Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2016

Menghadaplah ke Allah dengan hati luluh. Hindarkan dirimu dari sikap ujub dan angkuh. Pergaulilah manusia yang jahat dengan baik, karena pada hakikatnya kamu sedang bermuamalah dengan Allah Yang Maha Besar. Ulurkan tanganmu kepada orang-orang fakir dengan sesuatu yang dikaruniakan Allah kepadamu. Lalu bayangkanlah, bahwa Allah-lah yang pertama kali menerima pemberianmu itu, sebagaimana dituturkan dalam berbagai ayat Al Qur’an dan hadits Nabi. Kelak hatimu akan merasa sangat senang dan bahagia dengan Allah.

(Habib Hasan AL Bahr) – dikutip dari buku “Ayat-Ayat Cinta 2”, halaman 10, karya Habiburrahman El Shirazy, cetakan IV, Desember 2015.

Masya Allah!

Read Full Post »

image

Liqo Kuliner bersama Ustad Ade Purnama di resto Hadral Maut, Jl. Tambak Jakpus, 24 Februari 2016.

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS 2:271

Pada ayat 271 ini Allah berfirman tentang pentingnya menyemangati orang lain dalam sedekah, misalnya memasukkan ke kaleng di masjid dengan membiarkan orang lain melihat namun harus didasari oleh niat yang benar-benar ikhlas. Ini adalah hal yang baik sekali. Akan tetapi, bila bersedekah kepada orang-orang fakir yang terbaik adalah menyembunyikannya agar tak ada orang yang melihatnya. Yang juga sangat penting adalah dihapuskannya sebagian dosa-dosa kita oleh Allah karena kita bersedekah. Semangat bersedekah ini perlu digiatkan seperti halnya ODOJ (one day one juz) yang sifatnya ibadah pribadi. Sedangkan ODOS (one day one sodaqoh) bersifat sosial sehingga lengkaplah amalan kita.

Sebaiknya sedekah dilakukan setiap hari secara konsisten sebelum kita shalat tahiyatul masjid saat Shubuh di masjid. Mengapa? Ada hadits shahih yang menyatakan bahwa setiap subuh ada dua malaikat ditugaskan Allah Taala. Malaikat pertama mendoakan muslim yang bersedekah agar dihapuskan dosa-dosanya dan diberi rizqi, sedangkan malaikat kedua mendoakan mereka yang tak sodaqoh agar diberi kehancuran oleh Allah Taala. Pilih mana coba?!

(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.

QS 2:273

Yang dimaksud dengan ayat 273 adalah da’i da’i yang berdakwah di pelosok-pelosok sehingga setiap waktunya mereka habiskan untuk berdakwah sepenuhnya, berjalan menyusuri satu tempat ke tempat lainnya tak kenal waktu. Mereka tak punya waktu untuk berusaha. Bahkan ada Da’i yang honornya hanya Rp. 300 ribu perbulan. Mereka inilah golongan yang berjihad di jalan Allah sehingga berinfaq kepada mereka sangat dianjurkan Allah Taala.

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

QS 2:274

Pada ayat 274 inilah Allah menekankan pentingnya sedekah pada setiap saat baik malam maupun siang hari. Allah memberi pahala kepada yang menjalankannya. Ayat ini ditutup dengan jaminan Allah bagi yang menjalankan ini bahwa mereka atas dihindarkan dari rasa takut karena takut sudah menjadi tabiat manusia. Bukankah kita hidup ini kadang disertai dengan rasa takut seperti: takut gagal, takut kehilangan rezki, takut anak tidak soleh atau sengsara hidupnya, takut lainnya. Bayangkan, kalau kita hayati ayat ini, Allah menjamin tak ada rasa khawatir atau takut menjalani hidup ini bila kita bersedekah setiap saat. SubhanAllah ….

Mari kita semakin giatkan sedekah …ODOS …One day one sedekah …(minimum, jangan trus tidak mau lebih dari satu kali dalam satu hari ….)

Wallahu’alam bishawab. Semog bermanfaat.

Ditulis di Argo Parahyangan menuju Bandung, 25 Februari 2016 jam 17:48. GW.

Read Full Post »

۞ وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(Q.S.Huud, 11:41)


Kemarin secara gak sengaja ketemu mas Ian Antono di suatu undangan di Depok dan sempat ngobrol sambil menemani beliau makan. Trus, kok saya teringat sekitar tahun 75-76 saat mas Ian dan temen2 nya membawakan “Come on In” nya Kin Ping Meh kala itu. Padahal sebelum ngobrol sama mas Ian, saat manyun di undangan tersebut, saya sempat buka aplikasi Masuk Surga di android saya, ya ada ayat di atas itu. Masya Allah … Nabi Nuh pun dulu mengajak umatnya “Come on In” naik ke perahunya agar selamat dari banjir bah yang dikirim Allah kala itu. Kalau mau selamat, ya naiklah ke perahu tersebut dengan menyebut nama Allah.

Ajakan Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam untuk berpegang teguh kepada Al Quran dan Hadits bisa kita ibaratkan seperti ajakan untuk naik perahu di jaman Nabi Nuh seperti difirmankan Allah subhanahu wa taala dalam QS Huud 11:41 di atas, kalau ingin selamat dunia dan akhirat.

Apakah Anda ingin selamat?

Read Full Post »

Keluarkan AKU dari AKU

Sungguh, ini sangat bagus sebagai pengingat diri, terutama untuk saya:

12744643_598552963629075_5577105732540159132_n

Saya jadi ingat sebuah tausiyah di Radio Rodja beberapa saat yang lalu:

Jangan merasa paling hebat pada saat sudah rajin ibadah misalnya tahajud. Siapa tahu ada orang lain yang tak bangun malam namun begitu dia bangun menyesalnya bukan main. Rasa sesal yang sungguh-sungguh kehilangan kesempatan mendirikan shalat tahajud itu justru yang memuliakannya.

Semoga kita, terutama saya, dihindarkan dari sifat-fifat buruk di atas. Keluarkan aku dari aku.

 

Read Full Post »

Empat Konsekuensi Iman

image


Catatan Kutbah Jumat di lantai 2 Kantor Pusat PT Indosat (KPPTI), 19 Februari 2016.

Nikmat paling besar adalah nikmatul iman. Di jaman Rasul ada kisah seorang kabilah yang menyerahkan diri ke Rasul dan masuk Islam. Dengan masuknya ia ke Islam, ia merasa bahwa dirinya telah berkontribusi besar karena membuat agama Islam menjadi besar. Masuknya ia ke Islam membuatnya GR (gede rasa) seolah Allah dan Rasulnya membutuhkan dirinya untuk membesarkan Islam. Padahal tidak, sehingga Allah perlu meluruskan dan menyanggah: jangan merasa memberi kontribusi karena masuk Islam seolah Allah Taala butuh. Justru keislaman mereka itu merupakan hidayah. Bukan untuk Allah tapi untuk yang mendapat hidayah. Harusnya justru bersyukur atas diberinya Islam ke dalam kehidupannya.

Inilah yang kemudian bagi seorang muslim harus selalu memikirkan apakah nikmat Islam ini telah terrealisir dalam kehidupan kita sehingga kita merasa beryukur mendapatkan nikmat ini. Ada empat konsekuensi dari iman kita, yaitu:

  1. Kecintaan kepada Allah harus lebih dari kecintaan lainnya. Ini adalah konsekuensi pertama dalam hal keimanan kita. Hal ini harus kita renungkan setiap saat.  Apakah kita hidup sesuai dengan nilai-nilai Allah? Kecintaan kpd Allah akan merubah pola pikir manusia. Apakah kita sudah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah (al wala’ wal baro’)? Sejauh mana kita telah mendekati dalam hal amal dengan generasi awal yg luar biasa di jaman sahabat dulu?
  2. Ketaatan kepada Allah dan Rasul. Iman tak sekedar ucapan, harus ada pembenaran di dalam hati dan kemudian diamalkan dalam bentuk yang nyata. Tidak selayaknya kita yang mengaku beriman kepada Allah dimana Allah telah membuat ketetapan tapi ia punya pilihan lain yang bukan pilihan Allah.
  3. Menundukkan hawa nafsu sesuai dg keinginan Allah dan Rasul nya. Tidak sempurna iman seseorang bila nafsunya mengikuti yang selain Allah kehendaki. Lihat saja dalam isu LGBT ada perbedaan tajam antara umat Islam. Bawaan kelahiran? Ini pemahaman yang salah karena Allah jelas melaknat kaum Nabi Luth yang berperilaku homo seks. Hak asasi manusia? Ini adalah penyakit yang disebabkan pengaruh lingkungan. Kalau dilindungi akan menjadi penyakit mewabah.
  4. Satu sama lain saling mengasihi, bantu membantu dalam kebaikan dan menumpas maksiat.

Setiap saat kita harus evaluasi keimanan kita.

Catatan di luar kutbah:

Al Wala’ secara bahasa berarti dekat, sedangkan secara istilah berarti memberikan pemuliaan penghormatan dan selalu ingin bersama yang dicintainya baik lahir maupun batin. Dan al baro’ secara bahasa berarti terbebas atau lepas, sedangkan secara istilah berarti memberikan permusuhan dan menjauhkan diri.

Seorang muslim yang mencintai Allah dituntut untuk membuktikan cintanya kepada Allah yaitu dengan mencintai hal yang Allah cintai dan membenci hal yang Allah benci. Hal yang dicintai Allah adalah ketaatan terhadap perintah Allah dan orang-orang yang melakukan ketaatan, sedangkan hal yang dibenci Allah adalah kemaksiatan (pelanggaran terhadap larangan Allah) dan orang-orang yang melakukan kemaksiatan dan kesyirikan.

Oleh karena itu, hendaklah muslim wala’ terhadap ketaatan dan orang-orang yang melakukan ketaatan dan baro’ terhadap maksiat dan kesyirikan dan orang-orang yang mempraktekkannya.

(sumber: https://muslimah.or.id/89-al-wala-wal-baro-kunci-sempurnanya-tauhid.html)

Read Full Post »

image


Ini adalah sebuah karya Sayyid Quthb yang sungguh fenomenal dan sesuai dengan judulnya, buku Ma’aalim Fii Ath-Thariq ini menekankan Al Qur’an adalah petunjuk jalan yang menggetarkan iman. Saya pesan tempat di ruang ini untuk nantinya saya tulis lengkap ulasan saya terkait buku yang saat ini sedang saya baca, baru sampai halaman 117. Insya Allah saya tuliskan segera setelah saya tuntas membacanya. (Tuntas mengulas tgl 2 Maret 2016)

image

Alhamdulillah …akhirnya malam ini (21/2/2016 – pukul 23:10) selesai juga membaca buku fenomenal ini. Harus saya akui, Sayyid Quthb memang bagus dalam merangkai kata menjadi kalimat yang menghunjam meski yang saya baca ini adalah versi terjemahan. Saya tak terbayangkan lagi bila saya bisa membaca kitab aslinya, pasti jauh lebih indah. Namun ya karena keterbatasan saya yang tak paham bahasa Arab, saya harus puas dengan versi terjemahan ini. Insya Allah penerjemahannya bagus dan yang lebih penting lagi: saya tak salah tangkap dalam membaca kandungannya.

Begin With The End In Mind

Untuk memahami keseluruhan isi buku secara garis besar, Quthb dengan baik mengulasnya dalam bagian awal dari buku ini yang dimulai dengan halaman 18: Rambu-rambu Petunjuk Jalan Ilahi. Dengan membaca bagian ini akan terlihat arah akhir (the end) dari buku ini karena secara gamblang Quthb menguraikan bahwa pentingnya kepemimpinan sosial yang baru bagi kemanusiaan.Hal ini dipicu oleh kegundahannya tentang eksistensi umat Islam yang telah tercerai-berai sejak beberapa abad yang lalu sehingga perlu adanya review terhadap eksistensi umat ini. Kemudian ia dengan jelas dan tegas mengajak kita untuk bersama-sama menegakkan suatu harakah untuk membebaskan ketundukan manusia terhadap penghambaan selain kepada Allah Taala. Hanya dalam manhaj Islamlah , manusia terbebas dari segala bentuk perbudakan sesama manusia. Perbudakan di sini dalam arti luas tak terbatas pada perbudakan di jaman jahiliyah sebelum diutus Rasul.

Tema besar inilah yang diangkat oleh Sayyid Quthb sehingga pembaca dibawanya terbuai dalam suatu alur sistematis yang pada akhirnya mengokohkan iman kita. Quthb dengan gamblang memulai pemikirannya dengan gambaran sebuah generasi Qur’ani yang unik dimana, belajar dari umat terdahulu, ternyata sahabat mempelajari Quran tidak sekaligus namun bertahap. Bahkan cukup dengan membaca dan menghayati sepuluh (10) ayat terlebih dahulu, dan mengamalkannya secara langsung. Coba kita bandingkan dengan kecenderungan dewasa ini banyak muslim berlomba untuk menjadi hafidz Quran namun justru menomor-duakan pemahaman dan amalannya. Yang tak kalah pentingnya adalah pesan yang ia sampaikan bahwa mempelajari Quran harus menjauhkan diri dari hawa nafsu pribadi sehingga penafsirannya bias dengan kepentingan diri atau golongannya. Semuanya harus dikembalikan kepada apa yang sebenarnya diinginkan oleh Allah melalui firman-firmannya. Ini merupakan ajakan untuk meniru generasi spesial yang mempelajari Quran pada awal turunnya kalam Allah ini.

Pada dua bab selanjutnya Sayyid Quthb menekankan perlunya mempelajari karakteristik manhaj Qur’ani serta perkembangan masyarakat Islam . Islam pada dasarnya adalah ketundukan manusia kepada Tuhan manusia dan membebaskan mereka dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah Taala semata. Mereka yang tidak menerapkan manhaj Islam adalah mereka yang tidak ingin manusia mengembangkan diri dengan potensi khususnya yang luhur seperti yang difitrahkan oleh Allah di dunia ini (hal. 102). Dengan kalimat ini Quthb menekankan pentingnya manusia kembali kepada fitrahnya dimana pengembangan diri (self improvement) harus dibangun dalam perspektif manusia sebagai hamba dari Allah dan bukan hamba dari lainnya (orang lain, uang, kekuasaan dan sebagainya). Sungguh kalimat ini sangat dalam maknanya dan membuat saya terhenyak beberapa saat untuk meresapinya lebih dalam lagi. Apalagi bab 3 ini ditutup dengan firman Allah yang keras tentang peringatan kepada orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Al Quran seperti termaktub di QS Al Kahfi [18] 103-106.

Proklamasi Pembebasan Manusia

Menarik untuk diresapi bahwa dalam hal agama ini dimana bukanlah sebuah proklamasi pembebasan manusia bangsa Arab; bukan pula sebuah misi khusus untuk komunitas Arab. Sasaran proklamasi ini adalah manusia …ras manusia; dan medannya adalah bumi …seluruh penjuru bumi. Bahkan di awal dakwah Rasul dilarang untuk berperang dan itupun terjadi secara bertahap dimana perintah berperang turun sebagai upaya pembelaan, saat diperangi. Sebelum bertolak jihad menuju medan perang seorang Muslim semestinya sudah menceburkan diri dalam jihad akbar melawan setan di dalam diri sendiri, yakni menepis hawa nafsu dan syahwatnya.

Peradaban Islami bisa mengambil format yang beraneka ragam berkenaan dengan komposisi materi dan desainnya. Hanya saja, asas-asas dan nilai-nilai yang melandasinya bersifat permanen, karena hal inilah yang menopang peradaban tersebut. diantara asas dan nilai tersebut adalah: (hal. 230)

1.) beribadah kepada Allah semata

2.) berhimpun atas dasar ikatan akidah

3.) meninggikan sisi kemanusiaan manusia di atas kepentingan materi

4.) membumikan nilai-nilai humanis yang mengembangkan sisi kemanusiaan manusia, bukan sisi kebinatangannya

5.) menghormati ikatan keluarga

6.) menjalankan peran khalifah di bumi sesuai dengan perintah dan ketentuan Allah

7.) hanya berpedoman pada manhaj dan syariat Allah berkaitan dengan tugas-tugas khalifah.

Kisah Ashaabul Ukhduud yang memilukan

Buku fenomenal ini ditutup dengan sebuah epilog yang menukil peristiwa Ashaabul Ukhduud dimana kaum muslimin yang memegang teguh akidah, mengesakan Allah Taala namun ditindas oleh penguasa kejam dan bengis yang menganggap manusia sebagai obyek mainan. Mereka yang beriman dilemparkan hidup-hidup ke bara-api yang menyala sehingga tubuh mereka terbakar habis hangus menjadi debu. Keimanan mereka tak sedikitpun tercerabut dengan penindasan penguasa yang bengis meski mereka dilahap bara api. Ini mungkin adalah tragedi manusia dimana hak asasi manusia benar-benar tak dihargai sedikitpun. Nilai tertinggi dalam neraca Allah adalah akidah. Kehidupan manusia berlanjut dari dunia menuju akhirat. Dengan kata lain, dunia tak bisa dipisahkan dari akhirat.

Kemenangan bisa jadi datang dalam bentuk keluarnya ruh dari jasad sebagaimana yang dialami kaum mukmin dalam kisah Ashaabul Ukhduud, atau bisa juga dalam bentuk supremasi sebagaimana yang diraih generasi pertama umat Islam.

Dengan menakmatkan membaca buku ini sekurangnya ada tiga pembelajaran pokok:

i.) perlunya melakukan review terhadap eksistensi umat Islam

ii.) membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah Taala

iii.) akidah merupakan harga mati yang tak tergoyahkan meski dibawah penindasan penguasa bengis dan dzalim.

HIGHLY RECOMMENDED!

Wallahu’alam bishawab.

Read Full Post »

Sekrup dan Mur

Dua benda ini sudah saya kenal namanya sejak saya masih suka baca komik karya RA Kosasih: Mahabarata, Bhagawad Gita, Barata Yudha, Parikesit kokeksinya mbak Wiwik dan mbak Wati (kakak kandung dik Kunti), tetangga kami di jl. Sumatra Madiun. Bahkan bendanya sudah saya kenali ketika saya punya mainan jip-jipan yg dibelikan almarhum Bapak tercinta, ya ….sekitar usia TK gitu lah … (maaf nèk, …jaman saya dulu gak ada tuh namanya Play Group Play Group an …sebelum TK ya kita anak kecil saat itu full dolanan bocah kayak misalé: “plinthengan”, ” tulup tulupan”, “nèkeran”, ” gepuk lélé”, “gembatan bal”, ” ingkling”…the children’s world was totally awesome and full of fun ….gak kayak sekarang ….cah cilik pricil2 wis dicangklongi tas kambèk ibuné , ….njuk dikon sekokah koyok wis gerang waé ….pokoké jaman saiki wis tepak yen disebut “This world is totally fugazi!”…. Saya gembira menjadi bagian yg masih menikmati dolanan bocah …dan pasti dilakukan dengan teman lain, gak kayak anak sekarang dolanan dewe nang njero kamar …. ).
Lah? Ini gimana sih kok kalimat di dalam kurungnya lebih panjang dari pokok bahasan ya? Inilah PROG bung! Menggak menggok disik, ora karuan …mbulet sakenaké mbahé sangkil, njuk balik nang pokok bahasan ….
Sekrup dari dulu yang saya tahu, pasangannya ya mur. Gak pernah saya lihat di mainan jip-jipan saya, maupun otopèt, maupun sepedah jèngki merek “Forever” warna hijau tentara hadiah dari ibu saya, ada sekrup ketemu sekrup, atau mur ketemu mur. Ya pasti jip-jipan maupun otopèt maupun sepedah saya gak bakalan bisa jalan wong gak ada yang dihasilkan dari hasil kerjasamanya. Lha kalau sekrup ketemu mur itu maknanya dalam sekali:

1.) Bersatu padu untuk saling menguatkan, bila kendor, ya dikuatkan agar merekat emosi agar bersatu-padu. Kalau arema bilangnya “salam satu jiwa”.
2.) Hasil dari kerjasama saling menguatkan (poin 1) adalah suatu ” manfaat sinergis” sehingga jadilah jip-jipan, otopèt, sepedah, mobil dan banyak lagi produk bermanfaat lainnya. Termasuk, saat ini saya sedang naik Citi Trans yang ngeksekutif pol (lungguhé déwé ndhul! Ora ono singgungan kambèk lengené penumpang lain! Pow ra hebat …! Ngèksekutip lah saat ini saya ….ha ha ha …), dengan mobil van super nyaman yang sudah pasti ada hasil kerjasama ratusan atau ribuan sekrup-mur yang ada di mesin maupun body mobil ini. Coba bayangkan kalau mur ketemu mur atau sekrup ketemu sekrup,….pasti mobil ini mrotholi sebelum berangkat ke Bandung. Yo pow ra? Yen jawabanmu “ra”, tak jenggit pilinganmu!
Alhasil … Sekrup-Mur itu sudah Sunatullah nya begini adanya.
Kalau sekrup ketemu sekrup, ya jadinya anggar
Kalau mur ketemu mur, ya kayak donat ditumpuk

Kesimpulan:
Jiwa yang menyetujui sekrup ketemu sekrup atau mur ketemu mur berarti jiwa yang SAKIT dan perlu disembuhkan. Bagaimana menyembuhkannya? Kata ustad Ade Purnama, Lc. dengan ruqyah syariiah, bukan sekrupnya atau mur nya yang digebukin, tapi jiwanya disembuhkan agar kembali ke kodratnya. Kemudian perlu baca buku ” Tazkiyatun Nafs” (Penyucian Jiwa – red.) – yang ini kata saya, karena buku ini bikin jiwa ngguweblak saking dalem banget kandungannya ….
Segitu ajah … Ini baru LG nya aja loh …biar gak BT kenak macet nih …udah masuk Bandung. Udahan dulu ya …

GW, 17 Feb 2016 – di Citi Trans, Pasteur, Bandung

Read Full Post »

Older Posts »