Feeds:
Posts
Comments

Catatan kutbah Jumat 29/07/2016, Masjid Jami Nurul Ikhlas, ustd. Endang Saifudin MA

Sungguh, kutbah Jumat kali ini benar-benar menghunjam saya karena memang substansinya bagus serta disampaikan dengan sangat runtut oleh khatib. Demikian ini ringkasannya:

Waktu berjalan cepat yang berarti umur kita semakin berkurang. Tanpa terasa kita sudah tinggal 4 hari lagi di bulan Syawal. Syawal adalah artinya peningkatan, yakni peningkatan dari apa yang telah kita lakukan selama Ramadhan 1437H yang lalu. Peningkatan dalam segala jenis yang kita lakukan dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa taala. Ada tiga kategori peningkatan yang harus kita lakukan sebagai muslim:

1.) Rasa Syukur

Kita harus bisa meningkatkan rasa syukur kita bisa sampai pada kehidupan hingga hari ini:

  • sudah diberi kesempatan menjalani Ramadhan 1437 H
  • sudah diberi kesehatan
  • sudah diberi panduan dalam menjalani hidup ini melalui Quran dan hadits

Rasa syukur ini harus lebih kita tingkatkan dari rasa syukur yang kita rasakan sebelumnya saat kita senang bisa memasuki bulan Ramadhan.

2.) Ilmu

Kita juga harus meningkatkan ilmu kita baik dalam rangka peningkatan ibadah, misalnya bagaimana agar wudhlu syah karena syarat syahnya shalat adalah syahnya wudhlu kita. Sedangkan kita semua paham bahwa shalat merupakan tiang agama sehingga kita wajib mengetahui dan menjalankan shalat yang syah.

Salah satu contoh kurang pahamnya kita dalam hal kurangnya ilmu adalah dalam memaknai Iedul Fitri. Sudah merupakan kebiasaan pergaulan bahwa saat lebaran orang menganggap bahwa kita semua menjadi fitri alias bersih dari semua dosa seperti bayi yang baru dilahirkan tanpa dosa. Kok enak betul ya? Hanya setelah menjalani puasa kita terus bersih dari semua dosa? Padahal dosa-dosa besar itu perlu prosedur tobat yang tertentu tak semudah begitu lebaran langsung NOL dari dosa. Tak bisa begitu. Kita harus luruskan karena ilmu.

Makna ied adalah kebiasaan. Kebiasaan mana? Ini dilanjutkan dengan makna fitri yakni berbuka. Artinya kembali berbuka, tidak puasa lagi. Ini baru namanya ilmu. Kita bisa tengok surah Ar Rum ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Hadapkanlah mukamu kpd agama Allah
Fitratallah yg telah menciptakan
Iedul Fitri:
Kembali kepada mengingat kita pertama kali diciptaan Allah
Dosa kita diampuni seperti suci
Enak bener abis lebaran tak punya dosa
Dosa besar punya cara sendiri untuk diampuni
Kalau dosa kecil bisa gugur

Tengok juga Al Baqarah 22:

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, pada hal kamu mengetahui.

3.) Frekuensi ibadah

Qobliyah, badiah, quran, dhuha – semuanya ditingkatkan
Jangan hanya fokus pada yg fardhu
Jangan malas yg sunnah
Jangan sampe afiatnya dicabut oleh Allah
Semuanya untuk kita, bukan untuk Allah
Melatih frekuensi ibadah bangun malam
Anak2 kita latih
Ternyata darah kita kalau menjelang malam membeku sampai Shubuh. Itulah sebabnya disuruh shalat agar darah membeku bisa cair kembali
Tidak ada yang sia2 dari perintah Allah

Kesimpulan:

Ingat rasa syukur
Tingkatkan ilmu pengetahuan, jangan merasa hebat
Tingkatkan frekuensi ibadah

 

Tiga Keputusan

Dalam sebuah video dari seminar yang dipandu oleh Anthony Robbins, seorang motivator yang konon telah mempengaruhi hidup 200 ribu orang di dunia, ia mengatakan ada tiga keputusan penting yang harus kita buat dalam hidup ini:

  1. What should I focus on?
  2. What does it mean?
  3. What should I do?

Sepertinya sederhana namun tak mudah juga bagi kebanyakan orang. Makanya untuk melakukan ini harus berani memaksa diri bahwa tiga keputusan ini musti dilakukan bagi siapapun. Bahkan Tony Robbins mengatakan bahwa harus dilakukan saat itu juga ketika seminar dilakukan, jangan ditunda lagi.

Bagi orang yang beriman, visi hidupnya sudah jelas yakni menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir sedangkan dunia ini sebagai ladang untuk menyiapkan bekal menuju akhirat. Yang kemudian seringkali kita lupa adalah karena adanya kebutuhan hidup dalam hal mencari nafkah dan lebih lagi dengan adanya godaan setan untuk mencintai dunia (hubbud dunya) akhirnya kadangkala kita terkesima dengan yang duniawi saja. Maksud saya menulis ini bukan berbagi mengenai bagaimana kita bersikap terhadap masing-masing dari tiga keputusan itu. Artinya, saya akan coba menyampaikan apa yang menurut saya perlu dilakukan dengan menjawab tiga pertanyaan di atas. Harapan saya, tentunya teman-teman yang membaca blog ini akan mencoba menggali lebih jauh tentang hal ini dan bisa jadi sangat berbeda dengan apa yang saya uraikan. Bukankah perbedaan itu membuat kita semakin banyak belajar dan insya Allah bertambah bijak? Semoga.

Namun, sebelum saya menguraikan tiga hal itu saya ingin mencoba menanggapi dulu pemikiran Tony Robbins. Pertama, dari segi substansi, tiga hal di atas memang sangat penting karena dengan menetapkan tiga hal itulah diharapkan hidup kita menjadi tenang dan bisa menjalaninya dengan sepenuh hati asalkan kita jujur dalam menjawabnya. Kedua, dari segi kerangka logis saya rasa urutannya juga sudah benar yaitu focus – mean – do. Sebuah kerangka yang baik bisa menyajikan sebuah urutan logis yang tak bisa dibolak-balik. Maksud ya, tak mungkin kita mulai dengan apa yang musti kita lakukan (do) terlebih dahulu sebelum kita tahu focusnya apa. Juga tak mungkin focus diletakkan paling akhir. Urutannya memang sudah harus F-M-D, tak bisa menjadi MDF atau DFM atau lainnya. Ketiga, karena telah memenuhi dari segi substansi dan kerangka logis maka kerangka kerja (framework) ini sudah layak kita jadikan sebagai pedoman.

What should I focus on?

Seperti diuraikan oleh pakar pengembangan-diri, Stephen Covey, yang kondang dengan bukunya 7 Habits of Highly Effective People, dia menguraikan kebiasaan kedua adalah Begin with the End in Mind yang sekaligus mengajak kita merenungkan kembali apa sebenarnya tujuan hidup kita. Tak bisa ditawar lagi bahwa tujuan kita sebagai seorang muslim adalah akhirat dengan menggunakan dunia sebagai ladang amal soleh agar kita mendapatkan ridhla Allah Taala sebagai umatNya yang bertakwa.  Banyak sekali ayat-ayat di dalam Al Quran yang menekankan begitu pentingnya kita sebagai muslim menjadi umat yang bertakwa dalam sebenar-benarnya takwa. Allah menekankan hal ini agar kita sebagai manusia tak akan pernah lupa bahwa kita di dunia ini hanya sebagai turis yang pada akhirnya akan kembali ke Allah Taala, dibangkitkan dari alam kubur menuju padang mahsyar untuk kemudian dihisab amal solehnya selama hidup di dunia.

Sangat disayangkan bila kita sebagai muslim lupa tentang hal ini atau menganggapnya remeh. Naudzubillah. Karena banyak sekarang orang yang sudah meninggal merasa menyesal dan ingin dihidupkan kembali dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah Taala. Masalahnya, kalau sudah di alam kubur sifatnya sudah final, tak akan dikembalikan lagi ke alam dunia lagi. Ini yang kadang terlupakan oleh manusia yang tak lagi merasa perlu mengelaola waktunya dengan sebaik mungkin untuk beribadah kepada Allah. Yang disebut ibadahpun tak hanya berupa ibadah mahdoh seperti shalat, puasa, zakat, haji namun setiap sendi kehidupan kita bisa menjadi ibadah bila kita meniatkan untuk itu. Bahkan tidur sekalipun bisa menjadi ibadah bila kita niatkan dengan baik. Artinya, Allah elah menyediakan waktu 24 jam satu hari sepenuhnya untuk ibadah bila manusia bisa menyikapinya dengan baik.

What does it mean?

Selanjutnya, kita harus cermat dalam memaknai dari fokus yang sudah kita tancapkan dengan sekuat hati dalam langkah sebelumnya.

  • Apa artinya bagi kita memfokuskan diri pada tujuan akhir kehidupan akhirat, menuju surga firdaus?
  • Apakah dengan fokus ini kita menjadi lebih bersemangat dalam menjalani kehidupan di dunia ini atau kita hanya merasa biasa-biasa saja?
  • Berapa sering kita sudah mendapatkan tausiyah atau kutbah yang mengingatkan kita untuk selalu menjadi insan yang bertakwa?
  • Sekurangnya seminggu sekali kita mendapatkan kutbah Jumat dari khatib yang merupakan ustadz atau ulama yang pengetahuan agamanya sudah teruji, apakah kita tergerak dengan kutbahnya?
  • Seberapa jauh perilaku kita sudah mengarah kepada tujuan kita menuju kehidupan akhirat?
  • Bagaimana dengan hobi / kesenangan kita yang menyita banyak waktu namun berpotensi kepada melalaikan kita kepada ingat (dzikir) kepada Allah?
  • Apakah dengan fokus kepada akhirat ini membuat kita lebih bergairah dan bersegera dalam mengerjakan amal soleh?

Dalam sebuah dialog saya dengan seorang teman, Saiful Doeana, beberapa hari lalu, salah satu yang kita bahas tentang kutbah Jumat. Saiful mengatakan jarang sekali ada kutbah yang benar-benar life-changing bagi jamaah sehingga setelah Jumatan mereka menjadi pribadi yang berbeda, pribadi yang jauh lebih baik daripada sebelum Jumatan. Kita sering terjebak dalam kerutinan sehingga lupa memaknai. Mungkin juga dari segi khatibnya menyampaikan secara datar tanpa disertai dengan contoh-contoh ril dalam kehidupannya yang bisa menggerakkan (baca: memotivasi) para jamaah agar bersegera mengerjakan amala soleh setelah mengikuti Jumatan. Mungkin juga dari segi jamaahnya yang menganggap setiap untaian kata yang keluar dari bibir khatib dianggapnya sebagai hal yang biasa tanpa ada rasa JLEB! yang menghunjam sanubari.

  • Ajakan bertakwa, yang merupakan hal pertama yang selalu disampaikan khatib, kita anggap sebagai sesuatu yang biasa saja karena sudah sering disampaikan saat kutbah Jumat sebelumnya atau dari ceramah-ceramah di majelis taklim.
  • Kutipan ayat-ayat Al Quran yang kadang disampaikan oleh khatib tidak ditindaklanjuti dengan kegiatan tadabbur sehingga maknanya bisa diresapi sebagai dasar membentuk perilaku baru, perilaku setelah mengikuti Jumatan. Pola pikir “Ah, sama saja dengan kutbah sebelumnya” sebaiknya sudah harus dikikis habis sehingga setiap kutbah merupakan hal baru yang perlu diresapi untuk dijalankan.
  • Bagian kedua kutbah, yang merupakan doa, tidak diresapi dengan serius sehingga tak memberikan efek berarti setelah Jumatan.

Pada dasarnya, kalau saja setiap mengikuti kutbah Jumat atau setiap mengikuti majeis taklim kita meresapi lebih dalam lagi makna dari beberapa kalimat yang diucapkan oleh khatib atau penceramah, mestinya membuat iman kita bertambah dan menghayati sepenuhnya bahwa kita hidup di dunia ini pada akhirnya ada pertanggung-jawaban yang harus kita lakukan kepada Sang Khalik, Allah subhanahu wa taala. Dalam hal menjawab pertanyaan what does it mean kita benar-benar menhunjamkan makna mendalam dari esensi ucapan khatib. Di sinilah missing link itu terjadi dan tanpa disadari kita sudah bertemu lagi dengan Jumat berikutnya bahkan dalam konteks ibadah Ramadhan kita bertemu lagi dengan Ramadhan tahun berikutnya. Pada saat masuk Ramadhan berikutnya, iman dan takwa kita sudah mengendor dan perlu suntikan lagi. Semestinya kita menapaki anak tangga yang terus meningkat, bukan menjalani jalan yang menurun dulu sebelum naik tangga lagi.

Keputusan yang mungkin kita buat di tahap ini antara lain adalah:

  • “Saya merasakan bahwa ajakan takwa yang disampaikan khatib Jumat tadi begitu mengena dan sangat penting bagi saya dan sebenarnya semua tindakan keseharian saya harus mencerminkan fokus hidup saya.”
  • “Ternyata, Allah memberikan jalan yang relatif tak perlu biaya untuk menggapai ridhlaNya. Tak perlu investasi yang sifatnya finansial. Untuk menjalankan perintah shalat, misalnya, tak perlu punya masjid sendiri bahkan bisa didirikan dimana saja kecuali di toilet atau kuburan.”
  • “Benar juga, tak ada yang lebih penting dari berjuang menuju akhirat yang kekal sedangkan kehidupan dunia ini ada batas waktunya – mengapa saya harus buang-buang waktu untuk kehidupan yang sementara ini?”
  • “Ah …selama ini bersusah payah untuk mencari tiket agar bisa menonton konser Yes atau Genesis, bahkan musti naik pesawat terbang ke negara lain dengan harga yang mahal, sementara itu tak ada pahala yang bisa membuat saya dimudahkan masuk surga. Sementara kalau saya hadir di majelis taklim atau membaca Al Quran, begitu besar pahala yang diberikan Allah sebagai tiket untuk nantinya bisa hidup di surga.”

Tentu, perasaan-perasaan tersebut bersifat personal dan sangat bervariasi bagi setiap individu. Namun pada intinya kita perlu menggali lebih jauh lagi makna dari fokus yang telah kita tetapkan bagi kehidupan kita selanjutnya.

What should I do?

Ujungnya adalah dalam hal perilaku kita sehari-hari sebagai dampak dari penghayatan meresap dari keputusan kedua yang kita buat. Islam telah memberi panduan yang jelas melalui Al Quran dan Hadits sebagai pedoman bagi kita menjalani kehidupan kita di dunia ini. ….

 

Saya mendapat kiriman poster ini dari sahabat saya, Erwin Prayudi, melalui email beberapa hari lalu. Saya tertegun dengan apa yang diucapkan sahabat rasul yang mulia ini,tepatnya merasa malu. Betapa besar pengorbanan yang telah ia lakukan dalam menegakkan kalimatullah baik ketika Rasul masih hidup maupun setelah beliau meninggal. Sahabat shalih yang sudah dijamin Allah masuk surga ini masih juga punya rasa takut apabila Allah tak memasukkannya ke surga. Sebuah teladan baik yang harus kita contoh. Apa dasarnya kita, terutama saya, merasa bisa masuk surga kalau Umar bin Khattab saja ragu bisa masuk surga???

Karena hari ini jadwalnya BDR (bekerja dari rumah) yang artinya tak ada kegiatan transport menuju tempat kerja atau kantor klien, maka sejak pagi saya sudah merencanakan bahwa sore hari saya harus gowes. Agak telat berangkatnya karena keasikan kerja di depan laptop, saya baru mulai gowes jam 16:45. Tak masalah.

Salah satu tujuan gowes sore tadi adalah mencoba rute yang dikenalkan oleh mas Santo, yakni Jl. Dahlia. Namun setelah saya cek peta, ternyata Jl. Dahlia ini sering saya lewati, terutama kalau saya gowes ke Citos untuk meeting dengan klien. Akhirnya saya alihkan tujuan dengan mengunjungi mushalla baru yang belakangan ini sering saya lihat di Jl. H. Muflihun. Mushalla ini cakep, berwarna kuning dan terletak di dekat jalur rel kereta Commuter Line. Setelah saya cek tak ada daftarnya di Google Maps, saya sengaja daftarkan mushalla ini.

Mushalla Nurul Hidayah tampak dari luar. Cakep ya.

Interior nya saya foto dari luar. Bersih meski relatif kecil ukurannya.


Setelah itu gowes saya lanjutkan menyusuri jl. H Muflihun dengan tujuan Masjid Jami Al Muflihn yang terletak di ujung jalan ini dan berada di tepi jalan raya Tanah Kusir, seberangnya pool taksi Express. Selama ini saya cari di peta mesjid ini tidak muncul. Makanya saya berniat ADD masjid ini. Setelah saya foto eksternalnya, saya berniat mendaftarkan di Google Maps. Eh ketika saya ketik nama masjid ternyata sudah terdaftar. Alhamdulillah. Ketika saya lihat ternyata hanya ada 2 orang yang review. Makanya masjid ini tak bersinar di peta karena jarang ada yang memberi review. Ayo, temen2 biasakan mebulis review dan rating dimanapun Anda sedang shalat. Mudah kok. Reviewnya juga singkat saja gak masalah, misalnya “Mesjidnya adem dan nyaman” plus rating nya. Insya Allah semakin banyak yang memberi review, maka masjid akan banyak bersinar di peta Google. Mari kita semarakkan peta Google dengan titik-titik yang merupakan tanda dimana di situ ada rumah Allah. Mosok peta hanya dipenuhi dengan titik-titik mall dan kafe. Padahal yang tempat paling mulia di bumi Allah ini ya masjid dan mushalla, mall tak diperhitungkan Allah.

Eksternal dari masjid Jami Al Muflihun.

Jadwal kajian rutin di masjid Jami Al Muflihun.

Puas gowes hari ini meski dari segi jarak dan waktu relatif pendek. Namun setidaknya seneng sudah mendaftarkan satu titik yang merupakan tanda rumah Allah di peta Google dan menambah review, rating dan foto untuk masjid Jami Al Muflihun.

 

Hari ini sangat memuaskan bagi saya. Betapa tidak. Rencana untuk seharian bersepeda tak terhalang dengan harus menghadiri meeting di dua tempat berbeda. Biasanya memang kalau bersepeda, saya cenderung berada di satu tempat (kantor klien) tertentu sepanjang hari hingga sore. Namun, hari ini saya tahu ada jadwal lunch meeting di Graha Mandiri, Jl. Iam Bonjol dan kemudian pada jam 2:30 siang meeting dengan klien yang lain di Menara Standard Chartered (SC), Jl. Dr. Satrio. Tadinya sempat batal naik sepeda karena kalau siang hari gowes dari Graha Mandiri ke Menara SC bisa berkeringat meski jaraknya hanya sekitar 3 KM. Masalahnya siang hari terik yang menyebabkan keringat kemungkinan akan keluar segede jagung. Masalahnya juga, klien yang berkantor di Menara SC ini masih prospek, belum sebenernya klien, sehingga saya belum terbiasa dengan gedung ini.

Graha Mandiri

Akhirnya saya putuskan tetap gowes dengan menggunakan sepeda lipat Brompton dengan pertimbangan pada saat berpindah gedung saya akan menggunakan taksi saja. Alhamdulillah semua rencana berjalan dengan baik.

  1. Berangkat dari rumah agak kesiangan tadi, sekitar 8:25. Tidak biasanya saya berangkat pada jam segini karena biasanya jam 6:30 atau paling telat jam 7:30. Alhamdulillah perjalanan via Tanah Kusir berjalan lancar tanpa kemacetan berarti. Yang juga saya senang, pagi ini saya lewat jalur alternatif Jl. H Muflihun yang selama ini saya hindari karena ada tanjakan cukup tinggi sedangkan sepeda saya single speed. Ternyata saya bisa menanjak di tanjakan sebelum sampe Masjid Muflihun, mau masuk Tanah Kusir, dengan tanpa turun dari sadel sepeda. Horeeeeee ….!!!
  2. Saya ambil Jl. Ciputat Raya terus pas di persimpangan kereta Kebayoran Lama ambil kanan, masuk arteri, terus belok kanan (Jl. Jomblong?), masuk Pakubuwono VI. Setelah itu saya belok kiri (biasanya lurus) mengambil jalur lewat Univ Moestopo, lanjut angkat sepeda di trotoar pas sampai di STC, trus masuk jalur cepat jalan Sudirman.
  3. Di Jl. Sudirman menuju Semanggi memang agak macet dan sepeda saya sempat slip karena kena becekan di pinggiran jalan. Untung masih bisa terkendali. Alhamdulillah. Meluncur terus hingga ada kemacetan cukup parah di Bunderan HI, tapi saya belok kanan menuju Graha Mandiri.
  4. Sesampainya di Graha Mandiri saya istirahat sejenak sambil minum dan mengeringkan keringat sekitar 10 menit, dan setelah itu liat sepeda, masuk ke GM dan langsung menuju lantai 17, kantor Value Quest. Setelah mandi dengan handuk basah B-Cool, lanjut kerja di VQ, dan bada Dzhuhur ada lunch meeting hingga 13:50.

    Brompton Graha Mandiri

    Ngaso dulu di pintu masuk belakang, Graha Mandiri, dekat Lawson

  5. Setelah itu saya order Grab Taxi dan dalam waktu kurang dari 5 menit taksi sudah datang, sepeda saya masukkan ke taksi (Xenia). Perjalanan menuju Menara SC lancar dan supirnya pun handal – layak diberi 5 bintang. Saya tiba di lantai 18 Menara SC jam 14:20 alias 10 menit lebih cepat dari jadwal meeting. Horeeee!!! Beginilah kalau naik sepeda, janjian selalu tepat waktu. Alhamdulillah. Ketika masuk Menara SC pun Satpam tidak tanya macam2 terkait lipatan sepeda. Tadinya sempat ragu apa perlu bawa cover agar tak kelihatan sepeda. Ternyata terbukti OK di Menara SC. Salut dah!
  6. Meeting baru selesai pukul 17:40. Tadinya saya ragu apakah sebaiknya nunggu Maghrib dulu di lantai 18 Menara SC atau jalan. Saya putuskan gowes ke arah pulang dengan perhitungan pada saat Maghrib bisa shalat di Al Azhar. Sebenarnya saya malas shalat di Al Azhar karena musti naik ke lantai 2 dan tinggi sekali. Alternatif lain adalah masjid RSPP eski agak jauh. Alhamdulillah bisa sampe di masjid RSPP meski shalat BMW nya masbuk satu rakaat. Pada saat sampai di RSPP hujan rintik2 mulai turun menyusul hujan yang sebelumnya juga turun.
  7. Setelah Maghrib, hujan semakin kenceng. Saya cek Grab dan Uber semuanya tarifnya lagi gila, hampir 2 kali lipat. Bukan hanya itu, kalau naik taxi, saya ogah banget duduk manis di mobil sementara jalanan macet. Jelas saya lebih suka bersepeda.
  8. Alhamdulillah jam 18:40 hujan reda sehingga saya nekad gowes lagi setelah ganti jersey (sebelumnya pake batik) warna kuning menyala demi keselamatan – agar terhindar dari kecelakaan fatal seperti pernah saya alami tahun lalu. Target saya selanjutnya adalah shalat di masjid An Nur, Jl. Bendi. Masjid ini idaman saya karena shalatnya enak sekali, tak ada anak kecil, dan setelah shalat BMW tak ada doa berjamaah dengan suara kenceng yang di masjid2 lain biasanya dipimpin oleh imam. Di sini saya merasa nikmat sekali. Duh, kalau saja tinggal di sekitar sini pasti enak sekali kalau mau shalat BMW. Aamiin.
  9. Bada Isya, saya gowes menuju pulang dengan cuaca mendung namun justru enak karena jalanan basah sehingga gowes terasa tambah nikmat ….ser …ser ….ser ….
  10. Sebelum jam 20:00 saya sudah sampai rumah tanpa hutang shalat karena sudah saya tunaikan semuanya dalam perjalanan, pada awal waktu. Alhamdulillah. Inilah kenikmatan luar biasa gowes, karena bisa berhenti setiap kali terdengan suara adzan. Andaikan saya menggunakan mobil tak mungkin bisa lincah dan dengan waktu yang relatif singkat.
Masjid An Nur Jl Bendi

Masjid An Nur, Jl. Bendi. Masjid yang nyaman dan adem ….

Total jelajah hari ini sekitar 24 KM. Gak jauh tapi puwaaaaaaas pol!

Alhamdulillah ….

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَاتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.​

Catatan kutbah Jumat di Graha Mandiri, 15 Juli 2016

D

Hidup Tapi Mati

Renungan Malam….(Copas dari group sebelah)
“HIDUP TAPI MATI”
Bertamu, main HP…

Ngaji, main HP…

Terima tamu, main HP…

Bekerja, main HP…

Belajar, main HP…

Sambil makan, main HP…

Di tengah keluarga, main HP…
Kiamatkah dunia anda tanpa HP??
Kadang terlihat dua orang saling duduk berhadapan, tidak berbicara sama sekali, karena salah satu atau keduanya sibuk main HP. 
Kalaupun harus bicara akhirnya tidak nyambung dan muncul sikap tidak lagi peduli.
Punya masalahpun bukan lagi mendatangi keluarga yang dekat, tetapi membahas di sosmed rasanya lebih ‘afdhal’.
Manusia menjadi ‘ada tapi tiada’
Sahabatku.. 

Tanpa disadari.. banyak jasad – jasad yang telah menjadi mayat hidup berkeliaran. 
Hidupnya hanya seputar dunia dalam ponselnya.
Basahnya embun pagi…

Hangatnya matahari pagi…

Jabat erat tangan sahabat telah hilang dan diganti dengan gambar – gambar mati pada ponsel…
Gerak petualangan akan hebatnya bumi juga sudah diganti hanya dengan gerakan telunjuk dan jempol..
Hidup dalam kematian itu adalah keniscayaan, tapi mati dalam kehidupan itu pilihan.
Maka bangunlah, hiduplah sebagaimana manusia itu hidup.
Saat suami/istri datang, simpan HP anda !
Saat anak bercerita, simpan HP anda !
Saat orang tua kita bicara, simpan HP anda !
Saat tamu berkunjung, simpan HP anda !
Saat rumah bau berantakan, simpan HP anda…
Perhatikan dunia anda dengan seksama.

Sebab nikmat Ilahi ada di sana.
Hiduplah !!

Bermanfaatlah!!
Salam semangat bermanfaat

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 119 other followers