Posted in Thought | Leave a Comment »
Sapi Betina (Al-Baqarah):22 – Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.
Posted in Religion | Leave a Comment »
Bila usai shalat Jumat saya selalu mencari selebaran berisi artikel-artikel yang berkaitan dengan peningkatan takwa. Kali ini di masjid Quba topik yang dibahas di selebaran ini adalah tentang waktu. Kok ya pas dengan apa yang selama ini selalu ada di benak saya, terutama belakangan ini ketika saya membaca majalah Tarbawi edisi terakhir. Di majalah ini, saya lihat ada iklan buku bertajuk “Kuingin waktuku menjadi jembatan menuju Surga”…. Subhanallah, …..sebuah judul yang indah sekaligus menohok ulu ati paling dalam. Hati siapa gak sontak diperingatkan oleh sebuah kaliamt indah yang menjadi judul buku tersebut? Benar-benar pemilihan kata yang dahzyat. Memang majalah Tarbawi tak diragukan lagi dalam memilih kata-kata penuh makna bijak yang bisa membuat kita terehenti sejenak pada saat membacanya.
Pada saat makan siang kemarin di Kantin Sederhana, sambil menunggu hidangan disajikan saya membaca artikel di selebaran Uswatun Hasanah ini. Memang bahasa yang digunakan dalam tulisan ini cukup berkelas dan kadang sulit memahami meski setelah dibaca ulang memberikan dampak yang kuat. Tulisan ini menyanggah pemikiran bahwa manusia pada dasarnya seperti halnya binatang yang haus akan materi sehingga semboyan “Time is Money” menjadi landasan dalam berperilaku. Padahal sudah jelas bahwa Allah membedakan manusia dari asek takwanya, tanpa ada sedikitpun ada embel-embel kemakmuran terkait materi. Coretan di bawah ini merupakan pemahaman saya terhadap artikel ini dan bukan merupakan resensi dari tulisan tersebut.
Peserta Ujian
Yang paling menarik bagi saya dari ulasan di artikel ini adalah konsep waktu dan ruang yang telah diciptakan oleh Allah kepada makhluknya melalui kehidupan di dunia. Sebagian besar dari kita tentu pernah merasakan apa yang disebut dengan ujian, baik itu terkait pendidikan maupun upaya mencari kerja. Seorang lulusan SMA yang ingin mendaftar ke perguruan tinggi tertentu harus melalui ujian. Seorang pencari kerja yang ingin bekerja di suatu instansi tertentu juga harus melalui ujian. Misalnya si Fulan ingin bekerja di Bank Muamalat, maka ia harus menjalani ujian untuk masuk ke bank tersebut. Ini sudah wajar adanya. Namun, bila Fulan tak berminat masuk ke Bank Muamalat, dia tak perlu mengikuti ujian.
Ini sangat berbeda dengan manusia hidup di dunia. Kita ini, agama apapun, ras apapun, dari negara manapun, usia berapapun, tngkat pendidikan setinggi apapun tak mempunyai pilihan lagi dalam hidup ini selain mengikuti ujian Allah. Mengapa? Pada hakikatnya ruang dan waktu dalam kehidupan di dunia ini sudah diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk manusia wajib mengikuti ujian dari Nya. Apakah seorang itu siap atau tidak siap, dia sudah masuk dalam ujian tersebut, tak ada pilihan untuk TIDAK ikut ujian. Bila kita cermati lagi, kita ini sudah dicemplungkan ke dunia untuk diuji. Kalau juga kita tak sadar bahwa kita sedang diuji, itu merupakan kerugian dan bahkan kecelakaan besar.
Sebagai muslim, kita tentu sudah lega karena sudah ada panduan maha lengkap dan sempurna berupa dua hal warisan dari nabiullah Muhammad sallallahu alaihi wassalam yakni kitabullah Al Quran dan Hadits. Al Quran merupakan landasan idiil dari dienul Islam sedangkan Hadits merupakan panduhan berisi contoh-contoh konkret ynag telah dilakukan oleh manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi ini: Nabi Muhammad SAW. Semua kunci jawaban soal ujian sudah disediakan di Quran dan Hadits, tinggal menjalankannya. Kurang apa coba? bagi yang tak mengenal apalagi tak mau mengenal panduan ini, ya salahnya sendiri – lha wong sudah dsajikan dan boleh dicontek sebagai bentuk kemurahan Allah SWT, kok malah gak dipakai. Lebih celaka lagi bagi yang tidak percaya dengan panduan tersebut ….wah ….neraka jahanam nantinya. Mereka lebih memilih kunci jawaban dari panduan lain. Apa Allah berkenan? Ya tidak! Jangankan Allah yang Maha Tahu … Seorang Rektor IPB misalnya,…mana mau menerima calon mahasiswa yang menjawab soal2 ujiannya dengan kunci jawaban masuk UGM?
Ujian-ujian selama kehidupan di dunia tentu banyak sekali dan berragam bentuknya dan banyak sekali perlu adanya pengorbanan karena harus ada pengendalian terhadap syahwat. Tak semuanya yang ada di dunia ini bisa dinikmati untuk pemenuhan syahwat, kecuali yang disyariahkan. Ibaratnya, dunia ini adalah penjara bagi orang yang bertakwa dan surga bagi orang kafir karena mereka bebas melakukan apa saja di dunia ini. Muslim tak bisa melakukan semuanya di dunia ini karena ada rambu-rambunya.
Dalam konteks waktu, kita memang harus lebih banyak melakukan penyaringan terhadap apa-apa yang perlu kita lakukan atau tidak lakukan karena kita sedang menempuh ujian. Ibaratnya si Fulan yang sedang ikut ujian masuk bank Muamalat, dia harus konsentrasi penuh agar lulus ujian. Kesiapan diri harus matang baik dari segi substansi yang diujikan maupun kesehatan fisik. Selama mengikuti ujian, tentu dia tak diijinkan untuk menelepon, misalnya. Demikian halnya sebagai peserta ujian di dunia ini, kita tak diijinkan melakukan hal-hal yang dilarang di kitab panduan hidup.
Mari kita pelajari kunci-kunci jawaban dari semua permasalahan di dalam ujian di dunia ini melalui kegiatan menggali ilmu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya meski ilmu Allah itu luas sekali dan tak mungkin kita kuasai. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai insan yang selalu meningkatkan takwa … Aamiin.
Posted in My Life, Religion, Thought | Leave a Comment »
Oleh: Herwinto
- Beliau dikenal sedikit melaksanakan umrah maupun haji karena tidak adanya ijin dari ibunya.
- Syaikh Al-Barrak tidak akan melakukan safar kecuali atas persetujuan ibundanya. Ketika terjadi permasalahan di Al Bakiriyah kampung halaman beliau dan penduduk disana menghendaki Syaikh Al-Barrak menyelesaikan masalah disana, saudara saudara ibunya pun harus membujuk agar mengijinkan sang Syaikh untuk pergi ke Al Bakiriyah.
- Beliau pada kunjungannya ke Makkah dalam liburan musim panas tak kurang dari dua kali sehari menelepon ibundanya sekedar menanyakan kabarnya, bahkan ketika sedang mengajar di Masjidil Haram pun pernah memutus pelajaran sebentar karena menelpon sang ibu, kemudian kuliah dilanjutkan lagi.
- Ibunda Syaikh kadang tidur di rumah Syaikh Abdurahman kadang tidur dirumah anaknya yang lain, ketika tidur di rumah Syaikh, beliau tidak tidur bersama istrinya tetapi tidur bersama ibunya agar siap sedia melayani ibunya setiap waktu.
- Diantara bentuk melayani keperluan ibundanya adalah, beliau selalu berdiri menuntun ibundanya dengan memegang tangannya karena ibundanya sudah lambat dalam berjalan, beliau mengantar ibundanya ke kamar mandi sampai ibundanya duduk di tempat khusus di kamar mandi untuk memenuhi hajatnya, kemudian beliau menunggui di luar kamar mandi sampai ibundanya selesai keperluannya dan menuntun kembali ke tempat semula, ini dilakukan beiau sendiri meski dirumah itu ada istri dan anak anak perempuannya.
- Syaikh tidak pernah memutus kebiasaan ibundanya meskipun di rumah beliau sedang digelar sebuah acara, pernah suatu ketika di rumah Syaikh Abdurahman ini dipakai untuk kajian baca kitab, kajian berakhir menjelang adzan maghrib, menjelang maghrib murid beliau dipersilahkan keluar padahal biasanya tidak begitu, rupanya waktu itu sang ibu sedang tinggal di rumah beliau dan punya kebiasaan berwudhu dengan keran ditempat dekat kajian diadakan, dan syaikh meminta maaf pada muridnya karena memang kebiasaan ibundanya demikian.
- Syaikh sangat memperhatikan kesukaan ibundanya, suatu ketika ibundanya sedang tinggal dirumah beliau, kebiasaan beliau ketika sedang bermajlis mengakhiri majlis ketika adzan sudah berkumandang dan segera berangkat ke masjid, namun kali ini majlis diakhiri beberapa saat sebelum adzan berkumandang karena sang ibu suka jika beliau berangkat ke masjid sebelum adzan berkumandang.
- Ketika sakit ibundanya semakin parah beliau selalu tidur dekat ibundanya , mengobati, merawat dan mendoakan ibundanya, menyiapkan makanan dan minuman untuk ibundanya, bahkan setiap selesai shalat subuh dari masjid beliau menyempatkan diri untuk menyiapkan minuman dan makanan hangat untuk ibundanya setelah itu baru kembali ke masjid untuk mengajar.
Posted in Life Experience | Leave a Comment »
Oleh: Herwinto
As Syaikh Badr bin Nadhir Al-Masyaari bercerita, saya mendapat cerita dari murid Syaikh Utsaimin bahwa beliau rahimahullah adalah seorang yang sangat sedikit tidur, terlebih ketika krisis besar melanda umat Islam, yaitu ketika perang teluk dan tragedi pembantaian kaum muslimin Bosnia dan Chechnya, saya mendapati beliau sering berdoa di waktu malam kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar memberi kemenangan kepada kaum muslimin dalam melawan musuh musuhnya, menguatkan Islam dalam menghadapi musuh musuh Islam.
Beliau juga berdoa untuk keselamatan kaum muslimin seluruhnya dan memberi mereka dorongan agar tetap teguh dalam menghadapi berbagai kesulitan (Ad-Durr-Tsamin fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-Allamah bin Utsaimin hal 300), cerita juga datang dari murid beliau yang lain bahwa suatu ketika Syaikh diundang oleh sebuah lembaga amal di Jeddah dimana acara ini sangat panjang sampai mendekati jam satu malam dimana pada saat itu kebiasaan beliau adalah beristirahat. Terlihat beliau sangat kelelahan dan mengantuk, setelah murid murid dan rombongan beliau mengantarkan sampai rumah, para murid yang menyertai di rumah beliau sudah tidak bisa menahan kantuk lagi dan tertidur, namun ketika hari masih malam (pagi) sekitar jam tiga para murid bangun setelah tidur selama dua jam namun mereka mendapati Syaikh mereka Syaikh Utsaimin dalam keadaan melaksanakan Shalat malam padahal sebelumnya sangat kelelahan dan mengantuk, namun beliau tetap berusaha menghidupkan qiyamullail, entah dari sejak jam berapa beliau mendirikan shalat…(Safahat Mushriqah min Hayat Al-Imam Muhammad bin Salih al Utsaimin hal 73).
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Dari milis G@mers:
Masjid Kuno Kuncen atau Masjid Nur Hidayatulloh adalah masjid tertua yang ada di kelurahan Kuncen, kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Masjid ini mengandung nilai sejarah yang sangat tinggi, selain karena bangunan masjid serta artefaknya, juga terdapat peninggalan-peninggalan kerajaan terdahulu, terdapat makam para bupati Madiun, terdapat Sendang dan pohon besar yang merupakan asal usul Kota Madiun.
Tanah Perdikan Kuncen
Beberapa peninggalan Kadipaten/Kabupaten Madiun yang salah satunya dapat dilihat di Kelurahan Kuncen, dimana terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Bupati Mangkunegara I, Patih Wonosari dan para Bupati Madiun lainnya yang merupakan pahlawan-pahlawan pendiri Kota Madiun, selain makam para bupati, Masjid Tertua di Madiun masih kokoh menjadi saksi, yaitu Masjid Nur Hidayatullah, artefak-artefak disekeliling masjid, serta sendang (tempat pemandian) keramat.
Sejarah Masjid Kuno Kuncen
Pada tahun 1568 terjadilah sejarah baru di Kesultanan Demak yang berdampak di daerah Madiun dan sekitarnya. Setelah berakhirnya perang saudara yang dimenangkan oleh Mas Karebet atau Jaka Tingkir yang selanjutnya disebut Hadiwijaya, dengan restu para wali menggantikan kedudukan mertuanya Sultan Trenggono sebagai sultan, tetapi tidak mau berkedudukan di Demak melainkan memindahkan pusat pemerintahannya ke Pajang. Putra Sultan Trenggono lainnya atau adik ipar Sultan Hadiwijaya yang bernama Pangeran Timur oleh Sunan Bonang yang mewakili para wali diangkat menjadi Bupati Madiun pada tanggal 18 Juli 1568, yang selanjutnya disebut panembahan Rama atau Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno yang memerintah pada tahun 1568 – 1586.
Pada tahun 1575 dengan berbagai pertimbangan Bupati Pangeran Timur memindahkan pusat pemerintahan dari utara Kelurahan Sogaten ke selatan menuju Keluran Kuncen dulu Wonorejo. Pangeran Timur selaku Bupati disamping berkewajiban mengendalikan jalannya pemerintahan, juga membawa misi penyebaran agama Islam. Pembangunan agama identik atau tidak lepas dengan pembangunan tempat ibadah yaitu masjid. Dengan demikian patut diduga bahwa masjid Kuno Kuncen atau disebut Masjid Nur Hidayatullah pada zaman Bupati Pangeran Timur memerintah Kabupaten Madiun yang berpusat di sekitar Kelurahan Kuncen dan masjid tersebut berdiri di Kuncen setelah tahun 1575 atau pada akhir abad XVI
Status wilayah Wonorejo sebagai tanah makam dan juga ada masjid, maka Kyai yang merawat areal tersebut juga bertindak sebagai kepala desa, dan diberi kebebasan menguasai daerah sekitar area makam dan masjid. Kyai Grubug merupakan guru dalam ilmu agama Islam, dan Kyai Grubug inilah yang pertama kali berkuasa di Desa Perdikan Kuncen ini yang juga mengelola masjid maupun makam, hingga sekarang ada empat belas Kyai yang pernah berkuasa di Desa perdikan Kuncen beserta mengurusi masjid dan makam, diantaranya: 1).Kyai Grubug, 2).Kyai Semin I, 3).Kyai Semin II, 4).Kyai Semin III, 5).Kyai Semin IV, 6). Kyai Djodo, 7).Kyai Muhammad Ngarib, 8).Kyai Kasan Basari, 9).Kyai Muhammad Mardo, 10).Kyai Muhammad Mardi, 11).Kyai Darsono, 12).Kyai Sutopo, 13).Kyai Karsono, 14).Kyai Kentjono
Sebenarnya masjid yang ada di Kelurahan Kuncen itu belum ada nama sama sekali, karena tidak adanya sumber tertulis mengenai nama masjid tersebut. Selanjutnya dari tahun ke tahun nama masjid kuno yang terdapat di Kelurahan Kuncen tersebut dahulu dikenal dengan nama Masjid Kuno Kuncen, kerana keberadaan masjid tersebut berdekatan dengan makam yang terdapat juru kunci kemudian dinamakan kuncen dan juga disesuaikan dengan nama Kelurahan Kuncen karena keberadaan masjid berada di Kelurahan Kuncen, maka dari itu masjid kuno ini dikenal dengan nama Masjid Kuno Kuncen. Selanjutnya pada tahun 1970 warga Kuncen bersepakat merubah nama masjid sebelumnya Masjid Kuno Kuncen diubah nama menjadi Masjid Nur Hidayatullah, walaupun sudah dinamakan Masjid Nur Hidayatullah akan tetapi nama yang masih dikenal oleh warga Madiun sampai sekarang adalah Masjid Kuno Kuncen.
Asal Mula Nama Madiun
Pada masa pemerintahan Ki Ageng Reksogati dan Pangeran Timur nama Madiun belum ada, daerah ini dulu disebut Kadipaten Puroboyo. Asal kata Madiun mempunyai banyak versi, yang ditinjau dari berbagai sudut pandang, diantaranya yaitu : gabungan dari : kata “medi” (hantu) dan “ayun-ayun” (berayunan), yaitu dikisahkan ketika Ki Mpu Umyang/Ki Sura bersemedi untuk membuat sebilah keris di sendang panguripan (sendang amerta) di Wonosari (Kuncen, sekarang) diganggu gendruwo/hantu yang berayun-ayun di pinggir sendang, maka keris tersebut diberi nama ”Tundung Mediun”.
Kemudian cerita lain berasal dari “Mbedi” (sendang) “ayun-ayunan” (perang tanding) yaitu perang antara Prajurit Mediun yang dipimpin oleh Retno Djumilah di sekitar sendang.
Kata ”Mbediun” sendiri sampai sekarang masih lazim diucapkan oleh masyarakat terutama di daerah Kecamatan Kare, Madiun.
Mereka mengucapkan Mbediun untuk menyebutkan Madiun.
Versi berikutnya adalah Madya-ayun yaitu Madya (tengah) ayun (depan).
Pangeran Timur adalah adik ipar dan juga salah satu bangsawaan Demak yang sangat di hormati oleh Sultan Hadiwijoyo di Kasultanan Pajang.
Pada waktu acara pisowanan beliau selalu duduk sejajar dengan Sultan Hadiwijoyo di Madya ayun (tengah depan).
Dan letak sendang ini satu kompleks dengan Masjid Kuno Kuncen, ini sangat strategis untuk dijadikan wisata religius karena banyak mengandung sejarah dan peninggalan-peninggalan yang perlu dilestarikan.
Posted in Life Experience | Leave a Comment »
Copas dari milis G@mers:
Orang-orang narsis mungkin gemar memuji dirinya sendiri. Tapi sebuah penelitian terbaru mendapati fakta bahwa perilaku membanggakan diri sendiri kaum narsis itu sebenarnya menyembunyikan perasaan inferioritas (rendah diri) mereka. Menurut penelitian terbaru itu, orang-orang narsis memang mengaku kepada para psikolog bahwa mereka membanggakan dirinya. Tapi manakala pengakuan mereka itu diuji detektor kebohongan, kebenaran sejati pun terkuak. Mereka mengakui rendahnya kepercayaan diri mereka.
Narsisme adalah kepuasaan erotis yang berasal dari kekaguman akan atribut fisik atau mental seseorang. Kondisi ini normal pada masa pengembangan kepribadian sewaktu seseorang masih anak-anak. “Ini menunjukkan bahwa individu-individu yang tingkat narsismenya tinggi mungkin tengah membesar-besarkan kepercayaan dirinya,” kata peneliti pada penelitian itu, Erin Myers, yang juga psikolog pada Universitas Western Carolina University, kepada LiveScience, Reuters. “Dengan kata lain individu-individu narsis sebenarnya tidak mempercayai diri mereka sehebat apa yang mereka gembar-gemborkan.”
Kendati narsisme lebih dikenal sebagai gangguan kepribadian narsistik yang esktremnya adalah bentuk gangguan nyata mengenai mencintai diri sendiri, gangguan itu muncul pada derajat berbeda-beda dalam setiap manusia yang secara psikologis sehat. Orang yang sangat narsis biasanya sangat menyanjung dirinya, namun dari penelitian itu tersimpul keraguan bahwa apakah perilaku mereka itu memang asli atau pura-pura. Untuk mengungkapkannya, Myers dan kawan-kawannya menggunakan sedikit tipuan. Mereka merekrut 71 mahasiswi dari the Universitas Southern Mississippi dan meminta mereka mengisi kuisioner yang dirancang untuk menakar kadar kepercayaan diri dan narsisme mereka. Kemudian, para mahasiswa itu dibawa ke laboratorium Myers di mana mereka menghadapi banyak evaluasi psikologi, lalu mereka diberitahu bahwa mereka dihadapkan pada alat pendeteksi kebohongan sehingga para psikolog bisa mengetahui apakah mereka berbohong atau tidak. Para mahasiswi itu kemudian diminta untuk sepakat atau tidak sepakat atas pernyataan-pernyataan seperti “Saya memiliki pembawaan positif dalam diri saya.”
“Saya berperan sebagai peneliti dan selalu mengenakan baju lab putih,” kata Myers. “Kami bahkan beranjak lebih jauh untuk menkonduksi kulit ketika membawa para partisipan guna mengenakan peralatan itu. Kami ingin membuat situasi seterpecaya mungkin.” Semua mahasiswa mengenakan peralatan itu, tetapi beberapa di antara mereka diberitahu bahwa itu hanya untuk keperluan latihan dan alat “deteksi kebohongan” itu akan dimatikan sebelum penelitian dimulai. Yang lainnya menjalani seluruh prosedur dengan keyakinan mereka sedang dipantau kejujurannya. Hasilnya mengungkapkan kesimpulan menarik.
Bagi wanita dengan skor narsismenya rendah, maka hasil pantauan alat deteksi kebohongan tak berbeda dari tingkat kepercayaan diri yang sebelumnya dilaporkan. Tapi wanita dengan tingkat narsisme lebih tinggi ternyata lebih mencintai diri mereka ketika mengira mesin pendeteksi kebohongan itu telah dimatikan. Begitu mereka yakin para peneliti tahu bahwa mereka berkata jujur, respons tingkat kepercayaan dirinya seketika menurun.
Menurut Myers, temuan-temuan itu menunjukkan bahwa orang-orang narsis menyembunyikan kerendahdiriannya, meskipun para peneliti belum yakin apakah kepalsuan ini untuk diri mereka atau demi keuntungan orang lain. “Orang-orang narsis mungkin mencoba membesarkan sendiri harga dirinya dengan membangga-banggakan dirinya,” kata Myers. “Kemungkinan lainnya adalah orang-orang narsis itu mungkin mencoba mempengaruhi cara pandang orang lain terhadap mereka atau bisa juga kombinasi dari keduanya.”
Posted in Thought | Leave a Comment »


