Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Activity’ Category

Ini adalah kegiatan hari ini:

1.) Kajian Bada Subuh – Hadits Arbain #16 : Jangan Marah
2.) Menghadiri Akad Nikah Jati (putra dik Harry Sugito) di Halim
3.) Shalat Isya di PTIK – ketemu Syaiful Doeana
4.) Nopi di Tanamera (yang sepi banget!)

Ini foto-fotonya, biar ingat:

IMG20181104050133

Isya di masjid PTIK — setelah shalat disapa Syaiful Doeana.

IMG20181104192627

Tanamera di Ahmad Dhlan, sekarang kok sepi sekali ya? Apa karena sudah jam 8 malam?

 

Advertisements

Read Full Post »

Berbekal nomer HP Anung Gunanggoro dari temen saya Sonny Kanigoro, saya langung kontak Anung dan segera dibalas anthusias. Anung adalah salah satu temen main saya saat masih kecil di Jl. Sumatra Madiun. Dari kontak awal ini kemudian dibentuk grup WA mengumpulkan nomer WA temen-temen saat kecil dulu si sekitar Jl. Sumatra dan Jl. Dr. Sutomo. Maka terkumpullah 7 orang dalam grup WA kecil ini:

Hermano, Bagus, Wiwib, Anung, Agus, Wayan & saya (Gatot).

Nama grup WAnya pun unik: NDOG GLUDUG. Ini adalah istilah kami saat kecil dulu, yakni cara kami menamai makanan yang dijual di Pasar Sepur, Madiun.

Tak lama kemudian digagaslah pertemuan fisik (kopdar) yang disepakati hari Sabtu, 3 Nov 2018 (kemarin).

Saya sendiri menunggu-nunggu tgl 3 Nov ini karena memang sudah kangen banget, lama sekali gak jumpa.

Sejak awal saya memang berencana gowes ke TKP yaitu Pecel Pincuk Kalibata. Saya berangkat dari rumah jam 16:40 dengan harapan jam 17:50 sampai tujuan. Sayangnya baru gowes 4 KM dari rumah hujan turun dan saya harus berteduh di AlfaMidi, jl. Bendi Raya, Tanah Kusir. Melihat intensitas hujan, saya gak mungkin bisa lanjut gowes. Mau order Grab kok lama semua, sekitar 12 menit. Akhirnya saya cegat Blue Bird Avanza, sepeda dilipat. Alhamdulillah dapet tumpangan menuju TKP.

Sampai di TKP jam 18:30 dimana Hermano sudah datang duluan. Alhamdulillah, senang sekali ketemu Hermano. Salut dengan Hermano yang benar-benar menyiapkan diri untuk bertemu dengan temen2 Ndog Gludug ini sehingga datang sebelum acara dimulai. Memang sebelumnya saya sempat japrian dengan Herano untuk bisa ketemuan lebih dulu sebelum Maghrib. Qadarullah …hujan. Memang hambatan gowes adalah hujan. Namun ya harus dinikmati semuanya.

Satu persatu datang di TKP setelah saya: Bagus, Anung, AGus dan terakhir Wiwib. Akhirnya lengkap kecuali Wayan yang sedang dinas di Madura. Senang sekali ngobrol sama temen2 masa kecil dulu.

Namanya juga temen2 masa kecil/remaja, yang diomongin ya tidak jauh dari kala kami dulu bermain, termasuk istilah Ndog Gludug yang membuat kami semua mesam-mesem. Istilah ini sebenarnya terkait makanan kokam (ko… kambing) yang biasa dijual di Pasar Sepur yang merupakan pasar terdekat dari kami, terletak persis kidul ban (selatan dari persimpangan lajur kereta api di dekat pasar). Sisi seberangnya disebut dengan lor ban. Memang aneh wong Mediun, persimpangan kereta api disebutnya tempat lewatnya ban sepur — lha wong roda kereta api kok disebutnya “ban” seperti ada karetnya aja. Istilah Ndog Gludug itu dulu dicetuskan oleh Hermano (Kepala Suku kami saat itu) karena memang dia suka banget bikin istilah yang lucu dan khas sehingga hanya kami-kami saja yang paham. Saya usulkan nama grup WA “Ndog Gludug” langsung Bagus dan Anung ketawa dan sepakat. Akhirnya setiap warga grup yang menerima undangan pada kaget kok dapet undangan dari WA Group Ndog Gludug. Ha ha ha ha … Saya pun rasanya pengen ketawa kalau ingat proses menamai grup WA ini.

Saat kami kecil, karena memang fokusnya dolanan, kami menamai kelompok kami (biar lain dengan yang lain) macem2, selain Ndog Gludug: ELP (gara2 dulu seneng sama musiknya Emerson Lake & Palmer — tapi juga gak jelas, itu adalah singkatan Elang Putih. Lho kenapa Elang Putih? Embuh …gak jelas …wong namanya anak2 kecil, asal aja kasih namanya), Dupender (Hidup Penuh Penderitaan), Kompas (gara-gara salah satu senior kami yang ngekos di Jl. Dr. Sutomo kamarnya gedheg dan ditempelin koran bekas yang sebagian besar Kompas). Ada-ada saja jaman dulu …masih usia SD – SMP sudah main gank-gank-an segala … Ha ha ha ….

Kepala Suku, Hermano, dulu tinggal di Jl. Sumatra 8 (rumah Minangkabau) di ujung timur sedangkan saya paling ujung di barat. kalau saat malam hari Hermano mengundang anak buahnya, dia berdiri di tengah jalan terus berteriak : “Wik Wiku!” (gak tahu artinya apa, yang jelas itu adalah kode dari Kepala Suku yang harus dituruti anak buahnya). Biasanya kalau dengar kode tersebut saya tak lama kemudian merapat … Ha ha ha …. Masih kecil udah kayak mafia aja …

Obrolan kami dilanjut ke warung kopi yang tak jauh lokasinya dari Pecel Pincuk.

Kakak beradik Anung dan Agus dulu tinggal di rumah Ibu Basar, Jl. Sumatra 12, dekat rumah Hermano. Agus, yang muda,  satu angkatan dengan saya. Mereka baru berada di Madiun saat Kelas 5 SD hingga kelas 2 SMP. Karena pada dasarnya mereka ini anak Jakarta, saat itu saya cukup stress kalau komunikasi dengan ANung atau Agus karena mereka gak bisa Boso Jowo. Tapi ya namanya anak2, gak bisa komunikasi tetap saja main bareng terutama di belakang rumah Hermano ada semak belukar yang lebat. Kami sering main tembak-tembakan di semak-semak ini bahkan kalau berbaring tak bakal kelihatan oleh lainnya. Saat itu di televisi sedang ada serial “The Man from U.N.C.L.E” sehingga kami meniru gayanya Robert Vaughn dan David McCallum saat tembak2an. Kadang kami menirukan juga “The Avengers” … ha ha ha …film djuwadoel pol. Di sini ada pohon juwet yang kami sering ambil. Dulu kami kira itu pohon milik Pak Gondo (ayah Hermano). Namun, baru tadi malam kami diberi tahu oleh Hermano bahwa pohon itu bukan milik keluarganya. Wadouw! Berarti kita dulu nyolong buah orang …. Wah, saya sudah puluhan tahun gak pernah lihat juwet lagi padahal itu huwenak pol!

Bagus baru datang ke Madiun saat SMP karena sebelumnya dia tinggal di Tanggul karena orangtuanya (Doker Daryo) dinas di Tanggul. Rumah Bagus hanya selisih 2 rumah sebelah timur rumah ibu saya di Jl. Sumatra). Gak tahu bagaimana ceritanya saya dan Bagus memiliki kemiripan yang sama dalam menyukai musik sejenis ELP, Pink Floyd, Genesis dsb. Bahkan saat itu saya sering saling-tukar dengan Bagus kaset Led Zeppelin “Physiscal Graffiti” krena punya Bagus perekamnya beda dengan punya saya. Karena rumah dekat saya dan sama-sama SMP Neg 1, saya kadan-kala berangkat dan pulang sekolah bareng Bagus — bahkan masih ingat tas sekolah Bagus saat SMP dulu warna abu2 tua. Ha ha ha ha …. Dari bincang2 dengan Bagus dan Hermano tadi malam, teringat satu nama yang tinggal di Jl. Nias: Heru Sulistiko. Wah, dimanakah Heru? Wajib dicari!

Kalau Wiwib dan Wayan tinggal di Jl. Dr. Sutomo, dekat Losmen Madya, tak jauh dari rumah Hermano. Disebelah rumah mereka ini sebenarnya ada juga Hedik (Baskoro Hadi) dan kakaknya Iman (antara lain) yang saat itu suka naik motor Lambretino. Lambretino? Ha ha ha … Rasanya gak pernah denger motor merek ini lagi …. Dulu juga ada Puch, Zundapp, Duccati yang basisnya seperti sepeda. Dari Wiwib lah saya kembali diingatkan nama2 seperti Mbah Noto, Bu Chotam dan putrinya yang satu angkatan dengan saya, Eni. Nama2 yang sudah lama hilang dari ingatan saya.

Ya ya ya …itu hanya sekelumit kisah konco2 Ndog Gludug yang udah cukup lama tak jumpa. Bahkan dengan Anung & Agus, rasanya sudah lebih dari 45 tahun ndak jumpa. ALhamdulillah masih deiberi umur panjang oleh Allah Taala hingga kami masih bisa jumpa di usia over seket ini …

Kami berencana mengadakan pertemuan di Jl. Sumatra Madiun kelak ….in syaa Allah di tahun 2019 nanti. Ada yang usul bulan Januari tapi rasanya ada yang “nduwe gawe” mantu pada bulan itu …. In syaa Allah terlaksana kelak. Syaratnya: ke Madiun harus numpak sepur (naik kereta api). Kalau gak naik kereta apai rasanya bukan ke Madiun. Madiun gitu loh!

Wefie dengan Hermano, Kepala Suku – The Smiling General.

 

Tanpa terasa waktu udah cukup malam, sekitar jam 22:00 sehingga kami berpisah — dengan harapan akan bertemu lagi, sekurangnya bulan Januari 2019.

Karena hari cerah, saya gowes dari Kalibata menuju Plaza Senayan, menjemput istri saya yang juga sedang bertemu dengan teman-teman SD nya. Ha ha ha …suami istri kerjaannya reuni .. ha ha ha ha …. Gowes malam2 (istilah anak2 sepeda: Night Ride) saya nikmati banget menyusuri Kalibata – Duren Tiga – Tendean – Senopati – Plaza Senayan. Sesampainya di Plaza Senayan, ketemu istri, sepeda dilipet, naik taksi Express pulang dengan perasaan riang gembira …. What a day!!!!

 

Read Full Post »

Alhamdulillah … Kemarin (Selasa 30/10/2018) merupakan hari yang mengesankan. Padahal sebenernya sehari sebelumnya saya lupa kalau ada janjian di hari Selasa. Begitu sadar lihat di calendar, langsung saya WA klien saya yang janjian mau ketemu di Anomali Coffee, World Trade Center. Tadinya saya pikir dia lupa, eh ternyata dia konfirmasi jadi ketemuan jam 13:00. Saya heran kenapa di calendar saya kok tertulis jam 12:00. Ah ternyata saat saya input saat itu saya sedang di Balikpapan sehingga waktunya WITA. Ha ha ha … Baru nyadar begini dampaknya.

Saya berangkat gowes sudah agak siang kemarin, sekitar jam 9:10. Pagi itu dapat flyer kajian sunnah dari mas Adrian Prasanto di Masjid Nurul Hidayah. Sempat bimbang karena pengen juga ikut kajian yang topiknya mencegah generasi muda jadi LGBT. Namun saya mikir, selesai kajian jam 11:00 sangat panas dan gak nyaman gowes ke WTC3. Akhirnya saya lewatkan kajian ini meski saya melewati rute tepat di depan masjid ini di daerah Tanah Kusir. Tancap gowes langsung aja ke WTC3.

Jalanan lumayan nyaman meski agak padat saat mau naik Simpang Semanggi. Sengaja saya lewat jalan tembus di Plasa Semanggi menuju Dr. Satrio dan muter balik masuk ke Jl. Bek Murad. Bisa dikatakan saya tak pernah lewat jalur ini.

Setibanya di WTC belakang, saya langsung menuju Masjid Jend Soedirman untuk melihat ada tidaknya space untuk parkir sepeda. Ternyata ada. Makanya saya gowes lagi menuju warung Soto Lamongan yang kelihatannya yummie banget. Sebelumnya saya muter2 sekitar Karbela namun gak nemu kafe yg OK. Ada sih namanya Fagiola Coffee …namun bingung parkir sepeda dan males berurusan dengan Satpam. Ya udah …nyoto aja dah! Krena juga belum sarapan pagi.

Luar biasa sotonya: ada ndog godog nya. Mantab nih! Jarang banget soto yang ada ndog nya. Wuih lahap dah! Kayaknya bakalan balik ke warung ini lagi nih.

Setelah melahap satu porsi, saya gowes balik ke Masjid dan mendapatkan parkir yang aman punya. Jam sudah menunjukkan 11:05. Sebentar lagi Dzhuhur BMW.

Aman banget parkir di sini. Digembok. Ada tempelan hadits pulak. Asik dah!

Asik juga dapat shaf pertama dan masjid masih sepi sekali. Sebelumnya sempat WA Bro Rully yang sering ikut kajian sunnah si masjid ini.

Bada shalat Dzhuhur berjamaah, ada kajian bagus yang saya akan tulis di artikel terpisah di sini. Bagus soalnya.

Bada kajian saya langsung menuju WTC3 yang qadarullah, ternyata merupakan bangunan di sebelah masjid Jend Soedirman ini. Alhamdulillah! Ini nikmat ketiga yang saya alami. Nikmat pertama adalah bisa gowes nyaman dan selamat. Nikmat kedua adalah kajian yang bagus. Sepeda tetap saya tinggal di posisi semula dan saya jalan menuju WTC3.

Pas masuk, ternyata di lobby inilah ada Anomali Coffee dan pembelinya banyak. Alhamdulillah klien saya, Bu HM, telah datang lebih dulu dan menempati meja buat dua orang. Mantab. Saya order kopi item tanpa susu, tanpa gula plus tuna sandwhich. Tadinya mau order donat, lha kok harganya Rp 40 ribu. Opo tumon?! Pasti itu manis sekali, di dalamnya ada coklat padat gula. Ogah ah. Mahal pulak – donat sebiji kok petang puluh ewu to ndhul!

Janjian dengan Bu HM ini sudah dijadwalkan tiga pekan lalu, jadi ya asik juga bisa ketemu. Bu HM adalah Direktur Keuangan sebuah lembaga penelitian. Ini sebetulnya saya memenuhi janji saya untuk dialog tentang hal, apa lagi kalau bukan change management, yang sulit dilaksanakan bila kalangan senior tak mendukung, masih terkotak dengan pola pikir lama. Memang sih, tak ada business deal dalam pertemuan ini karena memang target saya adalah mendengarkan apa yang beliau sampaikan, kemudian dibahas bersama. Pekerjaan konsultan memang harus lebih banyak mendengarkan karena hal inilah yang sebenernya dibutuhkan klien. Saya hanya memberi komentar kalau beliau minta pendapat. Itupun selalu saya mulai dengan mengulang apa yang sebelumnya dikatakan klien. “Jadi, menurut ibu dukungan dari senior sangat dibutuhkan dan kadang perlu reward & recognition ya bu …. “. Itu kalimat pembuka saya yang sebenarnya hanya “pengulangan” dari pernyataan beliau. Dengan mengulang apa yang beliau ucapkan, beliau merasa diperhatikan sehingga hawa empati muncul. Dialog yang menyenangkan. (Di tenagh dialog sempat bertemu Vera Adjaz yang kebetulan lewat — sempat ngobrol sejenak karena sudah bertahun-tahun tak pernah kontak | Dia mengabarkan bahwa PriceWaterhouse baru pindah kantor ke WTC3. Saya kenal Vera saat saya bekerja di Price Waterhouse Consulting — tahun 1994 sd 1997). Tanpa terasa, pertemuan harus diakhiri sebelum jam 15:00 san alhamdulillah tepat adzan Ashar. Saya langsung menuju masjid utk shalat.

Selesai shalat dapat WA dari temen, Halim Gunawan, ngajakin ketemuan di lobby Standard Chartered, jl. Dr. Satrio. Saya sanggupi. Waktu sudah pukul 16:15. Inilah enaknya kalau gowes, mobilisasi cepat, karena saya bilang ke Pak Halim bahwa dalam 15 menit saya sampai di TKP. Pada kenyataannya hanya 10 menit, ditambah melipat sepeda 2 menit … ya pas lah 12 menit … he he he ….

Kami bertemu bertiga, ditambah mas Herry Kuswara, senior saya di ITB dan sekaligus suami dari temen saya di TI 79, Anie Andayani.

Ngobrol sambil ngopi ini produktif karena fokus pada satu hal: Pak Halim Gunawan mengajak kerjasama menggarap penugasan uji-tuntas (due dilligence) akuisisi perusahaan asing. Whoaaaa ….peluang seperti ini selalu menarik bagi saya karena harus bicara yang strategis. Karena pentingnya hal ini, saya akan tulis artikel berbeda tentang hal ini di blog saya lainnya The Value Quest.

Yang ingin saya rangkum dari hari yang mengesankan ini adalah:

  • Bergeraklah, maka akan kamu jumpai banyak hal. Ini adalah nasehat dari teman baik saya di WIKA, mas Farid Nur Aidy, yang ketika saya mintai nasehat saat bertemu di Wika Tower 2 sekitar 2 bulan lalu mengatakan: “Gerak – Sabar – Syukur” (GSS). Maasya Allah … Benar juga, saya hari Selas pagi tetapkan untuk bergerak, kemudian sabar dengan apapun yang saya hadapi — termasuk musti menunggu shalat dan bersyukur terhadap nikmatNya.
  • Memulai sesuatu tanpa harus dengan harapan adanya imbalan bisnis (pertemuan dengan Bu HM) justru membuat diskusi nyaman, santai dan fokus. Bahkan saya janji akan membantu beliau mencarikan narasumber buat strategic meeting yang akan beliau jalankan di organisasi beliau.
  • Allah Taala Maha Pemurah dan memberikan rezkiNya dari arah yang tak terduga. Saya merasa mendapatkan rezki luar biasa dengan hadir di kajian sunnah yang tadinya tak saya rencanakan. Saya mendapatkan jawaban dari apa yang selama ini saya pikirkan dari kajian ini. Ini jelas rezki luar biasa. karunia tiada tara karena setelah mendapatkan rezki ini saya semakin semangat shalat Subuh berjamaah karena pak ustadz menjelaskan dengan baik sekali. Tak hanya itu … Allah Taala juga memberi rezki dunia yaitu adanya peluang bisnis dengan Pak Halim Gunawan. Ini jelas luar biasa meski belum jadi proyek. Esok harinya (Rabu) saya menggarap proposal dengan Pak Halim, namun saya kerjakan dari rumah, sedangkan Pak Halim dari kantor beliau. Maasya Allah …nikmat sekali bisa bekerja dari rumah.

Alhamdulillah … Senang sekali menutup hari yang mengesankan ini. Tulisan ini baru sempat saya tulis tgl 31 Oktober sore dan saya tuntaskan 1 November 2018 sore, bada Ashar.

Salam,

Read Full Post »

Andjar dan Santi di panggung, mempersiapkan acara esok harinya. 05/10/2018

Hari ini jam 10 nanti in syaa Allah digelar reuni akbar Trah Adisastro yang pertama kali setelah kami berpisah di berbagai kota di nusantara ini. Bismillah….

Kemarin begitu mendarat di bandara Juanda, kami langsung makan pagi di Soto Madura Bandara bersama Bulik Pamudji, Mas Henky dan Andjar serta istrinya (Santi). 05/10/2018

Read Full Post »

Alhamdulillah, tadi malam sekitar jam 18:30 kembali tiba di Balikpapan. Tepat di sebelah kanan hotel tempat saya menginap, MAXONE, di. Jl. Mulawarman dekat Kolam Renang, ada masjid besar Al-Aman. Kamar saya (322) dekat dengan masjid dan saat masuk kamar terdengar kajian bada Maghrib di masjid tersebut. Pak Ustadz yang memberi kajian menyampaikan pesan agar kita melafazkan dzikir dengan benar, jangan terburu-buru karena mengejar setoran jumlah, misalnya 33x. Ucapkan dengan benar dan mantab, jangan ngebut:

Subhanallah 33x

Alhamdulillah 33x

Allahu Akbar 33x

Nasehat yang mendasar dan penuh makna, karena sebagian dari kita (termasuk saya) kadang “ngebut” bacanya.

Penasaran dengan masjid ini, pagi ini saya shalat Shubuh di sini dan ini masjidnya:

Situasi setelah shalat Shubuh.

Bagian depan masuk masjid

Tanpak luar. Di sebelah kanan adalah MaxOne Hotel yg baru soft launching 15 Sep 2018 yang lalu.

Gerbang utama masuk komplek masjid dari Jl. Mulawarman.

Read Full Post »

Perjalanan ke kota kelahiran yang saya citai, Madiun, selalu merupakan salah satu hal penting dalam catatan saya karena memang kota ini tak kan pernah saya lupakan selama hidup saya. Ini juga karena saya lahir dan dibesarkan oleh orangrua saya, Hidayat, di Madiun hingga 19 tahun. Setelah itu saya kuliah di Bandung dan akhirnya ibu saya yang baik sekali, hijrah ke Jakarta tahun 1981 karena semua anaknya tidak ada lagi yang tinggal di Madiun. Praktis sejak 1981 hingga 2003 saya tak pernah ke Madiun. Pada saat saya ada pekerjaan dengan konsultansi dengan Semen Gresik di tahun 2003, saya sempatkan mampir ke Madiun. Madiun sudah mengalami kemajuan pesat dan setelah itu saya lumayan sering ke Madiun, terutama saat teman2 SMA mengadakan reuni akbar tahun 2009 di Sarangan, Madiun. Luar biasa, kota yang menjadi indah, tertib dan rapi (bersih).

Undangan Mantu Teman SMA

Kunjungan ke Madiun kali ini karena ada undangan dari teman SMA Negeri 1 Madiun, angkatan yang sama (79), Ratna Widyastuti. Sebenernya sepekan sebelumnya juga ada undangan dari teman SMA juga di Madiun. Sayang undangannya kalah cepat saya terima dari yang undangan tanggal 8 September. Maka, saya merencanakan perjalanan dengan cermat karena saya tak mau kehilangan sedikitpun kesempatan ketika saya mengunjungi Madiun — teralu banyak yang ingin dikunjungi. Setiap waktu saya rencanakan dengan baik bahkan saya sudah pertimbangkan dengan waktu tempuh dari satu tempat ke lainnya karena memang saya berencana membawa sepeda agar lincah dan tak tergantung siapa-siapa.

Ternyata, rencana perjalanan saya ke Madiun ini tercium juga oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1, Pak Imron, sehingga beliau menginginkan saya mampir ke almamater memberikan semangat dan motivasi kepada para guru SMA Negeri 1 Madiun. Hal ini diungkapkan oleh teman baik saya yang juga pengurus dari Dewan Pendidikan di Madiun, Pak Eddie Sanyoto. Klop sudah, jadwal saya akan penuh selama dua hari (satu malam) di Madiun.

Perjalanan Yang Menyenangkan

Kamis, 6 September saya berangkat ke stasiun Gambir sekitar pukul 14:15 dengan harapan bisa shalat Ashar di masjid di belakang stasiun Gambir. Di situlah biasanya saya bertemu dengan Pak Dahlan (porter nomer punggung 63) yang selalu menjadi langganan saya ketika berada di Stasiun Gambir. Qadarullah terkena macet sehingga saat sampai di Masjid Gambir, jamaah shalat Ashar sudah bubar. Artinya, saya tidak bertemu dengan Pak Dahlan. Memang, Pak Dahlan ini tak punya HP sehingga sulit bagi saya untuk berkomunikasi dengannya. Setelah shalat Ashar saya cari Pak Dahlan dan menanyakan ke porter lainnya. Memang dia bekerja aplusan dan saya beruntung, menurut temannya hari itu Pak Dahlan sedang bertugas.

IMG20180906161750

Bersama sahabat lama, Pak Dahlan (63) di stasiun Gambir.

Setelah lama tak menjumpai Pak Dahlan, saya sudah berencana mau mengangkut sendiri sepeda dan ransel saya dengan harapan ketemu Pak Dahlan. Alhamdulillah …akhirnya saya lihat dia dan langsung saya beri salam saat di pundaknya mengangkut kotak kardus sementara tangannya mengangkut kardus lainnya. Serta merta Pak Dahlan menjawan salam saya diikuti dengan kata “Subhanallah …”, sambil meletakkan kardus yang dijinjing pakai tangan kanan, untuk menyalami saya. Maasya Allah … Padahal saya paham dia lagi mengangkat barang. Langsung kami janjian akan bertemu di titik temu tersebut (lobby selatan Gambir). Alhamdulillah … Akhirnya memang pak Dahlan membantu saya memasukkan sepeda ke dalam kereta Bima yang akan berangkat 16:30 menuju Madiun hingga Malang. Saya sempat mengobrol cukup lama, sekitar 10 menit, dengan Pak Dahlan karena sudah lama sekali (hampir setahun) saya tidak jumpa dengannya. Alhamdulillah ….

IMG20180906212754

Posisi sepeda ditaruh di kursi paling belakang; tidak mengganggu penumpang lain yang duduk di kursi ini.

Kereta Bima selalu berangkat tepat waktu jam 16:30 dan seperti biasa, saya selalu menikmati perjalanan dengan kereta, dengan melihat-lihat pemandangan di luar kereta, bahkan hingga Cikampek. Di depan saya ada dua orang bule yang sepertinya turis, juga asik menikmati pemandangan yang ada di luar kereta karena sama2 juga sering jeprat-jepret kamera HP. Saya lebih suka memotret berbagai ragam masjid yang tersebar sepanjang jalan rel kereta Jakarta – Cikampek karena setelah itu sudah masuk Maghrib, tak kelihatan lagi.

Suhu kereta tak terlalu dingin sehingga saya tak perlu membuka selimut yang disediakan PT KAI. Seperti biasa juga, saya sulit tidur karena excited dan pengen cepet sampai Madiun yang ETA nya jam 03:01 pagi. Setiap berhenti di stasiun besar seperti Cirebon, Purwokerto, Yogya, Solo, saya selalu keluar dari kereta, mengamati dan menikmati stasiun dan petugas yang bekerja di stasiun. Beberapa penumpang juga turun karena mereka golongan ahli “hisab”. Lumayan, malam itu saya bisa tidur sekitar 3 jam dan setelah bangun, saya duduk di restoran sambil menikmati kopi tubruk, sejak sebelum masuk Solo hingga menjelang turun di Madiun.

Gowes dan Kuliner Pagi – Jumat, 7 September 2018

Kereta Bima masuk Madiun jam 03:15, telat namun masih OK banget, dan saya langsung membuka lipatan sepeda di dekat pintu keluar stasiun. Stasiun Madiun sekarang besar sekali karena jalan keluarnya cukup jauh sekarang, ke arah barat, dekat parkir motor. Langsung gowes menuju Hotel Mataram Baru (tempat saya menginap) untuk menitipkan ransel ke Concierge hotel. Tinggallah tas sepeda yang melekat di body sepeda saya. Saya langsung gowes menuju Nasi Pecel Timbangan yang konon kabarnya sedang nge-hit dewasa ini. Saya dengar sudah 1 tahun ini dan Alhamdulillah saya bisa “ngincipi” sarapan pagi sego pecel di sini. Letaknya persis di depan eks kantor Dinas Sosial Jl. Diponegoro, tak jauh dari pertigaan Jl. Bali dg. Jl. Diponegoro. LUmayan rame yang beli di sini. Saya memesan sgo pecel lauk kebok (paru) tapi tidak nambah — sengaja menyisakan ruang perut buat kuliner lainnya.

Jam 04:02 saya gowes menuju Masjid Darussalam di Jl. Soekarno-Hatta, Josenan, untuk shalat Shubuh yang jadwalnya 04:09. Nikmat sekali gowes pagi di Madiun melintasi Jl. Pahlawan dan Jl. Cokroaminoto. Sempat melewati nasi pecel Sri Tanjung yang konon juga sedang nge-hit dan masuk dalam daftar saya. tentu saja saya tidak mampir karena masih kenyang dan sebentar lagi adzan. Ini adalah kali kedua saya Shubuh di masjid ini, yang pertama persis setahun lalu, bulan September juga. Jamaahnya hanya 1.5 shaf, masjid yang relatif kecil. Baru saya sadari bahwa masjid ini berdempetan dengan makam, disekat dengan pagar teralis. Wah …saya lagi mikir nih …mungkin gak akan shalat lagi di sini kecuali pagar pembatasnya dibuat tembok permanen kokoh sehinga benar-benar terpisah dari pemakaman.

Setelah Shubuh saya nikmati gowes pagi di sekitar Madiun. Santai dan nikmat. Mobil, motor dan bus yang melintas di Jal. Soekarno-Hatta dan Jl. Trunojoyo ngebutnya bukan main. Saya harus ekstra hati-hati. Lampu depan dan belakang sepeda menyala terang sekal, kelap-kelip. Kalau tidak, bisa berbahaya sekali.

Warung Mak’e

Setelah puas bersepeda, saya akhirnya bernostalgia di depan toko buku legendaris yang selama sekolah di Madiun, hanya toko buku ini lah yang paling lengkap menyediakan buku-buku cetak yang diperlukan sekolah misalnya Buku Tjerdas Tangkas dan lainnya. Namanya pun tak berubah: Toko Amin. Bisa dibilang ini adalah toko buku legend atau bisa dikatakan Gramedia nya Madiun. Sayang pagi itu belum buka, karena masih jam 6:00.

Setelah itu saya ke Warung Mak’e yang juga sedang nge-hit, lokasinya di Jl.Merbabu, sebelah barat dari lokasi Dawet Suronatan. Warungnya memang bagus dari segi desain interior nya; menawarkan berbagai jenis masakan: rawon, nasi pecel, soto dan lainnya. Saya pilih rawon. Biyuh! Ternyata memang huwenak tenan rawonnya — rasa kluwak nya terasa banget, dagingnya pun empuk. Saya nikmati suapan demi suapan rawon ini. Di Jakarta gak pernah saya temui rawon seenak ini. Luar biasa rasanya.

Sekitar pukul 7:00 saya pancal pedal sepeda menuju Jl. Tanjung Manis, Manisrejo, tempat dilangsungkannya akad nikah dari putri mbak Ratna. Alhamdulillah bisa sampai di tempat sebelum acara dimulai alias jam 7:40. Senang bisa bertemu Mas Manyu dan sekaligus ada guru agama saya ketika dulu di SMP Negeri 1, Bapak Ibnu Chosim. Usia beliau sudah 71 namun sehat sekali dan selalu senyum seperti dulu saat beliau menjadi guru. Saya bersyukur bisa hadir di akad nikah karena in syaa Allah disaksikan ribuan malaikat acara ijab qobul seperti ini. Prosesi berlangsung cukup lama (banyak tradisi yang dilakukan) dan baru saya bisa pamit sekitar 9:15.

Universitas Merdeka

Setelah mendapat arahan petunjuk rute oleh Mas Manyu, saya gowes menuju Universitas Merdeka di Jl. Serayu, berebcana ketemu Pak Rektor, DR. Rahmanta Setiahadi. Senang sekali, setlah sekitar 3 tahun tak ketemu, bertemu kembali dengan mas Rahmanta. Sesuai janjinya, saya dibuatkan kopi cokot khas hasil kerja nyata mahasisma UnMer dalam membina UKM di Madiun. Maasya Allah …nikmat kopinya dan gayeng ngobrolnya.

Tak sekedar ngopi, setlah itu saya diajak jalan-jalan mengitar kampus seluas 5 hektar, terutama di bagian belakang yang penuh dengan tanaman pohon jati karena memang DR. Rahmanta ini ahli hutan dan sangat cinta pohon jati. Kampusnya luas sekali dan di belakang sedang dibangun ruang seminar dengan interior bergaya teatrikal. Gedung yang bagus, sedang dibangun persis di sebelah Gedung Merah – Putih (masih baru juga) sebelum Masjid. Beliau menjelaskan sejarah UnMer dan visi beliau ke depan tentang UnMer. Saat ini sudah masuk tahun ke-empat sebagai Rektor dan prestasi luar biasa DR Rahmanta adalah membuat UnMer ini menjadi akreditasi B baik sebagai institusi maupun semua dari 9 prodi-nya. Maasya Allah!

Tour de Campus dengan berjalan kaki santai ini kemudian diakhiri dengan pertemuan bersama anak-anak muda yang tergabung dalam MenWa, sedang istirahat setelah dilatih oleh Pak Gunawan (tentara). Kelihatan DR Rahmanta ini dekat sekali dengan mahasiswa-mahasiswa nya, terlihat dengan bagaimana mereka menyambut Pak Rektor humble ini.

Setelah ngobrol kembali di ruang-kerjanya, menjelang shalat Jumat saya pamit, menuju Alun ALun Madiun. Tak jauh dari sini ada tiga tempat kuliner yang legendaris banget: Dawet Muria, Dawet Suronatan dan Tepo Tahu Jl. Merbabu. Alhamdulillah siang itu tiga tempat ini saya cicipi … ha ha ha …. perutnya full setelah itu … Gak papa …yang penting makannya jangan banyak agar semuanya bisa dirasakan taste nya. Mantab. Es Dawet Muria ini dulu sebenernya lahir karena ikut2an demam nge-hitnya Dawet Suronatan. Alhamdulillah masih eksis hingga kini dan dawetnya pun enak. Kalau tepo tahu Jl. Merbabu itu paling enak di dunia, gak ada yang bisa bikin seenak ini. Tuooob!

Mataram Baru dan Silaturahim Keluarga

Jam 13:00 saya sudah berada di Mataram Baru dan sesuai rencana saya akan tidur siang sampai jam 16:00 untuk kemudian dilanjut acara padat lainnya. Kali ini hotel mataram penuh sehingga saya tidak dapat kamar langganan nomer 101, tapi dapat di lantai 2. gak masalah. Yang penting bisa tidur nyenyak. Benar, siang itu saya benar-benar tidur nyenyak meski sebelum tidur ada panggilan telpon di HP. Setelah itu HP saya silent dan saya istirahat total sampai bangun jam 16:00.

Jam 16:20 saya gowes ke Jl. Mundu, silaturahim ke rumah ponakan saya dari nasab ayah, tepatnya rumah dr. Nita. Senang sekali bisa menyambung silaturahim dengan keluarga dari ayah saya yang sudah terpencar di seluruh Indonesia. Di Jl. Mundu sebenarnya saya hanya berencana sekitar 30 menit saja karena ada undangan dari Pengurus IKBA (Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Madiun) jam 18:30 di rest Pemuda. Tapi sepertinya tidak bisa saya hadiri karena mendadak sekali undangannya. Akhirnya saya shalat di Masjid Baiturrohman, Jl. Semongko, bersama Dik Hermawan (Wawan) suami dari dr. Nita. Setlah Maghrib, rupanya dik Rizki (adiknya Nita) yang tinggal di Jl. Wuni juga bergabung maka lengkaplah saat itu kami sebagai sedulur-darah….hingga dijamu makan malam. Tadinya saya menolak tapi karena udah disediakan, ya saya makan sedikit pol aja.

Setelah (19:00) itu saya meluncur ke Jl. Biliton pertigaan, dengan maksud untuk membeli kue putu Pak Naryo yang legend itu. Cukup membeli 1 bungkus (isi 5 putu) yang masih panas, untuk saya makan di hotel. Dari Putu Pak Naryo, saya gowes menuju Jl. Salak, mampir dulu andok wedang cemoe Bu Sunar di Jl. Bali. Menikmati satu mangkok aja cemoe. Huwenak wis! Setelah santai, gowes lanjut ke Jl. Salak ke rumah dr. Emi yang juga ponakan saya lainnya, masih dari jalur ayah. Ditemani oleh suaminya, mas Yoyok, dan 3 orang anak laki2: Raja, Sultan dan …. (lupa).

Kopi Pak Min

Usai dengan acara keluarga, saya bermaksud menemui teman baik saya Eddie Sanyoto di Kopi Pak Min, jl. Dr Sutomo. Namun karena melewati Cokroaminoto, saya melongok ke Nasi Pecel Sri Tanjung, penasaran ingin tahu rasanya seperti apa. Saya nekad aja parkir sepeda saya, lihat situasi. Eh …ternyata di situ ada temen2 Typathie (Bagus, Tjin dll.) sedang andok pecel. Saya dipesankan 1 pincuk pecel. Enak memang.

Setelah itu kami berpisah, teman2 pada nginep di rumah Tomo, sedangkan saya ditawari ngelipet sepedah, dimasukin bagasi mobil kemudian diantar mas Tomo ke hotel. Kalau ini jelas, saya tolak tegas namun halus. Lha, tujuan saya ke Madiun bawa sepeda itu ya buat digowes, ditumpaki sadele, bukan buat dilipet. Enak to, muter2 Madiun sambil mengenang masa remaja bersepeda di Madiun. Akhirnya saya memang gowes santai dengan lampu berkelap-kelip sedangkan lampu depan terang-benderang menuju warkop Pak Mien yang letaknya persis di depan hotel Mataram Baru. Di situ sudah ada Eddie Ting sedang ngopi. Waktu sudah sekitar pukul 22:00. Saya pesan kopi item tanpa susu tanpa gula, Mas Eddie Ting pesan jahe. Wuih, nikmat banget jadoman malam hari sama temen SMA, membahas agenda dan rundown acara Professional Excellence Seminar dengan para Guru SMAN 1 Madiun yang rencananya akan digelar esok harinya. Banyk hal saya bahas dengan mas Eddie, mulai dari grand strategy SMAN 1 Madiun dalam kaitan melejitkan potensi siswa dan bagaimana acara seminar akan saya bawakan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23:15 dan kami harus sudahi karena esok hari saya rencana mulai acara seminar jam 8:00.

Saya langsung balik ke hotel dan setelah mandi masih mengkonsep secara rinci agenda seminar. Saya selalu serius mengkonsep acara dengan para guru karena dampaknya harus positif dan signifikan utamanya dalam “menggerakkan” para guru untuk mampu berbuat all-out demi melejitkan potensi siswa.

Professional Excellence Seminar, Sabtu pagi 8 September 2018

Tibalah hari yang direncanakan jauh hari ini, yaitu menggelar acara super duper penting pol dalam rangka melejitkan potensi siswa-siswi SMAN 1 Madiun. Setelah shalat Shubuh saya tidak tidur lagi dan tepat sekitar pukul 7:00 sudah nyengklak sepeda menuju Taman ngGulun. Kok? Iya …soalnya saya sudah niatkan buat makan rawon kondang yang terletak di sebelah selatan taman olahraga Gulun. Memang benar, rawon ini banyak penggemarnya karena tempat duduknya nyaris gak tersedia. Alhamdulillah saya bisa dapat tempat duduk dan langsung pesan rawon yang dibandrol Rp. 14 ribu per porsi. Murah dan enak. Namun, sepertinya saya lebih cocok dengan rawon nya Make di Jl. Merbabu. HP saya mulai berbunyi karena panitia di Aula SMAN 1 panik kenapa saya belum hadir sedangkan acara dimulai tepat jam 8:00. Tenaaaaang …masih ada waktu kok …. Benar saja, sampai di SMA N 1 sekitar 10 menit sebelum jam 8:00 dan langsung disambut oleh Pak Imron Rosidi (Kepala Sekolah), Ketua Ikatan Alumni (Dr. Onny) serta Sekretarisnya, mas Bambang Sulis, serta guru2 lainnya termasuk Bu Nanik Pudjiastuti dan Bu Hermien. Rasanya, seminar perlu saya bahas di artikel lainnya, bukan di sini.

Setelah selesai seminar sekitar 11:00, ada beberapa guru yang anthusias dengan materi seminar dan bersemangat melakukan diskusi lebih lanjut sambil berjalan dari Aula di lantai 3 menuju tempat parkir sepeda saya di dekat kantor Kepala Sekolah. Para guru ini semangat untuk tindak-lanjutnya secara nyata hari Senin nya.

Ketemu Temen SD Guntur: Yadi

Saya pamit dari SMAN 1 Madiun sekitar 11:20 dan langsung gowes menuju SUN City Hotel untuk bertemu dengan teman2 yang menghadiri acara walimah putrinya Ratna. Sayang saya sudah “kepancal” karena pada saat saya masuk ruang walimah, teman-teman sudah pada pulang semua. Mungkin karena saya mampir dulu shalat Dzuhur dijamak Ashar di masjid di komplek Sun City.

Saya kayuh sepeda saya menuju Pasar nJoyo atau tepatnya di lokasi Nasi Pecel Yu Gembrot, mencari toko dari teman saya di SD Guntur yang sudah lebih dari 43 tahun saya tak pernah jumpa dan komunikasi: Yadi. Alhamdulillah ketemu juga dan saya sengaja ngobrol dengan Yadi dari jam 12:45 hingga menjelang jam 17:00. Maklum sudah lama sekali gak jumpa, saya sengaja duduk di toko pompa milik Yadi sampai toko-toko lain tutup. Mungkin di lain waktu saya akan tulis hal-hal penting terkait pertemuan saya dengan Yadi ini. In syaa Allah.

Setelah pamit dari Yadi, saya gowes menuju Jl. Dr. Sutomo untuk membeli bluder Cokro sebelum akhirnya gowes menuju Hotel Mataram Baru. Kereta saya masih malam nanti sekitar jam 19:00, makanya sempat mandi dan shalat Maghrib dijamak Isya di Hotel Mataram.

Wah ….pokoknya pengalaman yang asik banget. Ya, setiap ke Madiun saya selalu merasa senang sekali dan sedih berpisah pada hari Sabtu ini menuju Jakarta dengan kereta Bangunkarta.

Read Full Post »

Rangkuman Kajian Ba’da Dzuhur di Masjid Baitut Tholibin, 2 Agustus 2018.

5 Obat utk Hati yang Keras 2Aug2018

Ada 5 obat dari hati yang keras, hati yang berpenyakit:

  1. Suka bergaul dengan orang2 soleh, yang suka hadir majelis taklim. Dalam majelis taklim kita diminta diam, mendengarkan; menghidari dari pembicaraan tak berguna; mau menerima berita / kabar / nasehat dari orang soleh.
  2. Membaca dan menghayati makna Al Quran. Kalau tidak paham bahasa Arab, bisa membaca terjemahannya.
  3. Membersihkan batin dengan cara membersihkan perut dan hati: mengkonsumsi makanan halal sedikit, tak berlebihan. Makanan halal adalah pokok dari segala hal kebaikan yang akan tumbuh di badan kita. Makanan halal mencemerlangkan hati, menajamkan mata hati.  Ada hadits tentang 3 hal menyebabkan kerasnya hati : 1. hobi makan (hubud thoam) 2. suka tidur (hubud naum) – makanya ada shalat 17 rakaat menghancurkan dosa selama 17 jam saat kita tidak tidur; 3. hobi santai — kita gak boleh nganggur, meskipun usia tua.
  4. Bangun malam – tak hanya shalat tapi juga dzikir dan doa, sampai menjelang Shubuh.
  5. Merintih kepada Allah tabaroka wa taal pada akhir malam, sambil menangis; banyak istighfar, selalu ingat mati, ziarah kubur.

 

Read Full Post »

Older Posts »