Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Activity’ Category

Perjalanan ke kota kelahiran yang saya citai, Madiun, selalu merupakan salah satu hal penting dalam catatan saya karena memang kota ini tak kan pernah saya lupakan selama hidup saya. Ini juga karena saya lahir dan dibesarkan oleh orangrua saya, Hidayat, di Madiun hingga 19 tahun. Setelah itu saya kuliah di Bandung dan akhirnya ibu saya yang baik sekali, hijrah ke Jakarta tahun 1981 karena semua anaknya tidak ada lagi yang tinggal di Madiun. Praktis sejak 1981 hingga 2003 saya tak pernah ke Madiun. Pada saat saya ada pekerjaan dengan konsultansi dengan Semen Gresik di tahun 2003, saya sempatkan mampir ke Madiun. Madiun sudah mengalami kemajuan pesat dan setelah itu saya lumayan sering ke Madiun, terutama saat teman2 SMA mengadakan reuni akbar tahun 2009 di Sarangan, Madiun. Luar biasa, kota yang menjadi indah, tertib dan rapi (bersih).

Undangan Mantu Teman SMA

Kunjungan ke Madiun kali ini karena ada undangan dari teman SMA Negeri 1 Madiun, nangkatan yang sama (79), Ratna Widyastuti. Sebenernya sepekan sebelumnya juga ada undangan dari teman SMA juga di Madiun. Sayang undangannya kalah cepat saya terima dari yang undangan tanggal 8 September. Maka, saya merencanakan perjalanan dengan cermat karena saya tak mau kehilangan sedikitpun kesempatan ketika saya mengunjungi Madiun — teralu banyak yang ingin dikunjungi. Setiap waktu saya rencanakan dengan baik bahkan saya sudah pertimbangkan dengan waktu tempuh dari satu tempat ke lainnya karena memang saya berencana membawa sepeda agar lincah dan tak tergantung siapa-siapa.

Ternyata, rencana perjalanan saya ke Madiun ini tercium juga oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1, Pak Imron, sehingga beliau menginginkan saya mampir ke almamater memberikan semangat dan motivasi kepada para guru SMA Negeri 1 Madiun. Hal ini diungkapkan oleh teman baik saya yang juga pengurus dari Dewan Pendidikan di Madiun, Pak Eddie Sanyoto. Klop sudah, jadwal saya akan penuh selama dua hari (satu malam) di Madiun.

Perjalanan Yang Menyenangkan

Kamis, 6 September saya berangkat ke stasiun Gambir sekitar pukul 14:15 dengan harapan bisa shalat Ashar di masjid di belakang stasiun Gambir. Di situlah biasanya saya bertemu dengan Pak Dahlan (porter nomer punggung 63) yang selalu menjadi langganan saya ketika berada di Stasiun Gambir. Qadarullah terkena macet sehingga saat sampai di Masjid Gambir, jamaah shalat Ashar sudah bubar. Artinya, saya tidak bertemu dengan Pak Dahlan. Memang, Pak Dahlan ini tak punya HP sehingga sulit bagi saya untuk berkomunikasi dengannya. Setelah shalat Ashar saya cari Pak Dahlan dan menanyakan ke porter lainnya. Memang dia bekerja aplusan dan saya beruntung, menurut temannya hari itu Pak Dahlan sedang bertugas.

Setelah lama tak menjumpai Pak Dahlan, saya sudah berencana mau mengangkut sendiri sepeda dan ransel saya dengan harapan ketemu Pak Dahlan. Alhamdulillah …akhirnya saya lihat dia dan langsung saya beri salam saat di pundaknya mengangkut kotak kardus sementara tangannya mengangkut kardus lainnya. Serta merta Pak Dahlan menjawan salam saya diikuti dengan kata “Subhanallah …”, sambil meletakkan kardus yang dijinjing pakai tangan kanan, untuk menyalami saya. Maasya Allah … Padahal saya paham dia lagi mengangkat barang. Langsung kami janjian akan bertemu di titik temu tersebut (lobby selatan Gambir). Alhamdulillah … Akhirnya memang pak Dahlan membantu saya memasukkan sepeda ke dalam kereta Bima yang akan berangkat 16:30 menuju Madiun hingga Malang. Saya sempat mengobrol cukup lama, sekitar 10 menit, dengan Pak Dahlan karena sudah lama sekali (hampir setahun) saya tidak jumpa dengannya. Alhamdulillah ….

Kereta Bima selalu berangkat tepat waktu jam 16:30 dan seperti biasa, saya selalu menikmati perjalanan dengan kereta, dengan melihat-lihat pemandangan di luar kereta, bahkan hingga Cikampek. Di depan saya ada dua orang bule yang sepertinya turis, juga asik menikmati pemandangan yang ada di luar kereta karena sama2 juga sering jeprat-jepret kamera HP. Saya lebih suka memotret berbagai ragam masjid yang tersebar sepanjang jalan rel kereta Jakarta – Cikampek karena setelah itu sudah masuk Maghrib, tak kelihatan lagi.

Suhu kereta tak terlalu dingin sehingga saya tak perlu membuka selimut yang disediakan PT KAI. Seperti biasa juga, saya sulit tidur karena excited dan pengen cepet sampai Madiun yang ETA nya jam 03:01 pagi. Setiap berhenti di stasiun besar seperti Cirebon, Purwokerto, Yogya, Solo, saya selalu keluar dari kereta, mengamati dan menikmati stasiun dan petugas yang bekerja di stasiun. Beberapa penumpang juga turun karena mereka golongan ahli “hisab”. Lumayan, malam itu saya bisa tidur sekitar 3 jam dan setelah bangun, saya duduk di restoran sambil menikmati kopi tubruk, sejak sebelum masuk Solo hingga menjelang turun di Madiun.

Gowes dan Kuliner Pagi – Jumat, 7 September 2018

Kereta Bima masuk Madiun jam 03:15, telat namun masih OK banget, dan saya langsung membuka lipatan sepeda di dekat pintu keluar stasiun. Stasiun Madiun sekarang besar sekali karena jalan keluarnya cukup jauh sekarang, ke arah barat, dekat parkir motor. Langsung gowes menuju Hotel Mataram Baru (tempat saya menginap) untuk menitipkan ransel ke Concierge hotel. Tinggallah tas sepeda yang melekat di body sepeda saya. Saya langsung gowes menuju Nasi Pecel Timbangan yang konon kabarnya sedang nge-hit dewasa ini. Saya dengar sudah 1 tahun ini dan Alhamdulillah saya bisa “ngincipi” sarapan pagi sego pecel di sini. Letaknya persis di depan eks kantor Dinas Sosial Jl. Diponegoro, tak jauh dari pertigaan Jl. Bali dg. Jl. Diponegoro. LUmayan rame yang beli di sini. Saya memesan sgo pecel lauk kebok (paru) tapi tidak nambah — sengaja menyisakan ruang perut buat kuliner lainnya.

Jam 04:02 saya gowes menuju Masjid Darussalam di Jl. Soekarno-Hatta, Josenan, untuk shalat Shubuh yang jadwalnya 04:09. Nikmat sekali gowes pagi di Madiun melintasi Jl. Pahlawan dan Jl. Cokroaminoto. Sempat melewati nasi pecel Sri Tanjung yang konon juga sedang nge-hit dan masuk dalam daftar saya. tentu saja saya tidak mampir karena masih kenyang dan sebentar lagi adzan. Ini adalah kali kedua saya Shubuh di masjid ini, yang pertama persis setahun lalu, bulan September juga. Jamaahnya hanya 1.5 shaf, masjid yang relatif kecil. Baru saya sadari bahwa masjid ini berdempetan dengan makam, disekat dengan pagar teralis. Wah …saya lagi mikir nih …mungkin gak akan shalat lagi di sini kecuali pagar pembatasnya dibuat tembok permanen kokoh sehinga benar-benar terpisah dari pemakaman.

Setelah Shubuh saya nikmati gowes pagi di sekitar Madiun. Santai dan nikmat. Mobil, motor dan bus yang melintas di Jal. Soekarno-Hatta dan Jl. Trunojoyo ngebutnya bukan main. Saya harus ekstra hati-hati. Lampu depan dan belakang sepeda menyala terang sekal, kelap-kelip. Kalau tidak, bisa berbahaya sekali.

Warung Mak’e

Setelah puas bersepeda, saya akhirnya bernostalgia di depan toko buku legendaris yang selama sekolah di Madiun, hanya toko buku ini lah yang paling lengkap menyediakan buku-buku cetak yang diperlukan sekolah misalnya Buku Tjerdas Tangkas dan lainnya. Namanya pun tak berubah: Toko Amin. Bisa dibilang ini adalah toko buku legend atau bisa dikatakan Gramedia nya Madiun. Sayang pagi itu belum buka, karena masih jam 6:00.

Setelah itu saya ke Warung Mak’e yang juga sedang nge-hit, lokasinya di Jl.Merbabu, sebelah barat dari lokasi Dawet Suronatan. Warungnya memang bagus dari segi desain interior nya; menawarkan berbagai jenis masakan: rawon, nasi pecel, soto dan lainnya. Saya pilih rawon. Biyuh! Ternyata memang huwenak tenan rawonnya — rasa kluwak nya terasa banget, dagingnya pun empuk. Saya nikmati suapan demi suapan rawon ini. Di Jakarta gak pernah saya temui rawon seenak ini. Luar biasa rasanya.

Sekitar pukul 7:00 saya pancal pedal sepeda menuju Jl. Tanjung Manis, Manisrejo, tempat dilangsungkannya akad nikah dari putri mbak Ratna. Alhamdulillah bisa sampai di tempat sebelum acara dimulai alias jam 7:40. Senang bisa bertemu Mas Manyu dan sekaligus ada guru agama saya ketika dulu di SMP Negeri 1, Bapak Ibnu Chosim. Usia beliau sudah 71 namun sehat sekali dan selalu senyum seperti dulu saat beliau menjadi guru. Saya bersyukur bisa hadir di akad nikah karena in syaa Allah disaksikan ribuan malaikat acara ijab qobul seperti ini. Prosesi berlangsung cukup lama (banyak tradisi yang dilakukan) dan baru saya bisa pamit sekitar 9:15.

Universitas Merdeka

Setelah mendapat arahan petunjuk rute oleh Mas Manyu, saya gowes menuju Universitas Merdeka di Jl. Serayu, berebcana ketemu Pak Rektor, DR. Rahmanta Setiahadi. Senang sekali, setlah sekitar 3 tahun tak ketemu, bertemu kembali dengan mas Rahmanta. Sesuai janjinya, saya dibuatkan kopi cokot khas hasil kerja nyata mahasisma UnMer dalam membina UKM di Madiun. Maasya Allah …nikmat kopinya dan gayeng ngobrolnya.

Tak sekedar ngopi, setlah itu saya diajak jalan-jalan mengitar kampus seluas 5 hektar, terutama di bagian belakang yang penuh dengan tanaman pohon jati karena memang DR. Rahmanta ini ahli hutan dan sangat cinta pohon jati. Kampusnya luas sekali dan di belakang sedang dibangun ruang seminar dengan interior bergaya teatrikal. Gedung yang bagus, sedang dibangun persis di sebelah Gedung Merah – Putih (masih baru juga) sebelum Masjid. Beliau menjelaskan sejarah UnMer dan visi beliau ke depan tentang UnMer. Saat ini sudah masuk tahun ke-empat sebagai Rektor dan prestasi luar biasa DR Rahmanta adalah membuat UnMer ini menjadi akreditasi B baik sebagai institusi maupun semua dari 9 prodi-nya. Maasya Allah!

Tour de Campus dengan berjalan kaki santai ini kemudian diakhiri dengan pertemuan bersama anak-anak muda yang tergabung dalam MenWa, sedang istirahat setelah dilatih oleh Pak Gunawan (tentara). Kelihatan DR Rahmanta ini dekat sekali dengan mahasiswa-mahasiswa nya, terlihat dengan bagaimana mereka menyambut Pak Rektor humble ini.

Setelah ngobrol kembali di ruang-kerjanya, menjelang shalat Jumat saya pamit, menuju Alun ALun Madiun. Tak jauh dari sini ada tiga tempat kuliner yang legendaris banget: Dawet Muria, Dawet Suronatan dan Tepo Tahu Jl. Merbabu. Alhamdulillah siang itu tiga tempat ini saya cicipi … ha ha ha …. perutnya full setelah itu … Gak papa …yang penting makannya jangan banyak agar semuanya bisa dirasakan taste nya. Mantab. Es Dawet Muria ini dulu sebenernya lahir karena ikut2an demam nge-hitnya Dawet Suronatan. Alhamdulillah masih eksis hingga kini dan dawetnya pun enak. Kalau tepo tahu Jl. Merbabu itu paling enak di dunia, gak ada yang bisa bikin seenak ini. Tuooob!

Mataram Baru dan Silaturahim Keluarga

Jam 13:00 saya sudah berada di Mataram Baru dan sesuai rencana saya akan tidur siang sampai jam 16:00 untuk kemudian dilanjut acara padat lainnya. Kali ini hotel mataram penuh sehingga saya tidak dapat kamar langganan nomer 101, tapi dapat di lantai 2. gak masalah. Yang penting bisa tidur nyenyak. Benar, siang itu saya benar-benar tidur nyenyak meski sebelum tidur ada panggilan telpon di HP. Setelah itu HP saya silent dan saya istirahat total sampai bangun jam 16:00.

Jam 16:20 saya gowes ke Jl. Mundu, silaturahim ke rumah ponakan saya dari nasab ayah, tepatnya rumah dr. Nita. Senang sekali bisa menyambung silaturahim dengan keluarga dari ayah saya yang sudah terpencar di seluruh Indonesia. Di Jl. Mundu sebenarnya saya hanya berencana sekitar 30 menit saja karena ada undangan dari Pengurus IKBA (Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Madiun) jam 18:30 di rest Pemuda. Tapi sepertinya tidak bisa saya hadiri karena mendadak sekali undangannya. Akhirnya saya shalat di Masjid Baiturrohman, Jl. Semongko, bersama Dik Hermawan (Wawan) suami dari dr. Nita. Setlah Maghrib, rupanya dik Rizki (adiknya Nita) yang tinggal di Jl. Wuni juga bergabung maka lengkaplah saat itu kami sebagai sedulur-darah….hingga dijamu makan malam. Tadinya saya menolak tapi karena udah disediakan, ya saya makan sedikit pol aja.

Setelah (19:00) itu saya meluncur ke Jl. Biliton pertigaan, dengan maksud untuk membeli kue putu Pak Naryo yang legend itu. Cukup membeli 1 bungkus (isi 5 putu) yang masih panas, untuk saya makan di hotel. Dari Putu Pak Naryo, saya gowes menuju Jl. Salak, mampir dulu andok wedang cemoe Bu Sunar di Jl. Bali. Menikmati satu mangkok aja cemoe. Huwenak wis! Setelah santai, gowes lanjut ke Jl. Salak ke rumah dr. Emi yang juga ponakan saya lainnya, masih dari jalur ayah. Ditemani oleh suaminya, mas Yoyok, dan 3 orang anak laki2: Raja, Sultan dan …. (lupa).

Kopi Pak Min

Usai dengan acara keluarga, saya bermaksud menemui teman baik saya Eddie Sanyoto di Kopi Pak Min, jl. Dr Sutomo. Namun karena melewati Cokroaminoto, saya melongok ke Nasi Pecel Sri Tanjung, penasaran ingin tahu rasanya seperti apa. Saya nekad aja parkir sepeda saya, lihat situasi. Eh …ternyata di situ ada temen2 Typathie (Bagus, Tjin dll.) sedang andok pecel. Saya dipesankan 1 pincuk pecel. Enak memang.

 

 

 

Advertisements

Read Full Post »

Rangkuman Kajian Ba’da Dzuhur di Masjid Baitut Tholibin, 2 Agustus 2018.

5 Obat utk Hati yang Keras 2Aug2018

Ada 5 obat dari hati yang keras, hati yang berpenyakit:

  1. Suka bergaul dengan orang2 soleh, yang suka hadir majelis taklim. Dalam majelis taklim kita diminta diam, mendengarkan; menghidari dari pembicaraan tak berguna; mau menerima berita / kabar / nasehat dari orang soleh.
  2. Membaca dan menghayati makna Al Quran. Kalau tidak paham bahasa Arab, bisa membaca terjemahannya.
  3. Membersihkan batin dengan cara membersihkan perut dan hati: mengkonsumsi makanan halal sedikit, tak berlebihan. Makanan halal adalah pokok dari segala hal kebaikan yang akan tumbuh di badan kita. Makanan halal mencemerlangkan hati, menajamkan mata hati.  Ada hadits tentang 3 hal menyebabkan kerasnya hati : 1. hobi makan (hubud thoam) 2. suka tidur (hubud naum) – makanya ada shalat 17 rakaat menghancurkan dosa selama 17 jam saat kita tidak tidur; 3. hobi santai — kita gak boleh nganggur, meskipun usia tua.
  4. Bangun malam – tak hanya shalat tapi juga dzikir dan doa, sampai menjelang Shubuh.
  5. Merintih kepada Allah tabaroka wa taal pada akhir malam, sambil menangis; banyak istighfar, selalu ingat mati, ziarah kubur.

 

Read Full Post »

Pada kajian Road 2 Jannah yang ke 16 oleh ustadz Subhan Bawazier di MotoVillage, Kemang, tanggal 1 Juli 2018 yang lalu, beliau menggunakan buku “40 Karakteristik Orang Yang Dicintai Allah” karya Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi. Esoknya (2 Jul) saya langsung dapat buku ini dari lapak bro Irvan Hidayat di Blok M Square; langsung baca Golongan ke 10.

Sungguh, buku ini asik sekali dibaca, apalagi ada catatan kaki tentang sumber hadits nya: HASAN dan SHAHIH. Maasya Allah ….udah baca sampai dengan halaman 64 (Golongan ke 3) setelah dulu sempat baca Golongan ke-10 (Qul Huwallohu Ahad). Sangat direkomendasikan sekali buku ini.

36528576_10156551318253809_2688088754890997760_o

Read Full Post »

Halaqah Tadabbur Al-Quran (HQ #2):
Surat Al-Baqarah 1-5

Sebuah WAG membahas tadabbur Al-Quran dengan mengacu kepada youtube link berisi kajian DR. Saiful Bahri. Setiap pekan (dimulai Ahad, 15/07/2018) dibahas mengenai link ini atau setiap pekan ditadabburi 1 halaman Quran secara bertahap. Pada akhir pekannya saya membuat rangkuman satu halaman dari tadabbur ini, biar tidak mudah lupa.

Postingan ini adalah yang kedua (HQ#2) setelah selesai membahas pada akhir pekan kedua yang berakhir 28/07/2018.

Semoga bermanfaat.

Ini link untuk HQ#2:
https://www.youtube.com/watch…

HQ #2 Halaqah Tadabbur Quran Al Baqarah 1-5 29Jul2018

Muqadimmah:

Sapi, tak harus betina. Di surat ini diuraikan tabiat Bani Israil yang suka bertanya. Al-Baqarah & Ali-Imran disebut azahroan (yang menyinari): 1. bila dibacakan Al-Baqarah, rumah terbebas dari gangguan setan. 2. di Al-Baqarah, paling banyak asma’ul husna. Puncak ayat Al-Quran adalah Al-Baqarah. Di dalamnya ada ayat kursi.

 

[1] Potongan huruf hijaiyah hampir semuanya pasti membicarakan kebesaran Al-Quran. Arti huruf ini kita serahkan ke Allah Taala. Kebaikan itu digandakan oleh Allah 10 kali (Alif Lam Mim – 30x).

[2] Saat diturunkan ayat ini, Nabi sallallahualaihi wa sallam buta huruf. Tidak ada keraguan dari kitab ini karena datangnya dari Allah dan merupakan satu-satunya kebenaran yang dijamin. Susunan Al-Quran dari Allah Subhanahu wa Taala. Petunjuk yang dikhususkan oleh Allah kepada orang yang bertakwa saja (muttaqin – lebih spesifik dari mukmin.) Al-Quran ibarat peta, hanya bermanfaat bagi orang yang membutuhkan. Muttaqin: menjaga dari syirik, yang haram & syubhat.

[3] Ciri bertakwa: 1. beriman kepada yang ghaib (iman, bukan mistik). Dikatakan mukmin karena memberikan rasa aman. Iman kepada qadar meski ghaib, namun yakin akan mengalaminya | 2. mendirikan shalat – seolah-olah tinggal di dalam shalat (muqim). Shalat adalah rumahnya | 3. berinfak setelah Kami beri rizki [yang tidak diberikan tiba-tiba, misal Bunda Maryam menggoyang pohon kurma, Nabi Musa memukulkan tongkat; rizki harus dijemput, ada usaha kita]; zakat yang sifatnya wajib, infak fisabilillah ada bulirnya – digandakan menjadi 700x; barangsiapa memberikan “pinjaman yang baik” ke Allah untuk kepentingan fisabilillah, akan digandakan Allah. |

[4]. (lanj. ciri bertakwa) 4. beriman pada kitab yang diturunkan Allah termasuk Al-Quran, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf. Orang yang punya pikiran jangka-panjang: berpikir setelah mati, apa yang dinikmati?

[5] (Allah menegaskan) adanya petunjuk yang berakhir dengan kepuasan. Seseorang yang di atas track petunjuk, ia akan merasakan manfaatnya. Derajat interaksi dengan Al-Quran: membaca, memahami, mengamalkan dan mengajarkan. Pintu surga terbuka (surah At Taubah:70): surga tak terbayangkan indahnya – kebahagiaan hakiki. (al falah – kemenangan) | hingga berjumpa Allah (klimaks).

 

Read Full Post »

Kajian di Masjid Nurul Iman, Blok M Square, tadi malam oleh ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

MND Nurul Iman 28Jul2018

Amalan yang disukai Allah adalah yang kontinyu meski sedikit.

Prosesi akhwat (Bu Reni) masuk Islam. Pintu masuk Islam adalah syahadat, maknanya “bersaksi” yang harus ada beberapa unsur:

1.Ilmu, artinya harus memahami apa itu “Aku bersaksi”

2.Harus memiliki keyakinan, tanpa keraguan sedikitpun

3.Diucapkan – karena kalau tidak, bukan artinya bersaksi

4.Di hadapan pihak lain – agar jelas status Bu Reni.

Setelah bersyahadat Bu Reni disarankan mandi segera, shalat Maghrib dan kemudian nanti shalat Isya – dipandu oleh yang bisa (suami).

Prosesi ujian dari 3 pertemuan sebelumnya: 8 pertanyaan multiple choice dan diperiksa silang oleh orang di sebelahnya. Yang menjawab benar semua, mendapat hadiah oleh Panitia. Maasya Allah!

QS Al Isra:82 | Yunus:62-63. Ilmu membuat tenang. Ilmu merubah mental. Seluruh dzikir menenangkan jiwa. Semakin banyak belajar semakin positif,  paradigma berubah. Jangan takut sama manusia,  takut sama Allah. Jangan grogi dengan manusia,  siapapun itu,  misalnya Boss kita.

[Kajian sempat terhenti karena ada kebisingan di area belakanganak-anak kecilberisik di bagian luar masjid dimana ustadz Nuzul minta agar keadaan segeradikondisikan karena ini termasuk dalam adab ilmu.]

Menolak diajak orangtua ikut walimah dimana banyak fitnah berarti sensor iman kita bagus. Kalau orang tua sebel sama kita,  belikan hadiah,  belikan martabak,  transfer 10 juta. Ortu senyum. Kalau belum senyum, tambah lagi Rp. 10 juta dan seterusnya sampai senyum. Hartamu adalah harta orantuamu.

Bingung menghadiri kajian yg mana? Pilih maslahat yang penting bagi diri kita dengan skala prioritas. Prioritaskan fardhu ain dulu, bukan karena jarak. Tantangan mengikuti beberapa kajian adalah susahnya menyikapi khilaf. Apalagi bekal ilmu kita kurang. Stephen Hawkin misalnya dalam teori Big Bang – kenapa kita sulit memahaminya? Karena kurangnya ilmu. Untuk itu perlu berpikir ilmiah dalam setiap inci kehidupan – back to basic.

CatatanKajian dengan tema ini akan dilanjutkan hari Sabtu malampekandepan.

Read Full Post »

Lupa. Ternyata ada catatan kajian Dhuha yang saya hadiri di masjid Al-Hijrah, Bintaro, oleh ustadz Subhan Bawazier hafidzhahullahu taala (07/07/2018) yang belum saya rapikan. Salah satu alasannya, saat kajian saya belum memiliki kitab terjemahannya. Alhamdulillah kemarin (Sabtu, 28/07/2018) buku yang saya pesan dari pelapak BL di Malang tiba: “297 Larangan Dalam Islam”. Buku yang cakeb banget karena merupakan penjelasan dari saripati hadits Rasul berisi larangan yang tertuang di Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi. Langsung dibaca tadi malam — memang mak nyus tenan buku ini. Nah … makanya sekarang baru berani merapikan catatan karena ada referensinya. Semoga catatan ini tak salah. Andaikan salah tentu dari saya sedangkan yang benar selalu datangnya dari Allah Tabaroka wa Taala. Semoga bermanfaat.

Wallahua’lam.

Di buku: halaman 132 – 136

usb al-hijrah 7jul2018827350512..jpg

Warna baju haram untuk laki-laki: kuning | Perempuan: putih.  Pejuang berjuang dengan ilmu dan atas ijin Allah pertolongan pasti datang dengan syarat tauhid yang tegak.

#1634 Rasul melaknat laki-laki pakai baju perempuan dan sebaliknya. Islam memang agama yg memberi efek. Diharamkan laki-laki memakai pakaian yg dikhususkan untuk wanita. Islam membahas penyebab zina karena zinanya sudah jelas haram. Bahkan dalam kitab Ad-DaaWa Ad-Dawaa [Ibnul Qayyim] ada perintah membunuh – karena menular.

#1635 Dua golongan penghuni neraka yang di jaman nabi belum ada: 1. kaum yang ada cambuk seperti ekor sapi, dipakai untuk memukul; 2. perempuan memakai baju tapi  bermasalah,  seperti telanjang: bahan kurang atau kelihatan bentuk.  Dimana?  Semua tempat kecuali ada suami. Dosa istri,  dosa suami.  Dosa suami,  istri tenang aja. Punuk onta untuk perempuan dilaknat. Yuk kembali ke jalan yang benar. Jangan takut ke suami,  takutlah ke Allah.

Cinta tanah air itu wajib. Negeri dijual ke kafir, tenang-tenang saja. Menyerupai Ronaldo, Messi,  haram. Tapi kalau meniru cara menendang bola,  boleh. Haram menyerupai kafir dalam penampilan. Ukurannya shalat. Yang pantas buat shalat,  pantas buat nikahan. Penganten gak shalat Dzuhur? Berpakaian shalat!

Pelajaran dari Hadits 1635: (halaman 135-136)

1.Diharamkan memukul dan menyakiti orang lain tanpa alasan.

2.Peringatan kepada wanita untuk tidak mengumbar nafsu [QS An Nur :31 – jaga pandangan dsb.] – Ayo kembali ke Al-Quran.

3.Menyerukan kepada muslimah agar komitmen kepada perintah Allah. Suami harus tegas menegakkan hak, terutama dalam halal – haram dan syubhat.

4.Peringatan dari perilaku telanjang, menyingkap aurat.

5.Peringatan dan ancaman bagi umat yang suka berbuat dholim, main pecut. Kita boleh kerja keras tapi badan punya hak. Jangan sampai ibadah rusak gara-gara kerja. Ukuran kerja patokannya shalat. Rakyat baik pemimpin baik.

 

Referensi: “Tanbih al-Lahi Syarh Kitab al-Manahi” (297 Larangan Dalam Islam) Syaikh al-Utsaimin

Read Full Post »

Seorang pelajar SMA (maasya Allah, masih muda sudah rajin thalabul ilmi!) bertanya kepada ustadz dr. Raehanul Bahraen dalam kajian “Manajemen Waktu” pekan lalu di Masjid Nurul Iman, Blok M Square: “Bagaimana belajar ilmu agama bila tak punya dana untuk beli buku /kitab sunnah rujukan? “. Saat pertanyaan tersebut dibaca Pak Ustadz, saya spontan nyeletuk “Datanglah ke masjid WIKA (PT Wijaya Karya Tbk.) di Cawang! “. Ya, di masjid ini begitu banyak buku terjemah kitab masyhur selain Al Quran. Kalau abis meeting, saya suka sekali mampir di sini karena lengkap koleksinya. Maasya Allah. Pagi ini saya baca “474 Kesalahan Umum dalam Akidah dan Ibadah” terbitan Darul Haq. Keren banget buku ini. Wajib punya dah!

Read Full Post »

Older Posts »