Assalamualaikum wr wb
Topik ini telah berlalu beberapa minggu yang lalu namun isinya tak akan bisa membuat saya lupa karena tiap hari saya kepikiran terus tentang hal ini. Pertama, saya merasa berdosa dan bersalah sepanjang usia saya sampai menjelang separuh abad ini kok saya belum tahu ada istilah “rukun ibadah”. Boleh jadi selama mengikuti pelajaran maupun kajian Islam, termasuk kegiatan taklim dan liqo’ yang saya hadiri, pikiran saya tak sepenuhnya di kegiatan tersebut. Mengapa? Karena gak mungkin kalau kegiatan-kegiatan tersebut (termasuk waktu masih di bangku sekolah dan kuliah) tak pernah sedikitpun rukun ini dibahas, pasti pernah. Saya-nya aja yang ndelahom (bloon) gak mengikuti secara seksama. Saya malu kepada diri sendiri dan tentu utamanya malu kepada Allah SWT. Kemana aja kamu?
Kedua, saya terhenyak bahwa selain rukun Islam dan rukun Iman, saya harus tahu rukun ibadah juga. Kenapa? Bukankah manusia dan jin diciptakan oleh Allah hanya semata untuk beribadah? Lha, bagaimana saya bisa beribadah kalau saya ndak tahu rukunnya? Ya, secara mekanis saya bisa saja shalat rutin 5 kali sehari bahkan shalat BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu) sekalipun, tetep aja kosong rasanya tanpa pemaknaan mendalam tentang hakikat ibadah itu apa – karena shalat merupakan salah satu dari ibadah juga.
Subhanallah! Berkat kemajuan teknologi ternyata kajian yang saya dengarkan
sambil mengendarai mobil dan terkena kemacetan luar biasa sepanjang 2 jam itu ternyata direkam juga dan silakan klik di sini.
Saya cut and paste pendahuluannya:
Tema : Pelajaran Penting dari Surat Al Fatihah mengenai 3 Rukun Ibadah
pemateri : Syaikh Prof.Dr.Abdur rozzaq Bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzohumallah
Penerjemah : ustadz Firanda
Diantara faidah penting yang bisa dipetik dari surat Al Fatihah adalah bahwa surat ini mengandung 3 Rukun Ibadah hati yaitu al mahabbah(cinta), al khasyyah (takut) dan ar roja’ (rasa harap)
Para ulama telah menjelaskan bahwa setiap ibadah yang dilakukan seorang hamba harus diatas 3 rukun tersebut, mengapa hal itu bisa terjadi? dan bagaimanakah penjelasan 3 rukun tersebut ? silahkan simak kajian berikut ini
Silakan simak sendiri materinya di rekaman yang ada pada link tersebut.
Yang saya ingin berbagi di sini adalah bagaimana pemaknaannya bagi saya sesuai kapasitas saya sebagai pembelajar pemula (sungguh ilmu Allah itu begitu luas dan dalam sehingga rasanya saya tak mungkin bisa tahu semuanya …).
Dengan sederhana bisa saya simpulkan bahwa rukun ibadah mencakup tiga hal:
- Adanya RASA CINTA kepada Allah SWT
- Adanya RASA HARAP kepada Allah SWT
- Adanya RASA TAKUT kepada Allah SWT
Untuk yang pertama, rasa cinta, saya harus akui bahwa sebagai seorang manusia yang dha’if saya sering kali sulit mencapai hal ini. Ibadah yang saya lakukan lebih melihatnya sebagai suatu kewajiban alias konsekuensi logis saya sebagai seorang muslim. Karena saya memilih Islam sebagai dien yang haq, maka sewajarnya dan seharusnya saya mengikuti semua anjuran dan larangan yang digariskan Allah SWT dalam Islam. Tak ada posisi tawar bagi saya untuk hal ini. Semuanya harus sedapat mungkin saya kerjakan. Jadi kalau saya shalat, puasa, zakat (aduh jangan2 saya kelewatan bayar zakat juga!), dan ibadah lainnya lebih karena saya menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Logikanya kira-kira begini: karena saya beriman kepada Allah dan Allah mewajibkan saya untuk shalat, maka saya kerjakan shalat sebagai bentuk kepatuhan saya kepadaNya. Namun apakah saya mencintaiNya? Sering kali ini yang luput dari perhatian saya. Semoga dengan selalu menggali ilmu Islam, saya semakin tahu bagaimana saya mencintaiNya sepenuhnya.
Rasa berharap justru merupakan hal yang sering saya renungi karena dalam setiap doa saya selelu berharap terkabulnya doa-doa saya baik yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi (akhirat) karena saya yakin hanya Dia lah yang bisa memenuhi harapan saya, bukan boss saya, bukan ibu saya, bukan juga klien saya. Bisa dikatakan rasa ini yang sering muncul sehingga saya sering berkata kepada diri sendiri: kok saya egois ya? Maunya minta minta muluk ke Allah SWT. Sehingga sering saya mempertanyakan konsep keikhlasan: kalau saya beribadah dan berharap Allah memberikan sesuatu kepada saya, apa ini yang berarti saya ikhlas? Namun Alhamdulillah dengan menyimak siaran di Radio Rodja tersebut saya mendapatkan pencerahan luar biasa. Sang ustad mengatakan bahwa justru rasa harap ini harus ada. Secara ekstrim beliau mengulas bahwa bila ada yang mengatakan sebaiknya kita “jangan berharap mendapatkan sesuatu dari Allah bila kita mencintaiNya. Kerjakan secara ikhlas perintah Allah, jangan hitung-hitungan seperti hukum dagang dengan Allah ” malah merupakan pendapat atau prinsip yang salah. Sang ustad menekankan bahwa ketiga hal : cinta, harap dan takut harus ada semuanya. Artinya kita justru dianjurkan berharap banyak kepada Allah SWT dan jangan takut dibilang bahwa kita “itung-itungan” dengan Allah karena justru Allah mencintai manusia yang banyak berharap kepada Allah, termasuk taubat di dalamnya. Dari sini saya belajar bahwa setelah saya menjalankan kewajiban shalat, saya malah sianjurkan untuk meminta (berharap) banyak kepada Allah SWT. Subhanallah!
Yang ketiga, rasa takut, juga merupakan satu hal yang sering menjadi motivasi saya beribadah. Siapa tak takut neraka yang panas? Sudah disiksa hingga otak kita mendidih, namun kita tak akan pernah mati selamanya, bagaimana rasa pedihnya itu? Siapa ndak takut? saya jelas takut sekali.
Namun kalau bicara rasa takut ini, bagi saya yang paling penuh inspirasi bagi saya adalah kisah Umar bin Khathab r.a. saat beliau menjadi khalifah. Dikisahkan oleh Aslam (hamba sahaya Umar r.a.) bahwa suatu malam saat meronda dengan Aslam, Umar mendapati seorang ibu yang sedang membakar batu sementara anak-anaknya sedang menangis. Ketika ditanya Umar, ibu tersebut menjawab bahwa ia malkukan hal ini karena menghibur anak-anaknya supaya bisa tidur karena mereka kelaparan. Umar menangis melihat kondisi ini. Sebagai seorang pimpinan tertinggi dia merasa bersalah karena ada rakyatnya yang menderita hidupnya. Dia malu dan takut kepada Allah. Maka Umar bersama Aslam pulang dan kembali ke tempat ibu dengan anak-anakya tadi sambil memikul sendiri (bukan dipikul oleh Aslam, hamba sahayanya) karung berisi gandum dan makanan lainnya untuk diberikan kepada ibu tersebut. Umar sendiri yang memasak makanan tersebut dan menyajikannya kepada ibu dan anak-anaknya.
Umar begitu takut kepada Allah bila di hari pembalasan nanti ia tak bisa mempertanggung-jawabkan kepada Allah atas adanya rakyat yang miskin kelaparan. Coba bandingkan situasi ini dengan kepemimpinan modern dewasa ini – adakah pemimpin yang tingkat kepeduliannya seperti Umar?
Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat Subuh, Umar r.a. sering membaca surat Al Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itu Umar sering menangis sehingga tangisannya terdengar sampai di barisan paling belakang. Dia menangis terisak-isak hingga suaranya tak terdengar lagi ke belakang. Terkadang dalam tahajjudnya Umar r.a. membaca ayat-ayat Al Quran sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit.
Sebuah riwayat heroik sebagai referensi bagaimana rasa takut kita kepada Allah kita tunjukkan. Mampukah kita menangis murni karena takut kepada Allah SWT?
Pembelajaran
Dari topik ini saya menyimpulkan bahwa dalam beribadah kita harus memiliki ketiga hal ini sebagai suatu kesatuan: rasa cinta, rasa berharap dan rasa takut kepada Allah SWT. Ketiga hal ini harus elalu ada di setiap ibadah kita, jangan sampai menghilangkan salah satunya atau menonjolkan hanya satu hal saja. Sebuah perjalanan yang panjang bagi saya. Semoga Allah membimbing kita semua menuju iman dan taqwa sehingga setiap ibadah kita selalu meresapi tiga hal ini.
Wassalamualaikum wr wb
Gatot

Yth Mas Gatot
Sungguh indah hidup ini apa bila kita bisa menjalani semua penjelasan yang dibuat mas Gatot, yang semata bersumber dari Alquran Nur Karim, semoga kita menjadi hamba Allah Yang termasuk 3 ibadah tersebut Amin.
Kita pelajari yaaa
sobat-sobat Q,,,,,,