Assalamualaikum wr wb.
Ibunda saya, Ny Hidayat, besok (30 September 2009) tepat berusia 85 tahun. Subhanallah! Ciptaan Allah memang terbukti tiada tandingannya. Coba bandingkan dengan ciptaan manusia secanggih apapun, mana ada yang tahan selama waktu ini? Ambil contoh saja mobil. Berapa lama sih mobil bisa bertahan? Apakah bisa sampai 20 tahun? Jangankan 20 tahun, mungkin dalam waktu 3 tahun saja sudah karatan meski sudah diberi anti-karat. Sedangkan organ tubuh ibu bisa dikatakan semuanya bekerja selama 85 tahun tanpa henti, kecuali pada saat beliau menjalankan ibadah puasa saja berhenti. Ibunda termasuk rajin menjalankan puasa meski sudah sekitar 3 tahun ini beliau tidak menjalankan ibadah puasa karena sudah sepuh. Coba bayangkan pompa mekanis buatan manusia, mana ada yang tahan selama 85 tahun? Sedangkan jantung ibu saya masih tak enggan memompa darah ke sekujur tubuhnya. Subhanallah! Allahu Akbar! Bahkan, berdasarkan pemeriksaan kesehatan jantung beberapa bulan yang lalu, jantung ibu disimpulkan: sehat! Alhamdulillah …Subhanallah!
Banyak suka-duka terjalin antara saya dengan ibunda. Bagaimana tidak, sejak ayah meninggal pada saat usia saya masih lima tahun, saya tinggal bersama ibu di rumah kami di Madiun selama tiga belas tahun, berarti delapan belas tahun saya selalu bersama ibu. Saya baru berpisah rumah dengan ibu ketika saya melanjutkan sekolah ke Bandung. Itupun dua tahun kemudian beliau hijrah ke Jakarta dengan alasan yang sederhana: supaya dekat dengan anak-anak. Saya memang anak bungsu dari empat bersaudara dan tiga kakak saya (semuanya laki2) tinggal di Jakarta. Jadi pada saat saya sekolah di Bandung, tiap bulan saya juga ke rumah ibu di Tebet. Apalagi kalau libur, saya pasti tinggal sama ibu lagi di Tebet.
Ibu termasuk pekerja keras yang konsisten dalam mendidik putra-putranya. Di hari tuanya saya berharap ibu bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Saya sering merenung mengenai ibu mengingat kesempatan yang sekarang menjadi jarang buat bertemu. Saya memang selalu usahakan sedapat mungkin mampir ke Tebet, pagi hari sebelum bekerja. Apalagi mengingat bahwa saat ini beliau sudah tidak bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Ini disebabkan karena tepat empat bulan yang lalu (29 Mei 2009) ibu menjalani operasi penggantian bonggol pangkal paha karena retak dan harus diganti.
Saya sering menyesali diri saya mengapa tidak bisa berbuat lebih lagi untuk menyenangkan ibu saya. Beliau memang bisa dikatakan sangat jarang mengeluh dan tidak mau merepoti orang sehingga beliau memilih tinggal sendiri di Tebet ditemani seorang perawat. Pada saat lebaran kemarin saya benar-benar trenyuh melihat ibu menangis tersedu-sedu yang karena suatu hal dua orang putranya tidak bisa sungkeman pada hari H (1 Syawal). Yang paling sedih waktu beliau bilang bahwa tujuan belia dulu hijrah ke Jakarta ingin supaya dekat dengan anak-anak, namun sudah sama-sama di Jakarta kok lebaran tidak bisa kumpul. Saya hanya bisa berusaha menghibur dan sekaligus memanjatkan doa kepada Allah swt agar ibu saya diberi kelapangan dada.
Besok ibu berhari-jadi yang ke delapan puluh lima. Luar biasa! Sebuah usia yang tak semua orang bisa mencapainya. Lebih hebatnya lagi, sampai dengan usia ini beliau belum pernah dirawat inap di rumah sakit kecuali karena jatuh pertengahan tahun ini. Alhamdulillah. Subhanallah! Kurang bersyukur apa saya sebagai anaknya melihat kenyataan ini? Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengatur, Maha Agung …. Dia bisa lakukan apapun sesuai kehendak-Nya. Untuk ibunda tercinta, saya panjatkan doa kepada Allah swt:
Ya Rabb,
Yang Maha Mendengar,
Yang Maha Penyayang,
Yang Maha Pengampun
Sampaikanlah salawat salam kepada Nabi Muhammad SAW
Dan keluarganya, beserta semua sahabatnya
Ampunilah semua kemaksiatan dan kedurhakaan yang pernah aku lakukan
Ampunilah semua dosa ibu dan bapak saya
Berikanlah taubat kepada ibu dan bapak saya
Berikanlah tempat yang mulia bagi mereka di sisi-Mu
Bimbinglah ibuku agar selalu meniti jalan iman dan takwa
Bila saatnya tiba, panggilah ibuku dalam kedaan khusnul khattimah
Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah swt
Ya Rabb,
Yang Maha Mengetahui
Yang Maha Mengatur
Yang Maha Adil
Engkau ketahui secara pasti bagaimana ibu merawatku
Ketika aku bayi, aku suka menangis, ibu pula menjagaku
Ketika aku kanak-kanak, ibuku membelikan mainan
Ketika usia sekolah, ibuku mengantarku ke TK Bhayangkari
Ketika aku remaja, ibuku menjahit demi nafkah dan sekolahku,
mengajariku disiplin belajar,
mengajariku belanja benang dan ritsleting,
mengajariku bagaimana hidup berhemat,
mengkhitankan aku,
membelikan tape recorder,
membelikan kaset musik kesukaanku,
membelikan sepeda jenky Forever,
membelikan sepeda motor untukku,
menyekolahkan aku hingga sarjana,
mengijinkan aku merantau untuk bekerja.
Maka, nikmat apa lagi yang aku dustakan dari karuniamu ini, Ya Rabb?
Untuk itu aku mohon kepadaMu, Ya Rabb …
Berilah rahmatMu untuk ibundaku
Berilah kebahagiaan dan kedamaian di hari tuanya
Jauhkanlah dari semua rasa sakit hingga ajalnya tiba.
Ya Rabb, berilah tempat yang tinggi untuk beliau di surgaMu….
Amin.
Wass,
G
UPDATE: Pas tanggal 30 September 2009 pagi saya ke rumah ibunda ….dan ini hasil jepretan dari HP ibunda:

Meniup lilin ultah 85 tahun

Berpose berasam ibunda di hari ultahnya...