Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2017

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sungguh saya prihatin dengan komentar negatif terkait “potongan” video kajian yang diselenggarakan oleh ustadz Khalid Basalamah (KH-B) yang menjawab pertanyaan salah satu peserta kajian tentang hukum sungkeman pada adat Jawa. Saya sudah mengikuti banyak kajian beliau baik yang melalui youtube maupun langsung hadir di kajian rutin yang digelar beliau di Masjid Nurul Iman, Blok M Square baik dalam kajian setiap pekan Kitab Al-Kabair maupun Tabligh Akbar setiap bulan membahas Sahabat-Sahabat Rasulullah. Menurut saya, karakteristik kajian beliau adalah:

  1. Ilmiah – karena berbasis kitab yang ditulis ulama yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, misalnya Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi. Beliau selalu membahas buku tersebut dengan membacanya terlebih dahulu dan menjelaskannya apa yang dimaksud dengan penulis kitab tersebut termasuk dalil-dalil hadits shahih yang tertera. Ada kalanya beliau menambahkan dengan riwayat lain namun sangat jarang karena waktunya mepet dan membahas buku saja sudah begitu padat jadwalnya.
  2. Berprinsip pada “Qalallah qala Rasul” artinya semua untaian kata atau kalimat yang beliau sampaikan pada dasarnya adalah firman Allah dan sabda Rasulullah. Pemilihan hadits nya pun yang kekuatannya shahih atau hasan, artinya apa yang beliau ucapkan ada dalilnya yang jelas.
  3. Karena berpegang pada dua poin di atas maka jelas sekali penyampaian beliau yang selalu berpegang teguh pada memurnikan ajaran Rasul. Beliau berkali-kali menekankan ini. Sehingga bila ada pihak yang mempraktekkan selain yang diajarkan Rasul, beliau tak memaksakannya. Silakan saja. Sepanjang yang saya tahu baik melalui youtube maupun hadir di kajian, beliau tak pernah menjelek-jelekkan suatu golongan tertentu apalagi menghujat orang-orang yang mempraktekkan tidak berdasarkan contoh Rasul. Prinsip beliau dalam berdakwah adalah “menyampaikan” bukan meyakinkan orang untuk menerimanya karena itu butuh hidayah Allah. Jadi, selama ini rasanya adem saja dan nikmat sekali ajaran beliau. Saya banyak menimba ilmu syarii yang benar dari kajian-kajian beliau, meski saya belum bisa mempraktekkannya semua. Harus bertahap. Namun saya yakin bahwa yang beliau sampaikan ada dalilnya dan itu ajaran Rasul.
  4. Dalam sesi Tanya-Jawab, pertanyaannya bisa berragam dan beliau selalu menjawab dengan “Qalallah dan qala rasul” berdasarkan pemahaman beliau. Namun bila jawaban beliau tak bisa diterima ya tidak apa-apa, tidak ada paksaan karena tugas beliau hanya “menyampaikan”. Kalau tidak terima ya tidak masalah.

Belakangan ini (28 Juni 2017) beredar “potongan” video kajian beliau terkait pertanyaan peserta kajian mengenai hukum sungkeman kepada orang tua. Video potongan ini dikomentari secara tidak proporsional oleh KataKita dengan kualitas potongan video yang sudah sangat buruk sekali meski suara ustadz KH-B masih terdengar jelas. Dalam komentarnya KataKita membuat perspektif yang sangat berbeda dari apa yang diucapkan ustadz KH-B dalam jawabannya seolah sungkeman dengan orang tua itu diharamkan oleh ustadz KH-B. Padahal bila disimak dengan hati terbuka, beliau mengatakan:

  • Kalau sifatnya penghormatan kepada orang-tua, bersalaman dan mencium tangan, tidak masalah. Namun kalau sampai menunduk hingga mendekati telapak kaki (sujud, maksudnya – pen.) “sebaiknya dihindari”. Mestinya kalimat ini bukan hal yang aneh dan tak perlu dipermasalahkan secara berlebihan. Ustadz KH-B hanya menyampaikan pesan bahwa segala sesuatu yang sifatnya menundukkan kepala sebaiknya dikaitkan dengan ibadah kepada Allah. Beliau tidak menyimpulkan bahwa bila ada yang menundukkan kepala kepada orang tua maka itu diartikan sebagai penyembahan kepada orang-tua. Oleh KataKita diartikan seperti ini sehingga tak sesuai dengan perspektif yang disampaikan oleh ustadz KH-B. Sebenarnya beliau menyampaikan pesan yang benar: jangan berlebih dalam melakukan penghormatan kepada makhluk karena penghormatan paling tinggi hanya kepada Allah Taala. Itu saja kok pesan beliau. Demikian halnya pesan Rasul.
  • Dalam penjelasannya ustadz KH-B menguraikan contoh gamblang seorang sahabat yang pulang dari Yaman begitu bertemu Rasul langsung bersujud mendekati telapak kaki Rasul. Rasul melarangnya karena sujud hanya khusus dipersembahkan kepada Allah Taala; kecuali tentunya kalau Allah menghendaki melalui perintahNya kepada malaikat untuk menyembah Nabi Adam Alaihissalam.“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).
    Artinya, ustadz KH-B hanya memberi contoh sebagai acuan belaka.
  • Bila kemudian ternyata disikapi dengan seolah ustadz KH-B melarang sungkeman kepada orang tua – jelas ini pendapat yang berlebihan dan tidak proporsional. Beliau tak punya hak untuk melarang, bukan? Tentu saja ini sungkeman yang sifatnya bersalaman mencium tangan sebagai tanda hormat kepada orangtua. Andaikan sungkeman sampai ke telapak kaki orang tua sudah menjadi tradisi, kalau memang Rasul mencontohkan bahwa itu tak boleh ya “sebaiknya dihindari”. Bukankah Rasul merupakan TELADAN terbaik kita? Ingat, beliau sendiri yang melarang sahabat bersujud di dekat kaki beliau. Dan ingat lagi beliau ini RASUL yang jelas mulia. Rasul saja tidak mau disujudi kok, masak orangtua kita ingin dihormati melebihi Rasul?
  • Namun …. Bila tak menerima apa yang beliau sampaikan, jangan salahkan ustadz KH-B karena beliau hanya “menyampaikan” ajaran Rasul. Hendaknya kita adil kepada beliau.

Saya tahu bahwa beliau tak akan defensif dengan apa yang dikatakan KataKita karena beliau yakin akan terjadi “transfer pahala” dari yang meng-ghibah beliau secara tak proporsional. Tapi saya merasa perlu menyampaikan pendapat saya karena menurut saya kajian-kajian beliau pada dasarnya hanya memurnikan ajaran Rasul – mumbadayakan Islam dan bukan mengIslamkan budaya. Rasanya perlu bersikap terbuka terhadap ajaran sunnah.

Wallahu’alam bishawab

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

 

 

Advertisements

Read Full Post »

Salah satu yang saya tunggu di hari Jumat yang mulia adalah rubrik Dialog Jumat dari Republika.  Pada edisi ini topiknya adalah pentingnya waktu.  Ya,  memang waktu adalah hal yang sangat penting bagi seorang mukmin:

  • Banyak ibadah kita yang dikaitkan dengan waktu misalnya puasa,  shalat,  zakat,  haji
  • Waktu sejatinya adalah modal kita karena terbatas,  tak ada waktu yang tak terbatas: setiap saat seorang mukmin harus bisa mengelola waktu dengan baik terutama saat memenuhi panggilan Allah untuk shalat 5 waktu. 
  • Hidup ini pada dasarnya mengelola kegiatan di luar waktu shalat 5 waktu yang sudah ada jadwalnya dan seorang mukmin seharusnya mematuhi panggilan tersebut kecuali adanya udzur syar’i

Allah sendiri bersumpah tentang pentingnya waktu di surah Al Ashr: Demi Masa. 

Yuk,  kita kelola waktu kita sebaik mungkin agar barokah. 

Wallahua’lam 

Read Full Post »

Catatan Khutbah Jumat, 6 Syawal 1438 H (30/06/2017), Masjid Jami Nurul Ikhlas

Bersyukur kepada Allah telah lewat Ramadhan dengan serangkaian ibadah.
Sekarang masuk Syawal, artinya meningkat dari sebelumnya
Puasa sunnah di bulan Syawal
Kenapa 1 tahun penuh?
36 hari x 10 , puasa selama setahun

Renungan Khutbah
Al baqarah 201

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

At Tahrim 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Robbana aatina
Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
Korelasi dua ayat ini kuat

Caranya bagaimana?

1.) Beriman kpd Allah, rasul dan hari akhir tanpa kecuali.
Kita semua bakal pulang kampung

2.) Dengan Ilmu. Bagaimana hasanah kalau shalat gak bener?
Barangsiapa ingin sukses (hasanah) di dunia ya harus dengan ilmu.
Bagaimana mengelola rumah tangga tanpa ilmu?
Negara kita aja perlu ilmu pengelolaan sumber daya nya. Kalau tidak, bakalan dirampok orang asing; hutan digunduli, tambang dikeruk untuk keuntungan mereka.
Perlu menggali potensi
Jangan berdasarkan keinginan tapi berdasarkan kebutuhan, bukan nafsu. Kalau berdasarkan keinginan berarti nafsu.

3.) Dengan akhlakul kharimah. Contohlah Rasul.

4.) Selamat adab kubur dsb caranya ya di dunia ini (menjaga dirimu dan keluargamu dari api neraka)
—> 1. tanamkan ke putra putri kita iman kepada Allah
—> 2. makanan halal dan toyib (supaya barokah) .Makanan haram menyebabkan doa kita ditolak Allah

Kedua ayat tsb (Al Baqarah 201 dan At Tahrim 6) terkait, mengajarkan kita agar menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

Wallahu’alam

 

 

Read Full Post »

Hari ini, 5 Syawal 1438 H (29/06/2017) Gosil – gowes silaturahim. Start 7:35 dari rumah menuju rumah sahabat di Bintaro Sektor 4, lanjut ke Masjid Al Hijrah Jl.  Cempaka, meluncur ke Citos via Deplu, mampir ke Masjid Al Falah Jl. Cilandak Tengah,  trus ke rumah Kang Kiki di Cilandak Tengah, kemudian menuju rumah teman di Rempoa, mampir beli sate di d’hook – balik ke rumah tepat 11:45. Puwaaaaassss…. Lumayan lah 1100 kcal terbakar….  Alhamdulillah.

Read Full Post »

Beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk adalah dari Allah Azza wa Jalla seperti firman Nya di surah An-Nisa 78:

Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah. “

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adam dan Musa pernah berbantahan. Musa berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Tetapi engkau telah mengecewakan kami karena menyebabkan kami keluar dari surga.’

Adam menjawab, ‘Engkau wahai Musa, engkau telah dipilih dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan kehendak-Nya engkau dapat bercakap-cakap dengan-Nya. Apakah engkau mencelaku karena urusan yang telah ditakdirkan Allah atasku sejak 40 tahun sebelum aku diciptakan-Nya?’

Demikianlah Adam membantah Musa, demikianlah Adam membantah Musa, demikianlah Adam membantah Musa.”

(HR. Bukhari, no. 3407 dan Muslim, no. 2652)

Read more http://kisahmuslim.com/428-perdebatan-antara-nabi-adam-dan-nabi-musa.html

Imam ABu Bakar Al-Baihaqi Rahimahullah menyenandungkan dan meriwayatkan syair Abul Fawaris Juniad bin Ahmad At-Thabari :

Hamba selalu cemas, tetapi Rabb Ta’ala telah menentukan takdirnya

Zaman selalu berputar dan rezeki-Nya terbagi dengan adil

Kebaikan seluruhnya telah dipilihkan Pencipta kita

Apabila kita memilih selain-Nya, pasti keburukan dan cacian yang akan kita tuai

Dari buku, footnote #9:

Beriman kepada qadar adalah membenarkan dengan sepenuh hati setiap sesuatu yang terjadi di bumi maupun di langit dengan takdir dan ketentuan Allah Ta’ala, setiap yang ditakdirkan-Nya pasti terjadi, dan semua yang tida ditakdirkannya mustahil terjadi.

Ali Imran 7:

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. 

buku-syarah-77-cabang-iman

 

 

 

 

 

Read Full Post »

buku-syarah-77-cabang-iman

An Nisa 136:

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Al Baqarah 285:

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

Hadits:

Iman itu adalah hendaknya kalian beriman kepada Allah, malaikat-maikatNya, Kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Dari buku, footnote #8 halaman 8:

Beriman kepada Kitab-kitab adalah membenarkan bahwa Allah mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi-Nya sebagai undang-undang dan sesuai pada setiap umat untuk berhukum dengannya. Segalanya berguna, berbagai nasehat dan yang selainnya yang akan menjaga kelangsungan hidup mereka dan mengangkatnya kepada kehidupan yang lebih maju serta modern.

Kitab-kitab Allah ini terbagi menjadi beberapa macam:

  • diantaranya tercatat di berbagai lembaran
  • terdengar dari belakang hijab
  • terdengar dari malaikat yang menyamar, atau
  • melalaui ilham yang tidak bisa didengar orang lain.

Semua ini adalah wahyu dari Allah yang mencakup berbagai hukum, pemberitahuan dan petunjuk.

Meyakini bahwa Al Quran adalah Kalamullah Subhanahu Wa Taala, bukan makhluk; tertulis  di dalam mushaf-mushaf kita, terjaga di dalam hati, dan yang dibaca.

Sebagian ulama mengatakan Kitab-kitab yang diturunkan Allah Taala berjumlah 104 (seratus empat) kitab:

  • 50 Kitab diturunkan kepada Nabi Syits Alaihissalam
  • 30 Kitab diturunkan kepada Nabi Idris Alaihissalam
  • 10 Kitab diturunkan kepada Nabi Adam Alaihissalam
  • 10 Kitab diturunkan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam
  • Taurat diturunkan kepada Nabi Musa Alaihissalam
  • Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud Alaihissalam
  • Injil diturunkan kepada Nabi Isa Alaihissalam
  • Al-Furqan diturunkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam

 

Read Full Post »

buku-syarah-77-cabang-iman

Al Baqarah 285:

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

Hadits:

Iman itu adalah hendaknya kalian beriman kepada Allah, malaikat-maikatNya, Kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Malikat tidak mendurjhakai Allah. Halikat malaikat adalah makhluk yang tercipta dari cahaya yang halus yang terpelihara dari kejahatan nafsu dan kesesatan nafsu hewani, diberi kemampuan berubah bentuk, dan jauh dari sifat membangkang.

Mereka banyak dan terbagi dalam tugas masing-masing: meniupkan angin, memikul Arsy, mencabut nyawa dlsb seperti disebutkan dalam Al Quran.

 

Read Full Post »

Older Posts »