Sebagian besar orang merasa “takut” dg apa yg namanya jualan. Saya termasuk salah satunya. Ketika putri bungsu saya, Dian Widayanti, bermaksud melakukan kegiatan ini, saya salut kepadanya. Bukan apa2, dengan usianya yg relatif muda, kelas 1 SMA (baru saja naik ke kelas 2 SMA), dia sudah berani melakukan hal ini. Luar biasa! Ceritanya, unit ekskul dimana dia berkegiatan sedang berupaya melakukan pengumpulan dana guna membiayai program kegiatannya. Tidak tanggung2 targetnya; berempat dengan temen2nya Dian mentargetkan perolehan 500rb rupiah. Caranya? Mereka berjualan bunga mawar dengan menawarkan langsung ke calon pembeli di kawasan Kemang. Sebuah langkah yang berani dan saya salut mereka punya keberanian ini. Tidak masalah hasilnya, yang penting mereka melaksanakan langsung kegiatan menjual sehingga mereka belajar bahwa mencari uang memang perlu kerjka keras dan pengorbanan, termasuk tidak bermalem-mingguan. Sekitar jam 15:00 (Sabtu, 5 Juli 2008) saya drop mereka berempat di kawasan Kemang dan mereka langsung beredar menjajakan bunga. Selama di perjalanan di dalam mobil saya memberikan semangat kepada mereka agar tahan terhadap penolakan dan terus menerus menawarkan ke setiap orang yang lewat, tanpa pandang bulu.
Masalah sempat dihadapai, yaitu tiap tangkai bunga tidak dilengkapi plastik berisi air untuk menjaga kesegaran bunga. Mereka kecewa dengan abang bunga yang mensuplainya karena tidak sesuai dengan sample yang diberikan sebelumnya. Saya pun mencoba mencari plastik dan karet gelang buat dipasang di bonggol tangkai bunga. Sulit juga di Kemang mencari plastik es mambo dan karet gelang. Namun karena pertolongan Allah jualah akhirnya setelah shalat Ashar berjamaah di masjid Bangka X, saya dapat info bahwa di Bangka IX ada Toko Buyung yg berjualan secara grosir. Akhirnya saya kejar toko itu dan Alhamdulillah dapet. Dengan senang hati saya antar plastik dan karet gelang ke Dian.
Berat rasanya melihat Dian menjajakan langsung bunganya namun pada saat bersamaan saya bangga bahwa dia berani menjalaninya. Menjual memang bidang yang paling baik dalam belajar memahami hidup. Nabi Muhammad pun seorang penjual yang ulung hingga Siti Chatidjah menikmati keuntungan pada saat nabi Muhammad menjual barang dagangannya. Dengan menjual kita merasakan betapa mencari nafkah perlu usaha keras dan konsistensi. Bila disertai dengan doa kepada Allah SWT, insya Allah membuat kita ikhlas melakukannya. Bila ikhlas sudah ada, usaha keras juga sudah dilakukan, hasilnya kita serahkan ke Allah swt. Melalui menjual jugalah kita bisa belajar bahwa kenyataan seringkali terjadi tidak sesuai yang kita rencanakan. Namun ini bukan berarti kita tidak perlu membuat rencana. Diksinya harus Prepare for the Worst, Plan for The Best! Selamat berjuang, Dian! Doa papa menyertai ….
Salam,
G
[...] Sabtu, 5 Juli 2008 yang lalu, saya mengantar anak saya, Dian, dan temen2nya ke daerah Kemang buat jualan dalam rangka mengumpulkan dana untuk kegiatan sekolah. Karena telah mendekati adzan Ashar, saya [...]