Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Religion’ Category

Dari WAG Taklim ITB:

Sumber: KLIK

Sepeninggal 100 orang muslim yang hijrah ke Habasyah, Nabi Muhammad SAW dan pengikutinya terus berdakwah di Makkah. Suatu hari, di bulan Ramadan Rasulullah pergi ke masjid Al Haram. Di sana, sedang berkumpul para pembesar kaum Quraisy.

Tiba-tiba, Rasulullah berdiri di tengah-tengah mereka. Para pembesar Quarisy terperanjat. Mereka tak menduga Muhammad berani melakukan itu. Belum habis keterkejutan mereka, Rasulullah membuka mulutnya melantunkan surat an Najm. Ini kali pertama kaum musyrik mendengarkan ayat Al Qur’an.

Bacaan surat tersebut benar-benar indah, agung dan menawan tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Para pembesar Quraisy yang mendengarnya tertegun, diam seribu bahasa. Bibir mereka kelu. Lidah mereka kaku. Kepala mereka tertunduk. Keangkuhan mereka sirna seketika. Dinding telinga mereka yang selama ini tertutup rapat, tiba-tiba seolah-olah terkuak lebar.

Mereka hanyut dalam irama lantunan ayat Al Qur’an. Tanpa mereka sadari, Rasulullah telah sampai pada ayat terakhir. Bunyi ayat itu kian membuat jiwa dan hati mereka membubung tinggi ke angkasa luas tak bertepi.
*_”Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia”. (QS an Najm [53]: 62)._*

Setelah mengucapkan ayat itu, Rasulullah kemudian bersujud. Melihat hal itu mereka pun bersujud, mencium tanah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu menahan diri untuk tidak ikut bersujud. Mereka semua bersujud bersama Nabi SAW. (HR Bukhari).

Advertisements

Read Full Post »

Belum juga mereda pemberitaan pengeboman tiga gereja di Surabaya pada Ahad (13/05) hari ini, Senin (14/05) kita dikejutkan lagi dengan pengeboman di kantor Polwiltabes Surabaya pada pagi hari. Dua peristiwa tersebut saya tahunya telat karena dua-duanya hanya saya ketahui pada sore harinya karena pada pagi hari saya tak membuka media sosial.

Serangkaian komentar bermunculan disana-sini terkait peristiwa biadab dengan cara bom bunuh-diri ini. Bagi saya pribadi, sebenernya saya masih belum habis pikir dengan mencoba mereka-reka kejadian pertama dimana pelakuknya adalah satu keluarga: suami-istri dan 4 orang anaknya (2 laki-laki dan 2 perempuan) dimana semuanya tewas selain juga menewaskan orang lain. Saya tak habis pikir, dimana letak hati-nurani Dita (sang ayah) yang dengan teganya mengajak istri dan empat orang anaknya melakukan bunuh-diri dan sekaligus membunuh orang lain. Pikiran saya berkecamuk terus-menerus tanpa hentinya dan tanpa ada maksud untuk membuat situasi semakin semrawut dengan komentar yang berseliweran.

Pemahaman Bengkok

Dari data yang dilansir oleh Polisi maupun tetangga pelaku pemboman, bisa dipastikan keluarga ini beragama Islam atau mengaku beragama Islam karena sang ayah sering kelihatan shalat berjamaah di masjid. Artinya, secara lahir terlihat bahwa keluarga ini penganut agama Islam. Dari sini sebenarnya sudah ada dua kemungkinan:

  • Pada dasarnya keluarga ini (terutama sang ayah) tidak beragama dan menggunakan kedok Islam sebagai agama yang dianut dan secara demonstratif menunjukkan seolah merupakan keluarga soleh. Bukan tidak mungkin bahkan Dita ini telah lama membenci Islam sehingga dengan bom bunuh diri ia ingin menunjukkan bahwa Islam itu radikal; atau
  • Mereka memang beragama Islam namun dengan pemahaman yang bengkok, tidak mengikuti ajaran rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal sudah tegak hujjah bahwa ajaran Islam yang lurus adalah qala Allah (apa kata Allah), qala Rasul (apa kata Rasul) dan qala sahabah (dengan pemahaman sahabat atau salafush shalih). Bila ia berguru pada orang-orang yang mengingkari pemahaman Al Quran dan Hadits selain dari yang dipahami para sahabat rasul, maka sudah jelas pemahamannya bengkok.

Sebagai manusia kita tak pernah tahu isi hati orang lain sehingga untuk kemungkinan pertama bahwa Dita tak beragama tak bisa kita katakan seperti itu karena secara dhohir memang dia dan keluarganya adalah muslim. Hanya Allah yang tahu isi hati mereka.

Mengapa dalam mempelajari Islam perlu dengan pemahaman sahabat? Hal ini karena para sahabat menafsirkan setiap perintah dan larangan Allah taala bukan menyandarkan pada syahwat mereka atau menuruti apa yang mereka mau namun benar-benar memahami sepenuhnya tafsir dari Al Quran yang mengurai jelas maksud setiap ayat. Tidak bisa kita membuat pemahaman sendiri dari setiap ayat dari Al Quran tanpa pemahaman sepenuhnya mengapa ayat tersebut turun dan apa makna yang terkandung di dalamnya. Demikian halnya dengan Hadits yang merupakan kumpulan perkataan dan tindakan rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, harus dipahami dengan pemahaman sahabat bukan dengan syahwat kita masing-masing. Yang dicari adalah kebenaran bukan pembenaran.

Bila belajar Islam dengan pemahaman sendiri tanpa melihat pemahaman sahabat, akhirnya pemaknaan setiap perintah dan larangan Allah hanya berdasarkan syahwat atau kemauan-diri belaka yang kemudian berujung pada pembenaran. Dalam kasus bom bunuh diri ini sudah pasti terjadi pembenaran bahwa jihad bisa dilakukan dalam situasi damai seperti saat ini di negeri kita. Jangankan pada situasi damai, pada saat berperangpun kala itu Rasul melarang pasukan muslim membunuh wanita, orang tua, anak-anak, tempat ibadah (gereja dan sinagog) bahkan tak boleh membunuh hewan dan tumbuhan. Artinya, tak ada dasar sama sekali melakukan pembunuhan (apalagi melalui proses bunuh-diri) terhadap orang lain apapun agamanya. Dita dan keluarganya (tentu juga jaringannya) jelas berpaham bengkok, menafsirkan perintah Allah berdasarkan kemauan mereka sendiri tanpa dalil syarii. Ini yang menyedihkan sekali.

Read Full Post »

Ringkasan dari Tabligh Akbar bersama Ustadz Dr. Khalid Basalamah (12 Mei 2018). Sahabat yang luar biasa, berdialog dengan Allah tanpa hijab (tabir). Maasya Allah!

Abdullah bin Amr

Read Full Post »

Read Full Post »

152333176228549_300x430

THE POWER OF LOVE – The Movie | Nobar hari pertama pemutaran (9 Mei 2018). Whoooaaa… Keren film ini dan wajib tonton. Banyak segmen cakeb yang bener2 membuat tak kuasa membendung air-mata karena memang saya tak pernah tahu sebelumnya plotting ceritanya. Tadinya saya pikir ini sekedar film dokumenter. Tapi ternyata ada story-line nya yang keren bahkan diselipin segmen2 jenaka yang sungguh sangat menghibur. Pesan dakwah yang disampaikan pun tampil elegan dan tak terkesan menggurui. Pengamatan saya (yang udah lama gak nonton bioskop) :

1.) Sutradaranya elegan banget karena tak menguraikan “siapa” penista agama dan tidak ada satupun yel2 yang menuntut turunnya sang penista dari jabatan. Yang ada hanya takbir tanpa ada protes kepada pemerintah atau siapapun. Yang jelas, pesan yang disampaikan adalah adanya kecintaan kepada Allah Tabaroka Wa Taala dan Al Quran. Keren dah!

2.) Segmen saat Rahmat pulang kampung melayat ibunya yang wafat, ada anak kecil membaca surah Ali Imran sungguh menguras air mata karena pesannya jelas: kita senua pasti akan mati. Syahdu sekali di bagian ini. Maasya Allah.

3.) Dialog sengit di tengah Aksi 212 antara Rahmat dan abahnya sungguh indah dan penuh makna karena sepanjang film, penonton tidak tahu mengapa Rahmat yang lulusan Harvard tidak menyukai abahnya. Keren dan menguras air mata dialog ini.

4.) Kisah long march pasukan Allah dari Ciamis sungguh mengharukan tanpa ada aksi demonstratif, misalnya tereak2 atau sebagainya. Salut buat sutradara yang sanggup menyajikan kisah heroik ini secara proporsional bahkan mungkin mestinya bisa didramatisir lebih gila lagi. Tapi justru secara elegan Sutradara lebih menekankan pada kegigihan seorang anak (Rahmat) yg mencoba merayu abahnya untuk tidak ikut long march.

Masih banyak segmen lainnya yang mengharukan.

Wajib nonton!

IMG_20180509_184451

Dialog keren antara anak dan abahnya, berkisah tentang latar-belakang masing-masing. Segmen yang keren!

IMG20180509162623

Shalat berjamaah pasukan Ciamis dalam perjalanan long-march ke Jakarta.

Read Full Post »

Palembang Trip

Ini adalah kisah perjalanan ringkas ke Palembang tanggal 5-6 mei 2018 kemarin:

Palembang Trip 5May2018

Alasan utama melakukan perjalanan ini adalah karena rekan kuliah saya di Bandung dulu, Reza Esfan, mantu putri keduanya (Fazza) yang dinikahi oleh Gerry di Gedung Pusri, Sabtu, 5 Mei 2018. Saya dan istri berangkat dari rumah pukul 7:00 menuju bandara Soekarno Hatta terminal 1C, Batik Air. Antrian di bandara luar biasa sesaknya karena banyaknya penumpang Batik Air ke berbagai jurusan. Ketika memasuki area Terminal 1C sebenarnya saya melihat counter Self Check-In. Karena merasa sudah web check-in, maka saya tidak antri. Namun saya ragu dan bertanya kepada petugas. Ternyata harus tetap check-in sendiri agar mendapatkan boarding pass yang hard copy. Terpaksa keluar bandara dan mencoba self check-in. Ah …ternyata sudah ditutup karena sudah kurang dari 1 jam sebelum boarding. Terpaksa masuk lagi dan ikut antrian. Alhamdulillah, setelah bertanya, ternyata ada antrian khusus tanpa bagasi. Aman. Petugas Batik yang melayani pagi tersebut bermuka tegang semua, tanpa ada wajah keramahan sama sekali. Mungkin mereka lelah menghadapi sesaknya penumpang. Sebenarnya aneh juga, sudah web check-in namun masih harus lapor di counter atau self check-in di layar satu jam sebelum boarding. Saya sudah tanya apa bisa tanpa print boarding pass, tetap jawabannya harus di print. Aduh …. hare geneee ….bukannya menghemat kertas dan ramah lingkungan ya kalau tanpa print? Aneh.

Pada saat masuk ruang tunggu C7 sudah ada teman2 saya: Untung dan istri, Erwin dan istri dan Iqbal. Kami satu pesawat menuju Palembang. Mendarat di Palembang tepat 9:35 sesuai jadwal. Setelah menunggu sekitar 15 menit, sebuah mobil HiAce yang terlihat masih baru (produksi 2017)menjemput kami dan kami segera meluncur ke Palembang dengan singgah di Museum Balaputradewa, untuk kemudian berhenti makan siang di Rumah Makan Pindang Musi Rawas (PMR) pada sekitar pukul 11:22.

Setiap ke Palembang memang saya selalu mampir ke RM PMR. Terakhir saya ke sini juga pada saat pernikahan putri nya Reza Esfan yang pertama, pada Februari 2015 atau sudah 3 tahun lalu. RM ini ternyata menjadi luas sekali dan ada ruang khusus dengan AC yang pada saat lalu masih belum ada. Saya memesan pindang kepala patin sedangkan istri saya memilih badan. Sebenarnya RM ini menyediakan juga ikan belida dengan harga Rp. 160 ribu per porsi (setengah badan ikan), 4x lipat dari harga ikan patin yang hanya Rp. 40 ribu. Rupanya ikan Belida sudah langka, makanya harga mahal sekali. Namun, RM memang terkenal dengan ikan patin nya, makanya kami semua memilih makan patin. Tak hanya ikan patin yang enak, ikan teri nya pun enak sekali karena empuk dan tidak terlalu asin. Sambalnya tak ada yang pedas sehingga banyak yang menikmati hidangan ini.

Setelah puas menyantap makanan yang dihidangkan, kami berjumpa (tanpa ada rencana) dengan ustadz Al-Habsy. Kontan temen kami, Erwin, segera minta foto bersama. Selama 1 menit pertemuan tersebut al ustadz menyampaikan tausiyah singkat:

Supaya kita nanti husnul khotimah, jangan lupa tiap bangun tidur ingat 4 hal….

1. Kebaikan apa yg belum kita lakukan selama ini
2. Keburukan apa yang belum kita tinggalkan sampai sekarang
3. Ilmu agama apa yg belum kita pelajari
4. Kepada siapa kita belum bersilaturahim

Pada saat kami sudah selesai makan, ada empat orang kawan kami yang hadir: Manto dan istri, Mirza Sukma dan Hanan Nugroho. Setelah menunggu mereka selesai makan kami lanjutkan perjalanan menuju area Asian Games di Jakabaring dengan mampir terlebih dahulu di masjid Cheng Hoo yang posisinya tak jauh dari arena Jakabaring.

 

Arena Jakabaring luas sekali dan kami menikmati jalan-jalan di Jakabaring Rowing Lake yang danaunya luas sekali.

Setelah puas dengan Jakabaring kami menuju lokasi Es Kacang Merah MAMAT yang konon kondang, meski tempatnya tak bagus. Memang esnya enak sekali.

 

Tepat jam 17:00 kami check in di ASTON Palembang dan jam 19:15 meluncur lagi ke resepsi pernikahan di Komplek PUSRI.

 

 

(akan dilanjut)

Read Full Post »

Kisah Ashabul Ukhdud

Kisah Tauhid yang luar biasa dan disebutkan di dalam Al-Quran, surat Al-Buruj 4-8.

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.

(Al-Buruj:4-8)

Ashabul Ukhdud

Read Full Post »

Older Posts »