Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Activity’ Category

Porter No. Punggung 63 – Dahlan. Alhamdulillah bisa ketemu lagi sama Pak Dahlan,  porter soleh di Gambir.  Bulan lalu ketemu dia pertama kali saat naik Parahyangan dan membantu saya menaikkan sepedah ke kereta.  Kali ini dia bantu saya menaikkan sepeda yang sama tapi ke kereta api Bima.  Sedang menuju kota penuh kenangan nih,  Madiun.  Suweneng pol! 
Yang unik dari Pak Dahlan ini setiap kalimat yg keluar dari tutur katanya selalu ada kata “SubhanAllah”. Pada saat berdiam diri menunggu barang angkutan,  bibirnya selalu bergeming dengan dzikir.  Maasya Allah.  Ťeladan yang layak ditiru — tak menyiakan sedetikpun tanpa mengingat Allah. 
Semoga Allah selalu merahmati Pak Dahlan.  Aamiin Ya Rabb.

Advertisements

Read Full Post »

Harus saya akui bahwa salah satu kriteria penting memilih kafe sebagai tempat bertemu dengan klien adalah adanya parkir khusus sepeda selain cita-rasa kopi hitamnya. Itulah sebabnya kemarin sore (20/09) mulai jam 5 hingga kafe tutup kami berdiskusi di sini — di ruang meetingnya.  Pengalaman kedua yang menyenangkan dan insya Allah terulang lagi. 

Kafe yg ada parkir sepedanya memang oyé!!!

Read Full Post »

Hari ini sejak siang hari ada janjian ketemu dengan calon klien,  seorang pengusaha muda yang berencana mengembangkan kawasan industri di Kalimantan Tengah.  Tepatnya,  beliau ingin dibantu menyusun business plan. 

Karena lead nya dari kakak ipar saya dan memang rencananya sejak pagi saya dan istri mengikuti kajian di Masjid Nurul Iman Blok M Square — namun batal karena terkena macet luar biasa — maka istri saya juga ikut dalam pertemuan ini,  sekalian ketemu sama kakaknya. Pertemuan di Dapuraya Pasaraya berlangsung lancar hingga Ashar.  Kemudian saya dan istri melanjutkan ngopi di Filosofi Kopi. 

Kali ini cangkirnya ada tulisan “Temukan Dirimu Di Sini” pada cangkir kopi long black yang saya pesan,  sedangkan istri memesan cappucino dan pancake (saya biasa menyebutnya “serabi londo” … Ha ha ha…). Mantab kopinya dan juga mantab ngopi (ngobrol perkara iman) dengan istri… 

What a life! 

Read Full Post »

Waktu begitu cepat berlalu tanpa kita sadari. Contohnya, saya mulai lupa kapan sebenarnya mulai bersepeda ke kantor di Jakarta ini. Baru saja saya menemukan email dimana terjadi percakapan saya dengan seorang teman (Satrio Wibowo) yang menanyakan apakah saya B2W. Ini emailnya (14 Okt 2008):

Wa’alaikumsalam wr wb.

Iya .. sejak November 2006 aku rutin ke kantor bersepeda, minimum seminggu 2 kali gitu (Selasa & Jumat).
Gak ada touring ke Bandung. Paling di Jakarta aja kok. Tertarik?

Wass,
G

Artinya, sudah hampir 11 tahun saya bersepeda di DKI Jakarta ini. Lama juga ya karena tak terasa dan sampai sejauh ini belum ada rencana untuk berhenti bersepeda. Semoga Allah memberi kesehatan untuk masih tetap bersepeda terus. Aamiin

Read Full Post »

Hari ini padat sekali, dimulai dengan kegiatan profesi di Graha Surveyor dimana pada siang sampe sore hari rapat dengan klien sambil menjalin kontak dengan sahabat baik, Pak H.  Adi Tobing dan istri,  yang bermukim di Kuala Lumpur,  Malaysia.  Kami sudah kenal cukup lama dan beliau menitip dibelikan buku “Hidup Sesudah Mati”. Buku tersebut memang dibahas oleh ustadz Zulkifli Muhammad melalui rekaman kajian di youtube dan kami berminat memilikinya. Alhamdulillah buku bisa saya dapatkan dari toko buku langganan di Blok M Square milik Bang Ican.

Karena putra sulung beliau,  Ilham Akbar,  sedang berada di Jakarta dan akan kembali ke KL dalam waktu dekat,  maka buku tersebut diambil Ilham ke rumah saya kemarin.  Nah,  sore hari setelah selesai rapat di Graha Surveyor,  tepat pukul 17:10, saya mulai gowes menuju masjid Jami Bintaro di Sektor 1. Memang itu rencana titik temu saya dengan Ilham Akbar buat kemudian barengan menuju rumah sahabat saya lainnya,  Erwin Prayudi,  di Sektor 4 Bintaro.  Sebenarnya hanya ngobrol silaturahim, mumpung Ilham sedang di Jakarta dan kemarin tak sempat ngobrol saat Ilham ke rumah saya ambil buku.

Ternyata,  begitu keluar gedung,  gerimis dan hawa mendung menyelimuti jl.  Gatot Subroto.  Saya sih berharap tak bakal hujan deras.  Namun di depan gedung ada penjual jas hujan darurat (sekali pakai).  Tanpa pikir panjang saya membelinya seharga Rp.  15 ribu namun memasukkannya ke tas sepeda.  Saya gowes tanpa jas hujan menuju Bintaro.  Tepat di depan gedung Sumitmas,  sebelum perlimaan Ratu Plasa hujan deraz turun.  Terpaksa saya berhenti di bawah pohon untuk memakai jas hujan.  Setelah itu lanjut gowes.  Wah,  ternyata tambah deras dan jas hujan pun gak bisa nenahan air sehingga tembus ke badan saya.  Tapi ya sudah,  saya nikmati saja sampe akhirnya berhenti istirahat di Masjid An Nur Jl.  Bendi sebelum Tanah Kusir.  Biasanya saya shalat Maghrib di sini.  Sayangnya badan basah kuyub dan kotor terkena gejrotan air dari mobil yang nyalip selama gowes. Jadinya saya lanjutkan gowes menuju masjid Bintaro.

Masuk masjid Bintaro sekitar 18:40 dan masih juga hujan meski agak reda.  Saya kesulitan hubungi Ilham karena tas sepeda tertutup rain cover.  Akhirnya pas adzan Isya bisa komunikasi dengan Ilham.  Karena kedinginan,  saya berencana pulang dulu,  mandi dan ganti baju. Ilham mendirikan shalat Isya di masjid Bintaro dan kemudian menjemput saya ke rumah.

Alhamdulillah tepat 20:33 kami bertiga (Ilham,  saya dan istri)  mendarat di rumah pak Erwin Prayudi.

Pertemuan menjalin ukhuwah dengan sahabat saya sejak kuliah di Bandung tahun 1979 lalu berjalan lancar dan menyenangkan karena putri Pak Erwin, Putri Amalia, menyajikan hidangan martabak, arem-arem dan kue dilenkapi teh poci panas. Mantaaaabbb …. Pukul 22:10 kami mohon pamit. Saya dan istri diantar oleh Ilham hingga sampai rumah. Baru sadar bahwa saya belum shalat Isya dan Maghrib karena kehujanan saat gowes. Astaghfirullah …

Read Full Post »

Catatan Kajian oleh Ustadz Sofyan Chalid Ruray di Masjid Nurul Iman,  Blok M Square, 12 Dzulhijjah 1438H (03/09/2017)

Jalan selamat menghindari saling mentahdzir. 
1. Hendaklah penuntut ilmu bertakwa kpd Allah.  Sibukkan diri dengan mencari aib2 kita sendiri,  hiraukan aib orang. 
2. Menyibukkan diri dengan ilmu yg bermanfaat: mempelajari,  memahami dan mengamalkannya. 
3. Sibukkan diri dengan buku2 bermanfaat dari ulama modern spt Syaikh Bin Baz, jangan sibukkan diri dengan Fulan dan Fulan.  Hindari. 
4. Kalau ditanya tentang ulama tertentu,  katakan agar menanyakan ke ulama agar kita tak buru2 menilai.  Tak punya ilmu menilai orang. 
Bagaimana melakukan pentahdziran? 

1. Hendaklah dibantah dengan sangat lembut bila kesalahan jelas. Keinginan agar kembali ke jalan yg benar bukan utk menjatuhkan pribadi. 
2. Kalau kesalahan tak jelas,  dimembalikan ke lembaga fatwa yg resmi.
3. Setelah membantah,  ya sudah,  tak perlu diperpanjang. 
4. Tidak boleh memuji penuntut ilmu dengan sikapnya kepada orang yang dibantah. Jangan saling cari pendukung, saling cela. 
5. Hendaklah setiap penuntut ilmu jujur pada dirinya,  berpaling dari apa yang beredar di internet.  Kita tak tahu siapa itu,  jangan2 dia adalah penyusup.  Jangan disibukkan dg berita yg belum jelas. 
Penutup: (wasiat) 
1. Harus bersyukur krn Allah mememilihnya sbg penuntut ilmu.

2. Hendaklah menyibukkan diri dengan ilmu. 

3. Hendaklah menyibukkan diri dg yg bermanfaat. 

4. Hendaklah bersifat adil dan pertengahan,  jangan ghuluw (berlebihan) 

5. Hati2 dari kedholiman karena bisa menjadi tanggung jawab di akhirat kelak. 
Nasehat khusus pada guru / ustadz dari Ibnu Taimiyah:
Tidak boleh bagi seseorang menetapkan seorang tokoh lalu mengajak umat mengikuti tokoh.  Tak boleh wala wal bara kepada selain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak boleh juga kita sendiri menetapkan sesuatu selain wala wal bara kpd Rasulullah. 
Kalau ada ustadz yang menyuruh kita untuk memboikot seseorang atau menjatuhkannya,  apa yg musti kita lakukan? 

Jangan taklid pada satu ustadz.  Lihat dulu walau guru kita yg nyuruh.  Tapi kalau yg dikatakan guru tidak benar,  kita gak boleh ikutan boikot.  Bisa saja guru kita salah informasi. 

Tdk pantas para guru membuat manusia berkelompok kelompok saling memusuhi. 

Saling tolong menolonglah dalam kebajikan dan jangan tolong menolong dalam dosa. 

3. Setelah membantah,  ya sudah,  tak perlu diperpanjang. 

4. Tidak boleh memuji penuntut ilmu dengan sikapnya kepada orang yang dibantah. Jangan saling cari pendukung, saling cela. 

5. Hendaklah setiap penuntut ilmu jujur pada dirinya,  berpaling dari apa yang beredar di internet.  Kita tak tahu siapa itu,  jangan2 dia adalah penyusup.  Jangan disibukkan dg berita yg belum jelas. 

Penutup: (wasiat) 

1. Harus bersyukur krn Allah mememilihnya sbg penuntut ilmu.

2. Hendaklah menyibukkan diri dengan ilmu. 

3. Hendaklah menyibukkan diri dg yg bermanfaat. 

4. Hendaklah bersifat adil dan pertengahan,  jangan ghuluw (berlebihan) 

5. Hati2 dari kedholiman karena bisa menjadi tanggung jawab di akhirat kelak. 
Nasehat khusus pada guru / ustadz dari Ibnu Taimiyah:

Tidak boleh bagi seseorang menetapkan seorang tokoh lalu mengajak umat mengikuti tokoh.  Tak boleh wala wal bara kepada selain Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak boleh juga kita sendiri menetapkan sesuatu selain wala wal bara kpd Rasulullah. 

Kalau ada ustadz yang menyuruh kita untuk memboikot seseorang atau menjatuhkannya,  apa yg musti kita lakukan? 

Jangan taklid pada satu ustadz.  Lihat dulu walau guru kita yg nyuruh.  Tapi kalau yg dikatakan guru tidak benar,  kita gak boleh ikutan boikot.  Bisa saja guru kita salah informasi. 

Tdk pantas para guru membuat manusia berkelompok kelompok saling memusuhi. 

Saling tolong menolonglah dalam kebajikan dan jangan tolong menolong dalam dosa. 

Ada buku terjemahannya.

Tanya Jawab

1.) Aswaja adalah yg mengikuti Quran dab Sunnah sesuai oemahaman para shabat,  generasi salafish shalih. Ahlul bid’ah bila melakukan dua hal:

1. Menyelisihi ahlussunnah dalam hal prinsip (ushul),  yaitu syiah. 

2. Dia melakukan permasalahan di cabang namun jumlahnya banyak.  Bisa saja hadits nya dhoif tanpa ia sadari. 

Jangan buru2 membid’ahkan maupun mengkafirkan orang. 

Nawawi,  Askaulani pernah berbuat salah namun tak sengaja. Tetap aswaja.

2.) Bila ibu menjalankan hal yg tak sesuai sunnah padahal sudah dinasehati?  Sabar.  Mungkin cara kita menyampaikan kurang tepat. 

3.) Bagaimana menyikapi tetangga yg belum mengikuti sunnah: ngobrol berbaur dengan lawan jenis. Tak perlu takut dicap aneh kalau memang itu tak sesuai syariat. Beri hadiah. 

4.) Bolehkah berkurbam tanpa diketahui keluarga?  Sah.  Namun,  sebaiknya diberi tahu sbg syiar. 

5.) Tidak ada syarat pakaian syarii wanita berwarna hitam.  Asalkan tidak menyolok agar tak menimbulkan fitnah. 

6.) Disunnahkan memakan qurban meski sedikit dan makanan pertamanya adalah dari hewan qurban.

Read Full Post »

Mencatat Ilmu

Sebenarnya saya sendiri sudah tak ingat sejak kapan saya mencatat setiap duduk di majelis ilmu, liqo maupun mendengarkan khutbah. Yang jelas, sejak jaman jayanya Black Berry saya sangat getol kemana saya pergi shalat atau hadir di kajian selalu sambil nyimak ustadz ceramah jemari saya rajin menekan keypad yang ada di Black Berry saya, bahkan ketika sebelumnya saya sempat menggunakan Nokia Communicator — ya sekitar tahun 2008 begitu ya … Artinya sudah sembilan tahun saya hampir selalu mencatat setiap kajian di gadget saya. Bahkan dengan kemajuan teknologi, kadang saya mencatatnya ketika sedang menonton youtube karena begitu banyak kajian sunnah di kanal youtube. Maasya Allah. Artinya, dengan kemajuan teknologi seperti saat ini kita sudah dimudahan Allah untuk bisa belajar ilmu agama kapan saja dan dimana saja, asal tidak di toilet. Oh ….kadang saya lakukan juga di toilet dengan menggunakan blue tooth speaker yang saya taruh di luar toilet dan terdengar dari dalam.

Mencatat kajian ilmu menurut saya sangat bermanfaat karena:

  1. Agar selalu ingat, sekurangnya pokok-pokok bahasan yang menurut saya sangat relevan untuk saya ingat. Seringkali setelah ikut kajian saya tak ingat lagi poin-poin nya. Namun, dengan mencatatnya di gadget saya bisa kemudian merapikan catatan dan upload di blog.
  2. Sebagai referensi di kelak kemudian hari bila membutuhkan. Ini sangat penting bagi saya. Sebagai contoh, saya baru menyadari bahwa Sepuluh Hari Pertama bulan Dzulhijjah itu keutamaannya melebihi Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan bahkan pahalanya melebihi jihad di jalan Allah, sekitar setahun lalu (1437 H). Serentetan kajian di Masjid Nurul Iman tahun lalu begitu gencar menyampaikan ilmu bahwa kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin menyiapkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Sebelumnya, saya hanya paham bulan Ramadhan saja yang perlu persiapan khusus. Maasya Allah. Inilah indahnya Islam, begitu banyak keutamaan hari-hari nya. Alhamdulillah.
  3. Sebagai alat yang membantu memperkokoh iman dan meningkatkan takwa. Ini pada dasarnya terkait dengan naik-turunnya iman. Harus saya akui bahwa iman memang naik-turun. Pada saat turun, saya tinggal buka blog ini dan iseng-iseng saja browsing catatan beberapa tahun lalu hingga 2008, 2009 atau bahkan lebih baru, ada saja hal-hal menarik dari catatan tersebut yang mengingatkan saya akan pentingnya meningatkan amal shalih sekecil apapun karena kita tak pernah tahu amalan kita yang mana yang benar-benar mendapatkan pahala penuh dari Allah subhanahu wa taala.
  4. Meningkatkan ghirah (semangat) dalam menuntut ilmu (thalabul ilmi). Seringkali saya membaca catatan beberapa tahun lalu dan kemudian tergerak untuk semangat lagi menuntut ilmu. Salah satu contohnya, sekitar tahun 2009 saya suka hadir di Kajian Dhuha di Masjid Nurul Hidayah jl. Brawijaya, Jaksel. Begitu ingat bahwa itu sudah tahun 2009 dan sekarang sudah 8 tahun kemudian saya merasa tertantang: kalau dulu semangat hadir di kajian Dhuha mengapa sekarang kendor? Ayo, ikut majelis taklim lagi!
  5. Bersegera mengamalkan ilmu yang diperoleh dari kajian. Saya punya pengalaman mengesankan pada tgl 17 Agustus 2017 yang lalu melalui kajian oleh ustadz Azhar Khalid bin Seff ketika membahas Ada Apa Dengan 10 Hari Pertama Dzulhijjah. Dalam kajian itu beliau menekankan bahwa shalat tahajjud tak harus dikerjakan pada 1/3 malam terakhir tapi bisa dikerjakan bada Isya — sekurangnya 2 rakaat tahajud dan 1 rakaat witir. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar kala itu. Meski bukan waktu yang afdhol, mengapa tidak kita praktekkan saja agar rutin dan suatu hari nanti insya Allah kita bisa melakukannya pada 1/3 malam terakhir. Maasya Allah. Ini kajian yang bagus sekali.

Setelah saya merasakan manfaat mencatat ilmu, saya mencoba mencari referensi terkait hal ini dan mendapatkan artikel ini yang intinya:

Anjuran mencatat ilmu

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya”1

Bahkan beliau memerintahkan sebagian sahabatnya agar menulis ilmu. Salah satunya adalah Abdullah bin ‘Amru. Beliau bersabda kepadanya:

اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ

“Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran”2

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat

Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang

Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja3

Sampai-sampai Asy-Sya’bi rahimahullah berkata,

إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ

“Apabila engkau mendengar sesuatu ilmu, maka tulislah meskipun pada dinding”4

1 Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026

2 HR. Ahmad 2/164 & 192, Al-Haakim 1/105-106, shahih

3 Diwan Syafi’I hal. 103

4 Al-‘Ilmu no. 146 oleh Abu Khaitsamah

—–

Allahua’lam

 

Read Full Post »

Older Posts »