Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2016

Ceramah Tarawih, 26 Ramadhan 1437H (30/06/16), Masjid Jami Nurul Ikhlas, ustd. Endang Syaifudin.

1.) Syarat mendapatkan surga Allah adalah beriman, menyembah hanya kepada Allah.

2.) Beramal harus dengan ilmu. Imam Ghazali mengeluh kpd gurunya karena sulit menghafal doa. Guru menjawab harus meninggalkan maksiat.

Kami turunkan Quran sebagai obat dan rahmat. Quran tak berpengaruh apa2 kpd orang yg dholim.

Allah menggunakan Kami:

1.) Ada kontribusi pihak lain misal turunya Quran,   kelahiran

2.) Kami artinya berjamaah saat shalat. Bersatu.

Jangan mau jadi abid. Artinya nakal, seperti surah Kafiruun. Bikin Tuhan sendiri trus disembah. Nakal.

Ihdinashirathal mustaqim

Kita harus bersatu, berjamaah

Quran sebagai penyembuh (asyifa):

1.) Menjadi obat bila suaranya nyaring. Menyeimbangkan pikiran. Tilawatil Quran. Musik membuat keseimbangan pikiran rusak.

2.) Dibaca secara rutin.

Jangan banyak mengeluh, percaya saja.

Inti ceramah ini:

  • Seringlah berinteraksi dengan Quran karena bisa menjadi penyembuh (Asyifa) yaitu bila dibaca nyaring.
  • Islam mengajarkan kita untuk berjamaah, agar bersatu.

 

Advertisements

Read Full Post »

Ahmad Najihan, MA

Merugi bila selama Ramadhan tak mendapatkan ampunan.

Fathir ayat 32

Sesungguhnya aku mewariskan alkitab …

Tiga golongan:

1.) Mendholimi diri sendiri, tak mengikuti perintah Allah. Doa nabi Adam diajarkan Allah rabbana dhalamna ….

2.) Orang yg berada di pertenghan, munthasib. Beriman

3.) Beriman dan berilmu, tidak menyia nyiakan kehidupannya, belomba lomba menyegerakan diri untuk kebaikan. Perbanyak amal agar mendapat kemuliaan di sisi Allah.

Kemuliaan ditentukan oleh ketakwan. Hadapkanlah wajah menuju Allah. Berlomba lomba melakukan kebaikan.

Hadits

Ada 2 golongan:

1.) Pembuka  kebaikan dan penutup keburukan

2.) Pembuka keburukan dan penutup kebaikan

Pahala 1 dirham lebih dibandingkan 100 ribu dirham.

  1. Yg selalu menyegerakan kebaikan, pahalanya tak pernah terputus. Hadits terkait tamu yg baru datang dalam keadaan lusuh ….. (muslim). Contoh kebaikan dengan segenggam. Pahala bagi yang mengikutinya. Dua pahala karena diikuti.banyak yang mengikuti.
  2. Pelopor kebaikan memiliki kemuliaan. 70 ribu orang masuk surga. Ukasyah.
  3. Mendapatkan keuntungan dalam hidup.

Masa muda sebelum masa tuamu

Sehatmu sebelum sakit

Masa luang sempit

Kaya miskin

Hidupmu sebelum matimu

Inti dari ceramah ini:

  • Jadilah pelopor kebaikan, karena kita tak pernah tahu bahwa kebaikan yang kita contohkan ditiru oleh orang lain dan meneyebar.
  • Bersegeralah dalam melakukan amal kebaikan.

 

Read Full Post »

قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”

QS 23:114

Di hadapan Allah, waktu di dunia ini begitu pendek sedangkan manusia yg hidup di dunia merasa waktu begitu panjang, bertahun-tahun bahkan puluhan tahun mereka hidup. Justru itulah bagi mereka yang beriman dan percaya hari akhir, maka apa yang difirmankan oleh Allah sudah pasti benar dan merupakan peringatan (huda) bagi kita semua. Ayat 114 di atas harus dimaknai dengan benar oleh mereka yang beriman:

  1. Kita hanya diberi waktu amat pendek oleh Allah Taala untuk menjalani kehidupan di dunia ini dengan senantiasa beribadah kepadaNya karena memang untuk itulah kita diciptakan .
  2. Dimensi waktu begitu penting dalam Islam sehingga sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk ahli dalam mengelola waktu karena sangat sempit dan harus kita kelola dengan baik dalam bermuamalah dengan manusia demi kelanjutan kehidupan di dunia maupun berinteraksi dengan Allah dalam ibadah yang digariskan oleh Quran dan hadits.
  3. Dalam pengelolaan waktu ini kita harus bisa menciptakan “rasa terdesak” seolah memang tak ada waktu lagi untuk kembali ke kampung halaman kita yang sebenarnya, yaitu surganya Allah. Keterdesakan tak berarti harus membuat kita tergesa-gesa alias grusa-grusu yang justru membuat hati kita tidak ikhlas dalam mengerjakan atau menjalani kehidupan ini. Keterdesakan harus bisa menciptakan kemampuan memilih hal-hal yang bermanfaat saja untuk kemudian dilakoni dalam kehidupan sehari-hari. Coba kita jujur, dalam sehari berapa banyak kita melakukan hal-hal tak bermanfaat misalnya ngobrol ngalor ngidul , gosip, ghibah, ngelamun, berkelakar yang berlebihan, mendengarkan musik, dan masih banyak hal lainnya. Andaikan kita tahu bahwa satu jam lagi nyawa kita diambil oleh Allah, masih maukah kita melakukan hal-hal tersebut? Tentu tidak.
  4. Dalam beberapa ayat yang ada di Quran begitu sering Allah berfirman bahwa hidup di akherat itu kekal, selamanya. Bila dikaitkan dengan ayat 114 di atas, tentu ini luar biasa sekali maknanya, yaitu kita diberi waktu sebentar di bumi ini untuk membangun masa depan kehidupan akhirat yang kekal. Kita harus cerdas dalam mengelola waktu. Tak ada pilihan lain kalau memang kita ingin menjadi arsitek hebat kehidupan kita nantinya.

Wallahua’lam bishawab

GW

24 Ramadhan 1437 H (29/06/16), ba’da Dzuhur, masjid Jami Nurul Ikhlas, Jaksel.

Read Full Post »

Inspirasi So

re
🏇🏻🏇🏻🏇🏻🏇🏻🏇🏻🏇🏻🏇🏻
*KISAH PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN*
Pada zaman pemerintahan *Khalifah Syaidina Umar bin Khatab*, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah *Jenderal Khalid bin Walid*.
Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, _”Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus.”_ Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai *Pedang Allah yang Terhunus*. 
Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. 
Itulah *Khalid bin Walid*, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.
Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas. 
Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, _”Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!”_
Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu. 
Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. 
Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, _”Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?”_
_”Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!”_ Jawab Khalifah.
_”Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?”_
_”Kamu tidak punya kesalahan.”_
_”Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?”_
_”Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”_
_”Lalu kenapa saya dipecat?”_ tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya. 
Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, _”Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong”_.
_”Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!”_
Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.
Sambil menangis beliau berbisik, _”Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”_
Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat,5 padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.
Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, ‘kegagalan’ atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat…..bahkan hingga yang paling ekstrim…. Tuhan pun digugat..
Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin. 
Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, _”Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”_
Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, _”Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”_
*****

Sebuah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal Muslim.

Read Full Post »

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَىٰ

Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia),

جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّىٰ

(yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).

QS 20:75-76


Tadabbur,  24 Ramadhan 1437 H (29/06/16), masjid Jami Nurul Ikhlas.

Dari ayat ayat 75 ini jelas bahwa untuk mendapatkan tempat paling mulia hanya diperlukan DUA syarat yakni iman dan amal soleh. Iman adanya di qolbu sedangkan amal soleh pada perbuatan, termasuk ibadah kepada Tuhannya serta muamalah dengan sesama manusia yang semuanya haris berdasarkan kepada keimanan yang kuat. Bila hanya ada amal perbuatan namun tanpa iman maka tak mendapatkan tempat yang mulia tersebut.

Sedangkan ayat 76 memberi gambaran betapa indahnya tempat yang mulia yang bernama surha Adn dimana mengalir sungai2 di bawahnya dan penghuninya pun kekal selamanya. Allah ingin mereka yang beriman untuk memvisualisasikan betapa nikmatnya kehidupan di surga yang indah dan berlaku tanpa batas apabila kita masuk dalam golongan yang disebutkan dalam ayat 75 di atas. SubhanAllah …! Juga ditegaskan bahwa orang yang bersih adalah mereka yang patuh pada petunjuk, bukan golongan kafir, dan selalu berbuat kebajikan (menjauhkan diri dari kemaksiatan).

Read Full Post »

image

Dalam puasa manusia terdiri dari 3 golongan masing2 diberi pohon

Pohon ada tapi tak berbuah
Pohon berbuah, tapi busuk
Pohon berbuah dan bagus

Laalakum tattaqun
Buah maghfiroh yg kita petik di akhir Ramadhan
Apa kita bisa memanennya
Penyucian jiwa di akhir ramadhan
Bisa tidak kita memanen?
Manfaatkan waktu
Amalan yg tdk diketahui manusia dicintai Allah
Jangan sampai amalan kita gugur karena ibu jari kita sibuk update medsos
Mari kita jaga agar kita panen amalan kita
Panen kita berupa surga
Semoga Ramadhan terbaik

Read Full Post »

image

Kultum Bada Shubuh, 23 Ramadhan 1437 H (28/06/16), masjid Jami Nurul Ikhlas, ustd Nurdin Sidik

No 23:

Dari Abu Malik Al Haritsy bin ‘Ashim Al ‘Asy’ary radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Bersuci adalah bagian dari iman, Al Hamdulillah dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Al Hamdulillah dapat memenuhi antara langit dan bumi, Sholat adalah cahaya, shadaqah adalah bukti, Al Quran dapat menjadi saksi yang meringankanmu atau yang memberatkanmu. Semua manusia berangkat menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya (dari kehinaan dan azab) ada juga yang menghancurkan dirinya.

(Riwayat Muslim).

Read Full Post »

Older Posts »