Feeds:
Posts
Comments

The so-called two-state solution is dead. The only credible proposition to deliver peace and security in the Middle East is to dismantle Israel and replace it with one unitary, de-Zionised state from the Jordan River to the Mediterranean Sea.

It’s just over a year now since the former prime minister, Sir Keir Starmer, announced the British government’s formal recognition of the state of Palestine. But his announcement was littered with caveats, including the bold claim that, “Hamas will have no role in the future of Palestine.” But that is a matter for Palestinian people to determine, not some second-rate post-colonial politician. In other words, Starmer was indulging in performative politics to give the illusion of taking action, while in reality maintaining the status quo ante.

Some have claimed that the removal of Starmer and his replacement with Andy Burnham marks a sea change in the UK’s policy toward Palestine and the Zionist colony. They point to Ed Miliband’s declaration of sanctions against illegal Zionist settlements in the territory occupied since 1967. But the reality is very different. The sanctions represent the bare minimum and will do nothing to deter Israel’s ongoing crimes against humanity. Just last week, Declassified UK revealed that the government has not cancelled any arms export licences to Israel, and the Ministry of Defence maintains contracts worth hundreds of millions of pounds with Israeli arms firms. Furthermore, just like his predecessor, Burnham still refuses to describe the slaughter of tens of thousands of Palestinians as a genocide.

The truth is there is no two-state solution. The 1993 and 1995 Oslo Accords were supposed to pave the way, but Israel reneged on the agreement signed by Yasser Arafat, Israeli Prime Minister Yitzhak Rabin, and US President Bill Clinton. The only credible and long-term resolution to this 78-year long injustice is one singular state where all citizens have equal rights. Furthermore, all the Palestinians and their descendants who have been ejected from their homes since the Nakba in 1948 must have the absolute right of return, and be awarded reparations for the injustice they suffered.

Palestine became part of the British Mandate, which was a system established by the League of Nations to administer territories formerly controlled by the Ottoman Empire, after WW1. But that didn’t give Britain the right to give away a land that didn’t belong to it, to a people who had no legitimate claim to it, at the expense of the people who lived in it. If truth be told, 31 years after the original Balfour Declaration, which promised Palestine to Zionist Jews, the Attlee Labour government surrendered to a lengthy campaign of terrorism by Zionist extremists.

The indigenous Palestinian population was twice the size of the Jewish population, but they were given a significantly smaller slice of their own country. Even that wasn’t acceptable to the Zionists. They seized more territory in 1948, then made a further land grab in 1967 and have been illegally occupying the West Bank, East Jerusalem and the Golan Heights ever since. Last year it voted by a majority of 71 to 13 to formally annexe the West Bank. In 2018 the Knesset passed the Nation-State Law that relegated non-Jewish inhabitants to second class citizens; and Israel’s Central Elections Committee has just barred Arab parties from standing in the general election.

Although Britain is mainly culpable for the catastrophe experienced by the Palestinian people, the international community also bears some responsibility because it has shamefully turned a blind eye to Israel’s crimes. They sat on their hands while Israel constructed a 9-metre-high separation wall and atomised the West Bank with 700,000 Zionist settlers to destroy the prospect of a two-state solution coming to fruition. Moreover, the UN Security Council has done nothing to enforce any of its resolutions critical of Israel.

Consequently, the only credible solution is to create one unitary democratic sovereign state, where all citizens enjoy equal voting rights, freedom of movement, access to land and resources, and protection under the same laws. Jews and Palestinians alike could maintain their cultural and religious identities within a shared civil framework. Hebrew and Arabic could be co-official languages, and both historical narratives could coexist in public discourse and education. This proposition draws inspiration from other historical precedents where outright racist regimes transitioned to democracies, such as the end of apartheid in South Africa. It was Nelson Mandela himself who said, “we know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians.”

But there is a crucially important caveat. It would be entirely wrong to expect Palestinians to live alongside the very people who have been oppressing them since the Zionist colony was created. Israelis with dual nationality would almost certainly leave, but those who remained would need to be de-Zionised because Jewish Israelis have been radicalised.

A poll published last year by the Israeli newspaper, Haaretz, found that 82% of Israeli Jews support the expulsion of the Palestinians from Gaza to other countries. And 56% support the forced expulsion of Arab citizens of Israel to other countries, too. It is clear that a dangerous derangement has gripped the Jewish Israeli population, which will have to be exorcised to secure a long-term harmonious future for a unitary state. There are clear parallels with Nazi Germany and Austria which were subjected to a denazification process after WW2 to prevent the resurgence of Nazi ideology.

Anyone who says that securing a unitary Palestinian state from the Jordan River to the Mediterranean Sea is an unattainable pipedream, should remember the words of Nelson Mandela, who said: “It always seems impossible until it’s done.”

Puisi berjudul “Hati Nurani Umat” karya Ananda terdapat pada bagian awal (halaman 1–3) buku Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak. Puisi ini ditulis khusus di Yogyakarta pada hari kelahiran Mohammad Natsir tahun 1988 sebagai persembahan dan rasa syukur atas peringatan dasa-windu (80 tahun) usia beliau.

Berikut adalah teks lengkap puisi tersebut beserta uraian makna dan isinya:

HATI NURANI UMAT

Ayah
Pada hari dasa-windumu ini
Tiada persembahan
Kecuali do’aku pada-Nya: semoga kau tetap bersama kami membimbing, mengayomi kami semoga senantiasa berada di tengah kami dengan senyummu yang sejuk
dengan nasihatmu yang bijak
dengan segala kesederhanaanmu
dengan semangat ju’angmu nan tak pernah padam

Ayah
Pada hari yang penuh kesyukuran ini
Kuingat ungkapan sahabatmu yang telah tiada ia sebut kau sebagai “hati nurani umat”
Yaa … benar kau adalah hati nurani kami !
kau adalah mata hati kami !

Ayah
Tidak kau sukai segala gelar dan tanda jasa
Semua atribut fana terbungkus rapi
dalam ikhlas amal-juangmu
Kau niatkan semuanya sebagai amal ibadahmu

Tapi ayah
Kau mesti terima yang satu ini
Karena bukan kami yang memberi bukan umatmu yang meminta
Tapi kau sendirilah yang membina
Binaan teguh akidah
khusu’ ibadah
mulia akhlak

Kau sendiri yang mengukir dalam sejarah ukiran juang nan istiqamah
ukiran kepemimpinanmu
gagasan keperjuanganmu dan ketulusikhlasanmu

Yaa… kaulah si “hati nurani umat”

Ayah
Di hari dasa-windumu ini, tiada janjiku kecuali pintaku

Kerna betapa kecil kami
Di selebar kepakan sayapmu: hati nurani umat mata hati umat !

Pintaku adalah doamu: agar kepakan sayapku mengarah ke tongkatmu menggenggam kilau sejarahmu: hati nurani umat mata hati umat !

Amin, yaa Rabbal ‘alamien

Yogyakarta, di hari kelahiranmu 1988 Ananda

Uraian dan Makna Puisi

Puisi ini menggambarkan ungkapan rasa cinta, penghormatan, dan refleksi mendalam dari generasi muda/anak kepada sosok Mohammad Natsir di usianya yang ke-80:

  1. Rasa Syukur dan Doa Pendampingan: Bait awal memanjatkan doa agar Mohammad Natsir senantiasa dianugerahi kesehatan dan umur panjang untuk terus membimbing generasi penerus dengan sikap yang sejuk, bijak, sederhana, dan penuh semangat perjuangan.
  2. Pengakuan sebagai “Hati Nurani Umat”: Bait berikutnya mengenang kembali julukan dari sahabat perjuangan Mohammad Natsir yang telah berpulang. Penulis menegaskan bahwa Natsir memang layak disebut sebagai hati nurani dan mata hati bagi umat.
  3. Ketulusan dan Keikhlasan Perjuangan: Puisi ini menyoroti kepribadian Natsir yang enggan terhadap kebesaran gelar, atribut fana, maupun tanda jasa. Segala ikhtiar perjuangannya semata-mata diniatkan sebagai amal ibadah, dengan karakter kepemimpinan yang teguh akidahnya, khusyuk ibadahnya, serta mulia akhlaknya.
  4. Harapan dan Estafet Perjuangan: Di bagian penutup, penulis merasa betapa kecilnya generasi muda jika dibandingkan dengan keteladanan dan jasa-jasa Natsir. Penulis memohon doa agar generasi penerus sanggup meneladani jejak, menggenggam semangat sejarah, dan melanjutkan kepemimpinan beliau.

Berikut adalah uraian dan poin-poin pokok dari khutbah  25/09/2026 Khutbah Jumat Masjid Al Ihsan:

1. Pembuka dan Ajakan Bersyukur

  • Syukur atas Nikmat Iman & Islam: Mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kesehatan serta nikmat terbesar, yaitu iman dan Islam yang diperkenalkan melalui Nabi Muhammad SAW.
  • Hakikat Keimanan: Keimanan memang bersifat abstrak di dalam hati, namun bukti nyatanya tercermin melalui amal perbuatan dan ketakwaan sehari-hari.

2. Tolok Ukur Keimanan (QS. Al-Anfal: 2)

Khutbah menguraikan tanda-tanda seorang mukmin sejati berdasarkan Surah Al-Anfal ayat 2:

  1. Hati Bergetar saat Mengingat Allah (Wajilat Qulubuhum):
    • Rasa Cinta & Harap: Menumbuhkan kesadaran diri sebagai hamba yang taat dan rindu untuk berjumpa dengan Allah melalui ketaatan serta rasa syukur atas setiap nikmat.
    • Rasa Takut (Khauf): Rasa takut yang mendorong seseorang untuk menjauhi dan meninggalkan kemaksiatan semata-mata karena mengharap rida Allah.
  2. Iman yang Bertambah saat Mendengar Ayat-ayat Allah:
    • Mendengarkan ayat Al-Qur’an maupun merenungkan tanda-tanda kebesaran ciptaan Allah (ayat kauniyah) membawa kedamaian, ketenteraman jiwa, dan dorongan untuk selalu bertasbih (Subhanallah).

3. Tawakal yang Benar & Menjauhi Kesombongan

  • Konsep Tawakal: Tawakal yang sejati adalah berusaha (ikhtiar) secara maksimal, memanjatkan doa, lalu menyerahkan seluruh hasil akhirnya kepada ketentuan Allah SWT.
  • Menghindari Penyakit Hati: Seorang mukmin tidak boleh menyombongkan harta, jabatan, ilmu, maupun popularitas, karena hal tersebut dapat menjerumuskan diri ke dalam dosa.

4. Dua Syarat Utama Menuju Keridaan Allah (QS. Al-Kahfi: 110)

Untuk mencapai ketenangan hidup dan kerinduan berjumpa dengan Allah, ada 2 syarat utama yang harus dipenuhi:

  1. Mengerjakan Amal Saleh (‘Amalan Shalihan): Menjaga keseimbangan yang harmonis antara hubungan kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas).
  2. Menjauhi Perbuatan Syirik (Wa Laa Yusyrik bi ‘Ibaadati Rabbihii Ahadaa): Memurnikan tauhid dan ibadah hanya kepada Allah. Tidak menggantungkan nasib, pertolongan, atau perlindungan kepada manusia, tempat keramat, maupun benda-benda tertentu.

5. Penutup

Khutbah diakhiri dengan ajakan untuk terus memupuk keimanan dan ketakwaan, serta memohon perlindungan, rahmat, dan taufik dari Allah SWT agar meraih keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Titènono!

Perjalanan dari Royal Ambarrukmo ke Sate Pak Jono Klaten siang hari itu terasa jauuuuuuuuh banget padahal tahun lalu di bulan November saya juga ke Klaten bersepeda, rasanya cepet banget, jam 7:30 sudah di Klaten. Puas saat itu, ketemu Herwinto dan Ardhana (temen 3A). Tapi ya sudah saya jalani aja di siang hari yang terik dengan mobil dikemudikan mas Damar yang selalu menemani saya ketika bertugas di Yogya sejak Senin hingga Jumat. Maturnuwun nggih mas Damar!

Rasanya lama memang perjalanan siang hari itu karena bercampur rasa bungah dan pengen cepet ketemu. Apalagi melihat di WAG sudah ada foto temen2 yang sudah datang di Griya Sakinah (hotel milik Ardhana, tempat kami menginap). Dalm hati saya bilang: TITÈNONO mengko …. aku bakal daprukan kambek awakmu mengko! Ha ha ha ….

Akhirnya …nyampe juga di Sate Pak Jono Klaten. Sebenernya sih saya masih cukup kenyang karena pagi hari sarapan bareng Herwinto, makan buah dan bubur sumsum plus eskrim. Jik mentheh-mentheh wetengku.

Alhamdulillah …akhirnya sampe juga dan karena saya membawa koper ganti baju selama 5 malam di Yogya, saya minta tolong Bagus Sudaryanto untuk membuka mobilnya, masukin koper saya di bagasinya. Bagus ini dulu tetangga saya di Jl. Sumatera Madiun. Uthek bledheg Bagus ini. Selalu juara meskipun jarang belajar. Memang dari sononya wis pinter. Luar biasa juga lho, Bagus dan istrinya (Nanik) dari Jakarta dengan mengendarai mobil menuju Madiun dan kemudian Yogya dan Klaten. Top!

Gule Pak Jono Tiada Duanya

Mak nyus kemlunyus tenan itu gule kambingnya Pak Jono. Saya jadi ingat masakan ibu saya rahimahullah saat dulu kami di Madiun. Ini gule Pak Jono persis sama, bumbu kuahnya mantab dan banyak jeroannya. Pokoknya ini gule Pak Jono is the best on Planet Earth lah! Pencinta gule, wajib hadir ke Pak Jono untuk membuktikan benar adanya gulenya top markotop kemlotop barokotop pol wis!

Meski udara siang hari tu panas, saya rasanya sejuk aja karena ketemuan sama temen2 lama dan siang itu setelah dari Sate Jono kami diajak mampir ke rumah Ardhana yang pertama, saat ini sudah tidak ditempati lagi namun di area depannya ada Indomaret. Bagus rumahnya, ada joglonya sehingga kami berfoto-ria di sini dan di depan mobil koleksinya Ardhana. Top dah!

Dari situ kami ke Griya Sakinah untuk istirohat siang dulu seblum makannya kulineran lagi … ha ha ha ….

–
GW

Bungah

Akhirnya …hari-hari yang saya nantikan itu tiba juga: Jumat, 11 September. Tentu saya BUNGAH pol karena hari ini saya akan meluncur ke Klaten bertemu dengan teme2 saya yang lucu2 ketika masih kelas 3 di SMP Negeri 1 Tahun 1975. Ya! Udah lama sekali tentunya …51 tahun. Meskipun juga bukan berarti selama rentang waktu itu kami tak pernah jumpa. Yang jelas, tahun lalu mereka sudah bertemu tahun lalu di Reuni 50 Tahun angkatan 1975 di Madiun. Mengapa “mereka”? Karena saya berhalangan hadir saat itu. Sedih. Tapi saya gak hadir pun bukan dadakan, sudah sebulan sebelumnya saya beritahu ke panitia (Edi Thing) Madiun bahwa jadwalnya gak sesuai dengan kalender saya.

Makanya hari Jumat 11/09 itu saya BUNGAH pol. Itu adalah hari terakhir saya meninggalkan Royal Ambarrukmo, tempat saya menginap di Yogya karena ada tugas untuk klien saya, PT Mega Andalan Kalasan (MAK) sejak 6 September 2026 (Ahad). Di hari terakhir, saya tidak ke fasilitas produksi MAK tapi hanya di hotel saja sejak pagi dan biasanya saya nikmati dengan sarapan pagi disambung ngupi-ngupi sambil buka laptop. Hampir setiap bulan saya menginap di hotel yang nyaman ini dan sudah seperti rumah kedua saya karena memang pelayanannya bagus, bahkan mereka selalu menyapa saya dengan menyebut nama “Selamat Pagi Pak Gatot”. Ha ha ha …saking seringnya saya menginap di sini.

Pagi itu sarapan saya standard: mulai dengan buah satu piring penuh. katanya dokter kesehatan, baiknya perut dikenyangin dengan buah dan sayuran dulu, sisanya boleh lainnya. Saya juga suka sekali jus seledri di hotel ini. Biasanya saya minum 2 gelas. Nah ….setelah itu saya sikat tuh bubur sumsumnya yang top markotop banget! Ha ha ha ….nginep hotel bintang lima kok yang dimakan bubur sumsum. Lha enak kok! Mosok gak diemplok?! Abis itu saya minta dibuatin kopi item arabica ….sambil buka laptop.

Sekitar jam 10 saya balik ke kamar dan bikin live streaming video “Level 5 Leadership” versi buku Good To Great nya Jim Collins. Buku jadul tapi pelajaran leadershipnya top markotop dah. Saya memang berjanji buat para pembelajar kepemimpinan bahwa sejak medio Juli sampai dengan December 2026 saya akan membuat video pendek 12-17 menitan membahas setapak demi setapak bagimana kita bisa menjadi Level 5 Leader! (gaya men awakmu Tot! Wong ndeso, cah Mediun wae kok gaya-gayaan nggawe pelatihan kepemimpinan koyok wong londo Jim Collins wae! Dapurmu kuwi Tot!). YO BEN! Salahmu to, kok gelem nggugu ngrungokno aku! Sopo sing salah? Awakmu! Aku mur ngomong wae owk …. ha ha ha..

Gak tanggung-tanggung loh …setiap 3 hari sekali saya harus mengisi kelas kepemimpinan meski hanya 12-17 menitan. Totalnya nanti bakal ada 55 video. Opo ra nggajak?! Cah Mediun wae kok gaya men nggawe podcast dewe ngajari uwong Level 5 Leadership! Embuh wis …. Muride Bu Salbiyah kok ra wani to?!!!!

Sekitar 12:30 mas Damar (pengemudi dari MAK) ngirm WA bahwa dia sudah standby di parkiran hotel, siap mengantarkan saya meluncur ke Klaten. Memang saya sengaja berangkat setelah beliau selesai shalat Jumat masiyo saya memanfaatkan ruksoh tidak shalat Jumat. Tepat jam 13:00 saya meluncur ke Sate Jono, Klaten! Yes, Klaten …. I’m coming! I will see you on the dark side of the moon ….he he he …

Oh …hampir lupa … Pagi itu saya sarapan gak sendirian karena saya undang teman baik saya Herwinto yang memang Piyantun Klaten, sarapan bareng saya sejak jam 7:00.

Bersama Herwinto di Royal Ambarrukmo. Konon wajah Herwinto ini mirip sama temen seangkatan di SMP 1 Madiun: Margono. Ha ha ha …

First In, First Priority

Saya membiasakan diri untuk menuliskan apa yang saya rencanakan ke dalam kalender saya yang selalu ada di HP sehingga kalau ada acara atau undangan saya selalu lihat dulu apakah ada agenda lain di kalender saya yang waktunya bertepatan. Saya gunakan Google Calendar untuk ini.

Dengan selalu menuliskan rencana saya sekurangnya dalam satu pekan ke depan ke dalam kalender, saya gak perlu banyak mikir lagi kalau ada undangan acara dari teman. Hal ini mudah karena saya berprinsip: Yang duluan masuk dalam kalender saya berarti harus lebih diprioritaskan meskipun itu sudah direncanakan jauh hari sebelumnya, sebulan atau bahkan 2-3 bulan sebelumnya.

Setiap ada acara yang saya terima, termasuk undangan pernikahan atau acara keluarga, saya lihat dulu di agenda saya apa masih kosong atau sudah isi. Kalau kosong, segera saya tuliskan meskipun mungkin boleh jadi yang mengundang juga sifatnya tentatif; biasanya saya rekonfirmasi lagi menjelang waktunya: 2-3 hari kalau janjiannya sudah 1-2 pekan sebelumnya. Bila janjiannya cukup lama (2-3 bulan) biasanya 1 pekan sebelumnya saya rekonfirmasi lagi.

Reuni 3A di Klaten

Khusus reuni temen2 SMP Negeri 1 Madiun Kelas 3A angkatan 1975, saya sudah masukkan dalam kalender sekitar 3 bulan sebelum tanggal yang disepakati temen2 yaitu 11-13 September 2026. Selama dua bulan pertama masih aman karena tidak ada yang mengadakan acara di tanggal-tanggal tersebut. Ketika masuk pertengahan Agustus, godaan acara lain mulai bermunculan. Tapi saya masih pegang prinsip FIFP: First In, First Priority. Mudah bagi saya untuk menolaknya meskipun ada dua acara yang menurut saya sangat penting juga:

  1. Acara syukuran Profesor Mustika Sufiati (Rika), temen saya satu angkatan di Teknik Industri ITB pada tanggal 13 September 2026 jam 11:00. Rika dikukuhkan sebagai profesor dari SBM ITB pada hari Sabtu 12 September 2026. Temen2 seangkatan TI 79 sudah kompak mau merayakan syukuran di esok harinya: Ahad, 13 Sep 2026 di Bandung. Yang daftar mau hadir ke Bandung banya sekali: 50+ orang Luar biasa. Saya berniat hadir juga, naik kereta dari Klaten jam 9 malam langsung ke Bandung. Tapi akhirnya saya batalkan karena “balung tuwo” rasanya gak kuat membayangkan Klaten – Bandung – Jakarta. Apalagi sebelumnya saya sudah di Yogya sejak 6 September 2026. Urung hadir.
  2. Acara reuni temen2 dari PT Gunanusa Utama Fabricators di BSD tanggal 13 September 2026 am 11:00. Jujur, saya pengen banget hadir karena Gunanusa ini member makna khusus bagi saya ketika saya diberi amanah oleh Bapak Sjafan Joesoef rahimahullah (CEO Gunanusa era 90-an awal) dan juga pengen jumpa mantan boss saya langsung Pak Darpin Manngus (FT ITB 77). Sebenarnya masih bisa hadir juga. Tapi kenyataannya memang saya balik dari Klaten ngantuk pol.

Dua acara penting yang bentrok dengan Reuni 3A tersebut tidak saya pikirkan lagi mengingat saya pegang prinsip FIFP.

Alhamdulillah …saya akhirnya berjumpa dengan temen2 3A. Seneng sekali rasanya.

KISAH CINTA 10 JAM DI ATAS PELAMPUNG ORANYE: LESTARI DAN FERI

Di antara 243 jiwa yang panik di atas KM Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa pada Minggu dini hari, 13 September 2026 pukul 02.00 WIB, ada sebuah kisah yang membuat satu Indonesia menangis.

Mereka bukan penumpang biasa. Mereka adalah Lestari dan Feri, pasangan suami isteri asal Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Feri adalah seorang sopir truk ekspedisi. Ia bukan turis. Ia sedang bekerja, mengantarkan harapan orang lain dari Surabaya ke Banjarmasin. Dan Lestari? Ia tidak harus ikut. Tapi ia ikut. Karena bagi seorang isteri dari Lembata, mendampingi suami di jalan jauh adalah bentuk cinta yang paling sederhana.

“Tidak apa-apa capek di kapal, asal sama-sama,” mungkin itu yang ada di pikirannya saat naik ke Virgo Transport 8.

Ia tidak tahu, bahwa kapal itu akan menjadi saksi cinta mereka.

Saat kapal berputar tiga kali dan miring, saat lampu padam total dan air laut masuk, saat teriakan minta pelampung tidak ada yang menjawab, Feri tidak mencari sekoci untuk dirinya sendiri.

Ia mencari Lestari.

Di tengah kegelapan jam 2 pagi, di tengah ombak Laut Jawa yang dingin, Feri hanya berhasil mendapatkan satu. Satu pelampung oranye.

Satu pelampung, untuk dua nyawa.

Selama 10 jam, mereka terombang-ambing.

10 jam bukan waktu yang singkat. 10 jam di darat kita bisa tidur, makan, bermimpi. 10 jam di laut, dengan satu pelampung, adalah pertarungan antara hidup dan mati setiap detiknya.

Lestari menangis, kedinginan, kelelahan. Feri? Dengan tangan yang sudah keram dan bibir yang pucat, ia terus memeluk pelampung itu, dan memeluk isterinya di atas pelampung itu.

Jika ia lepas sedikit saja, Lestari bisa tenggelam. Jika Lestari lepas sedikit saja, Feri bisa tenggelam.

Video mereka yang viral itu adalah bukti paling jujur tentang arti pernikahan.

Di video itu, Lestari tidak lagi cantik seperti di pelaminan. Rambutnya basah, wajahnya pucat karena air laut. Feri tidak lagi gagah seperti sopir yang mengantar truk. Wajahnya lelah, matanya sembab.

Tapi tatapan Feri ke Lestari itu… itu adalah tatapan yang sama seperti saat pertama kali ia melamar Lestari.

Tatapan yang berkata: “Aku di sini. Jangan takut. Kita pulang sama-sama.”

Dan mereka benar-benar pulang sama-sama.

Setelah 10 jam terombang-ambing, Lestari dan Feri berhasil diselamatkan. Hidup.

Warga Lembata, NTT, yang merantau jauh demi mencari nafkah, pulang dengan kisah yang akan diceritakan turun-temurun.

Viralnya mereka bukan karena mereka romantis seperti Titanic. Tapi karena mereka nyata.

Jack dan Rose di Titanic adalah fiksi. Lestari dan Feri di Virgo Transport 8 adalah nyata. Mereka adalah kita.

Mereka mengajarkan kita satu hal yang sering kita lupa:

Bahwa dalam rumah tangga, bahtera itu pasti akan miring suatu hari nanti. Lampu pasti akan padam suatu hari nanti. Badai pasti akan datang.

Pertanyaannya adalah: apakah di saat kapalmu miring, kau masih memegang tangan pasanganmu, atau kau sibuk mencari sekocimu sendiri?

Untuk Lestari dan Feri, dari Lembata untuk Indonesia…. terima kasih.

Kalian telah mengajarkan kami bahwa cinta tanpa batas itu bukan puisi. Ia adalah satu pelampung oranye yang dipertahankan selama 10 jam di tengah Laut Jawa.

Gontor 100 Tahun

Tulisan 1 dari 4 terkait gambar ini

Beberapa hari terakhir ini saya terinspirasi dengan gambar di atas dan terus memikirkannya tentang bagaimana sebaiknya saya membentuk suatu pola pikir yang pada akhirnya membantu saya dan temen2 sesama muslim untuk selalu fokus pada kehidupan akhirat tanpa melupakan kewajiban dan tanggung-jawab kita di dunia yang sedang kita alami. Untuk itu saya ingin sekali membuat catatan khusus mengenai 4 alam ini dengan tujuan agar bisa mengingatkan saya untuk selalu kembali ke tujuan mulia memasuki kehidupan akhirat. Tentu saja, tidak ada diantara kita yang tidak mau masuk surga. Makanya musti ada hal2 penting yang menjadi penyebab kita masuk surga dan juga apa saja hal yang membuat masuk neraka biar kita takut dan menghindarinya.


Mengapa bagi saya ini penting karena sejatinya setiap dari kita ini tidak akan pernah mati, hanya berpindah alam saja. Kematian di dunia akan kita lanjutkan dengan alam barzakh yang lama dan kemudian alam kiamat dan berakhir di alam akhirat yang kekal tiada kepunahan lagi. Artinya, kita tidak akan pernah mati selamanya. Bahkan bagi yang masuk neraka pun gak pernah mati dan terus menerus disiksa.

Akhirat adalah garis akhir tempat keabadian sejati dimulai, di mana setiap jiwa akan menerima balasan tanpa ada lagi kesempatan untuk beramal. Berdasarkan visualisasi empat fase kehidupan pada gambar—dimulai dari dunia yang sekejap hingga akhirat yang tidak berakhir—berikut adalah referensi shahih mengenai esensi akhirat, serta kunci penentu keselamatan di dalamnya:

3 Hal Terpenting tentang Kehidupan Akhirat

  1. Keabadian yang Mutlak (Sifat Kekal)
    Akhirat bukanlah tempat persinggahan, melainkan pemberhentian terakhir yang abadi. Tidak ada lagi kematian setelah manusia memasuki surga atau neraka.
    • Dalil Al-Qur’an: “Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga; mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi…” (QS. Hud: 108).
    • Hadits Shahih: Rasulullah ﷺ bersabda, “Maut akan didatangkan pada hari kiamat dalam rupa seekor domba jantan… lalu disembelih di antara surga dan neraka. Kemudian dikatakan: ‘Wahai penghuni surga, keabadian bagi kalian dan tidak ada kematian! Wahai penghuni neraka, keabadian bagi kalian dan tidak ada kematian!'” (HR. Bukhari & Muslim).
  2. Kenikmatan Surga yang Tak Terbayangkan Akal
    Segala keindahan dunia tidak ada apa-apanya dibanding kemegahan surga. Kenikmatannya murni, tanpa penderitaan, dan melampaui imajinasi manusia.
    • Dalil Al-Qur’an: “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17).
    • Hadits Shahih: Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi, “Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia.” (HR. Bukhari & Muslim).
  3. Siksaan Neraka yang Teramat Pedih dan Nyata
    Neraka adalah tempat kehinaan yang dipenuhi penderitaan fisik maupun batin bagi mereka yang berpaling dari kebenaran.
    • Dalil Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab…” (QS. An-Nisa’: 56).
    • Hadits Shahih: Rasulullah ﷺ bersabda, “Api yang kalian nyalakan ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya api neraka Jahannam.” (HR. Bukhari & Muslim). [2, 4, 10, 11]

3 Hal Utama Penyebab Masuk Surga

Berdasarkan hadits-hadits shahih, tiga pilar utama yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga meliputi:

  1. Tauhid dan Keimanan yang Murni
    Memurnikan ibadah hanya kepada Allah tanpa berbuat syirik sedikit pun.
    • Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya… maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Bukhari & Muslim).
  2. Ketakwaan kepada Allah (Taqwallah)
    Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya baik di kala sendiri maupun ramai.
  3. Akhlak yang Mulia (Husnul Khuluq)
    Menjaga hubungan baik, kelembutan, kejujuran, dan kelapangan dada antar sesama manusia.
    • Dalil Hadits Gabungan (Poin 2 & 3): Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Beliau menjawab, “Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, shahih).

3 Hal Utama Penyebab Masuk Neraka

Sebaliknya, ada tiga perkara besar yang paling sering menjerumuskan manusia ke dalam jurang kebinasaan:

  1. Kekufuran dan Syirik kepada Allah
    Menolak kebenaran Islam dan menyekutukan Allah dalam ibadah.
    • Dalil: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka…” (QS. Al-Ma’idah: 72).
  2. Ketidakmampuan Menjaga Lisan (Mulut)
    Termasuk di dalamnya ghibah, fitnah, kesombongan, ucapan kufur, dan dusta.
  3. Tidak Menjaga Kemaluan (Zina)
    Melakukan hubungan seksual yang dilarang atau mendekati pintu-pintu kemaksiatan syahwat.
    • Dalil Hadits Gabungan (Poin 2 & 3): Rasulullah ﷺ ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka. Beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah, shahih).

Narasi Inspiratif: “Menatap Ujung Perjalanan”

Dunia yang hari ini kita genggam erat hanyalah tempat persinggahan yang luar biasa singkat. Di atas sajadah waktu, kita berjalan selangkah demi selangkah menuju fase Barzakh, melewati dahsyatnya Kiamat, hingga akhirnya berdiri di gerbang Akhirat—sebuah terminal tanpa akhir.

Di sanalah hakikat kehidupan yang sesungguhnya dimulai. Surga dengan segala kemegahan instan yang tak terbayangkan telah merindukan jiwa-jiwa yang mengetuk pintunya dengan fondasi Tauhid, pakaian Takwa, dan hiasan Akhlak mulia. Sementara itu, Neraka menyala-nyala, memperingatkan kita agar waspada terhadap tajamnya lisan dan liarnya syahwat yang sanggup meruntuhkan gunung pahala dalam sekejap.

Jangan gadaikan keabadian akhirat yang megah demi kesenangan dunia yang menipu dan fana. Mari luruskan arah, perbaiki tutur kata, jaga kehormatan, dan basahi hati dengan takwa. Karena pada akhirnya, rumah sejati kita adalah tempat di mana kematian itu sendiri telah disembelih, dan yang tersisa hanyalah kepuasan abadi di bawah rida Ilahi.

Sumber: Referensi Akhirat

Khutbah Jumat Masjid Al-Ihsan 18 Sep 2026

Empat prinsip utama dalam kehidupan seorang Muslim:

1. Memurnikan Niat Semata-mata karena Allah SWT

  • Tujuan Penciptaan: Mengutip Surah Al-Mulk ayat 2, Allah menguji manusia untuk melihat siapa yang paling baik amalnya, yaitu yang didasari dengan niat yang paling tulus lillahi ta’ala.
  • Komitmen dalam Ibadah: Digambarkan melalui doa iftitah dalam salat (“inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin”), bahwa seluruh hidup dan pengabdian hanya ditujukan kepada Allah.
  • Kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Dalam Perang Khaibar, Sayyidina Ali mengurungkan niat untuk membunuh musuh yang sudah terdesak karena orang tersebut meludahinya. Beliau menahan diri karena khawatir tindakannya membunuh bercampur emosi pribadi dan bukan murni karena Allah.

2. Mengelola Waktu dan Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat

  • Mengutip hadis yang tercantum dalam Sunan Abi Dawud bahwa sebagian dari kebaikan/kebahagiaan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.
  • Merujuk pada Surah Al-‘Asr tentang pentingnya waktu agar manusia tidak merugi.
  • Peringatan agar tidak menyia-nyiakan waktu (misalnya menghabiskan waktu berjam-jam bermain gawai tanpa manfaat), khususnya bagi para pelajar dan generasi muda agar mampu mengatur waktu belajar dan beribadah secara sungguh-sungguh.

3. Memiliki Kepedulian Sosial terhadap Sesama

  • Mengutip hadis Nabi SAW bahwa belum sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
  • Manusia adalah makhluk sosial; ajaran Islam mengajarkan empati dan bukan keegoisan.
  • Mengingatkan adanya hak kaum yang membutuhkan dalam harta kita (seperti zakat 2,5%) serta kewajiban tolong-menolong agar tidak ada saudara yang kelaparan, putus sekolah, atau tidak mampu berobat.

4. Menjauhi Hal yang Syubhat dan Haram

  • Mengutip hadis tentang batas yang jelas antara yang halal dan haram, serta adanya perkara syubhat di antara keduanya.
  • Mengajak kaum muslimin bersikap wara’—yaitu menjaga diri dari hal-hal syubhat agar terlindung dari yang haram.
  • Menjaga diri dari syubhat adalah langkah penting untuk memelihara kemurnian agama serta kehormatan diri dalam mencari rezeki bagi keluarga.

Design a site like this with WordPress.com
Get started