Feeds:
Posts
Comments

Tadi malam (4/2) saya naik kereta Commuter Line dari Tanah Abang menuju Pondok Ranji untuk pulang ke rumah sepulangnya dari kantor klien saya, Indosat Oooreedoo. Saya berjumpa teman saya yang juga bekerja di Indosat, Erwin Prayudi, setelah turun dari ojek. Sebenarnya kami janjian namun karena shalat Isya nya di lantai berbeda dan buru-buru untuk mengejar jadwal kereta yang jam 20:00 kami tak sempat lagi saling komunikasi, hajar bleh cari ojek yang paling dekat untuk bisa nyampe di stasiun Tanah Ababng. Namun ya karena memang atas ijin Allah, ketemu juga di saat masing-masing turun dari ojek.

Kami berlarian menuju kereta yang sebentar lagi akan berangkat karena kami sampe stasiun Tanah Abang sudah sekitar 19:58. Ngos-ngosan juga, dan saya tertinggal jauh dari Erwin karena memang dia lebih ramping dari saya sementara saya sudah hampir setahun berhenti tak gowes sepeda lagi sejak kecelakaan 6 April 2015 yag lalu yang mematahkan tulang clavicula saya. Alhamdulillah …nyampe juga di kereta dan tak lama kemudian pintu kereta tertetutup dan segera berangkat. Di kereta kami membahas materi liqo dua hari lalu terkait infaq fisabilillah (belum sempat menulis catatan liqonya – nanti saya akan tuliskan juga). Ketika kereta memasuki stasiun Palmerah saya mulai order taksi dengan aplikasi yang ada di HP saya, dan cepat sekali akhirnya saya mendapatkan pengemudi. Saya beri catatan bahwa saya akan sampai di stasiun Pondok Ranji sekitar 5 menit lagi kepada pengemudi yang menelepon saya, namanya pak A.

Setelah sampai di stasiun saya mencari mobil yang plat nomernya tertera di aplikasi dan warnanya sesuai dengan deskripsi yang dijelaskan pengemudi melalui SMS. Namun saya cukup kaget ketika mendapati bahwa orang yang mengemudi tak sesuai dengan foto yang ada di aplikasi, namun mobilnya berplat nomer sama. Tanpa rasa cuiga saya masuk saja ke mobil. Agak kaget juga ternyata di dalam mobil, di sebelah pengemudi ada wanita yang duduk juga di situ. Saya bingung apa sekarang bisa angkut dua penumpang Ah …rupanya, setelah disjelaskan, mereka ini adalah kakak beradik dimana si pengemudi adalah kakak tertua, bernama Ahmad Baihaqi dan si adik namanya Fitri (keduanya nama sebenarnya). Ahmad menjelaskan bahwa mereka berdua menggantikan (serep) Bapaknya yang sebetulnya terdaftar resmi sebagai pengemudi. Namun karena sakit, maka dua kakak beradik ini menggantikan profesi ayahnya pada hari kemarin. Setlah dijelaskan, saya merasa nyaman dan saya yakin mereka tidak bermaksud menipu.

Jarak stasiun ke rumah saya hanya sekitar 5 KM sehingga tak memerlukan waktu lama sampai di rumah. Namun sepanjang perjalanan pendek ini kami bertiga berbincang-bincang. Ternyata, bapak dari Ahmad dan Fitri ini baru saja menjadi penegmudi di Jakarta karena sebelumnya nganggur di Madura. Pak A (bukan Ahmad ya…) punya 7 anak dan dua diantaranya sudah tinggal di Jakarta, ya si Ahmad dan Fitri ini. Ahmad (lulusan SMA) sudah bekerja tadinya di konter isi pulsa HP, namun kemudian membantu ayahnya menjadi serep pengemudi kalau bapaknya sakit, atau lelah. Fitri bekerja sebagai SPG di sebuah mall di kawasan Blok M. Pak A baru sekitar sebulan menjadi pengemudi di Jakarta dan belum faham jalan-jalan di Jakarta. Ia mengandalkan aplikasi Waze untuk mengemudi. Mobil Avanza yang dibeli dengan cicilan Rp. 5 juta sebulan, ternyata menghasilkan pendapatan yang memadai buat membayar cicilan dan sisanya buat hidup.

Mungkin cerita ini biasa saja, namun saya sungguh terkesan dengan semangat kakak-beradik Ahmad-Fitri ini membantu ayahnya menafkahi keluarga. Kebetulan memang Fitri sedang libur dari tugas bekerja sebagai SPG kemarin dan seharian penuh dari jam 9:00 dia menemani Ahmad, sebagai co-pilot karena Ahmad belum begitu paham dengan aplikasi HP yang baginya masih baru ini. Mungkin banyak lagi cerita seperti ini, namun interaksi saya dengan Ahmad-Fitri ini sungguh menyenangkan dan membuat saya merenungkan kembali makna menafkahi dalam keluarga di era digital yang konon katanya disruptif ini. Semoga keluarga Pak A, Ahmad Baihaqi dan Fitri diberkahi oleh Allah Taala. Aamiin.

Wallahu’alam bishawab.

 

Fiqih Kuliner

Catatan Kajian Dzuhur di Mushalla At Tarbiyah, 27 Januari 2016 oleh ustd Ahmad Sarwat, Lc

(Sayang sekali saat kajian saya tak membawa HP sehingga yang saya tulis ini sebatas ingatan saja)

Mengapa perlu fiqih Kuliner?

1.) Karena dosa pertama yang dilakukan manusia, nabi Adam, adalah karena melanggar larangan Allah utk makan buah dari pohon tertentu (kuldhi). Sebenarnya kalau nabi Adam tak makan buah tersebut kita semua tetap hidup di surga.

2.) Setan terus menggoda manusia dengan pola dan motif yg sama seperti saat menggoda nabi Adam.

Saudara-saudaraku yang insya Allah dirahmati Allah Taala,

Suatu ketika Rasul Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai kapan akan terjadinya hari kiamat. Apa yang kemudian beliau jawab? Bukannya menjawab namun beliau justru menanyakan kembali tentang apa yang telah ia siapkan bila kiamat tiba kepada penanya.

Sungguh, ini menunjukkan betapa bijak junjungan kita ini karena beliau ingin sekali umatnya berpikir secara sistematis tentang pertanyaan mana yang paling prioritas untuk dilontarkan. Hal ini sejatinya benar karena tak ada yang tahu kapan kiamat akan terjadi selain Allah Taala. Kesiapan kita menghadapi kiamat itulah yang lebih strategis ditanyakan daripada kapan kiamat tiba, karena akan buang-buang waktu membahas kapan kiamat tiba.

padang-mahsyar Muslim or id

Sumber foto: muslim.or.id

In The Court of The Mahsyar King

Al Quran Nur karim telah menguraikan di beberapa ayat tentang kejadian kiamat yang mengerikan dan bagaimana nanti manusia dibangkitkan dari alam kubur, ruh akan juga dipertemukan dengan badannya, mereka kemudian dikumpulkan di padang Mahsyar tanpa busana, tanpa rasa malu, karena begitu besar kecemasan mereka. Mereka dibiarkan berdiri di padang Mahsyar yang luas selama setengah hari sehingga mereka kepanasan.

Tunggu dulu …

Jangan remehkan setengah hari itu seperti yang kita jalani di dunia ini. Banyak mungkin diantara kita menyepelekan setengah hari karena sebagian dari kita sudah terbiasa dengan berdiri sepanjang setengah hari, atau sambil jalan kaki, atau sambil menaiki sepeda atau sambil mengantri pelayanan tertentu. Sudah banyak kisah dari ulama yang menggambarkan perkiraan ini:

  • Setengah hari di hari pembalasan nanti sama dengan 50.000 (lima puluh ribu) tahun. Ini jelas, berbeda dengan dimensi waktu yang saat ini kita kenal. Angka 50 ribu tahun belum pernah dan tak akan pernah kita bisa bayangkan karena paling banter juga kita hidup hanya sampai usia 63 tahun, atau ada beberapa orang yang bisa meampaui usia 100 tahun. Namun, 50 ribu tahun? Tak terbayangkan!
  • Matahari akan didekatkan oleh Allah sejauh 1 mil, jadi lebih panas dari yang selama ini kita rasakan.

Maka, dua hal tersebut cukuplan membuat kita hati kita kecut karena begitu super duper maha dahzyat hebat kejadian di padang mahsyar ini. Coba bayangkan!

Dalam salah satu ceramahnya, Dr. Zakir Naik mengatakan bahwa manusia merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna dan selama hidup di dunia diberi free will (kebebasan memilih) terhadap apa yang ia ingin jalani selama hidup di dunia ini. Allah sudah menurunkan Al Quran sebagai panduan hidup dan contoh terbaik manusia yang menjalankan panduan hidup tersebut, yakni Rasul kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah perintahkan untuk mengikuti Al Quran dan contoh2 Rasul. Namun, kalau manusia tak mau, ya silakan … tak ada paksaan dan Allah tetap memberi rezeki dan nikmat selama hidup di dunia. Ia tetap mendapatkan kenikmatan hidup di dunia, bahkan bisa jadi kaya harta.

Namun …harus diingat bahwa Allah adalah Raja Diraja

Pada hari kebangkitan nanti, Dia lah yang MAHA KUASA. Manusia yang berkumpul di Padang Mahsyar sudah tak punya lagi free will. Mereka harus ikut ketentuan Allah. Semua manusia dibiarkan saja berkumpul dan tanpa ada kebebasan lagi karena mereka semua sudah berada di bawah kekuasaan Allah Taala dan free will telah dicabut dari manusia.

Di tengah suasana yang panas di Padang Mahsyar itu, ada sekelompok manusia yang beruntung dan berbahagia karena mendapat naungan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Ada tujuh orang yang akan dinaungi Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang ‘adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang cinta karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya, seorang yang diajak mesum oleh wanita yang berkududukan dan cantik lalu ia mengatakan “Sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikan sedekahnya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya dan seorang yang mengingat Allah di tempat yang sepi, lalu kedua matanya berlinangan air mata.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Nah,

Kalau kita percaya dengan hari akhir dan mengikuti petunjuk yang digariskan oelh Allah melalui utusanNya, kita bisa pilih satu atau beberapa hal yang bisa menjadi sebab dinaunginya kita oleh The Mahsyar King: Allah subhanahu wa ta’ala seperti telah diuraikan Rasul dari hadits shahih di atas:

  1. Bila kita dalam posisi sebagai penguasa, menjadi penguasa yang adil dan menggunakan hukum Allah sebagai dasar berpijak
  2. Selalu memanfaatkan waktu beribadah kepadaNya, menjauhkan diri dasi segala bentuk maksiat
  3. Mencintai masjid dan setiap saat selalu merindukan menghadiri masjid, sekurangnya mendirikan shalat fardhu BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu)
  4. Mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah atau berpisah karena Allah
  5. Mencontoh Nabi Yusuf yang menghindari diajak berzina oleh wanita berparas cantik dan memiliki kedudukan tinggi karena “Saya takut kepada Allah
  6. Rajin bersedekah namun tak menggembor-gemborkan namanya untuk diumumkan sebagai pemberi sedekah
  7. Berdzikir kepada Allah di tempat yang sepi dan menangis karenanya.

Ingatlah, bila adzab Allah belum turun saat kita di dunia itu bukan berarti kita akan selamat di hari kebangkitan. Saat ini kita masih punya free will dan masih bisa kita gunakan sampai kita dipanggil dan masuk liang lahat. Namun nanti di Padang Mahsyar, kita tak lagi punya free will dan semuanya dibawah kuasa Allah Taala. Apa tidak sebaiknya kita menyiapkan bekal sekarang agar kita selamat In The Court of The Mahsyar King.

How progressive is your life? Bukankah kita harus menjadi lebih baik hari ini daripada kemarin dan besok harus lebih baik dari hari ini?

Wallahu’alam bishawab

image

Film Bagus Yang Wajib Ditonton Remaja

Saya bukan bermaksud menulis resensi terhadap film ini karena pada dasarnya saya bukan penggemar film, apalagi kalau disuruh pergi ke gedung bioskop – ogah ah …mendingan baca buku di rumah. Selain itu, saya juga termasuk kurang suka baca novel meskipun saya sangat suka membaca. Mungkin karena, bagi saya, novel itu berisi kisah fiktif, bukan nyata, maka saya merasa tak ada nilainya membacanya. Kecuali, novel yang isinya memang hal-hal yang nyata seperti Api Tauhid nya Kang Abik. Saya angkat jempol dua buat novel Api Tauhid ini. Dahzyat pol! Bukan plot ceritanya yang penting, tapi bagaimana seorang ulama yang dikisahkan (nyata) dalam novel tersebut. Karena kisah nyata, maka saya melihat ada value nya membaca buku tebal ini.

Mas Gagah?

Wah, saya ndak tahu sama sekali ini kisah apa. Beberapa minggu lalu saya mendapat email dari ACT (Aksi Cepat Tanggap) yang isinya sekilas tentang film yang saya tidak tahu ceritanya apa dan sayapun tak faham ini apaan. Sehingga, ya saya cuekin aja, tanpa ada makna sama sekali. Namun kemudian ada pesan di WA Group Liqo yang saya ikuti bahwa ustadz Ade Purnama menyarankan kita nonton film ini karena banyak nilai-nilai Islam di film ini. Mas Gagah lagi … Akhirnya saya ngeh bahwa ini film Islami seperti Ayat Ayat Cinta (AAC). Sayangnya saya kecewa berat dengan AAC yang nyata sekali beda antara novel dan film sehingga saya sebenernya kapok mau nonton Mas Gagah ini. Namun karena ustadz gitu loh yang menyarankan …pemimpin liqo yang saya ikuti setiap hari Rabu di Kantor Pusat PT Indosat, maka ya saya nurut ajalah …sami’na wa atho’na … (Memang, kata ustadz liqo, ini settingnya berdasarkan novel karya Helvy Tiana Rosa. Saya dulu sekali, sekitar 10 atau 15 tahun lalu pernah baca novel mbak Helvy. Bagus banget, tapi saya lupa judulnya apa dan yang jelas bukan Mas Gagah ini).

Eh ..kok ya kebetulan (Hus! Gak ada yang kebetulan di dunia ini! Semuanya terjadi karena ijin Allah!) …maaf …maksudnya karena ada ijin Allah kemarin sore pas saya dan istri menemani ibu mertua di Lotte Mart Bintaro, sahabat surga saya (temen liqo) Erwin Prayudi posting di WAG Liqo mengatakan bahwa ia menonton Mas Gagah di Lotte Mart yang main jam 5. Wuah! Langsung saya cek jam main selanjutnya, yakni jam 19:00. Maka setelah makan di Resto Ngalam selepas Maghrib, saya beli tiga tiket seharga Rp. 50 ribu sebanyak 3 tiket buat kami nonton setelah makan malam dan ngopi di Cuppa cafe, sebelahnya Studio 21 Lotte Mart. Beli tiket yang jam 19:00, tapi sayangnya kami baruu bisa masuk pukul 19:20 keasyikan ngopi ….he he he …

JRENG!

Pas saya masuk, adegannya si Gagah sedang ngaji surah Ar Rahman di dalam mobil, ditemani adiknya (Gita). Dalam dialog ini jelas sekali sedang terjadi ketegangan hubungan antara kakak beradik ini. Nah …saya tak bermaksud mengulas film ini dari plot cerita karena menurut saya lemah sekali (banyak kebetulannya yang mengesankan lebay pol …). Mindset saya dalam menonton film ini adalah mencoba memahami bagaimana anak2 muda yang main di film ini beramal soleh dan seberapa gap yang mereka lakukan dengan apa yang saya lakukan. Ternyata …sepanjang menonton film ini air mata saya berurai terus menerus. Bukan karena alur ceritanya yang menohok hati, tapi …duh rasanya saya malu menulisnya ….Tapi harus jujur saya akui, ternyata amalan saya untuk menegakkan agama Allah ini teramat sangat sedikit pol! Tokoh2 utama dalam film ini seperti Gagah dan Yudi sungguh membuat saya tertampar, malu di hadapan Allah. Gatot, what have you done so far? Nothing! Segmen2 di bawah ini menggugah saya untuk bercermin diri:

  • Melafadzkan Al Quran di dalam mobil bersama orang lain, seperti yang dilakukan Gagah kepada adiknya, Gita. Duh, saya rasanya gak pernah pede melafadzkan Quran di depan orang lain, selain istri saya. Itupun kalau di rumah dan tak terdengar orang lain selain istri saya. Itupun gara-gara liat di youtube ada imama Mishary melantunkan surah An Fusilat ayat 19-33 keren banget sampai menangis. Bacaan Quran saya masih buruk. Sementara Gagah dengan pedenya melantunkan Ar Rahman di depan adiknya yang sama sekali tak paham Quran, sampai akhirnya mereka cekcok.
  • Yang paling mengesankan adalah yang dilakukan Yudi, yakni berdakwah di Metro Mini (angkot). Begitu pede nya dia berdakwah, mengajak orang untuk hijrah yang secara baik dia jelaskan bahwa makna hijrah adalah “pindah”. Yudi ini berpindah dari metromini satu ke yang lainnya, persis seperti orang ngamen yang sering kita jumpai di Metro Mini, namun ia tak memungut bayaran dan tetap berdakwah tanpa ada rasa gentar meskipun ia dicaci maki beberapa penumpang. Masya Allah. Coba …mari kita renungkan … Betapa mulianya yang dilakukan Yudi ini, mendakwahi orang awam untuk diajak hijrah, diajak berpindah menuju kebaikan. Kalau mendakwahi orang-orang di masjid, bekal imannya mungkin sudah ada karena mereka datang ke masjid pasti ada iman nya. Namun penumpang Metro Mini? Mungkin belum semuanya punya iman. Makanya saya salut sekali dengan adegan Yudi melakukan dakwah di angkutan umum ini. Layak ditiru! Salut! Coba …mari kita renungkan satu ayat saja yang kita fahami dengan baik, lalu kita mulai dakwah di tempat umum, misalnya angkot, mall, warung kopi dsb. Imam Hasan Al Banna dulu berdakwah di warung kopi. Masya Allah!
  • Beramal soleh secara langsung dengan mendirikan Rumah Cinta di daerah kumuh yang sebelumnya tak tersentuh dengan hal-hal spiritual. Gagah dan teman-temannya bekerja sama dengan penduduk setempat, termasuk tiga preman, menyulap pantai kumuh menjadi sebuah bangunan semi permanen untuk pusat kegiatan anak dan orang tua melakukan kegiatan kerajinan tangan. Yang perlu kita renungkan adalah, bisa jadi di sekitar rumah kita ada penduduk miskin yang perlu sentuhan spiritual dan materi namun kita belum peduli kepada situasi mereka, pendidikan anak2nya dan sebagainya. Segmen ini sungguh memberikan sentuhan tersendiri yang sangat bagus.
  • Adegan mama Gagah mengunjungi Rumah Cinta yang didirikan oleh Gagah dan teman2nya, bekerjasama dengan masyarakat, sungguh mengesankan. Seorang ibu yang kelihatannya sangat keduniawian bisa tersentuh dengan apa yang dilakukan anaknya di lingkungan kumuh ini.
  • Menyelesaikan kasus pencopetan dengan tidak menghakimi sendiri yang dilakukan oleh Yudi di dalam bus Trans Jakarta. Segmen ini juga indah karena Yudi berani menegor pencopet, berkelahi dengannya dan kemudian melerai penumpang lain yang menggebuki si pencopet. Bukankah ajaran Islam indah sekali? Tidak main hakim sendiri merupakan tindakan kesatria yang ditunjukkan Yudi dalam segmen ini.

Secara keseluruhan film ini menurut saya bagus sekali karena berhasil menguak dengan baik permasalahan sosial tanpa harus berlebihan menonjolkan aspek ibadah mahdoh seperti shalat. Selama film diputar tak ada satupun adegan shalat yang ditunjukkan. Dan untuk ini saya salut sekali karena pada akhirnya agama Allah ini menjadi indah dan memiliki izzah (martabat) mulia ketika perilaku nyata ditunjukkan oleh umat-umat Allah. Salah satu contohnya adalah ketika Yudi menolong seorang ibu Nasrani yang sedang menangis menggendong anak kecil kehilangan suaminya (Yohannes) padahal pemukiman mereka dilanda kebakaran. Yudi tetap bertindak sigap mencari suami ibu tersebut, dengan menyusulnya ke gereja. Inilah toleransi beragama yang benar!!! Dalam aspek kemanusiaan, Islam mengajarkan kita harus menolong siapapun tanpa melihat agamanya apa, bahkan seorang atheis sekalipun. Wong Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam saja menyuapi seorang pengemis buta, yahudi, dimana pengemis ini setiap saat mencaci Rasul kita. Masya Allah.

Ah ….saat menulis resensi ini kok saya jadi ingat Solahudin di film Kingdom of Heaven ketika ia berhasil menguasai kota, mengatakan bahwa semuanya yang beragama non Islam, baik itu yahudi maupun nasrani, silakan tetap beribadah di sinagog atau gereja mereka masing-masing. Islam tak mengajarkan umatnya memaksa orang lain harus masuk Islam. Negara melindungi mereka yang beragama lain meski Islam berkuasa. Masya Allah …

Mas Gagah memang bukan Solahudin di Kingdom of Heaven

Yudi juga bukan Umar bin Khattab

Namun …yang mereka lakukan sungguh mulia.

Semoga Allah Taala meridhlai negeri ini menjadi sejahtera dan selalu meninggikan kalimatullah, dan semoga film seperti Ketika Mas Gagah Pergi ini akan semakin banyak diproduksi dan dipasarkan di negeri kita tercinta ini. Aamiin Ya Rabb …

Wallahu’alam bishawab

 

image

Catatan dari Kutbah Jumat di Gedung Sapta Pesona, 29 Januari 2016.

Seperti biasanya dalam setiap kutbah Jumat, selalu dimulai dengan ajakan oleh Khatib kepada jamaah untuk selalu meningkatkan iman dan takwa karena kemuliaan sebenarnya terletak pada takwa ini. Ini berarti berusaha semaksimal mungkin mengikuti dan patuh kepada perintahNya dan menjauhi semua larangannya. Inilah yang mengantarkan kita kepada kemuliaan yang nyata. Ingatlah di surah At Takatsur dimana Allah berfirman tentang nikmat untuk orang2 muttaqien, hingga pada padang Mahsyar nanti. Takwa menjalankan perintah Allah, paling berat melaksanakan shalat 5 waktu. Shalat merupakan perintah paling berat kecuali bagi orang2 yg khusyu. (Dalam kajian di Radio Rodja yang pernah saya ikuti, arti khusyu adalah rendah diri yang serendah-rendahnya di hadapan Allah Taala – red.)

Shalat menghindarkan perbuatan keji dan mungkar. Tegaknya agama dilihat dari shalat, makanya disebut sebagai tiang agama.  Meninggalkan shalat berarti runtuh kehidupan. Namun, sebenarnya ada makna lebih mendalam lagi mengapa shalat disebut sebagai tiang agama. Hal ini jelas sekali kalau ditinjau dari bangunan Islam yang terdiri dari lima hal, atau dikenal sebagai Rukun Islam yang semuanya ada di saat kita mendirikan shalat.

  1. Sekurangnya dalam sehari kita mengucapkan dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama, diucapkan 9 kali sehari dalam shalat fardhu. Kesaksian kita dalam dua kalimat syahadat ini diperbaharui setiap hari, sebanyak 9 kali. Ini belum termasuk shalat sunnah rawatib maupun lainnya bila kita mengerjakannya.
  2. Rukun Islam kedua adalah shalat itu sendiri dimana memiliki tiga makna:
    1. Dzikir (mengingat Allah)
    2. Doa, karena begitu banyak doa dalam shalat
    3. Amal perbuatan mulai takbir diakhiri salam
  3. Hal yang pokok dalam zakat adalah pnyucian harta yang kita miliki dan pada akhirnya penyucian hati kita. Syarat mendirikan shalat adalah bersuci (thaharah) yang berarti sama dengan tujuan zakat. Artinya dalam mendirikan shalat ada spirit zakat juga.
  4. Saat shalat tak boleh makan atau minum meski sedikit, bahkan sisa2 makanan yang ada diantara gigi pun kalau tertelan, atau gusi berdarah pun bisa membatalkan shalat seperti halnya puasa. (Ah, masak sih pak Khatib? Emang bisa membatalkan shalat kalau “sliliten” terpaksa ketelen? Emang ada dalilnya pak Khatib? – red.)
  5. Pada saat shalat qiblat nya adalah baitullah (Ka’bah) seperti juga menjalankan ibadah haji. Jadi, pada shalat shalat pun spirit haji juga ada di dalamnya.

Itulah sebabnya shalat disebut sebagai tiang agama.

Amalan kedua, setelah menyembah Allah Taala, adalah pengabdian kepada orang tua kita. Kisah Al Qammah yang selalu belajar kpd Rasul, sayang tdk taat kpd orang tua sehingga bermasalah saat sakaratul maut, hingga akhirnya begitu ibunya meridhlai beliau bisa mengucapkan La ilaha ilallah …. Kisah ini untuk menunjukkan betapa pentingnya berbakti kpd org tua, terutama ibu.

Rasul ketika ditanya kepada siapa yang sebagai muslim kita harus berbakti, beliau menjawab:

Ummuka
Ummuka
Ummuka
Akuka

Wallahu’alam bishawab

image


Catatan Kajian Dzuhur di Mushalla At Tarbiyah, Kantor Pusat PT Indosat, Kamis, 28 Januari 2016. Ustadz Muhsinin.

Kajian saat ini membahas cabang iman ke 60 (dari 77) tentang kewajiban seorang laki-laki terhadap keluarganya, yakni istri dan anaknya, atau tepatnya fiqih keluarga.

Selama ini dalam praktek sudah terjadi pergeseran konsepsi seolah tugas utama seorang laki-laki adalah menafkahi keluarganya. Padahal itu bukan yang utama karena ada yang lebih penting yakni menjaga anggota keluarganya dari adzab Allah (api neraka) seperti firman Allah di Al Quran:

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

(At-Tahrim: 6)

Memang menafkahi keluarga merupakan kewajiban dari seorang laki-laki namun bukan itu yang paling utama. Banyak laki2 berjuang menafkahi keluarga dan itu telah memakan waktunya dan juga menguras tenaga yang luar biasa, padahal yg esensial adalah menyelamatkan keluarga dari api neraka, memastikan atau menjaga agar selamat dari adzab Allah. Mendidik keluarga adalah nomer satu. Sayangnya, khusus yg pokok ini malah disubkontrakkan ke masjid, sekolah, pesantren dll. dengan alasan ia sibuk mencari nafkah untuk keluarganya. Akhirnya lahirlah anak2 yg tak dididik oleh ayah ibunya,  yang masing-masing sibuk bekerja yang akhirnya berdampak ke akhlak. Tak heran bila dijumpai anak-anak muda sekarang memanggil seniornya dengan sebutan “bro” dan sejenisnya. Di PLN, Pertamina hal ini terasa sekali.

Kewajiban di cabang iman ke 60 ini saja sudah susah dipraktekkan, apalagi lainnya. Misalnya cabang iman ke 67 yakni memuliakan tamu, masih banyak dari kita yang belum melaksanakannya dengan baik. Padahal kewajiban kita memberikan yang terbaik kepada tamu selama tiga hari tiga malam yang merupakan haknya dan kewajiban kita memenuhinya.

Kewajiban Materi

Kewajiban suami ke istri terdiri dari yang sifatnya materi dan non-materi. Dalam hal materi, kewajibannya adalah memberi nafkah kepada istri, bukan menafkahi kebutuhan dan keinginannya. Ketentuannya adalah secukupnya dan bukan berarti semua kebutuhan dan keinginan istri menjadi kewajiban suami. Konsepsi bahwa semua harta suami untuk istri merupakan kesalahan besar. Apalagi bila ibu-ibu punya semboyan: “Hartamu adalah hartaku dan hartaku adalah hartaku” – ini jelas salah kaprah. Mengapa? Kewajiban suami hanya menafkahi secukupnya, bukan semua harta diberikan ke istri. Praktek yang salah ini pada nantinya akan membuat segalanya kompleks bila terjadi perceraian.

Adapun harta suami yang berupa aset, sifatnya fasilitas yang disedikan oleh suami kepada istri. Rumah milik suami. Mobil milik suami. Namun karena semua milik suami dan istri diberi fasilitas oleh suami, maka bila terjadi kerusakan rumah atau mobil, kewajiban suami adalah memperbaikinya sehingga berfungsi dengan baik. Dalam pernikahan, semakin rendah mahar seorang wanita maka ia semakin mulia dan bukan berarti ia adalah wanita yang murah. Mahar harus berupa harta atau sesuatu yang berharga, misalnya hafalan Quran. Kalau misalnya mahar berupa perangkat shalat atau Quran, maka ini kurang pas dipakai sebagai mahar karena keduanya memang sudah pasti dibutuhkan oleh siapapun. Namun kalau mahar merupakan setoran hafalan Quran atau hafidz Quran, boleh. Atau emas, perak, dinar atau dirham.

Adapun nafkah kepada istri terdiri dari:

  • makanan (mateng alias siap saji, bukan makanan mentah misalnya beras),
  • tempat tinggal yang layak
  • pakaian
  • kesehatan
  • kondisional tertentu (misalnya transportasi, telekomunikasi, dsb)

Istri tidak wajib masak karena kewajiban suami adalah menafkahi istri sudah dalam keadaan matang alias siap dimakan, bukan bahan baku seperti beras atau gandum.

Tempat tinggal (tak harus beli) yg layak fisik maupun sosial. Artinya fisik inipun tergantung kondisi ekonomi suami. Bila mampunya beli rumah tipe 21 dan di pinggiran Jakarta ya tidak masalah. Yang jelas kondisinya layak huni. Selain itu juga layak secara sosial, misalnya di rumah tersebut tak ada anggota keluarga suami (misalnya sepupu atau keponakan) yang menyebabkan suasana keseharian menjadi tak nyaman. Gugur hak nafkah bila istri tak mau pindah luar kota bersama suami bila suami harus pindah tugas di luar kota. Seorang istri harus mengikuti dimanapun suami ditugaskan dalam pekerjaannya. Jangan sampai terjadi seperti banyak dilakukan orang dewasa ini, suami pindah tugas tapi istri tak mau ikut dan suaminya malah mendukung. Padahal ketika istri menolak ikut suami, gugur kewajiban suami menafkahi istri.

Dalam hal pakaian pun kewajiban suami memberikan pakaian yang sudah siap pakai bukan berupa bahan. Suami juga berkewajiban dalam hal menjaga kesehatan istri dan hal-hal kondisional lainnya misalnya pulsa atau fasilitas mobil. Bahkan dewasa ini ada fenomena menarik di pinggiran kota Jakarta seperti Bekasi atau Depok dimana pada jam 9 atau 10 pagi terlihat banyak wanita berjilbab mengendarai mobil-mobil bagus. Sedangkan, suaminya bekerja mencari nafkah bergelayutan di kereta commuter line atau di angkot. Istrinya menikmati fasilitas mobil suami.

Inilah hebatnya Islam, sangat memuliakan wanita. Ketika ia menikah maka seorang istri cukup bertindak sebagai istri saja tanpa ada kewajiban mencari nafkah. Istri enak banget, sekedar jadi istri. Wanita dimuliakan.

Kewajiban Non Materi

Kewajiban utama suami adalah mendidik istri dan anak-anaknya. Tradisi dulu bada Maghrib ayah mengajarkan sendiri  Al Quran ke anak2nya. Jaman sekarang sudah banyak bergeser karena para ayah sudah sibuk mencari nafkah sehingga pulangnya malam dan sering kali Maghrib masih di kantor atau di jalan dan ketika sampai rumah sudah lelah dan anak-anak sudah tidur. Sehingga, bagi mereka yang masih punya niat baik mendidik anak2nya dengan Al Quran, datanglah mereka ke pesantren-pesantren serta menitipkan anak-anak tersebut untuk dididik Al Quran. Padahal kewajibannya adalah bagi ayahnya sendiri mengajarkannya. Bahkan, dewasa ini ada Pondok Pesantren Bayi di Bogor, artinya sejak bayi sudah dititipkan asuhannya ke pesantren. Ini semuanya merupakan siasat karena tak adanya waktu untuk mendidik sendiri.

Ciptakan Rute Kehidupan

Perubahan peradaban menyebabkan jalan kita tak bisa ketemu dengan titik2 iman yang 77 itu karena rute nya berbeda. Maksud hati ingin mendidik sendiri anak-anaknya namun karena tak ada waktu dikarenakan sibuk bekerja, akhirnya rute kehidupan kita tak bisa menyinggung titik iman yang ini. Ini hanya salah satu contoh titik iman yang tak bisa ketemu dengan rute kehidupan, akhirnya dicari jalan lain karena selalu pulang malam, sibuk bekerja. Ini ibaratnya benar di jalan kesesatan karena tak ada waktu.

Di Semarang ada budaya Ngaji Maghrib, dimana seisi rumah baca Quran di setiap rumah. Ini jelas contoh baik dalam menciptakan rute kehidupan agar bisa menghampiri titik-titik iman. Sering kali rute hidup tak memungkinkan minat utk menjalani titik2 iman. Punya minat tapi tak ketemu rute, misalnya kerja di luar negeri, sulit mencari air wudhlu dan tempat shalat. Rute hidup tak bisa bertemu titik-titik iman.

Kita perlu membuat rute, agar bisa bertemu dengan titik-titik iman tersebut. Bila kita punya kuasa di dalam perusahaan, sebagai pimpinan, sebaiknya dimasukkan di dalam peraturan perusahaan sehingga bersifat “resmi”, misalnya:

  • fasilitas menelepon anak karena ada kewajiban mendidik anak
  • fasilitas menjenguk tetangga sakit
  • fasilitas cuti menguburkan jenazah keluarga
  • fasilitas cuti hamil yang memadai
  • dan sebagainya.

—-

Ibrah (pembelajaran) dari kajian ini menurut saya (GW) adalah:

Perlunya “Menciptakan Rute Kehidupan”.

Ini jelas pembelajaran yang luar biasa dan sebaiknya kita renungkan dengan baik. Sebagai muslim visi kita harus jelas: Utamakan menuju akhirat namun jangan lupakan dunia. Bukan sebaliknya: mengejar dunia namun jangan lupa akhirat. Kalau visi kita jelas, insya Allah semua urusan dunia kita akan diatur oleh Allah Taala. Masalahnya, seringkali kita terlalu sibuk dengan urusan nafkah demi menjaga reputasi dan profesionalisme sehingga kadang kita bangga pulang malam atau bahkan akhir pekan pun masih sibuk dengan urusan pekerjaan. Mari kita lihat beberapa contoh orang-orang yang sukses menciptakan rute kehidupannya, seperti kata Jack Welch nya GE “Control Your Destiny or Someone Else Will”:

  • Dua hari lalu saya telat shalat Ashar (astaghfirullah) sehingga baru jam 16:00 saya menuju mushala At Tarbiyah. Pada saat saya masuk mushalla, Pak Subhan (penjual buku2 Islam dan herbal Islami di mushalla Tarbiyah) sedang bergegas pulang. Saya merenung tentang Pak Subhan ini, setelah shalat Ashar. Beliau ini datang ke Indosat (mushalla At Tarbiyah) sekitar jam 11:00, kemudian membuka lapak di depan mushalla dari sebelum Dzuhur sampai dengan bada Ashar namun sungguh efektif manajemen waktunya. Saat shalat Dzuhur dan Ashar saya dapati beliau ini hampir selalu berada di saf onta (terdepan) dan diantara waktu luangnya antara Dzuhur ke Ashar beliau membaca Al Quran. Masya Allah! Beliau berhasil menciptakan rute kehidupan yang benar. Bisa jadi bada Maghrib beliau mengajari anak-anaknya mebaca Al Quran. Wallahu’alam.
  • Dalam sebuah ceramah di youtube, seorang ustadz yang berceramah tentang kiat mengelola waktu, memberikan contoh seorang mukmin yang shalih (lupa namanya siapa) setiap harinya berdagang antara ba’da Dhuha sampai bada Dzuhur, kalau tidak salah jualan arloji. Setelah itu beliau sibukkan dengan membaca kitab2 ulama sehingga pada usia muda sudah menghabiskan membaca 10 ribu kitab! Masya Allah. Beliau sendiri juga telah menulis banyak sekali buku. Beliau sukses menciptakan rute kehidupan yang bisa menyinggung titik-titik dari cabang iman.

Wallahu’alam bishawab

image

Catatan Liqo Bersama Ustadz Ade Purnama

Rabu, 27 Januari 2016, Ruang Rapat lantai 19, Kantor Pusat PT Indosat

ustd ade purnama

Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 257 – 260

Empat ayat dalam surah Al Baqarah ini merupakan suatu rangkaian dimana ayat 257 sebagai muqadimmahnya yakni Allah sebagai wali dari orang-orang yang beriman dan percaya kepada hari akhir, sedangkan tiga ayat setelahnya (258, 259 dan 260) membuktikan tentang MAHA KUASA nya Allah subhanahu wa taala. Mari kita ulas lebih jauh empat ayat ini.

Allah sebagai “wali” Bagi Orang-orang Beriman

257. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Dari ayat ini tegas disebutkan bahwa Allah sebagai wali (pelindung) bagi orang-orang yang beriman, memberikan jalan yang terang terbebas dari kegelapan. Mengapa jahiliyah disebut sebagai jaman kegelapan karena tanpa Islam berarti kegelapan. Dunia itu ladang amal sedangkan panenya nanti di akhirat. Segangkan orang-orang kafir walinya adalah thagut (lawan dari Allah) yang memberikan kegelapan dan kesesatan. Mereka yang keluar dari Islam disebutnya adzhabunnaar …Audzu billah min dzalik. Gafatar meyatakan keluar dari Islam dan mengharapkan MUI tak mengatur mereka. Namun mereka ini masih tergolong menistakan agama Islam selama KTP nya mengaku Islam dan negara belum mengakui agama mereka Gafatar. Mereka menggabungkan sebagian ajaran Islam, Kristen dan agama lainnya.

Allah Menunjukkan Kekuasaannya

Dari segi redaksinya, tiga ayat ini mengukuhkan bahwa sebagai wali orang-orang beriman Allah memiliki kekuasaan yang luar biasa, seperti diuraikan dalam tiga kisah dahzyat ini:

Bagaimana Nabi Ibrahim mematahkan Penguasa saat itu

258. Apakah kamu tidak memperhatikan orang [163] yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan [164]).” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

[163] Yaitu Namrudz dari Babilonia.

Namrudz tak bisa memberikan jawaban atas permintaan Ibrahim di atas karena pada dasarnya Allah bisa membuat matahari terbit dari barat.

Kisah Nabi Uzair yang Ditidurkan Allah Selama 100 Tahun

259. Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Yang dimaksud dengan “orang itu” adalah nabi Uzair. Pada saat bangun dari tidur yang lama, negeri tersebut telah dibangun kembali dengan indahnya (atas ijin Allah). Kemudian ia melihat bahwa keledainya telah mati, tinggal tulang belulang. Atas Kuasa Allah, nabi Uzair melihat bagaimana tulang belulang keledai yang mati tersebut dihidupkan kembali oleh Allah, kemudian daging membalut kembali tulang-tulang keledai tersebut. Saat memasuki kota setelah bangun dari tidur panjang nabi Uzeir mendapati pembantunya yang dulu masih kanak-kanak sekarang sudah menjadi nenek2. Saat beliau mengaku bahwa namanya Uzeir yang dulu menjadi majikannya, pembantu tersebut tak percaya pada awalnya sampai akhirnya melihat tanda di punggung nabi Uzair.

Kisah Nabi Ibrahim dan Empat Burung

260. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah [165] semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[165] Pendapat di atas adalah menurut At-Thabari dan Ibnu Katsir, sedang menurut Abu Muslim Al Ashfahani pengertian ayat di atas bahwa Allah memberi penjelasan kepada Nabi Ibrahim a.s. tentang cara Dia menghidupkan orang-orang yang mati. Disuruh-Nya Nabi Ibrahim a.s. mengambil empat ekor burung lalu memeliharanya dan menjinakkannya hingga burung itu dapat datang seketika, bilamana dipanggil. Kemudian, burung-burung yang sudah pandai itu, diletakkan di atas tiap-tiap bukit seekor, lalu burung-burung itu dipanggil dengan satu tepukan/seruan, niscaya burung-burung itu akan datang dengan segera, walaupun tempatnya terpisah-pisah dan berjauhan. Maka demikian pula Allah menghidupkan orang-orang yang mati yang tersebar di mana-mana, dengan satu kalimat cipta “hiduplah kamu semua” pastilah mereka itu hidup kembali. Jadi menurut Abu Muslim sighat amr (bentuk kata perintah) dalam ayat ini, pengertiannya khabar (bentuk berita) sebagai cara penjelasan. Pendapat beliau ini dianut pula oleh Ar Razy dan Rasyid Ridha.

Di ayat 260 ini merupakan penegasan kembali akan KUASA Allah Taala yang bisa menghidupkan kembali empat ekor burung yang sebelumnya telah mati dan masing-masing anggota tubuhnya sudah terpisahlan di empat tempat berbeda. Sebelum burung dibunuh, Allah memrintahkan Ibrahim untuk memberi nama masing-masing burung mislanya A, B, C dan D. Kemudian masing2 burung dibunuh dan anggota tubuhnya diletakkan berceceran terpisah di beberapa tempat yang berbeda dan cukup jauh. Kemudan atas KUASA Allah empat burung yang tadinya sudah mati dan anggota tubuhnya tercecer, masing2 bisa hidup lagi sebagai A, B, C dan D seperti sedia kala.

Catatan diskusi selama liqo:

Dalam surah Al Kahfi beberapa pemuda ditidurkan selama 300 tahun lebih bersama anjingnya. Semuanya masih segar ketika keluar dari gua setelah 300 tahun tidur. Kemudian mereka membelanjakan uang yang mereka miliki dan sudah kadaluarsa. Ternyata mereka bangun dari tidurnya setelah pergantian beberapa raja. Alasan mereka masuk gua karena mereka ingin menegakkan iman dan takwanya dan bersembunyi dari ancaman seorang raja yang dzalim.

Mengapa mereka tidak berjihad saja sehingga mati syahid dan masuk surga?

Jawaban ustadz: Karena pada saat itu belum ada perintah jihad dari Allah Taala. Bahkan di jaman Rasul pada awal kerasulannya tak ada perintah jihad dari Rasul karena baru turun dari Allah setelah hijrah, sekitar dua tahun Rasul berada di Madinah. Ditandai dengan perang Badar. Makanya saat sebelum hijrah Sumayah, anaknya dan suaminya disiksa sampai mati oleh kaum kafir. Saat itu sahabat menanyakan ke Rasul kenapa mereka tak boleh melawan karena Rasul kan utusan Allah. Rupanya, rasul menunggu perintah Allah yang baru terjadi setelah hijrah. Makanya pemuda Kahfi tak berperang saat itu. Sedangkan sifat perang dalam Islam adalah membela diri, bukan menyerang.

Makna surah Al Kahfi:

1.) Menegakkan tauhid
2.) Kisah Musa dan Khidir, tak boleh sombong
3.) Zulkarnaen berddakwah utk penguasa

Mengapa ada hadits membaca Al Kahfi pada setiap hari Jumat?

Jawab ustadz: Maknanya sebenarnya bukan pada hari Jumatnya namun setiap minggu kita diharapkan memperbaharui, meningkatkan iman kita. Ada lima surah yang disunnahkan dibaca setiap minggu selain Al Kahfi yaknia: Ar Rahman, Al Mulk, AL Waqiah dan Yaasin. Semuanya termasuk dalam wirid pekanan (mingguan).

10 ayat pertama Al Kahfi adalah tentang tauhid
10 ayat terakhir A; Kahfi, masuk jannah atau naar

Wallahu’alam bishawab

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 104 other followers