Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2010

Assalamualaikum wr wb

Malam ini tadi selepas Maghrib udara Jakarta terasa dingin karena habis diguyur hujan. Dan hujan pun ternyata masih berlanjut rintik-rintik di Jl dr Sutomo, JakPus. Setelah shalat Maghrib, saya segera bergegas menyiapkan diri untuk pulang dengan naik sepeda. Karena masih ada hujan rintik-rintik maka saya menyiapkan segala sesuatunya untuk menahan air hujan. Sayapun berniat untuk shalat Isya tidak BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu) namun cukup di rumah karena bakalan ribet saat memarkir sepeda, apalagi serba basah karena kehujanan.

Namun pada saat saya ngonthel sepeda saya selalu minta kepada Allah agar tak terkena hujan deras. Alhamdulillah ternyata tidak ada hujan deras selama perjalanan saya sehingga pada saat menjelang adzan Isya saya berpikir ulang: mengapa musti shalat di rumah sedangkan Isya BMW masih bisa. Akhirnya saya putuskan berhenti untuk shalat Isya BMW di mesjid yang sudah biasa saya lalui. Diluar dugaan saya, ternyata shalat Isya di masjid tersebut sangat nikmat sehingga saya terasa hanyut dengan suasananya. Subhanallah.

Wass,

G

Advertisements

Read Full Post »

Catatan langsung dari mengikuti Majelis Taklim di Masjid BPS (25 Mei 2010), Kajian Zhuhur.

Al Quran diciptakan sebagai peringatan dan penyembuh hati bagi yang hidup. Bukan yang seperti banyak kita lihat ternyata orang mati dibacakan Al Quran. Ini jelas keliru! Al Quran tak bisa menyembuhkan hati dari orang yang sudah mati. Orang mati tidak bisa mendengarkan Al Quran lagi. Namun mengapa yang masih hidup justru banyak yang mengabaikan panduan hidup paling benar yaitu Al Quran.

Wass,
G

Read Full Post »

Anda Mau Yang Mana?

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat itu dariku lalu mengamalkannya?” Abu Hurairah menjawab: Saya, wahai Rasulullah. Beliau meraih tanganku lalu menyebut lima hal: jagalah dirimu dari keharaman-keharaman niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah, terimalah pemberian Allah dengan rela niscaya kau menjadi orang terkaya, berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu menjadi orang mu’min, cintailah untuk sesama seperti yang kau cintai untuk dirimu sendiri niscaya kau menjadi orang muslim, jangan sering tertawa karena seringnya tertawa itu mematikan hati.
(At-Tirmidzi 2227).

Dari hadits yang indah tersebut, manakah yang Anda mau? Tentu maunya semua. Namun kalau diminta membuat prioritas, hal yang mana yang paling penting dan yang mana yang bisa ditunda?

Ini tentu bukan hal yang mudah untuk kita jawab. Jangankan memilih yang mana, bisa jadi kita jarang memikirkan hal ini. Inilah perlunya selalu menengok hadits untuk mengingatkan kita menuju jalan yang lurus, jalan takwa.

Salam,

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Hari Jumat, 14 Mei 2010, saya bersama kakak saya (Jokky) dan anaknya (Andy) berangkat ke Cibubur dengan mobil Innova membawa tiga jenis sepeda lipat (seli) di dalamnya: Bike Friday “Tikit” (mas Jokky), Bike Friday “New World Tourist (NWT)” (Andy) dan Bike Friday “Pocket Expedition (PE)”  (saya) untuk digowes dari Cibubur menuju Bandung. Rencana ke Bandung ini sebenernya baru digagas dua hari sebelumnya karena memang sudah lama saya diajak Andy untuk touring, namun baru kejadian hari Jumat itu. Mas Jokky yang sebenernya mengusulkan berangkat hari Jumat itu, melalui komunikasi intensif dengan saya dua hari sebelumnya (Rabu). Karena saya juga hari Jumat tersebut tak ada rapat yang mengharuskan saya musti di Jakarta, akhirnya kita semua sepakat. Tadinya saya berencana ingin menggunakan touring bike Mongoose The Crossway 425. Namun karena sulit dibawa pakai mobil, alias tak cukup buat bertiga masuk mobil Innova, maka akhirnya saya pake PE saja.

. Ini masih seger2 soalnya baru Pitstop #1.”]

Sebetulnya saya ingin sekali menggunakan sepeda khusus touring, namun apa daya, tidak praktis. Saya sendiri pernah gowes Jakarta (Cibubur) – Bandung pada tanggal 24 Februari 2010 yang baru lewat, sendirian tanpa teman. Sepeda yang saya gunakan juga sama: Bike Friday “Pocket Expedition”.  Andy juga pernah gowes Jakarta (Cibubur) – Bandung sendirian tiga minggu sebelum saya, menggunakan Bike Friday “New World Tourist” (NWT).

Minum sepuasnya selagi istirahat ...

Jam 3 pagi saya sudah bangun, menyiapkan semua bekal untuk dibawa gowes. Tikum (titik kumpul) di rumah mas Jokky Pondok Indah. Saya gowes PE saya ke rumahnya dan sampe rumah mas Jokky sekitar jam 4:10 pagi. Sekitar jam 4:25 kami meluncur ke Cibubur diantar pak supir. Kami sempat berhenti di McDonald’s Cibubur untuk sarapan dulu, sekalian shalat Subuh. Sekitar jam 5:25 kami diantar Innova menuju lokasi start kami di flyover menuju Cileungsi. Namun apa daya, ternyata jalanan rusak parah, becek dan hanya bisa digunakan separu badan jalan karena yang separuh lagi sedang dibeton. Mobil kami sempat tertahan cukup lama di sekitar Mekarsari. Praktis mobil yang ke arah Jonggol tak bergerak karena kalah dengan arus yang sebaliknya, didominasi mobil-mobil Angkatan Laut yang berangkat menuju tempat kerja. Setelah berbincang dengan seorang supir angkot akhirnya kami balik arah untuk mencari jalan alternatif lewat Perumahan Permata. Namun ternyata, jalanan parah sekali, selain becek juga macet karena banyak karyawan pabrik mulai kerja. Diantar sederetan pabrik yang ada adalah milik PT Bostinco. Perjalanan di rute alternatif ini sangat melelahkan karena jalan benar-benar rusak parah meski mobil masih bisa jalan.

Bike Friday memang asik buat nanjak ...

Setelah melalui “siksaan” jalan bergelombang dan becek, akhirnya kami kembali di jalan raya menuju Jonggol, kira-kira 8 KM menuju Jonggol. Kami akhirnya memutuskan POM bensin sebagai garis start. Setelah setting sepeda, akhirnya kami take-off mulai gowes jam 8:10 pagi. Ini jelas sudah telat sekitar dua jam dari saat saya gowes sendirian pada bulan Februari 2010 yang lalu. Nikmat sekali gowes pagi itu karena melewati sawah-sawah dan kali yang asri. Setelah 90 menit gowes akhirnya kami istirahat di sebuah warung sambil minum dan mengisi botol minuman yang mulai kosong. Perjalanan selama 90 menit cukup berimbang karena selain nanjak juga ada turunannya. Namun sayang, kualitas jalan tak bagus dan banyak mengganggu kenikmatan menggowes, Aspal yang dulu mulus sekarang hancur berluban. Sedangkan yang dulu lubang sekarang jadi comberan bekas air hujan.

Setelah perhentian pertama, sepeda Andy sering bermasalah karena gigi belakang sering pindah sendiri dan terkadang rantai sepeda lepas (los) sehingga terpaksa berhenti membereskan rantai. Bahkan kami sempat berhenti cukup lama untuk setting RD nya agar tidak sering slip lagi. Namun ternyata tetap saja kondisi tak membaik dan Andy sering tertinggal di belakang, sehingga saya dan mas Jokky yang di depan sering menunggu sampai Andy menyusul. bahkan Andy pernah jatuh karena rantainya lepas. Akhirnya kami berhenti total membereskan kerusakan sepeda Andy. Setelah diteliti, ternyata mas Jokky menemukan salah satu mata rantainya renggang. Di sinilah kesimpulan diambil bahwa yang menyebabkan sering lepas rantai adalah karena adanya rantai yang renggang. Untung saya membawa cadangan rantai baru Shimano Deore. Akhirnya Andy mengganti rantainya. Di sini sudah terbuang waktu lagi sehingga akumulasi ketertinggalan menjadi sekitar 3 jam karena musti berhenti dan sepeda Andy sering rantainya lepas.

Rantai NWT ANdy putus, ganti baru ... Untung bawa serep!

Setelah rantai Andy diganti, gowesnya makin ngacir sehingga mas Jokky dan saya sering ketinggalan. Bahkan saat mulai menanjak setelah melewati masjid Hijau Cariu, saya sering tertinggal jauh sekali dari mas Jokky. bahkan Andy sudah jauh di depan. Tanjakan panjang melelahkan menuju Cariu saya jalani dengan kerja ekstra keras meski saya tidak “ngoyo” karena pada dasarnya saya tidak mau gowes menggunakan tenaga “perut” (gowes yang “ngoyo” sekali sehingga perut terasa terlibat menyumbangkan tenaga gowes). Tumpuan gowes saya tetap konsisten: “padengtis” (paha, dengkul, dan betis). Saya tak mau menggunakan tenaga berlebihan. Bila terasa sudah tidak kuat nanjak, saya berhenti sejenak untuk minum air putih dan makan buah pisang. Pisang memang sangat membantu mengisi tenaga gowes, setidaknya meningkatkan nyali buat mancal pedal lagi meski jalanan nanjak. Mas Jokky beberapa kali mengalami kaki kram sehingga kami sempat berhenti cukup lama (sekitar 15 menit). Pada perhentian selanjutnya, saya dan mas Jokky sempat makan Pop Mie karena sudah pukul 12:45 dan kita belum sampai Cariu. saya masih ingat bahwa saat gowes ke Bandung, pada jam 11:15 saya sudah sampai Puncak Cariu. Untungnya, kali ini udara tak sepanas waktu bulan Februari lalu sehingga tenaga kita memang habis karena mancal pedal, bukan karena kepanasan.

Nanjak tuh jalan ...

Andy sudah ngacir di depan dan kami (mas Jokky dan saya) masih tertinggal jauh. dalam etape selanjutnya setelah makan Pop Mie, kami berangkat bersama. Mas Jokky meninggalkan saya cukup jauh dan tenaga saya memang sudah hanya kuat gowes segitu. Etape setelah Pop Mie ini begitu berat dan terasa udara panas meski agak mendung. yang menjengkelkan adalah banyaknya jalan yang aspalnya digerus sehingga ada bebatuan besar-besar seukuran buah jeruk sehingga kenikmatan gowes tak ada lagi. Pada saat tanda penunjuk jarak di pinggir jalan menandakan Bandung 78 KM dan Cikalong 11 KM lagi, saya sudah benar-benar tidak kuat dan rasanya putus asa tidak mau melanjutkan gowes lagi. Paha, dengkul dan betis (padengtis) rasanya udah mau coplok aja, berat sekali. Akhirnya saya terkapar di sini karena sudah tidak kuat. Saya istirahat sekitar 5 menit mengambil nafas dan minum air putih, sementara cadangan pisang sudah habis. saya tidak tahu lagi mas Jokky dan Andy sudah sampai mana, mungkin sudah di Puncak Cariu. Saya sudah tak peduli karena mengurus nafas yang hampir putus aja juga merepotkan.

Di sinilah saya terkapar, mau nyerah saja. Berat!

Harapan saya adalah sampai di warung yang saat itu tempat saya istirahat dan penjaga warung bilang bahwa nanjaknya tinggal 1 KM lagi. Namun warung itu tak kunjung sampai juga dan jam sudah menunjukkan jam 2 siang. Padahal dulu saya sampai warung tersebut jam 10:45. Dengan semangat “keep on moving” akhirnya pedhal saya pancal lagi. Ternyata tak jauh dari tempat saya terkapar tersebut, sekitar 300 meter sudah menunggu Andy dan mas Jokky di sebuah warung. saya sempat berhenti bergabung dengan mas Jokky dan Andy yang rupanya sedang mengobrol dengan tiga orang anggota Tentara yang sedang makan siang setelah latihan perang.

Tak lama saya berhenti di warung tersebut dan minta ijin mas Jokky dan Andy untuk saya melanjutkan gowes nanjak lagi karena selagi masih semangat. Lumayan, saya bisa melalui tanjakan panjang sepanjang 300 meter sampai ketemu jalan parah yang sedang diperbaiki. Jalannya benar-benar parah, seperti terlihat di foto ini:

Jalan rusak total, sedang diperbaiki ...

Setelah jalan rusak parah tersebut, jalan konsisten nanjak terus sehingga menguras tenaga. Tak jauh dari situ akhirnya saya ketemu warung yang dulu saya sempat istirahat. “Alhamdulillah …” saya lega ketemu warung ini karena berarti Puncak Cariu tinggal 1 KM. Saya gowes dengan semangat karena tahu bahwa usaha keras ini hanya akan berakhir 1 KM lagi. Whooaaa.. ternyata inilah etape terberat! Kenapa? Karena “full” nanjak terus secara konsisten dan 200 meter terakhir sangat curam. Tak kuat ngonthel, akhirnya di 200 meter terakhir ini saya turun dari sepeda, dan sepeda saya tuntun sampai Puncak Cariu dimana Andy sudah menunggu.

Puncak Cariu itu ... Kalau sudah nyampe sini, aman.

Setelah Puncak Cariu, perjalanan menurun sehingga bisa dinikmati tanpa gowes. Namun sayang ada beberapa titik yang jalanannya rusak dan sedang dibongkar sehingga kenikmatan sangat berkurang. Kenikmatan gowes baru benar-benar saya alami ketika perjalanan masuk hutan nan asri dan sepi sekitar 12 KM sebelum Ciranjang. Jam telah menunjukkan pukul 2:30 sore dan hujan mulai turun meski tidak deras. Di hutan ini akhirnya mas Jokky berrembug dengan kita dan diputuskan perlunya mobil evakuasi untuk menjemput karena perkiraan awal kita akan naik Citi Trans jam 20:45. namun sudah pasti pada jam segitu tidak akan nyampe Bandung. Akhirnya mas Jokky memutuskan mobil menjemput kami di Padalarang. Artinya, gowes kami tak akan diteruskan sampai Bandung, cukup sampai dengan Padalarang saja (18 KM menuju Bandung).

Bagi saya pribadi, pengalaman gowes bulan Februari dulu, justru Padalarang inilah yang tanjakannya benar-benar melelahkan karena panjang dan berliku meski jalan mulus. Belum lagi menuju Padalarang sudah banyak mobil dari arah Puncak Pass yang melalui jalur ini sehingga gowes gak begitu nikmat dan cenderung berbahaya karena kebanyakan kendaraan bermotor kecepatannya tinggi di jalur ini.

Pada etape menuju Ciranjang ini say tertinggal karena memulai perjalanan telat 10 menit setalh mas Jokky dan Andy, karena saya masih sibuk menelpon CitiTrans yang sulit dihubungi. Penyakitnya CitiTrans ya begini, sulit banget kita telpon padahal saya mau membatalkan, supaya tempat duduk bisa diberikan ke penumpang lain yang membutuhkan. Kantor Bandung maupun Jakarta dihubungi susah sekali, tidak ada yang mengangkat. akhirnya saya gowes mengejar ketinggalan. Namun gowesan menuju Ciranjang inilah justru yang paling nikmat karena penuh dengan hutan dan kemudian disambung pemandangan sawah pas sampai 10 KM sebelum Ciranjang. Sayang hujan sehingga gowes terasa berat sekali bahkan sudah putus asa apa bisa melanjutkan sampai Padalarang mengingat gowesan makin berat. Padengtis terasa sulit bergerak lagi. Dengan semangat “keep on moving” saya lanjutkan terus secara konsisten dengan kecepatan yang rendah sekali, mungkin sekitar 12 KM per jam.

Pada saat jam menunjukkan sekitar jam 5:05 sore saya melihat andy dan mas Jokky sudah berada di rumah makan Lembur Kuring 2 sekitar 30 KM sebelum Padalarang. saya bergabung dengan mereka dan saya lihat mas Jokky sedang menelpon supirnya mengatur penjemputan. Ternyata mas Jokky memutuskan RM Lembur Kuring 2 sebagai garis finish karena hari mulai gelap dan hujan tak pernah berhenti. Mas Jokky dan andy tak membawa jas hujan. saya memakai jaket parasit yg sekaligus berfungsi sebagai jas hujan dan masih punya jas hujan tipe ponco di pannier (tas) saya. namun mas Jokky tak mau memakainya dan memutuskan berhenti sampai di Lembur Kuring 2 saja.

Begitulah perjalanan kami akhiri di KM 30 sebelum Padalarang karena tak layak gowes dilanjutkan sampai Bandung. Ini adalah keputusan yang tepat dan saya dukung 100% keputusan mas Jokky ini. saya tak terbayangkan kalau dilanjutkan, pasti kita akan kerja keras menjalani tanjakan menuju Padalarang yang panjang dan berliku. Secara psikologispun saya sudah merasa kalah karena dibandingkan dengan gowes yang lalu, waktu tempuhnya sudah molor begitu lambat karena mulainya yang terlambat. Akhirnya kami istirahat total di lesehan saung rumah makan ini. Makanan yang kami order (ikan, ayam, tempe, tahu, lalapan) semuanya kita sikat lahap karena siang hanya makan Pop Mie saja. Shalat pun saya tunaikan di rumah makan ini. Sesudahnya kami ngobrol bertiga di lesehan saung RM ini sambil menikmati hujan yang tak kunjung henti. Kami sempat tidur (merem beneran) di saung ini saking capeknya. Aduh biyuuuuuung …..!!! Selain lelah juga ngantuk. Jam 20:30 mobil jemputan tiba dan kami take-off kembali ke Jakarta dari Lembur Kuring jam 21:00 menggunakan Innova lagi.

Sebuah perjalanan melelahkan penuh tantangan. meski tujuan akhir mestinya Bandung, saya tak merasa kecewa tidak melanjutkan sampai Bandung. Justru saya belajar pelaran manajemen keputusan bahwa sebagai seorang leader kita harus tahu kapan musti berhenti, tak hanya kapan musti mulai. You made a great decision, mas Jok! Thanks!

Lessons Learned:

  1. Start dari masjid setelah flyover Cileungsi harus paling telat habis Subuh (sekitar 5:15) kalau ingin menikmati perjalanan.
  2. Kerusakan jalan dan pembetonan jalan di Mekarsari (Taman Bunga) sangat tak layak dilewati sepeda karena antrian kendaraan bermotor begitu panjang. Mobil bisa menunggu empat jam bisa lolos dari jalan yang sedang diperbaiki ini.
  3. Penggerusan jalan aspal saat menanjak ke Cariu sangat menguras energi dan mengganggu kenikmatan gowes nanjak.
  4. Sampai Puncak Cariu harus sebelum jam 12 karena bila sore selalu hujan, musim apapun. Ini berdasarkan info dari penduduk setempat.
  5. Bila hujan sebaiknya hentikan perjalanan karena selain bahaya (jalanan jadi licin) juga tak bagus untuk stamina fisik.
  6. Jakarta – Bandung via Jonggol – Cariu sangat tidak layak dilewati sepeda (apalagi seli) selama jalan masih rusak. Sebaiknya tiga (3) bulan ke depan jangan bersepeda lewat rute ini. Ini bisa lebih lama mengingat pengerjaan perbaikan jalan sangat lambat, ada banyak ruas yang dibiarkan tanpa pekerja proyek.

Wassalamualaikum wr wb,

Gatot

Link:

Bersepeda-lipat Jakarta – Bandung

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb

Sabtu, 1 Mei 2010, saat Jakarta diancam akan terjadi demo besar-besaran dalam rangka Hari Buruh, kami ber sepuluh (Anto Boti, Jokky, Iif, Fatih, Basuki, Yudi, John Tangkey, Iwan Nawi, Icah, Gatot) justru berkumpul jam 5:30 pagi untuk melakukan perjalanan ngonthel sepeda ke Bogor. Tepat jam 5:55 akhirnya kami berangkat bareng dari POIN Square menuju Pondok Cabe – Cirendeu – kompleks Modern Hill Tranquility, terus menyusuri jalan kampung yang asri hingga sampai di Parung. Ini merupakan perjalanan saya yang kedua dengan menggunakan sepeda menuju Bogor. Niatan saya kali ini benar-benar FULL ngonthel pergi pulang, karena pada perjalanan yang terdahulu (sekitar 2 bulan yang lalu) pulangnya naik kereta api. Menurut saya kurang menantang.

POIN Square, 1 Mei 2010 jam 5:55. menunggu Anto Boti, sebelum berangkat ke Bogor.

Rombongan memasuki Parung.

Salah satu keasikan ngonthel bareng nersama rombongan adalah kebersamaan dimana anggota yang memiliki stamina berkecepatan tinggi harus mengalah mengikuti yang staminanya agak kurang, alias ngonthelnya perlahan. Pada pukul 7:45 kami sudah memasuki Parung dimana jalan mulai ramai dengan angkot karena memang ini adalah jalan utama menuju Bogor lewat jalan umum. Namun enaknya, jalan lebih mulus bila dibandingkan jalan perkampungan. Selama perjalanan ke Parung, ada beberapa hambatan karena tas (pannier) dari teman kita Icah sering kendor dan jatuh. Namun akhirnya bisa diselesaikan ketika sudah diikat kuat.

Selama perjalanan, bahkan mulai dari sebelum bertemu di titik kumpul (tikum) POINS Square, saya sudah memasang musik kesukaan di iPod yang saya mainkan dengan volume sedang sebagai penyemangat. Pada pukul 8:13 kami sudah sampai di Semplak (sekitar 10KM lagi menuju Istana Bogor). Di pertigaan Semplak ini kami berhenti menunggu teman kita, Fatih, yang berbadan besar dan ngonthelnya tidak bisa ngebut. Sebenernya Fatih sudah sangat kecapaian sampai di Semplak ini, bahkan sempat mengatakan “Salah grup” kepada kami. Gowes kami lanjutkan lagi menuju Istana Bogor.

Di Semplak. Fatih (duduk) sedang kecapaian.

Pada pukul 8:54, saat sudah mendekati kota Bogor, teman kami Yudi sepedanya (Bike Friday – Pocket Expedition) mengalami rantai yang putus. AKhirnya kami berhenti bertiga (Yudi, Jokky dan saya) menemani Yudi untuk mereparasi rantainya dengan membuang dua anak-rantai. Bagi saya, ini adalah pembelajaran tersendiri karena saya belum tahu bagaimana caranya mereparasi rantai yang putus di jalan.

Sepeda Yudi, rantainya putus.

Jokky mereparasi ban yang kempes.

Kemudian kami bertiga menyusul anggota rombongan lainnya yang didepan (7 orang) sehingga akhirnya bertemu setelah rel kereta api. Namun sayang, sepeda teman kami, Jokky, ban belakangnya kempes sehingga harus diganti dengan ban dalam baru. Untung saya membawa ban dalam karena sepeda saya dengan Jokky (kakak kandung saya) sama merek dan tipenya: Mongoose – Crossway 425. Saat itu jam 9:27 dan mas Jokky mereparasi ban dalamnya. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan menuju lokasi Sop Buah di Taman Kencana. Sampai di kedai Sop Buah ini jam 9:57 dan kedai masih belum buka karena jam operasinya mulai jam 10:00.

Istirohat di warung Sop Buah di Taman Kencana.

Kami akhirnya menikmati sajian sop buah dan mie ayam di kedai ini sambil beristirahat dan ngobrol. Nikmat rasanya setelah ngonthel jarak jauh (sekitar 50 KM) akhirnya istirahat makan dan minum di tempat ini. Tak lama kemudian goweser Bogor bergabung: Sekar dan Candra.

Dari sop buah, kami ngonthel lagi menuju toko sepeda Semeru Bike. Lumayan juga bisa mampir di toko ini karena barang-nya lumayan bagus. ANto Boti dan Jokky mendapatkan handle bar antik, khusus untuk touring dan langsung dibawa Anto Boti di sepedanya (memakai pannier Topeak). Asik banget toko ini karena pemiliknya (atlet sepeda) akrab melayani tamunya dengan menyuguhkan air mineral dan snack. Pemandangan ini jarang dijumpai di toko sepeda di Jakarta. Ada beberapa goweser Bogor yang saat itu sedang berada di toko yang ramah ini. Teman satu kos saya saat di Bandung, Jarwo Sanyoto (alias Awo’), juga menemui saya di toko ini. Cukup lama kami berada di toko ini sampai akhirnya jam 11:50 kami berangkat lagi. Tadinya beberapa anggota mengusulkan pulang naik kereta seperti John Tangkey yang sudah pamitan terlebih dulu. Fatih juga sudah dijemput supirnya saat di Taman Kencana. Tinggalah kami ber delapan. Akhirnya diputuskan balik ke Jakarta dengan ngonthel lagi. ALhamdulillah, cita-cita saya kesampaian juga akhirnya.

Perjalanan Bogor-Jakarta meski banyak turunan, lumayan melelahkan karena tantangannya adalah sengatan matahari yang begitu terik siang itu. Saya menggunakan gear tutup penuh sampai muka sayapun saya tutup dengan masker supaya tidak terkena sengatan langsung dari sinar matahari. Saya juga menggunakan topi selain helem supaya tudungnya bisa melindungi muka saya. Terasa berat sekali perjalanan pulang sehingga saya menghabiskan empat botol Aqua 600 ml dan sebuah minuman isotonik. Kami sempat shalat Zhuhur di masjid Jl Raya Kemang. Di masjid inilah semuanya terasa teduh sekali baik fisik maupun spiritual karena menghadap yang punya jagad raya ini.

Shalat Zhuhur di masjid ini ...

Pukul 12:55 kami tinggalkan masjid menuju Parung, untuk kemudian ke Jakarta. Tak lama setelah itu (pukul 13:07) kami dapati bahwa rekan kami Icah tak kelihatan, alias tertinggal di belakang. Akhirnya kami berhenti sambil minum air kelapa muda. Seger ….

Nyruput Es Klamud. Ki-ka: Uki, GW, Icah, Iif.

Setelah itu perjalanan bisa dikatakan non-stop menuju Parung hingga masuk ke Cirendeu. Perhentian kami terakhir adalah di Indomaret Cirendeu sebelum akhirnya kami berpencar pulang ke rumah masing-masing. Saya masih sempat shalat Ashar BMW. Alhamdulillah ….

Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan dan memuaskan ….

Wass,

G

Read Full Post »

Catatan: Tulisan di bawah ini adalah hasil copas dari posting di milis. Bagus untuk kita renungi.

Berteduhlah di Masjid Bersandar Kepada Allah

Kemarin sore, aku dan seorang kawan berjanji bertemu di masjid. Selepas shalat, ada urusan yang hendak kami selesaikan. Urusan terkait pernikahan.

Sengaja aku datang lebih awal. Setelah memarkir motor dan mengambil wudhu, hujan turun dengan deras. Beberapa motor segera masuk ke parkir masjid. Ada yang satu keluarga dengan anak balitanya. Ada pengendara yang sendirian. Ada pula yang berduaan. Mereka berteduh. Berteduh di masjid dari hujan yang tampaknya tidak segera reda.

Masjid memang kerap menjadi tempat berteduh, khususnya bagi musafir; dari hujan seperti hujan kemarin sore itu; atau dari panas seperti siang-siang biasanya. Namun sebenarnya, masjid adalah tempat berteduh ruhiyah kita dari segala kepenatan ruhani. Inilah yang lebih penting; tapi mungkin sering kita abaikan.

Rest Area BSD. Foto diambil oleh Hidayat Syarif.

Kita selalu merasa tidak nyaman jika tubuh dan pakaian kita basah oleh hujan, apalagi terciprat genangan air bercampur lumpur. Namun kita kerap mengabaikan saat jiwa kita basah oleh percikan nafsu dan lumpur dosa. Kita selalu berusaha menghindar dari teriknya matahari yang membakar kulit. Namun kita kerap acuh tak acuh, bahkan berusaha membohongi diri sendiri saat kegersangan jiwa mendera dan panasnya syahwat dunia membakar hati kita.

Beteduhlah di masjid. Sebab sebagaimana masjid secara fisik bisa menjadi tempat yang nyaman untuk berteduh dari hujan dan panas; ia adalah tempat paling nyaman bagi ruhiyah kita untuk berteduh. Asalkan kita memahaminya.

Tentu saja meneduhkan ruhiyah kita tidak sama dengan berteduh dari hujan atau panas. Tidak cukup kita hanya duduk seperti menanti hujan reda. Atau berbaring menunggu matahari sedikit tergelincir berikut meringan panasnya. Tidak. Tidak begitu caranya.

Berteduh di masjid untuk meneduhkan ruhiyah kita berarti melabuhkan jiwa ini pada Pencipta-Nya. Kita mengingat-Nya. Kita mendekat kepada-Nya. Kita bersandar dan bergantung pada-Nya. Kita beribadah kepada-Nya; di dalam rumah-Nya. Ada beragam bentuk yang diajarkan Rasulullah untuk melakukannya; shalat, i’tikaf, tilawah, dzikir, dan majlis ilmu.

Sebagaimana mendapatkan naungan dari berbagai kegalauan hati di dunia ini, mereka yang terbiasa berteduh di masjid dengan amalan-amalan itu, akan mendapatkan naungan di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Dalam hadits muttafaq alaih, merekalah yang disebut dengan Rajulun qalbuhu mu’allaqun fil masaajid (Orang yang hatinya terikat dengan masjid):

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya: …(salah satunya) orang yang hatinya terikat dengan masjid… (Muttafaq alaih)

Mereka yang biasa membawa jiwanya berteduh di masjid adalah indikasi bahwa imannya terjaga. Sebagaimana masjid melindungi fisiknya dari panas dan hujan, ibadah seperti shalat jama’ah, shalat sunnah, dzikir, i’tikaf dan tilawah juga menjaga stabilitas imannya. Ibadah-ibadah itu berfungsi sebagai makanan ruhiyah yang menjaga kekuatan imannya. Maka Rasulullah pun menjamin keimanan umatnya yang memiliki ciri seperti ini.

Jika kalian melihat seseorang yang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman. Allah berfirman, “Sesungguhnya, yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata “hasan shahih”)

Mungkin benar kita telah lama tidak membawa ruhiyah kita berteduh di masjid. Mungkin karena kesibukan kita yang padat. Atau tugas-tugas kita yang semakin berat. Banyak orang yang sewaktu kuliah dulu sering meneduhkan jiwanya ke masjid, kini tidak sempat lagi. Sebab ia telah memiliki jam kerja yang panjang dalam kerjanya. Juga repotnya mengasuh anak saat sudah tiba di rumahnya.

Atau bahkan, untuk lima kali saja membawa jiwa berteduh di rumah-Nya, sangat berat dan nyaris tak pernah bisa sempurna. Padahal kita tak bisa membohongi fitrah kita, bahwa ia rindu berdekatan dengan-Nya. Untuk mengadukan segala masalah kita. Untuk melepaskan segala penat jiwa. Untuk memulihkan kembali kekuatan ruhiyah kita. Berteduhlah di masjid, wahai jiwa…

[sumber. blogMuchlisin]

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb

Pada saat menggenjot sepeda dan kemudian mendung, saya sering berdoa “Ya Allah, lindungilah aku dari hujan. Cegahlah hujanMu hingga aku sampai di tujuan.” Doa tersebut berulang-kali saya lantunkan. Bila cuaca terus mendung namun tanpa hujan, kemudian saya bersyukur kepadaNya. Namun ada kalanya, bahkan sering, hujan turun dengan lebatnya sehingga saya harus berteduh istirahat atau menggunakan jas hujan dan nekat mengonthel sepeda dengan jas hujan. Kalau begini keadaannya, saya sering tak bersyukur (Astaghfirullah!) karena saya pikir buat apa bersyukur karena doa saya tak dikabulkan. Padahal tindakan saya ini jelas salah karena apapun yg diberi Allah sudah pasti yang terbaik. Seringkali kita, terurama saya, tak mengerti apa yang diperbuat Allah terhadap kita. Padahal jelas, Allah swt sangat sayang sama ciptaanNya.

Khusus mengenai hujan, mungkin ada baiknya kita tengok Surah Al Baqarah ayat 22:

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

Dari ayat ini jelas sekali bahwa Allah swt menurunkan hujan untuk kepentingan yang jauh lebih besar manfaatnya bagi kemaslahatan umat dari pada sekedar memikirkan satu orang pesepeda. Itulah kerdilnya pemikiran manusia yang suka sok tahu dan menginginkan semua permintaannya dikabulkan Allah “segera”.

Foto ini diambil 10 Maret 2010 saat menuju ke kantor, hujan. Terpaksa berteduh dan menyiapkan jas hujan (di sadel) dan penutup pannier. Setelah memakai jas hujan, 10 menit jalan, hujan berhenti. Di sinilah mulai menggumam. Astaghfirullah!

Wass,
G

Read Full Post »