikut menghadiri acara tersebut.

Saat menjelang sholat Maghrib dan hampir semua hadirin sudah mengambil air wudhu, ketika Muadzin sudah membacakan Qomat, ada seorang makmum yang (ma’af) buang angin.

Makmum ribut……………

Rasulullah yang sudah berdiri di tempat imam, berbalik kearah Makmum dan bersabda ” Ummatku…….marilah kita “SEMUA” mengambil air wdhu “

Kanjeng Nabi-pun segera bergegas kembali ke tempat wudhu…..dan Ummat-pun segera mengikuti beliau.

WISDOM apa yang beliau sampaikan ?

1. Tidak mempermalukan yang sudah malu ……………

2. Mengajak ummat untuk padu dalam keadaan apapun……..

Apa ini yang disebut, menang tanpo ngasorake.

Selamat Jum’atan – yanto

Read Full Post »

Tiga Perkara

“Tiga perkara, yang apabila ada pada diri seseorang, maka Allah akan menempatkannya pada pemeliharaan-Nya, serta akan memasukkannya dalam cinta-Nya. Pertama, jika diberi ia bersyukur. Kedua, jika mampu membalas ia memaafkan. Dan ketiga, jika marah ia bersikap tenang.” (HR. Al Hakim)

Read Full Post »

Older Posts »