Feeds:
Posts
Comments

Melihat judulnya, saya belum begitu “ngeh” tentang apa yang terkandung di dalam buku ini. Namun sub judul nya mengungkap denga jelas karena tertulis “Kisah Nyata Membesarkan Anak Menjadi Hafiz Al Qur’an dan Berprestasi“. Rupanya, setidaknya bagi saya pribadi, kata “bintang” Al Qur’an belum memberikan makna yang cukup bagi saya bahwa itu artinya “Hafiz” (hafal).

Namun, terlepas dari judul, kandungan kisah nyata yang dimuat dalam buku ini sungguh memberikan inspirasi kuat bagi keluarga muslim di Indonesia. Membaca buku ini mengalir saja begitu nikmatnya sambil berdecak kagum hamper di setiap halaman buku yang say abaca melihat kisah nyata ini. Menurut saya ada tiga hal pokok yang bisa dipelajari dari buku ini. Pertama, buku ini menguatkan keyakinan kepada kita, dan tentu saja meningkatkan iman, bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya landasan hidup yang harus kita yakini sekaligus jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, buku ini membuka mata hati kita bahwa keyakinan dalam memperdalam ilmu ukhrawi (akhirat) tidak hanya menambah berkah akhirat, tapi duniapun kita mendapatkannya. Ketiga, mendidik anak-anak menjadi hafiz Qur’an ternyata bisa dilakukan oleh siapapun asal iman kita kuat dan hanya ingin mendapatkan ridhla Allah SWT.

Di tengah kesibukan pekerjaan sehari-hari, sepasang suami istri (mas Tamim dan mbak Wiwi) telah memiliki tekad kuat membangun keluarga berlandaskan Al Qur’an. Ini memberikan teladan kepada kita semua bahwa kedahzyatan Al Qur’an tak hanya diucapkan atau diyakini saja, namun dijalankan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui sebuah keluarga. Subhanallah! Seringkali orang mengatakan bahwa Al Qur’an merupakan landasan hidupnya yang paling utama. Namun sangat jarang yang mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan meyakini sepenuhnya bahwa menerapkan Al Quran dalam keseharian merupakan solusi paripurna karena Al Qur’an adalah Kitabullah, berisi firman-firma Allah SWT. Dan, apa yang difirmankan Allah SWT sudah pasti 100% benar, tanpa ada sedikitpun keraguan.

Mas Tamim dan mbak Wiwi menjalani kehidupan membangun keluarga sakinah, mawadah wa rohmah melalui tarbiyah Islami yang kuat kepada anak-anaknya yang berjumlah sebelas. Pasangan ini berani tampil beda dengan menjalankan syariat Islam secara benar. Pada saat orang belum berjilbab, mbak Wiwi telajh memulainya. Termasuk pada saat menikah, pasangan ini tidak melalui proses pacaran seperti remaja dewasa ini, karena di Islam konsep pacaran sebenarnya tidak ada. Pasangan ini begitu yakin dalam meraih ilmu ukhrawi sehingga Allah SWT tak hanya memberi ganjaran akhirat namun anak-anak pasangan ini berprestasi cemerlang di dunia. Misalnya, si sulung Afzalurahman Assalaam adalah mahasiswa tingkat akhir ITB jurusan Geofisika. Adiknya, Faris, kuliah tingkat akhir di Fakultas Syariah LIPIA, Jakarta. Anak ketiga, Maryam Qoninat, saat ini kuliah di Kairo. Anak keempat, Scientia Afifah Taibah, adalah mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dan seterusnya …semuanya adalah anak-anak yang berprestasi tak hanya di sekolah namun juga di kegiatan organisasi keIslaman. Subhanallah …!

Ternyata, mendidik anak-anak menjadi hafiz Al Qur’an sangatlah mungkin dilakukan. Mengapa? Ada kabar baik yang perlu saya sampaiakan, setelah membaca buku ini bahwa: pasangan mas Tamim dan mbak Wiwi ini bukanlah hafiz Al Qur’an. Artinya apa? Bagi Anda yang tak hafiz Al Qur’an sebagai orang tua, tak perlu berkecil hati, belajarlah dari buku kecil bermanfaat luar biasa ini. Syaratnya hanya satu saja: Anda YAKIN seratus persen bahwa Al Qur’an merupakan landasan hidup yang paling benar dan wajib dijalankan. Kalau Anda ragu, atau sekedar “nice to have” saja, ya mana mungkin Anda bisa mendidik anak sebagai hafiz Al Qur’an. Mungkin Anda bertanya, kenapa musti dihafal sih Al Qur’an itu? Yang penting kan dipahami dan dijalankan, betul? Ya betul tapi kurang tepat karena ternyata ada tingkatannya:

  1. Meyakini
  2. Membaca dengan tartil
  3. Memahaminya
  4. Mengamalkannya
  5. Memperjuangkan, menyebarkan, mendakwahkan, dan
  6. Menghafalkannya.

Terus, mau tahu resepnya bagaimana mas Tamim dan mbak Wiwi membangun keluarganya? Ini dia:

  • Tidak ada TV di dalam rumah
  • Tidak ada gambar syubhat karena malaikat tak mau masuk rumah yang ada gambar syubhat
  • Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan musik Islami seperti nasyid
  • Tidak ada ucapan-ucapan kotor dan diganti dengan ucapan-ucapabn baik.

Masih ada resep lainnya dan rasanya tak ka nada habisnya dibahas dib log ini. Saya sarankan Anda membaca sendiri bukunya. Tak akan rugi membacanya karena ini sama saja dengan menuntut ilmu.

Wass,

G

Catatan Majlis Taklim

Kajian Zhuhur Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia

21 Januari 2010

Bedah Buku: “Membongkar Rencana Israel Raya”

(Herry Nurdi)

Assalamualaikum wr wb

Sehari sebelum acara, saya mendapat telp dari mas Herry Nurdi sang penulis buku dan pemred majalah Sabili, mengundang untuk acara ini. Karena sudah lama tak mendapat tausiyah dari ustd Herry dan sekaligus ingin membeli bukunya, saya usahakan hadir meski lokasi saya tadinya di Kuningan. Alhamdulillah…saya selamat sampai di tujuan sebelum adzan dimulai sehingga saya kebagian Zhuhur BMW. Ini petikan catatan kecil saya selama kajian berlangsung, sambil menyimak ustadz Herry Nurdi memaparkan pikirannya:

Untuk membahas mengenai yahudi, umumnya surah Al Baqarah ayat 120 sering kali digunakan sebagai acuan:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan  sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)

Pengaruh Yahudi merusak tiga sistem:

  1. Sistem Nilai.
  • Baru-baru ini di Pemalang ada penggantian kelamin dari Yanto menjadi Nadila, dan ini kita terima.
  • Kemudian dewasa ini sedang diributkan mengenai fatwa haram foto pribadi sehingga banyak reaksi menentang tanpa melihat esensi fatwanya.
  • Di Yogya, tepatnya di masjid UGM ada ustadz  Maulana yang secara konsisten mengamati bila ada orang berjalan berduaan, laki-laki dan perempuan. Pertama sang ustadz menanyakan apakah lawan bicaranya merupakan muhrimnya. Kalau tidak, maka ustadz Maulana menganjurkan melalui teguran halus namun tegas bahwa mereka sebaiknya tidak berjalan berduaan bila bukan muhrimnya.
  • Menurut survey, 63% mahasiswa telah melakukan hubungan seks pranikah.

Perusakan system nilai ini biasanya mencakup empat hal: SFFF (sex, food, festival, dan fashion). Sex telah dikondisikan sebagai kebutuhan biologis tak ada hubungannya dengan moral.  Penderita HIV di Indonesia mencapai angka yang fantastis, yaitu 15,800. Sangat mengherankan bahwa jumlah tertinggi pertumbuhannya (60%) justru di Sumbar. Dalam hal Food – narkoba. Dalam 1 hari jumlah korban tewas akibat narkoba (menurut data BNN) adalah 41 orang! Selain itu, makanan cepat saji juga sangat merusak dalam kandungan gizinya. Festival – pesta tahun baru yang mewabah kalangan remaja bahkan hingga orang tua – untuk apa? Sepanjang hari di tv ada musik terus menerus tiada hentinya sehingga mengajak umat menjauhkan diri dari beribadah (shalat, baca Quran, dsb.). Belum lagi Piala dunia (bola) dimana orang rela untuk bangun malam guna menyaksikannya edangkan shalat tahajjud malas mendirikan. Dalam hal Fashion, pengaruh Yahudi juga sangat kuat dalam tata busana kita yang beahkan meninggalkan syariat Islam.

  1. Sistem Nasionalisme. Dependensi terhadap IMF begitu kuatnya sehingga tidak mandiri sebagai suatu bangsa yang besar. Tekanan IMF sedemikian rupa kuatnya. Ustadz Herrt juga member contoh bahwa seorang calon menteri berinitial SS akhirnya gagal menjadi menteri krn pernah tidak mendapatkan visa ke Amerika.
  2. (belum sempat disebutkan)

Bagaimana mengalahkannya? Kata Allah:

1. Jangan cari cara lain selain Quran

2. Jangan turuti hawa nafsu untuk mengikuti cara mereka

10 kriteria muslim (hanya sempat dibahas 4 saja):

  1. Akidah yg lurus. Menyembah hanya kpd Allah
  2. Ibadahnya harus baik. Saf dirapatkan dan diluruskan. Mencobtoh Rasul. Ada sahabat tidak pernah makan semangka gara-gara belum pernah melihat bagaimana Rasul membelahnya.
  3. Akhlak yg kokoh
  4. Intelektual yg cerdas

Sebaik-baiknya diantara kamu adalah yg membaca Quran dan mengajarkannya.

Wass,

G

Catatan Majlis Taklim

Kajian Zhuhur, 20 Januari 2010

Mushalla Lantai 23 KPPTI

Ustadz H. Syahroni Mardani, Lc. (Azhar Center)

085716433580, 081315773340

Syahronimardani71@yahoo.com

Qoshoshun Minassunnah (Kisah-kisah dari Sunnah)

“Ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (Q.S. Al A’raaf 7:176)

—————————————————————————————————–

Rasul mengatakan bahwa menabung buat keturunan kita itu boleh, maksudnya tak tergolong dalam penumpukan harta. Beliau mengatakan hal ini saat mengunjungi Abu Ishak Saad bin Abi Waqqas ra yang sedang sakit dan rasanya mendekati ajal sedangkan ahli warisnya hanya seorang anak perempuan, sedangkan ia sangat kaya raya. Ia menayakan ke Rasul apa sebaiknya 2/3 dari hartanya ia sodaqohkan (wakaf). Rasul melarangnya. Kemidian ia menanyakan bagaimana kalau separuh (1/2) nya – Rasul pun melarangnya. Akhirnya ia menanyakan bagaimana kalau sepertiga (1/3) dan Rasul menyetujuinya. Dari sinilah makanya dalil mengenai wakaf tak boleh lebih dari 1/3 harta warisan berdasar. Artinya, mewariskan kepada ahli waris harus lebih besar (2/3) daripada untuk wakaf. Di sini Islam mengajarkan bahwa harta warisan terutama diperuntukkan buat keluarga dulu, baru kemudian wakaf.

Q.S. At Talaq 65:7

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

http://www.knowledgerush.com/wiki_image/5/52/Malaysia-tea_plantation.jpgDari ayat tersebut jelas bahwa kita berkewajiban memberi nafkah kepada keluarga. Nafkahkan yang banyak. Sementara yg rizkinya sempit, nafkahkan sesuai dg yg ia peroleh karena Allah tak memberikan beban selain yang ia mampu. Rahasia Allah: ada yg rizkinya luas ada yg sempit Intinya: jangan pelit banget sama keluarga, kalau kita memiliki kecukupan harta maka janganlah pelit membelanjakannya untuk anak sendiri dan istri. Sebagai orang tua kita wajib memberikan nafkah kepada anak.

Hadits:

Cukuplah seseorang menanggung dosa besar manakala dia menyia-nyiakan org yg menjadi tanggungannya. (HR Abu Daud)

Jangan sampai kita dermawan ke orang lain tapi anak sendiri malah tidakdiberi yang layak.

Dinar (harta) yang paling afdol ialah dinar yg dikeluarkan utk menafkahi keluarga. Kemudian, dinar yg dikeluarkan utk kendaraan di jalan Allah. Kemudian dinar yg dikeluarkan utk membantu saudaranya di jalan Allah. (Muslim)

Dari Muawiyah bin Hidah ra berkata: Aku bertanya pada Nabi saw: “Ya Rasulullah, apakah hak-hak istri yg wajib pada kita?”. Nabi menjawab: “Memberinya makan saat engkau makan, memberinya pakaian saat engkau memakai pakaian, jangan memukul wajah, jangan menghina, dan jangan diacuhkan (sbg hukuman) kecuali di rumah. (H R Abu Daud)

Ustadz menekankan bahwa apa yang kita makan maka kita wajib meberikan yang sama juga kepada istri. Kalau misalnya makan enak di kantor, soto ayam misalnya, jangan pulang membawa pisang goreng, bawalah sekurangnya sama atau lebih dari apa yang kita makan. Jaman sekarang tontonan di TV memberikan contoh-contoh yang kurang baik. Apalagi ada kecenderungan tontonan jadi tuntunan, tuntunan malah jadi tontonan. Ini sudah tidak benar. Di sinetron banyak kita lihat suami makan enak di restoran tapi waktu pulang kerja istri tak dibawakan makanan yang sama, padahal kewajiban suami memberikan makanan yang sama dengan yang dimakannya. Selain itu juga banyak tontonan dimana suami-istri tak saling ngomong. Padahal, tidaak bicara seharian dengan istri hukumnya makruh.

Syarat istri berhak mendapatkan nafkah:

  1. Akadnya sah, istri sah secara agama Islam
  2. Istri menyerahkan dirinya kpd suaminya. (Kita wajib memberi nafkah bila kita mengambil manfaat dari orang. Nafkah: makan, pakaian dan obat)
  3. Suaminya bisa ber senang-senang dengan istri
  4. Istri tak keberatan dibawa kemana saja suami pindah kerja asalkan musafir istri tak membahayakan dirinya
  5. Istrinya bisa diajak berhubungan

Hadits

Siapa yg mendapat ujian dlm membesarkan anak2 perempuannya, kemudian dia urus dgn baik. Maka anak2 perempuannya itu akan menjadi penghalang dia masuk ke dalam api neraka. (Muttafaq Alaih)

Assalamualaikum wr wb.

Sejatinya ada dua acara yang saya rencanakan akan saya hadiri pada hari Ahad yang lalu. Pertama adalah undangan bedah buku karya ustd Herry Nurdi (Pemred Sabili) tentang Rencana Israel Raya dan kedua adalah undangan Tabligh Akbar di masjid Istiqlal bertema “Sebab-Sebab Datangnya Kebahagiaan”. Namun sayang, keduanya tak bisa saya hadiri karena saya memilih berurusan dengan pemakaman jenazah Vivi Anggraini (22 tahun) yang meninggal pada hari Sabtu sore dan dimakamkan Ahad pagi. Memang ini adalah sebuah pilihan yang berat mengingat dua acara yang telah saya rencanakan tersebut adalah “hadir di majelis ilmu” dimana Allah memberikan pahala yang sangat besar kepada umatNya yang menyempatkan diri. Sebenarnya saya sempat ragu karena di salah satu tausiyah yang pernah saya ikuti, hadir di majelis ilmu itu jauh lebih manfaat dibandingkan menghadiri pemakaman jenazah. Saya kurang yakin dalilnya tapi pernah dikatakan seperti itu. Toh akhirnya saya memilih hadir di pemakaman jenazah dan alasannya saya ungkapkan di posting lainnya setelah ini.

Saya berterima kasih kepada Radio Rodja sebagai salah satu penyelenggara acara Tabilgh Akbar yang berkenan menyiarkan rekaman ceramah Prof Dr Abdur Rozzaq pada Ahad lalu di masjid Istiqlal. Siaran ulang di AM 756 dilakukan tadi malam dan saya, sambil dalam perjalanan dengan mobil, menyimaknya dengan seksama dan membuat catatan kecil. Tentu catatan ini tak sebagus bila saya menghadirinya secara langsung. Namun setidaknya catatan kecil ini bisa menjadi “pengingat” bagi saya dan mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman yang berkunjung di blog ini. Di dalam catatan ini, saya juga memasukkan pandangan saya dan sudah berbaur menjadi satu dengan ucapan penceramah.

Penceramah mengatakan dengan semangat bahwa sebab-sebab datangnya kebahagiaan hanya berasal dari Allah SWT dan hanya bisa diraih dengan taat kepadaNya. Hal ini dikatakan berulangkali sehingga saya sendiri memaknainya sebagai suatu keniscayaan yang tak bisa ditawar lagi. Artinya, bohong besar bila ada seseorang mengatakan bahagia namun tak melibatkan adanya Allah di dalam hati dan pikirannya. Untuk meyakinkan ini Penceramah menukil ayat Al Quran yang menjamin bahwa barang siapa mengikuti petunjuk Allah SWT maka ia dijamin tak akan sesat di dunia dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Coba kita telaah kata “hanya” dalam paragraph di atas di bagian pertama dari kalimat. Artinya Allah telah menggariskan kemustahilan kebahagiaan bisa dicapai dengan tidak memasukkan Allah ke dalamnya. Banyak orang yang memiliki harta berlimpah namun hidupnya sengsara karena batinnya tersiksa, tak pernah ada ketenangan dalam jiwanya. Ini pasti karena mereka melalaikan Allah dalam kehidupannya. Mungkin hartanya ia peroleh dengan jalan yang tak diridhlai Allah SWT atau mungkin juga ia lalai membayar zakat, mengeluarkan sodaqoh dan lain sebagainya.

Pada bagian selanjutnya, kata “hanya” diletakkan pada bagaimana kebahagiaan itu bisa diraih, yaitu melalui taat kepada Allah SWT. Dalam hal ini tak bisa dipungkiri bahwa taat memiliki dua sisi sekaligus. Pertama, selalu menjalankan semua yang diperintahkanNya melalui kitabullah Al Quran dan hadits; kedua, dengan menjalankan semua larangan-larangannya. Bila kita yakin bahwa Allah sangat sayang kepada kita maka semua perintah dan laranganNya tentu untuk kebaikan kita, umat ciptaanNya. Tak ada satupun perintah maupun laranganNya yang akan mencelakakan atau membuat susah manusia. Allah menegaskan ini di dalam surah At Taahaa ayat 2 dimana Dia menegaskan bahwa Al Quran ini diturunkan bukan untuk membuat manusia susah. Kita harus meyakini ini kalau kita yakin bahwa Allah lah satu-satunya Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Mengetahui, Maha Mengatur.

Dengan mengikuti taklim ini saya semakin yakin bahwa konsep-konsep kebahagiaan yang ditawarkan oleh ribuan buku-buku pengembangan diri yang ditulis oleh pengarang barat sudah sepenuhnya salah total karena lebih menekankan kepada aspek jelajah-diri (self-discovery) yang mengabaikan Allah sebagai sumber utamanya. Buku-buku tersebut sebagian besar menawarkan konsep keseimbangan hidup dimana aspek spiritual hanya merupakan satu hal dari lainnya: ekonomi, kesehatan, hubungan dengan orang lain, pendidikan, pengetahuan dsb. Sepertinya sumir tapi kalau kita maknai dengan benar justru kita harus mengutamakan Allah sebagai sumber atau sebab utama datanganya kebahagiaan. Tanpa hal ini, mustahilkita peroleh kebahagiaan, karena kalau kita”taat” kepada Allah maka aspek lainnya akan terpenuhi dengan sendirinya. Kalau kita menjadi ahlul Quran (memahamai Quran dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari) pasti kita akan belajar hal lain lagi karena ilmu yang dicakup Quran itu sangat luas sekali.

Ujub dan Riya

Penceramah selanjutnya mengingatkan kita akan bahaya ujub dan riya. Yang dimaksud ujub di sini adalah berbangga-bangga kepada diri sendiri karena merasa paling taat, paling takwa, paling banyak ilmu, paling banyak ibadah. Bila kita sudah ujub, maka sia-sialah semua ibadah yang kita lakukan karena neraka ganjaran bagi orang yang ujub. Islam mengajarkan ketaatan bukan untuk dibanggakan karena kita harus tetap tawadhu, tidak menyombongkan diri sebagai yang paling tahu, paling benar dan paling suci. Ujub ini sangat dahzyat bahayanya dan harus dihindari.

Sedangkan riya adalah perbuatan memamerkan diri karena ketaatan kita ke Allah SWT. Misalnya mengerjakan shalat bila dilihat orang lain, atau mertua, dan tak shalat lagi bila tak ada yang melihat. Padahal Allah selalu melihat apa yang kita lakukan bahkan mengetahui niat kita. Riya ini adalah penyakit hati yang berbahaya sekali selain ujub. Hati kita harus dibersihkan dari ujub dan riya. Janganlah kita beribadah, berdakwah atau apapun kegiatan ibadah yang kita lakukan tidak ditujukan semata untuk Allah. Semuanya harus terpusat kepada satu : Allah SWT, tak boleh diperuntukkan buat lainnya.

Tanda Kebahagiaan

Tanda kebahagiaan adalah bila seseorang menjadikan kejelekannya di hadapan matanya sedangkan kebaikan-kebaikannya di masa lalu dia lupakan. Saking menyesalnya terhadap semua kejelekan yang telah ia perbuat maka tiap saat waktunya ia gunakan untuk beristighfar mohon ampun kepada Allah SWT. Dia tak perlu pedulikan lagi kebaikan-kebaikannya karena sudah dengan sundirinya diurus Allah karena Dia telah mencatatnya. Namun kejelekan harus selalu diperbaiki dengan istighfar.

Tanda musibah adalah bila seseorang menjadikan semua kejelekannya dia sembunyikan jauh-jauh tapi kebaikannya ditaruh di depan agar dipuji manusia. Ia senang membicarakan tentang amal baiknya kepada orang lain sehingga orang menjadi terkesima dengan amalan-amalannya. Di sini riya dan ujub mulai menjangkiti dirinya, maka mala petaka lah yang ia alami dan neraka lah ganjaran terbaik untuknya. Nudzubillah min dzalik.

Penutup

Kita memperhatikan adab2 Islami saat bermualah dg orang lain: lembut, santun, berbicara dg baik, akhlak mulia. Kalau kita berakhlak mulia itu ikhlas krn Allah SWT. Mengharapkan pahala dari Allah swt bukan pamrih thd orang lain.

Pada bagian penutup Penceramah mengungkapkan perlunya kita membaca kitab (judulnya: Jadhul Maat (?) ) karangan Ibnul Qoyim. Ada delapan hal yang dibahas agar kita memiliki akhlak mulia:

1. Tauhid
2. Menggali Ilmu
3. Kembali ke Allah
4. Selalu ingat Allah
5. Membantu orang lain
6. Keberanian
7. Menghilangkan penyakit hati
8. Meninggalkan hal-hal yang berlebihan

Wass,

G

Assalamualaikum wr wb.

Siang ini, Sabtu 16 Januari 2010 sekitar jam 14:00 sd 15:00 saya sedang mengendarai mobil dan seperti biasanya radio selalu tuned-in di Radio Rodja AM 756. Topiknya menarik yaitu tentang bagaimana membuat atau menciptakan hati yang hanif, bersih. Berikut ini adalah catatan dari ceramah yag dilakukan ustadz di kajian tersebut:

Kenalilah Kaum Yang Papa, Bersodaqoh-lah

http://www.photos-voyages.com/cuba/plantation1.jpgUstadz mengisahkan bila ia pergi ke kota Cirebon beliau tak pernah menggunakan taxi. Saat itu jam 22:00 malam dan begitu tiba di Cirebon beliau langsung naik becak. Selama dalam perjalanan di becak tersebut beliau berdialg dengan tukang becak. Menurut penuturan tukang becak, pada seharian tersebut dia menarik becak baru terkumpul Rp. 7.500,- Pada saat turun, ustadz memberinya ongkos sebesar Rp. 20.000,-. Begitu senangnya tukang becak tersebut sehingga mengucapkan terima kasih ke ustadz dengan mencium tangan dan sekaligus mendoakan ustadz tersebut. Uang Rp. 20.000,- mungkin untuk sebagian dari kita menganggapnya kecil. Namun begitu berharganya uang tersebut bagi tukang becak. Betapa barokahnya kita bisa memberikan sodaqoh yang sebenarnya tidak begitu besar namun manfaatnya begitu besar bagi sang tukang becak. Manfaat bagi pemberi adalah amalan baik dan didoakan oleh tukang becak tersebut.

Di Madinah tinggal seorang miskin yang tak punya keahlian apa-apa. Stiap hari ba’da Ashar ia selalu pergi ke rumahsakit menghibur orang-orang yang sakit dengan tegur-sapa yang manis. Setelah itu ia menjalankan shalat Maghrib berjamaah. Hal ini ia lakukan setiap hari ba’da Ashar. Betapa mulia sodaqoh yang dilakukannya. Tak harus dengan uang, bisa dengan tindakan.

Berdoa Yang Benar

Memanjatkan doa perlu adanya tiga syarat seperti halnya orang memanah. Pertama, perlu ada sasaran, dalam hal ini sasarannya adalah Allah SWT. Kedua, perlu adanya anak panah dan busur yang lurus dan kuat. Dalam hal doa tentunya adalah doa-doa yang biasa dilakukan Nabi Muhammad SAW, bukan doa-doa karangan kita. Banyak orang meminta doa yang salah, misalnya minta mobil Mercy atau minta anaknya sekolah di suatu sekolah tertentu. Ini jelas salah karena manusia tak mengetahui mana yang barokah. Siapa jamin bahwa memiliki Mercy akan membuat kita baik di dunia dan akhirat? Siapa jamin sekolah tertentu akan membuat anak kita soleh sehingga bahagia dunia akhirat?

Manusia tak tahu mana yang terbaik, hanya Allah SWT yang tahu. Di buku Fiqih Doa dibahas doa-doa Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, perlunya tenaga yang kuat untuk menarik busur panah sebelum menembak sasaran. Dalam hal berdoa adalah kemauan atau keinginan yang kuat dari diri kita dalam berdoa tersebut. Berdoalah sambil meninggikan Allah SWT setinggi-tingginya dan merendahkan dan menghinakan diri kita se-rendah-rendahnya, sehina mungkin di hadapan Allah yang Maha Sempurna. Semakin kuat kemauan kita, semakin kuat keinginan kita maka semakin besar Allah mengabulkan doa kita.

Wass,

G

Ustadz : Jumharuddin Lc
Lokasi : Masjid Al Istiqomah, Mega Kuningan, Jakarta
Waktu : Ba’da Zhuhur, Rabu, 13 Januari 2010

Dalil mengenai ucapan ta’awudz terdapat di Al Quran surah 16 ayat 98. Kita minta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan terkutuk.

Kenapa baca ini sebelum baca Al Quran? Ada tiga alasan:

  1. Menyiapkan hati kita sebagai alat terima Al Quran. Kalau diibaratkan gelombang, ini bisa dikatakan seperti “resonansi”, supaya frekuensinya sama. Tidak semua orang bila mendengar Al Quran dilantunkan hatinya bergetar. Untuk itu kita perlu menyiapkan diri agar hati kita bersih dari godaan setan. Kalau hati bagus, begitu mendengar Al Quran dibaca langsung bergetar hatinya. Cat Stevens masuk Islam gara2 Al Quran. Biarawati (Irene) masuk Islam karena Al Quran juga.
  2. Setan merusak dan mendatangi kita dari kelemahan kita. Dia mencari di pintu dimana kita lupa. Dengan membaca “Audzubilla..” kita ingin Allah membentengi hati kita. Al Quran yg sekarang sama dari dulu. Al Quran bisa jadi petunjuk dan penyembuh kita. Selama ini yang kita tahu, setan ada di tempat2 tidak bagus. Tapi ternyata setan nongkrongin juga orang yangg mau baca Al Quran. Mengapa saat Ramadhan dimana setan diikat namun masih ada manusia yang tak berpuasa? Krena kaderisasi setan selama 11 bulan menggoda manusia kemudian internalized ke hati manusia. Itulah perlunya kita isti’azah: membaca ta’awudz sebelum baca Al Quran. Di surah Al Araaf ayat 27 disebutkan bahwa setan bisa melihat kita, sedangkan kita tidak melihat mereka.
  3. Di surah Al Araaf ayat 17 disebutkan bahwa setan mendatangi manusia dari segala penjuru, agresif, dari semua sisi. Jangan dekati zina, karena setan itu agresif. Mengucapkan ta’awudz merupakan sikap agresif kita kepada setan. Problemnya kita sering ‘ahlan wazahlan’ alias mengucap selamat datang kepada setan. Setan tak mendatangi manusia dari sisi atas karena itu adalah jalannya amal baik kita dan dari bawah karena merupakan tempat sujud kita. Contoh dari depan adalah dalam membelokkan pandangan kita, misalnya adanya orang yang membenarkan pluralisme. Setan pun datang dengan cara yang sangat halus dan lihai. Namun meski menggoda, setan tidak bisa memaksa. Makanya di hari pembalasan setan tidak mengaku memaksa karena mereka hanya “menggoda”. Contohnya adalah saat setan menggoda nabi Adam dengan mengatakan phon Quldi sebagai pohon keabadian – agar tinggal selamanya di surga.

http://angelinasondakh.blogs.com/angelina_sondakhs_diary/images/pemandangan_alam_dieng.jpg

Sebagai mukmin, megapa kita tidak berlindung sepenuhnya kepada Allah swt?

Salam,
G

Manajemen Pasrah

Kajian Zhuhur

Ustadz Sukeri Abdillah

Mushalla lantai 23 KPPTI

4 Januari 2010

Pasrah bukan dalam artian menyerah saja terhadapa apa yang terjadi namun didahului dengan http://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/01/08/a7/76/plantation-de-the.jpgikhtiar, kerja keras. Seringkali manusia ini mempertimbangkan banyak kepentingan sehingga ada seorang wanita sekuler yang dewasa ini berani mengatakan bahwa jilbab hanyalah budaya karena dijumpai pula seorang wanita berjilbab tetapi berprofesi sebagai mucikari di placuran. Sehingga ia simpulkan bahwa jilbab perlu dipakai hanya pada saat shalat dan thawaf saat haji. Dia juga membuat pengumuman akan menerbitkan Al Quran versi perempuan. Naudzubillah min dzalik.

Contoh di atas menunjukkan ketidakpatuhan kepada Allah SWT.

Bagaimana agar kita tunduk kepada Allah SWT, ridha terhadap qada dan qadar Allah SWT?

Ada tiga hal yang bisa dilakukan:

  1. Menjadikan Allah sebagai Rabb kita
  2. Ridha Islam sbg “diin” kita
  3. Menjadikan Rasul sebaga Rasul teladan yang perlu kita “copy paste” perilaku dan akhlaknya.

Kita perlu mengkhatamkan Al Quran dalam kurun waktu 3 bulan. Bila tidak, maka sebetulnya Al Quran sudah kita campakkan dari kehidupan kita. Naudzubillah min dzalik.

Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah catatan saya dari mengikuti Kajian Zhuhur di Mushalla lantai 23 Kantor Pusat PT Indosat pada hari ini . http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2007/12/05/huaguoshan07120503.jpgTopiknya adalah mengenai Siyasah Syar’iyyah yang dalam bahasa sehari-hari kira-kira artinya menyiasati syariah agar mencapai tujuan yang baik, sesuai dengan syariah. Ustadz nya mendefinisikan sebagai “Menangani sesuatu demi memberikan kebaikan kepada sesuatu itu”. Ini sebenernya makna sebetulnya dari kata “siasat”. Sedangkan makna Syar’iyyah: Syariat dijadikan sebagai titik tolak, sumber atau rujukan, tujuan, minhaj (aturan, pedoman, panduan). Kata dasarnya adalah:

Syara’ : ajaran Allah SWT yg tertuang dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW.

Sehingga makna Siyasah Syar’iyyah adalah politik yg tegak di atas kaidah-kaidah, hukum-hukun dan arahan-arahan syari’ah

Makna tersebut menjadi gamblang ketika ustadz menguraikan contoh berikut:

Imam Shalat Jamaah di Sekolah Dasar

Sudah menjadi hal biasa bila shalat dimana makmum nya anaka-anak biasanya suka gaduh pada awal shalat. Sang Imam yang sering menghadapi kendala ini mengamati bahwa anak-anak biasanya gaduh pada saat rakaat pertama sampai dengan ruku’. Pada saat ruku’ biasanya mereka mulai diam karena mereka sudah bergabung dalam shalat berjamaah mengikuti imam. Biasanya anak-anak juga sudah hafal surah apa yang dibaca, misalnya “Al Kafirun” sehingga anak-anak menunggu sampai surah yang sudah mereka hafal itu selesai, maka baru mereka ikut ruku’. Mengatasi hal ini sang Imam mengatur siasat dengan memilih surah yang lebih pendek sehingga buru2 “Allahu Akbar” untuk ruku’ sehingga anak-anak terpaksa diam secepatnya.

Pada kesempatan lain sang Imam sengaja memutuskan surah yang dibaca di rakaat pertama dengan sengaja agar anak-anak segera sadar bahwa mereka telah telat dan segera ikut ruku’. Pada rakaat 2 sang imam menyambung bagian akhir surah yang terputus ditambah surah kedua yang dibaca di rakaat kedua.

Yang dilakukan oleh Imam di sini adalah menyiasati agar anak-anak segera patuh dan mengikuti shalat secara khusyu’.

Kisah Nabi Sulaiman

Contoh lainnya adalah bagaimana Nabi Sulaiman memberikan solusi terhadap pertikaian dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Dikisahkan dua orang wanita membawa bayi mereka masing-masing kemudian keduanya melaksanakan keperluan di sungai sedangkan bayinya ditinggal di pinggir sungai. Saat kedua wanita itu selesai dengan keperluan masing-masing di sungai, mereka mendapati bahwa bayinya tinggal satu orang, sedangkan bayi yang satunya telah dimakan oleh serigala. Masing-masing bersikukuh bahwa bayi itu adalah bayinya. Salah satu wanita yang pandai berbicara akhirnya memenangkan pertikaian dan mendapatkan bayi tersebut. Nabi Sulaiman melakukan fasilitasi dengan menawarkan solusi kepada kedua wanita tersebut karena memenangkan sesuatu hanya berdasarkan kepiawaian berpidato tanpa penelusuran siapa yang sebenarnya berhak, jelas tidak adil.

Solusi yang ditawarkan oleh Nabi Sulaiman adalh dengan membelah bayi tersebut menjadi dua, sama rata, dan masing-masing bagiannya diserahkan ke kedua wanita tersebut. Wanita yang pandai berpidato menyetujuinya, namun wanita yang satunya menangis karena tak tega anaknya dibelah dua, dan tidak mungkin. Beradasrkan reaksi ini maka nabi Sulaiman memutuskan untuk menghukum penjara wanita yang pandai berpidato dan memberikan bayi tersebut ke wanita yang menangis. Mengapa? Karena ibu yang sejati tak mungkin tega melihat anaknya dibelah dua – dan kama dari itu maka ibu yang menangis tersebut pantas menjadi ibu sang bayi.

Kisah Abu Bakar Siddiq

Beliau dijuluki sebagai nassabah atau kira-kira artinya adalah ahli strategi perang. Menghadapipemurtadan yang terjadi di Madinah, Makkah dan Thaif, Abu Bakar merasa geram dan bermaksud akan menuntaskannya sekaligus. Namun sayangnya sahabat lain tak setuju karena jumlah mereka (pasukan muslim) kecil. Maka Abu Bakar melakukan gertak sambal (karena tahu bahwa yang lain pasti akan mendukungnya) dengan mengatakan: “Baiklah, kalau tidak biar saya sendiri yang menyerbunya secara serentak.” Setelah ia mengatakan demikian maka shabat lain kontan mengikutinya. Akhirnya pasukan muslim memerangi dengan cemerlang: sepuluh dari sebelas titik sudah menyerah dan tinggal satu titik lagi. Melihat sepuluh titik telah menyerah maka lebih mudah menaklukkan satu titik terakhir.

Walahualam bishawab.

Wass,

G

Assalamualaikum wr wb.

Ini adalah ringkasan pengajian Ahad pagi ini di Islamic Center Madiun yg ditulis oleh sahabat saya yang hadir: Rahmanta Setiahadi.

Gus Toty, resume pengajian Ahad pagi, 10 Januari 2010 kira-kira begini :

1. Setiap muslim berkewajiban untuk berbuat ikhsan (baik) sesuai misi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

2. Untuk berbuat ikhsan ternyata tidak cukup sekedar berbuat tanpa ada bekal dan modal yang baik.

3. Modal yang baik untuk berbuat ikhsan adalah iman dan ilmu. Iman sebagai landasan untuk bisa berbuat ikhsan secara berkelanjutan dengan dilandasai keikhlasan semata-mata hanya mengharap ridho Alloh, bukan untuk kepentingan sesaat – misalnya popularitas biar dikenal sebagai orang baik. Sedangan ilmu diperlukan agar perbuatan ikhsan kita lakukan mempunyai dampak yang luas bagi orang lain sebagai “uswah”, shg menjadi insipirasi bagi orang lain utk melakukan hal yang sama atau bisa melebihi apa yang telah kita lakukan.

3. Kewajiban untuk mewarisi sikap dan motivasi untuk selalu berbuat yang “terbaik” bagi orang lain menjadi kewajiban orang tua kepada setiap keturunannya. Oleh karena itu tugas setiap orang tua untuk mempersiapkan anak-anaknya sebaik mungkin dengan bekal landasan iman, ilmu pengetahuan dan modal kehidupan. Sbgmn perintah Allah dalam surat An-Nisa ayat 9 : …. dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka …..

4. Mudah-mudahan ini menjadi bahan renungan kita.
Salam …

Assalamualaikum wr wb

Seorang teman menayakan ke saya bagaiamana tips menjalankan shalat BMW (berjamaah di http://swaramuslim.com/images/uploads/islam/shalat.gifmasjid, tepat waktu). Saya cukup tersentak dengan pertanyaan telak ini karena selama ini saya merasa belum berani berbagi mengenai tips ini karena takut salah dan kurang pas, karena kondisi setiap orang tentulah sangat berbeda. Menyusun suatu tips belum tentu cocok bagi keadaan setiap orang karena situasi dan kondisinya tentu berbeda. Hal mendasar yang perlu dipahami adalah bagaimana posisi kita pada saat adzan akan berkumandang di setiap saat shalat lima waktu: apakah kita sedang dalam kendali kita atau kita sedang dikendalikan.  Contoh paling gampang adalah bila adzan Zhuhur tiba dan kita tak terikat pada suatu kegiatan tertentu, maka kita sedang mengendalikan waktu kita. Namun bila saat adzan kita masih dalam suatu majelis tertentu, misalnya di dalam rapat yang mana kehadiran kita sangat penting di rapat tersebut. Atau kita sedang dalam keadaan mengoperasikan sebuah mesin dimana pada saat bersamaan ada banyak orang lain yang tergantung dengan peran kita di mesin produksi tersebut.

Dengan berlindung sepenuhnya kepada Allah swt agar terbebaskan dari godaan setan riya yang mengkungkung hati kita untuk berbuat riya karena melakukan suatu ibadah, maka saya beranikan untuk menulis tips ini bedasarkan pengalaman pribadi. Tips ini tidak sepenuhnya efektif namun dalam banyak kejadian, saya berhasil menggunakannya.

  1. Tanamkan Niat Kuat sejak malam hari sebelum tidur bahwa esok hari “Saya akan menjalankan shalat BMW lima waktu karena Allah Ta’ala”. Aspek terpenting di sini adalah bahwa kita melakukan ini karena kita yakin bahwa tiada lain yang lebih penting dari pada Allah swt. Ini adalah pengejawantahan dari ucapan syahadat kita “La ilaha ilallah” dimana kita wajib menjunjung tinggi Allah karena kita meyakini tiada yang lebih penting daripada Allah, sedangkan yang lainnya hanyalah peripheral atau hal yang mendukung ketaatan kita kepada Allah. Ingatkan pada hati dan pikiran kita bahwa inti kehidupan di dunia ini adalah ketaatan kepada Allah SWT dalam arti sebenarnya, tak hanya dalam ucapan. Apapun yang kita lakukan adalah karena kita taat atau berusaha dengan sepenuh hati untuk taat kepada Allah swt. Ucapkan ‘La ilaha ilallah’ berulang-kali sambil meresapi maknanya bahwa tiada yang patut kita utamakan, kita sembah selain Allah swt. Lakukan sampai Anda meresapi bahwa semua yang ada di dunia atau jagat raya ini tak ada yang patut di Tuhankan atau disembah selain Allah, bukan kedudukan, jabatan, uang, wanita (bagi laki-laki) atau hal lain yang duniawi. (Saya jadi ingat ada penawaran T-Shirt di internet yang ada motonya “Tiada Tuhan Selain Uang”… Astagfirullah. Naudzubillah min dzalik!). Jelas, bahwa kita harus menuhankan hanya ALLAH SWT.
  2. Tumbuhkan Kemauan untuk menjalankan perintah shalat secara berjamaah seperti yang diteladankan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Tiada manusia yang lebih sempurna dari Rasulullah, makanya kita wajib mencontohnya, dan tidak membuat aturan sendiri.  Dalam menumbuhkan kemauan diri ini, bangun suatu situasi dimana Anda akan merasa rugi bila tak mengerjakannya. Ada sebuah riwayat dimana seorang panglima perang dari golongan Muslim berhasil menaklukkan sebuah kota besar dan berpengaruh. Namun setelah kemenangan tersebut sang Panglima menangis sekuatnya karena ia dan pasukannya telah meninggalkan shalat Subuh BMW. Buat apa aku menaklukkan kota ini namun musti mengorbankan shalat Subuh berjamaah? Begitu kira-kira Sang Panglima tersebut menyesali dirinya. Begitulah, begitu utamanya shalat berjamaah sehingga perebutan sebuah kota besar dan berpengaruh pun tak ada artinya lagi karena itu semua adalah “dunia”. Sedangkan ada hal yang penting, yang abadi, yaitu akhirat yang semestinya kita raih. Untuk membantu mengatasi ini, ada baiknya mungkin ANda kaitkan dengan kesukaan (hobi) di dunia, misalnya: kalau tidak ikut shalat Zhuhur berjamaah seperti kehilangan kesempatan nonton Manchester United secara langsung. Ini bukan berarti untuk menyetarakan keutamaan, karena kita sudah terpedaya dengan kehidupan duniawi. Makanya kita perlu membuat perumpamaan seperti ini selagi kita masih lebih banyak hobi ketimbang ibadah. Ada buku menarik terkait ini yaitu Andaikan Shalat Sebuah Pesta.
  3. Tidur Lebih Awal sehingga tak ketinggalan Subuh BMW. Karena Subuh adalah awal shalat di suatu hari, perannya sangat penting untuk konsistensi shalat BMW. Bila Subuhnya “missed” maka kemungkinan ghirah (semangat) untuk shalat BMW lainnya bisa kendor. Sebelum tidur lakukan afirmasi dengan mengucap berkali-kali: “Saya akan menjalankan shalat BMW lima waktu karena Allah Ta’ala”.
  4. Set Reminder di HP untuk mengingatkan bahwa dalam waktu 10 atau 15 menit lagi Adzan akan berkumandang untuk setiap waktu shalat fardhu. Tujuannya, agar kita bisa bersiap pergi ke masjid sedapat mungkin sebelum adzan dikumandangkan.
  5. Atur Jadwal Kerja agar sesuai dengan waktu shalat. Untuk rapat dimana Anda yang pegang kendali, maka mudah untuk mengaturnya. Namun, bagaimana kalau kita diundang dalam rapat tersebut sehingga kita menjadi nara sumber? Ada baiknya sebelum rapat dimulai  Anda beritahu ke pengundang rapat bahwa pada waktu tertentu Anda akan meninggalakan rapat. Masalahnya memang ini sulit dilakukan. Maka ingatlah tip nomer 1 di atas.
  6. Tunjukkan kepada atasan Anda bahwa Anda adalah Muslim Profesional yang menghargai waktu. Bila shalat Zhuhur dimulai pukul 11:45, maka Anda kembali bekerja pada 12:45 sehingga waktu istirahat yang disediakan perusahaan selama 1 jam terpenuhi dengan baik. Namun bila ANda tak bisa meninggalkan pekerjaan pada jam sebelum istirahat, tidak masalah mengerjakan shalat pada jam istirahat. Menurut ustadz di majelis taklim, bila kita selalu shalat berjamaah, maka saat berhalangan (misalnya hujan) Allah masih mencatat kita menjalankan shalat berjamaah. Subhanallah.
  7. Usahakan selalu mengetahui dimana posisi masjid pada saat Anda harus bertemu dengan orang lain di suatu tempat. Hal ini diperlukan bila saat pertemuan berlangsung pada saat shalat fardhu. Beberapa Mall di Jakarta menyediakan mushalla yang memadai sebagai tempat shalat BMW. Yang menurut saya bagus adalah Plasa Senayan, Pacific Place karena cukup luas dan bersih. Yang fasilitasnya kurang bagus: Pondok Indah Mall 1, Mall Taman Anggrek.
  8. Usahakan pertemuan dengan orang dilakukan di daerah yang dekat dengan masjid. Saya paling suka mengadakan pertemuan di gedung Jakarta Theater, Thamrin, karena di bawah belakang ada masjid kuno yang besar. Atau bisa juga di Bellagio, Mega Kuningan, karena sangat dekat dengan masjid. Bila terpaksa, saya bisa melakukan pertemuan di Pacific Place, Plasa Senayan, atau Citos. Di mall2 terakhi ini memang ada mushallanya, bukan masjid. Tidak masalah shalat di mushalla asalkan ada adzan dan iqammah.
  9. Jangan Merasa Rugi Menghentikan Perjalanan. Seringkali pada saat kita dalam perjalanan waktu shalat (biasanya Maghrib) tiba. Begitu mendengar adzan, jangan lanjutkan perjalanan. Cari masjid terdekat, yang memiliki fasilitas parkir (bila Anda berkendaraan). Bahkan untuk shalat fardhu lainnya (Zhuhur, Asar, Isya) jangan merasa rugi bila perjalanan harus terhenti karena pada saat Anda dalam perjalanan sebetulnya Anda “mengendalikan” waktu ANda. Bahkan kalau sedang di dalam Metro Mini, usahakan berhenti buat shalat BMW karena hal ini lebih utama dari pada perjalanan yang cepat. Kecuali, bila ANda memang harus sampai di rumah segera, misalnya sedang mengadakan majelis taklim di rumah. Selebihnya, lakukan shalat BMW dengan mengutamakannya bukan menomorduakan. Prinsip “yang penting lima waktu” sebaiknya kita tinggalkan!
  10. Selalu Berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan menjalankan shalat BMW. Untuk yang hidup dan bekerja di kota megapolitan seperti Jabodetabek, menjalankan shalat BMW menjadi kendala besar karena faktor kemacetan dsb. Namun dengan pertolongan Allah swt, semoga kita bisa mengatasinya. Doa memohon kemudahan dalam beribadah sangat manjur. Saya pernah mengalami macet total di mall Taman Anggrek saat akhir pekan dan adzan Maghrib sudah berkumandang. Saya mohon kepada Allah agar diberi kemudahan. Subhanallah, saya bisa segera mendapatkan kelancaran dan bisa mendapatkan parkir mobil dengan sangat mudah. Ini semua karena KUASA dari Allah swt. Akhirnya saya bisa mengikuti Shalat Maghrib BMW di mushalla Taman Anggrek meski ketinggalan dua rakaat.
  11. Rencanakan Perjalanan Anda. Perhitungkan setiap perjalanan Anda dengan waktu dan posisi masjid. Bila pulang kantor jam 5 sore, perhitungkan saat adzan Maghrib ANda berada di sekitar mana dan ada atau tidak masjid di sekitar situ. Saya sangat bersyukur sering menggunakan sepeda sehingga praktis mau shalat dimana saja. Biasanya saya pulang jam 5:30 dalam kedaan wudhu. Saya sudah perhitungkan pada saat Maghrib akan shalat dimana. Hari Selasa lalu saya Isya di masjid Palmerah tanpa harus wudhu lagi meskipun badan berkeringat. Keringat bukan najis, makanya saya langsung ikut barisan shalat Isya berjamaah, setelah mengoleskan parfum tanpa alkohol di badan saya. Kalau gak, jamaah lain bisa semaput karena bau keringat saya.

Itu saja yang bisa saya bagikan. Mungkin ada pengalaman dari Anda tentang hal ini?

Wass,

G

Older Posts »