Ketika ditanya wartawan tentang cita-citanya
Dahlan Iskan ingin memiliki sepeda
karena saat itu dia pergi dan pulang sekolah jalan kaki
sementara itu, teman-temannya naik sepeda
Menurut saya ini adalah cita-cita besar pada jamannya
Apakah sekaranga dia masih menginginkan sepeda?
Mungkin. Namun, bukan untuk sekolah atau bekerja
Jangankan sepeda, pabrik sepedapun mampu dia beli sekarang
Cerita polos tersebut saya baca dari sebuah buku tentang dirinya
Mengapa saya terkesan cerita itu?
Karena tak jauh dari cita-cita saya yang “kandas”
Mengapa kandas? Karena saya jelas tak mendapatkannya
Saat saya duduk di bangku kelas 4 SD Guntur Madiun
Saya pernah mengajukan proposal kepada ibu saya
Masih ingat sekali saya, saat itu ibu sedang menggoreng tempe di pawon
Saya sangat hati-hati mengajukan proposal tersebut
Tentu karena saya ingin ibu saya langsung menyetujuinya
Singkat cerita, saya harus membuat strategi jitu
Untuk itu saya musti cari waktu yang tepat
Dan juga saya harus cari suasana yang pas
Saat siang hari setelah saya pulang dari sekolah
Saya dapati ibu saya sepertinya suasananya sedang asik
Menggoreng tempe dengan wajah ceria
“Saatnya beraksi nih,” ujar saya dalam hati
Sambil agak gemetar, saya mulai menjalankan strategi saya
“Bu …”
“Ono opo le?” jawab ibu saya
“Tahu Iwan Zulkifli bu? Itu lho yang rumahnya di komplek PNKA, Jl Biliton …”
“Wah ….ibu kok ra kenal yo le…”
“Nanti ibu pasti kenal, saya akan ajak dia main ke rumah kita”.
“Itu lho bu …Iwan punya sepeda bagus sekali …,” lanjut saya
“Model baru bu ..namanya sepeda mini…!!
Bolehkah aku minta ibu membelikan aku seperti punya Iwan?”
“Ah …itu sepeda kan hanya untuk bisa dipakai sampe kelas 6 SD,
nanti kalau kamu SMP sepeda itu siapa yang akan pakai …
“Tapi bu …..”
“Lagian, orang tua Iwan kan orang kaya. Bapak kan sudah tidak ada ….
….tinggal ibu sendiri,” jawab ibu lirih dengan nada mulai merendah
“Iya bu …” jawab saya sambil bercampur aduk antara kecewa dan kasihan ibu
Ibu melanjutkan “Nanti kalau banyak jahitan, ibu belikan sepeda jengki ..”
Gedubrak! Saya kecewa setengah mati mendengar jawaban ibu tersebut
Namun saya tahu persis kondisi ekonomi kami tak mungkin
Masih ingat saya, kadang ibu hanya memasak sayur lodeh beton (biji nangka)
Ya, hanya bijinya, tanpa ada nangkanya
Lauknya pun tempe gembus
Tapi jangan tanya, itu enak sekali dan saya tak ada masalah memakannya
Saya yakin bukan ibu tak punya uang, karena jahitan selalu ada
Tapi ibu hanya ingin hemat,
menabung buat masa depan saya dan tiga kakak saya
Beberapa hari setelah itu Heri, putranya Kepala Pertamina, naik sepeda mini
Saya masih ingat, warnanya kuning menyala
Saya semakin ingin memiliki sepeda mini
Namun saya tahu, itu tak kan mungkin bisa saya miliki
Bukan. Bukan karena ibu saya pelit
Ibu saya bijak dan visioner
Beliau tahu bahwa sepeda mini masa pakainya seperti sepeda roda tiga
Sedangkan dua tahun lagi saya sudah SMP, tak cocok sepeda mini lagi
Saya kecewa sekali meski saya faham maksud ibu
Saya tak kuasa merengek karena pendapat ibu benar adanya
Heri dan Iwan sering melintas dengan sepeda mininya
Fantasi saya terhadap sepeda mini semakin menjadi-jadi
Bagi saya, sepeda ini paling sexy dan paling moderen
Ada dua hal utama yang membuat saya suka sekali speda mini
Pertama, sadelnya panjang nyambung ke belakang
Di bagian ujung belakang ada sandarannya….aduh kerrreeennn!!
Rasanya seperti memiliki sepeda motor
Bayangkan, masih SD sudah bisa mengendarai sepeda motor!
Opo ora nggajak tenan??!!!!
Belum lagi warna sadelnya yang menyala
Punya Heri warna kuning sedang Iwan warna biru Benhur
Wah!! Betapa gagahnya kalau saya bisa menaiki sepeda mini!!
Kedua, saya suka bannya lebar seperti ban motor
Ketika sepeda ini dinaiki, kelihatan ban berputar tambah gagah
Rasanya sudah seperti motor beneran
Dua hal ini membuat fantasi saya terhadap sepeda mini makin menggila
Setiap hari saya hanya berandai-andai ….
Kalau orang tua saya Kepala Pertamina
Kalau orang tua saya Kepala PNKA
Ya sudahlah ….apapun saya tidak punya sepeda mini
Beberapa bulan kemudian ibu menepati janjinya
Saya diberi-tahu bahwa ibu siap membelikan saya sepeda
Fantasi saya akan jadi kenyataan
Namun ibu konsisten dengan janjinya, sepeda jengki bukan sepeda mini
Yaaaaaaa…..(dalam hati saya kecewa)
Tapi saya terima juga tawaran ibu tersebut dari pada jalan kaki
Saya memilih merek sepeda FOREVER karena jarang yang pakai
Saat itu yang banyak dipakai merek Phoenix, Asia Bike, atau Sim King
Tentu saya ingin tampil beda… Saya pilih Forever warna hijau tentara!
Tak mendapatkan sepeda mini menjadi pelajaran berharga bagi saya
Saya sedang digembleng untuk merasakan ketidak-nyamanan
Ketidak-nyamanan itu merupakan modal dasar untuk ikhlas
Berat rasanya menerima kenyataan bahwa saya tak mendapatkannya
Hidup ini memang tak sepenuhnya bisa saya kendalikan
Banyak variabel-variabel yang di luar kendali saya
Sepeda mini harus saya akui sebagai fantasi saya yang luar biasa buasnya
Saking inginnya memiliki sepeda mini, beberapa kali saya mimpi memilikinya
Begitu saya kecewa, ada rasa berontak dari dalam diri
Kenapa saya tak bisa memilikinya?
Bukankah Iwan dan Heri itu juga teman-teman saya?
Mengapa mereka bisa memilikinya? Kenapa saya tidak?
Tidak adil!
Setelah saya dewasa saya baru “ngeh”
Bahwa hidup ini tak selalu harus berjalan sesuai kehendak kita
Seperti Mick Jagger bilang di salah satu lagunya
“You don’t always get what you want …”
Hidup harus dibarengi dengan pemahaman konteks yang terus berkembang
Konteks saya sebagai anak adalah mendapatkan kesenangan
Ibu saya lebih visioner, melihat dari aspek manfaat
Kalau mau membelanjakan uang, berpikirlah seperti sebuah investasi
Dalam investasi, manfaat diperoleh bukan sekedar jangka pendek
Harus dilihat ke depannya bagaimana
Ternyata ada ibrah (pembelajaran) lebih dalam lagi
Kita sering berpikir bahwa kita harus mendapatkan apa yang kita mau
Sebelum hal tersebut tercapai kita berjuang keras untuk mencapainya
Hal tersebut sangat bagus
Namun, bila menghalalkan segala cara, ini jelas melanggar ketentuanNya
Kita wajib berhenti pada suatu titik dimana ada batasan dariNya
Pada titik ini kita tak sadar bahwa Yang Maha Kuasa punya rencana lain
Seringkali kita tak bisa menerima rencanaNya
Padahal Dia jauh lebih tahu dari kita
Dia bukan lagi visioner, tapi sudah tahu secara tepat apa yang akan terjadi
Makanya Dia berikan yang TERbaik buat umatNya
Kalaupun saat itu saya mendapatkan sepeda mini tersebut
Pada saat masuk bangku SMP saya akan merengek ke ibu minta sepedajengki
Jadi, bila kita merasa “kandas”, mari kita nikmati saja …
Karena itu yang TERbaik dariNya ….
Wallahualam bishawab
Gatot Widayanto
1 Januari 2012