Feeds:
Posts
Comments

Catatan Kutbah Jumat di Masjid Nurul Ikhlas (26/08/2016):

  1. Bagi yang sudah ada kelapangan rezki, kesempatan dan kesehatan hukumnya wajib untuk berhaji. Bagi yang mengabaikannya maka Allah subhanahu wa taala memasukkan ke dalam kekufuran pada hari akhir nanti.
  2. Bagi yang tidak menjalankan ibadah haji saat ini dan ada kelapangan rezki, disunnahkan (muakad) untuk berkurban hewan ternak yang dagingnya untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. Ada empat hikmah dalam berkurban:
    1. Pertama, berbagi kesenangan dengan masyarakat sekitar karena masih banyak orang yang belum bisa menikmati lezatnya daging hewan ternak.
    2. Kedua, bukan darah maupun daging ternak yang dikurbankan untuk Allah subhanahu wa taala namun “nilai-nilai takwa” kita yang sampai kepada Allah.
    3. Ketiga, berkurban akan membaurkan kondisi sosial kita dengan masyarakat sekitar, tak ada jurang kaya-miskin, meningkatkan empati kita sebagai pengkurban.
    4. Keempat, ini merupakan tabungan akhirat bagi kita karena Allah memberikan pahala sangat besar bagi yang berkurban. Harus diingat keikhlasa nabi Ibrahim ketika dengan ikhlas menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya yang telah tumbuh menjadi anak soleh, Ismail, dengan segera Allah gantikan dengan seekor kambing gibas yang besar. Ini adalah bukti nyata akan balasan pahala Allah subhanahu wa taala terhadap umat yang ikhlas mengerjakan segala sesuatu hanya untuk Allah.
  3. Bagi yang tidak haji juga disunnahkan mengerjakan Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah yang pahalanya menghapus dosa sebelum dan sesudahnya.

Sebuah kutbah yang sangat lugas dan jelas penyampaiannya sekaligus menghunjam ulu ati. Jazakallahu khairan, pak Khatib.

Wallahua’alam

Berhaji dan Berkurban

Catatan Kutbah Jumat, 19/08/2016, Graha Mandiri.

Saat ini saudara-saudara kita sedang menjalani ibadah haji, menuju tanah suci Makkah.
Perintah ibadah sifatnya umum. Banyak peribadahan kita yang dilakukan secara berjamaah. Setidaknya ini membuat kita berpikir:

Shalat, kenapa Allah dan Rasul menekankan berjamaah?
Kenapa umat Islam bertemu setiap Jumat
Mengapa haji dg baju ihram

Apakah sampai di situ? Terlalu naif bila kita berpikir sampai sejauh itu. Justru kita dipacu untuk meresapi dan berpikir mengapa musti berjamaah?

Semua yg haji menanggalkan baju sehari hari, semuanya berbaju ihram, semuanya.
Shalat berjamaah diutamakan
Kita perlu keseragaman, menyatukan persaudaraan. Sesama orang beriman adalah saudara. Makin besar jamaah makin besar toleransi kita dan makin besar keimanan kita.
Berpegang teguh pada tali Allah, jangan terpecah belah. Yang mengganggu persaudaraan seiman:

Arogan, merasa “lebih” dari lainnya. Makanya Rasul perintahkan shalat berjamaah agar kita tak saling arogan.
Tuhan kita satu
Kitab satu
Nabi satu
Kenapa musti terpecah belah?
Lepaskan semua kebanggaan dunia
Kalau sering bersama dengan tujuan sama niscaya kerukunan bisa terbangun.
Jakarta masih galau belum ada yg diandalkan sebagai pimpinan. Untuk kepentingan lebih besar dituntut keterbukaan.

 

Parkir sepeda di Graha Mandiri cukup aman karena dirantai dan gembok oleh Satpam.

JrèNg!

Pagi ini nikmat sekali gowes pake sepedah bridgestone Alsus dari rumah menuju Graha Mandiri. Jalur yang selama ini saya tempuh ternyata adalah yang terbaik setelah hari Selasa pagi (16/08) mencoba jalur lin yang ternyata bukan lagi macet tapi mampe, yaitu via jl. Tentara Pelajar. Kapok lewat situ karena dari lampu merah sebelum stasiun Palmerah, semua kendaraan baik mobil maupun motor semuanya mampet sepanjang lebar jalan, bahkan jalan kaki pun sulit. Saya terpaksa ambil jalan nyebrang ke arah Bakso Lapangan tembak dengan melawan arus, menuntun sepeda menyeberang rel kereta api. Setelah itu lanjut gowes lewat TVRI, naik fly over menuju Semanggi dan masuk Sudirman, kemudian ambil Jl. Galunggung di Landmark.

Rute hari ini sebenarnya standar seperti biasanya kalau saya ke kantor klien di sekitar Monas, atau Ratu Plaza atau Graha Mandiri. Dari rumah menuju Jl. Mepati, tembus di Jl. Bintaro, terus menyusuri Tanah Kusir, Ciputat Raya, Pakubowono VI, Hang Lekir, trus nyebrang di Senayan City ke arah Sudirman, ambil jalur cepat. Akhirnya ketemu juga monumen “A Cyclist was strike here …RIP Hendra” yakni di seputaran area sebelum Mid Plaza / apartemen Da Vinci. Sedih juga melintasi area ini. Ini pertanda kehati-hatian harus ditingkatkan selalu saat gowes.

Karena gowes santai, sampai di Graha Mandiri sekitar pukul 9:10 alias satu jam perjalanan. Biasanya saya tempuh dalam 50 menit. Tapi tetap nikmat kok … Uasik tenan ….! Sesampainya di basement Graha Mandiri, saya parkir di tempat parkir khusus sepeda. Di area parkir sepeda ini ada beberapa sepeda yang hanya diparkir saja, tak pernah digowes oleh yang punya sepeda. Waktu hari Selasa penuh sekali sepeda rongsokan yang berdebu, dekil dan diparkir di situ dalam periode yang lama. Rupanya Satpam melakukan pembersihan sehingga sekarang ada tiga sepeda yang sudah dicopot dari pagar sepeda, ditempatkan di area lain (sepertinya). Memang sih, harusnya begitu, jadinya agak bersih. Lihat foto: sepeda lipat Dahon yang pake motor itu sudah berbulan-bulan gak pernah dipakai, debunya minta ampun tebalnya, bisa buat tanam kacang. Sementara itu sepeda jengki yang paling ujung sebelah Dahon adalah sepeda aktif, dipakai oleh pemiliknya.

Mari kita galakkan gowes agar Jakarta tak mampet lagi …!

 

Alasan ke 8: Obsesi terhadap sepeda ketika masih kecil

Sepeda memang bukan barang asing bagi saya bahkan sejak masih usia balita ketika bapak saya membelikan sepeda roda tiga ketika saya belum juga sekolah TK. Sejak itu saya nggumun (kagum, heran – red.) – kok bisa ya dengan mengayuh pedal kok roda bergerak dan memindahkan posisi dari satu titik ke titik selanjutnya. Luar biasa.

Saat saya duduk di bangku kelas 4 SD Guntur Madiun. Saya pernah mengajukan proposal kepada ibu saya. Masih ingat sekali saya, saat itu ibu sedang menggoreng tempe di pawon (dapur – red.). Saya sangat hati-hati mengajukan proposal tersebut, tentu karena saya ingin ibu saya langsung menyetujuinya. Singkat cerita, saya harus membuat strategi jitu, cari waktu yang tepat dan juga saya harus cari suasana yang pas. Saat siang hari setelah saya pulang dari sekolah, saya dapati ibu saya sepertinya suasananya sedang asik menggoreng tempe dengan wajah ceria. “Saatnya beraksi nih,” ujar saya dalam hati.

Sambil agak gemetar, saya mulai menjalankan strategi saya:

“Bu …”

“Ono opo le?” jawab ibu saya

“Tahu Iwan Zulkifli bu? Itu lho yang rumahnya di komplek PNKA, Jl Biliton …”

“Wah ….ibu kok ra kenal yo le…”

“Nanti ibu pasti kenal, saya akan ajak dia main ke rumah kita”.

“Itu lho bu …Iwan punya sepeda bagus sekali …,” lanjut saya

“Model baru bu ..namanya sepeda mini…!!

Bolehkah aku minta ibu membelikan aku seperti punya Iwan?”

“Ah …itu sepeda kan hanya untuk bisa dipakai sampe kelas 6 SD, nanti kalau kamu SMP sepeda itu siapa yang akan pakai …”

“Tapi bu …..”

“Lagian, orang tua Iwan kan orang kaya. Bapak kan sudah tidak ada ….….tinggal ibu sendiri,” jawab ibu lirih dengan nada mulai merendah

“Iya bu …” jawab saya sambil bercampur aduk antara kecewa dan kasihan ibu.

Ibu melanjutkan “Nanti kalau banyak jahitan, ibu belikan sepeda jengki ..”

Gedubrak! Saya kecewa setengah mati mendengar jawaban ibu tersebut. Namun saya tahu persis kondisi ekonomi kami tak mungkin.  Masih ingat saya, kadang ibu hanya memasak sayur lodeh beton (biji nangka). Ya, hanya bijinya, tanpa ada nangkanya. Lauknya pun tempe gembus. Tapi jangan tanya, itu enak sekali dan saya tak ada masalah memakannya. Saya yakin bukan ibu tak punya uang, karena jahitan selalu ada. Tapi ibu hanya ingin hemat, menabung buat masa depan saya dan tiga kakak saya.

Beberapa hari setelah itu Heri, putranya Kepala Pertamina, naik sepeda mini. Saya masih ingat, warnanya kuning menyala. Saya semakin ingin memiliki sepeda mini. Namun saya tahu, itu tak kan mungkin bisa saya miliki.  Bukan. Bukan karena ibu saya pelit. Ibu saya bijak dan visioner. Beliau tahu bahwa sepeda mini masa pakainya seperti sepeda roda tiga. Sedangkan dua tahun lagi saya sudah SMP, tak cocok sepeda mini lagi.

Saya kecewa sekali meski saya faham maksud ibu. Saya tak kuasa merengek karena pendapat ibu benar adanya.

Heri dan Iwan sering melintas dengan sepeda mininya. Fantasi saya terhadap sepeda mini semakin menjadi-jadi. Bagi saya, sepeda ini paling sexy dan paling moderen. Ada dua hal utama yang membuat saya suka sekali speda mini. Pertama, sadelnya panjang nyambung ke belakang. Di bagian ujung belakang ada sandarannya….aduh kerrreeennn!! Rasanya seperti memiliki sepeda motor. Bayangkan, masih SD sudah bisa mengendarai sepeda motor! Opo ora nggajak (keren – red.) tenan??!!!!. Belum lagi warna sadelnya yang menyala. Punya Heri warna kuning sedang Iwan warna biru Benhur. Wah!! Betapa gagahnya kalau saya bisa menaiki sepeda mini!!

Kedua, saya suka bannya lebar seperti ban motor. Ketika sepeda ini dinaiki, kelihatan ban berputar tambah gagah. Rasanya sudah seperti motor beneran. Dua hal ini membuat fantasi saya terhadap sepeda mini makin menggila. Setiap hari saya hanya berandai-andai ….Kalau orang tua saya Kepala Pertamina. Kalau orang tua saya Kepala PNKA. Ya sudahlah ….apapun saya tidak punya sepeda mini. Oh …satu lagi …sepeda mini pakai persneling, seperti motor. Keren kelihatannya!

Beberapa bulan kemudian ibu menepati janjinya. Saya diberi-tahu bahwa ibu siap membelikan saya sepeda. Fantasi saya akan jadi kenyataan. Namun ibu konsisten dengan janjinya, sepeda jengki bukan sepeda mini. Yaaaaaaa…..(dalam hati saya kecewa). Tapi saya terima juga tawaran ibu tersebut dari pada jalan kaki. Saya memilih merek sepeda FOREVER karena jarang yang pakai. Saat itu yang banyak dipakai merek Phoenix, Asia Bike, atau Sim King. Tentu saya ingin tampil beda… Saya pilih Forever warna hijau tentara!

Tak mendapatkan sepeda mini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Saya sedang digembleng untuk merasakan ketidak-nyamanan. Ketidak-nyamanan itu merupakan modal dasar untuk ikhlas. Berat rasanya menerima kenyataan bahwa saya tak mendapatkannya. Hidup ini memang tak sepenuhnya bisa saya kendalikan. Banyak variabel-variabel yang di luar kendali saya. Sepeda mini harus saya akui sebagai fantasi saya yang luar biasa buasnya. Saking inginnya memiliki sepeda mini, beberapa kali saya mimpi memilikinya. Begitu saya kecewa, ada rasa berontak dari dalam diri Kenapa saya tak bisa memilikinya? Bukankah Iwan dan Heri itu juga teman-teman saya? Mengapa mereka bisa memilikinya? Kenapa saya tidak?Tidak adil!

Setelah saya dewasa saya baru “ngeh”. Bahwa hidup ini tak selalu harus berjalan sesuai kehendak kita. Seperti Mick Jagger bilang di salah satu lagunya “You don’t always get what you want …”. Hidup harus dibarengi dengan pemahaman konteks yang terus berkembang. Konteks saya sebagai anak adalah mendapatkan kesenangan. Ibu saya lebih visioner, melihat dari aspek manfaat. Kalau mau membelanjakan uang, berpikirlah seperti sebuah investasi. Dalam investasi, manfaat diperoleh bukan sekedar jangka pendek, harus dilihat ke depannya bagaimana.

Ternyata ada ibrah (pembelajaran) lebih dalam lagi. Kita sering berpikir bahwa kita harus mendapatkan apa yang kita mau. Sebelum hal tersebut tercapai kita berjuang keras untuk mencapainya. Hal tersebut sangat bagus. Namun, bila menghalalkan segala cara, ini jelas melanggar ketentuanNya. Kita wajib berhenti pada suatu titik dimana ada batasan dariNya. Pada titik ini kita tak sadar bahwa Yang Maha Kuasa punya rencana lain. Seringkali kita tak bisa menerima rencanaNya. Padahal Dia jauh lebih tahu dari kita. Dia bukan lagi visioner, tapi sudah tahu secara tepat apa yang akan terjadi. Makanya Dia berikan yang TERbaik buat umatNya.Kalaupun saat itu saya mendapatkan sepeda mini tersebut, pada saat masuk bangku SMP saya akan merengek ke ibu minta sepeda jengki. Jadi, bila kita merasa “kandas”, mari kita nikmati saja …. Karena itu yang TERbaik dariNya ….

Alasan ke 7: Merontokkan mitos tak ada kamar mandi dan tempat ganti baju

Ini memang masalah yang bagi saya cukup besar karena saya tipe yang gak bisa gak mandi kalau sudah berkeringat. Dalam sehari saya bisa mandi tiga atau empat kali karena setiap badan berkeringat maka setelah keringat kering saya segera mandi. Untungnya di kantor-kantor pemerintahan biasanya ada kamar mandi yang bisa digunakan. Namun memang kondisinya tak selalu bersih dan kadang tak ada gantungan baju. Alternatif lainnya adalah masjid. Tak semua masjid memiliki kamar mandi yang tak terkunci. Namun ada cara untuk mandi meski di tempat berwudhu, dan itu tak masalah.

Namun belakangan saya menemukan cara lain bila memang tak ada tempat mandi, yakni dari rumah sudah mandi dan keramas dulu. Saat gowes kepala pake penutup kepala penuh sebelum pake helm. Begitu tiba di tujuan, cari kedai kopi yang cukup dingin untuk mengeringkan keringat sambil ngopi atau baca buku ringan. Begitu keringat kering, saya pakai handuk basah B-Cool yang kainnya seperti Kanebo untuk membilas badan yang tadinya berkeringat. Setelah itu pakai baju kerja, jangan lupa pake parfum. Beres sudah.

Jadi …memang kita harus berpikir untuk mencari solusi. Pada awalnya memang berat. Namun kalau sudah terbiasa, jadi gak masalah.

 

Alasan ke 6: Merontokkan mitos polusi

Ini memang tak terbantahkan karena memang lebih bersih bila kita berada di dalam mobil daripada di luar. Namun kalau kita amati pengendara kendaraan bermotor non-mobil semuanya juga menghadapi masalah polusi. Di sinilah kita harus menyiasati agar kita tak terkena polusi dengan cara memakai masker. Ini penting sekali. Saya berprinsip lebih baik gak jadi gowes kalau tak ada masker karena kalau tidak bakalan sesak nafas. Tak ada yang bisa mengurangi polusi karena jumlah kendaraan di Jakarta yang selalu bertambah dan semakin padat. Dengan menggunakan masker, insya Allah bisa tersaring hanya udara yang relatif bersih yang kita hirup.

Dalam hal ini saya tak menyangkal memang kalau udara di Jakarta pada umumnya memang sudah sangat polutif karena begitu banyaknya kendaraan yang mengeluarkan asap tebal dan tak terkendali. Memang paling aman berada di dalam mobil berpenyejuk udara dibandingkan di luar mobil. Menyikapi fakta ini lebih penting ketimbang meratapinya karena percuma, kalau dari ilmu 7 Habits nya Steven Covey, kita cukup fokus di lingkaran pengaruh (circle of influence) kita saja meski kita peduli lingkungan. Artinya, kita masih bisa mencegah masuknya udara kotor tersebut dengan cara menghindarinya. Cara lainnya adalah memilih jalur alternatif yang jarang dilalui mobil maupun motor. Namun biasanya ada tantangan lain: polisi tidurnya banyak sekali sehingga mengganggu kenyamanan gowes. Selain itu, jalur alternatif juga rawan kejahatan karena jarang ada orang lewat di situ. Kalau saya lebih memilih menggunakan masker dan melintas di jalan protokol karena lebih nyaman gowesnya, aspalnya juga mulus sekali dibandingkan jalan alternatif.

Alasan ke 5 : Merontokkan mitos kondisi Jakarta tidak ramah sepeda

Kalau kita membandingkan dengan negara lain yang sudah punya jalur khusus sepeda, tentu Jakarta masih jauh sekali karena kita hanya punya jalur sepeda di kawasan Blok M, jl. Diponegoro / Imam Bonjol, itupun sudah banyak mobil parkir atau pedagang siomay yang mendominasi jalur sepeda. Jangankan negara lain, dengan kota lain di Indonesia saja Jakarta sudah kalah. Namun biasanya yang ditakutkan orang dalam bersepeda adalah pengemudi motor yang buas dan tak mau mengalah. Untuk hal ini ada kiatnya.

Pertama, kita harus ingat bahwa pengemudi motor itu manusia juga, jadi tentu punya hati nurani. Mereka ngebut bukan berarti mau mencelakakan kita, tapi karena mereka ingin cepat sampai di tujuan karena mereka naik motor jelas tujuannya bukan buat olahraga namun biar cepat. Tujuan kita bersepeda kan sekaligus buat olahraga, jadi kita jangan ikut ritme mereka buru-buru, sialakan saja salip.

Kedua, di dalam diri kita tanamkan sikap ramah kepada pengendara lain, termasuk motor, mobil dan metro-mini. Kasihan lho mereka, di jalanan yang macet ini mereka harus berhenti; jadi kita harus berempati kepada mereka, bersikap yang “bersahabat” dengan mereka. Bila kita memiliki sikap ini maka justru sebaliknya terjadi, mereka menghargai kita. Suatu malam yang gelap ketika pulang gowes, botol minuman saya jatuh ke jalan raya. Belum juga saya sempat mengambil, seorang pengemudi motor dengan sukarela mengambilnya untuk diberikan ke saya.

Alur gowes kita juga harus konsisten tidak zigzag pindah jalur agar tak membingungkan bagi pengendara kendaraan bermotor. Bila kita konsisten lurus, insya Allah aman. Bila terpaksa pindah jalur, harus beri tanda dengan salah satu tangan, jauh sebelum pindah jalur.

jalur sepeda Gunawarman

Jalur sepeda di Jl. Gunawarman, Jakarta Selatan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers