Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Thought’ Category

Ziarah Kubur

Ziarah kubur dianjurkan Rasul untuk mengingat kematian.  Namun perlu dicatatat hal-hal penting ini:

1. Kuburannya tak harus dimana kerabat kita dimakamkan,  kuburan muslim siapapun itu meski tak ada ikatan darah; 

2. Disunnahkan mengucapkan salam kepada penghuni kubur; 

3. Setelah itu merenungkan diri mengingat kematian dimana pada saatnya kelak kita juga pasti menjadi penghuni kubur; 

4. Tidak ada anjuran ziarah kubur dilakukan pada suatu saat tertentu misalnya menjelang Ramadhan atau waktu lain, karena ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja,  tak dikhususkan waktu tertenti; 

5. Diharamkan membaca Al Quran pada saat ziarah. 

6. Tidak usah mendoakan mayit saat di kuburan karena mendoakan mayit bisa dilakuka n kapan saja,  tidak di kuburan. 
Wallahua’lam

Read Full Post »

Thenguk-thenguk

THENGUK-THENGUK

Ini adalah bahasa Jawa yang mendeskripsikan keadaan tanpa melakukan apapun selain duduk-duduk santai di pinggir jalan melihat orang lalu lalang.  Hal ini biasa saya lakukan ketika masih remaja di Jl.  Sumatra 26 Madiun, tempat tinggal kami saat itu.  Di depan rumah ada “buk” yang sebenarnya adalah tempat duduk dari semen yang menandai masuk ke rumah kami melalui halaman depan rumah yang besar.  Saya suka sekali duduk thenguk-thenguk di buk itu sambik melihat orang lalu lalang bersepeda atau naik sepeda motor. Tak ada yang khusus sih sebenernya,  hanya sekedar duduk duduk saja,  ya kalau orang sekarang mungkin bilangnya ya “hang-out” begitulah. 
Tak ada batasan waktu juga sih,  namanya juga santai gak ada kerjaan… Ya duduk duduk aja tanpa ada maksud apapun.  Sekali waktu mengkhayal juga kalau suatu saat nanti punya uang atau kaya enaknya ngapain…. He he he…  Namanya juga remaja.  Pikiran melayang bebas tanpa batas… Kalau dipikir-pikir lagi betapa meruginya ya saat itu karena waktu luang itu sebenernya bisa saya manfaatkan dengan berdzikir atau istighfar karena sudah jelas dan pasti manfaatnya,  meskipun saya sambil duduk thenguk-thenguk namun benar-benar bermanfaat karena pahalanya sudah pasti,  daripada saya melamun tidak ada batasnya dan bisa ngalor ngidul ra karuan. 
Itulah pentingnya ilmu.  Kala itu memang saya gak pernah tahu apa itu menuntut ilmu selain belajar matematika,  fisika dan sebagainya, melupakan siapa yang menciptakan saya. Itulah sistem pendidikan yg saya terima ketika remaja karena pelajaran agama sekedar menempel ke mata pelajaran lainnya yang dianggap lebih penting. Ya,  pelajaran agama hanya sekedar tempelan saja kesannya dan guru2 yang mengajarkan agama tidak setenar guru mata pelajaran lainnya yang dianggap lebih top dan menjamin kesuksesan murid di kemudian hari.  Meski demikian saya masih ingat siapa guru agama yang memaksa saya dan teman2 di SMP Negeri 1 Madiun untuk menghafal surat “Alam nasroh… “. Beliau adalah Bu Muslikah.  Semoga Allah merahmati beliau. 
Waktu tak bisa didaur ulang.  Yang telah lewat gak bisa diputer balik lagi.  Semoga ke depannya saya dan keluarga saya dan keturunan saya tak melakukan thenguk-thenguk lagi karena hidup di dunia ini hanya 1.5 jam saja bila diukur dengan dimensi waktu akhirat. Banyak lho sebenarnya hal2 sia2 yang tak bermanfaat seperti thenguk2 ini….  Semua hal yang tak memberi manfaat untuk kehidupan akhirat kita kelak, ya tergolong sia-sia tak bermanfaat….  Jangan lagi membuat waktu terbuang sia-sia… 

Read Full Post »

Pada saat saya mengajar kelas PDCA di Hongkong tahun 1998 di hadapan Regional Managers Australia dan Asia , seorang peserta dari Taiwan mengomentari: “Well Mr. Gatot … Actually PDCA cycle is not just applicable in our business …. But in fact it’s a cycle of getting better in life if we want to succeed!”. Bener juga kata peserta yang saya lupa namanya namun saya ingat dia ini penggemar berat Mark Twain karena selama pelatihan dia selalu berujar kata-kata bijak dari Mark Twain ….

Ah, bener juga …setelah melalui serangkaian thalabul ilmi dar beberapa ustadz melalui media langsung (hadir di kajiannya) maupun via live streaming, akhirnya saya menemukan formula kerangka kerja strategis yang perlu saya praktekkan dalam kehidupan saya mengikuti PDCA Cycle karya Edward Demings alm. ini. 

Dari siklus ini jelas bahwa membaca (iqro) merupakan awal yang baik buat menyulut semangat untuk hadir di majelis ilmu. Namun majelis ilmu jadi PERCUMA bila tidak kita amalkan. Setelah itu lakukan muhasabah diri (evaluasi) dan perbaiki dan mulai lagi dengan banyak membaca. Kalau ini dilakukan sistematis, berulangkali dan niat ikhlas hanya mencari ridhla Allah Taala, insya Allah kita menjadi insan yang bertaqwa. Bukankah tujuan hidup kita hanya satu: TAQWA?

Bagaimana menurut Anda masbro mbaksis ?

Read Full Post »

TiKo dan New Hope

Dari viral WA via Buya Andes di Taklim Laskar

“TIKO AND NEW HOPE” 
“Inilah gubernur yang berani mengkritik pers. Secara terbuka. Di puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) pula. Di depan hampir semua tokoh pers se-Indonesia. Pun, di depan Presiden Jokowi segala. Di Lombok”. Itulah mukadimah Dahlan Iskan dalam tulisannya di Jawa Post 22 Februari 2016. Tuan Guru dengan Masa Depan yang Panjang, New Hope.  Saya menyenangi kepemimpinan, saya menelurusi siapa sebenarnya New Hope ini. Dia anak muda yang tampan. Seluruh masa pendidikan Sarjana sampai Doktorat di habiskan di Al Azhar. Sebuah Universitas tertua di dunia.  Sebelum persemakmuran Islam dengan Universitas bagus-bagus di Cordoba, Al Azhar telah mulai pendidikan untuk orang dewasa. Jauh mendahului Universitas di Eropa. Saya melihat pula video ketika dia mengkritik pers. Seorang yang sangat santun, pemilihan kata yang sangat tepat. Semua kena kritik beliau, termasuk jajaran pemerintahan. Termasuk Presiden. Secara elegan dan kitapun bisa merasakannya Tuan Guru tak sampai melukai yang dikeritik. Seolah dia bagian dari yang sedang dia kritik. Educated People. Siapapun yang melihat video itu mengatakan dia adalah seorang “sangat terdidik” dan menghayati ajaran agama yang dia yakini. Pantaslah seorang Dahlan Iskan, yang telah malang melintang di dunia pers, bisnis dan akhirnya menjadi birokrat, menyebutnya The New Hope.  

Tuan Guru, Dr KH Zainul Majdi. Itulah namanya. Dia lebih sering dipanggil Tuan Guru Bajang. Beberapa kali tergores dalam hati. Saya akan mengunjungi beliau di NTB. Dia seorang Gubernur di NTB, provinsi menjadi tujuan wisata setelah Bali. 

Dua hari lalu, di sosmed, bertaburan berita di media online TGB dilecehkan oleh seorang belia kelahiran tahun 1991. Status mahasiswa. Membaca kronologisnya bukanlah sebuah kesalahan besar. Ini salah paham saja. Seharusnya Steven Hadisurya Sulistyo (SHS), cukup tersenyum setelah mengetahui TGB hanya pisah sebentar dengan istrinya yang masih dalam jalur antrian. TGB bergabung kembali. Tetapi apa yang terjadi ungkapan aneh yang keluar. “Dasar Indo, Dasar Indonesia, Dasar Pribumi, Tiko!” Setelah mengetahui Tiko itu artinya tikus kotor, atau arti lain Ti adalah Babi, Ko adalah Anjing,  saya belum percaya berita itu.  Bangkali hoax.  Rupanya bergulir, viral. Ungkapan “Dasar Indo, Dasar Indonesia, Dasar Pribumi, Tiko!” ini ungkapan RASIS. Di negeri yang pernah terkenal RASIS pun, ungkapan semacam itu hampir tak pernah kita dengar. Apa lagi ditujukan pada seorang yang lebih tua bersama istrinya.  TGB bukan sembarang, dia Hafizd Quran, dia ahli Tafsir, dia Ulama, dia Gubernur, dia juga pemimpin yang sangat disegani.  Dia seorang DOKTOR dari Al Azhar. Presiden RI saja mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan pidato KH Zainul Majdi. 

Umpatan semacam ini tak biasa. Menggores dalam. Hati kami terluka. Sebagai pendidik saya mendidik juga banyak “Steven”, kami asuh mereka bagaikan anak kami. Menjadikan anak akademik yang sadar akan kebangsaan.  Dari mana asal RASIS semacam itu. Perlu dicurigai, ungkapan spontan SHS itu hasil minimnya interaksi dengan yang lain. Berada di Indonesia tetapi tak pernah bergaul dengan anak-anak Indonesia pada umumnya. Sekolah, rumah, pergaulan keseharian, perguruan tinggi tetap dengan sesama. Mereka merasa beda, dalam istilah SHS, kami bukan pribumi, kamu pribumi. Ungkapan spontan SHS seperti telah terpatri betul dalam alam bawah sadarnya. Ini celaka. Dia memandang rendah bangsanya  sendiri. Rupanya SHS bukalah sendirian. Ada juga grombolan yang lain yang dengan mudahnya menyebut TIKO. Ini dialami oleh Zakaria Ansori (hakim di MA), dengan tulisannya  Saya Adalah “TIKO” Itu!. Diperolok oleh sekelompok anak muda dalam penerbangannya Pesawat SQ Boeng 777 dari Singapura ke Jakarta. Mashaallah. Begitu mudahnya melecehkan warga pribumi Indonesia dengan kata-kata Indon, dasar Indonesia, dasar Pribumi.  Jangan-jangan anak-anak belia ini belum sadar kelas menengah Indonesia sudah cukup banyak. Ribuan sudah yang masih sangat muda belia memiliki gelar PhD di luar negeri dan berkarya untuk umat manusia dalam bidang Sains dan Teknologi. Kalau tak tahu, yah mereka selalu merasa hebat.  Mendapat kesan engkau memang hebat dilingkungan yang sangat terbatas. Ini berbahaya. Ini betul-betul harus diSTOP. 

Warning!!!

Kejadian yang dialami Tuan Guru Bajang (TGB), haruslah mendapat perhatian dari semua kalangan. Jadikan pelajaran yang berharga untuk bangsa ini. Khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. Sepertinya ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Sekolah-sekolah EXCLUSIVE perlu dievaluasi dengan tegas. Masihkah perlu sekolah semacam itu?? Atau perlu ada assimilasi? Gunakan instrumen yang tepat untuk meninjau ulang pendidikan dasar, dan menengah kita.  Selain itu pihak warga keturunan mohon tak lagi menyebut pribumi. Kita sudah lama meninggalkan sebutan nonpribumi dan pribumi.  Semoga…..
Muhammad Nur,

Fisikawan, Universitas Diponegoro

Read Full Post »

Bersabarlah

Dari om Rizal Alamsjah:

#muhasabah
Menurut keterangan beberapa sumber, 

kata SABAR di Al Qur’an disebut 103 kali 
Hal tersebut menunjukkan bahwa sikap sabar merupakan elemen yang sangat penting bagi manusia dalam menghadapi segala bentuk kehidupan untuk tetap beriman, taat dan tawakal serta selalu berprasangka baik terhadap ketetapan Allah 
Hikmah sabar juga mengandung essensi sikap untuk mengevaluasi diri, memikirkan upaya-upaya perbaikan

bahkan menguatkan kembali langkah-langkah ke depan 
Bismillah…

Read Full Post »

Dari grup WA Taklim Laskar (Nurul). Maasya Allah bagus sekali.

Hafalkan Meski Tidak Hafal-hafal

Tetap “ISTIQAMAH” menghafal, meskipun TAK HAFAL-HAFAL, barangkali lewat pintu itu, Allah Ingin memberikan banyak karunia-Nya… 

Satu huruf Al-Qur’an satu kebaikan, dan satu kebaikan 10 pahala. Bagi yang kesulitan melafalkan, satu hurufnya dua kebaikan. Berarti setiap hurufnya 20 pahala. Semakin sulit semakin banyak. Kalikan dengan jumlah pengulangan anda.

Al-Qur’an, seluruhnya, adalah kebaikan. Menghafal tak hafal-hafal berarti Anda berlama-lama dalam kebaikan. Semakin lama semakin baik. Bukankah anda menghafal untuk mencari kebaikan.

Ketika Anda menghafal Al-Qur’an, berarti Anda sudah punya niat yang kuat. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam menyebut 70 syuhada’ dalam tragedi sumur Ma’unah sebagai qari (hafizh), padahal hafalan mereka belum semua. Ini karena seandainya mereka masih hidup, mereka akan terus menghafal. Jadi, meski Anda menghafal tak hafal-hafal, Anda adalah hafizh selama tak berhenti menghafal. Bukankah hafizh yang sebenarnya di akhirat?

Menghafal Al-Qur’an ibarat masuk ke sebuah taman yang indah. Mestinya anda betah, bukan ingin buru-buru keluar. Menghafal tak hafal-hafal adalah cara Allah memuaskan anda menikmati taman itu. Terseyumlah.

Ketika anda menghafal Al-Quran, meski tak hafal-hafal, maka dapat dipastikan, paling tidak, selama menghafal, mata Anda, telinga Anda, dan lisan Anda tidak sedang melakukan maksiat. Semakin lama durasinya, semakin bersih.

Memegang mushaf adalah kemuliaan, dan melihatnya adalah kesejukan. Anda sudah mendapatkan hal itu saat menghafal kendati tak hafal-hafal.

Adakalanya kita banyak dosa. Baik yang terasa maupun tak terasa. Dan menghafal tak hafal-hafal adalah kifaratnya, di mana, barangkali, tidak ada kifarat lain kecuali itu.

Tak hafal-hafal adakalanya karena Allah sangat cinta kepada kita. Allah tak memberikan ayat-ayat-Nya sampai kita benar-benar layak dicintai-Nya. Jika kita tidak senang dengan keadaan seperti ini, maka kepada siapa sebenarnya selama ini kita mencintai. Ini yang disebut: Dikangenin ayat.

Menghafal tak hafal-hafal tentu melelahkan. Inilah lelah yang memuaskan, karena setiap lelahnya dicatat sebagai amal sholeh. Semakin lelah semakin sholeh.

Menghafal tak hafal-hafal, tandanya anda di pintu hidayah. Tandanya jauh dari nafsu. Jauh dari nafsu tandanya dekat dengan ikhlas. Dan ikhlas lahirkan mujahadah yang hebat.                                                              Istiqamah… Istiqamah dan terus ISTIQAMAH… Itulah jalan kemuliaan.

Baarakallahu fiikum..

Smoga jadi Nutrisi.

Read Full Post »

Mungkin ini sekedar catatan diri terkait perjalanan saya memburu kajian sunnah dengan mengikutinya secara langsung, bukan melalui radio atau live streaming. Memang harus saya akui bahwa saya tergolong malas untuk mengikuti kajian di masjid-masjid kecuali yang secara rutin dijalankan oleh SKI (Satuan Kerohanian Islam) PT Indosat yang pada dasarnya sudah sering saya ikuti sejak tahun 2008 yang lalu karena saya ada proyek pekerjaan di sana. Namun itupun hanya pendek karena biasanya memanfaatkan waktu bada Dzuhur di mushalla lantai 23 dan selesai jam 13:00 karena jamaahnya kembali bekerja. Kemudian saya ada beberapa kali ikut acara di Masjid Nurul Iman, Blok M Square yang saya hadiri karena adanya flyer kajian, misalnya pada 30 November 2014 ada kajian “Dimana Allah?” oleh ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc. yang diorganisir oleh The Strangers. Namun sporadis saja dan tak ada jadwal khusus. Saya tidak ingat lagi setelah itu ada kajian apa lagi yang saya ikuti di masjid Nurul Iman. Memang saya hanya fokus di masjid Nurul Iman karena memang saya suka Blok M Square dimana saat itu ada parkir khusus sepeda di depan lobby. Sayang parkir sepeda di Blok M Square sudah tidak ada lagi sekarang sehingga mengurangi keindahan tempat ini bagi saya pribadi. Yang tak kalah pentingnya di lantai Basement mall ini ada pelapak buku yang cukup banyak dan hampir menempati 1/3 lantai termasuk ada beberapa pelapak yang mengkhususkan pada penjualan buku-buku Islam.
Screenshot 2017-03-19 16.08.19

Mulai Agustus 2016 saya mulai agak rajin mengunjungi masjid Nurul Iman karena saya mulai mengamati bahwa masjid ini konsisten menyajikan kajian-kajian sunnah atau ada yang biasa menyebut dengan kajian salaf. Saya merasa cocok dengan kajian-kajian yang diselenggarakan karena memang yang diajarkan murni sunnah Rasul seperti yang dicontohkan oleh nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ditambahi maupun dikurangi. Semua dalil yang digunakan adalah yang shahih saja. Maasya Allah. Tak hanya kajiannya menarik, masjid ini menjalankan sunnah juga pada saat mendirikan shalat fardhu BMW (berjamaah di masjid pada waktunya) dimana:

  • pada saat Dzuhur ada jeda cukup panjang antara adzan ke iqomah sehingga memungkinkan jamaah shalat qobliyah Dzuhur 2×2 rakaat menurut anjuran yang paling afdhol dari Rasulullah;
  • imam shalatnya membaca ayat-ayat Al Quran dengan tartil dan enak sekali di teling dan hati, rasanya sejuk mendengarkan lafaz imam;
  • setelah shalat tak ada doa bersama yang dipimpin oleh imam sehingga masing-masing jamaah bisa bebas berdzikir dan berdoa menurut cara masing-masing karena memang tak ada contoh Rasul bahwa setelah shalat fardhu ada doa terpimpin dengan suara keras.

Beberapa hal tersebutlah membuat saya terpikat dengan masjid Nurul Iman. Di Jakarta ini menurut hemat saya sangat jarang ada masjid yang menyajikan ketenangan luar biasa untuk menjalankan shalat.
Beberapa faktor tersebut plus kualitas kajian sunnah yang diselenggarakan oleh masjid membuat saya semakin menetapkan hati untuk rajin mengunjungi masjid ini sekurangnya tiga kali dalam sepekan, yaitu hari Rabu bada Maghrib sampai dengan bada Isya ketika ustadz Khalid Basalamah (KH-B) membahas kitab Al-Kaba’ir karya imam Dzahabi (76 Dosa Besar Yang Dianggap Biasa), setiap Sabtu (dari jam 9:00 sampai dengan bada Ashar) digelar dua atau tiga sesi kajian dengan ustadz salaf yang berbeda dan hari Ahad biasanya digelar dua sesi kajian dari jam 9:00 sampai dengan 15:00. Menyenangkan sekali mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan oleh masjid ini.

Kadangkala saya juga mengikuti kajian di masjid lainnya misalnya di masjid AL Azhar setiap Rabu bada Isya dimana dulu ada ustadz Subhan Bawazier atau bahkan ustadz Badrusalam juga pernah mengisi. Namun karena waktunya bersamaan dengan ustadz KH-B di masjid Nurul Iman, saya menjadi lebih sering mengikuti ustadz KH-B. Kemarin (18/03) saya mengikuti kajian ustadz Badrusalam di masjid Nurul Hidayah, Bintaro, Tanah Kusir namun siangnya saya mengikuti kajian di masjid Nurul Iman mulai dari bada Dzuhur sampai dengan bada Ashar (ada dua sesi kajian). Bila saya berhalangan mengikuti kajian ustadz KH-B, saya mengikuti live treaming (rekaman) setelah acara selesai.

Perburuan Menyenangkan

Banyak sekali manfaat saya peroleh dengan mengikuti serangkaian kajian sunnah, baik hadir langsung di masjid maupun kadang melalui youtube atau Radio Rodja, termasuk diantaranya:

  1. Menyadari begitu banyak ilmu akhirat yang belum saya ketahui sehingga membuat saya semakin penasaran memburui lagi kajian selanjutnya bahkan yang diselenggarakan secara berseri. Ustadz KH-B misalnya, membahas dosa besar satu persatu dari Kitab Al-Kaba’ir sehingga setiap Rabu malam kita tahu apa yang akan beliau bahas. Bagusnya kajian ustadz KH-B berbasis dari buku sehingga jamaah bisa membaca sebelum hadir di kajian. Bahkan di masjid Al Ikhlas (Karang Tengah) ustadz KH-B membahas kitab Minhajul Muslim dari mukadimmah dan kemudian pasal demi pasal beliau bahas. Saya hanya mengikuti via youtube saja karena belum ada kesempatan hadir langsung.
  2. Menambah semangat (ghirah) mengikuti kajian belajar ilmu (thalabul ilmi) sunnah yang lurus karena jamaahnya begitu membludak bahkan di Nurul Iman bisa sekitar 4-5 ribu jamaah. Melihat semangat sudara-saudara seiman ini membuat saya terkadang minder karena banyak anak muda yang begitu fasih bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh ustadz KH-B, misalnya. Teringat riwayat Imam Hasan Basri yang berpikiran positif melihat anak muda hadir di kajian: luar biasa masih muda sudah soleh dan tentunya semakin hari semakin soleh. Juga dalam kajian ada yang sudah berumur dan saatnya mengagumi beliau-beliau ini sampai usia tua masih rajin menuntut ilmu pasti jauh lebih soleh dari saya sendiri. Maasya Allah. Tak jarang peserta kajian hadir dari kota selain Jakarta.
  3. Belajar ilmu akhirat seperti kuliah. Ini yang diajarkan oleh ustadz KH-B bahwa sebaiknya kita menyusun jadwal seperti mahasiswa kuliah, misalnya setiap Senin baca Minhajul Muslim 2 jam, Selasa baca Al-Kaba’ir 2 jam, Rabu baca Bulughul Maram 2 jam. Kamis membaca Kisah Sahabat Rasulullah 2 jam dan seterusnya sampai kita banyak memahami ajaran-ajaran Islam yang benar. Maasya Allah …nasehat ini sungguh sangat bermanfaat. Kenapa tidak membuat jadwal kuliah? Bukankah menuntut ilmu akhirat sejatinya lebih utama bagi seorang muslim daripada menuntut ilmu dunia? (Dosa ke 35: Menuntut Ilmu Hanya Untuk Dunia dan Menyembunyikan Ilmu – Kitab Al-Kaba’ir).

Bertambah Teman

Qadarullah, dengan mengikuti kajian sunnah saya bisa mendapatkan banyak tambahan teman baru. Hal ini penting karena kesolehan itu perlu dibangun dengan berteman dengan orang-orang soleh sehingga kita tak mudah terpengaruh dengan fitnah dunia yang semakin hari semakin gencar. Teman-teman saya yang dulu sama-sama menyukai musik, sudah mulai banyak yang hijrah mengikuti kajian sunnah. Alhamdulillah. Semoga Allah merahmati mereka dan menjaganya agar selalu istiqomah. Kami sering bertemu setelah kajian usai, membahas kajian yang baru saja kami pelajari bersama untuk saling menguatkan iman. NGOPI (ngobrol perkara iman) disertai seduhan kopi beneran. Rasanya nikmat, duduk bersama ngomongin Allah dan Rasul.
Tak hanya teman penggemar musik, saya bertambah temen penjual buku di Basement yang akhirnya menjadi langganan saya. Pertama, mereka faham isi buku yang mereka jual dan bisa memberikan review singkat. Maasya Allah …mereka ini faham sekali ilmu ahlussunnah wal jamaah sehingga saya merasa tercerahkan ketika duduk sambil ngopi di lapak-lapak penjual buku di basement ini. Kedua, harga mereka miring sekali dan rasanya harga bukunya sama dengan yang ditawarkan di Islamic Book Fair yang setiap tahun diselenggarakan. Bahkan sering saya pesen dulu dan kemudian kalau ada kajian saya tinggal bayar dan ambil. Contohnya, kemarin saya ambil buku Fikih Sirah Nabawiyah yang digunakan oleh ustadz Syafiq Reza Basalamah dalam kajian di youtube yang saya ikuti. Saya langsung pesen dan ambil kemarin (18/03). Maasya Allah ternyata buku ini bagus sekali dan disusun oleh penulisnya dalam kurun waktu 10 tahun. Betapa seriusnya ia menyusun buku indah ini.

KESIMPULAN

Mari kita ikuti kajian-kajian ahlussunnah wal jamaah dengan seksama dan istiqomah karena selain penting, ternyata membuat hati senang dan tenang. Yang paling penting mungkin adalah kita menjadi lebih bersemangat lagi belajar ilmu akhirat yang selama ini (saya) nomor-duakan dan lebih mementingkan buku-buku bisnis dan manajemen yang pada dasarnya berorientasi dunia.

Monggo ikut kajian sunnah ….!

Read Full Post »

Older Posts »