Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

Assalamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh,

Pagi ini saya berangkat ke tempat kerja sambil menyimak tausiyah pagi di radio Silaturahim (AM 720 KHz). Tak jelas siapa ustadznya dan juga apa topiknya karena saya mendengar sudah di tengah-tengah. Meskipun tak kumplit namun penggalan tausiyah ini banyak makna yang perlu kita renungkan, terutama untuk saya pribadi yang masih banyak perlu belajar mengenai jalan lurus. Sepertinya topik yang dibahas mengenai ZUHUD dan menyebutkan Ibnu Umar juga. Silakan membaca penggalan tausiyah di bawah ini. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Amin.

 ——

Sebagai manusia kita kadang merasa tak puas dengan apa yang kita peroleh. Padahal Allah SWT maha tahu apa yang terbaik bagi kita. Namun kita sering merasa kurang dan akhirnya tak bersyukur terhadap nikmatNya. Ada saja kekurangan yang kita kadang rasakan, padahal semuanya yang diberi Allah tak ada yang sia-sia. Mungkin kita menginginkan anak yang shalih dan mudah diatur, ternyata anak kita malah kurang atau tidak bisa diatur.

Hidup di dunia jangan dianggap selamanya, karena ini hanya sangat sementara dan akan berlanjut dengan kehidupan akhirat yang kekal. Selama hidup di dunia janganlah berlebihan karena Allah tidak menyukai orang yang berlebihan, apalagi di dunia ini kita semua hanya sekedar singgah. Tak ubahnya seorang musafir, kita akan kembali ke tempat asal kita dan tak ada pilihan untuk menetap terus menerus di dunia. Meskipun demikian tak berarti kita selama hidup di dunia tak perlu menata diri. Kita masih perlu berpenampilan yang menarik, wangi dan bersih.

Hidup jangan berlebihan. Gunakan waktu yang ada untuk untuk hal-hal yang bermanfaat. Bila ada uang, belanjakan di hal-hal yang penting seperti membangun masjid, madrasah, jembatan dan lain sebagainya. Tidak perlu memeperindah taman di rumah atau hal-hal lain yang sifatnya tidak penting sekali.

Dalam hal memanfaatkan waktu, bila sore hari jangan menunggu pagi. Bila pagi jangan menungu siang, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin. Bahkan ada kalimat bijak yang mengatakan: Gunakan sehatmu untuk sakitmu, hidupmu untuk matimu. Ini merupakan kalimat yang bermakna dalam karena kita harus memanfaatkan waktu kita untuk hal-hal yang pada nantinya akan bermanfaat setelah kita mati. Jangan menunggu-nunggu, karena itu berarti kita sedang berkompromi dengan setan. Hari esok belum tentu milik kita. Pekerjaan jangan sampai menumpuk karena itu menunjukkan ketidakmampuan kita memanfaatkan waktu yang ada.

Di akhir tausiyah pagi ini ustadz menekankan ajakan dari Ibnu Umar untuk bersikap zuhud dalam menjalani kehidupan di dunia. Beliau juga menekankan perlunya sifat qona’ah yaitu mensykuri apa yang telah didapat dari Allah.

Sebagai bahan renungan:

Setiap saat kita harus ingat bahwa hidup di dunia ini bagi kita hanyalah sekedar singgah saja. Sebagai seorang muslim kita harus bisa memanfaatkan waktu untuk mengerjakan hal-hal penting yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat yang kekal. Bagi seorang muslim tak ada masalah karena bila mendapat nikmat bersyukur dan bila mendapatkan musibah bersabar. Diperlukan sikap zuhud (sederhana, tak berlebihan) dan qona’ah (bersyukur terhadap apa yang telah diberikan Allah SWT pada kita) dalam menjalani kehidupan ini.

 

 Wassalamualaikum warromatullahi wabarokatuh

G

Read Full Post »

Rangkuman kutbah Jumat di masjid Al Arqam, Badan Pusat Statistik (BPS), 22 Rajab 1432H / 24 Juni 2011

Bulan Rajab setiap tahun dimanfaatkan oleh umat muslim memperingati peristiwa penting. Namun sayang, hikmahnya kurang bisa kita kembangkan. Mungkin kalau kita menengok ke belakang mulai saat kita akil balig hingga kini, seberapa jauhkan perjalanan keIslaman kita ini? Umur rata-rata balig jaman dulu adalah sekitar 12-15 tahun. Namun dengan perkembangan jaman dan teknologi, usia balig semakin muda lagi sehingga sekarang rata-rata usia balig adalah antara 10-12 tahun. Dari balita hingga balig, itulah saat orang tua kita menggembleng, menata fondasi keIslaman kita. Masa tersebut kita masih belum mandiri sehingga tergantung dari ajaran dan pendidikan yang diberikan orang tua kita untuk pada nantinya tumbuh menjadi seorang muslim yang baik.

Setelah akil balig kita sudah dianggap sebagai mukhalaf, pribadi yang mandiri dan bertanggung-jawab terhadap perjalanan keislaman kita. Mari kita coba kita kurangi usia kita saat ini dengan masa balig kita. Kemudian kita renungkan seberapa jauh sebenarnya perjalanan keislaman kita? Mungkin setiap kutbah Jumat kita selalu diingatkan supaya taat kepada Allah dg pengertian dan kesadaran. Seberapa dalamkah kita menjalankan ketaatan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Bukankah kita diperintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) seperti perintah Allah di dalam Al Quran? Seringkali penguasaan kita terhadap ilmu diboncengi oleh kepentingan-kepentingan sehingga tak menuju jalan yang lurus. Yang terjadi tak sekedar penguasaan ilmu namun boncengan kepentingan pribadi atau golongan tertentu.

Saat ini Islam kita ini masih belum kaffah, masih jahiliah. Langkah meninggalkan jahiliah perlu hijrah. Ketika hijrah mesti ditebus dengan membayar dimana membayarnya tergantung penguasaan terhadap dunia, (kasus NII) maka kita sudah tak lurus lagi.

Indikasi keislaman seseorang:

  1. Mengucap dua kalimat syahadat. Dalam hal ini masih banyak yang lip service, kurang memahami sepenuhnya makna dari kalimat tersebut dalam tindakan sehari-hari;
  2. Shalat. Apapun alasannya harus dikerjakan, sesibuk apapun. Bahkan dalam kondisi genting pun bisa digabungkan dan bahkan diperpendek. Mungkin sebagian besar dari kita sudah mendirikan shalat, namun perlu ditingkatkan kualitasnya;
  3. Berupaya menjadikan Quran dan Hadits ssebagai sumber nilai;
  4. Berupaya melaksanakan aktivitas hidup terbingkai oleh nilai2 Quran dan Hadits.

dan bahwa [yang Kami perintahkan] ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan [yang lain] [3], karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (QS 6:153)

(Khatib sambil memegang Quran dengan tangan kanan) – Dan inilah Quran, sumber nilai ajaran Islam – konsep hidup yg aku gariskan, yang lurus. Dan jangan mengikuti jalan-jalan lain yang keluar dari bingkai Islam. Agar kalian semua pada garis taat dan patuh yg benar.

Orang Yahudi memiliki kitab Taurat dan Dzabur namun kehidupan mereka sangat jauh dari kitab Taurat. Sebenarnya sama juga dengan kondisi kita saat ini. Kita memiliki Al Quran namun praktek-praktek kehidupan kita belum sesuai dengan Al Quran. Seberapa jauh Quran merupakan bagian dari keilmuan kita dan juga praktek hidup yang dicontohkan Rasul (hadits). Yang kita lakukan banyak yg lepas dari bingkai Quran dan Hadits.

Sebagai bahan renungan kita:

  • Dalam peristiwa Isra Mi’raj perjalanan Rasul dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan kemudian ke Sidratul Munthaha sangat besar peran Allah dalam peristiwa ini. Bagaimana perjalanan keislaman kita lebih didominasi oleh “kita” bukan oleh Allah karena kita kurang melibatkan Allah di dalam perjalanan tersebut?
  • Mumpung Rajab, ayo kita lakukan perenungan sejauh mana perjalanan keislaman kita ini. Seperti surah Al-Anaam ayat 153, Allah memerintahkan kita mengikuti jalanNya yang lurus.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kekuatan dan kemauan kita untuk lebih akrab dengan Al Quran. Amin.

Read Full Post »

  1. Mengaku kenal Allah SWT, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya.
  2. Mengaku cinta kepada Rasulullah s.a.w., tetapi mengabaikan sunnah baginda.
  3. Membaca al-Quran, tetapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya.
  4. Memakan nikmat-nikmat Allah SWT, tetapi tidak mensyukuri atas pemberian-Nya.
  5. Mengaku syaitan itu musuh, tetapi tidak berjuang menentangnya.
  6. Mengaku adanya nikmat syurga, tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.
  7. Mengaku adanya siksa neraka, tetapi tidak berusaha untuk menjauhinya.
  8. Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa, tetapi masih tidak bersedia untuknya.
  9. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain, tetapi lupa akan keaiban diri sendiri.
  10. Mengantar dan menguburkan jenazah/mayat saudara se-Islam, tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya.

 

Kiriman dari: ArsaSoerabaia

Read Full Post »

Ba’da Zhuhur masjid AL Arqam BPS menerima tamu dari Plestina dibawah koordinasi KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) dan Forsimpta. Dalam ceramahnya, tamu dari Palestina mengatakan bahwa Israel mulai menjajah Palestina sejak tahun 1948 dengan menguasai 78% dari tanah Palestina. Bahkan dari waktu ke waktu terus bertambah. Di Palestina sendiri ada dua kelompok dalam menghadapi Israel. Kelompok pertama menganggap bahwa masalah Palestina bisa diselesaikan melalui perundingan. Kelompok ini menganggap bahwa Palestina perlu mendapatkan hak yang 22% nya dan masalah ini adalah masalah Palestina. Sedangkan kelompok kedua, mengambil jalan keras dengan menganggap bahwa Israel perlu diperangi karena telah menjajah tanah wakaf umat Islam seluruh dunia. Kelompok kedua ini menganggap bahwa masalah Palestina bukanlah merupakan masalah Palestina itu sendiri namun masalah kemanusiaan dan perjuangan perlawanan menghadapi Palestina adalah untuk umat Islam seluruh dunia. KNRP berada pada kelompok kedua ini.

Pada acara ini juga dibagikan informasi seputar Palestina, penjualan buku2 perjuangan Palestina dan pengumpuan dana.

Read Full Post »

Memaknai Gowes (Baru)

Tulisan ini aslinya saya post di 20 Oktober 2010. Tapi baru saja saya jumpai ternyata kacau sekali kalimat-kalimatnya, semuanya jadi tak bermakna. Apa ini karena wordpress terkena virus? Ada yang tahu? Untung saya simpan Words document nya.

Ini aslinya:

Orang bijak mengatakan bahwa bila kita tak memiliki tujuan maka kemanapun kita melangkah akan sampai ke tujuan. Benar juga. Tapi, apa memang hidup ini harus dijalani seperti itu atau dengan istilah kerennya ‘going with the flow’ alias mengikuti arah angin saja. Kalau memang demikian, kenapa pula Jack Welch, seorang mantan eksekutif sukses di GE (General Electric), mengatakan “Control Your Destiny or Someone Else Will” ? (Kendalikan tujuan Anda atau Anda Dikendalikan Orang Lain). Tentu, Welch mengatakan demikian dalam konteks bisnis, yang berarti identik dengan persaingan karena tak ada satupun bisnis yang bisa berjalan tanpa persaingan kecuali dalam pasar yang monopoli dan serba diatur untuk kepentingan organisasi tertentu.

Dulu, waktu saya masih kecil, cita-cita saya ingin menjadi dewasa hingga bisa melakukan apa-apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Ini tentu sangat kondisional karena ibu saya selalu melarang saya melakukan sesuatu karena saya masih belum dewasa. Mau merokok tidak boleh; mau nonton bioskop, tidak boleh; mau naik sepeda, tidak boleh; mau pergi malam hari, tidak boleh; mau memanjangkan rambut, tidak boleh. Semuanya bermuara pada satu hal: saya belum dewasa. Anehnya, ketika sudah dewasa saya tak pernah merasa bahwa saya dewasa kecuali saat duduk di bangku SMA saat saya mulai merasakan nikmatnya kebebasan memanjangkan rambut dan memakai sepatu apapun yang saya mau. Itulah jaman saat saya mengenyam kebebasan pertama kali meski saya belum juga merasa dewasa dan puas terhadap pencapaian saya. Sepertinya tak ada apa-apa yang saya capai hingga saat itu sehingga saya punya cita-cita baru, yaitu ingin menjadi insinyur. Alasannya pun tidak jelas, saya hanya ingin mendapatkan gelar insinyur saja, sepertinya keren. Tapi insinyur apa, saya tak tahu, yang penting insinyur. Oleh sebab itu saya mendaftar masuk ITB, meski sempat mampir 2 bulan di IPB. Namun setidaknya kedua perguruan tinggi tersebut memberikan saya gelar insinyur. Namun akhirnya saat menjadi insinyur pun kok rasanya saya tidak mencapai sesuatu yang luar biasa. Bahkan dulu, kata orang, kalau lulusan ITB bakal dicari orang. Apaan, buktinya saya musti pontang-panting melamar pekerjaan kesana kemari. Namun setidaknya saya mencapai obsesi ‘sementara’ saya sebagai insinyur.

Setelah tercapai menjadi insinyur tiba-tiba saya ingin bekerja di perusahaan internasional alias global supaya lebih professional. Saya tidak tahu juga mengapa kalau mau professional musti bekerja di perusahaan global. Sekali lagi, rasanya keren gitu. Akhirnya memang saya bisa bekerja di Metrodata yang saat itu mengageni komputer Wang, kemudian McDermott, Price Waterhouse dan Citibank NA. Saya pun tiba-tiba pengen menjadi CEO perusahaan besar. Alasannya lebih logis, ingin mengaplikasikan strategic management karena saya begitu anthusias dengan Five Forces nya Michael Porter. Ternyata saya salah besar. Kalau ingin melakukan industry analysis dan menyusun business strategy, sebaiknya saya sebagai konsultan bisnis. Hal itu benar-benar saya nikmati sekali saat saya bekerja di Price Waterhouse Consulting.

Hal yang saya uraikan di atas sebetulnya menggambarkan betapa dalam hidup ini saya telah menentukan batu loncatan satu ke batu loncatan berikutnya yang masing-masing memiliki horizon waktu sangat pendek, sekitar 4 atau lima tahunan begitu. Mungkin bagi kebanyakan orang hal ini tak masalah karena horizon tersebut telah menjadi patokan penyusunan rencana jangka-panjang. Dengan berjalannya waktu dan setelah berkiprah dengan dunia pekerjaan selama dua puluh lima tahun saya semakin memikirkan perjalanan hidup saya selama ini. Benarkah hidup ini musti saya lakoni dengan pola pikir lima-tahunan? Ternyata saya salah besar. Setelah membaca banyak buku-buku bisnis maupun pengembangan kepribadian, orang sukses harus berani berpikir puluhan tahun ke depan. Bahkan Konosuke Matsushita, pendiri National Panasonic, membuat rencana perusahaan untuk seratus tahun yang akan datang. Luar biasa.

Kesalahan saya lebih fatal lagi begitu saya menyadari bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah subhannahu wa ta’ala seharusnya saya memiliki visi hidup yang jelas, yaitu bila saatnya dipanggil oleh Allah SWT, meninggalkan dunia yang fana ini secara khusnul khatimah, dalam iman dan taqwa yang sangat kuat. Dengan end state yang jelas ini, kemudian ditarik ke depan agar saya bisa lebih memaknai kehidupan ini dalam konteks iman dan taqwa kepada Allah SWT dan mengikuti contoh-contoh yang telah diberikan secara sempurna oleh manusia terbaik Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wassalam. Bila visi hidup sudah jelas, maka apapun yang dilakukan dalam hidup ini semuanya ditujukan demi tercapainya visi tersebut. Dengan tujuan hidup yang jelas ini maka semua jenis kegiatan maupun peran yang kita lakukan untuk mencapai akhir yang jelas tersebut. Rasulullah pernah mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang berumur panjang dan selama dalam hidupnya ia melakukan amal baik. Semoga kita bisa melakukannya.

Semua renungan yang saya tuliskan tersebut di atas terjadi saat saya mengayuh sepeda menuju tempat kerja. Bagi saya, mengayuh (gowes) sepeda menuju tempat kerja saya maknai sebagai perjuangan menuju tujuan akhir yang jelas, yaitu tempat kerja. Bukankah hidup itu seperti halnya mengayuh pedal sepeda? Sepeda tak akan bergerak menuju tujuannya tanpa usaha kita mengayuhnya. Dalam proses menuju tujuan akhirnya, mengayuh sepeda di kota besar seperti Jakarta memerlukan fokus dan keseriusan karena begitu banyaknya kendaraan di jalan raya. Sepeda pun harus digowes pada kecepatan tertentu agar seimbang sehingga tidak jatuh bila terlalu pelan atau menabrak kendaraan lain bila terlalu ngebut. Untuk mencapai tujuannya dengan selamat. Setang (kemudi) sepeda menentukan kea arah mana sepeda menuju, sedangkan gowesan menyebabkan sepeda bergerak. Bila diibaratkan dengan kehidupan, maka gowesan pedal sepeda bisa diibaratkan sebagai bentuk ibadah kita seperti shalat, puasa, infaq dan sodaqoh. Setang sepeda merupakan petunjuk kearah mana ibadah ini ditujukan. Bila shalat dikerjakan hanya supaya disebut sebagai orang yang soleh, orang yang taat, maka sia-sialah ibadah yang telah dilakukan. Pahalanya hanya diperoleh di dunia saja, yaitu disebut sebagai orang soleh. Justru kita harus kendalikan setang agar semuanya menuju ke satu hal yang esa yakni Allah SWT.

 

Read Full Post »

Assalamualaikum wr wb.

Marhaban Ya Ramadhan ….

Ustad Ade Purnama

Alhamdulillah kemarin bisa ikut liqo meski telat. Bila minggu lalu topiknya mengenai persiapan menjelang Ramadhan, toik kali ini justru membahas apa yang perlu dilakukan pada saat Ramadhan. Seperti biasa, liqo selalu saja memberikan pencerahan hati yang luar biasa. Dari setiap ulasan yang dilakukan Ade Purnama, rasanya semakin saja banyak ilmu Allah yang saya masih sangat dungu untuk memahaminya karena begitu banyak, luas dan dalam. Rasanya tak mungkin bisa mempelajari secara kaffah.

Kajian pada dasarnya mengacu kepada Al Quran surah Al Baqarah ayat 183 sampai dengan 188 yang menjelaskan dasar Enam Perintah Allah yang harus dilakukan seorang muslim selama bulan Ramadhan:

  1. Berpuasa
  2. Perbanyak atau tingkatkan sodaqoh
  3. Tingkatkan interaksi dengan Al Quran
  4. Doa
  5. Itikaf di masjid
  6. Mencari rizqi yang halal
Dalam itikaf yang paling utama adalah dilakukan di masjidil Haram, Mekah; atau masjid Nabawi, Madinah; atau masjid-masjid lainnya asalkan masjid jami (masjid yang menyelenggarakan shalat Jumat). Itikaf yang benar adalah berdiam di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Rasul memulai pada sejak Subuh hari ke 19 dan keluar dari masjid pada shalat Ied. Itkaf adalah ibadah sunnah yang selalu dikerjakan Rasul. Selama itikaf tidak keluar masjid kecuali untuk urusan personal seperti ke toilet atau mencari makan, namun segera kembali ke masjid. Rasul bahkan menyisir rambutnya dengan melongokkan kepala beliau lewat jendela masjid.
Wass,
G
Tambahan: (terkait Isra’ Mi’raj)
(T) Apa yang harus dilakukan dalam peringatan Isra Miraj?
(J) Tidak ada ibadah khusus namun kita harus mengingat mengenai Palestina karena tanah Palestina (menurut Khalifah Umar) adalah milik seluruh muslim yang ada di dunia. Palestina mulai terpuruk tahun 1948 dimana wilayah kekuasaan terus-menerus digerogoti oleh yahudi. Dalam Al Quran disebutkan bahwa Allah SWT akan menggantikan dengan generasi baru bila generasi yang lama tak berfungsi dengan baik. Pada tahun 1998 (empat puluh tahun kemudian) lahirlah generasi baru dengan gerakan intifadohnya melawan penjajah yahudi yang kejam. Ini adalah generasi baru yang dijanjikan Allah SWT dimana generasi ini tak takut sama sekali dengan yahudi. Generasi sebelumnya takut dengan yahudi.
Ada sebuah kisah orang tua di Palestina yang tanahnya akan dibeli oleh yahudi, dia menolak karena tanah tersebut milik umat muslim di selurh dunia. Bila mau membeli harus minta tanda-tangan setiap umat Islam yang ada di dunia ini. Sebuah kisah heroik yang perlu menjadikan bahan renungan kita.

Read Full Post »

Hidup ini adalah perjalanan kenangan. Kenangan dari semua keadaan dan peristiwa yang kita lalui. Namun, tidak sedikit diantara kita yang melupakan begitu saja kenangan hidupnya, meskipun memang tidak semuanya harus diingat dan dikenang seperti halnya pengalaman pahit yang mewariskan trauma dan penderitaan.

Stasiun kenangan kita perlukan sebagai tonggak-tonggak dan pilar-pilar kesejarahan yang kita ciptakan pada momen-momen besarnya.

Setiap kita, bersama ketentuan takdir, ternyata bisa merancang prasasti-prasasti kenangan. Bukan untuk romantika melankolik yang cengeng, tapi agar ada pilar-pilar penyangga bagi kesinambungan cita-cita hidup kita.

Stasiun kenangan kita perlukan sebagai tonggak-tonggak dan pilar-pilar kesejarahan yang kita ciptakan pada momen-momen besarnya. Stasiun kenangan memberi kita pengertian bahwa kita tidak mungkin setiap waktu, berada dalam puncak prestasi terbaik kita. Atau bahkan saat kita sedang dalam kondisi terpuruk sekalipun.

Agar perjalanan hidup kita punya arti, minimal untuk kita kenang sendiri, kita perlu merancang stasiun-stasiun kenangan di setiap episode hidup yang kita jalani, sejak saat ini.

Stasiun kenangan dirancang untuk sebuah fungsi. Agar kita punya pelecut, agar kita punya penyemangat untuk segala kesinambungan hidup. Merancang stasiun kenangan tidak untuk berhenti di stasiun itu. Merancang stasiun kenangan, tetap tidak boleh melupakan bahwa kita punya batas-batas kemampuan.

Sumber: Tarbawi edisi 253 Th 13, Rajab 1432H, 16 Juni 2011.

Rubrik: Salasar / Tarbawi Bertahun Lalu

Read Full Post »

Older Posts »