Feeds:
Posts
Comments

Mungkin ini cara Allah menyelamatkan saya.  Tadinya ada lunch meeting dengan klien di Yoshi Japanese Resto,  Gran Mèlia. Duh, dari tadi malam galau krn takut itu resto gak halal.  Udah pasang kuda2 bakal pesen ikan gindara bakar ajah.  Gak jaminan halal juga,  kalau dapurnya gak pisah.

Gowes dari rumah 9:45 dan 10:30 sdh mendarat di Masjid Darussalam,  belakang Gran Melia.  Ini memang masjid langganan sekalian transit.

Mau leyèh2 keringin kringet trus shalat Dhuha.

Eh jam 11:06 klien telpon mohon maaf terpaksa dibatalkan krn ada tugas mendadak ke Bali,  ada acara ultah BUMN yg urgent.

Alhamdulillah

Kemudian saya bingung musti kemana, apakah tetap di masjid Darussalam sampai Dzuhur atau pindah? Akhirnya saya putuskan gowes ke Blok M Square karena sekalian mau ambil buku pesanan. Karena jalur ke arah Tendean dari Kuningan tertutup (ada pembangunan infrastruktur) maka saya ambil rute Jl. Jend Gatsu menuju Semanggi dan belok di Telkomsel Smart Office. tadinya sempat terpikir mau shalat Dzuhur di masjid LIPI namun sayangnya kaki tetap saja mancal pedal sepeda sampai akhirnya sampai di Blok M. Duh ..sayangnya shalat Dzuhur baru saja usai …terpaksa ikut batch selanjutnya setelah yang diselenggarakan oleh masjid usai dan jamaah bubaran. Nasib memang.

Setelah shalat Dzuhur ternyata saya baru sadar bahwa ini hari Selasa dan ustadz Khalid Basalamah biasanya menggelar kajian kitab Bulughul Maram dari jam 13:30 sd Ashar. Alhamdulillah …rejeki saya, bisa ikut kajian sunnah. Bab yang dibahas adalah Shalat Gerhana, Shalat Istisqo dan Bab Pakaian. Alhamdulillah …. Senang juga lunch meeting dicancel. Biidznillah …

Bersabar

Dari kajian ustd Abu Yahya Badrusalam di Rodja TV membahas kitab Umdhatus Shabirin

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

-Sura Al-Baqarah, Ayah 153

Balasan Allah ada di ayat ini:

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang”.

-Sura Al-Mu’minun, Ayah 111

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab ‘Iddatu Ash-Shabirin menyebutkan:
“Sabar adalah sebuah sifat yang mulia dari sifat-sifat yang ada dalam diri seseorang. Dengan sabar, seseorang akan menahan dari berbuat sesuatu yang tidak pantas dan tidak baik. Dan dia adalah sebuah sumber kekuatan jiwa (yang dengan sabar tersebut), maka dia akan memperbaiki keadaan dan menegakkan perkara yang ada pada jiwa tersebut.”

Catatan Kajian Ustadz Subhan Bawzier di sesi Road 2 Jannah (3), URBNATION,  Jl.  Kalimantan 13, Bandung,  13 Agustus 2017 jam 9:00 – 11:30.

IMG20170813082212

1.) Semoga dimudahkan menuju surga. Hidup ini singkat sekali. Islam agama yg asik. Yg bilang Rasul. Mana ada agama yang mengatur semua sendi kehidupan kita bahkan buang hajat (maaf) pun ada doanya dan diatur musti kaki kiri dulu.

2.) Janji Allah itu surga. Semua mengkhayalkan surga. Ada sebuah syair yang dilantunkan oleh Ibnul Qayyim, yang biasa disebut Syairul Juhala (Syair orng bodoh). Sesuatu yg selalu terjadi. Apa itu? Manusia itu suka nyambung dosa. Gak ada org tak berdosa. Namun seringkali dosa satu nyambung ke lainnya.

3.) Enaknya Islam itu jangan liat dulunya, tapi sekarang dan ke depannya bagaimana. Jangan omong aib. Musuhan jangan berkoalisi. Amal tergantung akhirnya.

4.) Merdeka adalah kebebasan untuk melakukan ibadah kepada Allah Taala. Istiqlal. Masjid kita itu maknanya merdeka. Kita harus meminta kemerdekaan kpd Allah. Org beribadah itu merdeka.

5.) Adam Hawa pernah di surga. Kita masih mengkhayalkan surga. Hanya sebuah dosa Adam Hawa dikeluarkan dari surga. Berapa banyak dosa kita? Hanya satu? Sulit lho masuk surga.

6.) Untungnya umat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umat sempurna. Umur umatku 60 – 70. Umur panjang untuk apa. Kalau kita minta umur panjang dan dikasih Allah sampai umur 200 tahun apa kita mau?

7.) Merdekaku. Panjang umura harus bagus perbuatannya. Tak ada halangan utk berbuat baik. Merdeka. Allah ciptakan kita untuk kebaikan,  beribadah.

8.) Bukan panjang pendek krn semua ibadah ada waktunya. Semua ada aturan mainnya. Dunia ini numpang lewat. Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat,  Jibril datang dulu memberi kabar. Hai Muhammad,  Allah kirim salam utkmu. (Coba bayangin .. Allah “kirim salam” ….betapa mulianya Nabi kita). Sebentar lagi Malaikat Maut mendatangimu. Untukmu diberi kesempatan memilih — dipanjangkan usiamu sampai kiamat kelak atau wafat. Rasul memilih wafat.

9.) Jangan wafat kecuali Islam. Amal soleh – perbuatan benar. Umur kita udh masuk belum? Apa landasan pokok dalam beribadah? Gak ada kaitan terorisme dengan agama. Ini negeri maasya Allah…  Hidup terserah Anda.

10.) Anda tidak berevolusi. Manusia beradaptasi. Tangisi masa lalumu.

IMG20170813102514
Tiga Landasan Pokok kalau mau merdeka:

1.) Kenali Allah dengan benar. Jangan sembarangan menggunakan asma Allah.  Abdullah…  Hamba Allah, nama yang bagus. Tapi jangan bernama Rozaq karena itu asma Allah. Juga Rahman. Abdurahman boleh. Kemuliaan di sisi Allah. Semua yg di sisi Allah tak mungkin anda dapatkan tanpa ketaatan. Jangan beragama krn keperluan. Pengen kaya, pengen dapat pekerjaan. Sebelum dapat pekerjaan beribadah, begitu dikasih pekerjaan, tak mau shalat lagi karena sudah dapat pekerjaan. Ini gak bener.

Coba bayangkan , di tubuh kita ini kata Rasul ada 360 persendian. Anda bisa sedekahkan sendi tersebut cukup dengan 2 rakaat Dhuha

Konsisten dalam posisi keagamaan kita. Keluar krn Allah , masuk karrna Allah

Kalau lagi naik motor nanjak — takbir, kalau menurun jalanannya — tasbih

Tidak ada cukup dlm beribadah kepadaNya. Allah suka orang yg meng ulang2 ibadah selama ada syariatnya. Menghafal Nama Allah itu penting krn akan memahami pekerjaan Allah. Allah punya nama2 sempurna

Kalau minta melalui nama Allah sesuatu, sebut asma Allah, misla: Ya Rahman … Ya Rohim … Doa tak ada yg salah, sikap kita thd doa yang salah.

Uluhiyah,  mengesakan Allah. Indonesia Bertauhid. Wajib menegakkan tauhid. Cikal bakal kebaikan bila ada penegakan tauhid. Tauhid menghilangkan keburukan. Gak ada lagi horoscope, tatoyur,  percaya sama fenomena alam.

2. Kenali Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar. Ada 4 konsekuensi umat Muhammad:
1. Mentaati semua perintahnya
2. Menjauhkan semua yg Nabi larang
3. Percaya semua yg beliau katakan walaupun ghoib (Isra Mi’raj). Kita yakini apa yg beliau katakan. Jangan bangga punya anak yang punya indra ke enam — indigo; sedangkan Rasul saja sangat jarang bisa melihat. Artinya: ada jin,  musti ruqyah.
4. Yuk belajar agama dengan syariat yg benar
Lia Eden — Kok ada Jibril haid. Jelas ngawur. Yuk belajar syariat. Jangan korban iklan. Dalil harus jelas. Islam itu mewarnai bukan diwarnai. Mulai belajar dari nol.

3.) Kenali Islam dengan benar. Rasul mengatakan ada 73 golongan, dan hanya hanya 1 yang selamat yaitu yang ikut Rasul. Ketundukan dan kepatuhan kpd Allah. Jangan ngantongi jimat agar gak mati – gak betul. Istiqlal – merdeka. Jaman sekarang ini banyak pengusaha yangmelarang karyawatinya berhijab. Sehingga banyak saudari kita yang pake hijab berngkat kerja, di tempat kerja dibuka krn gak boleh Boss.
Cari masjid lebih susah dibanding ATM.
Bandung Bertauhid.
Kita pengen merdeka
Menjadi anak bangsa yg patuh pada penerintah
Ada 50 sebab doa terhalang — kita bahas kelak.

Wallahua’lam.

IMG20170813102504

IMG20170813113524

Catatan Kajian Ustadz Subhan Bawazier di Masjid Agung Trans Studio,  Bandung,  12 Agustus 2017. Bada Maghrib sd 21:00

Maasya Allah, kajian ini dihadiri oleh jamaah yang begitu anthusiasnya untuk hadir di majelis ilmu — sehingga pada shalat Isya, kaum muslimin mendirikan shalat berjamaah hingga halaman parkir karena masjid tak bisa menampung membludaknya jamaah. Allahu Akbar! Ini membuktikan bahwa kajian sunnah berdasarkan contoh dari Salafush Shalih mendapat sambutan luar biasa.

IMG20170812191308

Shalat Isya berjamaah di Masjid Agung Trans pada saat berlangsungnya kajian Ustadz Subhan Bawazier.

— Catatan —

1.) Agama bukan tergantung ustadz. Makanya kalau ikut majelis ilmu harus dicatat. Setelah pulang nanti dicek apakah dalil yang digunakan ustadz benar baik dari sisi Quran maupun hadits yang shahih atau hasan.

2.) Hijrah sebenarnya merupakan hakekat Islam. Tugas kita adalah belajar dan belajar. Sama gak sih yang berilmu atau tidak berilmu? Jelas beda Bro … Janji Allah itu jelas bahwa mereka yang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah. Orang yang berilmu memiliki 3 (tiga) sifat: 1.) gampang akrab, 2.) gampang bersosial , 3.) sehingga bisa diterima dimana-mana bahkan bisa masuk pemerintahan. Islam harus yang membuat kita disiplin. Misalnya ada lampu merah di perempatan, tidak berani menerobos karena “takut Allah” bukan takut sama Polisi.

3.) Patuh kepada pemerintah memang harus ditunjukkan oleh mukmin selama tidak bertentangan dengan Quran dan Hadits. Hukum Islam untuk ditaati karena dari Allah, bukan untuk dikritisi. Mau mengkritik Allah?

4.) Mengapa mengikuti para sahabat? Karena Rasul sendiri sudah mengatakan bahwa sebaik-baik umat adalah pada jamanku (Rasul), kemudian generasi setlahnya (Tabiin) dan setelahnya. Mereka itu yang dekat dengan Rasul. Ulama adalah pewaris Nabi dan Rasul. Seandainya suatu ibadah yang kita lakukan saat ini baik, tentulah sahabat dulu melakukannya juga. Tapi kalau sahabat tidak melakukannya, bagaimana kita mengatakan bahwa ini baik? Kemudian ada orang yang mencela “Semuanya bid’ah …naik onta saja ustadz”. Nah …ini definisi bid’ah yang keliru. Bid’ah itu kaitannya dengan ibadah. Gak ada larangan naik mobil. Kalau Shubuh jadi 3 rakaat — nah ini bid’ah karena Rasul tak mengerjakannya begitu.
Anjuran puasa, misalnya, dimulai dengan melihat bulan. Untuk wanita, kewajiban menutup aurat. Eh, malah dibuat kelompok hijabers yang hijabnya dibuat menggunung-gunung kayak ice cream cone. Makanya tanggal 17 Agustus nanti di pesantren dibuat sekalian dalam satu hari ada tiga kajian khusus untuk ibu-ibu.

5.) Yang mengucapkan Wahabi itu diawali dari musuh2 Islam di Inggris. Padahal kalau bicara Syikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu ya tepatnya Muhammadiyah. Ini semuanya fitnah. Islam itu bukan organisasi, Islam ya Islam, yaitu agama para Nabi. Banyak orang Islam tak tahu asma Allah, tak tahu keturunan nabi Muhammad, siapa ayahnya, kakeknya, anak-anak-nya dan seterusnya. Padahal riset membuktikan bahwa penghafal Al Quran tuh paling banyak di INdonesia. Semoga Islam akan jaya lagi ya melalui kita-kita ini Bro! Aamiin.

7.) Ada yang berhenti bekerja karena alasan riba. Bagaimana agar iman selalu kuat sehingga tak kembali lagi ke dosa yang lama? Ada 7 penyebab lemahnya iman:
1. kurang ikhlas
2. bersikeras dalam emosi
3. masih mencoba yang sudah berlalu (dosa)
4. minimnya mental sebagai seorang muslim
5. ….ibadah (?)
6. lalai dalam beribadah
7. sedikit menuntut ilmu
Kalau iman turun, bahaya sekali –bisa menjadi futur.

8.) Ada firqah-firqah tertentu yang mensyaratkan anggota untuk dibaiat dengan mengucapkan kalimat syahadat lagi. Nah, ini dia. Selama kita lahir sebagai muslim tak ada ceritanya kita harus syahadat lagi. Kecuali kalau kita masuk Islam nya setelah dewasa. Mualaf. Kita semua tentu pengen adanya khalifah seperti dicontohkan Rasul. Namun khalifah seperti apa dan itu bukan datangnya dari organisasi. Apalagi kalau kita wajib berbaiat — karena kita tidak murtad, gak perlu lagi syahadat.

9.) Kitab Tauhid Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab itu genius. Antum tak usah terbebani karena mendatangkan hidayah itu wilayah Allah. Seorang mukmin itu qaribin — gampang akrab — semua proses ada tahapannya. Di Bandung CC tak berlaku – akesoris Bro!

10.) Aliran, seperti sufi, tak perlu harus merasa paling benar karena khusus bicara akhirat. Laqob2 seperti itu …. Tentu antum tak perlu pake kaos dengan tulisan “I am salafy” bukan? Kita tak usah ributin panjang atau pendek, yang penting berjanggut. Yuk kita pakai bahasa Islam. Islam ya Islam.

11.) Yang mengikuti Islam itu lebih sedikit dari yang tidak mengikuti. Yuk, kita kerjakan seperti Rasul dan Sahabat, lakukan. Kita bangga punya NU yang besar , Muhammadiyah besar. Namun jangan ta’asub pada kelompok tertentu.

12.) Rasul mengatakan bahwa umatnya semua masuk surga kecualti yang tak mau. Emang ada yang tak mau? Ya tentu mereka yang tak mau taat. Yang penting kita Qala Allah – qala Rasul – qala Shahabah.

13.) Hukum adat jangan dibaurkan dengan Quran. Islam harus mewarnai. Misalnya kumpul setiap malam Jumat — emang ada larangannya tak boleh kumpul? Boleh. Trus para sesepuh ngasih nasehat ke yang muda– tentu ya boleh saja. Ngaji — emang gak boleh ngaji? Boleh. Permasalahannya hanya di RITUAL nya saja — kalau sampai kemudian dirutinkan musti dilihat dulu mana dalilnya. Jadi yang perlu dikritisi hanya ritualnya saja.

14.) Ngobrol sejarah – kita ini dijajah Belanda 350 tahun. Belanda menghalangi tauhid kita. Yang beragama dengan benar seperti Panglima Soedirman, Diponegoro, Hasanuddin, malah diasingkan – diperangi. Waliullah tak pernah takut dengan manusia. La ilaha ilallah.

15.) Cara berdakwah juga jangan dicampuradukkan. Dakwah dengan wayang? Ingat, di situ ada simbol-simbol setan. Tuhan kita ini Allah. Jangan campur adukkan dakwah dengan lainnya: wayang, musik. Rasul tidak mencontohkannya.

KESIMPULAN:

  • Mari kita membuka hati dan pikiran kita, jaga ukhuwah, dengan cara belajar Islam yang benar.
  • Isalam adalah qala Allah – qala Rasul – qala Sahabah.
  • Yuk kita dukung meriahnya dakwah. Kalau salah, kami patuh, yang duduk di depan ini bukan lebih pinter dari antum.

Wallahua’lam

 

 

 

Foto-foto ini menunjukkan kondisi stasiun Purwakarta yang digunakan olh PT KAI menumpuk rongsokan gerbong kereta api.  Apa tidak ada rencana lanjut tentang hal ini? 

Peringatan Usia

Beberapa menit sebelum kajian ustadz Khalid Basalamah di sebuah rumah di Jl. Brawijaya, Jakarta Selatan, sohibbul bait mengumumkan bahwa ada wakaf Al Quran ukuran besar sekali yang cocok digunakan untuk mereka yang sudah sepuh, karena ukurannya sangat besar (seperti meja kecil). Niat baik tersebut disampaikan dengan santun. Karena saya duduk di barisan pertama dan paling kelihatan dari meja kajian dimana beliau mengumumkan, kemudian beliau menawarkan Al Quran itu untuk saya. Reaksi saya lambat dan banyak mikir, karena –jujur saja cukup kaget saya ternyata kelihatan sepuh sehingga sulit membaca Quran dan oleh sebab itu saya diberi kesempatan emas yang pertama. Mungkin karena saya belum siap dengan anggapan sudah sepuh dan juga saya sebenarnya datang ke kajian ini atas undangan teman, mas Adrian Prasanto, saya merasa tidak enak menerimanya. Selain itu, tanpa ada maksud berlebihan, saya merasa bahwa selama ini saya bisa membaca Quran dengan ukuran normal dan bahkan jujur saja saya lebih sering membukanya melalui aplikasi di HP saya. Dan selama ini OK OK saja. Saya justru takutnya bila menerima wakaf tersebut malahan tidak saya gunakan – jadinya mubazir. Sayang juga. Jawaban saya saat itu spontan bahwa saya masih bisa membaca normal. kemudian mas Adrian yang mengambiknya dengan tujuan untuk persembahan kepada ayahnya tercinta.

Sudah sebegitu sepuh kah saya?

Tidak salah juga saya dianggap sepuh lha wong usia saya sebentar lagi dalam dua bulan ini mencapai 57 tahun masehi. Kalau dihitung dengan usia hijriyah bisa jadi saya sudah 60 tahun lebih. Alhamdulillah dikasih Allah subhanahu wa taala hingga usia ini. Rasanya saya belum merasa tua karena beberapa hal (mungkin):

  • Saya adalah anak bungsu dari pasangan Hidayat dan Moesrikim (keduanya telah wafat) dan kakak saya tertua terpaut 9 tahun di atas saya. Semua kakak saya masih sehat bugar sehingga saya tak merasa sebagai orang tua karena ya faktor anak bungsu ini.
  • Rasanya baru kemarin saya masih riang ceria menjadi mahasiswa dan bebas menentukan jadwal sendiri bahkan menentukan kapan mau lulus kuliah. Masa mahasiswa sebenarnya masa terindah kedua setelah masa kelas 2 SMA dulu. Rasanya semuanya bebas meski saat kuliah masih ada kegalauan masa depannya mau kemana.
  • Rasanya juga baru beberapa tahun lalu saya bersepeda dari Bandung ke Jakarta pada saat selesai ujian akhir semester di tahun 1983. Dan kemudian pada tahun 2010 saya bersepeda sebaliknya dari Jakarta ke Bandung via Jonggol. Rasanya masih kuat beraktivitas — emang orang sepuh identik gak kuat? Gak juga sih ya …
  • Masa SMA pun rasanya baru terlewat beberapa tahun lalu …namun ternyata sudah 35 tahun lebih yang lalu … Suatu waktu yang sungguh sangat panjang dan sebenarnya sudah cukup untuk menenpuh jalan hidup lurus.
  • Rasanya juga baru beberapa saat yang lalu punya anak — eh gak tahunya anak sulung saya sudah mendekati 30 tahun usianya. Jadi, memang tidak salah bila saya termasuk golongan sepuh. Apalagi saya sudah punya cucu : Falah Muhammad Althaf Ghaisani (saat ini berusia 6 bulan). Ya …memang benar saya sudah kakek-kakek … he he he …

Singkat cerita, saya memang sudah sepuh. Jadi, ya harus diterima apa adanya. Artinya, sebenarnya waktu saya untuk meniti hari akhir pada saat maut tiba semakin mendekat lagi. Artinya, saya tak punya waktu lagi buat mengerjakan hal-hal yang tak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kelak. Lagian, siapa yang menjamin saya bisa hidup beberapa tahun lagi? Saya tidak tahu kapan Malaikat Maut datang kepada saya. menurut ustadz Oemar Mita, Malaikat Maut mendatangi calon mayit sebanyak tiga kali dan yang terakhir mencabut nyawa kita. Nah … kapan itu kunjungannya yang pertama untuk saya? Saya juga tidak tahu.

Ya, sudah …memang saya telah diingatkan bahwa waktu saya sudah sempit bahkan amat sempit untuk beramal shalih. Itupun masih belum menjamin kehidupan saya kelak terhindar dari api neraka karena untuk masuk surga hanya dapat dari rahmat Allah. Sungguh berat masuk surga. Amal soleh harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Menurut kajian-kajian ilmu yang saya ikuti dari berbagai ustadz, untuk bisa mengerjakan amal shalih yang diterima oleh Allah subhanahu wa taala harus ada dua syarat mutlak:

  1. Ikhlas hanya kepada Allah semata
  2. Mengikuti contoh Rasul

Semoga dengan memenuhi dua syarat tersebut, kita semuanya bisa mendapatkan rahmat Allah yang merupakan kunci masuk surga. Aamiin Ya Rabb ….!

Sedangkan untuk ikhlas saja perlu belajar dan praktek terus-menerus, tanpa henti. Ini memang tantangan. Ada ulama yang mengatakan bahwa belajar ikhlas harus dilatih terus-menerus. bahkan ketika ketika sudah merasa ikhlas, maka perlu dipertanyakan lagi justru itu belum ikhlas. Nah … sulit bukan? Untuk mendapatkan keikhlasan, kita harus terus berdoa kepada Allah agar kita diberi niat ikhlas di setiap ibadah kita.

Sekurangnya, peringatan bahwa sudah sepuh semakin memacu untuk selalu belajar tentang keikhlasan — agar waktu yang sempit tak terbuang percuma.

Wallahua’lam

 

Di Gambir kenalan sama porter soleh,  Pak Dahlan.  Usia 58 tahun.  Sudah jadi porter sejak 1980. Selalu shalat di masjid.  Setiap tutur katanya selalu menyebut Subhanallah.  Maasya Allah.  Anak 5, cucu 4. Beliau bersyukur jadi porter karena masih bisa kerja.  Kalau jadi karyawan PT KAI pasti sekarang udah pensiun. 
Luar biasa.  Maasya Allah.