Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Religion’ Category

Bada Dzuhur,  masjid Kemendikbud: Baitut Tholibin,  12 Dec 2017

Tentang kaum munafik.  Saat hijrah dulu tak ada satu orangpun dari sahabat yang membawa barang atau uang.  Rasul meminta agar penduduk Madinah membantu kaum muhajirin. 

Menyembah hanya satu: Allah saja. 

— Tafsir Ibnu Katsir:

Al-Baqarah, ayat 8-9

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) }

Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.

Nifaq atau munafik ialah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan. Sifat munafik itu bermacam-macam, ada yang berkaitan dengan akidah; jenis ini menyebabkan pelakunya kelak di dalam neraka. Ada yang berkaitan dengan perbuatan, jenis ini merupakan salah satu dari dosa besar, rinciannya akan disebutkan pada bagian tersendiri, insya Allah.
Menurut Ibnu Juraij, orang munafik ialah orang yang ucapannya bertentangan dengan perbuatannya, keadaan batinnya bertentangan dengan sikap lahiriahnya, bagian dalamnya bertentangan dengan bagian luarnya, dan penampilannya bertentangan dengan kepribadiannya.
Sesungguhnya sifat orang munafik diterangkan di dalam surat-surat Madaniyah, karena di Mekah tidak ada sifat munafik, bahkan kebalikannya. Di antara orang-orang dalam periode Mekah ada yang menampakkan kekufuran karena terpaksa, padahal batinnya adalah orang mukmin tulen. Ketika Nabi Saw. hijrah ke Madinah, padanya telah ada kaum Ansar yang terdiri atas kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj. Dahulu di masa Jahiliah, mereka termasuk penyembah berhala sebagaimana kebiasaan kaum musyrik Arab. Di Madinah terdapat orang-orang Yahudi dari kalangan ahli kitab yang memeluk agama menurut nenek moyang mereka.
Orang-orang Yahudi Madinah terdiri atas tiga kabilah, yaitu Bani Qainuqa’ (teman sepakta kabilah Khazraj), Bani Nadir, dan Bani Quraizah (teman sepakta kabilah Aus).
Ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah dan orang-orang Ansar dari kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj telah masuk Islam, tetapi sedikit sekali dari kalangan orang-orang Yahudi yang masuk Islam, bahkan hanya satu orang, yaitu Abdullah ibnu Salam r.a. Pada saat itu (periode pertama Madinah) masih belum terdapat nifaq, mengingat kaum muslim masih belum mempunyai kekuatan yang berpengaruh, bahkan Nabi Saw. hidup rukun bersama orang-orang Yahudi dan kabilah-kabilah Arab yang berada di sekitar kota Madinah, hingga terjadi Perang Badar Besar, dan-Allah memenangkan kalimah-Nya dan memberikan kejayaan kepada Islam serta para pemeluknya.
Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul adalah seorang pemimpin di Madinah, berasal dari kabilah Khazraj. Dia adalah pemimpin kedua kabilah di masa Jahiliah, mereka bertekad akan menjadikannya sebagai raja mereka. Kemudian datanglah kebaikan (agama Islam) kepada mereka, dan mereka semua masuk Islam, menyibukkan dirinya dengan urusan Islam, sedangkan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul tetap pada pendiriannya seraya memperhatikan perkembangannya Islam dan para pemeluknya. Akan tetapi, ketika terjadi Perang Badar (dan kaum muslim beroleh kemenangan), dia berkata, “Ini merupakan suatu perkara yang benar-benar telah mengarah (kepada kekuasaan).” Akhirnya dia menampakkan lahiriahnya masuk Islam, dan sikapnya ini diikuti oleh orang-orang yang mendukungnya, juga oleh orang lain dari kalangan ahli kitab.
Sejak itulah muncul nifaq (kemunafikan) di kalangan sebagian penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berada di sekitar kota Madinah. Adapun kaum Muhajirin, tidak ada seorang munafik pun di kalangan mereka karena tiada seorang pun yang berhijrah karena dipaksa, bahkan setiap Muhajirin berhijrah meninggalkan harta benda dan anak-anaknya karena mengharapkan pahala di sisi Allah kelak di hari kemudian.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8) Yang dimaksud adalah orang-orang munafik dari kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Hal yang sama ditafsirkan oleh Abul Aliyah, Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi, yaitu “mereka adalah orang-orang munafik dari kabilah Aus dan kabilah Khazraj”.
Melalui ayat ini Allah memperingatkan kaum mukmin agar jangan terbujuk oleh lahiriah sikap mereka, yaitu dengan menerangkan sifat-sifat dan ciri khas orang-orang munafik, karena hal tersebut akan mengakibatkan timbulnya kerusakan yang luas sebagai akibat tidak bersikap waspada terhadap mereka; dan sebagai akibat meyakini keimanan mereka, padahal kenyataannya mereka adalah orang-orang kafir. 
Hal ini merupakan larangan besar, yaitu menduga baik pada orang-orang yang ahli dalam kemaksiatan. Untuk itulah Allah Swt. berfirman: Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8)
Dengan kata lain, mereka katakan hal tersebut hanya dengan lisannya saja, padahal di balik itu tiada satu iman pun yang terdapat di hati mereka, sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

إِذا جاءَكَ الْمُنافِقُونَ قالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ

Apabila orang-orang munqfik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. (Al-Munafiqun: 1)
Dengan kata lain, sesungguhnya mereka mengatakan demikian bila datang kepadamu saja, padahal kenyataannya tidak demikian. Karena itu, mereka mengukuhkan kesaksiannya dengan inna dan lam taukid pada khabar-nya. Mereka mengukuhkan perkataannya pula, seperti yang disitir oleh firman-Nya, “Mereka mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian’,” padahal kenyataannya tidaklah demikian. Allah mendustakan kesaksian dan kalimat berita mereka, yang hal ini berkaitan dengan akidah mereka, yaitu melalui firman-Nya:

وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنافِقِينَ لَكاذِبُونَ

Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al-Munafiqun: 1)

{وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ}

padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8)

**********

Advertisements

Read Full Post »

Pekan ini padatnya luar biasa meski lebih banyak baca referensi, melamun (bahasa kerennya: analisis) dan menuangkan hasilnya dalam poin-poin penting untuk dibahas dengan Klien.  Alhamdulillah telah diberi Allah kecintaan terhadap pekerjaan yang saya jalani puluhan tahun sebagai Konsultan dan tepatnya pada kesibukan pekan ini adalah sebagai Independent Reviewer, Strategic Assessment suatu institusi tertentu.  
Usulan saya untuk bertemu Klien sebelum hari penyampain temuan pada Kamis (7/12) disetujui.  Maka sore itu (6/12) saya menuju tempat pertemuan yg disepakati. Pertemuan dua jam sore itu sungguh amat penting bagi saya untuk dua hal: testing the water alias menguji apakah hasil lamunan saya tsb layak untuk dibahas pada pertemuan formal esok harinya,  dan sekaligus (ini yang paling penting) membangun self-confidence untuk menyajikannya. Bukan apa2, yang akan hadir juga kalangan orang pinter di negeri ini yang gelarnya tumpuk undung.  Sudah barang tentu saya “kalah awu” dibandingkan beliau-beliau yang mumpuni ilmunya. Alhamdulillah…  Pertemuan Rabu sore itu dahzyat karena yg saya ungkapkan ternyata bisa menjadi pemicu diskusi seru sekali sampai berlangsung 2 jam lebih.  Saya senang sekali karena di situlah pembelajaran paling penting terjadi dan saya semakin yakin bahwa “context is much more important than content”. Saya banyak sekali mendapatkan masukan terkait konteks dan hati saya berbunga-bunga…  Berarti yg saya sampaikan dari lamunan saya memang hal yang penting dan strategic.  Alhamdulillah…  Terima kasih ya Allah…..! 
Pulang dari Setiabudhi One (bada Isya) saya kayuh sepeda pulang ke rumah dengan mengucap satu kata indah pamungkas yang semakin membuktikan saya tidak ada apa2nya dibandingkan yang Maha Kuasa… “Alhamdulillah” dan sekali waktu saya ucapkan juga “La haula wala quwwata illa billah” …. Memang benar adanya,  semua daya hanya milik Allah,  saya hanya sebagai operator yang berupaya menjadi operator yang baik dan patuh.  In syaa Allah…. 
Sungguh,  tak ada alasan lain bagi saya selain bersyukur kepada Allah yang memberi saya kenikmatan menyukai pekerjaan yang saya lakukan dan pada saat bersamaan menyukai sekali kegiatan bersepeda,  kemanapun perginya.  Saya justru suka sekali bila bertemu Klien di tempat yang jauh sekali,  misalnya pernah ke PIK (Pantai Indah Kapuk)  sekalian menjelajahi bumi Allah yang luas ini. 
Alhamdulillah. 
* Saat meeting,  sepeda saya parkir di luar kafe,  di pintu masuk.  Karena takut “dicangking” orang,  saya pindahkan di dekat meja menu di depan kafe (foto atas) ,  saya rante.  Alhamdulillah aman….

Read Full Post »

90 Seruan Ilahi dalam Al Quran

Seruan ke 9: Kewajiban mengeluarkan Shadaqah dari harta yang baik dan haram bershadaqah dengan harta yang buruk

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

 

[QS. al-Baqarah (2): 267]


— Tafsir Ibnu Katsir —
..

Read Full Post »

Kisah nyata ini sebelumnya pernah saya dengar namun kemudian segar kembali ingatan saya ketika ustadz Oemar Mita mengawali kajian terkait Dosa-Dosa dalam

*LIVE STREAMING Facebook* (1 Des 2017)
📚 *Kajian Dosa-Dosa
Dianggap Biasa*
🏢 Soepomo Tebet Jkt
🗣 *Ustadz Oemar Mita,Lc. Hafidzahulloh.*

yaitu kisah masyhur TSABIT BIN IBRAHIM yang mulai beliau kisahkan pada menit ke 16 dari video yang saya share di FB saya. Kisah lengkapnya saya copas dari sistus DAKWATUNA sebagai berikut:

—- awal kutipan —

Seorang lelaki shalih bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba ia melihat sebuah apel terjatuh di luar pagar suatu kebun buah-buahan. Melihat apel merah yang ranum itu tergeletak di tanah, terbitlah air liur Tsabit. Apalagi hari begitu panas dan Tsabit tengah kehausan. Tanpa berpikir panjang Tsabit memungut dan memakan apel itu. Tapi baru setengah memakannya Tsabit ingat: apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin dari pemiliknya.
Tsabit pun bergegas masuk ke dalam kebun itu. Ia hendak menemui si pemilik kebun dan meminta si pemilik menghalalkan sebuah apel yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya,” kata Tsabit kepada orang itu. Namun orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya orang yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebun ini.”
Tsabit pun bertanya, “Di mana rumah pemilik kebun ini? Aku harus menemuinya untuk meminta ia menghalalkan apel yang telah kumakan ini.”
“Untuk sampai ke sana engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam,” jawab si penjaga kebun.
“Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah saw. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: ‘Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka’,” tukas Tsabit tegas.
Tsabit pergi ke arah yang ditunjuk penjaga kebun. Ia menuju rumah si pemilik kebun. Dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Si pemilik rumah membukakan pintu. Tsabit langsung memberi salam dengan sopan.
“Wahai Tuan, saya terlanjur memakan setengah dari sebuah apel yang jatuh ke luar dari kebun milik Tuan. Karena itu, saya datang untuk meminta Tuan menghalalkan apa yang sudah saya makan itu.”
Lelaki tua si pemilik kebun itu mengamati Tsabit dengan cermat. Lalu dia berkata, “Tidak! Aku tidak akan menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.”
Tsabit khawatir tidak dapat memenuhi syarat itu. Namun, ia tidak punya pilihan. “Apa syarat itu, Tuan?”
Si pemilik kebun menjawab dengan jawaban yang di luar dugaan. “Engkau harus mengawini putriku!”
Tsabit bin Ibrahim terkejut. “Hanya karena aku makan setengah buah apel yang jatuh keluar dari kebun Tuan, saya harus mengawini putri Tuan?” Tsabit membuat pertanyaan dengan warna penuh keheranan.
Tapi si pemilik kebun itu tidak peduli. Bahkan ia menambahkan, “Engkau juga harus tahu. Putriku punya kekurangan. Ia buta, bisu, dan tuli. Ia juga lumpuh.”
Tsabit terkejut. Haruskah ia menikahi perempuan seperti itu hanya karena ia memakan sebuah apel tidak dihalalkan baginya?

Si pemilik kebun itu kembali menegaskan sikapnya, “Aku tidak akan menghalalkan apel yang engkau makan kecuali engkau penuhi syarat itu.”
Tsabit yang tidak ingin di tubuhnya ada barang haram dengan tegas menjawab, “Baik, aku terima karena aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah meridhaiku. Mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala.”
Pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi untuk menyaksikan akad nikah itu. Setelah akad nikah selesai, Tsabit dipersilakan menemui istrinya. “Assalamu”alaikum!” Tsabit tetap mengucapkan salam, walau tahu istrinya tuli dan bisu.
Tsabit kaget. Ada suara wanita menjawab salamnya. Tsabit masuk menghampiri wanita itu. Wanita itu mengulurkan tangan menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut.
Setelah duduk di samping istrinya, Tsabit bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa kamu buta. Mengapa?”
Wanita itu menjawab, “Ayahku benar. Aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah.”
Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan kamu tuli, mengapa?”
“Ayahku benar. Aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat Allah ridha,” jawab wanita itu. “Ayahku pasti juga mengatakan kepadamu aku bisu dan lumpuh, bukan?”
Tsabit mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya itu.
“Aku dikatakan bisu karena aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah saja. Aku dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang membuat Allah gusar.”
Tsabit begitu bahagia. Ia mendapat istri yang shalihah. Apalagi wajahnya bagaikan bulan purnama di malam gelap. Dari pernikahan ini Tsabit dan istrinya dikaruniai seorang putra yang kelak menjadi ulama yang menjadi rujukan dunia: Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit.

—– akhir kutipan —

Versi yang disampaikan pak ustadz Oemar Mita sedikit berbeda di awalnya yaitu Tsabit bin Ibrahim saat itu sedang safar mencari ilmu dan kemudian dalam perjalanannya beliau lapar dan haus. Kemudian beliau menemukan apel dan memakannya hingga habis dan setelah itu baru menyadari bahwa apel itu tak jelas siapa pemiliknya. Di kalangan salaf, untuk menjaga kemurnian hati perlu memastikan apa saja makanan yang masuk ke dalam tubuhnya karena harus halal. Untuk itulah Tsabit menetapkan tekad untuk mencari pemilik apel dan meminta keridhaannya atas apel yang telah ia makan.

Dan juga versi dari ustadz Oemar tak menyatakan bahwa putrinya lumpuh, namun di artikel di atas ada dan bagus sekali. tetap saya rekomendasikan menyimak juga video ustadz oemar Mita karena perjalanan menuju rumah pemilik kebun itu ternyata tak searah dengan tujuan safar dari Tsabit.

Ibrah (pelajaran) dari kisah ini:

  1. Allah subhanahu wa taala segera membayar (di dunia) pahala dari meninggalkan kemaksiatan / dosa yang kita tinggalkan karena perintahNya tegas: Tinggalkan! Dan Allah akan tetap membalas dengan pahala akhirat kelak tanpa mengurangi apa yang telah Allah berikan di dunia.
  2. Setan selalu menggoda pada setiap saat dan kepada siapapun bahkan untuk orang soleh sekalibar Tsabit bin Ibrahim yang masih bisa tergoda berbuat maksiat, memakan apel yang bikan miliknya.
  3. Segera bertaubat setelah berbuat maksiat dan karena sifatnya ini muamalah (berurusan dengan manusia) maka harus minta keridhlaan dari pemilik apel.
  4. Akuntabilitas tinggi terhadap apa yang telah diperbuat dengan memenuhi syarat dari orang yang dimintai ridha — si pemilik kebun apel, meski harus menikahi putrinya yang buta, tuli, bisu dan lumpuh.
  5. Percaya kepada Allah subhanahu wa taala yang selalu menepati janji dan selalu memberikan pahala yang lebih baik dari apa yang kita tinggalkan.
  6. Tidak mengatakan bohong seperti dicontohkan oleh pemilik kebun tentang anaknya yang tuli, bisu, buta dan lumpuh. Ini memberikan makna yang sangat menyentuh qolbu:
    • Bisu terhadap semua ucapan selain yang diridhlai Allah Tabaroka wa Taala
    • Buta dari melihat hal-hal yang tak diridhlai Allah
    • Tuli dari mendengarkan hal-hal yang tak diridhai Allah
    • Lumpuh dengan tidak pergi ke tempat-tempat yang tak diridhlai Allah.
  7. Niat yang baik, menuntut ilmu, akan memudahkan kita menuju jalan yang diridhlai Allah meskipun telah sempat berbuat maksiat (memakan buah apael yang bukan miliknya).
  8. Pasangan hidup yang soleh / soleha akan membawa kepada keturunan yang soleh karena dari kisah ini lahir ulama besar Abu Hanifah atau Nu’man bin Tsabit.
  9. Selalu memasukkan makanan dan minuman halal ke dalam tubuh kita agar Allah memudahkan kita untuk bertakwa kepadaNya.
  10. Kerja keras meski tak sesuai arah perjalanan demi mendapatkan ridhla dari pemilik kebun untuk mendapatkan ampunan dari Allah Taala.
  11. Allah Taala telah mengatur segalanya dengan indah dengan cara yang hanya Dia mengetahui awal dan ujungnya bagaimana. Tugas kita mengalir saja dalam menjalani kehidupan ini dengan modal ketakwaan sesungguhnya: menjalankan apa yang Dia perintahkan dan meninggalkan semua yang Dia larang tanpa harus menunda.

Sebuah kisah inspiratif yang harus terus hidup di sanubari kita semua sebagai muslim.

Semoga kita dimudahkan oleh Allah mencontoh jalan hidup orang-orang soleh seperti Tsabit bin Ibrahim. Aamiin Ya Rabb ….

 

 

 

 

Read Full Post »

90 Seruan Ilahi dalam Al Quran

Seruan #8: Penjelasan tentang hal-hal yang membatalkan pahala shadaqah, seperti mengungkit-ungkit kembali pemberian (al-mann), ucapan kasar dan riya’.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. 

[QS. al-Baqarah (2): 264]

#90seruanilahi
— Tafsir Ibnu Katsir —
Allah Swt. berfirman dalam ayat yang bunyinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذى

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). (Al-Baqarah: 264)

Dengan ayat ini Allah Swt. memberitahukan bahwa amal sedekah itu pahalanya terhapus bila diiringi dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerimanya. Karena dengan menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti hati penerimanya, maka pahala sedekah menjadi terhapus oleh dosa keduanya.

Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman:

كَالَّذِي يُنْفِقُ مالَهُ رِئاءَ النَّاسِ

seperti orang yang membelanjakan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia. (Al-Baqarah: 264)

Dengan kata lain, janganlah kalian menghapus pahala sedekah kalian dengan perbuatan manna dan aza. Perbuatan riya juga membatalkan pahala sedekah, yakni orang yang menampakkan kepada orang banyak bahwa sedekah yang dilakukannya adalah karena mengharapkan rida Allah, padahal hakikatnya ia hanya ingin dipuji oleh mereka atau dirinya menjadi terkenal sebagai orang yang memiliki sifat yang terpuji, supaya orang-orang hormat kepadanya; atau dikatakan bahwa dia orang yang dermawan dan niat lainnya yang berkaitan dengan tujuan duniawi, tanpa memperhatikan niat ikhlas karena Allah dan mencari rida-Nya serta pahala-Nya yang berlimpah. Karena itu, disebutkan dalam firman selanjutnya:

وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. (Al-Baqarah: 264)

Perumpamaan ini dibuatkan oleh Allah Swt. untuk orang yang pamer (riya) dalam berinfak. Ad-Dahhak mengatakan bahwa orang yang mengiringi infaknya dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti perasaan penerimanya, perumpamaannya disebut oleh firman Allah Swt.:

فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوانٍ

Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin. (Al-Baqarah: 264)

Lafaz safwan adalah bentuk jamak dari safwanah. Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa lafaz safwan dapat digunakan untuk makna tunggal pula yang artinya sofa, yakni batu yang licin.

عَلَيْهِ تُرابٌ فَأَصابَهُ وابِلٌ

yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat. (Al-Baqarah: 264)

Yang dimaksud dengan wabilun ialah hujan yang besar.

فَتَرَكَهُ صَلْداً

lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). (Al-Baqarah: 264)

Dengan kata lain, hujan yang lebat itu membuat batu licin yang dikenainya bersih dan licin, tidak ada sedikit tanah pun padanya, melainkan semuanya lenyap tak berbekas. Demikian pula halnya amal orang yang riya (pamer), pahalanya lenyap dan menyusut di sisi Allah, sekalipun orang yang bersangkutan menampakkan amal perbuatannya di mata orang banyak seperti tanah (karena banyaknya amal). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

لَا يَقْدِرُونَ عَلى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكافِرِينَ

Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah: 264)

Read Full Post »

Tausiyah sejuk yang asik buat direnungkan terkait surah Al Kahfi ayat 83 dst.

Read Full Post »

Ternyata, prestasi kemarin dengan meeting di 3 tempat masih terkalahkan dengan hari ini karena ada 4 meeting di tempat berbeda:

  • Jam 7:30 – 8:30 di Gedung Bappenas
  • Jam 14:00 – 15:00 di Gedung Maramis II (dahulu: Ali Wardhana) di Komplek kementerian Keuangan, Lapangan Banteng
  • Jam 16:00 – 17:00 di Gedung Bappenas (lagi), meeting dengan pejabat yang berbeda lagi
  • Jam 17:30 – 18:30 meeting di AIPI, Gedung Perpusnas Jl. Medan Merdeka Selatan no. 11.

Puas rasanya seharian gowes penuh. Pagi hari start dari rumah 5:50 dan terpaksa berhenti di persilangan kereta api Ulujami karena mulai turun hujan, memakai jas hujan (musti lepas celana panjang dulu sebelum mengganti dengan celana jas hujan). Ribet memang. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk memakai jas hujan ini. Perjalana ke Bappenas memang diselingi dengan hujan meski hanya rintik-rintik. sampai di Taman Suropati pukul 7:00 dan langsung saja ke Bappenas karena basah kuyub jersey nya. Di tempat parkir langsung mengeringkan jersey (sayang terlalu basah, gak bisa kering), memakai anduk B-Cool dan ganti pakaian rapi karena mau ketemu Pejabat Eselon 1 – harus rapi lah … memalukan kalau belepotan bukan? He he he …. Jreng jam 7:30 sudah masuk ke ruang meeting dan sambil meeting disuguhi teh panas manis ….sedangkan Pak Pejabat minum kopi. Aduh! kenapa saya gak ditawari ya? Kalau ditawari ya tentu saya pilih kopi dunk … Ha ha ha ha … Rapat usai 8:40.

Setelah itu masih pakai baju rapi gowes menuju Graha Mandiri di kantor Value Quest. Eh …sebulm masuk kantor yang di lantai 17, sempat carbo loading nasgor kambing (tanpa kecap) yang ternyata huwenak pol! Alhamdulillah … Ini nasgor paling enak yang pernah saya makan … kere abis! Rp. 18 ribu saja …. He he he … ketemu pesepeda juga yang bersepeda dari Poltanngan Pasar Minggu ke Jl. Gajahmada, mampir beli tongseng kambing dulu. Samapi dengan jam 13:00 bekerja di VQ dan sayangnya pas siap berangkat ke Kemenkeu, eh hujan deras sekali. terpaksa naik Blue Bird ke L:apangan Banteng (kena Rp. 40 ribu, bayar 50 ribu ajah …yang penting sampai tempat tepat waktu).

Usai meeting di LPDP Kemenkeu, shalat Ashar dulu di lantai 2 (lantai yangs ama dengan LPDP) dan setelah itu keluar gedung sudah terang, tidak lagi hujan. Oh ya, sepeda saya titipkan di security lantai lobby. Alhamdulillah ramah dan aman orangnya. Gowes ke Bappenas pun nikmat karena jalanan basah setelah hujan. ketika melintas di Jl. Teuku Umar, saya sempat foto jalan yang asri. Meeting di Bappenas tepatnya di gedunng Madiun. Sepeda saya titipkan (tanpa dikunci) ke Satpam di bawah, gedung Madiun. Mantab.

Jam 17:00 selesai meeting di Bappenas dan langsung genjot sepeda menuju Perpusnas di Jl, medan merdeka Selatan. Sebenernya inis seperti bolak balik karena sebelumnya dari arah sini. Tapi ya gimana lagi wong jadwal meetingnya seperti ini. Jalanan setelah jl. Cut Mutia, tepatnya di menteng sebelum Tugu Tani macet sekali bahkan orang jalan pun ikut macet. Namun masih lebih baik pakai sepeda karena fleksibel. Sebelum sampai di Perpusnas pas di depan Kedubes AS hujan mulai turun lagi … tapi karena nanggung, saya hantam kromo …bablas gowes tanpa pakai jas hujan. Untung gak membesar hujannya dan tiba di lantai 18 Perpusnas tepat pukul 17:25 , lebih awal dari ilmuwan (Profesor) yang akan saya temui. Alhamdulillah …. Meeting dimulai pukul 17:40 (duh sebentar lagi Maghrib) dan berakhir 18:40. Langsung Maghrib di lantai 18.

Dari Perpusnas, target selanjutnya adalah shalat isya di Masjid Al Hikmah, Sarinah. In syaa Allah keburu Isya berjamaah di situ. Ternyata sampai di masjid sekitar 3 menit sebelum adzan Isya. Alhamdulillah …. Setelah Isya sekitar 19:45 berangkat pulang ….. Duh nikmat sekali rasanya karena hari ini banyak target tercapai dan sebagian besar ditempuh dengan gowes. Kalau gak gowes, pasti telat dah!

Makanya … gowes yuk!

Read Full Post »

Older Posts »