Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My Life’ Category

Sebenarnya tanggal 28 Oktober 2017 sudah jauh hari sebelumnya kami (istri dan saya) rencanakan untuk dua hal: mengahdiri undangan hajatan kakak saya, Jokky W Hidayat, yang menikahkan putra keduanya: Andy Darius, di Ayana Resort & Spa, Jimbaran Bali dan sekaligus berlibur. Manusia hanya bisa merencanakan karena qadarullah istri saya sakit sejak 3 hari sebelum keberangkatan. Bahkan, sehari sebelum berangkat istri saya sempat menjalani tes darah dan positif typhus meski masih belum parah. Maka hari Jumat malam, 27 Oktober, istri saya harus diinfus di klinik Yadika yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal kami. Infus berakhir pukul 23:30 dan setelah sampai rumah saya putuskan berangkat sendiri karena undangan hajatan harus merupakan prioritas. Namun saya juga tak mungkin melanjutkan liburan sendiri sehingga harus dilakukan penjadwalan pulang ke Jakarta sesegera mungkin (Ahad pagi dengan pesawat jam 7:00 dari Denpasar) dan booking hotel di Kuta harus dibiarkan hangus.

Alhamdulillah sampai di Denpasar jam 10:25 dan dijemput sendiri oleh mas Jokky yang sudah berada di Bali sejak hari Rabu atau 3 hari sebelum jadwal acara. Sebelum menuju hotel tempat saya menginap di SwissBelhotel Rainforest, kami sempat mampir di supermarket Hardys dan kemudian makan siang di Nasi Pedas Bu Andika. Tanpa disangka sebelumnya, saya juga jumpa mitra kerja saat membantu kantor Wapres di tahun 2012 yang lalu (era Pak Boediono), Owen Podger, seorang warga Australia yang sudah lama tinggal di Bali. Kami sempat mengobrol sejenak karena sudah lima tahunan tidak bertemu. Warung Nasi Pedas Bu Andika ternyata memang menyajikan makanan yang asik, terutama saya paling suka justru sayur tempenya. Mantab.

Bertemu Owen Podger di Hardys

Bersama mas Jokky di Nasi Pedas Bu Andika

Setelah itu saya diantar mas Jokky ke hotel untuk istirahat karena jam 16:30 rencananya baru menuju ke Ayana di Jimbaran bersama dua kakak saya lainnya (mas Henky dan mas Boedi) yang menginap di hotel yang sama. Mereka berdua sedang pergi ke kampung sasli Bali di Bangli dan baru nyampe hotel pukul 16:00. Memang mereka berangkat ke Bali sejak Jumat sore.

Sedikit tentang mas Jokky … Sebenarnya momen dijemput oleh mas Jokky ini sangat mengesankan saya karena memang sejak dulu saya dekat dengan mas Jokky karena dia kakak saya langsung, saya bungsu (nomer 4) sedangkan mas Jokky nomer 3. Beda usia kami cukup jauh, 5 tahun, sedangkan mas Jokky ke mas Henky (no.2) beda 2 tahun dan mas Henky ke mas Boedi (mas nDoet) berjarak 2 tahun. Jelas masa kecil saya lebih dekat (secara usia main) ke Mas Jokky meski tentu saja saya dianggap “anak kecil” saat itu. Hebatnya, mas Jokky gak pernah menganggap saya anak masih kecil. Jadi ya kita enjoy aja main. Mas Jokky ini otaknya encer alias pinter banget, sehingga saat SD dia sempat lompat tak perlu melalui kelas 5 langsung kelas 6. Karena ayah kami meninggal pada saat saya berusia 5 tahun, mas Jokky kemudian dipungut oleh tante saya dan hijrah ke Jakarta.  Karena dia tinggal di Jakarta itulah, maka kalau pas liburan mas Jokky pulang ke Madiun, kami langsung “melepas rindu”. Lucu sekali dulu kami saat kecil sering berujar kalimat “Aku seneng sama kamu” dan berlaku timbal balik. Kalimat itupun kemudian menjelma menjadi jawilan (colekan) yang maknanya sama: “Aku seneng sama kamu”. Demikian juga kalau saya ke Jakarta, saat itu Tante saya dimana mas Jokky tinggal, beralamat di Jl. Jawa (sekarang HOS Cokroaminoto, Menteng). Kami sering berujar kalimat itu saat berada di Jl. Jawa itu. Itulah saat pertama kali saya melihat pesawat televisi dimana yang siaran adalah Pak Sambas dengan TV hitam putih.

Deja vu! Saat di dalam mobil di Ngurah Rai, saya teringat langsung dengan suatu momen dimana saat itu saya masih SMP, sekitar tahun 1974, saya ke Jakarta naik kereta dan dijemput oleh mas Jokky di stasiun Gambir. Saya sendiri saat itu dan ketika masuk ke dalam mobil VW kodok, saya ingat sekali mas Jokky nyetel kaset Genesis “Selling England By The Pound” rekaman Yess. Meski saat itu saya sudah suka grup Yes album “Fragile”, namun album Genesis yang disetel mas Jokky tersebut saya belum kenal. Nah! Kejadian penjemputan di Ngurah Rai ini mengingatkan saya pada kejadian di tahun 1974/1975 ini. Memorable pol! bayangkan lho, setelah 42 tahun kemudian!!!!

Ayana Resort & Spa memiliki arti khusus bagi saya. Bukan karena saya penggemar wisata namun justru pada tahun lalu saya sempat membantu MidPlaza Group dalam pekerjaan kajian struktur organisasi MP Group dalam rangka membentuk Holding Company. Ayana merupakan salah satu hotel yang dimiliki oleh MP Group. Alahamdulillah akhirnya saya bisa mengunjungi hotel ini meski pekerjaan konsultansi dalam kajian Holding Company sudah selesai tahun lalu. memang hotel ini bagus sekali dengan area yang amat luas yakni 90 hektar di pinggir pantai Jimbaran.

Ki-ka: Boedi, Henky, Jokky dan saya

17939_234164703808_7081676_n

Foto kami berempat saat nikahan mas Henky (1980).  Ki-ka: mas Jokky, saya, mas nDoet dan mas Henky di rumah Jl. Sumatra no. 26 (sekarang nomer 28) Madiun.

 

Ayana Resort & Spa.

Setelah acara selesai, kami bertiga kumpul di kamarnya mas Henky sekedar ngobrol santai hingga pukul 01:00 dini hari. Jarang sekali kami bisa kumpul bertiga seperti saat ini kalau tak ada hajatan mas Jokky. Alhamdulillah. Ini juga sangat langka kami bertiga bisa ngobrol santai lagi karena di Jakarta masing-masing dari kami sudah punya kesibukan sendiri-sendiri sehingga sulit sekali mencocokkan waktu. Di masa lalu juga langka kejadian seperti ini karena jarak usia saya dengan mas Henky cukup jauh: 7 tahun dan dengan mas nDoet 9 tahun. Tentu saja saya dianggap anak “pupuk bawang”. He he he ….. Namun, mas henky sempat tinggal se rumah dengan saya dan almarhumah ibunda di Madiun kala itu, sampai mas Henky kuliah di UGM dan tinggal saya dan ibu di rumah sampai dengan saya lulus SMA tahun 1979. Waktu berjalan begitu cepat sekali.

Ahad pagi bada Subuh (04:34) saya harus bergegas ke airport dengan memesan Grab. Pihak hotel tidak menyerankan saya memesan taksi daring karena sering bentrok dengan transportasi lokal lainnya. Namu saya akalin juga dengan cara pick-up point nya di Indomart yang letaknya bersebelahan dengan hotel. Aman. Perjalanan ke airport hanya butuh waktu 20 meit saja. Karena saya sudah web check in, saya tinggal datang ke counter Garuda untuk cetak boarding pass. Waktu pasih pagi sekali jam 5:47 padahal boardingnya 6:40. Saya berencana ngopi di terminal keberangkatan. Eh ….ada sosok yang saya kenal, namun saya ragu. Namun kemudian beliau menegur saya dan berdiri menghampiri saya: “Pak Gatot! Wah …apa kabar?”, sapa Pak Ari Askhara. Saya kenal beliau saat membantu Pelindo III di Surabaya pada tahun 2014. Pada saat itu beliau sebagai Direktur Keuangan pelindo III. Pada tahun 2016 beliau menjadi Direktur Human Capital di WIKA dan saya diminta membantu beliau dalam membangun culture baru di WIKA. Namun bulan Juli tahun ini Pak Ari sudah tak di WIKA lagi karena Kemen BUMN menugaskan beliau sebagai Direktur Utama Pelindo III. Luar biasa karirnya, cepat menanjak.

Saat di airport sebenarnya pak Ari bersama empat orang lainnya. Tadinya saya rencana sekedar bersalaman saja dan kemudian pergi. Eh ternyata malah diminta gabung ngopi bersama. Maka terjadilah diskusi banyak hal sambil menunggu boarding. Qadarullah — skenario Allah Taala selalu yang terbaik karena saya tak pernah menyangka bisa bertemu pak Ari di sini. Rupanya beliau sedang ada program BUMN Mengajar di Universitas Udayana. Sejak beliau menjabat Dirut, saya sudah sulit berkomunikasi lagi karena memang kesibukannya luar biasa tentunya. Namun tadi pagi Allah Taala mempertemukan lagi saya dengan beliau dan beliau minta saya membantu Pelindo III lagi dan minta saya menghubungi Direktu lainnya yang terkait dengan bidang saya. Alhamdulillah … terima kasih Ya Allah … Alhamdulillah … Hal seperti ini memang harus disyukuri meski masih belum menjadi sebuah consulting project. In syaa Allah …. Salah satu credo saya dalam mengerjakan jasa konsultansi adalah “exceeding customer expectations” termasuk pada saat saya membantu Pak Ari di WIKA. Beliau saat itu supportive sekali dan selalu mengikuti saya pada sesi2 penting di luar kota misalnya Makassar, Surabaya dan Medan untuk membuka FGD. Nah, pada saat beliau memperkenalkan saya ke empat orang yang berada di airport Denpasar pagi ini, beliau dengan semangat mengintrodusir saya dengan kalimat pendek namun membuat saya terkesan: “Kenalin nih Pak Gatot yang telah membantu saya melakukan perubahan di WIKA!”.  Alhamdulillah ….

Meskipun liburan tertunda, namun Allah punya skenario yang jauh lebih baik. Alhamdulillah ….

 

Advertisements

Read Full Post »

Alhamdulillah dua hari ini gowes full dari rumah kemana-mana sampai semua urusan tuntas.  Kemarin ketemu dengan calon mitra bisnis yg berdomisili di Manila dan sedang di Jakarta,  ketemu di Tesate Plasa Senayan. Pulangnya hujan cukup deras sampai pakai jas hujan gowesnya. Enak banget gowez saat hujan.  

Hari ini ke Pullman Thamrin,  ikut acara bulanan alumni,  gowez dari rumah jam 10:30. Alhamdulillah mendung sehingga menambah nikmat gowes. Shalat Dzuhur di Annex Building,  Pullman.  Bada Ashar gowes ke Setiabudi One,  ketemu klien di The People’s Cafe / Djournal.  Long Black nya mantab bok!  Bada Maghrib lanjut gowes pulang namun kemudian terdengar adzan Isya,  mampir shalat di KemenPAN. Abis itu gowes santai pulang. 
Biyuh nikmatnya gowes full bahkan di siang hari bolong.  Terima kasih Allah…  Engkau sembunyikan matahariMu hari ini sehingga aku enjoy gowes siang hari. 

Besok ke Gatsu.  Kamis ke Kalibata…  Wah asik tenan.  Memang kenikmatan berada di atas sadel sepedah itu luwar biyasa!  Jrèng pokoké!

Read Full Post »

Hari ini saya mengurus perpanjangan SIM A yang akan habis masa berlakunya beberapa hari lagi. Sebelum ke Blok M Square saya browsing dulu di internet dan mendapati jam bukanya 9:30 lengkap dengan persyartannya:

  • KTP asli plus 2 foto copy
  • SIM A asli plus 2 foto copy
  • Tak boleh memakai kaos karena akan di foto (harus baju berkerah)
  • Bawa uang pas (total Rp. 135 ribu)

Saya gowes dari rumah dan mampir dulu ke Biro Jasa Kastil yag berolkasi tak jauh dari rumah untuk ngurus perpanjangan STNK mobil yang juga habis masa berlakunya pada 12 Oktober 2017 (hari ini juga). Saya tidak tahu bahwa di Gerai Blok M Square bisa mengurus perpanjangan STNK juga. Tapi ya sudahlah, rejekinya Biro Jasa Kastil. he he …

Alhambulillah cuaca pagi ini agak mendung membuat suasana gowes enak sekali. Namun sayangnya ketika sampai di Gandaria City, gerimis mulai turun meski jarang. Karena saya tak siap berhujan-hujan, sepanjang kayuhan pedal saya terus menerus memohon ke Allah agar menahan hujannya sehingga saya sampai dulu di Blok M Square. Dan alhamdulilah saya sampe di Blok M Square pukul 9:45 tanpa hujan. Terima kasih Ya Allah …Alhamdulillah. Namun sayang, ternyata masih belum bisa masuk karena  mall nya masih belum buka — kata Satpam jam 10:00. Gak masalah, bisa leyeh-leyeh sambil mengeringkan keringat. Tepat jam 10:00 asay sudah berada di Greai SIM. Meski saya sering sekali ke Blok M Square dan melewati Gerai Pak Polisi ini namun saya gak sadar bahwa gerai ini ada dua: ngurus perpanjangan STNK dan satunya lagi Gerai perpanjangan SIM (A dan C). Begitu sampai di depan gerai saya lihat begitu banyak orang berjubel masuk ke salah satu ruangan. Saya hampir ikutan masuk. Namun kemudian tersadarkan bahwa yang masuk itu bagi yang akan memperpanjang STNK. Gerai SIM ada di belakangnya dan saya baca pengumuman ternyata ….Gerai SIM baru buka jam 13:00. Waduh! Cilaka …udah kkatanya di internet buka jam 9:30, tapi ternyata kok jam 13:00. Untungnya ada petugas Polis (yang kemudian saya tahu kemudian bahwa beliau adalah petugas yang melakukan pemotretan dan pencetakan SIM). Beliau menyodorkan Daftar Antrian agar nanti masuknya tertib dan …Alhamdulillah saya mendapat giliran pertama. Mungkin Pak Polisi itu kasihan lihat saya yang masih pakai baju bersepeda harus menunggu 3 jam untuk dibukanya pelayanan. Ya sudah …sabaaaaaar … Sambil menunggu saya laukan carbo loading makan mie ayam Don Don di Basement juga. Langganan. Dan setelah itu baru main di gerainya Irvan Hidayat dan Ichan di Basement juga.

Tepat pukul 13:10 (telat 10 menit) gerai SIM dibuka dan nama saya langsung dipanggil. Wah asik juga dapat giliran pertama. Proses pertama saya mendaftarkan ke mbak di meja pertama dan sekaligus didata oleh mbak tersebut, serta bayar 25 ribu. Kemudian dilakukan uji penglihatan mata (buta warna dan sekaligus baca jarak jauh) dan berat badan (alhamdulillah badan saya beratnya 78 kg — pasti tambangannya salah — lha wong berat saya di atas 85 kg kok). Setlah itu pindah ke meja mbak berikutnya dan ke mas di depannya kemudian di mbak terakhir. Total ada 4 meja pendaftaran. Oh ya, setelah meja ketiga, saya dikasih blanko untuk mengisi DATA DIRI. Mengisinya harus memakai BALLPOINT SENDIRI (jangan lupa bawa lho!). Mengisiya mudah karena di meja pengisian data sudah ada CONTOHnya. Kita tinggal nyontek cara ngisinya. Kemudian di meja ke 4 saya bayar lagi 35 ribu ke mbak petugas. saya gak tahu uang 25 ribu dan 30 ribu ini untuk apa karena mbaknya gak menjelaskan. Setlah itu baru ke Pak Polisi untuk pemotretan dan pencetakan SIM A. Sudah deh …selesai dalam waktu sekitar 20 menit. Coba bandingkan dengan ngantrinya sejak jam 10! He he he ….

Kesimpulannya:

  • Proses cepat dan segera jadi.
  • Tak ada uang suap atau tips dan sejenisnya, biaya total cukup murah. Sayang di pengumuman hanya disebutkan biayanya Rp. 80 ribu tanpa ada tambahan Rp. 25 ribu dan Rp. 30 ribu. Untungnya uang saya cukup. Kalau tidak? Saran: mustinya pengantri diberi tahu bahwa BIAYA TOTAL nya adalah Rp. 135 ribu untuk SIM A.
  • Mbak-mbak yang melayani cukup sigap memproses cuman kurang ramah dan terkesan bekerja seperti robot dan …belum ada jiwa melayani. Hal ini terlihat dari cara memanggil pengantri yang tereak-tereak (ada kesan kurang sopan). Justru Pak Polisi (namanya EDI – wong Jowo) yang ramah. Yang lainnya seperti robot dan terkesan kurang helpful. Misalnya saat kebingungan mau isi data. Harusnya mbak2 itu menyadari bahwa kami yang datang ini hanya lima tahun sekali – hendaknya diberi briefing yang jelas.

Eh ternyata …perpanjangan SIM bisa melalui ONLINE … Wah!

Read Full Post »

Hari ini ada rencana besar yaitu kami bertiga yang sudah berteman lama: Itje Suryono – Nico Kanter dan saya berencana bertemu dengan Fay (Coach) untuk mendapatkan arahan tentang kegiatan kami. Memang ini sebenarnya ide dari Nico yang ingin difasilitasi orang lain agar kita bertiga bisa mendapatkan masukan independen dan obyektif — tidak bias dengan diri sendiri. Pada saat bersamaan, pada siang hari, saya mengunjungi dulu cucu tercinta : Falah Muhammad Althaf Ghaisani alias dipanggil “Al”. Senengg banget jumpa sama Al mulai dari siang jam 13:30 hingga sore hari sekitar 17:30. Setelah itu saya nebeng Dian dan turun di Pejaten Raya untuk kemudian menuju ke Dharmawangsa Square – tempat pertemuan kami dengan Fay. Qadarullah …hujan deras sebelum Maghrib dan saya tak bisa mendapatkan kendaraan menuju Dharmawangsa Square. Alhamdulilah pada saat adzan Maghrib hujan sedikit reda sehingga saya bisa ikut shalat Maghrib berjamaah di masjid yang tak jauh dari lokasis saya berteduh (di depan Family Mart – Pejaten).

Usai Maghrib, kembali hujan deras dan saya naik angkot M36 menuju Pejaten Village.  Akhirnya janjian ketemu Fay (nebeng mobilnya) menuju DS. Hari sudah malam dan adzan Isya terdengar saat saya berjalan menyeberang di depan Pejaten Village pada saat hujan turun lagi dengan lebatnya. ALhambulillah ada warung di kanan jalan setelah jembatan di tikungan menuju Jl. Ampera. Makan dulu deh …ayam kremes ….

Setelah makan, janjian sama Fay (bersama Dian) dan tak lama kemudian dia datang dan saya ikut di mobilnya. Dalam perjalanan ke DS kami mampir shalat Isya di mushalla Jl. Kemang. Barulah menuju ke DS. Alhamdulillah Nico dan Itje masih menunggu kami yang telat karena macet luar biasa. Jam 20:00 kami baru ketemu di Tator Cafe – Dharmawangsa Square, sambil menikmati kopi metode sifon. Jam 22:15 kami bubaran. Puas dengan arahan Coach Fay.

  • Perlu mengemas dengan mindset menawarkan “obat” bukan nutrisi
  • Do not try to be too authentic
  • Lakukan Positioning – Differentiation – Branding
  • Harus berani fokus di niche market, jangan tembak semua. Fokus yang sempit nanti dampaknya luas ….

Alhamdulillah … terima kasih Fay!

Read Full Post »

Bismillah.  Touch down Madiun tepat 03:09, langsung buka lipatan sepedah lanjut gowes menuju warung sego pecel Bu Yuli di seberang stasiun.  Nyantap pecel lauk paru dan teh panas.  Abis itu gowes ke Hotel buat nitip ransel,  langsung menuju Masjid Darussalam,  Josenan,  shalat Shubuh BMW.  Disapa oleh pengurus yang ramah: Bapak Parman dan Bapak Choirul. 

Bada Shubuh bablas gowez ke Ponorogo dan berhenti di beberapa masjid buat di review dan akhirnya mendarat di Sate Ponorogo H.  Tukri di Gang Sate,  Jl.  Lawu.  Pancen joz gandhoz satene! 

JrëNg!  Lanjut gowes lagi…

Read Full Post »

Porter No. Punggung 63 – Dahlan. Alhamdulillah bisa ketemu lagi sama Pak Dahlan,  porter soleh di Gambir.  Bulan lalu ketemu dia pertama kali saat naik Parahyangan dan membantu saya menaikkan sepedah ke kereta.  Kali ini dia bantu saya menaikkan sepeda yang sama tapi ke kereta api Bima.  Sedang menuju kota penuh kenangan nih,  Madiun.  Suweneng pol! 
Yang unik dari Pak Dahlan ini setiap kalimat yg keluar dari tutur katanya selalu ada kata “SubhanAllah”. Pada saat berdiam diri menunggu barang angkutan,  bibirnya selalu bergeming dengan dzikir.  Maasya Allah.  Ťeladan yang layak ditiru — tak menyiakan sedetikpun tanpa mengingat Allah. 
Semoga Allah selalu merahmati Pak Dahlan.  Aamiin Ya Rabb.

Read Full Post »

Harus saya akui bahwa salah satu kriteria penting memilih kafe sebagai tempat bertemu dengan klien adalah adanya parkir khusus sepeda selain cita-rasa kopi hitamnya. Itulah sebabnya kemarin sore (20/09) mulai jam 5 hingga kafe tutup kami berdiskusi di sini — di ruang meetingnya.  Pengalaman kedua yang menyenangkan dan insya Allah terulang lagi. 

Kafe yg ada parkir sepedanya memang oyé!!!

Read Full Post »

Older Posts »