Alhamdulillah … setelah berkenalan lewat dunia maya beberapa bulan lalu, akhirnya siang ini Allah mempertemukan saya dengan mas Herry Nurdi yang saya kagumi dari buah penanya di majalah Sabili. Saya mengenal beliau sejak saya membaca buah penanya bertajuk The Sin of Inaction …sebuah artikel yang sebetulnya membuat saya terhenyak: bahwa diam itu dosa. Waduh .. rasanya selama ini saya salah menafsirkan pepatah silent is golden karena bila ini dikaitkan dengan penindasan terhadap umat manusia maupun penistaan kepada agama Allah, bila kita berdiam diri maka kita tergolong orang yang berdosa. Di tulisan tersebut mas Herry mengangkat kasus Palestina. Sungguh sangat menyentuh. Karena tulisan2 mas Herry lah akhirnya saya rutin membeli Sabili melalui pak Subhan yang dagang di Mushalla Indosat lantai 23. Sengaja saya tidak mau berlangganan langsung biar saya tetap menjadi pelanggan pak Subhan dan beliau tetep eksis di mushalla tersebut berjualan buku dan obat2an islami.
Lumayan lama saya bertemu ustadz Herry Nurdi ini, mulai dari jam 11:00 dengan sambil menikmati jus aple dan sallad buah di kantin i-Cafe Indosat, dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah di lantai 23, kemudian sama2 kita mengikuti kajian Dzuhur yang rutin diadakan di lantai 23. Banyak hal yang saya belajar dari mas Herry ini, terutama dalam tawadhu’s nya dan juga .. ini dia … istiqomah nya dengan menggunakan sarung sebagai pakaian tiap harinya. Luar biasa…. sejak tahun 2003 beliau menggunakan sarung dalam aktivitasnya kemanapun. Pernah beliau diundang di seminar Culture Diversity di Jepang tapi ditolak masuk karena katanya sarung bukan pakaian resmi. Opo tumon – seminar culture diversity kok diskriminatif?
Wah .. pokoknya saya banyak banget belajar dari beliau ini dan saya bersyukur kepada Allah SWT yang membuat kami berdua bertemu …. Alhamdulillah …
Saya juga mendapatkan kehormatan menerima kado indah berupa dua buah buku yang dibungkus rapi dengan kertas kado oleh istri mas Herry :

Mas Herry ini telah menulis 15 (lima belas) judul buku. Luar biasa!
Salam,
G
assalamu’alaikum. ya mas .. saya dari Medan.. saya jg pernah jumpa mas herry nurdi.. betul banget.. dia orangnya pendiam.. tawadhu’… tapi berisi.. seperti istilah “diam itu emas”.dengan kain sarungnya tu.. khas kali…. ana sering baca tu tulisan dia di sabili.. apalagi buku nya tentang freemanson.. mantap
Wa’alaikumsalam wr wb. Salam kenal, mas Hasanul Arifin!! Terima kasih udah mengunjungi dan berkomentar.
Setuju dengan Anda, mas Herry ini “diam itu emas”. Saya beruntung juga karena beliau cukup sering memberi tausiyah di Indosat. Ramadhan nanti juga.
Saya sudah baca tuntas buah pena beliau Secret for Muslim. Subhanallah …bagus.
Wass,
Gatot
Assalamu’alaikum
Mau komentar juga, saya baru selesai baca secret for muslim.. Subhanallah, sangat inspiratif..
Pak Gatot, beliau sudah menulis 15 buku ya? Boleh info di mana bisa mendapatkannya? Saya cek online bookstore, cuma ada secret for muslim
Wassalam
Assalamualaikum wr wb.
Ibu Amalia, terima ksh udh berkunjung di sini. Ini jawaban dari pak Herry Nurdi:
alaikum salam pak, terima kasih sudah meneruskan silaturahimnya. just come back from cambridge for a week. jadi maaf kalau baru ngecek emailnya hari ini. apa yang mesti saya bantu untuk pertanyaan tersebut, pak? beberapa buku sudah tidak dicetak ulang, tapi buku terbaru baru terbit sebagai bekal ramadhan, judulnya the secret of heaven. silakan dinikmati pak
Wass,
G
Hihihihi…
Kalo ‘diam itu belum tentu emas’ piyeee om, kalo kita sbg seorang hamba Allah diam tidak melakukan perubahan (prog spirit buangetzzz nich hahaha) yg bermanfaat bagi keluarga, lingkungan dan umat. Ujungnya2 malah mengundang murka dari Allah SWT dan kesengsaraan buat orang lain dan lingkungan.
wassalam,
assalamualaikum..
salam kenal
wa’alaikumsalam wr wb.
Salam kenal juga. Silakan komentar mbak Morena012…
Wass,
Gatot