Melihat judulnya, saya belum begitu “ngeh” tentang apa yang terkandung di dalam buku ini. Namun sub judul nya mengungkap denga jelas karena tertulis “Kisah Nyata Membesarkan Anak Menjadi Hafiz Al Qur’an dan Berprestasi“. Rupanya, setidaknya bagi saya pribadi, kata “bintang” Al Qur’an belum memberikan makna yang cukup bagi saya bahwa itu artinya “Hafiz” (hafal).
Namun, terlepas dari judul, kandungan kisah nyata yang dimuat dalam buku ini sungguh memberikan inspirasi kuat bagi keluarga muslim di Indonesia. Membaca buku ini mengalir saja begitu nikmatnya sambil berdecak kagum hamper di setiap halaman buku yang say abaca melihat kisah nyata ini. Menurut saya ada tiga hal pokok yang bisa dipelajari dari buku ini. Pertama, buku ini menguatkan keyakinan kepada kita, dan tentu saja meningkatkan iman, bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya landasan hidup yang harus kita yakini sekaligus jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, buku ini membuka mata hati kita bahwa keyakinan dalam memperdalam ilmu ukhrawi (akhirat) tidak hanya menambah berkah akhirat, tapi duniapun kita mendapatkannya. Ketiga, mendidik anak-anak menjadi hafiz Qur’an ternyata bisa dilakukan oleh siapapun asal iman kita kuat dan hanya ingin mendapatkan ridhla Allah SWT.
Di tengah kesibukan pekerjaan sehari-hari, sepasang suami istri (mas Tamim dan mbak Wiwi) telah memiliki tekad kuat membangun keluarga berlandaskan Al Qur’an. Ini memberikan teladan kepada kita semua bahwa kedahzyatan Al Qur’an tak hanya diucapkan atau diyakini saja, namun dijalankan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui sebuah keluarga. Subhanallah! Seringkali orang mengatakan bahwa Al Qur’an merupakan landasan hidupnya yang paling utama. Namun sangat jarang yang mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan meyakini sepenuhnya bahwa menerapkan Al Quran dalam keseharian merupakan solusi paripurna karena Al Qur’an adalah Kitabullah, berisi firman-firma Allah SWT. Dan, apa yang difirmankan Allah SWT sudah pasti 100% benar, tanpa ada sedikitpun keraguan.
Mas Tamim dan mbak Wiwi menjalani kehidupan membangun keluarga sakinah, mawadah wa rohmah melalui tarbiyah Islami yang kuat kepada anak-anaknya yang berjumlah sebelas. Pasangan ini berani tampil beda dengan menjalankan syariat Islam secara benar. Pada saat orang belum berjilbab, mbak Wiwi telajh memulainya. Termasuk pada saat menikah, pasangan ini tidak melalui proses pacaran seperti remaja dewasa ini, karena di Islam konsep pacaran sebenarnya tidak ada. Pasangan ini begitu yakin dalam meraih ilmu ukhrawi sehingga Allah SWT tak hanya memberi ganjaran akhirat namun anak-anak pasangan ini berprestasi cemerlang di dunia. Misalnya, si sulung Afzalurahman Assalaam adalah mahasiswa tingkat akhir ITB jurusan Geofisika. Adiknya, Faris, kuliah tingkat akhir di Fakultas Syariah LIPIA, Jakarta. Anak ketiga, Maryam Qoninat, saat ini kuliah di Kairo. Anak keempat, Scientia Afifah Taibah, adalah mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dan seterusnya …semuanya adalah anak-anak yang berprestasi tak hanya di sekolah namun juga di kegiatan organisasi keIslaman. Subhanallah …!
Ternyata, mendidik anak-anak menjadi hafiz Al Qur’an sangatlah mungkin dilakukan. Mengapa? Ada kabar baik yang perlu saya sampaiakan, setelah membaca buku ini bahwa: pasangan mas Tamim dan mbak Wiwi ini bukanlah hafiz Al Qur’an. Artinya apa? Bagi Anda yang tak hafiz Al Qur’an sebagai orang tua, tak perlu berkecil hati, belajarlah dari buku kecil bermanfaat luar biasa ini. Syaratnya hanya satu saja: Anda YAKIN seratus persen bahwa Al Qur’an merupakan landasan hidup yang paling benar dan wajib dijalankan. Kalau Anda ragu, atau sekedar “nice to have” saja, ya mana mungkin Anda bisa mendidik anak sebagai hafiz Al Qur’an. Mungkin Anda bertanya, kenapa musti dihafal sih Al Qur’an itu? Yang penting kan dipahami dan dijalankan, betul? Ya betul tapi kurang tepat karena ternyata ada tingkatannya:
- Meyakini
- Membaca dengan tartil
- Memahaminya
- Mengamalkannya
- Memperjuangkan, menyebarkan, mendakwahkan, dan
- Menghafalkannya.
Terus, mau tahu resepnya bagaimana mas Tamim dan mbak Wiwi membangun keluarganya? Ini dia:
- Tidak ada TV di dalam rumah
- Tidak ada gambar syubhat karena malaikat tak mau masuk rumah yang ada gambar syubhat
- Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan musik Islami seperti nasyid
- Tidak ada ucapan-ucapan kotor dan diganti dengan ucapan-ucapabn baik.
Masih ada resep lainnya dan rasanya tak ka nada habisnya dibahas dib log ini. Saya sarankan Anda membaca sendiri bukunya. Tak akan rugi membacanya karena ini sama saja dengan menuntut ilmu.
Wass,
G


Dari ayat tersebut jelas bahwa kita berkewajiban memberi nafkah kepada keluarga. Nafkahkan yang banyak. Sementara yg rizkinya sempit, nafkahkan sesuai dg yg ia peroleh karena Allah tak memberikan beban selain yang ia mampu. Rahasia Allah: ada yg rizkinya luas ada yg sempit Intinya: jangan pelit banget sama keluarga, kalau kita memiliki kecukupan harta maka janganlah pelit membelanjakannya untuk anak sendiri dan istri. Sebagai orang tua kita wajib memberikan nafkah kepada anak.
Ustadz mengisahkan bila ia pergi ke kota Cirebon beliau tak pernah menggunakan taxi. Saat itu jam 22:00 malam dan begitu tiba di Cirebon beliau langsung naik becak. Selama dalam perjalanan di becak tersebut beliau berdialg dengan tukang becak. Menurut penuturan tukang becak, pada seharian tersebut dia menarik becak baru terkumpul Rp. 7.500,- Pada saat turun, ustadz memberinya ongkos sebesar Rp. 20.000,-. Begitu senangnya tukang becak tersebut sehingga mengucapkan terima kasih ke ustadz dengan mencium tangan dan sekaligus mendoakan ustadz tersebut. Uang Rp. 20.000,- mungkin untuk sebagian dari kita menganggapnya kecil. Namun begitu berharganya uang tersebut bagi tukang becak. Betapa barokahnya kita bisa memberikan sodaqoh yang sebenarnya tidak begitu besar namun manfaatnya begitu besar bagi sang tukang becak. Manfaat bagi pemberi adalah amalan baik dan didoakan oleh tukang becak tersebut.

ikhtiar, kerja keras. Seringkali manusia ini mempertimbangkan banyak kepentingan sehingga ada seorang wanita sekuler yang dewasa ini berani mengatakan bahwa jilbab hanyalah budaya karena dijumpai pula seorang wanita berjilbab tetapi berprofesi sebagai mucikari di placuran. Sehingga ia simpulkan bahwa jilbab perlu dipakai hanya pada saat shalat dan thawaf saat haji. Dia juga membuat pengumuman akan menerbitkan Al Quran versi perempuan. Naudzubillah min dzalik.
Topiknya adalah mengenai Siyasah Syar’iyyah yang dalam bahasa sehari-hari kira-kira artinya menyiasati syariah agar mencapai tujuan yang baik, sesuai dengan syariah. Ustadz nya mendefinisikan sebagai “Menangani sesuatu demi memberikan kebaikan kepada sesuatu itu”. Ini sebenernya makna sebetulnya dari kata “siasat”. Sedangkan makna Syar’iyyah: Syariat dijadikan sebagai titik tolak, sumber atau rujukan, tujuan, minhaj (aturan, pedoman, panduan). Kata dasarnya adalah:
masjid, tepat waktu). Saya cukup tersentak dengan pertanyaan telak ini karena selama ini saya merasa belum berani berbagi mengenai tips ini karena takut salah dan kurang pas, karena kondisi setiap orang tentulah sangat berbeda. Menyusun suatu tips belum tentu cocok bagi keadaan setiap orang karena situasi dan kondisinya tentu berbeda. Hal mendasar yang perlu dipahami adalah bagaimana posisi kita pada saat adzan akan berkumandang di setiap saat shalat lima waktu: apakah kita sedang dalam kendali kita atau kita sedang dikendalikan. Contoh paling gampang adalah bila adzan Zhuhur tiba dan kita tak terikat pada suatu kegiatan tertentu, maka kita sedang mengendalikan waktu kita. Namun bila saat adzan kita masih dalam suatu majelis tertentu, misalnya di dalam rapat yang mana kehadiran kita sangat penting di rapat tersebut. Atau kita sedang dalam keadaan mengoperasikan sebuah mesin dimana pada saat bersamaan ada banyak orang lain yang tergantung dengan peran kita di mesin produksi tersebut.