Feeds:
Posts
Comments

Assalamualaikum wr wb.

Siang ini tadi saya mendapatkan pembelajaran hidup yang luar biasa karena terkait dengan mencari rizqi yang halal dari Allah SWT. Dua hari lalu saya dihubungi oleh seorang teman baik (IS) yang menanyakan ketersediaan saya untuk menjadi Facilitator sebuah rapat penting selama dua hari di kota Makassar untuk salah satu kliennya. Setelah dari segi waktu saya OK, kemudian teman saya menanyakan apakah saya bisa mencarikan Co-Facilitator yang bisa membantu saya selama dua hari rapat tersebut karena pesertanya cukup banyak, sekurangnya ada 50 orang. Akhirnya saya mencari Co-Facilitator dan tertuju kepada seseorang yang selama ini saya kenal karena sama-sama pernah menjadi Facilitator di sekitar tahun 2005 atau 2006. Saya juga di awal tahun ini pernah membantu dia di salah satu kliennya. Sebut saja namanya X.

Ternyata, pada waktu yang sama si X ini juga ada acara yang sama di kota yang sama juga namun malam hari, sedangkan acara saya di pagi dan siang hari saja. Usut punya usut, ternyata acara saya dengan X ini sama, tentu dengan klien yang sama juga. Bedanya, X bertindak sebagai event organizer (EO) yang memegang acara di malam harinya. Kemudian, kemarin saya menerima WA message dari X menyatakan bahwa dia mundur sebagai Co-Facilitator karena merasa tidak enak dengan klien pegang dua fungsi sebagai Facilitator dan sebagai EO. Saya bisa mengerti keputusan dia.

Pagi ini saya berkesempatan bicara langsung dengan klien dan panjang-lebar membahas tentang rapat yang akan digelar itu materinya apa dan hasil akhir yang ingin dicapai apa. Dari pembicaraan, saya menyimpulkan bahwa peran Co-Facilitator jadi tak diperlukan mengingat peserta akan banyak melakukan presentasi dan peserta lain memberikan masukan. Pembicaraan akhirnya berujung kepada aspek komersial dan juga kesediaan saya bila kontraknya disatukan dengan kontrak EO agar mudah penanganannya dari segi pengadaan. Saya menyatakan tak ada masalah.

Tak lama kemudian, ba’da Jumatan, saya menerima WA message dari klien yang menyatakan bahwa sebaiknya saya berbicara dengan X karena ternyata X juga mengajukan diri dan sanggup sebagai Facilitator di acara pagi dan siang harinya. Saya terkaget-kaget dengan berita ini karena bertentangan dengan WA dari X yang saya terima kemarin bahwa dia tidak mau terlibat sebagai Facilitator rapat nya karena mau fokus di acara EO pada malam harinya. Saya langsung jawab ke klien bahwa, semuanya saya serahkan saja ke Klien maunya apa dan putuskan siapa yang dipilih sebagai Facilitator. Tapi saya menolak untuk melakukan pembicaraan dengan X karena sepanjang yang saya tahu mestinya X tak mengajukan diri sebagai Facilitator seperti bunyi WA nya ke saya.

Kejadian ini jelas merupakan pembelajaran bagi saya karena saya sungguh kaget adanya perbedaan sikap X terhadap saya dan kepada Klien. Secara garis besar, X mungkin ingin mendapatkan kontrak yang lebih besar dengan mengajukan dirinya sebagai Facilitator meski sebelumnya peran itu ditawarkan ke saya. Bila memang ia berniat seperti itu, logis bila ia kemudian menolak sebagai Co-Facilitator, seperti ia katakan kepada saya. Namun alasannya ke saya agar Klien tak bosan (overwhelmed) dengan dirinya karena memegang acara dari pagi sampai dengan malam. Kenyataannya, ia menelikung dari belakang dengan mengajukan diri sebagai Facilitator. Dalam kasus seperti ini, saya tak mau ribut karena semuanya tentu diatur oleh Allah Tabaroka Wa Taala. KeputusanNya selalu yang terbaik. Biarlah Allah yang memutuskan.

Wassalamualaikum wr wb.

“ALLAH MENJAWAB AL-FATIHAH KITA”

Banyak sekali orang yang cara membacanya tegesa-gesa tanpa spasi, dan seakan-akan ingin cepat menyelesaikan shalatnya. Padahal di saat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al-Fatihah tersebut, ALLAH menjawab setiap ucapan kita.

Dalam Sebuah Hadits Qudsi Allah Subhanahu Wata’ala ber-Firman:

“Aku membagi shalat menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk Hamba-Ku.”

■ Artinya, tiga ayat di atas Iyyaka Na’budu Wa iyyaka nasta’in adalah Hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan Hamba-Nya.

■ Ketika Kita mengucapkan “AlhamdulillahiRabbil ‘alamin”. Allah menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Ar-Rahmanir-Rahim”, Allah menjawab: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Maliki yaumiddin”, Allah menjawab: “Hamba-Ku memuja-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”, Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzinaan’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin.” Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

■ Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat. Rasakanlah jawaban indah dari Allah karena Allah sedang menjawab ucapan kita.

■ Selanjutnya kita ucapkan “Aamiin” dengan ucapan yang lembut, sebab Malaikat pun sedang mengucapkan hal yang sama dengan kita.

■ Barangsiapa yang ucapan “Aamiin-nya” bersamaan dengan para Malaikat, maka Allah akan memberikan Ampunan kepada-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud)

Sahabat jika Artikel Ini bermanfaat silahkan dibagikan , sampaikan walau satu ayat

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam; “Siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada.”
(HR. Muslim)

Kiriman Dr. Nuniek NS, 15 Oktober 2014 via WA
—-

بِسْـــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِِ

Secara spiritual, kita semua tahu bahwa sujud adalah saat² terdekat kita dengan Sang Khaliq. Secara medis…. Subhanallah !!! banyak manfaatnya, antara lain :

1. Mengalirnya darah ke otak ..
Aliran getah bening dipompa kebagian leher dan ketiak. Posisi jantung diatas otak menyebabkan darah yang kaya akan oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Karena itu lakukan sujud dgn tuma’ninah agar darah mencukupi kapasitasnya ke otak. (Dr. Fidelma, neurolog dari Amerika)

2. Apabila otak mendapatkan pasokan darah dan kaya oksigen, maka dapat memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan terus menerus dapat memacu kecerdasan. (Prof. Sholeh, risetnya telah mendpt pengakuan dari Harvard Univesity, AS)

3. Melatih kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada, dimana terjadi kontraksi pada otot tersebut. Kebiasaan sujud mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali/fiksasi.

4. Radiasi yg ditimbulkan oleh teknologi listrik dapat memberikan efek samping dan membahayakan organ² tubuh, terutama otak. Dimana kalau dibiarkan akan menimbulkan penyakit kejang otot, radang tenggorokan, mudah lelah, stress,migrain, hingga pikun di usia dini.

Nah ketika sujud, kelebihan ion² positif yang ada di dalam tubuh kita akan mengalir ke bumi, karena bumi adalah tempat ion2 negatif. Maka terjadilah proses netralisasi radiasi listrik dan magnet tersebut.

Sujud yang sempurna adalah dengan menempelkan 7 anggota badan (dahi,hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki) ke bumi.                       سُبْحَلْنَ اللّهُ.  وَاَلْحَمْدُلِلّهِ وَلاَاِلَهَ اِلاَّاللّهُ وَاَللّهُ اَكْبًَ

Kiriman dari MKD, Kuala Lumpur, Malaysia

Nota Kelas Tafsir Jumaat (al-Ahzab [33:41-42]) pada 17 Oktober 2014. Antara isunya maksud sebenar perkataan ZIKIR DAN TASBIH kepada Allah.

Sebagai hamba Allah, kita wajib senantiasa berzikir atau mengingati Allah. Maksud zikir kepada Allah sangat luas dan tidak hanya terbatas kepada menyebut nama Allah pada lidah dalam jumlah tertentu. Ia merangkumi SEBARANG KETAATAN KEPADANYA, SEBARANG AKTIVITI MENGINGATINYA, MEMBACA SERTA TADABBUR AL-QURAN, MENDALAMI ILMU AGAMA, BERFIKIR KEAJAIBAN CIPTAANNYA dan sebagainya.

Jika diperhatikan dalam al-Quran, Allah SERING MENGGANDINGKAN ARAHAN ZIKIR KEPADANYA dengan perkataan “BANYAK.” Ia menunjukkan signifikan zikir atau TAAT kepada Allah selaku pencipta alam perlu dilakukan dengan serius. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42)

Ertinya: Wahai orang-orang yang beriman, (untuk bersyukur kepada Allah) ingatlah SERTA SEBUTLAH NAMA ALLAH DENGAN INGATAN SERTA SEBUTAN YANG SEBANYAK-BANYAKNYA; Dan bertasbihlah kamu kepadaNya pada waktu pagi dan petang (al-Ahzab [33:41-42]).

Gandingan antara zikir dan jumlah yang banyak berulang kali disebut dalam al-Quran. Anda boleh merujuk pada surah berikut (Ali ‘Imran[3:41], Taha[20:25-34], al-Hajj[22:40], al-Syu’ara’[26:227], al-Ahzab[33:21 & 35] dan al-Jumu’ah[62:10]).

Menyempitkan makna zikir hanya pada jumlah sebutan di lidah adalah silap. Tanpa sedar rupanya ada sesetengah orang yang galak berzikir menyebut nama Allah pada lidah tetapi menyanggah atau TIDAK MENGINGATI Allah apabila mengabaikan sesetengah syariatNya. Ini adalah contoh “ZIKIR CACAT” yang wajib dielakkan. Jika anda BANYAK BERZIKIR PADA LIDAH, anda SEWAJIBNYA MENJADI HAMBA YANG PALING TAAT PADA ALLAH.

Zikir, ingatan dan ketaatan kita kepada Allah akan dibalas ingatan (limpahan rahmat serta pengampunan dariNya). Firman Allah:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Ertinya: Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mentaati, mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya Aku mengingatimu (membalas kamu dengan kebaikan); dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (akan nikmatKu) (al-Baqarah [2:152]).

Tambah indah lagi, hamba yang senantiasa ingat dan taat kepada Allah akan turut dikasihi Allah serta disebut namanya di kalangan penghuni langit. Sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

Ertinya: Apabila Allah mencintai seorang hamba(Nya), Allah memanggil Jibril lalu berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka kamu juga mesti mencintainya. Jibril lalu mencintainya kemudian diseru kepada semua penghuni langit agar turut mencintainya. Si fulan itu kemudiannya dicintai semua penghuni langit. Rasa cinta dan sayang itu turut dirasai oleh penghuni bumi (Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).

Tepat sekali hadith ini dengan firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

Ertinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, Allah yang melimpah-limpah rahmatnya akan menanamkan bagi mereka dalam hati orang ramai perasaan kasih sayang (Maryam[19:96]).

Kesimpulannya, “BASAHKAN LIDAH DAN MINDA SEBANYAK MUNGKIN” dengan mengingati Allah (mentaati segala perintahNya) agar kita tergolong dalam lingkungan hambaNya yang paling beruntung mendapat CINTA ALLAH dan SELURUH ALAM SEMESTA

Anggap saja pengetahuan sejarah Islam saya NOL besar, maka saya sangat tertarik dan terkesan dengan tayangan acara “Khalifah” di stasiun TV TRANS7. Saya sangat jarang sekali menonton tv. Sejak kemarin saya berada di rumah ibu, menginap, dan sepulang dari shalat Subuh di masjid seputar rumah ibu di kawasan Sektor 1, Bintaro, saya iseng nonton acara tv hingga akhirnya mendapatkan acara yang sangat bagus ini bagi saya, sehingga saya sempat menulis status di media sosial:

Sedang menonton acara Khalifah di Trans 7. SubhanAllah ….bagus sekali dan banyak kisah heroik penuh makna. Kisah Abdullah bin Ubay yang munafik ..
Semakin kagum kepada Nabi Muhammad yang selalu bijak dalam mengambil keputusan …

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

Quran surat At Taubah ayat 80

Tayangan selama sekitar 20-25 menit ini mengangkat kisah seorang munafik sejati bernama Abdullah bin Ubay yang secara nyata kelihatan munafiknya:

  1. Pada saat perang Uhud dimana kaum muslim berjumlah 1000 (seribu) orang sedangkan kafir Quraisy sebesar 3000 orang, Abdullah bin Ubay justru mempengaruhi sekitar 300 orang kaum muslim agar kembali ke Madinah dan tidak ikut perang.
  2. Kembalinya golongan munafik (300 orang) ke Madinah jelas mempengaruhi semangat sisanya yang 700 ribu. Namun Allah menghendaki lainnya.
  3. Pengulas (Budi Alamsah – ahli sejarah Islam) mengatakan bahwa kaum munafik memang pada dasarnya mencari amannya dan enaknya saja. Pada saat kaum muslimin menang, mereka bisa merasakan kenikmatan dari kemenangan. Namun bila dalam keadaan susah, mereka akan meninggalkan.
  4. Kemunafikan Abdullah bin Ubay sangat keterlaluan sehingga Umar bin Khatab berencana akan membunuhnya. Namun Rasul melarangnya mengingat: 1. Abdullah bin Ubay adalah nama yang kesohor di Madina dan kebanyakn orang tahunya ia seorang muslim karena kalau shalat berjamaah berada di belakang Rasul sebagai imam; 2. membunuh Abdullah bin Ubay dari kalangan muslim sendiri akan menyebabkan kaum non muslim berpikir bahwa muslim pecah. Untuk itulah Umar urung membunuh Abdullah bin Ubay; 3. Rasul ingin mengajarkan kepada umatnya agar menghormati orag dari segi dzohir (lahir) nya saja karena masalah hati adalah hanya Allah yang tahu. Secara dzohir memang Abdullah bin Ubay seorang muslim.
  5. Abdullah bin Ubay punya anak yang shalih bernama Abdullah, kita sebut aja Abdullah Yunior. Abdullah ini sangat taat beragama dan takut kepada Allah. Abdullah Yunior tahu bahwa ayahnya seorang meunafik sejati bahkan ia rela membunuh ayah kandungnya yang memusuhi Allah itu. Namun, Rasul melarang Abdullah Yunior membunuh ayahnya sendiri. SubhanAllah …betapa mulia sekali akhlak Rasul kita, meski beliau sadar bahwa Abdullah bin Ubay adalah munafik sejati.
  6. Akhirnya Abdullah bin Ubay meninggal dan Abdullah Yunior mohon agar Rasul sudi menyolatkannya. Rasul menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubay dan setelah itu turunlah surah At Taubah ayat 84.
  7. Sungguh begitu bijak dan mulia akhlak Rasul kita Muhammad salallahu alaihi wassalam.

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

At Taubah ayat 84

Copas dari WA seorangvteman: Dokter Nuniek. Kisah yang menggugah. Semoga bermanfaat.

Wass,
G
——

Beginilah musuh islam menghancurkan kita, yuk simak ceritanya..

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.” “Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya. *** Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam (dia tidak pernah rela) berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa, usaha kafirin, yahudi dan nasrani yg telah di ingatkan dlm hadits Rasulullah… kamu akan ikuti walau sampai masuk ke lobang biawak.

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

Semoga kita bisa terhindar dari tipu daya dunia yang menyebabkan kita malah jauh dari Pemilik Dunia (Allah ). Ya Allah lindungi kami, dan bimbing kami agar kami selalu berada di jalan-Mu… Aaaaamiin ya Rabbal’alaamiin

Jika Anda menshare ini kepada 1 orang, Insyaa’ Allah Anda telah menyelamat kan 1 orang

Tentang Niat

Dalam sebuah kajian di radio Rodja sang ustadz mengatakan bahwa “Niat seseorang itu lebih besar dari amalannya”. Bila ada seorang miskin mempunyai niat tulus bila suatu saat ia kaya maka akan banyak membantu kaum miskin lainnya dan niatnya itu murni adanya, maka oleh Allah Tabaroka Wataala sudah dicatat sebagai satu kebaikan. Andaikan kemudian ia menjadi kaya dan lalai, Allah tak merubah catatan tersebut. Pahala orang ini bahkan lebih besar dari orang kaya yang tak mempunyai niatan buat sodaqoh.

Moral: Niat itu begitu penting! Mari kita belajar meluruskan niat kita.

Masih tentang NIAT …

Suatu kegiatan keseharian bisa bernilai ibadah bila dilandasi niat yang lurus. Misalnya makan. Bila makan diniatkan sebagai wujud rasa syukur karena masih diberi nikmat makan kemudian juga diniatkan agar tubuh kuat sehingga bisa beribadah kepadaNya, makan tersebut menjadi memiliki muatan ibadah di dalamnya. Apalagi bila makan tersebut dijalankan mengikuti adab makan dari Rasul, antara lain : mengucap “Bismillah”, makan dengan duduk, makan menggunakan tangan kanan, berjamaah dan diakhiri dengan doa syukur …begitu dahzyatnya makna makan tersebut.

SubhanAllah …

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers