Feeds:
Posts
Comments

Catatan singkat kutbah Jumat di masjid Nurul Ikhlas, Pesanggrahan, Jaksel hari ini.

Muraqabatullah: sifat dimana setiap saat merasa selalu diawasi oleh Allah.

Ada empat jenis muraqabatullah:

  1. Muraqabatullah dalam ketaatan. Merasa setiap saat selalu diawasi oleh Allah untuk menjalankan setiap perintahNya.
  2. Muraqabatullah dalam maksiat, yakni setiap melakukan maksiat atau melanggar laranganNya segera minta ampun ke Allah karena setiap saat merasa diawasi terus menerus oleh Allah.
  3. Murabatullah dalam hal yang dibolehkan, misalnya bekerja. Tentu pekerjaannya harus: i.) yang sesuai dengan syariat Islam; ii.) dikerjakan secara profesional, tekun; iii.) diniatkan untuk menjalankan ibadah kepada Allah; iv.) tidak melakukan pelanggaran dalam menjalankan pekerjaan, misalnya korupsi atau kecurangan lainnya.
  4. Muraqabatullah dalam musibah. Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Bila ia mendapat nikmat, ia bersykur. Maka ketika ia bersyukur maka Allah akan menambahkan kenikmatan, Bila ia terkena musibah, ia bersabar. Maka dalam kesabarannya tersebut Allah memberikan pahala atas kesabarannya.

Bagaimana agar kita bisa mencapai taraf muraqabatullah? Ada tiga cara:

  1. Selalu meningkatkan keimanan kepada Allah
  2. Bersegera dalam mengerjakan panggilan Allah baik dalam hal shalat, puasa, zakat maupun haji. Kita tak pernah tahu bisa jadi pada saat menunda panggilan kita justru dipanggil Allah dalam kematian.
  3. Memperbanyak amalan-amalan sunnah maupun amalan lainnya.

Pagi ini sekitar pukul 9 kajian di radio Rodja membahas bagaimana manusia nanti di hari kemudian menapaki jembatan sirath dimana pada ujungnya adalah surga Allah Tabaroka Wa Taala namun di bawahnya adalah neraka yang panasnya luar biasa. Sebagian besar manusia di dunia ini menjadi penduduk neraka. Adapun surah yang dinukil dalam kajin ini adalah Al Araf ayat 50.

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,
(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

(QS 7:50-51 A Araf)

Judul kajian adalah “Manisnya Surga, Pahitnya Neraka”

Alhamdulillah, hari ini bisa shalat Jumat di masjid Nurul Ikhlas. Topik kutbahnya terkait bulan-bulan haram yakni Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram.

Bulan Rajab adalah salah bulan Haram (suci) sebagaimana Firman Allah Ta’ala terkait dengannya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ (سورة التوبة: 36)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Bulan-bulan Haram adalah Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 4662 dan Muslim, 1679 dari Abu Bakrah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya (ada) empat bulan Haram, tiga (bulan) berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam serta Rajab Mudhar yang terdapat di antara (bulan) Jumadi Tsani dan Sya’ban.”

Khatib (ustadz Nurdin Sidik) mengatakan bahwa bagus bila puasa di awal bulan Rajab. Bahkan beliau menambahkan bila puasa masing2 3 hari selama empat bulan Haram tersebut maka [ahalanya sama dengan ibadah selama 70 tahun. Kurang jelas darimana dalilnya, namun sepanjang yang saya pelajari dari beberapa sumber, tak ada anjuran khusus ibadah baik itu puasa atau shalat terkait bulan harram. Kalaupun memang sudah biasa melakukan puasa sunnah di tengah bulan, itu pun bukan dikhususkan karena bulan Rajab atau bulan Harram.

Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata dalam kitab Fiqih Sunnah, 1/383: “Puasa Rajab tidak ada keutamaan tambahan dibandingkan dengan (bulan-bulan) lainnya. Hanya saja ia termasuk bulan Haram. Tidak ada dalam sunnah yang shahih bahwa berpuasa mempunyai keutamaan khusus. Adapun (hadits) yang ada tentang hal itu, tidak dapat dijadikan hujjah.”

Kita harus hari2 menyikapi anjuran ibadah yang tak ada dalilnya, seperti anjuran puasa di bulan Rajab ini …

Alhamdulillah, malam ini saya sudah bisa mengikuti shalat Isya berjamaah di masjid Nurul Ikhlas yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari rumah saya. Terhitung 7 April 2015 hingga malam ini, atau sekitar 15 hari (2 minggu) saya absen dari shalat berjamaah di masjid. Kejadian malam ini pun tanpa saya rencanakan dengan baik karena memang pada dasarnya yang membuat saya berhalangan datang ke masjid adalah karena sesak nafas yang berat kalau berjalan beberapa meter saja. Selain ituu, bagian punggung dan dada sebelah kiri masih kadang terasa sakit kalau bergerak. Namun karena bada Maghrib tadi saya merasakan agak lega dari segi pernafasan, maka saya putuskan untuk berjalan ke masjid Nurul Ikhlas. Persoalannya, saya masih belum bisa ruku’ dan sujud dengan sempurna. Maka saya menenteng kursi ringan untuk saya gunakan pada saat sujud dengan duduk saja, sambil membungkukkan badan seolah sujud.

Salah satu kekhawatiran saya ketika masuk masjid adalah bila ada pertanyaan bertubi-tubi: “Sakit apa pak?”. Sebenarnya wajar mereka, para jamaah, menanyakan hal itu karena dua minggu penuh saya menghilang dan tanpa memberikan kabar ke tetangga bahwa saya terkena musibah kecelakaan sepeda. Saya sengaja tidak memberi tahu karena ada rasa ketidaksiapan secara psikologis bila mereka berbondong-bondong ke RSPP menjenguk saya. Kenyataannya memang demikian, selama dirawat saya sangat mengurangi berbicara banyak karena memang sakitnya bukan main baik sebelum maupun sesudah operasi. Memang masih banyak yang mengunjungi dari teman2 profesi maupun komunitas; namun untungnya ada istri atau anak saya yang siap jadi jubir saya kalau ada yang tanya kronologis kecelakaan. Padahal, pada saat di RSPP fokus saya hanya kesembuhan total, tak mau lagi memikirkan kronologi kecelakaan. Buat apa? Wong, sudah terjadi. Nanti saja kalau sudah sembuh total, itupun buat pembelajaran agar musibah serupa bisa dihindari. Tentu atas ijin Allah.

Salah satu jamaah masjid memang saya beri tahu, namun tak sengaja karena beliau. Pak Haji Amadin, sedang umrah dengan istri dan besannya. Bahkan saya sempat minta didoakan di tanah suci agar kesehatan saya segera memulih. Namun tentunya beliau tak sempat memberi kabar ke jamaah lainnya. Benar saja, begitu melihat saya masuk masjid dengan tertatih-tatuh serta membawa kursi, dua orang jamaah yakni pak Abdullah dan Sofyan (? duh …lupa namanya) menayakan. Saya menjelaskan dengan setenang-tenangnya sambil menuju barisan saf shalat berjamaah. Tak masalah, mereka berhak mengetahui.

Rasanya segar sekali bisa ikutan shalat berjamaah yang sudah 15 hari tak pernah saya ikuti lagi. Pada saat dirawat di RSPP saya selalu ingin ikut shalat berjamaah saat terdengar adzan di masjid RSPP. Pasanya, setiap pulang ke rumah bersepeda saya sering sekali mampir ke masjid ini untuk Maghrib atau Isya berjamaah. Enak sekali shalat di masjid ini karena tak heboh setelah shalat ada doa2 yang keras. Tenang sekali masjid ini meski ada marbot dan imam khusus yang terjadwal dengan apik di masjid ini. Ini adalah alternatif terbaik dibandingkan masjid AL Azhar yang lantai shalatnya di atas dan tinggi sekali. Kalau habis naik sepeda rasanya gak kuat naik ke lantai dua. Selain itu masjid RSPP mengingatkan saya pada peristiwa lima tahun lalu ketika saya selama seminggu tidur di RSPP menjaga ibu saya yang dirawat saat itu.

Alhamdulillah … Isya malam ini di masjid Nurul Ikhlas terasa penuh makna setelah kerinduan yang cukup lama. Mungkin ini cara Allah untuk menegur saya bahwa bisa mengikuti shalat berjamaah tiap hari itu harus disyukuri. Kadangkala kalau sudah rutin, saya yang dhoif ini suka lupa bersyukur tentang hal ini. Semoga selanjutnya masih bisa ikut shalat berjamaah … Aaamiin Allohumma Aamiin ….

Wass,

Yang sering terlupakan …

senyum sedekah

Di copas dari Dr. Agus Setiawan:

Assalaamu’alaik um warohmatullohi wabarokaatuh 

Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini. 

Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya, sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya berbuat hina dengan orang. 

Dalam sejarah peradaban Indonesia, suku-suku lain pun memiliki semangat yang tidak kalah tingginya dalam menebus kehormatan. Menurut Hamka, bangsa-bangsa Barat sudah lama mengetahui sifat ini. Mereka telah berkali-kali dikejutkan dengan ringannya tangan orang Bugis untuk membunuh orang kalau kehormatannya disinggung. Demikian pula orang Madura, jika dipenjara karena membela kehormatan diri, setelah bebas dari penjara ia akan disambut oleh keluarganya, dibelikan pakaian baru dan sebagainya. Orang Melayu pun dikenal gagah perkasa kalau sampai harga dirinya disinggung. Bila malu telah ditebus, biasanya mereka akan menyerahkan diri pada polisi dan menerima hukuman yang dijatuhkan dengan baik. 

Di masa lalu, anak-anak perempuan di ranah Minang betul-betul dijaga. Para pemuda biasa tidur di surau untuk menjaga kampung, salah satunya untuk menjaga agar anak-anak gadis tidak terjerumus dalam perbuatan atau pergaulan yang menodai kehormatan kampung. Pergaulan antara lelaki dan perempuan dibolehkan, namun ada batas-batas tegas yang jangan sampai dilanggar. Kalau ada minat, boleh disampaikan langsung kepada orang tua. 

Di jaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap) kecil saja. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuanny a, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah. 

Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”. 

Penjajahan kolonial di Indonesia membawa masuk pengaruh Barat dalam pergaulan muda-mudi bangsa Indonesia. Pergaulan lelaki dan perempuan menjadi semakin bebas, sejalan dengan masifnya serbuan film-film Barat. Batas aurat semakin berkurang, sedangkan kaum perempuan bebas bekerja di kantor-kantor. Demi karir, mereka rela diwajibkan berpakaian minim, sedangkan keluarganya pun merasa terhormat jika mereka punya karir, tidak peduli bagaimana caranya. Tidak ada lagi kecemburuan. 

Tidak ada yang boleh marah melihat anak perempuannya digandeng pemuda yang entah dari mana datangnya. Suami harus lapang dada kalau istrinya pergi bekerja dengan standar berpakaian yang jauh dari syariat, karena itulah yang disebut “tuntutan pekerjaan”. 

Sesungguhnya ghirah itu merupakan bagian dari ajaran agama. Pemuda Muslim yang membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ menjawab jerit tangisnya karena adanya ikatan aqidah yang begitu kuat. Menghina seorang Muslimah sama dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan. 

Ghirah adalah konsekuensi iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Bangsa-bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini. Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah perlawanannya. 

Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan dengan berdirinya negara Pakistan. 

Dua dasawarsa lebih berlalu dari wafatnya Hamka, nyatalah bahwa hilangnya ghirah adalah salah satu masalah terbesar yang menggerogoti umat Islam di Indonesia. Sekarang, orang tua pun rela menyokong habis-habisan anak perempuannya untuk menjadi mangsa dunia hiburan. Para ibu mendampingi putri-putrinya mendaftarkan diri di kontes-kontes model dan kecantikan, yang sebenarnya hanya nama samaran dari kontes mengobral aurat. 

Kalau kepada putri sendiri sudah lenyap kepeduliannya, kepada agamanya pun begitu. Makanan fast food dikejar karena prestise, tak peduli keuntungannya melayang ke Israel untuk dibelikan sebutir peluru yang akhirnya bersarang di kepala seorang bayi di Palestina. Kalau dulu seluruh kekuatan militer umat Islam dikerahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’ hanya karena satu Muslimah dihina oleh tukang sepuh, maka kini jutaan perempuan Muslimah diperkosa, jutaan kepala bayi diremukkan dan jutaan pemuda dibunuh, namun tak ada satu angkatan bersenjata pun yang datang menolong. 

Luar biasa generasi anak-cucu Buya Hamka, karena mereka telah benar-benar mati rasa dengan agamanya sendiri. Ketika anak-anak muda dibombardir dengan pornografi, maka umatlah yang dipaksa diam dengan alasan kebebasan berekspresi. Tari-tarian erotis digelar sampai ke kampung-kampung yang penduduknya tak punya cukup nasi di dapurnya, hingga yang terpikir oleh mereka hanya jalan-jalan yang serba pintas. Ramai orang mengaku nabi, sementara para pemuka masyarakat justru menyuruh umat Islam untuk berlapang dada saja. Padahal yang mengaku-ngaku nabi ini ajarannya tidak jauh berbeda: syariat direndahkan, kewajiban-kewaj iban dihapuskan, para pengikut disuruh mengumpulkan uang tanpa peduli caranya, orang lain dikafirkan, bahkan para pengikutnya yang perempuan disuruh memberikan kehormatannya pada sang nabi palsu. Atas nama Hak Asasi Manusia, umat disuruh rela berbagi nama Islam dengan para pemuja syahwat. 

Atas nama toleransi, dulu umat Islam digugat karena penjelasan untuk Surah Al-Ikhlash dalam buku pelajaran agama Islam dianggap melecehkan doktrin trinitas. Kini, atas nama pluralisme, umat Islam dipaksa untuk mengakui bahwa semua agama itu sama-sama baik, sama-sama benar, dan semua bisa masuk surga melalui agamanya masing-masing. Maka pantaslah bagi kita untuk merenungkan kembali pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar ketika menjelaskan makna dari ayat ke-9 dalam Surah Al-Mumtahanah: 

…orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam. 

“Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.” 

Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan. (Buya Hamka) 

Wassalaamu’alai kum warohmatullohi wabarokaatuh 

“Wahai yang bersemangat lemah, sesungguhnya jalan ini padanya Nuh menjadi tua, Yahya dibunuh, Zakariya digergaji, Ibrahim dilemparkan ke api yang membara, dan Muhammad disiksa, dan engkau menginginkan Islam yang mudah, yang mendatangi kedua kakimu?” ~ Ibnu Qayyim al-Jauziyah ~ 

Alhamdulillah, atas ijin Allah Taala dan doa dari teman2, hari ini pukul 15:00 sudah boleh pulang dari RSPP. Terima kasih.

image

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers