Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

Assalamualaikum wr wb.

Fokus ceramah traweh pada dua malam lalu terkait dengan kesempatan menjelang ujung akhir Ramadhan. Penceramah (Al-Kautsar, SE) mengulas kutbah Umar bin Abdul Azis yang merasa sedih karena Ramadhan segera berakhir.

Setidaknya ada dua hal yang membuatnya sedih:

  1. Khawatir kalau saja amalan-amalan yang telah dilaksanakannya selama bulan Ramadhan tak diterima Allah SWT;
  2. Takut bila Ramadhan telah pergi, tak ada kesempatan lagi berjumpa dengan bulan penuh kemuliaan tersebut di tahun berikutnya.

Dua hal tersebut, yang diutarakan oleh penceramah,  tentu masih sangat valid berlaku hingga kini sebagai bahan introspeksi diri kita. Rasanya ibadah sebulan penuh belum juga maksimal dan masih perlu banyak sekali penyempurnaan di Ramadhan 1432H yang akan datang. Masalahnya, akankah kita semua sampai ke sana? Itu pertanyaan besar yang tak satupun dari kita bisa menjawab. Di jaman Rasul dulu, Rasul dan para sahabat sudah mulai berdoa dengan keras agar disampaikan kepada Ramadhan tahun berikutnya enam bulan sebelum Ramadhan. Mereka sungguh mempersiaokan diri menyambut Ramadhan tahun berikutnya, bahkan di bulan Sya’ban lebih gencar lagi. Apakah kita memiliki semangat yang sama?

Lantas, kalau memang kita belum pasti sampai kepada Ramadhan 1432H, apa yang musti kita lakukan? Jawabannya pasti: meningkatkan amal ibadah kita lebih giat lagi setelah Ramadhan 1431H ini lewat. Kita jadikan bulan Ramadhan sebagai lahan tarbiyah yang menggembleng kita untuk meningkatkan amalan kita: shalat fardhu di masjid secara berjamaah, puasa sunnah, shalat malam dan sebagainya.

Meski besok kita insya Allah masuk Idul Fitri, tetap saja perpisahan dengan Ramadhan merupakan sesuatu yang dengan berat kita jalani, namun harus kita lakoni.

Kini RAMADHAN telah berada diujung batas perjalanannya.

Dgn lembut ia berkata, “Kini aku harus pergi, mungkin jauh dan lama… Tolong sampaikan pesanku utk MUKMININ/MUKMINAT : SYAWAL kan tiba sebentar lagi. Ajaklah SABAR tatkala kalian berduka. Peluklah ISTIQOMAH saat kalian kelelahan dlm perjalanan meraih TAQWA. Bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang. Mintalah nasihat dari QUR’AN dan SUNNAH RASUL dalam menghadapi setiap masalah yang  kalian hadapi. Sampaikan pula salam dan terimakasihku bagi mereka yg telah menyambutku dgn sukacita. Kelak, ku berharap kalian semua disambut SURGA dari pintu AR-RAYAN…..”

Mohon maaf lahir dan batin dari setiap cela nurani. Teriring salam hormat dari saya dan keluarga.

Selamat Idul Fitri 1431 H

Wassalamualaikum wr wb.

Gatot Widayanto dan kelg

Read Full Post »

Mengobrol Saat Adzan

Assalamualaikum wr wb.

Hari ini memasuki hari ke 8 itikaf, 27 Ramadhan 1431H atau bertepatan dengan 6 September 2010.  Mengenai bahasan kita saat ini, mungkin hal ini sudah menjadi kebiasaan di masjid-masjid kita. Kebiasaan ini perlu dihentikan karena ada hadits nya.

Menjawabi azan atau biasa disebut hikayat al-azan, sangat dianjurkan oleh agama. Rasulullah Saw. dalam suatu hadis sahih muttafaq ‘alaih dari Shahabat Abu Sa’id al-Hudriy r.a. bersabda:

“Apabila kalian mendengar panggilan shalat, maka tirukanlah apa yang dikatakan muadzdzin”.

Hadis serupa juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dari Shahabat Mu’awiyah r.a.

Juga Imam Muslim meriwayatkan hadis tentang fadhilahnya menirukan suara azan ini dari Shahabat Umar. Di sana dijelaskan pula caranya: menirukan kata perkata, kecuali ketika muadzdzin mengucapkan: Hayya ‘alashshalaah dan Hayya ‘alalfalaah, di sini kita tidak menirukan, tapi menyambutnya dengan mengucapkan : La hawla walaa quwwata illaa billahi l-‘Aliyyi l-Azhiim.

Di akhir hadis ini disebutkan:

“Apabila orang yang mendengar azan mengucapkan seperti itu sepenuh hatinya, maka ia masuk surga.”

Bahkan dalam sebuah kajian di Radio Rodja disebutkan bahwa ada dua jenis dzikir yaitu dzikir mutlak dan mukhoyyah (?). Dzikir mutlak bisa dilakukan kapan saja tanpa ada syaratnya, misalnya membaca Quran. Sedangkan dzikir mukhoyyah itu ada syaratnya, misalnya menjawab panggilan adzan. Pada saat kita mendengar adzan, maka WAJIB kita berhenti membaca Al Quran dan diikuti segera dengan menjawab adzan.

Bayangkan, membaca Al Quran saja kita wajib berhenti guna menjawab panggilan adzan, lha kok malah saudara-saudara kita sesama muslim malah asik ngobrol kalau adzan dikumndangkan di masjid. Na’udzubillah min dzalik.

Wass,

G

Read Full Post »

Reformasi Total

Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah catatan mengikuti kuliah subuh pagi ini, memasuki hari ke 7 itikaf, 26 Ramadhan 1431H (5 September 2010). Topik yang dibahas sangat menarik yaitu terkait bulan Ramadhan yang harus kita gunakan sebagai tonggak untuk melakukan reformasi total terhadap apapun yang kita lakukan. Hal ini terkait karena Allah memerintahkan kita berpuasa karena untuk menjadi insan yang bertakwa. Dengan melakukan reformasi total terhadap akhlak kita maka setelah bulan Ramadhan kita harus menuju alam perubahan total menyangkut diri kita utamanya dalam melaksanakan kegiatan kita sehari-hari.

Bagi seorang mukmin, bulan Ramadhan adalah bulan pembakar dosa. Tak ada satupun manusia yang tak memiliki dosa. Pada kesempatan inilah kita pergunakan kesempatan sebaik mungkin, semaksimal mungkin dengan memperbanyak dan meningkatkan amalan-amalan yang bisa membakar dosa kita lebih cepat. Bacalah Al Quran sesuai kemampuan. Kalau memang bisanya membaca An-Nas, bacalah An-Nas. Bila mampunya membaca Al-Ikhlas ya bacalah Al-Ikhlas. Mengapa? Karena Al-Quran inilah yang akan menjadi penolong kita di hari pembalasan nanti, di akhirat.

Lidah merupakan salah satu yang cukup penting untuk dikendalikan dengan baik. Ini semua karena lisan kita bisa merupakan pedang tajam yang menghunjam orang lain yang sedang kita perbincangkan. Apalagi di jaman ini orang begitu suka membicarakan kelemahan orang lain. Padahal, Allah Sang Pencipta saja tak henti-hentinya setiap saat menutupi aib kita. Coba camkan, bila Allah swt membuka aib kita kepada anak-anak kita, bisa dipastikan anak-anak kita akan “jijik” melihat ulah kita. Di bulan Ramadhan ini saatnya kita lakukan introspeksi terhadap apa yang diucapkan lidah kita, karena hal ini bisa menjadi petaka besar.

Sudah menjadi tradisi di masyarakat kita bahwa bila malam hari kita mendengar suara burung, ada kepercayaan bahwa akan ada yang meninggal dunia dalam waktu dekat. Hal ini sudah biasa kita dengar, tapi sungguh ini adalah suatu kerusakan akidah yang sangat dahzyat. Allah SWT menolak ibadah umatNya yang melakukan syirik (menyekutukan Allah swt). Ini harus kita camkan.

Kalau kita bisa manfaatkan bulan Ramadhan ini memohon ampunan kepada Allah SWT agar terhindar dari perbuatan meng-ghibah (membicarakan jeleknya orang) dan syirik, insya Allah kita bisa masuk surga. Kita manfaatkan bulan ini benar-benar untuk membakar dosa-dosa ghibah maupun syirik yang pernah kita lakukan, dan setelah Ramadhan kita laksanakan reformasi total di seluruh aspek kehidupan kita. Semuanya kita niatkan untuk mencari ridha Allah, bukan yang lainnya.

Wassalamualaikum wr wb.

G

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Catatan lain dalam itikaf hari ke-6 di masjid Jami Nurul Ikhlas:

Ibrahim Menemukan Hidayah

Setelah bersungguh-sungguh mencari kebenaran tentang Zat Pencipta yang pantas disembah, akhirnya Ibrahim mendapatkan hidayah: Dia-lah Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya. (QS. Al-An’aam, 6:79)

“Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Hidayah

Hidayah adalah petunjuk, bimbingan, danpenjelasan kepada umat tentang jalan yang lurus, yaitu Islam. Hidayah juga berarti taufik dari Allah swt, brupa penerimaan seseorang terhadap dakwah Rasulullah saw dan mengambilnya sebagai pedoman hidupnya adalah kehendak Allah swt semata. Siapa yang Allah swt kehendaki untuk mendapatkan hidayah maka dia akan mendapatkannya, dan siapa yang tidak dikehendaki Allah swt untuk mendapatkan hidayah maka dia tidak akan mendapatkannya, siapapun dan dimanapun dia.

Maka, sungguh pantas bagi kita untuk bersyukur ketika ternyata Allah Ta’ala menghendaki kita untuk mendapatkan hidayah ini. Suatu karunia dan nikmat yang tak ternilai harganya. Tidak semua orang mendapatkan kenikmatan yang sungguh luar biasa besarnya ini.

Tentu kita berusaha bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan cara menjaga bagaimana agar nikmat ini tidak pergi dari kita. Kita jaga nikmat yang agung ini dengan menjaga ketaatan kita kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai perbuatan dosa dan maksiat yang kita lakukan menjadi sebab hilangnya kenikmatan ini. Mudah-mudahan Allah swt mengumpulkan kita kelak bersama dengan orang-orang yang mendapatkan hidayah.

(The Miracle halaman 272)

—–

Dari nukilan tersebut, kita perlu mensyukuri karunia hidayah yang sudah kita peroleh ini. Kita pegang teguh ajaran agama mulia ini supaya kita bisa meraih iman dan takwa. Ini adalah nikmat paling utama yang seharusnya, sebagai seorang muslim, syukuri sebesar-besarnya.

Wass,
G
25 Ramadhan 1431H
(4 September 2010)

Read Full Post »

Ibadah Salat

Assalamualaikum wr wb.

Alhamdulillah, hari ini telah masuk hari ke enam (25 Ramadhan 1431 H) itikaf di masjid Jami Nurul Ikhlas. Tadi malam rasanya hening, tenang, sejuk, tak ada angin bertiup. Jangan-jangan malam Laylatul Qadr? Walahu’alam bishawab. Semoga kita semua masih semangat menjalankan itikaf yang hanya tinggal empat hari lagi ini. Insya Allah.

Sebagai bagian untuk lebih mendalami ilmu Allah yang luas dan dalam, berikut ini sedikit kutipan dari Quran versi The Miuracle tentang ibadah salat:

Salat berasal dari kala Salla-Yusalli-salatan, yang berarti doa. Doa adalah permohonan hamba kepada Allah swt untuk mendapatkankebaikan dan dijauhkan dari keburukan. Baik bagi dirinya maupun orang lain.
Salat berarti pengabdian dan penyembahan kepada Allah swt dengan tatacara sesuai yang diperintahkan-Nya dan dicontohkan Rasulullah saw.

Sedangkan, salat menurut istilah yaitu perintah ibadah yang dicontohkan Rasulullah saw untuk dilaksanakan pada waktu dan kondisi tertentu, yang terdiri atas perbuatan dan ucapan tertentun diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.
Dengan demikian, untuk dapat disebut ibadah salat terdapat syarat dan rukun sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw sehingga ibadah tersebut dianggap sah sebagai salat.

Ibadah yang dilakukan tidak sesuai contoh dari Rasulullah saw, tidak diawali dengan takbiratuk ihram dan tidak diakhiri dengan salam maka tidak dapat dikatakan sebagai ibadah salat.

Salat merupakan aktivitas ibadah yang terdiri atas:
– niat
– takbir
– membaca surah Al-Fathihah
– rukuk
– I’tidal (berdiri antara rukuk dan sujud)
– sujud
– duduk antara dua sujud
– tasyahud, dan
– salam

(The Miracle halaman 270)
—-

Dari kutipan tersebut, maka sudah sangat jelaslah bagaimana posisi strategis salat dalam keseluruhan ibadah kita sebagai mukmin dalam rangka meraih iman dan takwa. Jelas di sini bahwa salat sangat signifikan dalam kehidupan seorang mukmin. Bahkan, ia adalah pembeda dari umat lainnya. Seorang ustad yang berceramah di masjid ini selama bulan Ramadhan ini mengatakan bahwa salat itu ibarat “kepala” dalam anatomi tubuh manusia.

Bisakah kita bayangkan manusia bisa hidup tanpa kepala? Mustahil! Artinya apa? Bila ada orang mengaku seorang muslim namun tak salat, berarti dia BUKAN muslim. Na’udzubillah min dzalik …

Wass,
G
25 Ramadhan 1431H

Read Full Post »

Puasa Melatih Kejujuran

Assalamualaikum wr wb.

Tulisan ini merupakan catatan saya pada hari ke-4 itikaf di masjid Jami Nurul Ikhlas, khususnya pada saat ceramah shalat traweh pada malam hari oleh ustad Drs. Muhtadin, MA. Selain menjadi penceramah, beliau juga menjadi imam shalat Isya dan traweh pada malam tadi. Berikut ini adalah nukilan dari tausiyah beliau yang menurut saya bermakna dalam meski disampaikan dengan sederhana dan gaya bahasa yang enak disimak, dengan bahasa Indonesia logat Jawa (beliau asal Solo) namun bukan penuh canda. Saya melihat jamaah mengikuti ceramah beliau dengan seksama.

Ibadah puasa itu “rahasia”. Yang tahu hanya dirinya dan Allah swt. Tak ada orang yang bisa tahu bahwa si Fulan sedang berpuasa hanya melihat penampilannya saja yg, misalnya, kelihatan lemes. Lain dengan ibadah lain, misalnya shalat, yg kelihatan.

Puasa merupakan kesempatan emas yang diberikan oleh Allah swt untuk melatih dan mendidik kejujuran. Kalau kejujuran dlm puasa ini kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari maka kita hidup tenang. Kalau jujur, jabatan apapun yang kita emban, membuat tidur kita nyenyak. Tapi kalau tidak jujur, siang-malam dihantui KPK.

Wasiat nenek moyang menganjurkan agar kita jujur agar luhur nantinya dan selamat menghadapi kehidupan dunia dan akhirat. Jujur itu perbuatan kebajikan

Pergaulan Dulu dan Kini

Mengapa tahun 1960an pergaulan laki-perempuan biasa-biasa saja tanpa ada gejolak maksiat. Saat itu ustad hidup di kampung dimana belum ada listrik. Hiburan paling menyenangkan adalah bila malam bulan purnama dimana kampung menjadi terang benderang, remajanya pada menikmati indahnya malam dengan bermain di luar rumah mulai ba’da Isya hingga tengah malam. Tepat jam 12 malam mereka pada kembali ke rumah masing-masing. Pada saat itu remaja laki-laki dan perempuan bermain bersama tak menimbulkan maksiat. Coba bandingkan dengan kondisi kini. Bila remaja dibiarkan keluar malam, bisa jadi tiga bulan kemudian perutnya buncit. Masya Allah.

Pada saat itu, bila dicari berapa orang yang lulus SD atau SR, sangat sulit. Misalnya dari 50 KK di satu RT, mencari lulusan SD paling hanya satu atau dua orang. Rata-rata anak kampung sekolah madrasah dengan kyai di kampung. Merekapun tak faham bahasa Indonesia, namun faham bahasa Arab. Bisa dipastikan ada 40 orang dari 50 orang yang ada menguasai Quran dan bahasa Arab. Bagaimana kini? Mencari satu orang yang faham Al Quran dari 50 orang yang ada di RT, sulitnya bukan main.
Bila cari lulusan SD di masa kini, maka semuanya pasti lulus SD bahkan semuanya sarjana.

Dulu, mencari orang jujur dari 50 orang yang ada, cukup mudah, paling tidak ada 40 orang yang jujur. Jaman sekarang, mencari 10 orang yang jujur dari 50 orang, sulitnya bukan main.

Itulah makanya, puasa melatih kita berbuat jujur karena hanya dirinya sendiri dan Allah lah yang tahu bahwa dia benar-benar berpuasa.

——

Ibrah dari ceramah traweh:
1. Apa ukuran yang tepat dalam melihat kemajuan bangsa? Pendidikan formal ternyata tak membuahkan insan-insan yg memiliki akhlakul kharimah. Semakin banyak orang berpendidikan, Al Quran semakin ditinggalkan.
2. Perlunya memaknai ibadah puasa sebagai sarana melatih kejujuran.

Wass,
G

Masjid Jami Nurul Ikhlas, 24 Ramadhan 1431H (3 Sept 2010)

Read Full Post »

Bersyukur dan Beriman

Assalamualaikum wr wb.

Ibrah dari itikaf hari ke empat, 23 Ramadhan 1431H, yang bertepatan dengan 2 September 2010.

Surah An-Nisaa’ ayat 147:

Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.

Saya jadi teringat saat kelelahan mengayuh sepeda karena tanjakan tiada akhir menjelang Padalarang pada tanggal 24 Februari 2010 yang lalu, akhirnya saya menyerah dengan mengambil beberapa menit istirahat di sebuah warung di kiri jalan. Warung tsb merupakan toko kelontong yang, sepertinya, dikelola oleh seorang ibu (usia sekitar 70an tahun) dibantu dua putranya yg sudah dewasa.

Saat saya beristirahat dengan memesan minuman botol dan biskuit, saya perhatikan sang ibu telah siap menggunakan mukena buat shalat. Memang saat itui memang beberapa menit menjelang maghrib. Di depan toko tersebut adalah masjid yg terletak di atas bukit, seberang jalan raya. Pada saat adzan, ibu dan kedua anaknya bergegas menuju masjid dan saya diminta dengan hormat keluar dari toko karena akan tutup sementara, pemilik akan menjalankan shalat maghrib berjamaah. Sungguh, saya kagum dengan semangat keluarga ini melaksanakan shalat berjamaah di masjid, menegakkan shalat Rasul.

Ketika bersiap melanjutkan perjalanan mengayuh sepeda, saya baca papan nama toko tersebut dimana tertera nama toko tersebut adalah Toko QONAAH. Subhanallah …!!! Betapa mulianya pemilik toko ini karena makna “qonaah” adalah menerima apa adanya yg diberikan Allah swt dan mensyukurinya. Pengamatan saya terhadap kebiasaan pemilik toko ini menguatkan pendapat saya bahwa mereka bisa mengelola waktu dengan baik, dengan memenuhi hak Allah atas waktu yang tepat untuk mendirikan shalat berjamah di masjid pada awal waktu, selebihnya bekerja mencari rizki di jalan Allah dengan berdagang.

Bila dikaitkan dengan ayat tersebut di atas, keluarga ini termasuk golongan yang bersyukur (menerima apapun yang diberilan Allah) dan beriman (menegakkan syariah Allah dengan shalat berjamaah di masjid pada awal waktu). Subhanallah ….

Wass,
G

Read Full Post »

Older Posts »