Feeds:
Posts
Comments

RIBUAN MALAIKAT MENDOAKAN ORANG YANG DICACI MAKI …

Suatu hari, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq.

Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar.
Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu.
Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya.
Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah.

Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.
Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar.
Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar.
Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya,
Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut.

Rasulullah kembali memberikan senyum….
Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut.
Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih hebat dan menyakitkan.

Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu,
Sahabat Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya.
Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula.

Terjadilah perang mulut.
Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya.
Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah.
Kemudian Abu Bakar berkata,
“Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!”
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab,
“Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas,
aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah Ta’ala.
“Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum.
Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.
Hadirlah iblis di sisimu.
Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.

Setelah itu menangislah abu bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung…

Subhanallah….

Semoga kita semua tergolong orang-orang yang Sabar dan berakhlak yang luhur 

Semoga bermanfaat
Silahkan share

“Kitab Sejarah Khalifah Abu Bakar Siddiq Ra, Syaikh S. Al Mubarakfury”
~~TB~~

Tadi sebelum maghrib menyimak bahasan hadis di radio Rodja. Pada saat dibahas, sudah sampai pada hadits no 400 (atau 401?), tentang suatu saat Rasul didatangi seorang laki2 yang minta nasehat namun jangan terlalu panjang. Dan ini adalah nasehat pendek Rasul yang terdiri dari tiga hal:
1. Kerjakan shalat seolah ini adalah yang terakhir bagimu
2. Jagalah dirimu dari perkataan yang pada saat di akhirat nanti bisa mencelakakanmu ke dalam neraka
3. Kumpulkan semua harapanmu kepada orang lain, dan lupakanlah semua itu.

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum meninggal.

Rasulullah SAW telah jatuh sakit yang agak lama, sehingga Rasulullah SAW tidak dapat sholat berjamaah dengan para sahabatnya di Masjid.

Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta beberapa sahabat membawanya ke Masjid. Rasulullah di dudukkan atas mimbar, lalu Rasulullah meminta Bilal memanggil
semua para sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak dapat melihat Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW
bersabda: “Wahai sahabat-sahabatku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku
sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah Tuhan yang layak di sembah?”

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, ” Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah Tuhan yang layak disembah”.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
“Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka”. Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya, aku akan pergi bertemu Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada
kalian semua. Adakah aku berhutang dengan kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau jika bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia.”

Ketika itu semua sahabat
diam, dan dalam hati masing-masing berkata “Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang dengan Rasulullah”.

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.
Tiba-tiba bangun seorang lelaki yang bernama AKASYAH. lalu dia
berkata:

“Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta kau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa”.

Rasulullah SAW berkata:
“Ceritakanlah wahai Akasyah”.

Maka Akasyah pun mulai bercerita:
“Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda. Tetapi cemeti tersebut tidak kena pada belakang kuda, sebenarnya cemeti itu terkena pada dadaku karena ketika itu aku berdiri di
sebelah belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah”.

Mendengar yang demikian, terus Rasulullah SAW berkata:
“Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Akasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.”
Dengan suara yang agak tinggi, Akasyah berkata:
“Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Akasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian. Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak memarahi Akasyah.
“Sesungguhnya engkau tidak berperasaan wahai Akasyah. bukankah Baginda sedang sakit?”

Akasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cemeti di rumah anaknya Fatimah.

Bilal meminta cemeti tersebut dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya:
“Untuk apa Rasulullah meminta cemeti ini wahai Bilal?”

Bilal menjawab dengan nada sedih: “Cemeti ini akan digunakan oleh Akasyah untuk memukul Rasulullah”
Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
“Kenapa Akasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya”.

Bilal menjawab:”Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua”.

Bilal membawa cemeti tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Akasyah.

Setelah mengambil cemeti, Akasyah menuju ke hadapan Rasulullah.
Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Akasyah sambil
berkata:
“Wahai Akasyah kalau kamu
hendak mukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah temannya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak mukul, maka pukullah aku”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah
SAW
: “Duduklah wahai Abu Bakar. Ini antara aku dengan Akasyah”.

Akasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Akasyah sambil berkata:
“Akasyah, kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu.
Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang berani menyakiti Muhammad. Kalau engkau mau menyakiti Rasulullah, maka
sakitilah aku dulu.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
“Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Akasyah”.

Akasyah menuju kehadapan Rasulullah, tiba-tiba berdiri Ali bin Abu Talib sepupu dan menantu Rasulullah SAW.

Dia menghalangi Akasyah sambil berkata:
“Akasyah, pukullah aku wahai Akasyah. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Akasyah”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
“Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Akasyah” .

Akasyah menuju kehadapan Rasulullah. Tiba-tiba tanpa disangka, bangunlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen. Mereka berdua merayu dan meronta.
“Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami wahai Paman. Sesungguhnya kami ini adalah cucu kesayangan Rasulullah, pukullah kami wahai Paman.”

Lalu Rasulullah SAW berkata:
“Wahai cucu-cucu kesayanganku,
duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Akasyah”.

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan tegasnya Akasyah berkata:
“Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawa sini.”

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Rasullah meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Akasyah berkata lagi:
“Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju Ya Rasulullah”

Tanpa berlama-lama dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa buah batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata:
“Wahai Akasyah, bersegeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah akan murka padamu.”

Akasyah terus menghampiri Rasulullah SAW, tangan yang memegang cemeti untuk dipukulkan ke tubuh Rasulullah SAW, rupanya dilempar cemeti itu sambil terus memeluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil berteriak menangis, Akasyah berkata:
“Ya Rasulullah, ampunkanlah
aku, maafkanlah aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku
melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sesungguhnya aku takut dengan api neraka. Maafkanlah aku ya Rasulullah.”

Rasulullah SAW dalam keadaan sakit berkata:
“Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Syurga, maka lihatlah Akasyah”

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat
bergantian memeluk Rasulullah SAW.

Meski sudah sering membaca dan mendengar kisah ini berulang-ulang, tetap saja menangis. Semoga tetesan air mata kita dapat membuktikan kecintaan kita kepada kekasih Allah Nabi Muhammad SAW dan kita dapat mencontoh perilaku Rasulullah SAW yang seperti Al-Qur’an berjalan… Aamiin YRA…..

Qiyamul Lail
Keutamaan dan Pembiasaannya
Eddie Sanyoto, Ketua PDM Kota Madiun
 
Puasa yang telah kita lakukan selama sepuluh hari di bulan Ramadhan ini, tidak lain tujuannya adalah dalam rangka menjadikan orang-orang beriman menjadi muttaqin; meraih predikat taqwa. Sebagaimana firman Allah SWT :
 
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)
 
Bagaimanakah karakter muttaqin atau orang yang bertaqwa itu? Salah satunya adalah sedikit tidur di malam hari.
 
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam”. (QS. Adz-Dzariyat : 15-17)
 
Ketika menjelaskan ayat ketujuh belas ini dalam Fii Zhilaalil Qur’an, Sayyid Qutb berkata: “Mereka itulah yang bangun di penghujung malam tatkala orang-orang terlelap. Mereka menghadapkan dirinya kepada Allah dengan memohon ampunan dan kasih sayang-Nya. Mereka tidak merasakan nikmatnya terlelap kecuali sejenak dan tidak tidur pada malam hari kecuali sebentar. Mereka asyik bersama Rabbnya
di keheningan malam”.
 
Jelaslah, bahwa sedikit tidur di waktu malam itu bukan untuk begadang, juga tidak sama dengan orang kerja shif tiga. Tetapi sedikit tidur malam karena mengerjakan shalat malam, qiyamul lail. Puasa yang hendak meraih derajat taqwa, juga berupaya mencapai karakternya. Sehingga kita lihat, ada pembiasaan qiyamul lail selama bulan Ramadhan, terutama melalui shalat tarawih. Karena sangat eratnya qiyamul lail dengan shalat tarawih, Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menyandingkan bab keutamaan shalat malam dengan bab shalat tarawih, tanpa ada bab lain yang memisahkan keduanya. Dalam bab shalat tarawih itu, ada dua hadits yang dicantumkan oleh Imam Nawawi. Keduanya menggunakan istilah yang sama: Qiyamu Ramadhan.
 
“Barangsiapa yang qiyam Ramadhan, karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosadosanya yang telah lalu”. (Muttafaq ‘alaih)
 
Sedangkan hadits kedua, sebelum lafadz itu ada tambahan dari Abu Hurairah:
 
“Rasulullah sangat menganjurkan shalat tarawih, tetapi tidak Mewajibkannya”. (HR. Muslim)
 
Ketika menjelaskan hadits ini, Dr. Mushtofa Al-Bugho bersama empat ulama lainnya dalam kitab Nuzhatul Muttaqin mengatakan: “Hadits ini menekankan sunah shalat tarawih…shalat tarawih dilakukan secara berjamaah oleh Rasulullah hanya pada tiga hari pertama, lalu dihentikan Rasulullah karena beliau khawatir akan menjadi wajib. Lalu dilakukan secara berjamaah lagi pada masa pemerintahan Umar r.a. dengan mendapat persetujuan para ulama zaman itu. Dengan demikian, shalat tarawih juga berfungsi sebagai upaya pembiasaan. Bukan berarti banyaknya shalat yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan begitu saja kita tinggalkan selepas Ramadhan. Tidak berbekas. Jangan sampai ketika di bulan Ramadhan kita sudah menunaikan shalat tarawih setelah Isya’ lalu shalat tahajud sebelum atau sesudah sahur, tiba-tiba di bulan Syawal dan bulan-bulan selanjutnya nanti kita terlelap dalam tidur panjang tanpa qiyamul lail sama sekali. Jika begitu halnya, bisa dikatakan puasa kita gagal. Sebab puasa hendak menjadikan pelakunya menjadi bertaqwa, dan salah satu karakter orang yang bertaqwa adalah sedikit tidur di waktu malam karena menunaikan qiyamul lail.
 
Begitu banyak keutamaan qiyamul lail yang telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits beliau. Bahkan beliau adalah orang yang paling perhatian terhadap qiyamul lail. Semakin besar beban dakwah, semakin meningkat qiyamul lail. Semakin besar tantangan hidup, semakin meningkat qiyamul lail. Semakin tinggi derajat, semakin giat qiyamul lail. Itu yang hendak beliau sampaikan kepada umatnya, sehingga meskipun sudah diampuni dosa-dosanya, beliau tetap luar biasa dalam melaksanakan qiyamul lail sampai kaki beliau bengkak karenanya. Ketika Aisyah menanyakan itu, beliau menjawab:
 
“Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari Muslim)
 
Adapun keutamaan qiyamul lail yang tersirat dalam hadits quliyah beliau adalah sebagai berikut:
 
1. Salah satu jalan menuju surga
Rasulullah SAW bersabda:
 
“Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah silaturahim dan shalatlah kalian pada saat manusia tidur malam, maka kalian akan masuk surga dengan tenang”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)
 
2. Menaikkan Derajat di Surga
Bukan hanya sekedar masuk surga, orang yang ahli qiyamul lail akan mendapatkan kamar-kamar yang istimewa. Derajat ini disediakan bagi orang yang melaksanakan qiyamul lail.
 
“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya dan dalamnya terlihat dari luarnya, Allah sediakan untuk orang yang memberi makan, berkata lemah lembut, melanjutkan puasa, menebar salam, dan shalat malam pada saat orang lain sengan tidur”. (HR. Baihaqi, dishahihkan Al-Albani)
 
3. Kebiasaan orang-orang pilihan dan penghapus dosa
Keutamaan qiyamul lail berikutnya adalah, bahwa amalan ini merupakan amal orang-orang pilihan, orang-orang shalih. Qiyamul lail mendekatkan pelakunya kepada Allah, penutup kesalahan dan dosa.
 
“Lakukanlah shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ia pendekat kepada Rabbmu, penutup kesalahan dan pencegah dosa”. (HR.
Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani)
 
4. Shalat paling utama setelah shalat fardhu
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
 
“Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat Malam”. (HR. Muslim)
 
5. Banyaknya ayat Al-Qur’an yang dibaca ketika qiyamul
lail menjadi penentu derajat seseorang di sisi Allah
Semakin lama atau panjang shalat seseorang, yakni dengan memperlama berdiri karena panjangnya ayat yang dibaca, semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
 
“Barangsiapa yang shalat (malam) dengan membaca sepuluh ayat maka tidak dicatat sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat dengan membaca seratus ayat maka dicatat sebagai orang yang taat. Barangsiapa yang shalat dengan membaca seribu ayat maka dicatat sebagai muqanthirin (orang yang dapat pahala sebesar satu qinthar)”. (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani)
 
Semoga keutamaan qiyamul lail di atas semakin memotivasi kita untuk melaksanakan qiyamul lail. Bermula dari pembiasaan di bulan Ramadhan, semoga kita istiqamah qiyamul lail di bulan-bulan berikutnya. Wallaahu a’lam bish shawab.

Sekuat apapun manusia, dia menjadi sangat lemah ketika tidur. Orang yang tidur lelap, bisa menjadi sasaran bagi makhluk jahat di sekitarnya. Jika dia bisa merasa aman dari gangguan manusia, tidak ada jaminan aman dari gangguan makhluk yang tidak nampak. Itulah jin yang jahat. Jika mereka tidak mengganggu anda di alam nyata, bisa jadi mereka akan mengganggu anda di alam mimpi. Itulah kesempatan terbesar bagi setan untuk bertindak nakal, mengganggu manusia.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” [1]

Jika gangguan dari luar, anda bisa meminta bantuan orang lain untuk mengusirnya. Tapi ini tidak berlaku ketika dalam mimpi. Anda tidak mungkin memanggil perawat atau istri anda untuk mengusir setan yang mengganggu anda dalam dunia mimpi. Karena itulah, orang yang tidur tanpa berdzikir terlebih dahulu, akan menjadi penyesalan baginya.

Dalam Al-Adzkar, An-Nawawi membuat judul bab: “Bab Makruh Tidur tanpa Berdzikir kepada Allah (sebelum tidur)” (Al-Adzkar, hlm. 95). Selanjutnya, An-Nawawi menyebutkan hadis berikut: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang tidur, sementara tidak berdzikir ketika hendak tidur, akan menjadi penyesalan baginya di hadapan Allah.” [2]

Malaikat dan Setan Menghadiri Orang yang Hendak Tidur

Dalam hadist yang berasal dari Jabir bin Abdullah, dinyatakan: “Apabila manusia berbaring di pembaringannya (akan tidur), malaikat dan syetan segera menghampirinya. Malaikat membisikkan, ‘Akhiri (malam-mu) dengan kebaikan,’ sedangkan syetan membisikan, ‘Akhiri (malam-mu) dengan keburukan.’ Apabila dia berdzikir menyebut nama Allah kemudian tidur, maka malaikat melindungi dia di malam itu.” [3]

Di saat anda tidur, anda sangat butuh pertolongan dan pengamanan dari Allah. Untuk mendapatkan jaminan keamanan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita berbagai doa dan dzikir sebelum tidur. Anda bisa rutinkan doa ini, setiap kali anda hendak tidur.

[1] HR. Bukhari dan Muslim.
[2] HR. Abu Daud 4856 dan dishahihkan Al-Albani.
[3] HR. Ibnu Hibban 5533, Hakim dalam Al-Mustadrak 1969 dan beliau shahihkan, kemudian disepakati oleh Adz-Dzahabi.

image

Masya Allah! Benar sekali dan semoga kita berada di tahapan 2 dan menuju tahapan 3.

Copas dari grup WA yang menarik sebagai bahan RENUNGAN.
——-

Ketika orang ditany a, “do’a apakah yang paling sering dibaca oleh seorang muslim  ?”, Banyak yang menjawabnya dengan salah.
Begitu seringnya do’a itu dibaca, sehingga ketika sedang membaca do’a banyak yang tidak merasa berdo’a.
Padahal do’a itu sangat dahsyat, mencakup kebutuhan kita di dunia ϑαή akhirat. Dan dibaca minimal 17 kali setiap hari

Do’a itu adalah DO’A DIANTARA DUA SUJUD, marilah kita renungi maknanya :

√ ROBIGHFIRLII, Wahai Tuhan ampunilah dosaku. Dosa adalah beban, yang menyebabkan kita berat melangkah menuju ke ridho اللّهُ Dosa adalah kotoran hati Ɣªηƍ   membuat hati kelam sehingga hati kita merasa berat untuk melakukan kebaikan.

√ WARHAMNII, Sayangilah diriku. Kalau kita disayang اللّهُ hidup akan terasa nyaman, karena dengan kasih S∂y∂ή9 akan dapat dicapai semua cita2. Dengan kasih S∂y∂ή9  اللّهُ nafsu kita akan terbimbing.

√ WAJBURNII, Tutuplah segala kekuranganku. Banyak sekali kekurangan kita, kurang syukur, kurang sabar, kurang bisa menerima kenyataan, mudah marah, pendendam dll. Kalau kekeurangan kita ditutup/diperbaiki اللّهُ , maka kita akan menjadi manusia sebenarnya.

√ WARFA’NII, Tinggikanlah derajatku. Kalau اللّهُ sudah meninggikan derajat kita, maka pasti tidak ada manusia yang bisa menghinakan kita.

√ WARZUQNII, Berikanlah aku rizki, sebagai hamba اللّهُ kita membutuhkan rizki. اللّهُ mampu mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga ϑαή  tanpa perhitungan.

√ WAHDINI, Berikanlah aku petunjuk/bimbinglah aku ke jalan kebahagiaan. Kita tidak hanya minta petunjuk/hidayah yang berkaitan dengan agama. Tetapi kita juga minta petunjuk agar terhindar dari mengambil keputusan yang salah.

√ WA’AAFINII, Berikanlah aku kesehatan. Apabila kita sehat kita bisa menambah kebaikan ϑαή  manfaat serta tidak menjadi beban oranga lain. “Health is not everything, but without health everything is nothing.”

√ WA’FUANNII, Aku mohon agar kesalahanku dihapus dari catatan. Kita awali do’a ini dengan mohon ampun dan kita akhiri dengan permohonan agar catatan dosa kita dihapus. Sehingga kita benar-benar bersih dari dosa seperti bayi yang baru lahir.

Allah memerintahkan kita untuk membaca do’a itu, Rasulullah mencontohkan kepada kita, menurut logika do’a tersebut pasti terkabul.
… TAPI PERSOALANNYA “DIMANA HATI DAN PIKIRAN KITA KETIKA KITA MEMBACA DO’A ITU ?”

RASULULLAH MENGINGATKAN KITA BAHWA, “ALLAH TIDAK AKAN MENGABULKAN DO’A YANG KELUAR DARI HATI YANG LALAI.”

SEMOGA BERMANFAAT 💞💞

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers