Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My Life’ Category

Alhamdulillah dua hari ini gowes full dari rumah kemana-mana sampai semua urusan tuntas.  Kemarin ketemu dengan calon mitra bisnis yg berdomisili di Manila dan sedang di Jakarta,  ketemu di Tesate Plasa Senayan. Pulangnya hujan cukup deras sampai pakai jas hujan gowesnya. Enak banget gowez saat hujan.  

Hari ini ke Pullman Thamrin,  ikut acara bulanan alumni,  gowez dari rumah jam 10:30. Alhamdulillah mendung sehingga menambah nikmat gowes. Shalat Dzuhur di Annex Building,  Pullman.  Bada Ashar gowes ke Setiabudi One,  ketemu klien di The People’s Cafe / Djournal.  Long Black nya mantab bok!  Bada Maghrib lanjut gowes pulang namun kemudian terdengar adzan Isya,  mampir shalat di KemenPAN. Abis itu gowes santai pulang. 
Biyuh nikmatnya gowes full bahkan di siang hari bolong.  Terima kasih Allah…  Engkau sembunyikan matahariMu hari ini sehingga aku enjoy gowes siang hari. 

Besok ke Gatsu.  Kamis ke Kalibata…  Wah asik tenan.  Memang kenikmatan berada di atas sadel sepedah itu luwar biyasa!  Jrèng pokoké!

Advertisements

Read Full Post »

Hari ini saya mengurus perpanjangan SIM A yang akan habis masa berlakunya beberapa hari lagi. Sebelum ke Blok M Square saya browsing dulu di internet dan mendapati jam bukanya 9:30 lengkap dengan persyartannya:

  • KTP asli plus 2 foto copy
  • SIM A asli plus 2 foto copy
  • Tak boleh memakai kaos karena akan di foto (harus baju berkerah)
  • Bawa uang pas (total Rp. 135 ribu)

Saya gowes dari rumah dan mampir dulu ke Biro Jasa Kastil yag berolkasi tak jauh dari rumah untuk ngurus perpanjangan STNK mobil yang juga habis masa berlakunya pada 12 Oktober 2017 (hari ini juga). Saya tidak tahu bahwa di Gerai Blok M Square bisa mengurus perpanjangan STNK juga. Tapi ya sudahlah, rejekinya Biro Jasa Kastil. he he …

Alhambulillah cuaca pagi ini agak mendung membuat suasana gowes enak sekali. Namun sayangnya ketika sampai di Gandaria City, gerimis mulai turun meski jarang. Karena saya tak siap berhujan-hujan, sepanjang kayuhan pedal saya terus menerus memohon ke Allah agar menahan hujannya sehingga saya sampai dulu di Blok M Square. Dan alhamdulilah saya sampe di Blok M Square pukul 9:45 tanpa hujan. Terima kasih Ya Allah …Alhamdulillah. Namun sayang, ternyata masih belum bisa masuk karena  mall nya masih belum buka — kata Satpam jam 10:00. Gak masalah, bisa leyeh-leyeh sambil mengeringkan keringat. Tepat jam 10:00 asay sudah berada di Greai SIM. Meski saya sering sekali ke Blok M Square dan melewati Gerai Pak Polisi ini namun saya gak sadar bahwa gerai ini ada dua: ngurus perpanjangan STNK dan satunya lagi Gerai perpanjangan SIM (A dan C). Begitu sampai di depan gerai saya lihat begitu banyak orang berjubel masuk ke salah satu ruangan. Saya hampir ikutan masuk. Namun kemudian tersadarkan bahwa yang masuk itu bagi yang akan memperpanjang STNK. Gerai SIM ada di belakangnya dan saya baca pengumuman ternyata ….Gerai SIM baru buka jam 13:00. Waduh! Cilaka …udah kkatanya di internet buka jam 9:30, tapi ternyata kok jam 13:00. Untungnya ada petugas Polis (yang kemudian saya tahu kemudian bahwa beliau adalah petugas yang melakukan pemotretan dan pencetakan SIM). Beliau menyodorkan Daftar Antrian agar nanti masuknya tertib dan …Alhamdulillah saya mendapat giliran pertama. Mungkin Pak Polisi itu kasihan lihat saya yang masih pakai baju bersepeda harus menunggu 3 jam untuk dibukanya pelayanan. Ya sudah …sabaaaaaar … Sambil menunggu saya laukan carbo loading makan mie ayam Don Don di Basement juga. Langganan. Dan setelah itu baru main di gerainya Irvan Hidayat dan Ichan di Basement juga.

Tepat pukul 13:10 (telat 10 menit) gerai SIM dibuka dan nama saya langsung dipanggil. Wah asik juga dapat giliran pertama. Proses pertama saya mendaftarkan ke mbak di meja pertama dan sekaligus didata oleh mbak tersebut, serta bayar 25 ribu. Kemudian dilakukan uji penglihatan mata (buta warna dan sekaligus baca jarak jauh) dan berat badan (alhamdulillah badan saya beratnya 78 kg — pasti tambangannya salah — lha wong berat saya di atas 85 kg kok). Setlah itu pindah ke meja mbak berikutnya dan ke mas di depannya kemudian di mbak terakhir. Total ada 4 meja pendaftaran. Oh ya, setelah meja ketiga, saya dikasih blanko untuk mengisi DATA DIRI. Mengisinya harus memakai BALLPOINT SENDIRI (jangan lupa bawa lho!). Mengisiya mudah karena di meja pengisian data sudah ada CONTOHnya. Kita tinggal nyontek cara ngisinya. Kemudian di meja ke 4 saya bayar lagi 35 ribu ke mbak petugas. saya gak tahu uang 25 ribu dan 30 ribu ini untuk apa karena mbaknya gak menjelaskan. Setlah itu baru ke Pak Polisi untuk pemotretan dan pencetakan SIM A. Sudah deh …selesai dalam waktu sekitar 20 menit. Coba bandingkan dengan ngantrinya sejak jam 10! He he he ….

Kesimpulannya:

  • Proses cepat dan segera jadi.
  • Tak ada uang suap atau tips dan sejenisnya, biaya total cukup murah. Sayang di pengumuman hanya disebutkan biayanya Rp. 80 ribu tanpa ada tambahan Rp. 25 ribu dan Rp. 30 ribu. Untungnya uang saya cukup. Kalau tidak? Saran: mustinya pengantri diberi tahu bahwa BIAYA TOTAL nya adalah Rp. 135 ribu untuk SIM A.
  • Mbak-mbak yang melayani cukup sigap memproses cuman kurang ramah dan terkesan bekerja seperti robot dan …belum ada jiwa melayani. Hal ini terlihat dari cara memanggil pengantri yang tereak-tereak (ada kesan kurang sopan). Justru Pak Polisi (namanya EDI – wong Jowo) yang ramah. Yang lainnya seperti robot dan terkesan kurang helpful. Misalnya saat kebingungan mau isi data. Harusnya mbak2 itu menyadari bahwa kami yang datang ini hanya lima tahun sekali – hendaknya diberi briefing yang jelas.

Eh ternyata …perpanjangan SIM bisa melalui ONLINE … Wah!

Read Full Post »

Hari ini ada rencana besar yaitu kami bertiga yang sudah berteman lama: Itje Suryono – Nico Kanter dan saya berencana bertemu dengan Fay (Coach) untuk mendapatkan arahan tentang kegiatan kami. Memang ini sebenarnya ide dari Nico yang ingin difasilitasi orang lain agar kita bertiga bisa mendapatkan masukan independen dan obyektif — tidak bias dengan diri sendiri. Pada saat bersamaan, pada siang hari, saya mengunjungi dulu cucu tercinta : Falah Muhammad Althaf Ghaisani alias dipanggil “Al”. Senengg banget jumpa sama Al mulai dari siang jam 13:30 hingga sore hari sekitar 17:30. Setelah itu saya nebeng Dian dan turun di Pejaten Raya untuk kemudian menuju ke Dharmawangsa Square – tempat pertemuan kami dengan Fay. Qadarullah …hujan deras sebelum Maghrib dan saya tak bisa mendapatkan kendaraan menuju Dharmawangsa Square. Alhamdulilah pada saat adzan Maghrib hujan sedikit reda sehingga saya bisa ikut shalat Maghrib berjamaah di masjid yang tak jauh dari lokasis saya berteduh (di depan Family Mart – Pejaten).

Usai Maghrib, kembali hujan deras dan saya naik angkot M36 menuju Pejaten Village.  Akhirnya janjian ketemu Fay (nebeng mobilnya) menuju DS. Hari sudah malam dan adzan Isya terdengar saat saya berjalan menyeberang di depan Pejaten Village pada saat hujan turun lagi dengan lebatnya. ALhambulillah ada warung di kanan jalan setelah jembatan di tikungan menuju Jl. Ampera. Makan dulu deh …ayam kremes ….

Setelah makan, janjian sama Fay (bersama Dian) dan tak lama kemudian dia datang dan saya ikut di mobilnya. Dalam perjalanan ke DS kami mampir shalat Isya di mushalla Jl. Kemang. Barulah menuju ke DS. Alhamdulillah Nico dan Itje masih menunggu kami yang telat karena macet luar biasa. Jam 20:00 kami baru ketemu di Tator Cafe – Dharmawangsa Square, sambil menikmati kopi metode sifon. Jam 22:15 kami bubaran. Puas dengan arahan Coach Fay.

  • Perlu mengemas dengan mindset menawarkan “obat” bukan nutrisi
  • Do not try to be too authentic
  • Lakukan Positioning – Differentiation – Branding
  • Harus berani fokus di niche market, jangan tembak semua. Fokus yang sempit nanti dampaknya luas ….

Alhamdulillah … terima kasih Fay!

Read Full Post »

Bismillah.  Touch down Madiun tepat 03:09, langsung buka lipatan sepedah lanjut gowes menuju warung sego pecel Bu Yuli di seberang stasiun.  Nyantap pecel lauk paru dan teh panas.  Abis itu gowes ke Hotel buat nitip ransel,  langsung menuju Masjid Darussalam,  Josenan,  shalat Shubuh BMW.  Disapa oleh pengurus yang ramah: Bapak Parman dan Bapak Choirul. 

Bada Shubuh bablas gowez ke Ponorogo dan berhenti di beberapa masjid buat di review dan akhirnya mendarat di Sate Ponorogo H.  Tukri di Gang Sate,  Jl.  Lawu.  Pancen joz gandhoz satene! 

JrëNg!  Lanjut gowes lagi…

Read Full Post »

Porter No. Punggung 63 – Dahlan. Alhamdulillah bisa ketemu lagi sama Pak Dahlan,  porter soleh di Gambir.  Bulan lalu ketemu dia pertama kali saat naik Parahyangan dan membantu saya menaikkan sepedah ke kereta.  Kali ini dia bantu saya menaikkan sepeda yang sama tapi ke kereta api Bima.  Sedang menuju kota penuh kenangan nih,  Madiun.  Suweneng pol! 
Yang unik dari Pak Dahlan ini setiap kalimat yg keluar dari tutur katanya selalu ada kata “SubhanAllah”. Pada saat berdiam diri menunggu barang angkutan,  bibirnya selalu bergeming dengan dzikir.  Maasya Allah.  Ťeladan yang layak ditiru — tak menyiakan sedetikpun tanpa mengingat Allah. 
Semoga Allah selalu merahmati Pak Dahlan.  Aamiin Ya Rabb.

Read Full Post »

Harus saya akui bahwa salah satu kriteria penting memilih kafe sebagai tempat bertemu dengan klien adalah adanya parkir khusus sepeda selain cita-rasa kopi hitamnya. Itulah sebabnya kemarin sore (20/09) mulai jam 5 hingga kafe tutup kami berdiskusi di sini — di ruang meetingnya.  Pengalaman kedua yang menyenangkan dan insya Allah terulang lagi. 

Kafe yg ada parkir sepedanya memang oyé!!!

Read Full Post »

Hari ini sejak siang hari ada janjian ketemu dengan calon klien,  seorang pengusaha muda yang berencana mengembangkan kawasan industri di Kalimantan Tengah.  Tepatnya,  beliau ingin dibantu menyusun business plan. 

Karena lead nya dari kakak ipar saya dan memang rencananya sejak pagi saya dan istri mengikuti kajian di Masjid Nurul Iman Blok M Square — namun batal karena terkena macet luar biasa — maka istri saya juga ikut dalam pertemuan ini,  sekalian ketemu sama kakaknya. Pertemuan di Dapuraya Pasaraya berlangsung lancar hingga Ashar.  Kemudian saya dan istri melanjutkan ngopi di Filosofi Kopi. 

Kali ini cangkirnya ada tulisan “Temukan Dirimu Di Sini” pada cangkir kopi long black yang saya pesan,  sedangkan istri memesan cappucino dan pancake (saya biasa menyebutnya “serabi londo” … Ha ha ha…). Mantab kopinya dan juga mantab ngopi (ngobrol perkara iman) dengan istri… 

What a life! 

Read Full Post »

Older Posts »