Di hari ahad yang cerah ini, betapa sejuk membaca lagi hadits di bawah ini. Bagi saya pribadi, hadits ini perlu dibaca
setiap hari dan direnungi kembali. Sudahkah saya benar2 Islam? Bagaimana tingkat keimanan saya? Bila bunyi adzan tiba, masihkah ada hal lain duniawi yang saya kerjakan dan menomor-duakan panggilan adzan yang sesungguhnya panggilan Allah swt untuk berjumpa denganNya di masjid? Pantas kah Allah dinomor-duakan? Kalau iya, apa makna sesungguhnya ‘La ilaha ilallah’ (Tiada Tuhan selain Allah) bagi saya? Pantaskah saya mengucapkannya kalau di saat adzan saya masih ‘nekad’ melakukan hal lain yang tak mendesak dari segi kepentingan meninggikan kalimatullah?
Semakin banyak bertanya kepada diri saya, saya semakin mempertanyakan keimanan saya …
——
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-
kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah saw. menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan. Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala:
Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka.
Link: Al-Islam
Assalamualaikum wr wb,..
Taqwa dekat sekali maknanya dengan kepatuhan,..saya sebagai orangtua dari remaja usia 12 tahun terkadang sering sekali mendapat tantangan untuk selalu berada pada koridor ” patuh ” kepada Allah,..
Karena jika sekali sekali saya lalai dari kepatuhan alias ketaqwaan, maka anak saya akan serta merta mengikuti ” ketidak patuhan ” saya.
Sebagai manusia biasa, kita sadar Allah menciptakan kita dengan segala kelebihan lengkap dengan kabel kelemahan, yang terkadang ada disconnected,..tapi itu bukanlah pembelaan, justru karna kita tahu ada kelemahan, maka sebaiknya kita juga punya penawar antisipasi jika disconnected terjadi..
Penawar saya adalah dengan memandangi jauh kedalam mata anak saya,..maka timbul rasa takut kepada Allah, thus spontanitas memupuk kekuatan untuk taqwa,,dan insyaAllah menuju kekuatan keimanan pada Allah dan mencintai Islam ..dien yang penuh kebenaran..
Wass wr wb
Wa’alaikumsalam wr wb.
Bu Nurdjanah,
Terima kasih banyak atas sharingnya mengenai melihat mata anak … Anak saya malah sudah besar2 dan lebih banyak tantangan dalam memberikan contoh akhlak yang baik. Sharing dari bu Nurdjanah menambah kekuatan saya untuk lebih dalam lagi membina iman dan taqwa di hati anak2 saya. Semoga mereka menjadi anak yang soleh dan solehah …
Wassalamualaikum wr wb.
Gatot
Assalamu’alaikum wr wb,
Amin yaa robbal ‘alamin, dan semoga anak dapat menjadi asbabul kita orang tua masuk ke dalam syurga Allah yang terindah.
Jujur,..nasehat terbaik bagi anak adalah contoh – tauladan kita. Iman bentuk kepatuhan tanpa supervisor dan Taqwa sangat erat dengan kepasrahan kepada sang Khalik..( cocok buat anak yang bertambah dewasa )
saya pun sebagai orang tua sangat butuh 2 kata kunci ini dalam meraih cinta Illahi, tapi buat memujudkan dan menpolakan ke anak ada agi : Sabar, yang tidak berujung..sebab tidak semudah menulis di kolom ini.
Khusus buat yang memiliki anak laki laki, orangtua terutama bunda haruslah kerja ekstra dalam menanmkan Iman & Taqwa, karna anak laki laki adalah calon Bapak, Imam bagi kapal keluarga yang kokoh.
Blognya bagus, saya jadi pembaca setia
Terima kasih Pak Gatot,
Wassalamu’alaikum wr wb.
Assalamu’alaikum wr wb,
Manakah yang lebih penting antara ikatan batin dengan anak atau rasa perhatian terhadap anak. Saya teringat ketika kecil hampir tidak pernah diperhatikan orang orang tua, karena orang tua tidak punya ( miskin ). Tapi ada rasa dalam dada saya, yang begitu menggebu untuk membantu meringankan beban orang tua. Untuk menjadi anak yang patuh, sebab orang tua yang sudah terlalu lelah mencari nafkah tetapi selalu kurang. itu yang membuat saya berpikir untuk merubah nasib belajar yang sungguh-sungguh agar menjadi anak yang berbakti. Sekarang anak saya ingin saya didik seperti itu tapi susahnya bukan main. Yakin dan yakin saja kepada Allah bahwa anak saya nanti menjadi anak yang sholeh.
Wa’alaikumsalam wr wb
Mas Ristiono …memang mendidik anak tidak mudah. Namun usaha kita insya Allah udah dicatat sebagai amal baik oleh malaikat bila memang kita mendidik secara benar.
Setuju dengan mas Ristiono tentang keyakinan bahwa sang anak menjadi soleh … Amin.
Wass,
Gatot