Feeds:
Posts
Comments

Menurut Ibnu Mas’ud, ada tiga hal yang dapat melalaikan manusia. Pertama, betapa banyak manusia yang dihukum secara berangsur-angsur melalui kesenangan yang diberikan kepadanya. Kedua, betapa banyak manusia yang mendapat cobaan melalui pujian orang lain kepadanya. Ketiga, betapa banyak manusia yang terperdaya karena kelemahannya disembunyikan oleh Allah swt.

(Ibnu Mas’ud rahimahullah)

Disalin dari Qabasat I Petikan, majalah Tarbawi, edisi 251 Th. 12, Jumadil Akhir 1432, 19 Mei 2011.

Sungguh memprihatinkan …

http://m.eramuslim.com/berita/info-umat/magang-sebulan-di-negeri-musyrik-kemudian-menggugat-uu-perkawinan.htm

Renungan Kematian

Imam al-Ghazali pernah melemparkan renungan yang amat layak dicerna. Kata beliau, yang paling dekat itu mati, yang paling jauh itu masa lalu, yang paling besar itu hawa nafsu, yang paling berat itu memegang amanah, yang paling ringan adalah meninggalkan solat dan yang paling tajam adalah lidah manusia.

Karena yang paling dekat adalah mati, sudah berapa seriuskah kita mempersiapkan bekal untuk datangnya maut?

Karena yang paling jauh itu masa lalu, sudahkah kita mengambil pelajaran darinya dan melupakan semua keindahan masa lalu demi persiapan yang matang untuk datangnya mati

Karena yang paling besar itu hawa nafsu sudahkah kita membuat kendali yang ketat agar tak selalu membesar? Misalnya …menghindari tempat tempat yang bisa memicu tumbuhnya syahwat, misalnya pusat perbelanjaan dimana banyak pengunjungi dengan pakaian serba terbuka. Juga menghindari pekerjaan atau bidang usaha yang jelas bisa menambah besar hawa nafsu untuk menumpuk harta kekayaan.

Karena yang paling berat adalah amanah , sudahkah kita berlatih diri untuk meringankannya? Misalnya mulai dari yang paling sederhana yakni menepati janji. Atau menggunakan jam kerja untuk sepenuhnya urusan kantor serta bersungguh-sungguh dalam bekerja.

Karena yang paling ringan adalah meninggalkan shalat , sudahkah kitabl memahami dosa dalam meninggalkannya? Bukankah kita sudah terikat dengan jual-beli dengan Allah dimana Allah menyediakan surga bagi mereka yang menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya?

Karena yang paling tajam adalah lidah manusia, sudahkah kita berlatih diri untuk tutur katabyang sopan atau diam?

Siang ini di radio Rodja ada penelepon menanyakan kewajiban zakat untuk bunga dari simpanan di bank. Sang ustadz menjawab dengan cerdas yakni menukil sebuah hadits yang intinya mengatakan bahwa Allah Taala pada dasarnya bersih. Setelah itu ustadz menjelaskan bahwa yang wajib dizakati adalah simpanan pokok nya saja karena tambahan yang biasa disebut dengan bunga adalah kotor, jadi tak dikenakan wajib zakat.
Misalnya tabungan sebesar rp. 1 milyar dan ada tambahan 10 juta sebagai bunga maka yang wajib zakat hanya 2.5% dari yang 1 Milyar saja.

Bagaimana dengan yang 10 juta? Tak boleh digunakan untuk pribadi naupun disumbangkan dalm bentuk makanan, pakaian atau ke mesjid atau tempat taklim yg dimuliakan. Namun boleh digunakan untuk pembangunan jalan.

Jawaban ustadz yang cerdas,  bijak dan sekaligus tegas. SubhanAllah …

Obrolan kedai kopi (okeko) kali ini mencoba mengulas kenyataan bagaimana bila seorang bayi lahir dalam keadaan suci dan Islam kemudian tumbuh berkembang di lingkungan non muslim karena orang tuanya juga non muslim. Ini jelas suatu pertanyaan yang sekaligus memberikan hikmah syukur bagi mereka yang terlahir dalam lingkungan yang sudah muslim karena memang agama yang diakui oleh Allah Tabaroka Wa Taala hanya Islam. Bersyukurlah Anda yang terlahir dari rang tua Islam dan dididik secara Islam pula sehingga sudah dengan otomatis menjadi muslim sejak lahir hingga dewasa.

Bagi yang hidup dalam kondisi non Islam maka tentunya diperlukan suatu upaya pencarian kebenaran mengenai hakikat tuhan dan siapa itu tuhan. Dalam konteks ini bisa jadi pencarian juga bisa terjadi dalam pergaulan atau lingkungan dimana beberapa kemungkinan bisa saja terjadi:

  1. Sering bergaul dalam lingkungan Islam sehingga timbul beberapa pertanyaan kritis misalnya: mengapa musti shalat lima waktu, memangnya Tuhan harus selalu disembah? mengapa musti mencium tanah (sujud)? mengapa musti berpuasa? mengapa musti haji atau umrah? dan masih banyak pertanyaan lainnya yang menggiring pada suatu pencarian bila ia mau.
  2. Sering mendengar kisah terkait akhlak Rasul Muhammad yang mulia, misalnya mendoakan orang yang melukainya saat berdakwah di Thaif. Bantuan malaikat untuk pembalasan pun beliau tolak karena menurut beliau yang meemparinya saat dakwah adalah orang-orang yang belum mengerti. Untuk itulah perlu didoakan agar mereka mendapatkan hidayah, menurut Rasul.
  3. Rasa penasaran karena adanya larangan memeluk agama Islam, seperti yang dialami oleh Syafii Antonio dimana ayahnya membolehkan ia memeluk agama apapun kecuali Islam. Pelarangan oleh ayahnya ini membuat Syafii semakin penasaran dan justru mepelajari Islam lebih dalam hingga akhirnya mendapatkan hidayah menjadi seorang muslim.
  4. Bergaul dengan teman Islam seperti Yusuf Islam (Cats Steven) yang dipinjami Al Quran oleh temannya dan ia baca dengan seksama. Ia kemudian menemukan adanya kejelasan dan ketegasan dalam konsep dan hakekat Tuhan yang Esa di ajaran Islam. Akhirnya ia mendapatkan hidayah masuk Islam. 

Masih banyak cara atau pintu masuk memahami Islam dan kemudian memeluknya. 

Seorang dewasa, memang sudah selayaknya selalu memikirkan siapa gerangan Sang Pencipta Semesta Alam sehingga mengatur kehidupan ini.

Alhamdulillah, hari Sabtu 30 Agustus 2014 saya bisa melakukan perjalanan ke Madiun sekaligus menghadiri resepsi pernikahan anak teman sejak SD Guntur dahulu: Luana alias Luluk. Perjalanan dari Jakarta dimulai dengan jalur udara melalui Garuda di terminal 2F yang berangkat sekitar 5:30. Ternyata penerbangan pagi itu begitu padat dan penuh sekali sehinggal terminal 2F terasa penuh sesak dan membingungkan. Saya termasuk yang paling bingung bila berada di bandara karena semuanya serba tergesa-gesa dan banyak musti keluar masuk dompet guna pemeriksaan seperti KTP dan tiket. Saya tadinya antri di counter umum Garuda. Untung teman saya yang juga berangkat dengan pesawat yang sama, Pramono, memberi tahu via HP bahwa saya bisa langsung ke counter tanpa bagasi. Untung pula Pramono bersedia check in kan buat saya sehingga mengirit waktu. 

Setibanya di Solo, kami dijemput oleh Agus Ninok (teman saya sejak SD) dan langsung mencari sarapan. Saya usulkan saja langganan saya kalau di Solo yakni warung Masakan Jawa (Mas-Ja) yang berokasi di Jl. Dr. Radjiman, daerah Baron. Akhirnya kami semua mengorder brongkos atas rekomendasi saya.

image

-
image

Perjalanan ke Madiun kami isi dengan pembicaraan seputar Madiun dan juga hal-hal terkait perkembangan lebih lanjut kota ini yang kemungkinan akan menjadi kota mati bila jalan tol Caruban – Ngawi sudah dibuka. Kami juga prihatin atas kurang berkembangnya ekonomi kerakyatan di Madiun sehingga bisa jadi roda ekonomi stagnan di kemudian hari. Apalagi kantor Kabupaten Madiun dipindahkan ke Caruban. Semakin sepilah Madiun.

Pada sekitar pukul 10:30 kami sudah masuk Madiun dan langsung menuju hotel Aston dimana Pramono menginap pada Sabtu malam itu. Setelah Pramono cuci muka dan ganti baju di sebuah kamar di lantai 10, kami langsung menuju ke acara resepsi di Gedung PGRI Madiun. Saya sudah sejak dari Jakarta mengenakan baju bati sehingga tak perlu lagi ganti baju.

Senang juga bertemu dengan banyak teman-teman MD 79 yang jumlahnya tak kurang dari 60 orang dan datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia meski didominasi oleh Surabaya. Saya kemudian ijin sebentar shalat Dzuhur jama’ qashar Ashar di masjid yang tak jauh dari gedung resepsi. Beberapa tahun lalu saya pernah Jumatan di masjid ini dan subhanAllah ….ini masjid tergolong syarii karena seingat saya saat Jumatan adzan nya cukup satu kali.

Setelah dari acara resepsi kami semua menuju Dawet Suronatan yang legendaris. Favorit saya selain dawet yang tiada duanya di Indonesia, adalah tahu gorengnya yang enak apalagi dimakan dengan cabe. Wuiiih ….muwantab jaya!

 

Sesudah itu kami bubaran sekitar pukul 14:30 dan saya menuju hotel langganan saya menginap: Abdul Rahman. Saya suka menginap di hotel ini karena dekat dengan masjid Beteng dan juga tempat Pengajian Ahad Pagi di Islamic Centre jalan Sumatra. Sekitar pukul 18:00 setelah Maghrib saya jalan kaki dari Jl. Tidar hingga Jl. Semeru (sekitar 3 KM) karena memang ingin menikmati kota Madiun dengan jalan kaki. Tujuan saya adalah kuliner Bakso Kanji (pati) yang enak banget rasanya. Sengaja saya makan bakso cukup semangkok karena pasti ada kuliner lainnya yang enak-enak di Madiun. Saya dijemput mas Rahmanta Setiahadi dan menuju ke Jl Haji Agus Salim tepatnya di Ayam Pemuda karena ada pertemuan lagi dengan MD 79. Cukup banyak juga yang hadir di acara ini.

Yang kemudian sungguh menyenangkan adalah cangkruk di Wapo (Warung Pojok) Jl. Diponegoro dimana teman kami Hersanto dibantu oleh kru nya yang juga teman kami: Harie Magic dan Ayub menggawangi angkringan kopi ini. Luar biasa ramenya Wapo ini karena pengunjungnya begitu banyak dan memang kopi dan makanannya enak juga. Banyak hal saya lakukan di Wapo ini termasuk berbincang bincang dengan mas Rahmanta dan teman2 lainnya. Gayeng sekali . Saya juga sempat bersepeda meminjam sepeda teman kami, Jim West, yang bawa Polygon Zero yang ternyata enak dan enteng digowes. Kami cangkruk di Wapo hingga pukur 23:30 dan saya kembali ke Abdul Rahman diantar mas Rahmanta.

Ahad, 31 Agustus 2014

Saya bangun pukul 4:10 dengan mata kantuk dan mendengar suara adzan Subuh dari masjid Beteng (namanya Al Mukhlisin) yang subhanAllah sekarang bagus dan besar setelah renovasi. Dengan bergegas saya mengikuti shalat Subuh berjamaah dan masih mendapatkan saf pertama karena memang pesertanya tak banyak. Shalat subuh di sini ada qunutnya …

Selepas shalat Subuh saya berjalan kaki menuju Stasiun melalui Jl. Sumatra sekalian bernostalgia melihat jalan dimana saya pernah tinggal selama 19 tahun dari 1960 sd 1979. SubhanAllah …senang sekali saya berjalan menyusuri jalan Sumatra ini. Anggun sekali rumah kami dulu di nomer 28 (dulu nomer 26). Sesampai di stasiun saya andok sego pecel Bu Yui dengan lauk telor dadar. Wah nikmat sekaleeeee ….. Kemudian saya jalan2 ke dalam stasiun melihat jadwal Madiun Jaya dan coba pesen karcis. Ternyata gak bisa, karena loket hanya buat penjualan langsung. Kalau pesan harus via reservasi dan baru buka pukul 7:00. Padahal masih pukul 5:30. Yo wis … Saya jalan ke Madiun Islamic Centre buat ngikutin Pengajian Ahad Pagi. Setiap ke Madiun saya selalu hadir di pengajian ini karena bagus. Laporan singkat ceramah saya sudah posting di tret sebelumnya di blog ini.

Setelah itu pulang ke hotel dan mandi karena jam 8:30 dijemput Rahmanta untuk silaturahim ke Pak Tawi di Glodog dan juga ke mas Andria di Magetan. Luar biasa mas Rahmanta ini, datang tepat waktu dan dengan sabar menyopir mobilnya untuk mengantar saya ke PG Purwodadie bersilaturahim dengan pak Tawi. Saya akan tulis tret khusus tentang pak Tawi ini nantinya. Sekitar pukul 11 kami pamitan dari pak Tawi dan langsung menuju Magetan ke rumah mas Andria, silaturahim juga. Tepat pukul 13:00 kami pamitan dari rumah mas Andria dan saya kembali diantar mas Rahmanta ke hotel Abdul Rahman. Tanpa makan siang, karena masih kenyang makan nasi pecel bu Yuli dan snack di pak Tawi dan mas Andria, saya langsung tidur hingga pukul 16:00. Abis itu jalan kaki ke Jalan Kartini bersilaturahim dengan Tante Dokter Hadi yang dulu adalah tetangga ibu saya di Jl. Sumatra. Dari rumah Tante Hadi, saya jalan kaki ke masjid Agung di Alun2 Madiun. tepat di jl. Pandan adzan berkumandang . Alhamdulillah bisa shalat maghrib berjamaah dan langsung jama qashar dengan Isya. Acara selanjutnya adalah kuliner ke Lontong Tahu Telor Jalan Merbabu dan Bakso Pathi Jalan Semeru.

 

Ketika di Bakso Semeru, Manyu telpon dan menyopiri saya menuju Magetan, kuliner lagi!!! Aduh biyuuung …. Saat ini menuju warung jadah dan lontong lodeh. Konon warung ini selalu rame pembeli setalh buka bada Maghrib. Akhirnya saya dan Manyu makan di situ dan mas Andria join karena tak jauh dari rumahnya. Pukul 21:00 kami kembali ke Madiun dan langsung menuju Wapo bertemu dengan Hersanto, Harie Magic dan Ayub Baabduh. Kami berbincang-bincang beberapa hal dan pukul 22:30 saya pamit diantar Manyu ke Abdul Rahman. Harie Magic berbaik hati telah memebelikan tiket kereta Madiun Jaya menuju Yogya esok pagi, turun di Klaten pada tanggal 1 September 2014.

Senang sekali saya bisa berada di Madiun dua hari dan dua malam….Alhamdulillah …. Tentu banyak makna dari kunjungan ke Madiun ini. 

 

 

 

Salut Trans 7

Malam ini nonton acara Hitam Putih yang dipandu oleh Dedi Cobuzier terkait bisnis pakaian muslim hijab. Pada saat membahas jilboob tak sedikitpun cuplikan foto atau film yg memberikan contoh jilboob sehingga keseluruhan tayangan hanya mencerminkan hijab yang syarii.

Salut!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers