Feeds:
Posts
Comments

[ VIDEO ] Buya Yahya : “Pesan untuk yang benci Arab”

Menurut Buya Yahya, kebencian terhadap Arab sengaja dipropagandakan oleh orang jahat untuk menjauhkan dari kecintaan kepada Nabi Muhammad. Sehingga mereka membuat istilah Islam Arab dan Islam Nusantara.

Mereka membuat propaganda seolah segala sesuatu yang buruk di Arab adalah Islam Arab. Sehingga Islam Arab perlu ditinggalkan.

“Sekarang kebencian terhadap Arab dimunculkan oleh orang-orang pusing. Mereka selalu mempersatukan kulit hitam dan kulit putih tapi giliran orang Arab harus dibenci” kata Buya Yahya.

“Siapa yang menghina sunnah Nabi itu Nifaq, maka awas jangan benci sesuatu yang ada kaitannya dengan Nabi. Jangan benci cara berpakaiannya, cara makannya, cara minumnya, dll ”

“Siapa yang mengatakan orang-orang pinter tidak berjenggot ketahuilah bahwa manusia paling pintar dan mulia Nabi Muhammad SAW berjenggot”

Rasulullah SAW bersabda kepada Salman yang maknanya: “Ya Salman, jangan kau membenciku sehingga kau meninggalkan agamamu”. Salman menjawab “Ya Rasulullah karena Engkaulah aku mendapatkan hidayah, bagaimana aku akan membencimu? “.
Rasulullah menjawab, “bila engkau membenci Arab”
(HR. Hakim & Imam Tirmidzi)

Banyak Riwayat yang berbicara tentang keutamaan Arab.

“Kita tahu ada Abu Jahal di Arab tapi jangan Abu Jahal yang dibawakan supaya Umat membenci Arab.
Kita juga tahu ada Imam Syafi’i di Mesir tapi jangan orang-orang Mesir diidentikan dengan Fir’aun. Memang di Arab ada kekafiran, tapi jangan itu yang dibawakan ke masyarakat”.

“Ketahuilah bahwa yang membawa Islam Ke Indonesia adalah para Ahlulbait dari Hadramaut dan mereka orang Arab”

Advertisements

PANTAS MEREKA TAKUT

Ditulis oleh Budi Ashari, Lc.

Anak-anak muda yang membahayakan. Para teroris hadir. Sel-sel baru bermunculan. Pengajian-pengajian sumbernya. Masjid pusatnya. Terutama masjid sekolah-sekolah dan kampus. Kumpulan mereka perlu diwaspadai dan diawasi.

Lihatlah pola yang menggiring secara bertahap tapi pasti.Hasilnya sangat terlihat. Para orangtua banyak yang khawatir begitu melihat anaknya berubah menjadi baik. Seorang ibu ketakutan saat melihat anaknya liburan dari pesantrennya, karena melihat pakaian putrinya itu sangat rapi menutup aurat sesuai syariat Islam. “Apa anak saya sudah kerasukan pemikiran radikal?”

Efek buruk dan jahat ini merasuki otak dan hati para orangtua tanpa disadari. Dan anehnya, para orangtua lebih nyaman melihat anaknya bergaul tanpa batas. Itulah yang dianggap wajar. Mereka senang melihat anaknya menghabiskan waktu untuk melamun, karena dianggapnya sedang puber. Aneh…

Dan akhirnya para orangtua tanpa disadari memberi ‘wejangan’, “Hati-hati kalau ngaji di masjid.” Anak-anak muda yang rumit memilah jenis pengajian, akhirnya memutuskan untuk duduk-duduk di kafe, nongkrong di jalanan, bahkan tempat-tempat dosa. Dan mereka pun jauh dari masjid.

Luar biasa bukan…rencana jahat menjauhkan generasi muda dari masjid. Karena mereka sadar, tapi kita tidak sadar. Mereka tahu, tapi kita tidak tahu. Mereka membaca sejarahnya, kita tidak. Bahwa kebangkitan Islam itu berawal dari kebangkitan anak-anak mudanya.

Dengarkan penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menjelaskan tentang kata: Fityah (pemuda), dalam Surat Al Kahfi,

“…Untuk itulah kebanyakan yang menyambut (seruan) Allah dan Rasul Nya shallallahu alaihi wasallam adalah pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quraisy, kebanyakan mereka tetap bertahan dalam agama mereka dan tidak masuk Islam kecuali sedikit saja.”

Untuk lebih menjelaskan kalimat tersebut, mari kita baca tulisan DR. Mahmud Muhammad ‘Imaroh, Dosen Universitas Al Azhar Mesir. Beliau menuliskan data usia mereka yang masuk Islam di masa dakwah rahasia Nabi (sepanjang 3 tahun), dalam buku beliau Khawatir wa taammulat fis sirotin nabawiyyah, h. 125-129. Beliau mengambilnya dari dari Majalah Al Wa’yu Al Islamy, Edisi 77. Perlu diingat di awal, jika ada perbedaan tentang usia dalam buku-buku siroh adalah merupakan hal yang wajar. Di sini dinukilkan apa adanya dari buku tersebut:
1. Ali bin Abi Thalib 8 tahun
2. Zubair bin Awwam 8 tahun
3. Thalhah bin Ubaidillah 12 tahun
4. Arqam bin Abil Arqam 12 tahun
5. Abdullah bin Mas’ud Menjelang 15 tahun
6. Said bin Zaid Belum 20 tahun
7. Saad bin Abi Waqqash 17 tahun
8. Mas’ud bin Rabi’ah 17 tahun
9. Ja’far bin Abi Thalib 18 tahun
10. Shuhaib Ar Rumi belum 20 tahun
11. Zaid binHaritsah menjelang 20 tahun
12. Utsman bin Affan sekitar 20 tahun
13. Thulaib bin Umair sekitar 20 tahun
14. Khabbab bin Art sekitar 20 tahun
15. Amir bin Fuhairoh 23 tahun
16. Mush’ab bin Umair 24 tahun
17. Miqdad bin Aswad 24 tahun
18. Abdullah bin Jahsy 25 tahun
19. Umar bin Khattab 26 tahun
20. Abu Ubaidah bin Jarrah 27 tahun
21. Utbah bin Ghazwan 27 tahun
22. Abu Hudzaifah bin Utbah sekitar 30 tahun
23. Bilal bin Rabah sekitar 30 tahun
24. Khalid bin Said sekitar 30 tahun
25. Amr bin Said sekitar 30 tahun
26. Ayyasy bin Abi Rabi’ah sekitar 30 tahun
27. Amir bin Rabi’ah sekitar 30 tahun
28. Nu’aim bin Abdillah sekitar 30 tahun
29. Utsman bin Madz’un sekitar 30 tahun
30. Abdullah bin Madz’un 17 tahun
31. Qudama bin Madz’un 19 tahun
32. Saib bin Madz’un sekitar 10 tahun
33. Abu Salamah bin Abdul Asad sekitar 30 tahun
34. Abdurahman bin Auf sekitar 30 tahun
35. Ammar bin Yasir antara 30-40 tahun
36. Abu Bakar 37 tahun
37. Hamzah bin Abdul Muthalib 42 tahun
38. Ubaidah bin Harits 50 tahun
39. Amir bin Abi Waqqash masuk Islam setelah urutan orang ke-10
40. As Sail bin Utsman syahid di perang Yamamah (11 H) umurnya masih 30 tahun
Dan ini kalimat DR. Mahmud Muhammad ‘Imaroh,

Walau Quraisy terus menerus melakukan teror dan intimidasi terhadap orang-orang lemah..tetapi anak-anak muda itu justru mengumumkan keislaman mereka, dengan konsekuensi yang sedang menanti mereka berupa kesulitan hidup…dan terkadang harus mati!

Deretan angka-angka di atas menunjukkan kebenaran kalimat Ibnu Katsir bahwa kebesaran Islam ini lebih banyak ditopang oleh anak-anak muda.

Sebenarnya, skenario menjauhkan cara pandang yang benar terhadap generasi muda bukan hanya dilakukan sekarang dengan pola seperti ini. Berbagai cara dan pola telah lama mereka laksanakan.Mereka menyusupkan dengan perlahan tapi pasti berbagai teori racun. Targetnya jelas: menjauhkan anak-anak muda dari kebaikan mereka dan masjid mereka.

Seperti berbagai penelitian yang menyampaikan bahwa remaja adalah usia kerusakan, kegundahan, keguncangan, krisis, kenakalan. Pelajaran ini benar-benar tertanam pada orangtua. Sehingga, lagi-lagi mereka meyakini bahwa remaja harus melalui semua masalah itu. Jika ada anaknya yang baik-baik saja dan tidak melalui kekacauan itu, orangtua akan berkata, “Apa anak saya tidak normal ya?”

Lihatlah sebuah skenario besar dalam rentang puluhan bahkan ratusan tahun. Dan mereka berhasil meracuni pemikiran para pendidik dan orangtua muslim.
Padahal pemuda begitu positif dalam bahasa ayat, hadits dan ulama. Sehingga perlu sebuah upaya besar untuk membalik cara pandang tersebut sekaligus memberi obat dari masalah yang dihadapi oleh para pemuda kita.

Pemuda adalah kekuatan, inspirasi, kreatifitas, ledakan ruhiyah, ketegaran, kesegaran, enerjik, karya besar dan penopang peradaban Islam.

Pantas mereka takut ..

Ayoo rekrut, bina, berdayakan.

#IslamRahmatanLilAlamin
#Waspada2019

*DAHSYATNYA CINTA DAN KESETIAAN*
_Sebuah Elegi dari Kisah Nyata_

Sebelum Nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul, Abul Ash bin Rabi’ menghadap beliau.
“Saya ingin menikahi Zainab, putri sulung Anda”
Sebuah contoh kesantunan dan tatakrama.

Nabi Muhammad saw. menjawab, “Aku tak mau melakukannya sebelum meminta izin padanya”. Sesuai syariat yang nanti akan diwahyukan kepadanya.

Nabi saw. menyampaikannya pada Zainab. “Anak pamanmu mendatangiku dan menyebut-nyebut namamu. Apakah engkau rela ia menjadi suamimu?”

Wajahnya memerah dan ia tersenyum. Malu-malu.

Nabi saw. kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Bermulalah dahsyatnya sebuah kisah cinta. Dari pernikahan berkah ini lahirlah Ali dan Umamah.

Tiba masanya muncul sebuah masalah baru.

Yaitu, terkait diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah. Saat itu Abul Ash sedang bepergian beberapa saat lamanya. Ketika ia kembali, Zainab sudah memeluk Islam dan mengimani risalah yg dibawa ayahnya. Abul Ash pun mengetahuinya.
Zainab berkata, “Aku punya sebuah berita besar untukmu”.

Abul Ash berdiri, lalu meninggalkan Zainab.
Zainab mengejarnya, kemudian ia berkata:
“Ayahku diutus sebagai nabi dan aku telah memeluk Islam.”

Abul Ash menjawab, “Bagaimana sikapmu? Beritahu aku!”

Zainab menimpali, “Aku takkan mendustakan ayahku. Karena ia bukan pendusta. Ia adalah orang jujur dan sangat dipercaya. Bukan hanya aku yang berislam kepadanya. Ibuku dan saudara-saudaraku juga melakukannya. Ali bin Abi Thalib sepupuku juga beriman. Anak bibimu, Usman bin Affan juga memeluk Islam. Sahabatmu Abu Bakar juga menyatakan Islam”.

Kalau Aku…. kata Abul Ash.
“Aku tak mau nanti orang-orang mengatakan Abul Ash menghinakan kaumnya, kafir dengan nenek moyangnya demi istrinya. Ayahmu pasti akan tertuduh. Mohon maaf. Hargailah sikapku?”
Sebuah dialog cinta yang jauh dari memperturutkan ego dan gengsi.

Zainab tersenyum, “Jika bukan aku, siapa lagi yang akan memaklumimu? Tapi suamiku, aku adalah istrimu. Aku ingin membantumu dalam kebaikan hingga engkau bisa memutuskannya dengan benar.”

Zainab membuktikan kata-katanya selama 20 tahun. Ia bersabar. Setia dengan cintanya. Setia dengan akidahnya.

Abul Ash tetap berada dalam sikapnya. Hingga sampailah saat hijrah nabawi. Zainab menghadap ayahnya.

“Ya Rasulallah, mohon izin aku ingin menetap bersama suamiku.” Bukti cintanya yang sangat dalam. Dan Nabi saw mengizinkannya dengan penuh sayang.

Zainab menetap di Mekah. Saat terjadi Perang Badar, suaminya memutuskan bergabung berperang bersama pasukan Quraisy. Menarget Nabi Muhammad dan kaum muslimin.
Suaminya memerangi ayahnya.

Bermalam-malam ia menangis dan merintih, tenggelam dalam duka. Ia panjatkan doa dan bermunajat penuh kepasrahan.

“Ya Allah… aku takut jika setiap matahari terbit akan menerima kenyataan bahwa anakku menjadi yatim atau aku kehilangan ayahku…”

Abul Ash bertempur masih dengan keyakinanya. Meski ia sendiri tak benar-benar yakin akan sikapnya.
Usailah pertempuran Badar. Abul Ash tertawan. Beritanya sampai ke Mekah.

Dengan penuh cemas ia menanyakan tentang kabar ayahnya
“Kaum Muslimin menang” ia mendapat kabar demikian.
Ia bersujud pada Allah, mensyukuri karunia-Nya.
Ia juga bertanya berita tentang suaminya.

Mereka menjawab, “Ia ditawan oleh mertuanya.”
Ia bergegas ingin menebus suaminya. Ia kirimkan kalung perhiasan.
Ia tak punya apa2 yang berharga selain perhiasan dari ibunya yang ia kenakan. Perhiasan yang selalu melekat di dadanya. Kalung itu kemudian dibawa saudara kandung Abul Ash menghadap Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw terhenyak ketika melihat kalung istrinya, Khadijah yg sangat dikenalnya.

“Tebusan siapa ini?”

“Tebusan Abul Ash bin Rabi`”

Ada tetesan air mengalir dari pelupuk mata beliau, seraya berbisik pelan, ”Ini adalah kalung Khadijah.” Sebuah ungkapan kesetiaan yang terpatri dalam hati. Tak luntur meski jasad pemiliknya sudah bertahun-tahun terpendam dalam tanah.
Beliau kemudian berdiri dan berkata, “Wahai manusia… Lelaki ini tidak aku cela sebagai menantu.”
Sebuah narasi pengakuan dan sikap adil yang nyata.

“Mengapa kalian tak bebaskan ia dari tawanan? Mengapa kalian tak mengembalikan kalung tebusannya kepada Zainab?”

Para sahabat menjawab , “Labbaik, wahai Rasulullah”
Kesantunan dan ketaatan tertulis dalam sejarah.

Nabi saw kemudian memberikan kalung tersebut kepada Abul Ash dan berkata, “Sampaikan kepada Zainab agar jangan mengabaikan kalung Ibunya, Khadijah.” Sebuah pesan cinta dan kesetiaan yang dahsyat.

Nabi saw. berkata, “Wahai Abul Ash aku sampaikan sebuah rahasia.”
Kemudian Abul Ash mendekati Rasulullah saw.

“Wahai Abul Ash. Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan kepadaku untuk memisahkan antara perempuan muslimah dan orang kafir. Maka, kembalikanlah putriku kepadaku!”

Dengan penuh penghormatan Abil Ash berkata, “Siap. Aku akan melakukannya!”

Zainab keluar rumah menuju gerbang kota Mekah hendak menyambut jantung hatinya. Sabar ia tunggu kedatangan suaminya.
Abul Ash terlihat. Tak lama kemudian ia mendekat. Suaminya membisikinya. “Aku akan pergi”

“Ke mana?” pendar mata binar Zainab kembali meredup
“Bukan aku, tapi Engkau yg pergi. Aku berjanji menyerahkanmu pada ayahmu!”
“Mengapa?”
“Untuk memisahkan antara aku dan dirimu. Kembalilah pada ayahmu!”
Abul Ash menepati janjinya.

“Mengapa engkau tak membersamaiku saja. Masuklah Islam” Zainab membujuk penuh harap, penuh cinta.

Dan Abul Ash tetap pada pendiriannya. Zainab pun meninggalkan Mekah. Meninggalkan suaminya. Menaati perintah Allah dan ayahnya. Ia hijrah ke Madinah membawa anak-anaknya.
Sejak saat itu, selama 6 tahun silih berganti para lelaki melamarnya. Namun, Zainab tak pernah berkenan menerima. Ia tetap setia menunggu cintanya yang tertinggal di Mekah. Bersama sekeping harap agar mantan suaminya datang menghadap ayahnya dan membersamainya kembali seperti sedia kala.

Setelah tahun-tahun sulit. Menjelang terjadinya Fathu Makkah, Abul Ash sebagaimana biasa ia melakukan perjalanan, berdagang ke negeri Syam.

Dalam perjalanan pulang ke Mekah ia bersama kafilah dagang Quraisy membawa 100 ekor unta dengan 170 orang. Mereka terendus oleh pasukan mata-mata umat Islam. Mereka pun akhirnya ditawan. Namun, Abul Ash berhasil kabur, lenyap dan menghilang.

Abul Ash berlindung di balik kegelapan malam yang semakin gelap serta larut. Ia mengendap-endap memasuki kota Madinah. Bersembunyi beberapa saat.

Menjelang fajar ia semakin mendekat. Rumah Zainab yang ditujunya. Inilah tsiqoh, sebuah kepercayaan.

Zainab bertanya, “Apakah Engkau datang dalam keadaan muslim?”

Abul Ash menjawab, “Bukan. Aku kabur!”

“Mengapa engkau tidak berislam saja”

“Tidak”

Abul Ash meminta jaminan dan perlindungan. Dan Zainab bersedia melindungi. Menjamin dirinya.

“Jangan takut, anak bibiku. Selamat datang wahai Abu Ali dan Abu Umamah”

Rasulullah saw. berdiri di mihrab, mengimami kaum muslimin Shalat Fajar berjamaah. Beliau mengucapkan takbiratul ihram, para makmum di belakang beliau juga bertakbir. Saat itu dari shaf jamaah perempuan, Zainab mengangkat suaranya. Ia berkata, “Aku Zainab binti Muhammad, telah memberi jaminan kepada Abul Ash, maka lindungilah dia.”

Ketika selesai shalat, Nabi Muhammad saw. menoleh kepada para jamaah dan bertanya, “Apakah kalian semua mendengar seperti yang aku dengar?”

Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.”

Nabi Muhammad saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku ada dalam genggaman-Nya. Aku tidak tahu kecuali apa yang aku dengar, seperti yang kalian dengar. Sungguh orang yang paling lemah di antara kaum muslimin telah memberi perlindungan.”

Nabi Saw berdiri menyeru, “Wahai para manusia. Sungguh terhadap lelaki ini sebagai menantu saya tidaklah mencelanya.Menantuku ini telah berbicara denganku dan ia membenarkanku, ia memberi janji dan ia menunaikan janjinya terhadapku”.

Penuh khidmat dan hening para sahabat Nabi saw mendengarkannya.

“Bila kalian setuju untuk mengembalikan hartanya dan membiarkannya pulang ke negerinya, maka ini lebih aku sukai. Tetapi bila kalian menolak, maka semua urusan kuserahkan kepada kalian, keputusan ada di tangan kalian. Saya takkan memprotesnya.”

Inilah musyawarah. Beliau tidak menggunakan otoritas kepemimpinannya.

“Kami bersedia menyerahkan kembali hartanya” para sahabat menyetujui Rasulullah saw. Dan inilah adab dan kesantunan sebagai balasan keteladanan dan tawadhu pemimpin.

Lalu Nabi Saw bersabda, “Wahai Zainab, kita telah memberi perlindungan kepada orang yang engkau beri perlindungan dan jaminan.”

Lalu Rasulullah membersamai putrinya ke rumahnya, “Wahai Zainab! Hormatilah Abul Ash. Dia itu putra bibimu, dia adalah ayah dari anak-anakmu. Tetapi jangan dekati dia, itu tidak halal bagimu.” Syariat dipraktekkan dan dipadu dengan akhlak mulia serta kasih sayang.

Zainab menganggukkan kepala, “Labbaik, wahai Rasulullah.”

Zainab menemui Abul Ash bin Rabi’ dan berkata, “Perceraian kita telah menyulitkan kita. Maukah engkau masuk Islam dan tinggal bersama kami?”
Harapan dan cinta menyatu, keluar dari bibir putri manusia termulia. Namun, Allah belum mengabulkannya.

Abul Ash mengambil hartanya dan pulang menuju Mekah. Sesampai di kota Mekah ia berkata kepada penduduk Mekah, “Wahai penduduk Mekah, terimalah harta kalian. Apakah masih ada yang kurang?”

Mereka menjawab, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu. Engkau telah menunaikan amanah dengan sangat baik.”

Abul Ash berkata, “Aku sungguh bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya.”

Bergegas, Ia pun pergi berhijrah menuju Madinah. Menjemput hidayahnya. Menyusun kembali kepingan cinta dan kesetiaannya.

Ketika waktu fajar, ia memasuki kota Madinah. Ia bergegas menghadap Nabi Saw. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kemarin Engkau memberi perlindungan kepadaku. Kini, saksikanlah aku datang dan bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.”
Abul Ash melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberi izin kepadaku untuk kembali (ruju’) kepada Zainab?”

Nabi saw. memegang pundak Abul Ash dan berkata, “Mari berjalan bersamaku.”

Beliau ke rumah Zainab, mengetuk pintu dengan penuh bahagia, “Anakku, Zainab. Ini anak bibimu datang kepadaku. Dia meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu. Bersediakah engkau?”

Maka, nampak muka Zainab kemerahan seraya tersenyum. Malu-malu. Pertanda rela, ungkapan persetujuannya.
Seisi Madinah gegap gempita, menyambut bahagia. Merayakan pertemuan cinta dan kesetiaan. Langit cerah, seputih ketulusan cinta Zainab.

Namun, ini bukan akhir sebuah kisah…
Setahun kemudian, Zainab putri Rasulullah saw. dipanggil oleh Allah. Ajalnya telah sampai.
Isak tangis kesedihan Abul Ash terdengar. Menyayat siapa saja yang mendengarnya. Para sahabat menyaksikan Rasulullah saw mengusapnya. Turut merasakan kesedihan yang mendalam. Menerima takdir Allah dengan penuh keimanan.
Suara berat Abul Ash menyeruak, “Wahai Rasulullah aku tak mampu hidup tanpa Zainab”
Dan benar, setahun kemudian ia menyusul kekasihnya. Menghadap Allah subhânahu wa ta’âlâ.
Itulah kisah tentang cinta dan kesetiaan.
Bersyukurlah, Allah telah karuniakan perempuan baik mendampingimu. Rawatlah cintanya. Ajaklah membangun istana cinta di dunia. Kelak Allah akan membalasmu dengan karunia cinta yang abadi, kesetiaan yang tak pernah luntur oleh masa.

Dialih bahasakan oleh _al-faqîr ilâ ‘afwi rabbih_
*Dr. Saiful Bahri*
dengan beberapa perubahan redaksi dan penambahan.

Sumber tulisan:
1. https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=208173 atau di tautan: https://al-maktaba.org/book/31615/34748
2. Beberapa redaksi diambil dari At-Tarikh al-Islamiy karya Mahmud Syakir, Siyar a’lâm an-Nubalâ karya Imam al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabiy.
3. Hadis jaminan Zainab kepada Abul Ash juga diriwayatkan oleh ath-Thabraniy, al-Hakim dan al-Baihaqi dari riwayat Ummu Salamah ra.

****

_Bogor, 13.07.2018_

Ringkasan catatan Tabligh Akbar di Masjid Nurul Iman, Blok M Square, 1 Dzulqo’dah (14 Juli 2018) oleh ustadz Khalid Basalamah. Karena banyak yang penting, dibuat 4 halaman:

Abu Hurairah 14Jul2018 1-4

Manaqib Abu Hurairah:

1.Menyempurnakan keislamannya dg menuntut ilmu – langsung dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam.

2.Meriwayatkan hadits dan pada masa hidupnya  ada 800 orang sahabat dan tabiin yang belajar darinya.

3.Berbakti kepada ibunya, hingga akhirnya dengan doa Rasulullah memeluk Islam.

4.Ahli ibadah,  membagi malam menjadi 3 bagian, dibantu istri & pembantunya menghidupkan malam.

5.Pernah bertemu suatu kelompok sedang membahas harta berupa hewan ternak; kemudian ia mengingat-kan mereka bahwa di padang Mahsyar nanti mereka berhadapan dengan tanduk hewan-hewan tersebut.

6.Memotivasi orang-orang yang sibuk di pasar agar kembali ke mesjid untuk mendapatkan warisan dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam.

7.Tidak ada hadits yang ia lupa.

8.Ahli zuhud,  mendahulukan akhirat dari dunia.

9.Ahli syukur, selalu mengucap “Alhamdulillah” dan “Allahu Akbar” – bertasbih 12,000 kali sehari.

10.Tersebar luasnya ilmu yang ia sampaikan termasuk jawaban dari syubhat (terutama orang Syiah) yang meragukan daya ingatnya.

Abu Hurairah 14Jul2018 2-4

Pelajaran dari Kisah Abu Hurairah:

1.Tak ada kata telat untuk belajar. Abu Hurairah masuk Islam menjelang perang Khaibar,  sudah telat dibandingkan sahabat-sahabat lainnya.

2.Bagaimana kedudukan sahabat dan pentingnya pelajarandari  mereka.  Setiap kebaikan mengikuti apa yg telah disampaikan sahabat generasi awal.

3.Keutamaan menuntut ilmu : Mendengar – Mencatat – Menghafal – Mengamalkan.

4.Pentingnya adab dalam menuntut ilmu:

1.Ikhlas hanya untuk Allah.

2.Akhlak mulia: tenang, santun, sopan, tidak tidur.

3.Menghormati ulama agar mendatangkan berkah.

4.Percaya diri,  sugesti positif — seperti Abu Hurairah

5.Menjaga syiar Islam, busana muslim, menebar salam.

6.Memahami, menulis,  menghafal,  mengamalkan.

7.Meluangkan waktu: Ilmu agama penting sekali.

8.Hindari gosip.

9.Zuhud – mengutamakan akhirat daripada dunia.

10.Menjaga diri dari lingkungan yang membuat jauh dari mejelis ilmu.

11.Menjauhi segala jenis maksiat: haram dan makruh, mengerjakan semua perintah wajib dan sunnah.

12.Menjaga kesehatan badan,  makan yang halal.

13.Menghindari … (terlewat)

14.Mencari sumber yang tepat,  jangan asal hadir majelis ilmu apalagi banyak kurafat. Seleksi guru penting.

15.Mendudukkan guru pada posisinya.

16.Menyebarluaskan ilmu dimulai dari orang2 terdekat.

Abu Hurairah 14Jul2018 3-4

ABU HURAIRAH TIDAK LUPA SATU HADITS PUN

Abu Hurairah berkata, “Aku pernah berkata kepada Rasulullah, ’Rasulullah, aku telah mendengar darimu banyak hadits, tetapi aku lupa.’ Beliau lalu bersabda, ’Hamparkanlah selendangmu.’ Aku pun menghamparkannya. Beliau (seolah) menciduk sesuatu dengan kedua tangannya, lalu bersabda, ’Dekaplah.’ Aku pun mendekap (selendangku). Sejak saat itu, aku tidak pernah lupa lagi.“ [Shahih Bukhari #119]

Abu Hurairah benar-benar membaktikan jiwa dan ingatannya yang kuat untuk menghafal hadits-hadits al-Habib.

Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya Abu Hurairah meriwa-yatkan hadits dalam jumlah banyak [semacam mempertanya-kan bagaimana bisa?], padahal Allah Taala telah memberi ancaman [atas orang yang banyak bicara dan tidak mengamalkannya]. Mereka juga mengatakan, Mengapa kaum Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan hadits seperti hadits-hadits yang diriwayatkannya?’ Sesungguhnya saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin sibuk dengan transaksi di pasar. Sementara saudaraku dari kaum Anshar sibuk dengan harta investasi mereka. Sementara aku adalah orang yang miskin yang selalu menyertai Rasulullah demi untuk mengisi perutku. Aku hadir di saat mereka absen, dan aku menangkap (pesan beliau) di saat mereka lupa. Suatu hari Nabi bersabda, “Tidak seorang diantara kalian yang membentangkan pakaiannya hingga aku menyudahi ucapanku ini, kemudian ia menggulungnya ke dadanya kecuali dia tidak akan pernah lupa dengan sesuatupun dari ucapanku selamanya.’ Demi Allah yang mengutusnya dengan kebenaran, aku tidak pernah lupa dengan ucapan beliau itu hingga hari ini. Demi Allah, andaikata bukan karena dua ayat di dalam Kitabullah ini [QS Al Baqarah 159-160], pasti aku tidak akan menceritakan sesuatu pun selama-lamanya.”

Abu Hurairah 14Jul2018 4-4

ABU HURAIRAH THE REAL MOTIVATOR

Abu Hurairah ingin agar saudara-saudaranya serius dalam menuntut ilmu dan menyampaikannya seperti yang ia lakukan, agar dakwah membuahkan hasil dan ilmu menyebar di tengah umat manusia di setiap tempat. Ia menciptakan cara-cara yang baik (menarik) dalam berdakwah kepada Allah subhanahu wa taala.

Pada suatu hari, ia melintas di pasar Madinah, lalu menemukan orang-orang sibuk dengan transaksi jual-beli, maka iapun merasa khawatir dunia telah menyambangi mereka sehingga membuat mereka menghindar dari menuntut ilmu. Maka ia berkata kepada mereka, “Alangkah lemahnya kalian, wahai penduduk Madinah!

Apa kelemahan yang engkau lihat dari kami, wahai Abu Hurairah?,” kata mereka.

Warisan Rasulullah shallallahualaihi wa sallam sedang dibagi-bagikan sementara kalian masih di sini? Tidakkah kalian pergi mengambil bagian kalian?” katanya.

Dimana warisan itu wahai Abu Hurairah?” tanya mereka

Di masjid!” jawab Abu Hurairah

Lalu secepatnya mereka pergi ke sana, sementara Abu Hurairah berdiri menyaksikan mereka hingga mereka kembali. Tatkala melihatnya, berkatalah mereka, Wahai Abu Hurairah, kami sudah datang ke masjid, namun tidak melihat sesuatu pun sedang dibagi-bagikan di sana!”

Apakah kalian tidak melihat seorangpun di dalam masjid?”

Tentu, kami melihat ada orang-orang sedang shalat, ada yang sedang membaca al-Qur’an dan ada yang saling mengevaluasi dalam masalah halal dan haram” kata mereka.

Duhai kalian. Itulah warisan Rasulullah shallallahualaihi wa sallam!” jawabnya.

 

Ringkasan Kajian Sunnah di Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Sabtu – 1 Dzulqo’dah 1439 H (14 Juli 2018) oleh ustadz Dr. Musyaffa’ Ad-Dariny, MA, Lc.

Islam untuk Nusantara 14Jul2018

Islam menghargai budaya selama tak bertentangan dengan syariat Allah. Dulu, di Arab ada budaya anak perempuan di bunuh. Islam datang menentangnya karena tidak sesuai dengan syariat Allah Taala.

Dalam kasus orang membeli barang di sebuah toko di suatu daerah, esok harinya pembeli datang ke toko menyesalkan mengapa barang belum dikirim ke pembeli. Hal seperti ini Islam melihat bagaimana kebiasaan jual-beli masyarakat. Bila mengantar barang merupakan kebiasaan di daerah tersebut maka Islam membenarkan pembeli tersebut.

Dewasa ini ada upaya membenci Arab. Padahal, Allah paling tahu siapa yang pantas menerima risalah Islam. Tanyakan kepada mereka yang membenci Arab, kemana kiblat shalatnya? Islam tidak mungkin dipisahkan dari Arab. Mencintai bangsa Arab adalah salah satu bentuk keimanan. Membencinya, bentuk kemunafikan. Apa Arab lebih afdhol? Ya. Allah sendiri yang berkehendak. Keutamaan ini berlaku secara global tapi bukan per individu. Ada orang nusantara lebih afdhol dari orang Arab pada level individu.

Islam tidak bertentangan dengan budaya maupun negara. Islam bukan ditaruh di bawah budaya, harus sebagai payung dari budaya; bukan diatur oleh budaya. “Islam untuk Nusantara” benar sekali.

Ringkasan Khutbah Jumat di masjid Darul Ilmi, TIK, Jakarta Selatan – 29 Syawwal 1439H (13 Juli 2018) oleh ustadz ….. (tidak ingat)

Khutbah Jumat - Darul Ilmi PTIK 13Jul2018

Kejujuran adalah sifat seorang mukmin yang diposisikan tinggi, diatas para syuhada,  sama dengan para ambiya. Posisinya adalah: orang jujur – syuhada – orang soleh.

Rasul melarang berbohong. Kebohongan mendatangkan ke sesuatu yg tak baik. Bila berdusta,  akan berdusta terus , maka Allah menyebabkannya selalu berdusta. Islam mengharam-kan dusta meski sedikit. Kebohongan akan ditutupi kebohongan. Allah akan menjadikan hati org tsb sebagai pendusta hingga ia tak nyaman kalau tak berdusta.

Rasul adalah orang paling jujur. Sebelum menjadi rasul, kaum Quraisy meminta beliau menjadi hakim menentukan kabilah  yang berhak memasang hajar aswad. Beliau bijak, semua kabilah gotong-royong memasang hajar aswad dengan cara membentangkan syurban yang dipegang bersama sehingga semua kabilah berkontribusi meletakkan kembali hajar aswad.

Dalam becandapun Rasul tak berdusta. Saat itu beliau mengatakan kepada seorang nenek bahwa di surga tak ada orang tua. Nenek tersebut menangis. Rasul kemudian menjelaskan bahwa di surga, setiap penghuninya oleh Allah Taala dijadikan sebagai orang-orang muda.

Dusta kepada umum: pilkada,  pemilu, misalnya, akibatnya  fatal. Kita diperintahkan jujur bahkan dalam niat: 1. Kejujuran kepada Allah, tak boleh niat melakukan yg tak baik | 2. Kejujuran dalam kata-kata | 3. Kejujuran dalam berbuat. Kisah Rasul berjual beli dengan sahabat.  Sahabat tersebut membeli dari Rasul,  uang kurang.  Dia janji esok harinya melunasi di tempat sama.  Sahabat tsb lupa  sampai 3 hari.  Rasul menunggu 3 hari di tempat yang sama, menghormati janji beliau.

 

Nemu foto ini di IG. Menarik ya, sepeda tanpa rantai …
Screenshot 2018-07-13 11.14.59