Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Religion’ Category

Khutbah Jumat di Masjid Jami Nurul Ikhlas, 16 Feb 2018

Rabbul izzati
Khatib badal

Keimanan dan takwa adalah bekal kita untuk hidup di akhirat kelak. Rasul mendambakan agar umatnya kelak menjadi orang yg bertakwa.
Kehadiran Rasul menyempurnakan akhlak kita. Rasul sangat berkeinginan berat agar semua umatnya menjadi orang beriman dan bertakwa.
Fasilitas dalam ketakwaan begitu banyak di akhirat maupun dunia. Adapun tiga fasilitas di dunia saja mencakup tiga hal:

1. Siapa saja mau bertakwa sesuai kemampuan masing2 , tidak dibebankan yang berat, Allah memberikan solusi dalam setiap permasalahan di dunia.

2. Allah akan melimpahkan ilmu bagi mereka yang bertakwa.

3. Menjadi orang2 yang muttaqin.
Jika kalian takwa Allah Taala akan berikan al furqon, bisa membedakan yang baik dan buruk, Allah ampuni kesalahan, dosa2 yang lalu maupun yang akan datang.

Itulah fasilitas di dunia yang Allah pasti berikan, belum nanti di akhirat.

Advertisements

Read Full Post »

Nasehat ini bagus sekali terutama buat saya yang kadang lupa akan hal ini padahal penting sekali. Ajal tak menunggu taubat kita. Perbanyak taubat agar kita siap bila ajal tiba.

Read Full Post »

Khutbah Jumat
Masjid Baitut Thalibin, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, 2 Februari 2018.

Imam mengawali khutbah dengan melafadzkan Qs 28:77 al Qasas:

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Bagaimana seorang muslim memandang dunia yang sementara, akhirat sebagai tujuan akhir? Orang sekuler beranggapan bahwa agama hanya pada posisi individu, tak boleh dibawa ke birokrasi pemerintahan, pasar, urusan politik, kebudayaan dan lainnya.
Pandangan orang materialistik, time is money.
Sistem ribawi, misalnya,
Bahkan persoalan waktu maka menghasilkan uang.
Orang atheis, berpikiran bahwa segala cara agar menghasilkan sesuatu dan uang.

Sementara itu ada 4 cara muslim memandang dunia.

1. Carilah apa saja di dunia tapi tujuan akhirnya akhirat, yaitu kehidupan yang ada awalnya namun tak ada ujungnya.
Akhirat tempat mendapat balasan dari Allah. Dunia buat beramal. Wama yamal misqola….syaroi yaroh….
Rugi bila terperdaya materi.
Kita yakin akhirat tujuan kita. Visi hidup muslim luar biasa karena melampaui umurnya.
(Konosuke Matshusita membuat business plan untuk 300 tahun ke depan. Muslim lebih lama lagi).
Konsep zuhud: memanfaatkan kehidupan dunia untuk akhirat.

2. Dunia sebagai sarana, bekerja dengan baik. Allah mencintai orang yg bekerja maksimal.
Orang terbaik. Umat Islam jangan lari dari dunia. Harus menguasai ekonomi dan politik.
9 dari 10 sahabat nabi yg dijamin masuk surga adalah orang kaya, misalnya: Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan

3. Berbuat baiklah. Jadilah produsen kebaikan. Ibadah untuk Allag bukan untuk manusia.

4. Tidak boleh berbuat dosa. Segala macam bentuk kerusakan harus kita hindari. LGBT misalnya. Keras sekali ancaman Allah dalam hal ini.
Menghancurkan keluarga dan nilai2 keluarga itu sendiri.

Mudah2an Allah memberikan taufik dan hidayahNya untuk kita semua, bangsa ini.

Read Full Post »

“Be The Winning Father” – sebuah kajian yang sangat menyentuh, dibuka dengan nasehat seorang ayah untuk mentauhidkan Allah: “Wahai anakku… Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah” yang dinukil dari surat Lukman di Al Quran. Sungguh, ini adalah kajian yang menyentuh hati. Andaikan tidak menangis, mungkin hati kita sudah keras? Astaghfirullah… Wa ‘atubu ilaih….

Read Full Post »

Catatan Kajian Road 2 Jannah #12, Panti Sayap Ibu, 21 Januari 2018

Ustadz Subhan Bawazier

Kajian Road 2 Jannah (R2J) kali ini dilaksanakan di tempat yang berbeda dari kajian-kajian sebelumnya yang umumnya di kafe-kafe tempat komunitas berkumpul. Atas perencanaan dan pertimbangan bersama Tim R2J dalam rapat sebelumnya yang digelar di Fri3nds Co Cafe disepakati bahwa kali ini diselenggarakan di panti asuhan anak yatim, cacat dan terlantar yakni Panti Sayap Ibu Bintaro.

img-20180121-wa0010873999406.jpg

Catatan dari kajian Ustadz Subhan Bawazier:

Kita tak bisa memilih takdir. Anak adik saya merupakan anak berkebutuhan khusus. Perjuangan luar biasa dan berat telah dilakukan adik saya untuk membesarkan si anak. Banyak pengorbanan telah dilakukan dan kita tak bisa tahu takdir kita. Adanya anak berkebutuhan khusus pun juga merupakan bentuk kesempurnaan Allah Taala. Siapa yang bisa menyangka bahwa anak adik saya tersebut mengenyam pendidikan S2 di malaysia saat ini. Maasya Allah.

Jangan sampai kita futur nikmat terhadap apapun yang Allah berikan kepada kita. Kita tak pernah tahu karena ilmu Allah begitu luasnya. Kita jangan berpikir bahwa itu sebagai adzab tapi kenapa kita tak berpikir bahwa itu bentuk dari nikmat yang Allah berikan ke kita. Apapun kondisinya mereka adalah bagian dari saudara kita di negeri ini. Cintailah anak. Jangan sampai apa yang kita buat hari ini menjadi sumber kehancuran bagi anak kita kelak. Pahami iman dengan baik dan buatlah amal soleh. Amalan yang benar adalah buat kebaikan yang akan datang.

Al Quran tak menguraikan detil dari kekurangsempurnaan dari ciptaanNya. Ini sekaligus memberikan pelajaran ke kita bahwa apapun kondisinya itu memang sudah menjadi satu kesatuan dari bagian kehidupan kita. Mungkin dengan adanya anak berkebutuhan khusus Allah ingin menunjukkan bahwa dalam kondisi seperti ini mereka diberi kesempatan khusus untuk bisa setiap saat berinteraksi dengan Al Quran, selalu mendirikan tahajud di malam hari. Dan ini sering kita dengar.

Sikap menghadapi ujian:

1.) Sadar bahwa hidup ini adalah duka nestapa, melelahkan — seperti terkandung di Al Quran surat Al Balad. Jangan menganggap hidup ini tanpa masalah. Kalau ada yang mengatakan bahwa hidupnya tidak menghadapi masalah, hati-hati. Karena pada dasarnya kita ini hidup dengan masalah. Siapapun pernah mengalami ujian tentang anak.

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Waktu yang tak tergolong sebentar bahkan lama sekali. Adakah anaknya mengikuti dakwah beliau? Tidak.

Paman Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berbuat baik kepada nabi pun juga tidak mengikuti dakwah beliau. Sampai Abubakar menangis ketika melihat ayahnya mencium tangan Rasul ketika memeluk Islam. Nabi bertanya: mengapa engkau menangis? Ya, Rasul …rasanya lebih indah melihat paman Anda masuk Islam daripada melihat ayah saya. Saking sedihnya ABubakar melihat kenyataan paman Rasul tidak mau masuk Islam.

2.) Pentingnya mengenal Allah. Jangan pernah menghujat atau mengumpat ke Allah. Kalau ujungnya tak baik, itu namanya ujian. Allah yang membawa hidup kita. Allah tak berbuat dzalim ke kita. USB menukil Al Quran surah Fussilat ayat 23 (?): Dan itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Tuhanmu(dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang rugi.

Sedangkan Allah berfirman bahwa “Aku menurut sangkaan hambaku”. Dari anak yang kita anggap tak sempurna selalu ada hikmah. Pada awalnya mungkin kita merasa malu memiliki anak seperti ini. Malu kalau diajak kondangan, bikin keributan dan sebagainya …

La yukalifullahu nafsan ila wus’aha ….

Allah telah tulis takdir kita. Kalau kita berdoa, mintalah yang dibutuhkan bukan yang diinginkan.

LGBT adalah bencana. Kita telah tahu betapa Allah muka dan semua pelaku di suatu zaman itu semuanya mati konyol. Bumi ini milik Allah.

Kisah sahabat yang terbunuh di perang Uhud, mati syahid, terpanah. Ibunya mendekati mayitnya dan mengatakan “tunggulah aku di pintu surga, nak”. Ketika mau dikuburkan oleh sahabat ternyata diketahui bahwa di perutnya diikat begitu banyak batu untuk menahan lapar. Dia telah berperang dengan menahan lapar. Jangan menyangka bahwa berbuat baik itu enak, karena keadaan bisa terbunuh, tercincang, terpanah.

Kuncinya sabar dan iman. Besarya pahal sebesar ujian kita lakoni. Hidup ini adalah masalah; makanya harus bersyukur dan bersabar.

Jadilah orang yang sempurna. Bayangkan berdakwah di sekitar tumpukan sampah. Kalau kita melihat kekurangan terus mana bisa kita menyempurnakan sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah. Kalau kita gak bisa atau belum bisa hafal Quran, wakafkan Quran dan yang Anda wakafkan itu bisa membuat orang menjadi hafal Al Quran. Saya sendiri tidak punya rumah. Tidak masalah. Setiap saat ada perluasan pondok ya gak masalah saya pindah ke belakang.

Adakan kehendak baik melalui hikmah. Jangan sembunyikan karena Allah menghendaki kebaikan.


Catatan dari Tanya-jawab:

  • Cara membangunkan anak untuk shalat Subuh: dengan jalan mengajak tidur jangan terlalu malam karena malam sebenarnya untuk istirahat dan ibadah. Biasakan mati lampu sebelum terlalu malam sehingga menimbulkan suasana istirahat.
  • Kalau saya disuguhi kopi Starbucks saya tetap minum kopinya, tidak masalah. Namun kalau saya diajak bertemu di Starbucks atau beli kopi di situ jelas saya hindari karena mereka mendukung LGBT secara resmi. Ini bahaya sekali karena LGBT dilaknat Allah. Tarik dulu pernyataan itu, baru saya mau beli kopi di situ. SPBU saya juga utamakan beli dari Pertamina yang milik bangsa ini.

Allahua’lam bi shawab


Poster kajian:
26231266_1970633573259285_3690837859374227739_n

Read Full Post »

90 Seruan Ilahi dalam Al-Quran

Seruan #13: Perintah Untuk Tetap Bertakwa Kepada Allah

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

QS Ali Imran ayat 102

Seruan #13 Perintah utk Tetap Bertakwa

— Tafsir Ibnu Katsir —

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sufyan dan Syu’bah, dari Zubaid Al-Yami, dari Murrah, dari Abdullah ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna firman-Nya: Bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.(Ali Imran: 102 ) Yaitu dengan taat kepada-Nya dan tidak maksiat terhadapnya, selalu mengingat-Nya dan tidak lupa kepada-Nya, selalu bersyukur kepada-Nya dan tidak ingkar terhadap nikmat-Nya.
Sanad asar ini sahih lagi mauquf. Ibnu Abu Hatim mengikutkan sesudah Murrah (yaitu Amr ibnu Maimun), dari Ibnu Mas’ud.
Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui hadis Yunus ibnu Abdul A’la, dari Ibnu Wahb, dari Sufyan As-Sauri, dari Zubaid, dari Murrah, dari Abdullah Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya (Ali Imran: 102), —lalu beliau bersabda menafsirkannya— hendaknya Allah ditaati, tidak boleh durhaka kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya dan jangan ingkar kepada (nikmat)-Nya, dan selalu ingat kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Mis’ar, dari Zubaid, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ (yakni sampai kepada Rasulullah Saw.). Kemudian Imam Hakim menuturkan hadis ini, lalu berkata, “Predikat hadis sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.” Demikianlah menurut penilaian Imam Hakim. Tetapi menurut pendapat yang kuat, predikatnya adalah mauquf (hanya sampai pada Ibnu Mas’ud saja).
lbnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan hal yang semisal dari Murrah Al-Hamdani, Ar-Rab’i ibnu Khaisam, Amr ibnu Maimun, Ibrahim An-Nakha’i, Tawus, Al-Hasan, Qatadah, Abu Sinan, dan As-Saddi.
Telah diriwayatkan pula dari sahabat Anas; ia pernah mengatakan bahwa seorang hamba masih belum dikatakan benar-benar bertakwa kepada Allah sebelum mengekang (memelihara) lisannya.
Sa’id ibnu Jubair, Abul Aliyah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, Zaid ibnu Aslam, As-Saddi, dan lain-lainnya berpendapat bahwa ayat ini (Ali Imran: 102) telah dimansukh oleh firman-Nya:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian. (At-Taghabun: 16)
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. (Ali Imran: 102) Bahwa ayat ini tidak dimansukh, dan yang dimaksud dengan haqqa luqatih ialah berjihadlah kalian di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad demi membela agama Allah, dan janganlah kalian enggan demi membela Allah hanya karena celaan orang-orang yang mencela; tegakkanlah keadilan, sekalipun terhadap diri kalian dan orang-orang tua kalian serta anak-anak kalian sendiri.
*******************
Firman Allah Swt.:
وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)
Artinya, peliharalah Islam dalam diri kalian sewaktu kalian sehat dan sejahtera agar kalian nanti mati dalam keadaan beragama Islam, karena sesungguhnya sifat dermawan itu terbina dalam diri seseorang berkat kebiasaannya dalam berderma. Barang siapa yang hidup menjalani suatu hal, maka ia pasti mati dalam keadaan berpegang kepada hal itu; dan barang siapa yang mati dalam keadaan berpegang kepada suatu hal, maka kelak ia dibangkitkan dalam keadaan tersebut. Kami berlindung kepada Allah dari kebalikan hal tersebut.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا رَوْح، حَدَّثَنَا شُعْبة قَالَ: سمعتُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ، وابنُ عَبَّاسٍ جَالِسٌ مَعَهُ مِحْجَن، فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} وَلَوْ أنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ لأمَرّتْ عَلَى أهْلِ الأرْضِ عِيشَتَهُمْ فَكَيْفَ بِمَنْ لَيْسَ لَهُ طَعَامٌ إِلَّا الزَّقُّومُ”.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, bahwa Sulaiman pernah mengatakan dari Mujahid, “Sesungguhnya ketika orang-orang sedang melakukan tawaf di Baitullah dan Ibnu Abbas sedang duduk berpegang kepada tongkatnya, lalu ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda seraya membacakan firman-Nya: ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam’ (Ali Imran: 102). Seandainya setetes dari zaqqum (makanan ahli neraka) dijatuhkan ke dunia ini, niscaya tetesan zaqqum itu akan merusak semua makanan penduduk dunia. Maka bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai makanan lain kecuali hanya zaqqum (yakni ahli neraka) .”
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, Imam Nasai, Imam Ibnu Majah, dan Imam Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya; serta Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui jalur Syu’bah dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi mengatakan hadis ini hasan sahih. Imam Hakim mengatakan sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkan hadis ini.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْب، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ رَبِّ الْكَعْبَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ أَحَبَّ أنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّار وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ، فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ، وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، ويَأْتِي إلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أنْ يُؤتَى إلَيْهِ ”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Zaid ibnu Wahb, dari Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka’bah, dari Abdullah ibnu Amr yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang suka bila dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah di saat kematian menyusulnya ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hendaklah ia memberikan kepada orang lain apa yang ia sukai bila diberikan kepada dirinya sendiri.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يَقُولُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلَاثٍ: “لَا يَمُوتَنَّ أحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ”.
Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir yang menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda tiga hari sebelum wafat, yaitu: Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian meninggal dunia melainkan ia dalam keadaan berbaik prasangka kepada Allah Swt.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur Al-A’masy dengan lafaz yang sama.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعة، حَدَّثَنَا [أَبُو] يُونُسَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “إنَّ اللهَ قَالَ: أنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فإنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإنْ ظَنَّ شَرا فَلَهُ ”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah telah berfirman, “Aku mengikuti prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku. Maka jika dia menyangka balk kepada-Ku, itulah yang didapatinya. Dan jika dia berprasangka buruk terhadap-Ku, maka itulah yang didapatinya.”
Asal hadis ini ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur lain dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“يَقُولُ اللهُ [عَزَّ وَجَلَّ] أنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي”
Allah berfirman, “Aku menuruti prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku.”
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ القُرَشي، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ ثَابِتٍ -وَأَحْسَبُهُ-عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ مَرِيضًا، فَجَاءَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعودُه، فَوَافَقَهُ فِي السُّوقِ فسلَّم عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ: “كَيْفَ أنْتَ يَا فُلانُ؟ ” قَالَ بِخَيْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أرجو الله أخاف ذُنُوبِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أعْطَاهُ اللهُ مَا يَرْجُو وآمَنَهُ ممَّا يَخَافُ”.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Malik Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, dari Sabit —menurut dugaanku dari Anas— yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Ansar mengalami sakit, maka Nabi Saw. datang menjenguknya. Dan di lain waktu Nabi Saw. bersua dengannya di pasar, lalu beliau mengucapkan salam kepadanya dan bertanya kepadanya, “Bagaimanakah keadaanmu, hai Fulan?” Lelaki itu menjawab, “Dalam keadaan baik, wahai Rasulullah. Aku berharap kepada Allah, tetapi aku takut akan dosa-dosaku.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: Tidak sekali-kali berkumpul di dalam kalbu seorang hamba yang dalam keadaan seperti ini (yakni sakit), melainkan Allah memberinya apa yang diharapkannya, dan mengamankannya dari apa yang dikhawatirkannya.
Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa kami tidak mengetahui perawi yang meriwayatkannya dari Sabit selain Ja’far ibnu Sulaiman. Demikian pula Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dari hadisnya. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib. Hal yang sama diriwayatkan oleh sebagian mereka (para perawi) dari Sabit secara mursal.
Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad seperti berikut: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Yusuf ibnu Mahik, dari Hakim ibnu Hizam yang menceritakan: Aku telah berbaiat (berjanji setia) kepada Rasulullah Saw. bahwa aku tidak akan mundur kecuali dalam keadaan berdiri.
Imam Nasai meriwayatkannya di dalam kitab sunannya dari Ismail ibnu Mas’ud, dari Khalid ibnul Haris, dari Syu’bah dengan lafaz yang sama; dan ia mengategorikannya ke dalam Bab “Cara Menyungkur untuk Bersujud”, lalu ia mengetengahkannya dengan lafaz yang semisal.
Menurut suatu pendapat, makna hadis di atas ialah bahwa aku tidak akan mati kecuali dalam keadaan sebagai orang muslim.
Menurut pendapat yang lain lagi, makna yang dimaksud ialah bahwa aku tidak sekali-kali berperang (berjihad) melainkan dalam keadaan menghadap (maju), bukan membelakangi (mundur/lari). Pengertian ini merujuk kepada makna yang pertama.
*******************

 

Read Full Post »

90 Seruan Ilahi dalam Al-Quran

Seruan #12: Peringatan keras untuk tidak taat kepada sebagian ahlul-kitab agar tidak merusak keagamaan seorang mukmin

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman. Bagaimanakah kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

QS Ali Imran ayat 100-101

Seruan #12 Tidak Taat kpd Ahlul Kitab.png
— Tafsir Ibnu Katsir —

Allah Swt. memperingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar jangan sampai taat kepada kemauan segolongan Ahli Kitab yang selalu dengki terhadap kaum mukmin, karena kaum mukmin telah mendapat anugerah dari Allah berkat kemurahan-Nya, dan telah mengutus Rasul-Nya kepada mereka. Dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran seielah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. (Al-Baqarah: 109)
Sedangkan di dalam ayat ini disebutkan:

{إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ}

jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir sesudah kalian beriman. (Ali Imran: 100)
Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ}

Bagaimanakah kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (Ali Imran: 101)
Yakni kekafiran sangat jauh dari kalian dan semoga Allah menjauhkan kalian darinya. Karena sesungguhnya ayat-ayat Allah terus-menerus diturunkan kepada Rasul-Nya malam dan siang hari, sedangkan beliau Saw. membacakannya kepada kalian dan menyampaikannya. Makna ayat ini sama dengan ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

وَما لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan mengapa kalian tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kalian supaya kalian beriman kepada Tuhan kalian. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjian kalian jika kalian adalah orang-orang yang beriman. (Al-Hadid: 8)
Juga sama dengan makna yang terkandung di dalam sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya di suatu hari:

«أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟» قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ. قَالَ: «وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ» ؟ وَذَكَرُوا الْأَنْبِيَاءَ، قَالَ «وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟» قَالُوا: فَنَحْنُ. قَالَ «وَكَيْفَ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟» قَالُوا: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْجَبُ إِيمَانًا؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَجِيئُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يَجِدُونَ صُحُفًا يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا»

“Orang mukmin manakah yang paling kalian kagumi keimanannya?” Mereka menjawab, “Para malaikat.” Nabi Saw bersabda, “Mengapa mereka tidak beriman, padahal wahyu selalu diturunkan kepada mereka.” Mereka berkata, “Kalau demikian, kamilah.” Nabi Saw. bersabda, “Mengapa kalian tidak beriman, padahal aku berada di antara kalian.” Mereka bertanya, “Maka siapakah yang paling dikagumi keimanannya, kalau demikian?” Nabi Saw. menjawab, “Suatu kaum yang datang sesudah kalian. Mereka menjumpai lembaran-lembaran (Al-Qur’an), lalu mereka beriman kepada apa yang terkandung di dalamnya.”
Kami mengetengahkan sanad hadis ini dan juga keterangan mengenainya pada permulaan syarah Imam Bukhari.

*******************

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar. (Ali Imran: 101)
Yakni selain dari itu berpegang teguh kepada agama Allah dan bertawakal kepada-Nya menipakan sumber hidayah dan sekaligus sebagai penangkal dari kesesatan, sebagai sarana untuk mendapat bimbingan, beroleh jalan yang lurus, dan mencapai cita-cita yang didambakan.

Read Full Post »

Older Posts »