Feeds:
Posts
Comments

Alhamdulillah tadi malam akhirnya menyelesaikan membaca buk dahzyat yang dihadiahkan oleh Koh Win (KW) ke saya saat perjumpaan nuansamatik di edOTEL SMK Negeri 1  Jombang pada tanggal 6 Agustus 2016 yang lalu. Cukup lama memang untuk menyelesaikan membaca buku ini karena selain terganggu aktivitas lain juga isinya yang padat sehingga saya perlu merenung untuk meresapi dan kemudian membaca halaman yang saya rasa sangat penting.

Harus saya akui, kalau saja pada saat itu KW tidak menjelaskan ke saya terlebih dahulu tentang makna tauhid dikaitkan dengan buku ini, akan lebih sulit bagi saya mencerna isisnya karena memang bagi saya isinya sungguh sangat mendalam karena ini adalah akar dari segala hal yang kita lakukan sebagai seorang muslim. Kalau tauhid kita salah atau bengkok, serangkaian amal soleh dan ibadah kita lainnya tak kan pernah diperhatikan oleh Allah subhanahu wa taala. Dari diskusi di sebuah kamar di edOTEL tersebut KW secara gamblang mengulas buku ini hingga kami tidur larut malam, sekitar pukul 1:15, padahal paginya harus bangun untuk Shubuh di masjid Agung Jombang, karena saat saya mengunjungi Jombang tahun 2013 tak sempat Shubuh di masjid ini. Yang jelas, saya jadi “ngeh” apa itu arti “Syarah” yang sering saya lihat kalau mengunjungi toko2 buu muslim di Basement Blok M Square. Arti sederhananya adalah “penjelasan” dari sebuah kitab dahzyat fenomenal karya Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab (lahir di kota Uyainah 1115 H) bertajuk “Kasyfu Syubuhat”. Jadi, ini pada dasarnya buku yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin untuk menjelaskan kandungan dari kitab Kasyfu Syubuhat agar bisa dipahami oleh masyarakat luas, yakni kita sebagai pembaca buku ini.

Banyak hal yang saya pelajari dari buku ini yang pada awalnya saya nikmati membaca kata demi kata, halaman demi halaman, menyangkut banyak hal terkait penulis kitab dan pensyarah yang keduanya orang shalih – masya Allah – dan tak hanya itu, saya resapi betul hal-hal pokok yang ditulis di buku ini terkait dengan apa-apa yang perlu saya tingkatkan. Tak kuasa memantau makna sungguh dalam dari setiap kata atau kalimat, akhirnya saya ambil pena warna merah untuk menggaris-bawahi hal-hal penting yang kemudian hari bisa saya ambil sebagai acuan penting. Buku yang tadinya mulus, sekarang penuh dengan coretan garis merah. Jujur aja, sebenenya setiap kata perlu digaris-merahi ….tapi jadi lucu tentunya kalau semua digaris.

Di bawah ini adalah pokok-pokok yang saya anggap penting:

1.) Perlunya kita ber-ilmu, yakni mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang sebenarnya. (hal 23).

Tingkatan ilmu seseorang ada enam:

  1. Mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang sebenarnya.
  2. Al jahlul basith yakni tidak mengetahui sama sekali.
  3. Al jahlul murakkab yakni menegtahui sesuatu tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Disebut murakkab karena pada orang tersebut ada dua kebodohan: bodoh karena tak mengetahui yang sebenarnya dan bodoh karena beranggapan dirinya tahu, padahal sebenarnya tidak tahu.
  4. Al wahm yakni mengetahui sesuatu dengan kemungkinan salah lebih besar daripada benarnya.
  5. As syak yakni mengetahui sesuatu yang kemungkinan benar atau salahnya sama.
  6. Azh zhan yakni mengetahui sesuatu yang kemungkinan benarnya lebih besar dari salahnya.

2.) Tauhid secara bahasa berasal dari kata kerja wahhada yuwahhad yang maknanya adalah menjadikan sesuatu itu satu saja. Tauhid tidak bisa terealisir kecuali dengan cara meniadakan sekaligus juga menetapkan. Hal ini penting bagi saya sehingga saya meresapi sendiri bagaimana “la ilaha” yang maknanya meniadakan bahwa tak ada tuhan, yang kemudian disertai penetapan kokoh “ilallah” yang maknanya adalah “selain Allah”. Ini yang harus kita kokohkan di dalam hati dan harus menancap kuat akarnya, jangan sampai hilang sedikitpun. Sehingga maknanya yang harus kita camkan dan resapi setiap saat adalah:

Tiada tuhan yang wajib disembah selain Allah.

3.) Tauhid terbagi tiga:

  1. Tauhid rububiyah, ialah mengesakan Allah dalam hal mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta.
  2. Tauhid uluhiyah, ialah mengesakan Allah dalam beribadah, beribadah hanya kepada Allah semata.
  3. Tauhid asma’ wa sifat, ialah mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nyayang terdapat dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya.

4.) Mengesakan Allah dalam beribadah. Dan tauhid ini adalah inti agama para rasul yang diutus Allah untuk mendakwahkan agama itu kepada para hamba-Nya. (hal. 26) Yang dimakksud di sini adalah tauhid uluhiyah yang merupakan inti agama yang dibawa oleh para Rasul. Mereka diutus oleh Allah untuk menegakkan tauhid ini.

5.) Rasul pertama (dari rasul-rasul Allah) adalah Nuh alaihi sallam.

Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepada(perintah)ku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu-daya yang sangat besar.”Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”. (QS Nuh ayat 21-23)

6.) Rasulullah memerangi orang-orang musyrik agar seluruh doa hanya kepada Allah, seluruh penyembelihan kurban hanya untuk Allah, seluruh nadzar hanya untuk Allah, istighasah (permohonan pertolongan) hanya kepada Allah, dan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah.

Larangan Rasul ini jlas dan tegas bahwa hanya Allah subhanahu wa taala adalah penolong sejati sehingga apapun bentuk persembahan hanya kepada Allah, segala bentuk permohonan hanya ditujukan kepada Allah, ibadah juga hanya kepada Allah TANPA PERANTARA.

Jangan pernah memohon doa kepada Rasul agar Allah mengabulkan permintaan kita karena ini sudah syirik. Mintalah langsung kepada Allah.

7.) Memahami makna la ilaha ilallah memberikan dua manfaat: (hal. 58-59)

  • Pertama, gembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya
  • Kedua, hati akan merasa sangat takut

Karena jika engkau telah mengetahui bahwa seseorang bisa menjadi kafir lantaran kata-kata yang keluar dari lisannya, sekalipun dia mengucapkan kata-kata tersebut dalam keadaan tidak mengerti bahwa itu kata-kata kufur, maka tidak dapat diterima udzur (alasan) atas kebodohannya itu.

Dan kita tak boleh mengafirkan seseorang kecuali dalam perkara yang telah menjadi kesepakatan para ulama, contohnya mengingkari dua kalimat syahadat. Kita baru boleh mengafirkan seseorang setelah kita beri peringatan dan dia mengerti tetapi tetap mengingkarinya.

8.) Syaikh sebenarnya tak pernah mengafirkan seseorang, namun hanya menyebutkan ciri-ciri golongan orang kafir, yakni empat golongan:

Pertama, orang yang mengetahui tauhid adalah agama Allah dan rasul-Nya yang perlu kita dakwahkan kepada manusia dan dia juga tahu bahwa menyembah batu, pohon, dan manusia yang banyak dilakukan orang adalah perbuatan syirik; akan tetapi dia tidak mau bertauhid dan juga tak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Tahu namun tidak mau, namun tidak mengajak orang lain.

Kedua, orang yang mempunyai pengetahuan dan pemahaman seperti golongan pertama tetapi ia mencela agama para Rasul, merasa lebih baik dari mereka yang mentauhikan Allah. Tahu namun mencela dan menganggap dirinya lebih baik dari mereka yang bertauhid.

Ketiga, orang yang memahami tauhid, lalu mencintai dan mengikutinya, meninggalkan perbuatan syirik, namun ia membenci orang-orang yang masuk ke dalam naungan tauhid dan menyukai orang-orang lain dalam kesyirikan. Tahu, mau bertauhid, namun tak rela orang lain ikut bertauhid dsn membencinya.

Keempat, orang yang tidak termasuk dalam tiga golongan di atas, akan tetapi penduduk negerinya mengikuti kesyirikan dan terus menerus menampakkan permusuhan kepada orang-orang yang bertauhid dan berusaha memeranginya. Memusuhi dan memerangi golongan orang yang bertauhid.

Empat golongan orang di atas tergolong menyimpang dari jalan Allah dan rasul-Nya, kafir.

9.) Allah telah menjelaskan di dalam kitab-Nya bahwa barangsiapa beriman kepada sebagian ayatnya dan mengingkari sebagian ayat lain, maka ia kafir sebenar-benarnya. (hal. 140)

Telah diketahui bersama bahwa tauhid adalah sebesar-besar ajaran yang dibawa oleh Nabi. Tauhid lebih utama daripada shalat, zakat, puasa dan haji. Apabila seseorang mengingkari salah satu dari ini maka ia adalah kafir sebenar-benarnya walaupun ia mengamalkan semua pelajaran Rasul.

Kesimpulan

Buku ini layak dibaca oleh setiap muslim untuk mengokohkan tauhid. Ada tiga pembelajaran pokok dalam buku ini yang bisa kita petik:

  1. Tauhid merupakan pondasi dari semua bentuk amalan kita. Kalau tauhidnya tercemar maka rusaklah semua amalan ibadah yang kita lakukan meski kita menjalankan dengan dalil Quran dan seunnah Rasul.
  2. Tauhid tidak bisa terealisir kecuali dengan cara meniadakan sekaligus juga menetapkan.Tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah subhanahu wa taala.
  3. Bila orang hanya mengimani sebagian dari ayat-ayat Allah dan sebagian lainnya mengingkarinya maka ia tergolong kafir dan percuma semua amal ibadahnya.

Sangat layak dibaca dan menjadi referensi wajib untuk mengokohkan pondasi iman kita.

Wallahua’alam bishawab.

 

 

 

 

Catatan Kutbah Jumat di Masjid Nurul Ikhlas (26/08/2016):

  1. Bagi yang sudah ada kelapangan rezki, kesempatan dan kesehatan hukumnya wajib untuk berhaji. Bagi yang mengabaikannya maka Allah subhanahu wa taala memasukkan ke dalam kekufuran pada hari akhir nanti.
  2. Bagi yang tidak menjalankan ibadah haji saat ini dan ada kelapangan rezki, disunnahkan (muakad) untuk berkurban hewan ternak yang dagingnya untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. Ada empat hikmah dalam berkurban:
    1. Pertama, berbagi kesenangan dengan masyarakat sekitar karena masih banyak orang yang belum bisa menikmati lezatnya daging hewan ternak.
    2. Kedua, bukan darah maupun daging ternak yang dikurbankan untuk Allah subhanahu wa taala namun “nilai-nilai takwa” kita yang sampai kepada Allah.
    3. Ketiga, berkurban akan membaurkan kondisi sosial kita dengan masyarakat sekitar, tak ada jurang kaya-miskin, meningkatkan empati kita sebagai pengkurban.
    4. Keempat, ini merupakan tabungan akhirat bagi kita karena Allah memberikan pahala sangat besar bagi yang berkurban. Harus diingat keikhlasa nabi Ibrahim ketika dengan ikhlas menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya yang telah tumbuh menjadi anak soleh, Ismail, dengan segera Allah gantikan dengan seekor kambing gibas yang besar. Ini adalah bukti nyata akan balasan pahala Allah subhanahu wa taala terhadap umat yang ikhlas mengerjakan segala sesuatu hanya untuk Allah.
  3. Bagi yang tidak haji juga disunnahkan mengerjakan Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah yang pahalanya menghapus dosa sebelum dan sesudahnya.

Sebuah kutbah yang sangat lugas dan jelas penyampaiannya sekaligus menghunjam ulu ati. Jazakallahu khairan, pak Khatib.

Wallahua’alam

Berhaji dan Berkurban

Catatan Kutbah Jumat, 19/08/2016, Graha Mandiri.

Saat ini saudara-saudara kita sedang menjalani ibadah haji, menuju tanah suci Makkah.
Perintah ibadah sifatnya umum. Banyak peribadahan kita yang dilakukan secara berjamaah. Setidaknya ini membuat kita berpikir:

Shalat, kenapa Allah dan Rasul menekankan berjamaah?
Kenapa umat Islam bertemu setiap Jumat
Mengapa haji dg baju ihram

Apakah sampai di situ? Terlalu naif bila kita berpikir sampai sejauh itu. Justru kita dipacu untuk meresapi dan berpikir mengapa musti berjamaah?

Semua yg haji menanggalkan baju sehari hari, semuanya berbaju ihram, semuanya.
Shalat berjamaah diutamakan
Kita perlu keseragaman, menyatukan persaudaraan. Sesama orang beriman adalah saudara. Makin besar jamaah makin besar toleransi kita dan makin besar keimanan kita.
Berpegang teguh pada tali Allah, jangan terpecah belah. Yang mengganggu persaudaraan seiman:

Arogan, merasa “lebih” dari lainnya. Makanya Rasul perintahkan shalat berjamaah agar kita tak saling arogan.
Tuhan kita satu
Kitab satu
Nabi satu
Kenapa musti terpecah belah?
Lepaskan semua kebanggaan dunia
Kalau sering bersama dengan tujuan sama niscaya kerukunan bisa terbangun.
Jakarta masih galau belum ada yg diandalkan sebagai pimpinan. Untuk kepentingan lebih besar dituntut keterbukaan.

 

Parkir sepeda di Graha Mandiri cukup aman karena dirantai dan gembok oleh Satpam.

JrèNg!

Pagi ini nikmat sekali gowes pake sepedah bridgestone Alsus dari rumah menuju Graha Mandiri. Jalur yang selama ini saya tempuh ternyata adalah yang terbaik setelah hari Selasa pagi (16/08) mencoba jalur lin yang ternyata bukan lagi macet tapi mampe, yaitu via jl. Tentara Pelajar. Kapok lewat situ karena dari lampu merah sebelum stasiun Palmerah, semua kendaraan baik mobil maupun motor semuanya mampet sepanjang lebar jalan, bahkan jalan kaki pun sulit. Saya terpaksa ambil jalan nyebrang ke arah Bakso Lapangan tembak dengan melawan arus, menuntun sepeda menyeberang rel kereta api. Setelah itu lanjut gowes lewat TVRI, naik fly over menuju Semanggi dan masuk Sudirman, kemudian ambil Jl. Galunggung di Landmark.

Rute hari ini sebenarnya standar seperti biasanya kalau saya ke kantor klien di sekitar Monas, atau Ratu Plaza atau Graha Mandiri. Dari rumah menuju Jl. Mepati, tembus di Jl. Bintaro, terus menyusuri Tanah Kusir, Ciputat Raya, Pakubowono VI, Hang Lekir, trus nyebrang di Senayan City ke arah Sudirman, ambil jalur cepat. Akhirnya ketemu juga monumen “A Cyclist was strike here …RIP Hendra” yakni di seputaran area sebelum Mid Plaza / apartemen Da Vinci. Sedih juga melintasi area ini. Ini pertanda kehati-hatian harus ditingkatkan selalu saat gowes.

Karena gowes santai, sampai di Graha Mandiri sekitar pukul 9:10 alias satu jam perjalanan. Biasanya saya tempuh dalam 50 menit. Tapi tetap nikmat kok … Uasik tenan ….! Sesampainya di basement Graha Mandiri, saya parkir di tempat parkir khusus sepeda. Di area parkir sepeda ini ada beberapa sepeda yang hanya diparkir saja, tak pernah digowes oleh yang punya sepeda. Waktu hari Selasa penuh sekali sepeda rongsokan yang berdebu, dekil dan diparkir di situ dalam periode yang lama. Rupanya Satpam melakukan pembersihan sehingga sekarang ada tiga sepeda yang sudah dicopot dari pagar sepeda, ditempatkan di area lain (sepertinya). Memang sih, harusnya begitu, jadinya agak bersih. Lihat foto: sepeda lipat Dahon yang pake motor itu sudah berbulan-bulan gak pernah dipakai, debunya minta ampun tebalnya, bisa buat tanam kacang. Sementara itu sepeda jengki yang paling ujung sebelah Dahon adalah sepeda aktif, dipakai oleh pemiliknya.

Mari kita galakkan gowes agar Jakarta tak mampet lagi …!

 

Alasan ke 8: Obsesi terhadap sepeda ketika masih kecil

Sepeda memang bukan barang asing bagi saya bahkan sejak masih usia balita ketika bapak saya membelikan sepeda roda tiga ketika saya belum juga sekolah TK. Sejak itu saya nggumun (kagum, heran – red.) – kok bisa ya dengan mengayuh pedal kok roda bergerak dan memindahkan posisi dari satu titik ke titik selanjutnya. Luar biasa.

Saat saya duduk di bangku kelas 4 SD Guntur Madiun. Saya pernah mengajukan proposal kepada ibu saya. Masih ingat sekali saya, saat itu ibu sedang menggoreng tempe di pawon (dapur – red.). Saya sangat hati-hati mengajukan proposal tersebut, tentu karena saya ingin ibu saya langsung menyetujuinya. Singkat cerita, saya harus membuat strategi jitu, cari waktu yang tepat dan juga saya harus cari suasana yang pas. Saat siang hari setelah saya pulang dari sekolah, saya dapati ibu saya sepertinya suasananya sedang asik menggoreng tempe dengan wajah ceria. “Saatnya beraksi nih,” ujar saya dalam hati.

Sambil agak gemetar, saya mulai menjalankan strategi saya:

“Bu …”

“Ono opo le?” jawab ibu saya

“Tahu Iwan Zulkifli bu? Itu lho yang rumahnya di komplek PNKA, Jl Biliton …”

“Wah ….ibu kok ra kenal yo le…”

“Nanti ibu pasti kenal, saya akan ajak dia main ke rumah kita”.

“Itu lho bu …Iwan punya sepeda bagus sekali …,” lanjut saya

“Model baru bu ..namanya sepeda mini…!!

Bolehkah aku minta ibu membelikan aku seperti punya Iwan?”

“Ah …itu sepeda kan hanya untuk bisa dipakai sampe kelas 6 SD, nanti kalau kamu SMP sepeda itu siapa yang akan pakai …”

“Tapi bu …..”

“Lagian, orang tua Iwan kan orang kaya. Bapak kan sudah tidak ada ….….tinggal ibu sendiri,” jawab ibu lirih dengan nada mulai merendah

“Iya bu …” jawab saya sambil bercampur aduk antara kecewa dan kasihan ibu.

Ibu melanjutkan “Nanti kalau banyak jahitan, ibu belikan sepeda jengki ..”

Gedubrak! Saya kecewa setengah mati mendengar jawaban ibu tersebut. Namun saya tahu persis kondisi ekonomi kami tak mungkin.  Masih ingat saya, kadang ibu hanya memasak sayur lodeh beton (biji nangka). Ya, hanya bijinya, tanpa ada nangkanya. Lauknya pun tempe gembus. Tapi jangan tanya, itu enak sekali dan saya tak ada masalah memakannya. Saya yakin bukan ibu tak punya uang, karena jahitan selalu ada. Tapi ibu hanya ingin hemat, menabung buat masa depan saya dan tiga kakak saya.

Beberapa hari setelah itu Heri, putranya Kepala Pertamina, naik sepeda mini. Saya masih ingat, warnanya kuning menyala. Saya semakin ingin memiliki sepeda mini. Namun saya tahu, itu tak kan mungkin bisa saya miliki.  Bukan. Bukan karena ibu saya pelit. Ibu saya bijak dan visioner. Beliau tahu bahwa sepeda mini masa pakainya seperti sepeda roda tiga. Sedangkan dua tahun lagi saya sudah SMP, tak cocok sepeda mini lagi.

Saya kecewa sekali meski saya faham maksud ibu. Saya tak kuasa merengek karena pendapat ibu benar adanya.

Heri dan Iwan sering melintas dengan sepeda mininya. Fantasi saya terhadap sepeda mini semakin menjadi-jadi. Bagi saya, sepeda ini paling sexy dan paling moderen. Ada dua hal utama yang membuat saya suka sekali speda mini. Pertama, sadelnya panjang nyambung ke belakang. Di bagian ujung belakang ada sandarannya….aduh kerrreeennn!! Rasanya seperti memiliki sepeda motor. Bayangkan, masih SD sudah bisa mengendarai sepeda motor! Opo ora nggajak (keren – red.) tenan??!!!!. Belum lagi warna sadelnya yang menyala. Punya Heri warna kuning sedang Iwan warna biru Benhur. Wah!! Betapa gagahnya kalau saya bisa menaiki sepeda mini!!

Kedua, saya suka bannya lebar seperti ban motor. Ketika sepeda ini dinaiki, kelihatan ban berputar tambah gagah. Rasanya sudah seperti motor beneran. Dua hal ini membuat fantasi saya terhadap sepeda mini makin menggila. Setiap hari saya hanya berandai-andai ….Kalau orang tua saya Kepala Pertamina. Kalau orang tua saya Kepala PNKA. Ya sudahlah ….apapun saya tidak punya sepeda mini. Oh …satu lagi …sepeda mini pakai persneling, seperti motor. Keren kelihatannya!

Beberapa bulan kemudian ibu menepati janjinya. Saya diberi-tahu bahwa ibu siap membelikan saya sepeda. Fantasi saya akan jadi kenyataan. Namun ibu konsisten dengan janjinya, sepeda jengki bukan sepeda mini. Yaaaaaaa…..(dalam hati saya kecewa). Tapi saya terima juga tawaran ibu tersebut dari pada jalan kaki. Saya memilih merek sepeda FOREVER karena jarang yang pakai. Saat itu yang banyak dipakai merek Phoenix, Asia Bike, atau Sim King. Tentu saya ingin tampil beda… Saya pilih Forever warna hijau tentara!

Tak mendapatkan sepeda mini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Saya sedang digembleng untuk merasakan ketidak-nyamanan. Ketidak-nyamanan itu merupakan modal dasar untuk ikhlas. Berat rasanya menerima kenyataan bahwa saya tak mendapatkannya. Hidup ini memang tak sepenuhnya bisa saya kendalikan. Banyak variabel-variabel yang di luar kendali saya. Sepeda mini harus saya akui sebagai fantasi saya yang luar biasa buasnya. Saking inginnya memiliki sepeda mini, beberapa kali saya mimpi memilikinya. Begitu saya kecewa, ada rasa berontak dari dalam diri Kenapa saya tak bisa memilikinya? Bukankah Iwan dan Heri itu juga teman-teman saya? Mengapa mereka bisa memilikinya? Kenapa saya tidak?Tidak adil!

Setelah saya dewasa saya baru “ngeh”. Bahwa hidup ini tak selalu harus berjalan sesuai kehendak kita. Seperti Mick Jagger bilang di salah satu lagunya “You don’t always get what you want …”. Hidup harus dibarengi dengan pemahaman konteks yang terus berkembang. Konteks saya sebagai anak adalah mendapatkan kesenangan. Ibu saya lebih visioner, melihat dari aspek manfaat. Kalau mau membelanjakan uang, berpikirlah seperti sebuah investasi. Dalam investasi, manfaat diperoleh bukan sekedar jangka pendek, harus dilihat ke depannya bagaimana.

Ternyata ada ibrah (pembelajaran) lebih dalam lagi. Kita sering berpikir bahwa kita harus mendapatkan apa yang kita mau. Sebelum hal tersebut tercapai kita berjuang keras untuk mencapainya. Hal tersebut sangat bagus. Namun, bila menghalalkan segala cara, ini jelas melanggar ketentuanNya. Kita wajib berhenti pada suatu titik dimana ada batasan dariNya. Pada titik ini kita tak sadar bahwa Yang Maha Kuasa punya rencana lain. Seringkali kita tak bisa menerima rencanaNya. Padahal Dia jauh lebih tahu dari kita. Dia bukan lagi visioner, tapi sudah tahu secara tepat apa yang akan terjadi. Makanya Dia berikan yang TERbaik buat umatNya.Kalaupun saat itu saya mendapatkan sepeda mini tersebut, pada saat masuk bangku SMP saya akan merengek ke ibu minta sepeda jengki. Jadi, bila kita merasa “kandas”, mari kita nikmati saja …. Karena itu yang TERbaik dariNya ….

Alasan ke 7: Merontokkan mitos tak ada kamar mandi dan tempat ganti baju

Ini memang masalah yang bagi saya cukup besar karena saya tipe yang gak bisa gak mandi kalau sudah berkeringat. Dalam sehari saya bisa mandi tiga atau empat kali karena setiap badan berkeringat maka setelah keringat kering saya segera mandi. Untungnya di kantor-kantor pemerintahan biasanya ada kamar mandi yang bisa digunakan. Namun memang kondisinya tak selalu bersih dan kadang tak ada gantungan baju. Alternatif lainnya adalah masjid. Tak semua masjid memiliki kamar mandi yang tak terkunci. Namun ada cara untuk mandi meski di tempat berwudhu, dan itu tak masalah.

Namun belakangan saya menemukan cara lain bila memang tak ada tempat mandi, yakni dari rumah sudah mandi dan keramas dulu. Saat gowes kepala pake penutup kepala penuh sebelum pake helm. Begitu tiba di tujuan, cari kedai kopi yang cukup dingin untuk mengeringkan keringat sambil ngopi atau baca buku ringan. Begitu keringat kering, saya pakai handuk basah B-Cool yang kainnya seperti Kanebo untuk membilas badan yang tadinya berkeringat. Setelah itu pakai baju kerja, jangan lupa pake parfum. Beres sudah.

Jadi …memang kita harus berpikir untuk mencari solusi. Pada awalnya memang berat. Namun kalau sudah terbiasa, jadi gak masalah.

 

Alasan ke 6: Merontokkan mitos polusi

Ini memang tak terbantahkan karena memang lebih bersih bila kita berada di dalam mobil daripada di luar. Namun kalau kita amati pengendara kendaraan bermotor non-mobil semuanya juga menghadapi masalah polusi. Di sinilah kita harus menyiasati agar kita tak terkena polusi dengan cara memakai masker. Ini penting sekali. Saya berprinsip lebih baik gak jadi gowes kalau tak ada masker karena kalau tidak bakalan sesak nafas. Tak ada yang bisa mengurangi polusi karena jumlah kendaraan di Jakarta yang selalu bertambah dan semakin padat. Dengan menggunakan masker, insya Allah bisa tersaring hanya udara yang relatif bersih yang kita hirup.

Dalam hal ini saya tak menyangkal memang kalau udara di Jakarta pada umumnya memang sudah sangat polutif karena begitu banyaknya kendaraan yang mengeluarkan asap tebal dan tak terkendali. Memang paling aman berada di dalam mobil berpenyejuk udara dibandingkan di luar mobil. Menyikapi fakta ini lebih penting ketimbang meratapinya karena percuma, kalau dari ilmu 7 Habits nya Steven Covey, kita cukup fokus di lingkaran pengaruh (circle of influence) kita saja meski kita peduli lingkungan. Artinya, kita masih bisa mencegah masuknya udara kotor tersebut dengan cara menghindarinya. Cara lainnya adalah memilih jalur alternatif yang jarang dilalui mobil maupun motor. Namun biasanya ada tantangan lain: polisi tidurnya banyak sekali sehingga mengganggu kenyamanan gowes. Selain itu, jalur alternatif juga rawan kejahatan karena jarang ada orang lewat di situ. Kalau saya lebih memilih menggunakan masker dan melintas di jalan protokol karena lebih nyaman gowesnya, aspalnya juga mulus sekali dibandingkan jalan alternatif.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 123 other followers