Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2011

Ulang Tahun Ibu

Di sebuah restoran di terusan Casablanca, sekitar pukul 19:00

Slide3

Slide1

Slide2

Slide6

Slide5

Slide4

Read Full Post »

Sensitifitas Publik

Foto ini saya ambil pagi tadi (24 Sept 2011) di Terminal 1A pintu A3, Bandara Soekarno-Hatta. Kapasitas ruang tunggu memang tak mencukupi, sepertinya, untuk menampung penumpang. Ini sebetulnya harus menjadi perhatian otoritas bandara agar hal seperti ini tak terjadi karena mengganngu kenyamanan penumpang. Situasi ini diperparah dengan perilaku “kurang” sensitif dari beberapa penumpang yang dengan seenakmya lmenaruh barang bawaannya di tempat duduk seperti terlihat di foto ini. Diantara dua bapak yang tertidur lelap ini sebenarnya ada 2 tempat duduk, namun penuh dengan barang bawaan. Ternyata juga tidurnya tak lelap, krn begitu ada pengumuman, mereka langung loncat. Ha ha ha ha ….. Pura2 tidur biar gak dimintain tempat duduk ….

Read Full Post »

Amal Soleh

Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah ringkasan dari liqo yang saya hadiri pada hari Selasa, 20 September 2011 dipandu oeh ustadz Ade Purnama.

Mereka tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).
QS. Ali Imran (3) : 113

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.
QS. Ali Imran (3) : 114

Ada tujuh (7) karakter kesolehan:

  1. Umatun qoo’imah – Pribadi yang lurus, termasuk di dalamnya jujur, amanah dan professional
  2. Membaca ayat-ayat Allah SWT di keheningan malam (sebelum saat Subuh)
  3. Mendirikan shalat tahajud (shalat malam)
  4. Beriman kepada Allah SWT dan hari akhir
  5. Mengajak orang berbuat kebaikan – masuk surga jangan sendirian, ajaklah orang lain
  6. Menjauhkan diri dan juga orang lain dari kemungkaran
  7. Bersegera di dalam berbuat kebaikan (ibadah kepada Allah SWT)
Bagaimana bila tak soleh? Berarti telah mendzalimi diri sendiri dan akan menyesal di hari kemudian seperti diuraikan di dalam ayat-ayat Al Quran berikut:
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”.
QS. as-Sajdah (32) : 12
Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan “. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.
QS. Fathir (35) : 37

Read Full Post »

 

Utsman RA berkata:

  1. “Barang siapa yang menjauhi keduniawian, niscaya akan dicintai Allah.
  2. Barang siapa yang menjauhi dosa-dosa, akan dicintai oleh para malaikat.
  3. Barang siapa yang meninggalkan ketamakan terhadap milik orang lain, niscaya akan dicintai oleh orang lain.”
Dikutip dari: Nashaihul Ibad (Nasihat-nasihat untuk Para Hamba) – menjadi Santun & Bijak.

Read Full Post »


Umar berkata:
  1. “Bersikap simpatik dengan orang lain adalah bagian dari kecerdasan akal;
  2. bertanya dengan cara yang baik adalah bagian dari ilmu;
  3. dan kepandaian memanage adalah bagian dari penghidupan.”

Dikutip dari: Nashaihul Ibad (Nasihat-nasihat untuk Para Hamba) – menjadi Santun & Bijak.
Untuk bersikap simpatik kita musti memiliki kecerdasan akal. Mengapa? Dengan kecerdasan akal kita lebih bisa sensitif terhadap perkembangan yang terjadi sehingga bisa memberikan simpati yang tepat sasaran. Misalnya kalau ada teman yang menduduki jabatan atau promosi, selayaknya kita menggunakan kecerdasan akal betapa jabatan baru merupakan tanggung-jawab baru dan harus bisa diemban dengan baik karena ini adalah amanah. Misalnya pelantikan mas Harto Gatil sebagai Ketua Pengadilan JakPus, selayaknya kita bersimpati atas amanah baru yang ia emban dan sekaligus mendoakan agar jabatan bisa dijalankan sesuai amanah. Sebaliknya bila ada teman atau kerabat yang terkena musibah kita segera bersimpati mengunjunginya untuk menghibur sekaligus mendoakan kesembuhan untuknya. Biyuh …indahnya persaudaraan …..indahnya paseduluran ….

Mengapa kecerdasan akal penting? Tentu …bila kita tak menggunakan kecerdasan akal mungkin kita jadi tak tanggap terhadap kejadian sekitar. Ada yang terkena musibah bisa aja berpikir “Ah …setiap hari selalu aja ada musibah kok …..”. Naudzubillah ….. Justru kita gunakan kecerdasan akal agar kita semakin bisa memberikan atensi kepada orang lain. Bila gak bisa mengunjungi sekurangnya kita bisa ikut mendoakan. Itulah pentingnya kecerdasan akal …. Jadi inget kisah bahwa di jaman Rasul dulu ada orang yang tiap hari selalu ke rumah sakit, menghibur yang dirawat di situ – meskipun ia tak kenal. Subhanallah …. 
Tambahan dari ajarannya Imam Al Ghazali, empat hal yang bisa menambah kecerdasan akal diantaranya : meninggalkan perkataan yang tidak perlu,  bersuci,  bergaul dengan orang sholeh dan bergaul dengan para ulama.
Bertanya pun tentu ada ilmunya. Di sini dalam sekali maknanya karena banyak orang yang bertanya dengan maksud ‘menggurui’. Padahal kita tahu bahwa tak ada orang dewasa yang mau digurui kecuali dia sedang minta dinasehati. Baru kemarin saya simak siaran di Radio Silaturahim dimana ustadz nya mengatakan bahwa setiap kali memberi tegoran, dia selalu sampaikan secara tak langsung (nyindir halus tapi tak ngenyek). Ini tentu diperlukan dalam interaksi dengan orang lain, apalagi kita sedang bertanya. Bertanya dengan bahasa “Pak, tolong tunjukkan saya jalan menuju Winongo” dengan cara santun akan berbeda hasilnya bila kita menanyakan dengan cara congkak dengan tolak-pinggang (malangkerik).

Rasul pernah menanyakan kepada tiga sahabatnya yang masing-masing membaca Al Quran dengan suara yang berbeda-beda. Sahabat 1 membaca keras, sahabat 2 membaca pelan sedang sahabat 3 membaca kadang keras kadang pelan. Rasul hanya menanyakan “Mengapa membaca Quran dengan suara keras/pelan/keras-pelan?”. Setelah mendapat jawaban, beliau diam, tak berkomentar. Kesimpulannya: Rasul tak menyalahkan mereka semuanya. Artinya boleh keras, boleh pelan dan boleh gonta-ganti. Subhanallah ……

Dalam Ilmu manajemen moderen bahkan ada istilah “Managing by Asking Questions” (MBAQ). Bahkan ada buku yang judulnya menarik “Question is the Answer”.

Artinya ….kita harus banyak belajar tentang bagaimana caranya bertanya.

Walahualam bishawab ….

Read Full Post »

Tiga Hal Yang Harus Diwaspadai

Diriwayatkan dari Rasulullah salallahu alaihi wassalam bahwa beliau pernah bersabda:
  1. “Barang siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), berarti seakan-akan dia mengeluhkan Rabbnya.
  2. Barang siapa di pagi hari ia bersedih karena urusan duniawinya, berarti sungguh di pagiitu dia tidak puas dengan ketetapan Allah.
  3. Barang siapa menghormati seseorang karena kekayaannya, sungguh telah lenyaplah dua pertiga agamanya.”

Dikutip dari: Nashaihul Ibad (Nasihat-nasihat untuk Para Hamba) – menjadi Santun & Bijak.

Read Full Post »

Di Bawah Lindungan Kabah

Assalamualaikum wr wb.

Alhamdulillahirrobbil aalamiin…. Di era dimana kehidupan duniawi begitu menonjol dan banyak orang yang mengejar kenikmatan dengan segala macam cara bahkan menghalalkan sesuatu yang jelas haram seperti korupsi, masih ada film berorientasi akhirat tanpa meninggalkan hal-hal duniawi dengan diputarnya film ini di layar lebar. Sungguh menyejukkan menonton film ini karena banyak segmen yang mengingatkan kepada kita untuk selalu ingat kepada Allah dan RasulNya serta keinginan meningkatkan kualitas taqwa kita.

Film ini memberi contoh tentang arti sebuah tanggung-jawab meski kadang harus mengalami suatu yang pahit seperti dicontohkan oleh tokoh Hamid. Ia rela menjalani hukuman dari sesepuh kampung meski ia yakin bahwa ia tak berbuat salah karena pada dasarnya ia adalah korban fitnah. Dalam upayanya menolong Zainab yang tenggelam di sungai, Hamid telah berbuat tak pantas (menerut sesepuh kampung) karena memberikan pertolongan pernapasan kepada Zainab yang di badannya banyak tertelan air karena tenggelam. Meski upayanya sebagai usaha penyelamatan nyawa seseorang, Ketua Adat di kampung memutuskan Hamid bersalah. Hamid menjalani hukuman dengan ikhlas yaitu dikeluarkan dari kampung tersebut.

Pembelajaran lainnya adalah rasa kasih sayang tinggi yang ditunjukkan Hamid kepada ibunya yang bekerja di rumah orang tua Zainab. Ia begitu sayang dan cinta kepada ibunya, termasuk selalu menghormati ibunya dengan santun dan memimpin shalat berjamaah. Sebuah segmen yang sangat menarik untuk dicontoh. Hamid juga menunjukkan rasa kasihnya kepada ibu bahkan saat sakit ia tak mengerjakan shalat berjamaah di surau (masjid) seperti biasanya ia mengerjakan shalat fardhu sesuai tuntunan nabi Muhammad SAW.

Selain itu film ini juga menunjukkan kasih seorang ibu kepada anaknya hingga bekerja keras hanya diperuntukkan hasilnya buat kesejahteraan anaknya (Hamid). Secara demonstratif ditunjukkan dalam segmen detik2 ajal dari sang ibu dengan menyerahkan hasil usahanya selama ini dalam bentuk emas yang ia tabung secara konsisten.

Plotting cerita yang berkisar di sekitar tahun 1927 membuat film ini terasa sejuk dengan menampilkan kehidupan kampung yg masih kental ikatan antar warga. Surau masih menjadi pusat kegiatan utama dan ditampilkan dalam kebersahajaan suasana kampun: bangunan tua yang tak ada sisi kemewahan sama sekali. Di surau juga keputusan-keputusan penting terkait dengan kampung tersebut diputuskan oleh Ketua Adat.

Sayang sekali plot cerita film ini sangat lemah karena sangat kelihatan banyak kebetulan yang diciptakan dan sangat mengganggu, seperti Hamid dan Zainab meninggal dalam waktu bersamaan di tempat yang berbeda. Memang segala sesuatu bisa saja terjadi secara bersamaan bila Allah menghendaki. Namun bila itu dari sebuah film, menjadi sangat mengganggu nilai artistik dari film tersebut dan menurunkan maknanya. Banyak hal lain yang terkesan dipaksakan seperti pertemuan Hamid dengan sahabatnya, Saleh, di tanah suci. Terkesan sutradara ingin menyelesaikan film dengan banyak kebetulan yang ia ciptakan sehingga kesannya jadi seperti menonton sinetron di tivi.

Selain itu, film ini sarat dengan pesan sponsor yaitu Baygon dan kacang Garuda. Beberapa kali kedua merek tersebut muncul. Apa di tahun itu sudah ada kedua merek tersebut? Walahualam bishawab.

Wassalamualaikum wr wb.
Gatot

Read Full Post »